Tampilkan postingan dengan label Mediocre. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mediocre. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Jurassic World


Berhubung nyokap ngedenin gue tahun 1998, gue gak nonton Jurassic Park, which was released in 1993, di bioskop. Gue beberapa kali nonton Jurassic Park di TV waktu kecil, and I never felt fascinated or awed by the film. Gue justru bisa merasakan dan menghargai keajaiban film Jurassic Park beberapa bulan yang lalu, setelah gue rewatch di HBO. Gue belum pernah nonton The Lost World dan Jurassic Park III karena belum menemukan mood. 

22 tahun setelah John Hammond membuka (dan menutup) Jurassic Park, seorang pengusaha bernama Masrani (Irffan Khan) membuka Jurassic World. Ia dibantu oleh Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), seorang operations manager. Mereka berencana untuk mempamerkan sebuah trik gen yang sangat hebat secepatnya. Untuk itu, mereka meminta pendapat dan bantuan Owen Grady (Chris Pratt) a sexist white asshole yang bersahabat dengan velociraptor. Disaat yang sama, kakak Claire menitipkan dua putranya, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins) untuk bersenang-senang bersama tante tersayang mereka. Masalah dimulai ketika trik gen yang sangat hebat itu berhasil lolos dari kandangnya.


RISK YOURSELF WITH CRAPPY REVIEW AND SPOILER


In the next movie, just let the dinosaurs kill all the people

I give the cute four raptors more fuck than the Hermione Granger-wannabe and the sexist white asshole. I'm not kidding, it's really sad to see those cute raptors die.

Gue udah melengos waktu lihat Claire yang too perfect sekaligus needs to get laid badly. God, do we really need another Hermione Granger? Serius, workaholic, control-freak, dll. But hey, at least Hermione doesn't describe house-elves as "assets". Claire is a very stereotypical character. Awalnya sih dia emang cold, sangat logis dan organized, but in the end, she still needs a guy to save her and "melt her heart". I know this is annoying, but even Hermione doesn't need any guy to save her or melt her. 

Beberapa orang gak suka dengan sisi feminin Claire karena berbagai alasan. Gue tadinya gak suka sih, simply karena gue bukan penggemar orang yang centil dan perfeksionis (kecuali artis). Tapi gue melihat itu sebagai suatu statement bahwa women do not have to be a tomboy or "guy-like" to be considered strong. She can wear dress and heels but still a strong woman. In the end, 'pernyataan' itu jadi useless karena Claire menemukan kekuatannya setelah berinteraksi dengan Owen dan melupakan sedikit penampilannya. On the other hand, pekerjaan Claire tidak mengharuskan ia untuk terekspos dengan kehidupan outdoor. So, bisa dimengerti sih how incompetence she is ketika menghadapi dinosaurus. But still...that doesn't make me love her. Sorry, but I love female characters like Ellen Ripley, Black Widow, heck, even Belle from Beauty and the Beast.

What I like from Claire is that she keeps her heels after dozens of complain about her attire and attitude. Nope, I still think she's too pretty and stiff. But you go girl for keeping your shoes!

Am I the only who one who do not fall for Chris Pratt? He's hot, tapi gue lebih milih Loki, Magneto, Sherlock, Iron Man, dan Jack Dawson daripada dia. Anyway, apakah otot, keseksian, 'karisma', asshole-y sense of humor, dan Ace Ventura-skill benar-benar diperlukan untuk membuat sebuah hero untuk film blockbuster? Dr. Grant doesn't have those things, and he still kicks asses. But the thing I like the most from Dr. Grant? He's not fond with children, but he ends up taking care of them. Penampilan Chris Pratt sendiri did nothing for me. Not bad but not memorable either. The same goes with Howard's performance.

Selain itu, Dr. Grant dan Dr. Sattler tidak membutuhkan a ridiculous amount of UST (unresolved sexual tension) dan adegan ciuman untuk menunjukkan chemistry mereka. Gue gak membenci UST antara Claire dan Owen, just saying that Grant and Sattler do not need those things. And you know what? Gue bukan penggemar Sam Neill dan Laura Dern, tapi Jurassic World telah menuliskan nama gue di daftar fans Neill dan Dern. 

Yes, it's women's job to give birth and take care of children while the men don't have any natural obligation.

Satu hal yang bikin gue sangat benci dengan Claire adalah bagian akhirnya. Sebelumnya, Claire dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan dua keponakannya. Lalu ada adegan dimana Claire menelpon kakaknya dan kakaknya sangat yakin bahwa Claire suatu saat akan menikah dan punya anak. Guess what? In the end, Claire gets a boyfriend and she interacts more with her nephews! There you go Claire, your long lost motherly instinct! 

Nah, kan udah dibilang nih kalau Claire terlalu sibuk ngurusin keponakannya. Terus, siapa dong yang ngurusin Zach sama Gray pas mereka nyampe di Jurassic World. Claire menyuruh salah satu asistennya, Zara, untuk mengurus kebutuhan Zach dan Gray. Zara doesn't really care for them. Come on, they are only her boss' nephews. Guess what Zara's punishment for not taking care of Zach and Gray? She has the most gruesome death in this film. Even the death of the selfish fat guy in Jurassic Park isn't as bad as Zara's. Get what I meant?    

A woman's decision to not have children or lack of skill in dealing with children doesn't make her "evil" or "abnormal".


Little Homages

Jika diperhatikan baik-baik, banyak homages kecil maupun besar yang berteteran di Jurassic World. Gue udah kasih warning buat spoiler kan? So far, homages yang gue ingat: John Williams' original theme song, the jeep, eggs in lab, dilophosaurus, B.D Wong, human's greed for power and money, T-Rex, raptors vs bigger dinosaur, and a scene that dedicates for Dr. Grant and Dr. Malcolm. Gue senang sih ada satu aktor dari JP yang balik untuk main di JW, but I prefer seeing Samuel L. Jackson in this film with one arm and one eye, lol.

