Tampilkan postingan dengan label Coming-of-Age. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coming-of-Age. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2020

Enola Holmes

 

pic credit to netflix
pic credit to Netflix

Enola Holmes merupakan adaptasi dari novel Nancy Springer, dan disutradarai oleh Harry Bradbeer. Film ini mengikuti Enola (Millie Bobby Brown) yang dibesarkan oleh ibunya, Eudoria (Helena Bonham-Carter). Eudoria mengajarkan Enola keahlian dan pelajaran yang tidak umum dipelajari wanita waktu itu, seperti bela diri dan sains. Suatu hari, ibunya memutuskan untuk meninggalkan Enola. Enola yang belum dewasa menjadi anak wali Mycroft (Sam Claflin), kakak dari Enola dan Sherlock (Henry Cavill). Enola memutuskan untuk kabur dan mencari ibunya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tewkesbury (Louis Partridge), seorang bangsawan yang lari dari keluarganya.


pic credit to Netflix


Okay, I just need this to get out of my chest first: Henry Cavill lebih ganteng di sini daripada di DCEU woy. Kalau kata adek gue: "Emang mana yang lebih ganteng, orang pake celana dalam di luar atau di dalem."


Kalau gue menebak ini mengambil latar belakang di Edwardian Era. Edwardian Era sendiri berjalan dari sekitar tahun 1901 hingga 1910, sebelum Perang Dunia I. Gerakan suffrage berkembang cukup pesat di era ini. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok suffragattes sebenarnya memuncak sekitar tahun 1914, di bawah rezim George V. Meskipun gerakan suffrage berkembang di akhir Victorian Era, wanita yang memiliki pendidikan tinggi seperti Eudoria dan Enola sudah ada sejak lama di Inggris, sebut saja Ada Lovelace dan Mary Shelley.


Mungkin ada beberapa penonton juga yang tidak percaya wanita di zaman itu bisa belajar olahraga bela diri. Justru di Edwardian Era lah para wanita belajar jiu-jitsu untuk melindungi wanita lain. Wanita yang menyebarkan jiu-jitsu kepada wanita lain adalah Edith Garrud, instruktur WSPU (Women's Social and Political Union). Enola Holmes juga memiliki tokoh bernama Edith yang diperankan oleh Susie Wokoma, seorang wanita kulit hitam. 


Gue agak kaget gak ada yang mempermasalahkan pemilihan casting Wokoma, mengingat ia jelas-jelas terinspirasi dari real person. Mungkin ini karena Garrud sendiri bukan tokoh feminis yang populer. Menampilkan tokoh kulit hitam di Edwardian Era mungkin terasa seperti usaha dangkal yang bagus untuk terlihat memiliki 'diverse cast'. Tapi itu juga bisa usaha untuk whitewashing the history. Benar, tidak seharusnya orang menganggap serius nuansa historis dari film fiksi. Tapi ini film yang kelompok demografisnya adalah anak muda who probably do not know any better. 


Gue juga tidak akan mempermasalahkan pilihan casting itu kalau Enola Homes fully for entertainment. Alas, mereka mencoba untuk preaching for social justice and why you should participate in it. Tingkat preachnya sampai level penulisnya menuliskan dialog yang spelling out the message. Seandainya mereka gak preachy, mungkin I will take the faults of the film less seriously.


Walaupun Jack Thorne selaku screenwriter bersusah payah untuk menjelaskan pesan film, ada aspek cerita dan tokoh yang mengkontradiksi pesan tersebut. Ada adegan di mana Edith called out on Sherlock's apolotical position. Edith menyatakan bahwa wajar Sherlock tidak tertarik untuk mengubah tatanan politik, karena ia tidak pernah dirugikan oleh politik. Gue pribadi setuju bahwa orang yang apolitik cenderung priveleged, dan tidak peduli politik sama sekali artinya apatis terhadap kehidupan orang lain. Edith bahkan dengan gamblang ngomong kalau Sherlock kayak burung unta yang ngumpetin kepalanya di bawah tanah.


Di sisi lain, Enola dengan keras kepala menolak untuk berkompromi dengan Mycroft. Ia menolak untuk bergaul dengan cewek yang seumuran dengan dia di sekolah. Enola hampir tidak mengubah pendiriannya, bahkan menyatakan bahwa dunia lah yang harusnya berubah. Lalu, film ditutup dengan Enola yang menyatakan, "My life is my own (...)". Enola's hard headedness can hinder social change too, in real life. Karena di kehidupan nyata orang harus belajar untuk berkompromi dan choose their battle wisely. Gue juga mikir dengan dia menolak untuk belajar di sekolah itu, kemungkinan dia malah membuang kesempatan untuk networking dan menyebarkan feminisme ke kaumnya sendiri. Pilihan dia untuk bersikeras terhadap pendiriannya jadi kontras dengan keputusannya dia untuk menyamar, bahkan ganti gender dan kelas, di sepanjang film.


Nilai-nilai feminisme di film ini juga jadi berkurang jika mengingat film ini seakan-akan membagi tokoh-tokoh wanitanya menjadi dua: progresif dan kuno. Di sisi progresif ada Edith, Eudoria, dan Enola. Di kelompok kuno ada wanita bangsawan, cewek-cewek di sekolah Enola, dan Miss Harrison (Fiona Shaw, yang jadi tantenya Harry Potter). Hampir gak ada wanita yang di tengah-tengah. Mungkin ada satu sih, penjaga kosannya Enola, yang oportunis. Mycroft is also over-villainized? Dia jadi konservatif dangkal yang tipikal. I would've liked it more if he had been a traditional centrist that can challenge Enola's thought. 


Overall, Enola Holmes is an entertaining movie with Millie Bobby Brown as a solid lead. It has a pretty cinematography and a nice flow. Unfortunately, its attempt to be political is weak and the message is contradictory. 6,5/10






Sabtu, 20 Oktober 2018

Sunny (써니)

Courtesy CJ Entertainment, diambil dari imdb.com
Sunny merupakan film komedi drama dari Korea Selatan tahun 2011 yang disutradarai dan ditulis oleh Kang Hyung Chul. Film ini merupakan film dengan pendapatan tertinggi di Korea pada tahun 2011. Sunny juga menerima banyak penghargaan di Korea dan telah mengalami remake di Vietnam dan Jepang.

