Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasy. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2015

Cinderella (2015)


Gue demen fairytale waktu gue masih eek di celana. Tentu saja gue mencintai fairy tale karena gue gak tahu betapa konyolnya the idea of love at first sight, atau bahwa rata-rata protagonis di fairy tale selalu digambarkan dengan kata cantik, seolah-olah kebaikan bisa terlihat dari luar. Anyway, Cinderella merupakan film fantasi Amerika tahun 2015 yang disutradari oleh Kenneth Branagh dan ditulis oleh Chris Weitz.  Sama seperti Maleficent, Cinderella merupakan recreation dari sebuah fairytale klasik. Karena gue cukup terhibur dengan Maleficent, gue mencoba untuk memberikan Cinderella suatu kesempatan (although I know I won't like this film).

Salah satu ciri khas Ella (Lily James) adalah lunacy daya imajinasi yang besar. Ia percaya bahwa binatang-binatang di sekitarnya mengerti apa yang ia bicarakan dan ibunya bahkan mendukung kepercayaan itu *which I don't really support in real life*. Ibu Ella memberikan suatu nasihat yang akan menjadi prinsip Ella yaitu have courage and be kind. Bla bla bla, ibunya mati, lalu ayahnya menikahi seorang janda bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett).  Lady Tremaine tidak sendirian, ia membawa kedua putrinya yaitu Anastasia dan Drizella. Saat Lady Tremaine membawa sepercik 'keceriaan' ke rumah Ella, sang ayah pergi meninggalkan Ella bersama keluarga barunya. Bla bla bla, Lady Tremaine dan dua putrinya memanfaatkan kepolosan dan kebaikan Ella sehingga status Ella menjadi babu.

Pangeran Kit (Richard Madden) didesak oleh ayahnya (Derek Jacobi) untuk menikahi seorang putri untuk memperkuat posisi kerajaan kecil mereka. Sayangnya, Pangeran Kit telah jatuh hati pada seorang wanita misterius yang ia temui di hutan. Pangeran Kit yang sudah jatuh terlalu dalam memutuskan untuk memperluas undangan pesta dansanya hingga pesta dansa itu bisa dikunjungi setiap orang.

Kapan ya gue gak spoiler?

cgmeetup.net

Gue tahu kok ini diadaptasi dari cerita yang super klise dan targetnya bukan penonton yang serius, tapi...

I dislike this film. Come on, kita udah di era modern, masa masih bikin film dengan tokoh, pesan, dan dialog yang super naif? Gue sadar betul kok film ini diadaptasi dari mana dan target penontonnya siapa, tapi tingkat dreamy dan kenaifan film ini sangat mengganggu gue. Gue melihat banyak bocah ingusan nonton film dan ngerasa kesel sendiri karena gue tahu sebagian dari mereka akan mendapatkan kesan yang kurang tepat dari film ini. Yang membuat kenaifan film ini sulit dimaafkan bagi gue adalah fakta bahwa film ini dibuat di jaman modern dimana otak yang bikin nih film harusnya udah lebih maju daripada pembuat film yang versi kartun di tahun 50an. 

Film ini juga tidak punya sedikit ramuan kegelapan, kalaupun ada, terasa terlalu subtle buat gue. Trust me, a speck of darkness is always good because the world is dark. 

Be kind and have courage my ass

I want to smash my head everytime I hear this line in the film.

Bercita-cita jadi orang baik dan idealis macam Jokowi, Munir, Martin Luther King jr, Mahatma Gandhi, atau orang lain itu bagus kok, asalkan lu juga make otak. Jangan sampe lu keseringan make hati terus otak lo karatan kayak si Ella. Cinderella kurang menekankan pentingnya untuk menjadi orang yang tidak polos dan agak jahat. Well, mungkin diperlihatkan lewat bagaimana 'derajat' Ella turun karena ia terlalu baik dan buta terhadap maksud ibu dan kedua saudari tirinya. Tapi orang yang terlalu fokus pada akhir dimana Ella mendapatkan prince charming mungkin melewatkan hal itu.   

Lady Tremaine dan putri-putrinya emang jahat, tapi mereka tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan yang mereka inginkan. Mereka menggunakan otak mereka secara efektif. Ella bisa saja mendapatkan hal yang ia mau...if she trains her brain enough...which she doesn't do, because her mother only told her,"Be kind and have courage." Well fuck that advice, because you also need your brain. What's the point of kindness and courage without wisdom and cleverness?

Salah satu hal yang gue pelajari dari sejarah adalah bahwa sometimes, the victims let themselves to be victimized. Ella sebenarnya tahu bahwa ia dilakukan secara semena-mena oleh trio macan, tapi dia membiarkan mereka begitu saja. Alasan Ella membiarkan dirinya dilakukan semena-mena adalah ia ingin tetap berada di rumah milik orang tuanya. But in the end of the day, she lets herself to be victimized by the three stooges. Dia mengatakan Lady Tremaine kejam namun gagal melihat bahwa kenaifan dan sifatnya yang super 'baik' juga berperan dalam kesialannya. Also, it's quite ironic that Ella tells herself to have courage, but doesn't have balls to rebel against her step family.

jagatreview.com

This bitch had it too easy

Yang gue maksud dengan bitch bukan ibu tirinya kok, tapi si Ella.

Sumpah, tuh orang hokinya banyak banget anjir. Waktu dia membiarkan gaunnya dirobek, dia kedatangan ibu peri yang membuat gaun yang lebih bagus. Waktu dia cengak cengok di loteng, tikus-tikus yang bukain jendela.

Kurang hoki apa coba? 

Selain itu, hal ini memberikan kesan bahwa hoki akan selalu ada dan yang harus kita lakukan hanyalah be kind and have courage. Well, kenyataannya tidak semua dari kita punya kehokian yang sebesar itu. Kehokian yang terjadi pada Ella pun terjadi bukan karena dirinya, tapi karena orang lain membuka kesempatan itu. Ibu peri yang berusaha, bukan Ella. Tikus-tikus yang membukat jendela, bukan Ella.

...or is it? Gue sadar sih kalau Ella gak ngasih susu ke ibu peri, si ibu peri juga ogah bantuin Ella. Kalau Ella gak baek sama tuh tikus CGI, mereka malah gigit Ella. Jadi gue harus mengakui kalau sifat baiknya Ella memang meningkatkan presentasi kehokiannya. Sayangnya di kehidupan nyata, boro-boro orang yang lu bantu bakalan bantuin lu balik, best friend lu aja punya hati buat backstab lo

The actors

Cate Blanchett is a badass, as usual. Sumpah, dia bisa banget bikin ekspresi sedih yang bisa menipu penonton. Dia juga bisa memperlihatkan seorang ibu yang sayang anaknya, tapi malu sama kebegoan anaknya, haha. Untung nih film punya Blanchett.

Sebelum gue nulis, gue merasa gak suka dengan aktingnya Lily James. Tapi gue mempertanyakan diri gue sendiri apakah gue gak suka aktingnya, atau gak suka karakternya. Sometimes, people have a hard time to separate between the actors who act and the characters they play. Saat ini, gue memutuskan bahwa akting Lily James cukup, apalagi mengingat dia itu rookie.

Overall

Gue tahu kok film ini diadaptasi dari kisah yang super klise dan target penontonnya bukanlah penonton yang serius. Tapi gue pikir kedua hal itu bukanlah alasan untuk membuat film dengan pesan-pesan yang kurang tepat kepada penonton yang masih ngadu ke bokap nyokap mereka. Meskipun sang sutradara dan penulis melebih-lebihkan be-kind-and-have-courage stuff, ada kemungkinan mereka berusaha memperlihatkan kekurangan pesan itu lewat turunnya derajat Cinderella. Unfortunately,  Cinderella only gives me a super naive protagonist who's ironically doesn't have enough guts to rebel against her step family. And I don't like it. 4,5/10


Kamis, 19 Juni 2014

Black Butler (2014): A disappointing adaptation of "Kuroshitsuji"

I'm just...a devilish butler. -Sebastian Michaelis
eigapedia.com

Gue gak pernah baca komik Black Butler a.k.a Kuroshitsuji ataupun nonton anime-nya.  Tapi teman SMP gue ngefans banget sama nih komik, makanya gue tahu satu-dua hal tentang komik ini.  Black Butler merupakan film supernatural dan misteri Jepang 2014 yang disutradarai oleh Kentaro Otani dan Keiichi Sato serta ditulis oleh Tsutomu Kuroiwa.  Film ini merupakan live action yang diangkat dari komik Black Butler yang ditulis oleh Yana Toboso.  Durasi film ini sekitar 199 menit.