Other Things

Using mosasaurus for promotion is a stupid move; it ruins the surprise.

Ada satu percakapan yang menurut gue menekankan bahwa it's not "science's fault" but human's fault. Menurut gue, beberapa film sci-fi sering memberikan kesan bahwa inovasi pada sains dan teknologi itu buruk bagi kemanusiaan. Mungkin bukan itu maksud pembuatnya, tapi gue menangkapnya seperti itu. Mereka kurang memberikan penekanan bahwa berinovasi tidak salah, tapi apa yang dilakukan pada inovasi itu.

I'm not fond with the characters, but I'm crazy with the CGI! Goddamn, rasanya tuh kayak liburan ke Universal Studio di USA, but it's certainly better than that. Doh, gue jadi ngarep Jurassic World beneran ada. Wahana yang ditayangkan di film ini juga menarik. Gue merasa kayak bocah lagi jalan-jalan ke Taman Safari yang sangat, sangat, sangat, modern.

Overall

I can't understand how come the plot is bad because it's written by four people. But this film satisfies my inner starve for a mind-blowing amusement park. 6/10


Minggu, 03 Mei 2015

Messy and Short Review: Furious 7


I know it's late since everybody has watched it, but...whatever. Since I'm an extremely lazy writer and almost everyone knows the story, let's get to the points, shall we?

SPOILER ALERT

Almost no room for characterization and all that jazz

Are blockbuster films supposed to have little room for characterization? Gue kemarin nonton setengah dari Fast and Furious yang pertama. Film itu masih punya ruang untuk aktor-aktornya berakting dan ruang untuk karakterisasi. But Furious 7 is almost plotless. Well, not really plotless, tapi banyak dialog yang kurang substansial atau sesuatu yang bisa bikin gue berempati dengan tokoh-tokohnya. Gue akui gue Furious 7 adalah film kedua yang gue tonton dari seri Fast and Furious, jadi wajar kalau gue gak bisa berempati dengan tokoh-tokohnya, but it would be great if I can sympathize with those characters. Back to the point, gue gak yakin apakah almost plotless adalah hal yang buruk atau bagus, karena adegan-adegannya banyak yang super keren. Tapi gue tipe orang yang suka cerita and all types of traditional shit like good acting, dialogue, etc.

Identity, vengeance, and family

It's a shame that Furious 7 is almost plotless since the themes are pretty interesting. Kalau di-handle dengan bagus, mungkin action yang over-the-top bisa menyatu dengan baik dengan unsur-unsur drama. 

Letty sempat mengalami krisis identitas di film ini. Dia tidak nyaman dengan Dom yang berusaha untuk reviving the glory days sementara ingatan Letty belum sepenuhnya kembali. Bahkan Letty sempat mengatakan bahwa Letty Ortiz yang sesungguhnya telah meninggal dan ia hidup lagi sebagai orang yang berbeda. Jadi apa yang sebenarnya terjadi hingga ia mau bergabung dengan Dom? Apa yang membuat ingatannya kembali? Unfortunately, we will never know. 

Shaw menyerang kelompok Dom atas dasar balas dendam untuk adiknya. Kelompok Dom menyerang Shaw habis-habisan. Baik Shaw dan Dom melakukan balas dendam bukan atas apa yang terjadi bagi mereka, tapi untuk orang yang mereka cintai. Tapi yang membedakan Dom dan Shaw adalah Dom is a lion while Shaw is a cheetah. Dom masih punya orang-orang yang menjadi jangkar hati nuraninya. Tej, Letty, Brian, Roman, dan bahkan the-sexy-hacker-whose-name-I-forget mengikuti Dom atas kemauan mereka sendiri, which means that Dom is a very capable and 'good' leader. Shaw mahluk soliter. Dia tidak punya orang-orang yang setia kepadanya. Bahkan partnernya akhirnya mengorbankan dia demi menangkap Dom.  

Fuck to woman's exploitation

I'm not happy with woman's exploitation in this film. At all. Okay, maybe calling it as an exploitation is an exaggeration. Tapi kalau mau nampilin cewek-cewek seksi dan fokus ke certain body parts, kenapa hal itu gak dilakukan ke yang laki-laki juga?

The nine lives of all male protagonists

Apakah ini semacam tren untuk film-fim blockbuster? As far as I know, it happened Star Trek (both films), The Dark Knight Rises, and The Avengers (Iron Man). Gue gak suka itu. Mereka bukan dewa yang punya nyawa ekstra for fuck's sake. Dan kalau itu usaha untuk bikin penonton sedih, it's a chessy effort. 

My Favorite Parts: 

- The catfight between Letty and the prince's bodyguard. Finally, a cool and fuckin' badass catfight!

- Roman's dialogue, monologue and the banters between him and Tej. I know, my sense of humor is pretty low.

- Flying cars. All of them. 

- The ending. I'm not affected by Paul Walker's departure (both in real life and in the film), but the scenery is beautiful and Wiz Khalifa's See You Again is an amazing song.

- This scene:

 
Hello, gorgeous(es).

Overall: Situasi "almost plotless" yang dimiliki oleh Furious 7 terbayar untuk adegan-adegan aksi yang mindblowing. James Wan dan timnya memiliki konsep yang "agak unik" mengenai mobil terbang, and it's a good kind unique. Eksploitasi wanita yang terjadi di film ini sangat disayangkan, because Furious 7 would be my favorite film if it wasn't there. 6/10

Selasa, 14 Oktober 2014

Annabelle (2014)

I want her soul.

http://www.impawards.com/2014/annabelle_ver2.html

Gara-gara The Conjuring, boneka butek bernama Annabelle ini jadi populer.  Walaupun masih lebih mengerikan Sy*hrini daripada nih boneka, gue yakin banyak orang yang gak mau bobok bareng Annabelle.  Anyway, Annabelle merupakan film horor Amerika tahun 2014 yang disutradarai oleh John R. Leonetti dan ditulis oleh Gary Dauberman.  Film ini merupakan prequel atau spin-off dari film The Conjuring.  Film Annabelle ditunggu-tunggu oleh banyak pecinta film horor, terutama mereka yang menyukai The Conjuring.  Film ini berhasil meraup keuntungan dengan cepat, sayangnya ia tidak mendapat banyak pujian dari kritikus film.