Sinopsis

Semuanya berawal ketika Im Nami (Yoo Ho Jung) tidak sengaja bertemu dengan temannya di SMA, Ha Chun Hwa (Jin Hee Kyung). Pertemuannya dengan Nami serta penyakitnya yang parah membuat Chun Hwa sangat ingin bertemu dengan teman-teman mereka yang lain. Gang mereka disebut Sunny. Beruntung, Nami bertemu dengan salah satu anggota yang lain, Kim Jangmi (Go Soo Hee), setelah mendapat kartu namanya lewat guru SMA mereka. Nami dan Jangmi memutuskan untuk melacak teman-teman mereka dengan menyewa detektif privat.

Nami tidak berteman dengan Chun Hwa dan Jang Midari awal. Nami (Shim Eun Kyung) baru saja pindah ke Seoul dari daerah Jeolla-do. Karena aksennya yang kuat dan jelas berbeda, dia menjadi bahan tertawa dan calon bully pemimpin suatu gang, Sangmi (Chun Wo Hee). Chun Hwa (Kang Sora) serta Jangmi (Kim Min Young) dengan cepat mengintimidasi gang lawan mereka. Selanjutnya, mereka mengajak Nami untuk makan siang dan bertemu dengan teman-teman mereka yang lain. Ada Hwang Jinhee (Park Jinjoo), yang suka berkata kasar, Seo Geum Ok (Nam Bora), anak pintar yang suka memukul orang, Ryu Bokhee (Kim Bomi), yang bermimpi menjadi Miss Korea, serta Jung Suji (Min Hyorin), gadis cantik yang dingin dan misterius.

Courtesy CJ Entertainment, Toilet Pictures, Aloha Pictures

Background and Amateur Analysis

Film ini berlatar belakang pada Korea Selatan era 1980an. Kalau berdasarkan lagu yang menjadi soundtrack, maka ini setidaknya tahun 1986. Jika ingin dipersempit lagi, berdasarkan demo besar-besaran yang dilakukan, kemungkinan besar film ini terjadi sekitar June Struggle, sebuah fase gerakan besar-besaran demi demokratisasi Korea. Sebelum terjadi June Struggle, Korea juga mengalami fase gejolak politik yang cukup besar pada tahun 1980 di Gwangju. Munculnya gelombang politik ini salah satu penyebabnya adalah meninggalnya Presiden Park Chung Hee, yang dianggap diktaktor oleh beberapa orang. Salah satu kenalan saya mengatakan kehidupan pribadi di zaman Park hampir tidak ada, dan Korea tidak terekspos dengan budaya pop dunia luar. Bahkan, Park memaksa agar orang Korea untuk menggunakan hangeul saja dan tidak menggunakan huruf mandarin. Meskipun dianggap diktaktor, Park sangat berpengaruh terhadap improvement ekonomi Korea karena ia mendorong industrialisme di Korea. Improvement ini juga yang melahirkan chaebol (boleh dibilang Crazy Rich Korean).

Poin terakhir ini mungkin sempat disinggung Sunny ketika kakak Nami menyebut agar ayahnya untuk berhenti bekerja karena atasannya adalah "diktaktor". Ayah Nami langsung membalas selama ia menggunakan uangnya, ia tidak boleh mengeluh soal darimana uang itu berasal. Menurut saya, adegan itu betul-betul menangkap dilema dari "warisan" Park kepada Korea. Ini juga food for thought bagi kita, apakah kita harus menutup asal uang kita atau tidak.

Meskipun seklias gang Sunny apolitical, mereka tidak bebas sama sekali dari politik. Hal ini terlihat dari Nami yang tiba-tiba menyebut demokrasi ketika berbicara dengan Suji, dan ketika Sunny melabrak gang lawan di tengah konfrontasi antara aktivis dan tentara militer. Adegan tersebut bukan adegan yang berdarah-darah, namun justru salah satu adegan yang lucu. Salah satu hal yang membuat lucu adalah bagaimana adegan tersebut memperlihatkan bahwa gang war dan perang aktivis-militer itu cukup tipis perbedaannya. Sebenarnya juga bisa dibilang cukup sedih, karena artinya mereka sudah cuek dan terbiasa dengan kekerasan, bahkan sudah tahu cara menghadapinya.

Bicara soal kekerasan, Sunny menunjukkan tiga macam kekerasan berdasarkan orang yang terlibat. Pertama, antar golongan/kelompok sosial, kedua peer violence, dan ketiga antargenerasi. Yang pertama tentu saja aktivis-militer, yang kedua perang antar gang. Kekerasan antar generasi boleh dibilang, diperlihatkan mempunyai nuansa yang berbeda di film ini. Jenis pertama dan kedua mempunyai sense of equalness, dimana tidak ada pihak yang takut menyerang, meskipun ada yang kalah dan menang. Namun kekerasan antar generasi digambarkan mempunyai nuansa yang lebih sedih dan kejam. Ketika Sangmi, lawan gang Sunny, dipukul oleh guru mereka, anggota Sunny tidak ada yang cuek, bahkan ikut merasa iba. Begitu juga ketika gang Sunny dihukum dan dipukul oleh guru tersebut, mereka menangis dan tidak melawan, bahkan berusaha menghindari si guru. Adegan ini sangat bertolak belakang ketika mereka dengan berani menyerang gang lawan di tengah-tengah keributan antara aktivis dan tentara.

Kekerasan antar generasi ini berlanjut ketika Nami, Chun Hwa, Jangmi, dan Jinhee di masa depan menyerang gang yang mem-bully anaknya Nami. Gue kecewa karena mereka tidak ditegur secara keras oleh filmmaker, meskipun mereka ditangkap polisi. Mereka memang tumbuh menjadi orang yang in generally emotionally healthy, dan Nami ibu yang tidak menggunakan kekerasan, tapi bukan berarti mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap generasi muda. Ini menunjukkan kekerasan oleh orang tua dan figur otoritas mereka sangat membekas, walaupun dunia sekarang kurang menolerir hal tersebut. 

Perang antar gang yang gue ceritain di atas disebabkan karena Nami dikeroyok oleh gang lawan. Meskipun yang diserang cuma Nami, Chun Hwa bersikeras untuk melawan gang tersebut secara bersama-sama. Ini mencerminkan semangat kolektivisme dalam film ini, dan mungkin masyarakat Korea secara umum. Bahkan ada montage dimana makan siang dilewati bersama gang, hampir tidak ada murid yang beridiri sendiri. Suji seklias memang terlihat individualis, namun perlu diingat ia tetap anggota Sunny, dan akhirnya tetap ikut dengan acara-acara gang tersebut. 