Film ini berlatar pada tahun 2020, dimana dunia terpisah menjadi "Barat" dan "Timur".  Ratu dari "Barat" pun mengirim 'mata-mata' ke seluruh dunia yang disebut Queen's Watchdogs.  Salah satu dari Queen's watchdogs itu adalah Kiyoharu Genpo (Ayame Gouriki).  Nama asli Kiyoharu adalah Shiori.  Ia merupakan satu-satunya putri pasangan Genpo yang dibunuh pada suatu malam.  Shiori selamat dan ia menyamar sebagai anak laki-laki haram ayahnya agar dapat menguasai seluruh aset keluarga Genpo.  Ia kembali dengan seorang pria yang bernama Sebastian Michaelis (Hiro Mizhushima)Sejak saat itu, Sebastian menjadi pelayan setia bagi Kiyoharu.  Sebenarnya Sebastian seorang setan yang melakukan perjanjian dengan Kiyoharu.  Kiyoharu menjual jiwanya kepada Sebastian agar ia bisa melakukan balas dendam bagi orang-orang yang telah membunuh orangtuanya.

Akhir-akhir ini, muncul kasus orang-orang yang berubah menjadi mumi.  Korban-korbannya merupakan orang yang punya jabatan di dunia politik.  Tapi polisi tidak bisa menemukan koneksi antara orang-orang yang dibunuh serta apapun yang menyebabkan mereka menjadi mumi.  Kiyoharu dan Sebastian pun menyelidiki kasus ini dengan sedikit bantuan dari bibi Kiyoharu, Hanae (Yuka).  Kasus ini malah menarik Sebastian dan Kiyoharu ke dunia gelap yang melibatkan obat-obatan dan terorisme.  Siapapun orang di balik ini semua, ternyata juga terlibat dengan pembunuhan pasangan Genpo.

eigapedia.com

What the hell is Genpo family?  Bukannya Ciel Phantomhive ini cowok?  Kok malah jadi cewek?!!!  Kok nama keluarganya beda?  Bukannya Black Butler setting-nya di jaman ratu Victoria gitu ya?!!

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan berbagai pertanyaan yang memenuh otak gue saat menonton film ini.  Tapi karena gue belum pernah baca dan nonton Kuroshitsuji, makanya gue melupakan pertanyaan-pertanyaan itu.  Sampai rumah, gue pun browsing tentang Black Butler dan ternyata live action ini emang agak beda dengan komik aslinya.  Karena gue bukan fans berat Black Butler, gue malah appreciate Tsutomu Kuroiwa yang berusaha agar film ini sedikit berbeda dari komik aslinya.  But does that mean I like this film?

First thing first, Sebastian Michaelis ganteng banget!!!!!!!!  Mau yang versi komik atau versi live action, dia ganteng banget sumpah!!!  Selama ini gue membayangkan Sebastian sebagai sosok yang karismatik, misterius, agak dingin namun punya sense of humor yang rada sarkastik.  Praise to the lord, Hiro Mizushima berhasil mewujudkan Sebastian impian gue!  Hal yang paling gue suka dari aktingnya Hiro Mizushima itu bukan facial expression-nya, tapi gesture dan intonasi suaranya.  Mizushima berbicara dengan cara yang anggun namun juga mempunyai unsur playfulness.  Gue rasa Mizushima berhasil memerankan sosok Sebastian Michaelis karena dia berhasil menarik perhatian gue, yang tadinya gak tahu apa-apa soal Sebastian Michaelis, malah tergila-gila sama dia sekarang.   Gue suka bagaimana penulis dapat menunjukan kesetiaan Sebastian, tapi di sisi yang lain, Sebastian tidak takut memainkan nyawa tuannya di waktu tertentu.  Meskipun Sebastian 'terikat' untuk melayani Kiyoharu, there's still a sense of independence from Sebastian.  Tidak hanya karena Sebastian lebih kuat daripada Kiyoharu, tapi ada sesuatu dari aura dan watak Sebastian yang membuatnya...agak bebas dan mandiri.

Ciel Phantomhive di otak gue merupakan sosok tuan muda yang karismatik, dingin, kaku, tapi juga agak pemalu.  Sayang, Ayame Gouriki gagal mewujudkan Ciel Phantomhive.  Atau mungkin karena Ciel Phantomhive yang di otak gue berbeda dengan Ciel yang di komik ataupun anime?  Oke, oke, Ayame Gouriki tidak berperan sebagai Ciel di film ini, tapi sebagai Kiyoharu Genpo.  Entahlah, bukankah orang yang memimpin suatu perusahaan besar dan mata-mata ratu harusnya mempunyai aura seorang pemimpin atau karisma yang besar?  Gouriki tidak memiliki unsur ini.  Bukan hanya itu, terkadang ekspresi Gouriki terlihat seperti dipaksakan.  Memang ada momen dimana aktingnya bagus, tapi ada juga momen dimana it's awkward to watch her.  Sayangnya juga, chemistry antara Gouriki dan Mizushima kurang terasa.   

Tapi untungnya hubungan antara Kiyoharu dan Sebastian tergali dengan cukup baik disini.    

theeoy.com
Waktu gue melihat ada mobil yang dikendarai dengan agak aneh dan di mobil itu ada mumi, somehow, gue mengira bahwa film ini merupakan pertemuan antara Confession (Kokuhaku) dan Battle Royale.  Artinya, film ini merupakan film misteri gelap bercampur dengan bunuh-bunuhan yang berdarah.  Sadly, Black Butler is far from Confession or Battle Royale.  Gue malah merasa agak bosan dengan film ini dan pengen cepat-cepat keluar dari bioskop.  Why?  Karena durasinya kepanjangan.  Kalau durasinya panjang tapi akting, plot, dan sinematografinya bagus sih yang jelas gak apa-apa.  But I think this film is mediocre.

Yes, there are some twists in this film, but overall, film ini gak punya cerita misteri yang 'menggigit'.  I don't really know why, pertama-pertamanya sih gue ngikuti dan kepo dengan misteri yang ditawarkan film ini.  Tapi lama-kelamaan gue males dan udah gak kepo lagi dengan misterinya.  Gue rasa karena twist yang ada di film ini malah backfire ke filmnya.  Beberapa twist agak nonsense bagi gue.  Karena ada terlalu banyak twist, gue malah mikir "masa bodo, suka-suka penulisnya aja".  Gue paling gak suka adegan dimana Kiyoharu dan Sebastian menghadapi dalang dari kekacauan yang terjadi di film ini.  Seriously, it's awkward to watch it karena aktor yang jadi 'si dalang' gak punya kemampuan akting yang kuat.  Nangisnya kelihatan maksa and the evil laugh is really awkward for me.    

Gue juga punya hubungan love-hate dengan sinematografinya.  Ada gambar-gambar bagus, tapi seringkali sinematografinya terasa biasa banget.  Gue rasa karena crew film ini jarang menggunakan long-range shot.  Kebanyakan adegan diambil dengan jarak yang pendek.  Sayang sekali aktor-aktor ini tidak punya skill yang sejajar dengan Jack Nicholson ataupun Meryl Streep.  Bukannya melihat aktor yang berakting dengan penuh emosional, kita malah melihat aktor yang ekspresinya maksa banget.  Nuansa gelap yang kurang dikontrol dengan baik juga membuat gue kurang suka dengan teknik sinematografinya.

Mungkin karena pengalaman musik Ghibli gue sangat bagus makanya gue berharap musik di film ini juga bisa menyaingi musiknya Joe HisaishiOh well, not everybody can be Joe Hisaishi.  Gue malah terkadang terganggu dengan musiknya, entah karena musiknya emang gak cocok dengan adegannya atau sound system bioskopnya yang jelek.

Unless you're a fan of Black Butler a.k.a Kuroshitsuji, I don't recommend this film for you.  The mystery is pretty good, but the other aspects of this film don't encourage me to keep watching this film.  The actors -other than Hiro Mizushima- are pretty awkward for me.  4,3/10                    

 

Minggu, 15 Juni 2014

Maleficent: A film with predictable plot and Angelina Jolie's stunning performance

I know you, I know you from once upon a dream.

comingsoon.net

Gue langsung menulis Maleficent dalam watchlist gue setelah gue menonton trailer-nya.  Hati gue langsung dicuri oleh penampilan Angelina Jolie, meskipun hanya sekilas.  Maleficent merupakan film fantasi 2014 yang disutradarai oleh Robert Stromberg dan ditulis oleh Linda Woolverton.  Film ini merupakan 'spin-off' dari film animasi Disney, yaitu Sleeping Beauty.  

Dahulu kala, ada dua kerajaan yang bermusuhan.  Moors, penuh dengan keindahan dan keajaiban.  Sedangkan kerajaan manusia....well, kita tahu realita 'seindah' apa.  Di Moors, ada seorang peri bernama Maleficent (Angelina Jolie).  Suatu hari, Stefan (Sharlto Copley) seorang bocah biasa dari kerajaan manusia, mencoba mencuri sesuatu dari Moors.  Malecifent menyuruhnya untuk mengembalikan barang yang ia curi dan ia mengantarkan Stefan pulang ke kerajaan manusia.  Maleficent dan Stefan berjabat tangan, namun Maleficent menarik tangannya kembali karena Stefan memakai cincin besi, dan peri tidak tahan besi.  Stefan pun langsung membuang cincin besinya.  Malecifent tersentuh dengan perbuatan Stefan.