Mia (Annabelle Wallis) dan John (Ward Horton) sedang menanti kedatangan anak pertama mereka.  Suatu hari, John memberikan Mia sebuah boneka antik yang dicari-cari Mia.  Mia sangat senang dengan boneka itu.  Namun tidak lama setelah kehadiran boneka itu, tetangga mereka, keluarga Higgins, dibunuh.  Keluarga Mia dan John juga ikut diserang oleh pembunuh keluarga Higgins.  Ternyata pelakunya adalah Annabelle, putri keluarga Higgins yang menjadi bagian sekte pemuja setan.  Semenjak penyerangan itu, Mia dan John mengalami banyak pengalaman aneh dan mengerikan di rumah mereka.  Karena itu, mereka pindah dari rumah mereka.  Namun, perpindahan rumah tidak menghapus kejadian-kejadian spiritual serta kekuatan gelap yang mengincar mereka.

ADA SPOILER GAK YA...

http://www.fatmovieguy.com/annabelle-official-main-trailer/

The Conjuring bakalan tetap bagus ada atau enggaknya nih film.  Sejelek-jeleknya Insidious 2, korelasi Insidious 2 dan Insidious tuh masih lebih bagus daripada Annabelle dengan The Conjuring.  Annabelle hanya menceritakan masa lalu Annabelle and that's it.  Kalau tahu ceritanya gitu doang, mendingan gue baca fanficnya aja, gak usah keluar duit buat nonton nih film.
The similarity and difference between Annabelle and Rosemary's Baby

Entah kenapa film ini agak mengingatkan gue dengan Rosemary's Baby.  Gue baru sadar kalau secara dasar, kedua film ini bercerita tentang ibu hamil yang mengalami kejadian-kejadian aneh dan menggunakan satanic cult sebagai 'aksesoris' filmnya.  Eits, Annabelle sama Rosemary's Baby beda kasta *walaupun gue gak demen Mia Farrow*.  Rosemary's Baby berhasil menggunakan satanic cult sebagai 'magnet' penontonnya karena satanic cult dibahas dengan cukup mendetai.  Sedangkan Annabelle menggunakan satanic cult sebagai bahan basa-basi gak jelas.

A bit exposure on religion (Catholic)

Sepertinya Leonetti atau Dauberman mencoba bikin religious horror yang menggugah layaknya The Exorcist.  Sorry dude, if that's what you're trying to do, you fail.  Why?  Karena Leonetti dan Dauberman kurang serius menggunakan aspek agama di film ini.  Film ini hanya memperlihatkan gereja, romo yang pada akhirnya gak ngapa-ngapain, dan beberapa quotes religius klise yang bikin gue internal bleeding.  Anyway, gue rada kaget nih film gak ada adegan exorcism. Gue punya dua pendapat mengenai tiadanya adegan exorcism.  Pendapat pertama sih adegan exorcism cuma nambah keklisean film ini.  Pendapat kedua, adegan exorcism yang fuckin' awesome mungkin akan meningkatkan rating film ini.  Gue somehow senang di adegan si romo 'K.O.' sama setannya.  That scene shows that not all of devout people can beat 'the evil'.    

http://somewhatnerdy.com/wp-content/uploads/2014/07/Capturen.jpg

A message about sacrifice

I don't know about you, tapi gue bingung kenapa nih film tiba-tiba mencoba memasukkan pesan mengenai pengorbanan.  Kalau pengorbanan itu ditunjukkan secara nonchalant atau masa bodo sih gak apa-apa bagi gue.  Tapi adegan pengorbanan itu ternyata harus ditemani oleh kalimat religius yang biasa banget.  Kalimat religius itu membuat seakan-akan crew berusaha keras memberikan pesan mengenai pengorbanan.  Sayangnya, pengorbanan yang ditunjukkan kurang ngena bagi gue.  Why?  Pertama, pengorbanan itu dilakukan oleh tokoh yang menurut gue kurang ngena atau insignificant.  Kedua, pengorbanan itu dilakukan oleh orang yang kurang dekat dengan Mia dan John.  Emang kadang-kadang ada orang asing yang mau berkorban untuk kita.  Tapi langka banget orang asing yang bekorban untuk kita 'sebanyak itu'.  Ini membuat pengorbanan di film Annabelle terasa kurang relatable dan ngena bagi gue.   

Other Stuffs

TWO THUMBS UP BUAT JOSEPH BISHARA YANG BIKIN JANTUNG GUE OLAHRAGA SEPANJANG FILM.  Sumpah, gue emang gak suka Annabelle, tapi tetep aja gue tegang waktu gue nonton filmnya.

Gue sebel sama Mia Farrow di Rosemary's Baby karena menurut gue dia lebay.  But that doesn't mean I like poker face.  Gue pengen lempar Annabelle Wallis pake beha bolong warna orange ngejreng saking frustasinya sama dia.  Lagian ekspresinya gitu-gitu aja.  Lupakan chemistry-nya Wallis dengan Horton.  Percayalah, Jokowi sama JK punya chemistry yang lebih bagus daripada Wallis sama Horton!

Conclusion

Annabelle is an unnecessary spin-off.  The quality is not a match to The Conjuring.  It's also a waste of money and time for me.  5/10   


Kamis, 28 Agustus 2014

The Kings of Summer

...and be our own man. -Joe Toy
cinemaforensic.com
I love coming-of-age films.  I don't experience the best in my high school and junior high school, but I really enjoy coming-of-age films.  Apalagi kalau yang main cowok-cowok ganteng, bisa jadi waktu fangirling dah.  Sayang nih pelem kagak ada cowok ganteng kayak Leo di Basketball Diaries.