Semangat kolektivisme ini boleh dibilang berlebihan, bahkan mengarah ke hegemonisme, karena hampir semua orang di kelas Nami memakai Nike. Saking risihnya, Nami mengeluh bahwa ia satu-satunya gadis yang tidak memakai sepatu Nike atau tas Nike. Hegemonisme ini juga terlihat dari murid-murid yang mentertawakan Nami karena absennya, dan bagaimana Nami berusaha untuk menghilangkan aksennya agar terlihat seperti gadis Seoul. Nami juga tidak terlihat mempunyai teman dari kelompok lain. Ini memunculkan semacam sense  of we vs the rest of people atau Nami adalah gang, dan gang itu adalah Nami. Lagi-lagi ini tercermin oleh konflik aktivis, dimana seakan-akan yang konflik itu hanya aktivis dan tentara. 

Salah satu orang yang digambarkan "netral" atau tidak berpihak mungkin adalah anggota keluarga Nami, yaitu orangtuanya dan neneknya. Mengingat orang tua Nami tidak setuju dengan posisi kakak Nami sebagai aktivis, ditambahkan tekanan dari pihak kepolisian, kenetralan mereka perlu dipertanyakan. Kenetralan mereka pun sebenarnya terlihat self-serving bagi gue karena mereka mengacuhkan perbuatan anak-anak mereka tanpa memahami konteks serta penjelasan dari mereka. "Kenetralan" mereka bukan karena mereka memang netral, tapi karena mereka tidak mau tahu.

Courtesy CJ Entertainment, Toilet Pictures, Aloha Pictures via modernkoreancinema.com
Kang Hyeong Chul menulis Sunny dengan flow yang lancar dan natural. Mungkin pembukanya terlalu lama dan akan lebih baik jika bergerak cepat ke masa lalu Nami. Kang juga menggunakan teknik maju-mundur dengan begitu baik. Teknik maju mundur yang rapi ini membawa hasil juxtaposition atau perbandingan yang begitu emosional bagi gue. Agak mengingatkan gue dengan hasilnya Blue Valentine meskipun gak sesedih itu, haha.

Mungkin yang gue suka adalah sub-plot Nami dengan cinta pertamanya dia. Bagi gue sub-plot itu walaupun gak jelek, kurang membawa bobot kepada kepribadian Nami maupun persahabatannya. Padahal sudah jelas persahabatan merupakan inti tema Sunny. Durasi sub-plot bisa digunakan untuk menggali lebih dalam hubungan Nami dengan anggota lainnya atau memberikan tambahan "tes" kepada gang Sunny.

Gue gak ada banyak masalah dengan sinematografi serta aktor-aktornya. Mereka secara umum bagus aktingnya dan dapet banget chemistry sebagai grup. Extra kudos buat Shim Eun Kyung (Nami) dan Kang Sora (Chun Hwa). Kang Sora berhasil meyakinkan gue kalau dia memang gang leader dengan karismanya dia selama di film. Yang bikin ngakak juga neneknya Nami sih, lol.

Konklusi

Cerita Sunny memang bukan cerita yang dalam, kompleks, ataupun out of the box. Ia cerita simpel bagaimana seorang gadis hidup di tengah hiruk pikuk politik dan politik di sekolahnya. Namun ia membuktikan bahwa bukan selalu ide yang membuat film itu bagus, tapi cara mempresentasikannya kepada penonton. 9,3/10 (Amazing). 

P.S: Coba tonton Reply 1988 (drama Korea) kalau lo suka film ini.




Jumat, 21 Oktober 2016

Almost Famous

One day, you'll be cool. -Anita

Almost Famous merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2000 yang disutradarai dan ditulis oleh Cameron Crowe.  Film berdurasi 122 menit ini sebenarnya semi-autobiografi karena menceritakan pengalaman Crowe ketika bekerja di majalah Rolling Stone.  Film yang penuh dengan lagu-lagu rock ini gagal menjadi box office, bahkan budget film ini lebih banyak daripada pemasukannya alias rugi.  Meskipun rugi, film ini mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap beberapa orang sebagai salah satu film coming-of-age terbaik.

Anita (Zooey Deschanel) sangat kesal dengan ibunya (Frances  McDormand) yang konservatif sehingga ia meninggalkan rumah.  Sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan koleksi piringan hitamnya *yang sebagian besar album rock* jatuh ke adiknya, William (Patrick Fugit).  Sejak saat itu, William menjadi penggemar rock.

Kecintaannya pada musik rock mendorong William untuk menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan musik rock.  Suatu hari, William bertemu dengan Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), seorang kritikus musik yang terkenal.  Lester akan menyuruh William untuk me-review konser Black Sabbath dan berjanji akan memberikan uang untuk karya tulisnya.  William tidak bisa masuk ke konser Black Sabbath karena ia bukan jurnalis terkenal.  Ia bertemu dengan seorang groupie (Kate Hudson), yang memanggil dirinya sebagai Penny Lane dan band yang bernama Stillwater.  Gitaris band itu, Russell (Billy Crudup) tertarik dengan William dan mengajaknya masuk ke konser.  Editor majalah Rolling Stone tertarik dengan tulisan William.  Sang editor menyuruh William untuk mengikuti tur konser Stillwater dan menulis tentang mereka.  Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ibunya, akhirnya William diizinkan untuk mengikuti tur konser Stillwater.



Anjir, kemana aja gue selama ini......

From little boy to young man

Di awal film, si William ini sepolos bocah SD yang belum terkontaminasi video bokep.  Baek, gak punya niat untuk manfaatin orang lain, dll. Sialnya, kepolosan dan kebaikan William malah diperalat oleh Russell dengan cara menunda-nunda terus wawancaranya dengan William. Akibatnya, studi William terganggu, emaknya marah-marah terus, dan editor Rolling Stone nagih artikelnya melulu. Di sisi lain, waktu bersenang-senang William dengan rombongan Russell semakin banyak. Di saat itulah William semakin terekspos dengan dunia bintang rock yang penuh alkohol, narkoba, dan cewek cakep. Tapi hal-hal ini juga ikut membentuk pandangan hidup dan kepribadian William.