Bertahun-tahun kemudian, persahabatan Stefan dan Maleficent renggang karena ambisi Stefan untuk menjadi seorang raja.  Sang raja berjanji akan mengangkat siapapun yang berhasil membunuh Maleficent.  Stefan pun merayu Malecifent untuk berbicara dengannya di malam hari.  Ketika Maleficent tertidur, Stefan tidak bisa membunuhnya.  Karena itu, Stefan hanya memotong sayapnya dan memberikannya kepada raja.  Maleficent bangun dan menemukan bahwa sayapnya dan Stefan telah menghilang.  Sakit hati, Malecifent berkelana di sekitar Moors tanpa tujuan pasti.  Malecifent menemukan seekor burung gagak dan mengubahnya menjadi manusia.  Maleficent memanggilnya Diaval (Sam Riley).

Waktu berjalan, istri Raja Stefan melahirkan seorang anak perempuan.  Anak perempuan itu bernama Aurora (Elle Fanning).  Malecifent mendengarnya dan langsung pergi ke istana.  As expected, dia memberinya kutukan.  Kutukan itu hanya bisa dipecahkan oleh true love's kiss, sesuatu yang tidak dipercayai oleh Malecifent.  

rickey.org

I'm not really surprised with the story.  I can even guess all the so-called 'twists', lol.  

Maleficent merupakan tokoh yang ditangani dengan cukup baik.  Padahal film Maleficent merupakan film komersil dengan durasi yang tidak panjang.  Kita tahu hubungannya dengan Stefan dan seberapa besar kuasa dan rasa cintanya pada Moors.  Though I wish more background story in the prologue.  Gue setuju dengan pernyataan Angelina Jolie bahwa bagian dimana sayap Maleficent dipotong oleh Stefan merupakan metafora dari pelecehan seksual.  Not just any sexual assault, tapi yang dilakukan oleh orang yang dipercayai oleh korban.  Apa yang biasanya terjadi pada korban pelecehan seksual?  Mereka merasa kecewa, marah, skeptis, dan menarik diri.  Maleficent menutup dirinya dengan membangun tembok duri yang besar di perbatasan Moors dengan kerajaan manusia.  Am I the only one who think how creepy it is to see Maleficent stalking watching Aurora 24/7?  Gue sih bakalan lapor polisi kalau tahu ada yang ngestalk gue 24/7, bahkan kalaupun gue tahu orang itu ternyata bias gue.  Bagi gue, Maleficent juga merupakan lambang dari manusia yang mengalami berbagai hal dalam hidupnya.  She falls in love, she's betrayed, she does her revenge, she regrets, and she seeks her redemption, just like ordinary humans.  Meskipun dia mempunyai tanduk dan melakukan kesalahan, those things don't make her a total bad guy.   

Tapi, Malecifent punya inkonsistensi kecil.  Maleficent dengan cepat menaruh ekspektasi dan kepercayaan pada Divial.  Walaupun hubungan mereka agak berbau master and servant, Maleficent punya kepercayaan yang cukup pada Divial.  Hal ini jarang terjadi pada seseorang yang telah dikhianati oleh orang terdekatnya.  Walaupun Maleficent tidak curhat atau sering mencurahkan perasaannya pada Divial, there's clearly some trust from her.   


I'm a bit confused by Stefan.  Bagaimana mungkin bocah yang dulu rela membuang cincin besinya malah akhirnya mengkhianati temannya?  Apakah Woolverton memang sengaja memberi porsi kecil kepada Stefan agar penonton tidak bersimpati kepadanya?  Gue rasa gak adil banget bagaimana penonton tidak mengetahui apa-apa tentang Stefan agar simpati dan perhatian penonton tertuju pada Maleficent.  I know, I know, this film is about Maleficent.  Tapi gue berharap Stefan mempunyai porsi background story yang cukup.  Apa yang membuat dia begitu terobsesi dengan posisi raja sampai mengkhianati temannya?  Kita bisa mengira-ngira bahwa hal itu disebabkan status ekonomi dan sosial, tapi akan susah bagi penonton untuk memahami dan bersimpati kepada Stefan.   

Aurora is just a blondie Mary Sue.  Karakternya dangkal karena Aurora hanya merupakan jalan untuk mengekspresikan dan way of redemption bagi Maleficent.  Sebenarnya kalau beneran niat bikin twist buat film ini, anaknya raja Stefan tuh laki-laki, bukan perempuan.  That's a real twist.  Tapi, gue agak terganggu dengan latar belakang Aurora.  Ia merupakan produk arranged-and-cold marriage, lalu ia dikutuk oleh seorang perempuan yang dikhianati ayahnya, lalu ia diasuh dengan tiga peri goblok, tapi ia malah diawasi oleh perempuan yang mengutuknya.  Hmm, that sounds like a cheerful and colorful story.  Oh well, as expected from a blondie Mary Sue, she has no problem in life and sees life as a world full of magical things.

dailymail.co.uk
Other than Jolie and Copley, gue gak terkesan dengan akting aktor lainnya.  Angelina Jolie emang keren, dia anggun, dingin, karismatik, dan dia berhasil banget mengkomunikasikan patah hati yang dirasakan Maleficent kepada penonton.  Tapi gue merasa akting Susan Sarandon di Enchanted lebih bagus daripada dia.  Copley juga bagus, terutama di bagian setelah Aurora dikutuk Maleficent.  Copley berhasil meyakinkan penonton betapa terobsesinya dia untuk menangkap dan membunuh Maleficent.  Apalagi make up-nya dia, seriously, kudos for the make up artist.  Also, I think I don't need to tell you guys how wonderful the visual effect is.  

Gue mungkin bisa menebak arah cerita Maleficent, tapi gue menghargai usaha sang penulis untuk membuat cerita klasik ini lebih segar dan modern.  Gue merekomendasikan film ini bagi mereka yang suka film-film ringan dan fantasi.  But if you look for a really twisted sorry, I'm affraid Malecifent may disappoint you.  6,8/10      


Senin, 26 Mei 2014

My Neighbor Totoro: A down-to-earth film with magic.

Tonari no totoro, totoro. -Azumi Inoue
pic cr: sailormoonnews.com


Saya rasa setiap pecinta film dan anime tahu film My Neighbor Totoro.  Film animasi tahun 1988 ini sukses melambungkan nama Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli.  Film ini juga masuk ke berbagai dan daftar film dunia terbaik dan film animasi terbaik.  Lagu temanya pun juga terkenal.  Studio Ghibli juga menggunakan Totoro sebagai maskot mereka.  

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik yang bernama Mei dan Satsuki.  Mei dan Satsuki pindah rumah ke desa bersama ayah mereka.  Namun sang ibu tidak bisa ikut karena ia masih dirawat di rumah sakit.  Tapi hal itu tidak menghentikan keceriaan dan semangat Mei & Satsuki.  Mei & Satsuki mempunyai sifat yang periang, penuh rasa ingin tahu, dan suka berpetualang.  Mereka juga malah senang ketika mengetahui kalau rumah mereka dihantui.

Suatu hari, Mei yang sedang bermain-main melihat dua mahluk unik dan kecil.  Mei memutuskan untuk mengikuti mereka berdua hingga akhirnya ia masuk ke sebuah pohon.  Ia 'jatuh' diatas badan sebuah mahluk raksasa.  Bukannya takut, Mei malah menggeletik mahluk itu.  Untungnya, mahluk itu hanya membuka matanya dan tidak menyakiti Mei.  Mei memanggil mahluk itu Totoro.  Tiba-tiba, Mei terbangun dan ia tidak berada di pohon itu tersebut, Totoro juga menghilang.  Mei merasa kesal karena kakak dan ayahnya tidak mempercayai dia.  Hingga suatu malam, Satsuki melihat sendiri Totoro dan sebuah bus kucing.

pic cr: rogerebert.com
Saya kira My Neighbor Totoro akan memusingkan saya dan memaksa otak saya untuk membuat berbagai interpretasi karena film ini sering disebut sebagai film terbaik Miyazaki.  Surprisingly, film ini cukup mudah untuk diikuti.  Bagi saya, simbolisme ataupun metafora yang di dalam film ini tidak serumit Spirited Away.  Atau mungkin saya yang terlalu bodoh sehingga saya tidak memperhatikan metafora yang lebih subtle, haha. 

Menurut Roger Ebert, film ini dibangun berdasarkan situasi, pengalaman, dan eksplorasi, bukan berdasarkan ancaman dan konflik.  Saya setuju dengan pernyataan itu karena tidak ada konflik yang besar pada film ini.  Film ini bergerak berdasarkan 'petualangan' kecil Mei dan Satsuki di desa mereka.  Di film ini juga tidak ada 'si baik' ataupun 'si jahat'.