The Kings of Summer merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2013 yang sempat nangkring di Sundance Film Festival.  Film ini disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dan ditulis oleh Chris Galletta.  Film berdurasi 94 menit ini mendapat respon yang cukup positif dari para kritikus film.

Joe Toy (Nick Robinson) merasa sumpek dengan kelakuan ayahnya, Frank (Nick Offerman) yang dirasa terlalu mengontrolnya.  Di sekolahnya, Joe juga mengalami bullying, bahkan ia dipermalukan di depan gadis yang ia taksir, Kelly (Erin Moriarty).  Teman Joe, Patrick (Gabriel Basso) juga merasa tertekan oleh sifat orang tuanya yang aneh dan anggapan mereka bahwa Patrick masih anak kecil.  Ketika emosinya memuncak, Joe merencanakan untuk membangun sebuah rumah di dekat hutan.  Joe mendapatkan ide lokasi rumahnya setelah ia 'berjalan-jalan' dengan Biaggio (Moises Arias), seorang bocah eksentrik.  Mereka bertiga setuju untuk membangun rumah secara diam-diam dengan peralatan dan perlengkapan seadanya.  Setelah rumah itu selesai, mereka segera meninggalkan orang tua mereka dan hidup di tengah alam.

emptykingdom.com
Kalau dari segi cerita, entah kenapa film ini mengingatkan gue dengan My Neighbor Totoro.  Mungkin karena kedua film ini latar tempatnya tuh di hutan dan kurang mengandalkan konflik dan tensi.  Memang ada beberapa konflik, tapi konflik-konflik itu diperlihatkan dengan kurang intens dan penyelesaiannya cenderung cepat.  Sebagian besar film diisi dengan keseharian dan petualangan mereka di hutan, sama seperti film My Neighbor Totoro.      

The Kings of Summer juga agak berbeda dengan film coming-of-age lainnya.  Film ini tidak membicarakan first kiss, losing virginity, bullying, status quo, dan hal lainnya secara intens.  Malah hal-hal itu boleh dibilang menjadi side story saja.  Galleta menuliskan cerita tentang tiga orang remaja yang memaksa diri mereka untuk dewasa.  Joe, Patrick, dan Biaggio 'mewakili' remaja-remaja yang sudah tidak tahan lagi untuk pergi dari rumah mereka.  Mereka hanya berfokus pada kebebasan yang ditawarkan di luar rumah.  Mereka lupa bahwa jika mereka sudah di luar rumah, mereka tidak bisa lagi bergantung pada orang tua mereka.  Seiring berjalannya waktu, Joe, Patrick, dan Biaggio sadar bahwa no parents dan kebebasan tidak seenak yang mereka kira.  Mereka harus berjuang lebih keras tanpa orang tua mereka walaupun mereka belum dewasa.  Usaha mereka untuk menjadi pria akhirnya sia-sia karena pada dasarnya mereka masih remaja dengan sedikit pengetahuan dan pengalaman.

SPOILERNYA MULAI YAAA

filmsandpies.blogspot.com

Gue cukup menikmati petualangan-petualangan yang mereka bertiga alami.  Sayang petualangan itu harus diakhiri dengan cinta segitiga yang klise dan pengen bikin gue muntah.  Bitch please, even The Breakfast Club didn't do love triangle stuff.  Tapi di sisi lain, cinta segitiga ini justru memperlihatkan sisi realistis persahabatan: your best friends don't always sacrifice and or stick for you.  Hollywood sangat sering memperlihatkan kita sahabat-sahabat yang too nice and too selfless while not all of us are blessed with that kind of best friend.      

I don't know about you, but I don't like the actors.  Bukan karena mereka gak ada yang seganteng Judd Nelson kok, tapi mereka memberikan aura awkward di sepanjang film.  Pokoknya gue merasa canggung lihat akting mereka, apalagi aktingnya si Nick Offerman, yang gak bisa meyakinkan gue kalau dia tuh lagi khawatir atau marah.  Beberapa blogger film memuji aktor-aktornya, tapi gue tetap merasa canggung nonton mereka akting.  Kalau dari segi individual aja udah awkward, apalagi waktu berinteraksi dengan tokoh lainnya kan?  Di film ini, ceritanya sih Patrick dan Joe udah temenan dari kecil.  Tapi gue rasa mereka bukan temen sejak kecil, melainkan temen dari SMP yang suka bercanda, bukan yang deket-deket banget.  Sebenarnya gak apa-apa sih kalau ceritanya Joe dan Patrick tuh baru deket waktu SMA, tapi di film ini Joe dan Patrick sudah temenan dari kecil dan Nick Robinson serta Gabriel Basso tidak bisa menunjukkan bahwa they've been pals since they used diapers.

Hal terbaik dari film ini jelas sinematografinya.  Gue suka banget pewarnaan yang digunakan di film ini.  Latar hutan dengan pepohonan rindang melakukan duet yang harmonis dengan sinematografi film ini.  *komen gue hiperbola ya*  Ada juga beberapa adegan slow motion yang gue personally kurang suka, tapi keren juga sih.  Namun, gue kurang suka jenis musik yang digunakan di film ini.  The music is too modern and edgy for me.  Gue pribadi bakalan lebih suka kalau film ini pake lagu-lagu alternative atau rock tahun 80an sampai 90an.