Experience vs Story, Showing vs Telling

Instead of telling its audience a story, this film brings the character's experience to the audience. Menurut gue pribadi, pengalaman dan cerita itu beda. Gue kurang bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi bagi gue film yang mengandung cerita itu kayak film-filmnya Nolan, Quentin Tarantino, dan Martin Scorsese. Film yang berisi pengalaman selain film ini adalah In The Mood for Love, 3 hari untuk selamanya, dan Before Sunrise. Film yang merupakan gabungan dari keduanya adalah Chungking Express dan The Breakfast Club. You kinda have the concept what's in my mind right? 

But anyway, beberapa fakta kecil seperti bahwa film ini tidak menggunakan narator atau bahkan breaking the fourth wall ala Ferris Bueller sangat beperan penting dalam memainkan emosi penonton. Menggunakan narator ketiga (masih ada gak sih film model begini?) akan menjauhkan penonton, membuatnya seakan-akan film ini adalah fairytale...which is not. Breaking the fourth wall justru akan mensadarkan penonton bahwa kita menonton film itu dan tidak mengalaminya. Film itu merupakan hasil pertimbangan  dan rekonstruksi si karakter yang memecahkan tembok keempat.

Gak cuma itu, tapi gue merasa film ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling. Teknik ini cukup sulit dilakukan, bahkan Nolan yang hebat sering sekali melakukan kesalahan dengan sering melakukan telling. Kenapa menurut gue film ini lebih banyak menggunakan showing? How long have Penny and Russell known each other? Where is William's father? Who cares, they do not matter. Kalau gue pikir-pikir mungkin agak salah gue bawa-bawa nama Nolan karena genrenya beda, haha.

The music and songs are fucking wonderful

Terima kasih kepada film ini, gue terekspos sama lagu-lagunya Led Zeppelin dan Elton John. Lagu favorit gue dari film ini: The Rain Song - Led Zeppelin, Mona Lisa and Mad Hatters - Elton John dan America - Simon and Garfunkel. 


SPOILER ALERT


Why is it different with other cheesy films?

This film is cheesy, but a very good cheesy. I also think that this is a feel-good film although it has its own blue moments. Gue gak merekomendasikan film ini ke orang yang suka film "berat" atau "filosofis" although who knows, perhaps you will discover something else through this film. Anyway, hal-hal yang membuat Almost Famous sebagai a good cheesy film adalah film ini jarang melebih-lebihkan fakta kehidupan. Sure, Will's mom is quirky, does that mean she's a hippie? Well the joke's on you 'cause she's a professor in a university. William and Russell becomes closer after the tour, does that mean Russell approves Williams' article? You saved someone's life? That doesn't guarantee that someone will come to your house after that. You make friends? Just because you meet wonderful people who make your days wonderful doesn't mean your friendship will last forever. 

And that is life. 

Conclusion

Kekurangan film ini adalah meskipun kental dengan classic rock yang identik dengan pemberontakan dan perlawanan serta era 70an yang diwarnai pergolakan social justice (walaupun mungkin tidak seheboh tahun 60an), film ini tidak menyinggung gerakan feminisme, rasisme, dan perlawanan terhadap homophobia dan transphobia. But if all you wanna do is watching something light, sweet, a bit sourness, and listening to classic rock, then just play this film. 8,7/10 (very good)


Kamis, 22 September 2016

Thursday Movie Picks: Teen Angst


Howdy, readers! It's been a damn long time since I release Thursday Movie Picks. Hello for my old usual readers and welcome to new readers! Thursday Movie Picks is a weekly three-film recommendation from certain. This meme is hosted by Wandering Through the Shelves.   If you want to know more, please visit this link.

What is one of the first thing we think about teenagers? That's right: angst. Angst because you are seen too emotional, too young but too old, too ignorant and too idealist at the same time. As a teenager myself, I think it's funny that so many adults think that teenagers are ignorant, party-obsessed, and lustful, while I witness my friends having debates - both logical and passionate - and being critical, being bullied. Teenagers are as complex as adults, both the people and the world, but since so many people forget about the, boom, an angst is born.

1. Thread of Lies (Lee Han, 2014)

tumblr.com

A mother and a daughter have to face a bitter reality after their daughter and younger sister left them by suicide. The older sister stars to investigate what kind of life her younger sister lives by meeting her young sister's "friends".

I don't know what to say about this film. I think I have to rewatch this again because I even confused by my own opinion about this film. I think the family drama in this film is pretty good, but it makes the bullying sub-plot less solid. There are some scenes I would like to cut.

But I like how so many aspects of bullying are present in this film. Like, how sometimes people do not realize that they actually hurt someone, how bully victims sometimes do not see themselves as a bully victim and try to normalize what happen to them, the "gray" people who neither help the bully victim nor support the bully, etc.

2. Tag (Sion Sono, 2015)

filmschoolrejects.com

Mitsuko (Reina Triendl) is a timid schoolgirl who likes to write poem. One day, she has to face something powerful and fearful as all of her friends are killed in a blink. As she survives the tag, she finds herself a new identity and new friends.

THIS FILM HAS ONE OF THE BEST OPENING SCENE I EVER WATCH. By the way, this is also the first Sion Sono's film I watched, so please forgive my ignorance, LOL. 

I can't really tell you why I pick this gory film in "Teen Angst" week because it will ruin all the fun, LOL.

P.S: It's also because I don't really the message of the film. I understand the message after I read some of its reviews.

3. The Perks of Being a Wallflower (Stephen Chbosky, 2012)

emilykazakh.wordpress.com
Ah yes, the ultimate modern, typica, teenage angst film.

Charlie (Logan Lerman) is an introverted freshman who likes to write. His life is changed forever after he meets Sam (Emma Watson) and Patrick (Ezra Miller).

I guess one of the thing I like about Perks is that it brings something new other than typical everyday-teenage-angst. It also talks about homophobia and mental illness, something that classics like The Breakfast Club and Rebel Without a Cause have done. I'm not saying that Perks is the pioneer of that because I bet earlier underground films had done that before this film. Also, the novel is a lot darker than the film, which is a sad thing. I love the soundtrack though.

Kamis, 28 Agustus 2014

The Kings of Summer

...and be our own man. -Joe Toy
cinemaforensic.com
I love coming-of-age films.  I don't experience the best in my high school and junior high school, but I really enjoy coming-of-age films.  Apalagi kalau yang main cowok-cowok ganteng, bisa jadi waktu fangirling dah.  Sayang nih pelem kagak ada cowok ganteng kayak Leo di Basketball Diaries.