Saya menikmati saja melihat Mei dan Satsuki berpetualangan di desa mereka bersama Totoro.  Saya juga suka menonton ikatan antara Mei dan Satsuki yang dibangun dengan apik oleh Miyazaki.  Gambar-gambar desa mereka juga membuat saya merasa kangen dengan kampung saya sendiri, haha.  Tapi, saya tetap merasa agak jenuh di beberapa adegan.  Saya menunggu-nunggu konflik itu datang, tapi ternyata tidak ada konflik atau ancaman besar seperti Howl's Moving Castle.  Apakah Miyazaki membiarkan film ini menjadi danau yang datar?  Tidak, Miyazaki tetap memberikan sedikit konflik, namun ia menyelesaikan konflik itu tanpa berbasa-basi ataupun terkesan terburu-buru.  Anyway, two thumbs up for Joe Hisaishi.  His music is so damn beautiful!   

pic cr: redofpaw.wordpress.com

Totoro dan buscat *I don't know how to call it* hanya bisa dilihat oleh Mei dan Satsuki.  Saya kurang yakin apakah anak-anak lain seperti Kanta atau teman Satsuki lainnya bisa melihat mereka berdua.  Saya rasa hal ini dipengaruhi oleh sifat mereka yang penuh rasa ingin tahu, suka berpetualang, dan somehow menyatu dengan alam.  Karena mereka penuh rasa ingin tahu, mereka tidak memperhatikan hal dengan sambil lalu atau menganggap semuanya wajar.  Tidak seperti orang dewasa yang rasa ingin tahunya berkurang dan menganggap semuanya logis sehingga terkadang mereka tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu yang mengagumkan.  Kita tahu bahwa ada konsep believing is seeing.  Secara umum, anak-anak memiliki iman yang lebih kuat daripada orang dewasa.  Iman inilah yang mengatarkan anak-anak pada berbagai hal magis dan menabjubkan, sama seperti Mei dan Satsuki yang mempunyai iman. 

Film ini juga memberikan beberapa unsur spiritual seperti adegan sang ayah yang menjelaskan tentang pohon besar dan penjaga hutan (Totoro), ataupun adegan dimana Satsuki 'meminta ijin' untuk berteduh di suatu tempat.

Ternyata oh ternyata, ada sedikit misteri dan kengerian pada film Totoro.  Ada beberapa orang yang menganggap Totoro bukanlah penjaga hutan, tapi dewa kematian.  Ada juga yang mengaitkan film My Neighbor Totoro dengan Insiden Sayama karena latar tempat film ini berada di Sayama.  Insiden Sayama sendiri merupakan kasus kematian dua kakak-beradik yang cukup tragis.  Ceritanya, ada seorang anak yang tidak pulang ke rumah.  Lalu mayatnya ditemukan sendiri oleh kakaknya.  Kakaknya yang merasa depresi pun bunuh diri.  Cerita selengkapnya ada disini.  Saya memang merasa agak ngeri ketika melihat 'senyuman' Totoro dan buscat, tapi saya merasa kurang yakin kalau film seimut My Neighbor Totoro *secara tidak langsung* menceritakan Insiden Sayama.  Fakta itu membuat saya merasa tidak enak saja.

Terkadang, agak sulit bagi saya menemukan film yang 'benar-benar untuk anak' dari film Disney karena kebanyakan film Disney mempunyai nilai moral hitam-putih dan unsur romansa yang lebih cocok untuk orang dewasa.  Film My Neighbor Totoro merupakan salah satu contoh film animasi yang 'benar-benar untuk anak' karena film ini tidak unsur romansa, moral hitam-putih, putri lemah yang harus diselamatkan pangeran, dsb.

Saya kurang menyarankan film My Neighbor Totoro bagi mereka yang mengharapkan petualangan dan atau konflik besar, tapi My Neighbor Totoro merupakan film yang tetap bisa dinikmati. 8,3/10  

         

Minggu, 18 Mei 2014

Howl's Moving Castle: "Ghibli's refreshing version of Beauty and the Beast"


Pengalaman gue dalam menonton film Ghibli gak banyak sih.  Buktinya Howl's Moving Castle merupakan film Ghibli kedua yang gue tonton dari sekian banyak film yang diproduksi Ghibli Studio.  Howl's Moving Castle merupakan film animasi fantasi 2004 yang disutradarai dan ditulis oleh Hayao Miyazaki.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Diana Wynne Jones. 

Sophie merupakan anak tertua dari tiga bersaudara dan ia bekerja di sebuah toko topi.  Suatu hari, Sophie dikejar oleh sekelompok mahluk aneh dan ia diselamatkan oleh seorang penyihir, Howl.  Sophie langsung jatuh hati dengan Howl yang tampan dan menawan.  Adik Sophie langsung memperingatkan Sophie untuk tidak jatuh cinta dengan Howl karena ada isu mengenai Howl yang suka makan jantung gadis-gadis muda.  Suatu malam, toko Sophie dikunjungi oleh Witch of the Waste LandKarena Sophie menolak melayani si penyihir, Sophie pun dikutuk sehingga penampilanya terlihat seperti wanita tua.

Sophie pun berkelana untuk mematahkan kutukannya.  Tiba-tiba, ia menemukan sebuah scarecrow yang bisa meloncat-loncat, namun tidak bisa berbicara.  Ia menamainya Turnip head.  Tiba-tiba, hujan turun dan mereka menumpang di sebuah rumah yang bergerak.  Sophie berkenalan dengan Markl, murid Howl, dan Calcifer, sebuah fire-demon.  Sophie menyatakan dirinya sebagai pelayan baru Howl. 

Namun hidup Sophie dengan mereka tidaklah berjalan mulus karena adanya perang yang sedang berlangsung di negeri Sophie.  Howl terus saja diminta untuk berpatisipasi dalam perang walaupun ia sering menghindarinya.  Bagaimana kelanjutan kisah Sophie dengan teman-temannya? *jengjeng* 

WARNING: *KAYAKNYA SIH* MENGANDUNG SPOILER


I have a love-hate relationship with Ghibli's anime style.  Dalam beberapa hal, gue lebih suka gaya animasi Disney karena menurut gue animasi Disney tuh lebih halus dan lebih polished.  But at the same time, terkadang gue gak suka dengan gaya animasi yang terlalu polished dan bisa menghargai gaya animasi Ghibli (yang menurut gue) rada rough at the edge.  Salah satu hal yang menurut gue menonjol dari Ghibli adalah kemapuan Ghibli yang bisa memberikan sentuhan surealisme dan horor psikologis.  Berbeda dengan beberapa film Disney yang biasanya memberikan sentuhan horor klasik, horor pada film-film Ghibli lebih bersifat disturbing.  Fantasi dalam studio Ghibli pun menurut gue lebih bagus daripada Disney karena fantasinya gak gitu-gitu aja.

Beberapa orang mengatakan bahwa Howl's Moving Castle merupakan salah satu film Miyazaki yang lemah.  Gue langsung shock karena film yang 'lemah' aja udah bisa bikin gue ngefans berat, apalagi film terbagusnya?!!!  Sama seperti kebanyakan film Ghibli, Howl's Moving Castle pun punya unsur-unsur surealisme dan horor psikologi.  Well, walaupun gue bilang PUNYA, jangan expect porsi unsur horornya dominan banget kayak Ju-on ato The Ring.      

Beberapa orang mengatakan biasanya film-film Miyazaki tidak mempunyai antagonis yang jelas.  Namun at some point, Howl's Moving Castle mempunyai 'antagonis' seperti Witch of the Waste Land, yang mengutuk Sophie, dan Sulliman, penasihat istana yang terus saja 'memburu' Howl.  Namun gue mempertanyakan kembali posisi mereka sebagai 'antagonis' di film ini.  Kita semua tahu tentu tahu antagonis adalah orang yang melawan protagonis dalam suatu karya sastra.  Baik si penyihir maupun Sulliman merupakan antagonis karena mereka melawan protagonis.  Tapi tindakan si penyihir menjelang akhir film tidak benar-benar mencerminkan dirinya sebagai antagonis.  Ketika si penyihir mengambil jantung Howl, apakah tindakannya untuk melawan Sophie atau karena ia memang childish dan terobsesi pada Howl?  Gue menilai bahwa alasan si penyihir mengambil jantung Howl karena alasan yang kedua.  Bahkan gue sadar kalau alasan si penyihir mengutuk Sophie bukan karena ia jahat.  Ia memang 'melawan' Sophie, tapi itu semua didasari oleh wataknya yang kekanak-kanakan.  Begitu juga dengan Sulliman.  Sulliman memang 'melawan' Howl, namun bukan untuk menghancurkan Howl, tapi untuk mempertahankan negaranya.  Dia tidak punya tujuan yang jahat pada Howl.  