Overall, the film is pretty forgettable for me because the film is not as fun and passionate as I expected.  The story has some messages, but story with less enormous conflict is not everyone.  Oh, the jokes are as fresh as Stewart's acting in Twilight.  I only like the jokes that are told by Joe's dad.  6,7/10  


Selasa, 27 Mei 2014

Garden of Words (Kotonoha no Niwa)

pic cr: tube.hk
Makoto Shinkai merupakan seorang animator Jepang yang disebut-sebut sebagai The New Miyazaki walaupun Shinkai sendiri menganggap pernyataan itu sebagai overstatementGue jadi kepo karena gue pengen tahu apa yang membuat dia bisa disetarakan dengan Hayao Miyazaki.  Jujur, walaupun 5 centimeters per second benar-benar mempengaruhi pikiran dan perasaan gue, I don't really think it's an awesome film, or even in the same level with Spirited Away.  Tapi gue mau 'memberikan kesempatan kedua' pada Shinkai lewat film Garden of Words (2013)

Takao (Miyu Irino) selalu membolos jam pertama sekolah jika pagi itu hujan.  Ia pergi ke sebuah taman dan mendesain sepatu.  Disana, ia bertemu dengan seorang wanita (Kana Hanazawa) yang suka minum bir dan cokelat di taman itu.  Akhirnya mereka selalu bertemu di taman itu ketika hujan di pagi hari.  Pertemuan-pertemuan itu membuat mereka nyaman satu sama lain walaupun mereka tidak tahu sama lain.  

Lama-kelamaan, musim hujan berakhir.  Mereka selalu menunggu hujan agar dapat menemukan alasan untuk pergi ke taman tersebut.  Suatu hari, Takao dan wanita itu berpapasan di sekolah Takao.  Ternyata wanita itu adalah Ms. Yukari Yukino, salah satu guru di sekolah Takao.

WARNING: ADA SPOILER

pic cr: leap250.wordpress.com

I still don't understand why people compare Shinkai with Miyazaki.  Both of them are good with what they do, but they certainly have different styles.  Jika Miyazaki bagaikan David Lynch atau Stanley Kubrick yang punya sentuhan surealisme dan plotnya agak berat, maka Shinkai merupakan one of those artsy-indie-modern arthouse's directors.  Get it?  In some way, harus gue akuin kalau gaya animasinya Shinkai lebih keren daripada Miyazaki.  Pewarnaannya bagus banget, gambarnya lebih smooth, dan sudut pengambilan gambarnya super keren.  Bahkan terkadang terasa seperti film live action.  Tapi kalau soal cerita?  Gue tetap milih Miyazaki.

Gue merasa bingung setelah nonton film ini, terutama karena gue ngerti apa yang ingin disampaikan Shinkai lewat film ini.  Atau mungkin Shinkai tidak ingin menyampaikan apa-apa dan sekedar membuat cerita tentang dua orang?  Entahlah, tapi gue rasa Garden of Words bukanlah jenis film pretensius yang mencoba untuk menjelaskan kehebatan cinta atau 'action speaks louder than word' seperti kebanyakan film arthouse bisu gak jelas.  Film "Garden of Words" memang terlihat realistis dan menceritakan slice of life, tapi ada bagian yang gak 'sreg' dengan kehidupan nyata.  Berdasarkan pengalaman hidup selama 15,5 tahun, gue sadar bahwa seseorang bisa nyaman dengan seorang lainnya jika mereka saling berbicara.  Karena lewat berbicara mereka akan sadar apa yang cocok dan tidak cocok di antara mereka.  Bukan berarti orang yang akrab harus selalu berbicara satu sama lain, tapi kalau dua atau lebih orang akrab dan merasa nyaman satu sama lain, mereka pasti sudah melewati fase itu.  Di film "Garden of Words", Takao dan Yukino belum melewati fase itu.  Hell, mereka bahkan gak tahu nama satu sama lain sebelum mereka berpapasan di sekolah Takao.  Bahkan terkadang Takao merasa komunikasi mereka 'satu arah' karena Yukino hampir tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Takao.  So, bagaimana bisa Takao jatuh cinta pada Yukino dan bagaimana bisa Takao menyelamatkan Yukino?

pic cr: anbient.net

Menjelang akhir film, Takao menyatakan cintanya pada Yukino.  Gue berasumsi bahwa Takao hanya berpikir ia mencintai Yukino.  Ia tidak benar-benar mencintainya.  Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa benar-benar mengenal orang itu?  Ia bahkan tidak pernah bertanya nama Yukino.  Takao is charmed by Yukino to the point he thinks he's in love with Yukino.  Anyway, respon Yukino terhadap pernyataan cinta Takao sepertinya tidak seperti yang diharapkan oleh Takao.  Takao akhirnya pergi dari apartemen Yukino.  Lalu Yukino mengejarnya tapi Takao malah mengatakan bahwa ia membenci Yukino dan menuangkan kefrustasiannya pada Yukino.  Lalu Yukino memeluknya dan mengatakan bahwa Takao menyelamatkannya.  Mungkin kebanyakan penonton berpikir bahwa setidaknya Yukino dan Takao punya 'harapan' dan tidak berakhir tragis seperti Akari dan Takaki di film 5 centimeters per second.  Sebaliknya, gue menangkap bagaimana perasaan dan kata-kata orang bisa berubah.  Seperti Takao yang mengatakan cinta lalu -tidak sampai satu jam- mengatakan benci.

Kita tahu bahwa Takao dan Yukino selalu bertemu di sebuah taman jika hujan turun di pagi hari.  Apakah mereka benar-benar menyukai hujan atau mereka hanya menggunakan hujan sebagai alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata?  Gue menginterpretasikan taman yang mereka kunjungi sebagai dunia khayalan mereka.  Dimana mereka bisa lepas dari segala tekanan sekaligus mendapatkan teman.  They are so overwhelmed by their little worlds in the garden sampai mereka gak pernah nanya nama masing-masing ataupun berpikir jika salah satu di antara mereka itu psikopat, pencuri, dll.  Ketika hujan tak kunjung datang, akhirnya mereka pergi ke taman itu walaupun hanya sekali-dua kali.