The Kings of Summer merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2013 yang sempat nangkring di Sundance Film Festival.  Film ini disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dan ditulis oleh Chris Galletta.  Film berdurasi 94 menit ini mendapat respon yang cukup positif dari para kritikus film.

Joe Toy (Nick Robinson) merasa sumpek dengan kelakuan ayahnya, Frank (Nick Offerman) yang dirasa terlalu mengontrolnya.  Di sekolahnya, Joe juga mengalami bullying, bahkan ia dipermalukan di depan gadis yang ia taksir, Kelly (Erin Moriarty).  Teman Joe, Patrick (Gabriel Basso) juga merasa tertekan oleh sifat orang tuanya yang aneh dan anggapan mereka bahwa Patrick masih anak kecil.  Ketika emosinya memuncak, Joe merencanakan untuk membangun sebuah rumah di dekat hutan.  Joe mendapatkan ide lokasi rumahnya setelah ia 'berjalan-jalan' dengan Biaggio (Moises Arias), seorang bocah eksentrik.  Mereka bertiga setuju untuk membangun rumah secara diam-diam dengan peralatan dan perlengkapan seadanya.  Setelah rumah itu selesai, mereka segera meninggalkan orang tua mereka dan hidup di tengah alam.

emptykingdom.com
Kalau dari segi cerita, entah kenapa film ini mengingatkan gue dengan My Neighbor Totoro.  Mungkin karena kedua film ini latar tempatnya tuh di hutan dan kurang mengandalkan konflik dan tensi.  Memang ada beberapa konflik, tapi konflik-konflik itu diperlihatkan dengan kurang intens dan penyelesaiannya cenderung cepat.  Sebagian besar film diisi dengan keseharian dan petualangan mereka di hutan, sama seperti film My Neighbor Totoro.      

The Kings of Summer juga agak berbeda dengan film coming-of-age lainnya.  Film ini tidak membicarakan first kiss, losing virginity, bullying, status quo, dan hal lainnya secara intens.  Malah hal-hal itu boleh dibilang menjadi side story saja.  Galleta menuliskan cerita tentang tiga orang remaja yang memaksa diri mereka untuk dewasa.  Joe, Patrick, dan Biaggio 'mewakili' remaja-remaja yang sudah tidak tahan lagi untuk pergi dari rumah mereka.  Mereka hanya berfokus pada kebebasan yang ditawarkan di luar rumah.  Mereka lupa bahwa jika mereka sudah di luar rumah, mereka tidak bisa lagi bergantung pada orang tua mereka.  Seiring berjalannya waktu, Joe, Patrick, dan Biaggio sadar bahwa no parents dan kebebasan tidak seenak yang mereka kira.  Mereka harus berjuang lebih keras tanpa orang tua mereka walaupun mereka belum dewasa.  Usaha mereka untuk menjadi pria akhirnya sia-sia karena pada dasarnya mereka masih remaja dengan sedikit pengetahuan dan pengalaman.

SPOILERNYA MULAI YAAA

filmsandpies.blogspot.com

Gue cukup menikmati petualangan-petualangan yang mereka bertiga alami.  Sayang petualangan itu harus diakhiri dengan cinta segitiga yang klise dan pengen bikin gue muntah.  Bitch please, even The Breakfast Club didn't do love triangle stuff.  Tapi di sisi lain, cinta segitiga ini justru memperlihatkan sisi realistis persahabatan: your best friends don't always sacrifice and or stick for you.  Hollywood sangat sering memperlihatkan kita sahabat-sahabat yang too nice and too selfless while not all of us are blessed with that kind of best friend.      

I don't know about you, but I don't like the actors.  Bukan karena mereka gak ada yang seganteng Judd Nelson kok, tapi mereka memberikan aura awkward di sepanjang film.  Pokoknya gue merasa canggung lihat akting mereka, apalagi aktingnya si Nick Offerman, yang gak bisa meyakinkan gue kalau dia tuh lagi khawatir atau marah.  Beberapa blogger film memuji aktor-aktornya, tapi gue tetap merasa canggung nonton mereka akting.  Kalau dari segi individual aja udah awkward, apalagi waktu berinteraksi dengan tokoh lainnya kan?  Di film ini, ceritanya sih Patrick dan Joe udah temenan dari kecil.  Tapi gue rasa mereka bukan temen sejak kecil, melainkan temen dari SMP yang suka bercanda, bukan yang deket-deket banget.  Sebenarnya gak apa-apa sih kalau ceritanya Joe dan Patrick tuh baru deket waktu SMA, tapi di film ini Joe dan Patrick sudah temenan dari kecil dan Nick Robinson serta Gabriel Basso tidak bisa menunjukkan bahwa they've been pals since they used diapers.

Hal terbaik dari film ini jelas sinematografinya.  Gue suka banget pewarnaan yang digunakan di film ini.  Latar hutan dengan pepohonan rindang melakukan duet yang harmonis dengan sinematografi film ini.  *komen gue hiperbola ya*  Ada juga beberapa adegan slow motion yang gue personally kurang suka, tapi keren juga sih.  Namun, gue kurang suka jenis musik yang digunakan di film ini.  The music is too modern and edgy for me.  Gue pribadi bakalan lebih suka kalau film ini pake lagu-lagu alternative atau rock tahun 80an sampai 90an.

Overall, the film is pretty forgettable for me because the film is not as fun and passionate as I expected.  The story has some messages, but story with less enormous conflict is not everyone.  Oh, the jokes are as fresh as Stewart's acting in Twilight.  I only like the jokes that are told by Joe's dad.  6,7/10  


Sabtu, 16 Agustus 2014

Submarine (2010)

I often imagine how people would react to my death. -Oliver Tate
dwhs.co.uk

Submarine merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2010.  Film ini disutradarai dan disutradari oleh Richard Ayoade.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Joe Dunthorne.  Film berdurasi 97 menit ini diputar di berbagai festival film dan mendapat respon yang positif dari para kritikus film.