Setiap orang mempunyai interpretasi sendiri terhadap kutukan Sophie.  Ada yang mengatakan bahwa kutukan Sophie melambangkan orang-orang tua yang mempunyai jiwa muda, ada juga yang mengatakan bahwa Sophie melambangkan orang tua dan orang muda di saat yang sama.  Gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Mungkin ini karena gue baca sedikit tentang novelnya, jadi interpretasi gue lebih ke arah novelnya, bukan filmnya.  Sophie merasa insecure kepada dirinya karena ia tidak semenawan atau semenarik adik-adiknya.  Ia memandang dirinya sebagai orang yang membosankan, apalagi ia tertua dari tiga bersaudara.  Insecurity Sophie diperlihatkan secara obviously dalam film ini.  Ada adegan dimana tiba-tiba Sophie kembali menjadi muda dan ia & Howl berjalan-jalan di suatu taman.  Lalu Howl mengatakan bahwa Sophie cantik, dan tiba-tiba Sophie berubah kembali menjadi wanita tua.  Lalu pada adegan dimana Sophie berdebat dengan Sulliman mengenai Howl.  Sophie berdebat dengan penuh gairah dan percaya diri sehingga ia berubah kembali menjadi wanita muda.  Dua adegan ini juga yang membuat gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Pernah dengar istilah "You are what you think"?  Nah, kutukan Sophie cocok dengan istilah ini.


Howl punya sifat yang kekanak-kanakan karena ia memberikan jantungnya kepada Calcifer saat ia kecil.  Biasanya, orang yang mengalami peristiwa yang traumatis atau mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, akan membuat orang itu menjadi dewasa dengan lebih cepat.  Tapi Howl malah mempunyai sifat kekanak-kanakan.  Mengapa?  Gue punya semacam...dua interpretasi.  Pertama, tentu saja karena ia tidak mempunyai jantung (heart dalam bahasa Inggris) kemampuannya dalam mengelola perasaannya tentu saja kurang.  Hal ini juga bisa mengakibatkan Howl untuk tidak memikirkan orang lain.  Kedua, karena ia mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, hal ini membuat Howl -in some way- kehilangan masa kecilnya.  Kerinduannya untuk menjadi anak yang normal diekspresikan dengan wataknya yang childish.   

Markl dan Calcifer tentu saja merupakan perpaduan antara deutragonis (tokoh yang berpihak pada protagonis) dan utility (tokoh pembantu yang ikut membentuk cerita).  Jelas keduanya berpihak dan membantu Sophie & Howl.  Tokoh Markl yang masih anak-anak melambangkan anak yang membutuhkan tokoh ibu dalam hidup mereka.  Calcifer juga membutuhkan Sophie karena Calcifer membutuhkan seseorang untuk membebaskan dirinya dari Howl.  Calcifer juga yang membuat Sophie dan Howl bertemu.  Bagaimana caranya?  Makanya, nonton filmnya baik-baik, hahaha.  Hal-hal inilah yang membuat Sophie 'terikat' di istana dan membentuk koneksi tidak hanya pada Markl dan Calcifer, tapi juga dengan Howl.

Sebenarnya kisah cinta antara Sophie dan Howl kurang diolah dengan baik.  Proses jatuh cinta di antara mereka agak vague dan terasa agak singkat.  But...I can't help but ship them!  Seriously, I love Sophie-Howl couple!  

Anyway, terima kasih banyak sama engkong Joe Hisaishi karena musiknya menambah emosi dan membuat penonton semakin hanyut dalam film ini.  Sumpah, aransemen musiknya keren banget.  Apalagi Merry-Go-Round of Life, keren banget dah.  Lagu penutupnya, Promise of the World menurut gue lebih bagus daripada Always With Me karena teknik vokal penyanyinya yang lebih stabil daripada penyanyi Always With Me.  Gak cuma lagi penutup sih, secara kesuluruhan, musik dari Howl's Moving Castle lebih bagus daripada Spirited Away.

Overall, Howl's Moving Castle maybe is one of Miyazaki's weak film, but it's still a deep, beautiful, and innovative.  The animation is a bit rough in the edge, but the surrealism and a bit horror touch certainly fix it.  Both Beauty and the Beast and Howl's Moving Castle have appearance and curse aspects, but I'm gonna say that Howl's Moving Castle is freshier than Beauty and the beast.  9,7/10  

pic cr: 
movies.disney.com
fact.co.uk
wordsofconfession.wordpress.com

Jumat, 14 Maret 2014

The Seventh Seal: A masterpiece that questions God's existence

I want knowledge! Not faith, not assumptions, but knowledge! -Antonius Block

Jika anda penggemar film (500) Days of Summer maka anda tahu adegan dimana Tom menonton film hitam putih dan membayangkan dirinya sebagai ksatria yang bermain catur dengan cupid.  Nah, adegan itu memparodikan adegan dari film The Seventh Seal, yang boleh dibilang salah satu film Ingmar Bergman yang terkenal.  Saya belum pernah menonton film-filmnya Ingmar Bergman, sehingga The Seventh Seal merupakan film Ingmar Bergman yang saya tonton pertama kalinya.  Saya sendiri kurang paham dan tahu dengan gaya penulisan dan penyutradaraan Bergman.  Tapi setelah saya menonton The Seventh Seal, saya tidak sabar untuk menonton film-film Bergman lainnya.

The Seventh Seal menceritakan perjalanan seorang ksatria yang bernama Antonius Block (Max von Sydow), setelah Perang Salib.  Dia pulang ke Swedia bersama rekannya, Jons (Gunnar Bjornstrand).  Mereka sadar bahwa Swedia  sedang terserang sebuah wabah.  Di tengah perjalanan, Antonius bertemu dengan Kematian a.k.a Death (Bengt Ekerot).  Karena Antonius belum siap menemui ajal, ia mengajak Death untuk bermain catur.  Antonius memainkan yang putih sedangkan kematian yang hitam.

Antonius dan Jons melanjutkan perjalanan mereka dan melewati sekelompok aktor-sirkus.  Kelompok itu terdiri dari Mia (Bibi Anderson), suaminya, Jof (Nils Poppe) dan manajer mereka, Skat (Erik Strandmark).  Di tengah perjalanan, Skat pergi meninggalkan mereka dan kabur dengan seorang wanita (Inga Gill).  Ternyata wanita itu sudah menikah.  Suaminya (Ake Fridell) yang patah hati memutuskan untuk pergi dengan Antonius dan Jons.  Kebetulan Jons telah menyelamatkan seorang gadis (Gunnel Lindblom) sehingga si gadis ikut dengan rombongan Antonius & Jons.  Antonius & Jons sendiri memutuskan pergi dengan rombongan Mia & Jof.  Ketika mereka melewati hutan, mereka menemui seorang wanita yang akan dibakar karena wanita itu mengaku menyembah setan dan menyebarkan wabah.

WARNING : SPOILER ALERT!!!


Oh my God, I fuckin' in love with The Seventh Seal.  Seriously, I love the topic and Bengt Ekerot's iconic character.  Saya agak terkejut dengan teknik visual dalam film ini.  Film ini boleh saja berwarna hitam-putih, tapi sudut-sudut pengambilan gambar memberikan banyak adegan indah dalam film ini.  Saya suka bagaimana Ingmar Bergman membahas masalah yang serius dan menyangkut kehidupan manusia, namun mencampurnya dengan fantasi sehingga The Seventh Seal terasa seperti film.  Bukan terasa seperti dokumentasi kecil.  Yang saya maksudkan dengan 'dokumentasi kecil' adalah film-film yang terlalu realistis dan terasa agak plain, contohnya Blue Valentine, Like Crazy, Before Midnight, dll.  Film adalah film, harus ada sesuatu yang membuatnya menarik.  Ada beberapa hal dari film ini yang saya kurang suka, seperti editing dan musik.  Editing-nya membuat film ini seakan-akan bergerak secara random, sedangkan musiknya lebay.  Anyway, is it just me or this movie has some kind of spooky touch? 

Meskipun adegan catur dan dansa (di akhir film) merupakan dua adegan yang paling terkenal, adegan favorit saya adalah dimana Antonius tidak sengaja mencurahkan pikirannya -dan strategi caturnya- kepada Kematian.  Saya suka sekali adegan itu mulai dari sudut pengambilan gambar, dialog, bahkan akting.  Pemikiran dan keinginan Antonius sama seperti saya.  Seperti quote yang tertulis diatas poster, yang Antonius inginkan adalah pengetahuan yang pasti apakah Tuhan itu ada atau tidak.  Ia juga ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang mau percaya tapi tidak bisa percaya atau yang tidak bisa dan tidak mau percaya kepada Tuhan.  Dia tidak menginkan iman atau asumsi, tapi kepastian dan pengetahuan. 

Saya tidak tahu mengapa Bergman memilih catur, namun saya mempunyai interpretasi sendiri.  Catur merupakan permainan yang membutuhkan strategi atau rencana.  Strategi itu entah untuk menghindari lawan, menyerang lawan, atau mempertahankan bagian kita.  Manusia boleh saja berencana menghindari kematian, tapi pada akhirnya kematian akan datang kepada kita semua.  Entah kepada orang percaya atau tidak, orang baik atau jahat, siap atau tidak, kematian akan mendatangi kita semua.  You can cheat death once, twice, or even more, but eventually, death always wins.  Hal ini membuat saya sadar bahwa antara kematian dan kehidupan setiap individu selalu ada permainan, yang pada akhirnya akan dimenangkan kematian.  Kita bisa mendapatkan banyak hal selama kita hidup bahkan mungkin mencurangi kematian, tapi pada akhirnya, entah dalam waktu yang lama atau sebentar, kematian akan selalu mengungguli kita.