Gue bingung apakah Shinkai ingin menunjukkan sisi realistis kehidupan atau ilusi yang dialami manusia lewat Kotonoha no Niwa.  Jika Shinkai memang ingin menyampaikan sesuatu lewat film ini, gue rasa pesan itu kurang jelas atau terlalu subtle.  Kotonoha no Niwa hanya menunjukan bahwa Makoto Shinkai pantas disejajarkan oleh Hayao Miyazaki dalam bidang visual, bukan cerita.  6/10 

P.S: Soal soundtrack, gue lebih suka 5 centimeters per second.

          

Jumat, 16 Mei 2014

The Amazing Spider-man 2: "At least there's no cicak-man"

I need you. -Harry Osborn

I'm not a big fan of Superhero movies.  Gue cuma suka film Batman sama The Avengers doang, yang lainnya gue kurang suka.  Gue juga bukan penggemar film Spider-man, cuma suka film Spider-man 3 aja.  Beberapa hari yang lalu gue nonton Captain America: The Winter Soldier and I actually like it!  Gara-gara film itu, gue memutuskan untuk 'memberikan kesempatan' pada film The Amazing Spider-Man 2. 

Kali ini Peter Parker (Andrew Garfield) sedang menjalin hubungan dengan Gwen Stacy (Emma Stone). Di tengah kesibukannya muncul seorang penjahat tangguh bernama Electro (Jamie Foxx) yang datang menebar teror di New York. Electro ini memiliki kekuatan mutan dan dapat mengendalikan medan listrik, sebagai pertahanan diri sekaligus senjata.

Di saat yang sulit itu Peter mengetahui sebuah rahasia mengejutkan tentang ayahnya. Ia menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang berisi berbagai penemuan dan melihat video ayahnya yang mengaku menyembunyikan penemuannya untuk melindungi dunia. 

Selain itu muncul Harry Osborn (Dane DeHaan), teman lama Peter yang telah kembali dan menunjukkan ambisinya tentang 'Oscorp'. Peter pun menyadari sesuatu bahwa dalam video ayahnya juga menyebutkan hal yang sama dengan Harry.

sinopsis diambil dari sini

WARNING: MENGANDUNG SPOILER!


Pertama-tama, gue minta maaf karena (kayaknya) bakalan banyak perbandingan antara Spiderman versi Raimi dan Webb.

Apakah lu percaya sosok Peter Parker yang diperankan oleh Andrew Garfield ini seorang geek dan korban bully di sekolahnya? 

Gue bukan penggemar Tobey Maguire, tapi entah kenapa ada perasaan gak rela melihat peran Peter Parker a.k.a Spiderman diambil alih oleh Garfield.  Spiderman yang diperankan oleh Maguire itu sifatnya mellow dan angsty, sedangkan Garfield memerankan Peter Parker sebagai sosok yang santai dan punya sense of humor yang lumayan.  Is that a bad thing?  I don't think so, gue menikmati kok segala lelucon yang dilontarkan oleh Spidey versi Garfield.  Bahkan melihat versi lain Spidey sebenarnya merupakan hal yang cukup refreshing.  Tapi ada alasan tertentu gue (sempat) bersimpati dan 'ikut merasa' kepada Peter Parker versi Maguire, karena versinya dia emang lebih hopeless & geeky, dan karakternya dia lebih meyakinkan penonton bahwa dia adalah seorang 'korban'.  Gue memang menulis bahwa Spidey yang diperankan Garfield cukup refreshing dan fun, tapi gue tidak merasa bersimpati kepadanya karena ia mempunyai karakter yang likeable.  I mean, he will survive in this cruel world.  Di Spider-Man 2, kita bisa melihat dan merasakan perjuangan Bibi May dan Peter untuk survive dalam bidang finansial.  Di film ini memang ditunjukkan, tapi...kurang terasa dan diolah dengan baik.

Am I the only one who hate the sappy romance in this film?  Seriously, gue gak suka sisi romance yang menurut gue terlalu cengeng dan dramatis di film ini.  Di tengah-tengah menonton film ini, gue mempertanyakan diri sendiri apakah gue sedang menonton film Superhero atau film romance yang diadaptasi dari novel Nicholas Sparks.  Webb, gue jauh-jauh datang ke Blitz dan pake promo KakaoTalk buat nonton film superhero yang seru dan (syukur-syukur) mengajak gue bepikir, bukan buat nonton dua orang muda penuh hormon berakting cute.  Emma Stone dan Garfield bagus kok dalam memerankan karakter individual mereka, namun begitu mereka berdua?  Gue merasa chemistry mereka kurang kuat.  Ada momen-momen dimana chemistry mereka bagus, tapi chemistry mereka kurang konsisten di sepanjang film.  Terkadang ada saatnya adegan cute yang dilakukan mereka terasa terpaksa.  Adegan-adegan itu seakan-akan hanya menunjukkan,"Woohoo, we're the cutest and the most romantic couple ever!"  Untungnya film ini gak sekedar menunjukkan adegan cute (menjijikkan) tapi juga ikut mengelola hubungan Gwen dan Peter.  Setidaknya tim penulis TASM2 menggali permasalahan dalam hubungan Gwen & Peter, dan memperlakukan mereka sebagai dua subjek yang punya keinginan, perasaan, dan pemikiran.  Tapi ending-nya?  GUE YAKIN BANGET NICHOLAS SPARKS IKUT TERLIBAT DALAM FILM INI. 


Gue kira Marc Webb akan belajar sesuatu setelah memasukkan cicak gak jelas ke film The Amazing Spiderman.  Tapi apa yang kita dapat?  DUBSTEP DJANGO (gue pake kata-kata ini dari blog ini).  Mungkin Marc Webb demen banget sama Yang Mulia Quentin Tarantino sampe bikin versi Dubstep-nya Django.  Kayaknya Django emang bosen dan kebetulan juga dia pengen dapet make over.  At least Dubstep Django is better than cicak-man from the previous film. 