Oliver Tate (Craig Roberts) suka sekali menyendiri karena menurutnya dengan menyendiri ia mempunyai waktu untuk merenungkan berbagai hal.  Suatu hari, Oliver mendorong Zoe, seorang korban bully ke genangan airDihantui rasa bersalah, Oliver menulis surat untuk Zoe.  Ternata ia tertangkap basah oleh Jordana Bevan (Yasmin Paige), seorang gadis yang juga tidak populer seperti Oliver.  Jordana memeras Oliver dengan menyuruh Oliver untuk membawa kamera dan diarinya ke suatu tempat.  Ketika mereka bertemu, Jordana langsung mencium Oliver sambil memfoto momen itu.  Ternyata, Jordana melakukan itu untuk membuat mantan pacarnya cemburu.  Namun rencana itu malah backfire dan membuat Oliver menjadi pacar Jordana.

Di saat yang sama,orang tua Oliver yaitu Lloyd (Noah Taylor) dan Jill (Sally Hawkins), mengalami perguncangan dalam pernikahan mereka.  Pernikahan mereka semakin terguncang ketika Jill menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya, Graham (Paddy Considine).  Oliver berpikir keras untuk menyelamatkan pernikahan orangtuanya sekaligus menghibur ayahnya.  Namun permasalahan Oliver bertambah ketika ibu Jordana terkena kanker.  

SPOILER ALERT!

randomlifeblog.com
I didn't expect much from Submarine.  Gue kira Submarine tuh jenis film sok quirky dan cute, penuh percakapan sok filosofis, and that's it.  Ternyata gue salah.  

Joanna, Oliver, and the relationship between them

Hal yang gue kurang suka dari tokoh-tokoh quirky tuh betapa jarangnya mereka menunjukkan empati dan terkadang mereka terlalu disconnected dengan dunia sekitar mereka.  Oliver tuh tokoh yang quirky, tapi dia masih mampu untuk menunjukkan bahwa dia masih terhubung dan peduli dengan realita di sekitarnya.  Hal itu ditunjukkan bagaimana ia berusaha untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya dan surat permintaan maafnya untuk Zoe.  Sama seperti tokoh quirky lainnya, Oliver mengalami kesulitan dalam mengelola emosinya.  Oliver berusaha untuk dekat dengan Jordana secara emosional dan fisik, namun Jordana menolak usahanya.  Namun ketika Jordana yang melakukan hal-hal itu, Oliver justru menolak usaha Jordana karena ia berpikir bahwa Jordana menjadi semakin sensitif dan emosional.  Hal paling disturbing yang pernah dipikirkan Oliver tuh ketika ia mendapat ide untuk membunuh anjing Jordana dengan tujuan 'menyiapkan' sang pacar untuk kematian ibunya.  Dude, it's fine if you're quirky or neurotic, tapi gak segitunya juga.

Jordana sendiri juga bisa menunjukkan bahwa dia masih connected dan peduli dengan dunia sekitarnya.  Ini ditunjukkan lewat bagaimana ia tidak ragu-ragu untuk menghibur ayahnya yang sedang menangis.  Gue rasa Jordana agak takut untuk emotionally attached atau benar-benar peduli dengan seseorang di luar keluarganya.  Karena itu ia bersikap agak dingin dengan Oliver di awal film.  Hal yang gue suka dari Jordana adalah bahwa alasannya untuk marah dan putus dengan Oliver tuh jelas.  Cewek mana yang gak marah kalau pacarnya tuh lupa janjinya terus gak melakukan komunikasi selama berhari-hari?

Gue memperhatikan bahwa Jordana dan Oliver tidak pernah bertukar kata cinta atau bahkan memuji satu sama lain.  Hal ini membuat gue tidak keberatan dengan kecepatan hubungan antara Jordana dan Oliver.  Ini juga membuat hubungan antara Jordana dan Oliver bukanlah hubungan quirky yang pretensius.  Yang terjadi di antara mereka hanyalah sparks dan ketertarikan.  Awalnya, mereka tidak ingin melibatkan perasaan atau hal-hal romantis yang berlebihan, karena mereka hanya menginginkan kesenangan dan easy relationship.  Hubungan mereka memang pada akhirnya tambah serius, namun peningkatan keseriusan dalam hubungan mereka tidak meroket mendadak.  Tidak ada pula hal-hal cengeng dan angst yang berlebihan pada akhirnya.

sosreelthoughts.com

The Irony

Menurut gue agak ironis bahwa Oliver berusaha menyelamatkan pernikahan orang tuanya sedangkan ayahnya bersikap pasrah.  Ironis juga bagaimana Oliver terlalu berfokus pada pernikahan orang tuanya sehingga hubungannya dengan Jordana malah berantakan.  Keironisan ini sepertinya bisa me-mislead penonton, karena dua kasus ini berakhir bahagia and I think that fact is too good to be true.  Keironisan ini juga menunjukkan sifat manusia yang ingin mengontrol atau memperbaiki kehidupan orang lain tanpa menjaga kehidupannya sendiri.

Technical Stuffs   

Sinematografinya cute dan bagus banget, as expected from music video director.  Latar tempat yang indah juga mendukung sekali sinematografi dan visual stuffs di film ini.  Latar tempat yang gak romantis pun akhirnya jadi romantis gara-gara film ini.  Gue suka banget bagian dimana Oliver membayangkan bagaimana jika kehidupannya difilmkan dan juga seandainya kematiannya diberitakan di televisi.  Ketika aktor berbicara dengan background berwarna hitam, gue jadi teringat film Le Gai Savoir.  

Terima kasih untuk siapapun yang milih Alex Turner dan Andrew Hewitt untuk mengurus departemen musik di film ini.  Gue tertarik nonton film ini gara-gara nonton fanmade video Stuck on a Puzzle.  Lagu itu lagu favorit gue dari album soundtrack Submarine.  Intronya yang unik dan sangat menghantui langsung membuat gue muterin tuh lagu jutaan kali.  Sebenarnya lagunya bagus semua dari tuh album.  Gak ada lagu yang gue benci dari awal film sampe ending credit.

Aktingnya bagus.  Gak ada aktor yang spektakuler dari Submarine, tapi semua aktor mampu memerankan tokoh masing-masing dengan natural.  Aktor terbagi gue sih Yasmin Paige karena tokohnya mempunyai berbagai dimensi.  Dimensi yang bermacam-macam inilah yang membuat Paige memperlihatkan kemampuannya untuk berakting.  Ekspresi yang dibuat Paige juga cukup variatif.  Craig Roberts juga berakting dengan natural, namun ekspresi wajahnya cukup monoton di sepanjang film.  Mungkin emang dari sononya alias skrip film.