Kepesimisan, keoptimisan, dan perjalanan tokoh-tokoh The Seventh Seal menuangkan pilihan dan pemikiran manusia akan Tuhan.  Ada yang dengan mudahnya percaya seperti Jof, ada juga yang bertanya-tanya dan pesimis seperti Jons dan Antonius.  Namun kesamaan dari semua karakter dalam film ini adalah mereka menghindari dan takut akan kematian.  Keberadaan Tuhan boleh saja dipertanyakan, tapi eksistensi kematian tentu saja nyata dan hanya orang bodoh yang mempertanyakan hal itu.  Mungkin karena itu Bergman menamakan karakter Kematian sebagai Death, bukan Angel of Death atau sejenisnya.  Memberikan karakter yang bernama Malaikat Kematian seakan-akan memberikan konfirmasi bahwa Tuhan itu ada.  Namun jika hanya dinamai Kematian, Bergman menceritakan slice of life apa adanya.

Bergman memperlihatkan sisi negatif dan positif agama dan Tuhan, entah sengaja atau tidak.  Agama dan Tuhan menyebabkan manusia melarikan diri dari masalah-masalahnya.  Hal ini diungkapkan melalui adegan dimana sekelompok orang menyiksa diri mereka dan menangis-nangis meminta ampun Tuhan.  Saya tidak tahu apakah Bergman mengidolakan Karl Marx, karena adegan ini mirip dengan salah satu kritikan Karl Marx bahwa agma adalah candu masyarakat.  Artinya, agama membuat manusia melarikan dari masalahnya dan bersikap tidak rasional.  Tapi di sisi lain, taat beragama dan mempercayai Tuhan merupakan safer bet dalam hidup.  Bukan safest, tapi safer.  Hal ini terlihat ketika Mia & Jof selamat dari kematian.  

Akting semuanya bagus.  Mulai dari Bengkt Ekerot yang menampilkan sosok Death yang misterius dan karismatik, Max von Sydow yang galau dalam memahami Tuhan, Gunnar Bjornstrand yang pesimis, Bibi Anderson & Nils Poppe yang ceria dalam menghadapi hidup, sampai Inga Gill yang flirty banget.  Mereka semua berhasil memerankan peran-peran masing-masing dan di waktu yang sama membangun chemistry satu sama lain. 

Overall, The Seventh Seal is a classic mind-provoking film and a masterpiece that questions God's existence without being boring, heavy, or too supernaturalish. 9,8/10


pic cr:
mecail2012.blogspot.com
imagesci.com
empireonline.com
rainz.tumblr.com


Senin, 16 Desember 2013

Frozen : Nothing But a Few Laugh and Light Entertainment

It's much easier to melt a frozen head than a frozen heart.

Berbagai film kartun telah dirilis di tahun 2013.  Sebut saja Despicable Me 2, Monsters University, Turbo, dan Epic.  Namun, tidak ada dari yang mereka yang benar-benar menggaet hati kritikus.  Gue sendiri sih baru nonton Despicable Me 2, karena gak sempet nonton MU dan yang lainnya simply gak menarik hati, wkwk.  Wreck-It-Ralph aja gue gak nonton (?)  But, adik sepupu gue yang ultah kemarin pengen nonton ini, so, gue nonton deh nih film.

Frozen dibuka dengan sebuah lagu yang menceritakan kekuatan es dan bahwa hati di otak lebih mudah disembuhkan daripada yang di hati dan blablabla.  Di istana, terdapat dua putri bernama Anna (Kristen Bell) dan Elsa (Idina Menzel).  Elsa memiliki kekuatan untuk membuat salju dan es sementara Anna tidak.  Namun mereka berdua saling menyayangi.  And guess what?  They love to play with snow and ice!!! *gasp* *sarcasm*  

Anyway, mereka sedang bermain-main dan Elsa dengan tidak sengaja 'memasukkan' es ke dalam kepala Anna.  Raja dan ratu yang panik membawa Anna dan Elsa ke troll yang baik hati manis dan imut.  Troll itu menyembuhkan Anna dan menyarankan agar ingatan Anna tentang kekuatan Elsa dihilangkan dan Elsa harus belajar mengontrol kekuatannya.  Elsa pun tidak pernah menemui Anna lagi karena terlalu takut untuk mengulangi kesalahannya lagi.  Hingga sang ratu dan sang raja meninggal.

Elsa terpaksa mengundang banyak orang untuk hari pemahkotaannya.  Di pesta itu, Anna bertemu dengan Pangeran Hans dan jatuh cinta pada pertemuan pertama *muntah*  Anna dan Pangeran Hans yang udah kebelet nikah langsung meminta restu Elsa sebagai ratu.  Elsa tidak setuju karena menurutnya wedding proposal setelah satu hari pertemuan tidak wajar.  Karena Anna terlalu menekan Elsa, Elsa akhirnya menunjukkan kekuasaannya dan kabur dari istana.  Anna yang merasa bersalah memutuskan untuk mengejar Elsa dan menyerahkan kekuasaan sementara kepada Hans.  Di tengah perjalanan, Anna bertemu dengan Kristoff (Jonathan Groff).

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


First thought : too much singing in the beginning.  Lagu prelude (Frozen Heart) yang dinyanyikan di awal sudah cukup bagus untuk mendeskripsikan film ini, dan gue rasa adegannya cukup bagus.  Dilanjutkan dengan lagu "Do you want to build a snowman" yang entah kenapa menurut gue ritmenya terkesan maksa dan liriknya meaningless banget.  Apalagi jeda antara kedua lagu sedikit sekali.  Apakah film-film Disney selalu dipenuhi lagu-lagu yang terkesan maksa?  Well, I think I have to do "Disney Marathon" to find out.  Anyway, gue merasa biasa aja dengan lagu-lagu yang ada di film ini karena kebanyakan lagunya forgettable dan...maksa.  Setidaknya lagu-lagu Princess and the Frog (2009) mempunyai sentuhan jazz dan gospel sedangkan iringan musik Brave (2012) mempunyai sentuhan irish folk.  Lagu dari film Frozen yang paling besar impact-nya tentu saja Let It Go.  

Animasinya indah dan magical.  Apalagi istana-istananya dan landscape-nya.  Keren banget dah.  Kalau soal kualitas 3D gue gak bisa menilai karena gue gak nonton versi 3D.

Generally, I think Frozen can be enjoyed by only children.  Why?  The characters are shallow and forgettable to me!  Kelakuan Anna yang awkward gagal banget menutupi stereotipe tokoh Disney : gampang jatuh cinta.  Penampilan fisik dan watak yang klise malah membuat tekanan darah tinggi gue naik selama nonton nih film.  Kegalauan Elsa dalam menghadapi kekuatan dan tanggung jawabnya pun kurang diolah dengan baik.  Itu kan film anak-anak, masa ada galau-galaunya?  Just for you know, I think The Lion King (1994) berhasil mengelola kegalauan Simba untuk memilih apakah ia akan menjadi raja atau tidak.  Elsa dan Anna merupakan tokoh utama dalam film ini.  Tapi Jennifer Lee dan Chris Buck cukup gagal untuk membangun relasi atau ikatan yang cukup di antara mereka.  I think it's a bit impossible to still love your sister whom you almost never met in your entire life.  Well, Frozen is just a movie anyway.  Tapi tetap aja gue jadi frustasi waktu nonton, wkwk.   

Olaf is as annoying as SpongeBob.  I just want to strangle Olaf (almost) everytime he appears!  Hans ketebak banget bakalan 'ngambil perannya' Marion Cottilard di TDKR.  Sorry dude, your true character is known for me waaaaaaaay early.  Kristoff?  Lumayan sih, gue suka hubungannya dia dengan Sven.


Clearly this movie's weakest point is PLOT.  Yang paling menyedihkan, plot adalah bagian (paling) utama dari sebuah film.  Apapun film itu.  Frozen bak cupcake kecil yang luarnya bagus namun tidak punya isian.  Intinya, nih film ringan banget dan terlalu cute.  

Gue gak tahu apakah 'twist' yang ada di tengah-tengah film ini adalah usaha jujur Jennifer Lee dan Disney untuk memperbaiki plotnya, atau mereka hanya sok-sokan pake 'twist'.  

Memang terkadang bagus untuk berjalan cepat dan to the point.  Namun, kita juga harus melihat konteks keseluruhan film itu.  Gue gak yakin Frozen ditargetkan untuk orang dewasa sehingga filmnya to the point dan mempunyai tingkat kepadatan yang cukup rumit.  But the problem is, Frozen walks too fast and straight to the point.  Ini agak berlawanan dengan prelude yang seakan-akan menjanjikan background yang akan menarik emosi penonton.  Bukannya memberikan background yang cukup dan membangun emosi penonton dan cerita, film ini malah tetap berjalan dengan pace cepat.  I just don't feel any connection to the characters.  I mean, screw up with them.  Begitu juga di tengah-tengah film.  Gue tetap gak merasa adanya koneksi atau adventure mode seperti menonton Finding Nemo, Mulan, Shrek, dll.  