Tim penulis dan Webb sepertinya berusaha membuat Dubstep Django more than an antagonist.  Tapi mereka seakan-akan bingung apakah mereka akan membuat antagonist yang angsty atau comical.  I must say I enjoy the comical side of Dubstep Django, tapi gue kurang puas dengan karakterisasi Electro yang cukup dangkal.  Tokoh Electro membuat gue lebih frustasi daripada Harvey Dent karena Electro memang 'segitu aja', he's not more than an ordinary antagonist.  He's a funny and pityable antagonist, but that's it.    

For Farhat Abbas's sake, WHAT HAVE THEY DONE TO HARRY OSBORN.  Anjirrr, ini kenapa Harry Osborn jadi jelmaan diva (?) gak jelas dengan gaya rambut yang tingkat kealayannya sama kayak Andhika Kangen Band?!!  OMG, speechless gue...  Putting Harry Osborn in this film is a bad decision.  Chemistry antara Garfield dan DeHaan sama sekali gak menyaingi chemistry antara Maguire dan James Franco.  Franco's Harry Osborn was charming and charismatic while DeHaan's Harry Osborn is a fail diva.  Kedatangan Harry Osborn hanya memperumit plot dan karakternya tidak tergali dengan cukup dalam.  Osborn di film ini sama sekali tidak membuat gue merasa simpatik atau membuat gue ingin fangirling dengan karismanya.  Nope, Osborn di film ini lebih cocok untuk casting ke America's Next Top Model.  Kelakuannya annoying.  Ikatan dan persahabatan Harry dengan Peter kurang terasa di film ini dan sepertinya kurang logis jika teman masa kecil yang delapan tahun gak ketemu tiba-tiba bisa ngobrol secara 'dalem'.  

The plot in TASM2 is full of complicated stuffs.  Entah itu Spiderman yang menghadapi dubstep django, arwah bokapnya Gwen (yang mungkin) belum menunaikan rukun Islam dan kepo sama si dubstep, kisah cinta Gwen & Peter yang terkontaminasi Sparks, sampe menghadapi anaknya si cicak-man yang pengen nyaingin poni Andhika Kangen Band.  The point is, plotnya terlalu ambisius dan lebar.

Gue enjoy dengan special effect TASM2 dan untungnya gak terlalu menyakitkan mata seperti film Transformers.  Tapi gue merasa adegan berantemnya kurang greget.  Soundtrack dan score film TASM2 lebih bersifat pop dan emang cocok banget buat ababil.  Gue rada gak nyangka bahwa musik film ini diurus sama Hans Zimmer.

Overall, The Amazing Spider-Man 2 has incredible visual effect, very good performances from Garfield & Stone, and it is an entertaining & enjoyable film. But just don't expect more than that. 6,5/10    

pic cr:
unleashthefanboy.com
adittyaregas.com
fansided.com

  

Jumat, 09 Mei 2014

Badai Pasti Berlalu (1977)

Seorang diabet tidak boleh kawin dengan seorang diabet.

Akhirnya gue nemu nih film, aaaaaaaaaaa!  Sumpah, sejak setahun yang lalu, gue kepo berat sama ceritanya Badai Pasti Berlalu.  Pertama kali gue tahu film Badai Pasti Berlalu itu waktu gue SD, karena ada remake-nya.  Gue juga tahu lagu Badai Pasti Berlalu, tapi yang versi Chrisye sama Ari Lasso doang.  Pas gue SMA, gue nemu novel Badai Pasti Berlalu di perpustakaan sekolah!!!  So, sebenarnya gimana sih ceritanya Badai Pasti Berlalu?

Hati Siska (Christine Hakim) menjadi beku sejak tunangannya meninggalkan Siska demi sahabatnya sendiri.  Karena Siska berdiam diri saja di vila dan tidak pulang ke rumah, John, kakaknya, meminta tolong pada Leo (Roy Marten) untuk melunakkan hati Siska.  Tanpa diketahui John, Leo mengadakan taruhan dengan teman-temannya agar ia bisa membuat Siska jatuh hati kepadanya.  Leo menggunakan 'reverse psychology' pada Siska.  Tidak seperti teman-teman John yang bermanis-manis pada Siska, Leo cenderung kasar dan dingin pada Siska.  Namun, hal itu justru berhasil karena Siska menyatakan cintanya pada Leo.

Siska yang menderita diabetes, mendengar dari teman-teman Leo bahwa Leo menderita diabetes juga.  Siska jadi teringat perkataan dokter bahwa seorang diabet tidak boleh menikah dengan seorang diabet.  Karena itu Siska membatalkan pertunangannya dengan Leo dengan cara berpura-pura marah soal taruhan yang diadakan Leo.

Leo dan Siska pun melanjutkan kehidupan masing-masing.  Pada saat malam natal, ayah Siska mengundang keluarganya untuk pergi night club yang dimilikinya.  Disana Siska bertemu dengan Helmi (Slamet Rahardjo), seorang pianis dan penyanyi yang menawan.  Siska segera minta diajari bermain piano oleh Helmi.  Namun dibalik keramahan dan sikap Helmi yang menawan terdapat sebuah rencana busuk yang membuat Siska menderita.  


Beberapa orang menyebut Badai Pasti Berlalu sebagai salah satu film terbaik Indonesia.  Dengan hype (?) yang cukup tinggi, tentu saja gue mempunyai ekspetasi tinggi terhadap film Badai Pasti Berlalu.  Anyway, gue udah baca novelnya dan...gue sangat kecewa dengan novelnya.  Kapan-kapan gue review novelnya.  Nah, kekecewaan gue terhadap novel yang ditulis oleh Marga T menyebabkan ekspetasi gue terhadap film ini berkurang.