Overall, Submarine is more than a cute film and surprisingly is more realistic than the usual quirky movies. 9,2/10   

 

Kamis, 27 Februari 2014

The Perks of Being a Wallflower : A Realistic and Charming Coming-of-Age Movie with Lovely Soundtracks

We accept the love we think we deserve.

Haha, telat banget ya gue masukin film ini ke blog gue, wkwk.  Gue bukan penggemar Logan Lerman ataupun Emma Watson, gue juga belum baca novelnya.  Terus, apa yang membuat gue tertarik dengan The Perks of Being a Wallflower? Simple, banyak review yang bilang nih film bagus.  Akhirnya gue kepo sendiri dan memutuskan untuk beli DVD bajakannya.

Meet Charlie (Logan Lerman), anak yang paling gak eksis di sekolahnya.  Udah gak punya temen, kakaknya Charlie gak ngebolehin dia buat duduk bareng kakaknya.  Pada suatu hari, Charlie memberanikan diri untuk berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller), 'veteran' yang duduk bareng dia di shop class.  Tidak hanya berkenalan dengan Patrick, Charlie juga berkenalan dengan Sam (Emma Watson) saudara tiri Patrick.  Sejak Charlie berkenalan dengan mereka berdua, Charlie merasakan hidup sesungguhnya: pesta, hangout bareng teman, belajar bareng, dan tentu saja jatuh cinta.


Oh.  My.  God.  Charlie mirip sama gue.  Astaga, sumpah, gue benar-benar bisa relate dengan perasaannya dia waktu first day of school.  Perasaan takut gak punya teman, gak kenal siapa-siapa, takut di-bully, I can relate all of that feelings!

Jalan ceritanya simpel, tentang bagaimana Charlie berusaha survive in high school dengan teman-temannya.  Tapi gue kurang suka dengan cerita cinta segitiganya Charlie, Sam, dan Mary Elizabeth (Mae Whitman).  It's just super cliche.  Do we need a fucking love triangle in every teenage movie?  

Berbagai karakter di The Perks of Being a Wallflower mempunyai keunikan masing-masing.  Entah itu Sam dan Patrick yang mempunyai selera musik yang keren, Mary Elizabeth yang suka dengan gaya gotik tapi menganut Budha, ataupun Alice (Erin Wilhelmi) yang sebenarnya kaya tapi suka nyolong jeans.  Hal ini mempunyai sisi positif dimana semua karakter mempunyai peluang untuk membuat impact atau menjadi memorable.  Tapi sisi negatifnya, Steven Chobosky terlihat keras untuk membuat karakter-karakter yang unik.  It's quite hardly to believe that a group of people who are very unique and have little in common can be close friends.  But hey, it's a movie, it doesn't have to be so realistic.  


Ada suatu titik dimana gue benci film ini karena gue merasa kesal dengan tokoh-tokohnya.  Sam menurut gue slutty alias gampangan (dan tanpa alasan yang jelas), Patrick dengan mudah meninggalkan Charlie tanpa mendengar penjalasannya, Mary Elizabeth dengan ke-GRannya pada Charlie, dan Alice dan Brad yang hampir gak relevan di film ini.  Tapi lama-kelamaan gue bisa menerima hal itu karena realita seperti itu.  Tidak semua orang punya loyalitas yang tinggi, banyak orang yang geer because they are too desperate to be loved, ada juga orang yang melakukan sesuatu tanpa mempedulikan perkatan orang lain, dan tidak semua orang relevan, entah itu di film, SMA, pekerjaan, dll.  It's the reality, and Chbosky just wanted to show the ugly truth.  Bandingkan saja dengan film-film remaja lain dimana tokoh-tokohnya mempunyai loyalitas tinggi terhadap temannya, ataupun tokoh yang menggunakan seks sebagai pelarian atau karena trauma.  

I don't know about you, tapi gue kadang merasa agak bosan di tengah-tengah film ini.  Entahlah, soundtracknya-nya emang keren semua, tapi ada sesuatu dari film ini yang agak plain.  Hal ini bisa saja disebabkan oleh karakter Charlie yang too plain for my liking.  I understand that not all of us (and movie characters) are blessed with dry and sarcastic sense of humor, but like I said before, it's a movie.  Chbosky harusnya bisa memberikan sedikit 'aksesoris' pada karakter Charlie.  Karakternya lumayan datar.  Menurut gue, dia terlalu polos dan penakut, bahkan untuk bersenang-senang dengan temannya.  Gue tahu bahwa di film ini dia sempat mengkonsumsi narkoba, tapi selain itu, (dan di ending film) dia gak pernah benar-benar have fun dengan teman-temannya.  Lo tahu adegan dance di film The Breakfast Club?  Itulah have fun yang gue maksud, dimana Charlie just loosen up and being free, not consuming drugs.  But on the other hand, Chbosky menunjukkan bahwa persahabatan atau pertemanan di dunia nyata tidak seindah seperti kebanyakan film Hollywood.  Tidak semua dari kita bisa dengan lancar menuangkan perasaan dan pemikiran kita kepada teman-teman kita, bahkan terkadang, sahabat kita.

Gue pengen banget Chbosky menggunakan pendekatan yang lebih psikologis terhadap Charlie.  Menurut gue, Perks of Being a Wallflower kurang menjelaskan hubungan Charlie dengan orangtuanya.  Gak cuma sama Charlie sih, gue juga pengen Chbosky menggunakan pendekatan psikologis terhadap Sam.  Sampai sekarang gue kepo apa yang mendorong Sam menjadi seperti 'itu'. 



Aktingnya bagus-bagus, but not really makes me 'wow'.  Pengecualian untuk Ezra Miller karena aktingnya dia keren dan bagus banget.  Miller berhasil sekali dalam memerankan cowok yang ceria dan ekspresif namun mempunyai rahasia yang gelap dan beban emosi yang cukup berat.  Gak cuma aktingnya yang keren, tampangnya bang Ezra Miller juga keren, hehe.