The Snow Queen karangan Hans Christian Andersen sebenarnya mempunyai tema yang sedikit gelap.  Yang gue heran, gue hampir gak merasakan unsur gelap itu.  Come on, gue udah nonton film-film animasi yang mempunyai tema gelap seperti Coraline, Nightmare Before Christmas, Corpse Bride, dll.  Sebenarnya The Lion King dan Beauty and the Beast juga mempunyai sedikit unsur gelap kok.  Tim produksinya benar-benar main aman dah.  Sedikit kepahitan bisa menyeimbangkan 'kemanisan' film ini. 

I'm still trying to figure out why the critics love "Frozen" so much while the plot is too light and has shallow characters just like "Despicable Me 2".  But I must admit that "Frozen" has a beautiful animation. 4,5/10  



pic cr :
jagatreview.com
skwigly.co.uk
cartoonbrew.com

Senin, 09 September 2013

Harry Potter : From Worst to Best a.k.a Short Reviews


SPOILER ALERT

Karena ini blog film, ya review yang gue maksud disini filmnya, bukan novelnya-_-

Sejauh ini Harry Potter adalah serial yang paling gue ikutin.  Gue udah baca 6 novelnya (novel yang ketiga baru setengah) dan udah nonton 8 filmnya.  Gue suka kok Trilogi The Dark Knight sama TLOTR, X-Men lumayan lah, tapi gue gak pernah ada niatan baca komik Batman dan X-Men, ataupun baca novel trilogi TLOTR yang bahasanya dewa banget.  

Gue pribadi juga menganggap Harry Potter lebih bagus daripada TLOTR.  Kenapa?  Harry Potter mempunyai jalan cerita yang kompleks, dan sering sekali mempunyai setidaknya satu unexpected shit di semua novelnya.  Ntar deh gue bikin artikel sendiri buat unexpected shit di novel-novel Harry Potter.  Dan sebenarnya itu tercermin di film-filmnya.  Akuin aja, seberapa banyak sih penonton/pembaca yang bakal ngira si J.K Rowling bunuh Sirius, Fred Weasley, ataupun the lovable Dobby?  Atau ternyata Severus Snape itu beneran setia sama Dumbledore dan punya undying love buat emaknya Harry?  Mungkin lo gak terkejut waktu nontonnya karena udah baca ataupun di-spoiler.  Tapi kalau kita pikir-pikir lagi, hal-hal diatas itu cukup gak terduga loh.  

Sedangkan TLOTR mempunyai gaya bahasa yang terlalu dewa dan mengurangi faktor enjoyment waktu baca novelnya ataupun nonton.  Ceritanya memang kompleks, tapi hampir gak ada faktor kejutan alias unexpected shit seperti di Harry Potter.  Apalagi J.R.R Tolkien kurang berani untuk membunuh beberapa karakter, mentok-mentok cuma Theoden sama saudaranya Faramir yang mati-_-

Oke, itu dia celotehan gue sebelum artikel sebenarnya (?) Maklum ya gue bikinnya short reviews, gue gak kuat bikin review panjang buat 8 film sekaligus, wkwk.

7. Harry Poter and the Sorcerer's Stone (2001, Chris Colombus)


Film ini mirip banget dah sama gayanya Steven Spielberg.  Too child-oriented.  Nih film lebih kekanak-kanakan dah daripada Bambi ataupun The Lion King yang notabene film kartun.  Rada mengingatkan gue sama The Goonies.  Efeknya pun mengingatkan gue sama The Goonies.  Bayangin aja, beda 1,5 dekade-_-  Sedangkan TLOTR yang rilis di tahun yang sama mempunyai efek yang jauh lebih superb.  Pantes aja lebih terkenal Peter Jackson daripada Chris Colombus.  Film ini juga TERLALU setia dengan novelnya.

Tapi terlepas dari itu semua, HarPot 1 tetap menyediakan petualangan yang worth to watch dan decent acting performances dari aktor-aktornya.  Dan special credit buat John Williams yang bikin Hedwig's Theme! 

Best Moments
  • Harry vs Prof. Quirell.
  • The Mirror of Erised.
Final score : 7/10 (Good)

6.  Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009, David Yates)


Menurut wikipedia, film keenam Harry Potter ini adalah salah satu film terbaik dari serial HarPot dan mendapat ranking 4 di Rotten Tomatoes.  Tapi David Yates melakukan kesalahan besar di film ini : tidak memasukkan adegan Battle of the Astronomy Tower.  WTF dude!  Pantes aja gue bawaannya bosen kalo nonton nih film.  Hampir gak ada seru-serunya.  Sejak film kedua, game quidditch emang gak seru lagi, jadi adegan Ron yang latihan quidditch dan melakukan gerakan aneh adalah salah satu adegan garing, awkward, dan WTF pake banget.  Intinya, HarPot 6 lebih berasa cerita-cerita pendek kegiatan di Hogwrats yang disusun kurang rapi.  Ada Professor Slughorn yang misterius, ada Half-Blood Prince yang misterius, ada Draco Malfoy yang cengeng, ada juga kisah kasih di sekolah, sehingga HarPot 6 mempunyai alur yang kurang mengalir.  Sayang loh, soalnya David Yates udah cukup berhasil menangkap atmosfir gelapnya. 

But on the other hand, film ini emang turning point-nya Emma Watson, Rupert Grint, dan (especially) Tom Felton.  Mereka udah benar-benar menyerap karakternya, dan aktor-aktor ini harus berterima kasih buat J.K Rowling yang udah nulis ceritanya, sehingga mereka bisa benar-benar nunjukkin kemampuan akting mereka yang terbaik.  Doh, adegan Draco nangis dan dimana dia mencoba buat membunuh Dumbledore benar-benar ditangani dengan baik oleh David Yates dan Tom Felton.  Felton nailed his character!  Hebat banget dia bisa menunjukkan kompeksitas karakter Draco Malfoy yang nakal dan sombong, tapi tidak jahat.  Daniel Radcliffe?  Well...dia tetap Daniel Radcliffe.

Best moments :
  • Weasley Wizard Wheezes.
  • Harry Potter vs Draco Malfoy.
  • Harry and Dumbledore searched for Voldemort's horcrux.
  • Dumbledore's death. 
Final score : 7,2/10 (Good)

5. Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002, Chris Colombus) - Harry Potter and the Deathly Hallows part 1 (2010, David Yates) Tie


Memang masih child-oriented, tapi HarPot 2 lebih kompleks dan gelap daripada film sebelumnya.  Tapi atmosfir gelapnya kurang sync dengan keseluruhan filmnya.  Mulai dari mobil terbang, pertandingan quidditch yang masih lively dan berwarna, itu semua gak cocok dengan usaha J.K Rowling dan Chris Colombus yang berusaha menampilkan sisi gelap HarPot.

Tapi diluar itu semua, kemampuan akting young cast-nya juga udah berkembang.  Begitu juga dengan aktor-aktor yang udah dewasa, tapi gue tetap gak suka suaranya Richard Harris.

Best moments
  • "Why is it always me?"
  • Harry Potter vs Draco Malfoy
  • Dobby's freedom.
  • "This is just like magic!"

Banyak yang mengkritik film ini sebagai prelude karena terlalu banyak tetek bengek (baca : penjelasan) dan kurangnya aksi.  Well, gue disini posisinya netral sih.  Emang aksinya kurang, tapi ntar penontonnya jadi bacot karena mereka gak ngerti the fucking story.  Dan sebenarnya aksi yang kurang gak separah di HarPot 6.  Coba deh bandingin HarPot 6 yang cuma punya 1/4 Battle of Astronomy Tower sama waktu Harry dan Dumbledore nyari Horcru dengan HarPot 7.1 yang punya The Seven Potters, Golden Trio nyusup ke kantor kementrian, terus HarPot ditangkap Snatchers dan dikirim ke Malfoy Mannor?  Lebih seru mana mbak, mas, banci?

Gak ada komplen dari sisi teknisi.  Jujur, walaupun perkembangan Daniel Radcliffe gak terlalu signifikan dibandingkan Emma Watson dan Rupert Grint, dia ada perkembangan dikit lah dari HarPot 6.  Adegan Harry dan Hermione yang berdansa ketika Ron meninggalkan mereka itu mempunyai chemistry yang cukup kompleks, tapi mereka masih bisa membawakan dengan cara yang cukup sibling-like chemistry (?)  Harry Potter 7.1 mungkin tidak menawarkan banyak aksi, tapi tentu saja film ini menawarkan beberapa informasi penting agar penonton setia (bukan pembaca setia) tidak kebingungan melihat kelanjutan film ini.

Best Moments
  • The opening scene.
  • The Seven Potters
  • Rufus Scrimgeour' Speech.
  • Harry and Hermione danced.
  • At Batilda Bagshot's House.
  • Dobby came to rescue.
(Both) final score : 7,6 (good)

4. Harry Potter and the Order of Phoenix (2007, David Yates)


Menurut gue sih ini film HarPot yang (kedua) paling seru.