Anyway, I really love the soundtracks!  Walaupun gue bukan remaja 90an, gue tetap enjoy lagu-lagu dari film ini.  Apalagi ada Something - The Beatles yang notabene lagu kesukaan gue dari band paporit gue, long live The Beatles, yea!  Sumpah, soundtrack-nya The Perks of Being a Wallflower menambah koleksi lagu-lagu rock di HP gue.  Lagu favorit gue --> Come on Eileen - Dexy's Midnight Runners, pertama kali dengar nih lagu langsung download lagunya dan cari liriknya.  I personally think The Perks of Being a Wallflower is a wet dream for anyone who loves rock or 90's music.  

Film ini menunjukkan hanya karena hidupmu 'suram', bukan berarti itu tidak bisa membuatmu menonton Rocky Horror Picture Show (which is my favorite scene), merayakan natal bersama teman, sedikit berpesta, ataupun melakukan pose Titanic diatas truk yang sedang berjalan.  The point is, sesuram-suramnya hidup lo, lo bisa mengalahkan kesuraman itu dengan bersenang-senang dan tertawa.  Not only that, The Perks of Being a Wallflower membuat gue cukup bersyukur dengan situasi sekolah di Indonesia?  Kenapa?  Karena bullying di SMA-SMA Indonesia gak separah di Amerika.  Lihat saja, Charlie saking gak punya teman, cuma bisa temenan sama senior-seniornya.  Separah-parahnya gue, gue masih punya lebih dari satu teman di kelas gue.

Overall, The Perks of Being a Wallflower is a realistic-but-not-depressing and enjoyable-but-not-fantastical coming of age film.  8,7/10

pic cr:
cinecritical.com
popcornaddiction.com
hendriologi.blogspot.com

Minggu, 05 Mei 2013

The Breakfast Club

You see as you want to see us. -Brian Johnson

 Sinopsis 

Hari Sabtu adalah hari yang cocok untuk bersantai...dan juga untuk detensi.  Brian "Brian" Johnson (Anthony Michael Hall), Andrew "Athlete" Clark (Emilio Estevez), John "Criminal" Bender (Judd Nelson), Claire "Princess" Standish (Molly Ringwald), dan Allison ''Basket-Case" Reynold (Ally Sheedy) berkumpul di sekolah untuk melaksanakan detensi.  Detensi mereka diawasi oleh Richard Vernon (Paul Gleason).

Jelas sekali kelima murid ini berasal dari kelas sosial yang berbeda.  Satu-satunya 'gang' yang bisa 'klik' adalah Claire dan Andrew karena mereka sama-sama populer.  Well, tidak ada yang menyangka kalau seorang criminal yang cerewet bisa menyatukan mereka semua.


I looooooooove this movie so much!  Adegan pembuka film ini adalah salah satu adegan pembuka favorit gue.  John Hughes menggunakan narasi yang cukup jarang dipakai.  Dia tidak menarasi seluruh film, tapi hanya menarasi di pembuka dan penutup.  Dia memberikan cuplikan tentang film apa yang akan kita tonton, tapi tidak memberi spoiler seutuhnya.  John Hughes juga tidak secara verbal mengatakan siapa dengan karakter apa, semuanya terindikasi dengan cara mereka berkomunikasi dengan orangtuanya.  It's a genius way. Dan gue juga 'ngeh' sama humornya John Hughes.

Penampilan lima anggota Brat Pack di film ini juga bagus.  Terutama Sheedy.  Gue suka banget penampilannya!  Bahasa tubuhnya canggung, tapi juga meneriakkan jiwa pemberontak.  Tatapan matanya yang creepy tapi juga bisa vulnerable, pokoknya bagus banget deh aktingnya.  Molly Ringwald juga berhasil menjadi seorang...b*tch, perhaps?  

The character that I love the least is Claire.  She's too b*tchy for me too like her.  Kalau dia menghadapi child abuse seperti John, mungkin gue lebih bisa berempati sama dia.  Tapi masalahnya dia itu gak seberat John atau Allyson, dan kelakuannya drama queen banget.  But, I must admit that Ringwald did a very good job.  

Hall did a very good job too.  Nope, not as amazing as Sheedy.  Permasalahannya juga cukup klise sih, dan gue juga merasa dia kurang mendalami karakternya.  John Hughes juga harusnya menambah sedikit konflk agar penampilan Hall bisa menjadi lebih emosional.  But at least Brian wasn't as annoying as Hermione. 

Judd Nelson is a classic asshole/bad boy.  Aktingnya Nelson bagus banget, terutama di adegan dimana Vernon ngancem Bender. 

Nah, gue kurang suka aktingnya Estevez.  Kurang dalam dan emosional.  Mungkin memang karakter athlete dan criminal memang harus seperti itu?  Entahlah.  Meskipun kurang dalam dan emosional, akting mereka juga gak terlalu parah.  Masih bisa dikategorikan...biasa.  Tapi, mereka juga membawakan energi dan bahasa tubuh yang tepat untuk karakter-karakter yang mereka mainkan.

Gleason dan John Kapelos (Carl, janitor di sekolah) juga berhasil menjadi pameran pembantu.  Memang penampilan mereka singkat, tapi bukan berarti penampilan mereka tidak diperhitungkan.  

Musik dan soundtracknya juga keren banget.  Cocok banget untuk kategori film remaja.  Adegan yang dibuka dengan lagu Don't You (Forget About Me) - Simple Minds bisa jadi keren banget.  Soundtrack dan musiknya memberikan semacam energi yang mengalir dalam film ini.  

Tapi, yang namanya film, sering ada hal yang gue gak suka.  Kalau film ini?  Endingnya yang klise.  Emang harus ya tiap film remaja atau persahabatan itu dihubungkan dengan hal-hal romantis?  Tapi emang kalau endingnya gak ada love line, kurang 'nendang' sih.  Yang harusnya jadi pasangan itu Allison-Andy aja, jangan si Bender-Claire.  Kalau bad boy ketemu cewek cantik kan udah biasa.  Tapi gue juga senang Hughes mengakhiri film ini dengan cara yang tidak terlalu me-reveal, karena film ini tidak diberikan epilog.  Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada hari Senin.  Boleh dibilang, gue suka gak suka sama ending film in.


Oh iya, transformasi Allyson.  Perlu banget?  Menurut gue Ally Sheedy udah cantik kok dengan dandanan serba hitamnya.  Malah dia kelihatan lebih original.  Kalau dandanan pink, malah jadi kayak badut-__-

Overall, it's the best brat pack movie!  8,7/10

pic cr : gear4
            telstar 
            judgementalobserver