Gue gak suka aktingnya Evanna Lynch, emang sih Luna Lovegood itu orangnya blank dan dreamy, tapi karakternya di film jadi monoton dan kurang amusing.  Ini entah salahnya di skrip atau aktingnya si Lynch.  Anyway, kudos for Ralph Fiennes and Helena Bonham-Carter yang aktingnya psycho banget!  Dan Imelda Staunton yang sukses bikin gue kesal.  

Di HarPot 5 ini kita akan berkenalan dengan Harry yang sudah dewasa.  Dia sudah menghadapi Voldemort, melihat kematian seseorang, mengalami cinta dan ciuman pertama.  Ini adalah Harry Potter yang benar-benar young adult, bukan sekedar teenage lagi.  Tapi hanya karena Harry Potter sudah dewasa dan keadaan semakin gelap, film ini tidak menghilangkan unsur petualangan, persahabatan, romance, dengan sedikit bumbu komedi (yang mungkin akan lebih dimengerti potterhead).

Best moments
  • Harry and the advance guard flew in London.
  • Dumbledore's Army.
  • Umbridge's inspection.
  • Fred and George's final rebellion.
  • The battle of department mystery.
  • Dumbledore vs Voldemort.
Final score : 8/10 (very good)

3. Harry Potter and the Goblet of Fire (2005, Mike Newell)



HarPot 4 boleh dibilang adalah transisi dari Harry yang lugu ke Harry yang 'terpaksa' untuk dewasa.  Harry dan Ron merasakan cinta monyet mereka, dan Hermione diperhatikan oleh 'seseorang'.  Agak lucu bagaimana di film sebelumnya (HarPot 3) atmosfir justru lebih berat tapi di film selanjutnya (HarPot 4) atmosfir petualangan ini muncul lagi, hanya saja tidak terlalu family-oriented sepert dua film pertama.  Mungkin karena pekerjaan detektif mereka tidak bahas secara kental dan lebih dibumbui oleh kehidupan layaknya remaja normal (cinta dan konflik persahabatan).

Film ini juga film Harry Potter pertama yang melakukan banyak rombakan dari novel aslinya, terutama pada tokoh Barty Crouch, Sr.  Kudos for Mike Newell and Steve Kloves! 

Gue sama sekali gak nyangka orang yang membuat Mona Lisa Smile dan Julie & Julia bisa bikin film dengan visual yang keren banget.  Sayang sekali karir Mike Newell gak secerah Peter Jackson.

Best moments
  • Ron danced with McGonnagal
  • Fred and George became older.
  • The second task.
  • Voldemort's rise.
  • Mad-Eye's 'transformation'.
Final score : 8,5 (very good)

2. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004, Alfonso Cuaron)



Seharusnya film ini adalah (salah satu) puncak kemampuan akting Daniel Radcliffe karena film ini jauh lebih kompleks dan gelap dibandingkan dua film pertama Harry Potter.  Layaknya The Dark Knight, si aktor utama sudah bagus, namun dibayang-bayangi oleh sidekick-nya.  Emma Watson dan Rupert Grint lebih menarik untuk dilihat dan akting mereka berdua lebih ekspresif.  Radcliffe sendiri harusnya bisa tampil lebih stand-out karena dia diberi adegan menangis.  Sebenarnya sudah cukup bagus, tapi mungkin karena gue mengharapkan air mata yang 'deres' dan lancar.  Waktu nonton adegan itu rasanya nanggung banget sumpah.  Tom Felton masih gitu-gitu aja, cuma bukannya songong kayak di dua film sebelumnya, tapi lebih kearah annoying.  Ini gue  yakinnya sih dari sononya (alias novel dan skrip), bukan aktingnya.  Anyway, selain aktor-aktor muda, ada aktor-aktor tua juga loh (?)  Gue lebih suka suara Michael Gambon dan dia lebih bisa menunjukkan sisi jenaka dan cerdik (bukan bijak loh) ridari Dumbledore.  Walaupun David Thewlis gak amazing, kemampuan aktingnya tetap diatas good menurut gue.  Jangan lupa Alan Rickman yang elegan, misterius, dan kejam.  Tapi yang paling keren adalah Gary Oldman!  Mendalami banget dah kegilaannya Sirius, dia cuma bisa disaingi Helena dan Ralph di HarPot 5.

Dari sisi cerita, film ini mungkin agak membosankan bagi mereka yang mengharapkan misteri dan petualangan yang lebih kental di dua film sebelumnya.  Film ini juga menyediakan beberapa misteri, tapi misteri itu lebih terasa vague dan dialihkan oleh beberapa hal, seperti dementor.  Sumpah, Cuaron bisa aja nakutin anak kecil-_-  Waktu gue masih SD, gue langsung tutup mata kalau dementornya muncul.  Adegan yang serem tuh waktu boggartnya berubah jadi dementor sama waktu Harry lihat dementor pas pertandingan quidditch.  Oh iya, film ini juga lebih mengekspresikan kegalauan Harry (?)

Best moments
  • Harry's accidental magic on Aunt Marge.
  • The Knight Bus.
  • Harry rode on Buckbeak.
  • Professor Lupin's first lesson.
  • "Turn to page 394."
  • Sirius 'caught' Harry.
  • Snape protected the golden trio.
Final score : 9,2/10 (Amazing)

1. Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 (2011, David Yates)


Huaa....waktu adegan ini dan "Leaving Hogwrats" diputar lagi...gue gak nangis, wkwkwk.  Tapi tetap merasa sedih.  Mungkin karena gue potterhead, makanya gue merasa akan ada sesuatu yang membuat gue move on...  *ngiris bawang* 

Banyak yang ngasih nih film nilai sempurna...walaupun gue setuju, harus gue akuin film terakhir Harry Potter ini emang yang paling mendekati sempurna.

The Battle of Hogwrats ditata secara apik oleh David Yates, Eduardo Sera (sinematografi) dan Mark Day (editing).  Gak cuma adegan itu, tapi opening scene-nya yang menurut orang lain mungkin simpel, tapi menurut gue itu epik dan emosional.  Sesudah ditunjukkan Voldemort yang mendapat the elder wand, Hogwrats diperlihatkan sunyi, muram, dan kehilangan semangatnya.  Dan Snape yang suka banget bentak atau setidaknya ngasih muka gak enak ke murid cuma natap kosong ke arah murid-muridnya. Oh iya, ada juga Alexander Desplat yang berhasil menambah emosi dan keepikkan film ini.  Jatuh cinta banget deh sama Lily's theme. 

Semua aktor udah berkembang dan sudah tahu cara menghidupkan karakter masing-masing (walaupun gue tetap berpikir DanRad masih dibayang-bayangi).  Alan Rickman...banyak yang bilang dia pantas mendapatkan Oscar, tapi gue rasa aktingnya gak sedewa itu.  Gue setuju kalau dia berhasil banget menunjukkan sisi lain Snape, tapi waktu adegan nangisnya ada sesuatu yang kurang dan unmatch.  Doh, kok ya juri Academy Awards gak ngasih nominasi apa-apa buat Helena Bonham-Carter dari film ini, malah dari film The King's Speech, ya pantesan gak menang!  Lo liat aja, di film-film sebelumnya, Carter berperang sebagai orang yang psychotic, tiba-tiba, dia berperan sebagai Bellatrix yang palsu dan kikuk.  Bisa lihat kan perubahan bahasa tubuh dan ekspresinya?  Ralph Fiennes sendiri bisa mengekspresikan sisi pengecutnya Voldemort, Maggie Smith dan & Julie Walter menunjukkan sisi badass mereka, Jacob Isaac juga berhasil membawakan Lucius Malfoy yang karismanya berkurang.  Sumpah dah, film ini punya salah satu ensemble cast terbaik!

Sekarang ke aktor mudanya.  Gue masih melihat Bonnie Wright dan Ginny Weasley sebagai tempelan doang.  Karakter Ginny di film kurang menarik (banget) dibandingkan di buku.  Jadi gue masih bisa memaklumi kalau Wright kurang bisa berimprovisasi.  Sedangkan Grint, Watson, Felton, dan Matthew Lewis (Neville) makin mantep di film ini, walaupun puncaknya Felton tetap di film keenam.  Akting Radcliffe...diatas watchable.    

Best moments
  • Opening scene.
  • Bellatrix 'possessed' by Hermione.
  • Battle of Hogwrats.
  • Snape's memory.
  • At King Cross with Dumbledore.
  • Neville's speech.
  • 19 years later.
P.S : memang penampilan aktor-aktor di adegan "19 years later" kurang realistis, tapi gue rasa David Yates sengaja mengubahnya untuk menambah rasa melankolis dan nostalgia bagi penonton yang memang mencintai Harry Potter, bukan sekedar mengikuti filmnya.  Jadi gue emang gak ambil pusing dalam penampilan aktor-aktornya.

Final score : 9,5/10 (Superb) (yup, I change it just for this movie, lol)

pic cr :
themovieblog.com
cinemasoldier.com
fanpop.com
entertainista.com
hark.com
collider.com
comicvine.com
ohnotheydidnt.livejournal.com