Kualitas gambar film ini cukup jelek, bahkan lebih parah daripada Gone With The Wind yang notabene film tahun 30an.  Gambarnya...cukup butek. Hmm, mungkin gue harus download ulang dengan kualitas yang lebih tinggi.  Sinematografinya biasa aja, namun bukan berarti film ini tidak mempunyai adegan yang bagus.  Gue suka adegan natal dimana patung-patung yang berkaitan dengan agama Katolik di-shoot sambil diiringi lagu Hai Mari Berhimpun (versi Bahasa Inggris).  

Gue kurang suka editing film ini.  Peralihan dari satu adegan ke adegan lain terasa terlalu cepat untuk gue.  Gue jamin sebagian besar yang nonton film ini tanpa baca novelnya bakalan kebingungan dengan alur filmnya.  Selama 30 menit pertama, film bergerak cepat tanpa memberikan penonton cukup informasi.  Hal ini juga menyebabkan relasi antar karakter lemah.  Hampir tiap karakter tidak melalui suatu proses yang berarti.  

Siska digambarkan sebagai seorang gadis yang dingin.  Tapi gue tidak merasakan suatu 'kedinginan' yang berarti dari film ini.  Memang ada kekakuan, tapi kedinginan?  Apalagi karakter Siska terasa sedikit statis di film ini.  Setidaknya di novel ada perubahan pada Siska.  Di novel, Siska yang tadinya hanya pitying herself akhirnya memikirkan keharmonisan keluarganya.  Tapi pada film ini, perubahan itu kurang terlihat.  Gue kecewa karena pergulatan Siska datang dari luar, bukan dari dirinya sendiri.  Cobaan-cobaan yang datang terasa sangat dramatis dan seperti sinetron.  Pergulatan yang datang dari luar membuat karakter Siska tidak solid atau lemah.  Pergulatan dari dalam justru bisa memantapkan tokoh Siska.  Walaupun gue tidak menyukai 'Siska', gue kagum banget dengan akting Christine Hakim.  Saking kagumnya, adegan dimana Christine Hakim ngamuk di depan Slamet Rahardjo gue masukkin ke tugas puisi gue, haha.   


Gue bingung bagaimana Leo tiba-tiba jatuh cinta dengan Siska.  Yang tadinya cuma taruhan, malah menjadi cinta beneran.  Padahal sebagian besar adegan Siska dan Leo dihabiskan dengan Siska yang cemberut setiap kali melihat Leo.  Memang ada beberapa alasan tak terlihat bagaimana mereka bisa saling 'jatuh cinta', tapi bagi gue itu tidak cukup.  Apalagi Siska dan Leo tidak mempunyai percakapan panjang yang berarti dan membentuk chemistry mereka.  How they fall in love is just like a typical-cheap romance story.  Roy Marten emang cocok jadi berandal yang karismatik.  Dia berhasil menunjukkan sifat-sifat menawan Cassanova.  Anyway, chemistry antara Roy Marten dan Christine Hakim udah lumayan bagus.  Kalau skrip film ini diperbaiki, gue yakin chemistry di antara mereka akan lebih bagus. 

Slamet Rahardjo aktingnya bagus di film ini.  Ia berubah dari seorang pria ramah dan menawan menjadi seorang pria yang manipulatif dan oportunis.  Sayang badannya terlalu kurus, jadi gue masih milih om Roy Marten, haha (?)    

Salah satu hal yang membuat gue kepo dengan film ini adalah album soundtrack yang keren banget!  Sumpah, hampir semuanya bagus.  Mulai dari Pelangi yang puitis, Badai Pasti Berlalu  versi Berlian Hutauruk yang epik, sampe Merpati Putih yang sendu, dan masih banyak lagu keren lainnya!  Eros Djarot emang sabi banget dah.  Gak ada lagu yang jelek amat menurut gue.  Fyi, lagu Cintaku sebenarnya salah satu soundtrack Badai Pasti Berlalu dan versi aslinya memang dinyanyikan oleh Chrisye.  Keseluruhan, album soundtrack-nya lebih bagus daripada filmnya, haha.

I can't help but disappointed by this film.  Although there are solid acting performances, awesome soundtrack album, and some artistic scenes, Badai Pasti Berlalu is an overrated film.  6,5/10

pic cr:
en.wikipedia.org
tobytall.wordpress.com
rumahnegeriku.com

Rabu, 24 Juli 2013

RED 2


Howdy readers!  Maap ya gue udah lama banget gak update, sibuk nyiapin MOPD dan minggu pertama masuk SMA nih T_T  Gue aja udah lama banget gak nonton film, baik yang di bioskop maupun yang ada di laptop gue.  Untung aja bokap sama nyokap gue demen sama RED 2, makanya mereka ngajakin gue nonton film ini.

Frank (Bruce Willis) dan Sarah (Mary Louise-Parker) diam-diam merasa sedikit jenuh dengan hidup mereka yang super aman.  Untunglah Marvin (John Malkovich) mengerti perasaan temannya dan menawarkan mereka untuk mengerjakan misi berbahaya.  Frank yang tadinya sama sekali tidak ingin terlibat, akhirnya mengikuti Marvin, apalagi setelah melihat keantusiasan Sarah.  Well, jelas grup itu tidak akan lengkap tanpa Victoria (Helen Mirren) yang anehnya malah menerima pekerjaan dari MI6 untuk membunuh mereka.


Hopkins steals the show! -San Fransisco Chronicle
Yup, I can't agree more!  Gue sendiri agak kaget waktu nama Anthony Hopkins muncul di opening credit karena gue nonton film ini tanpa cek pemain, plot, ataupun resensinya.  Gue cuma tahu bakalan ada Lee Byung-hun sebagai antagonis di film ini.   Dan ternyata ada si cantik Catherine Zeta-Jones yang sebelumnya mendapatkan Oscar di film Chicago.  Yang badass ada, yang 'berkelas' ada, masa depan film ini kayaknya ceraaaaaaah.

Sigh, ternyata aktor-aktor hebat sekalipun tidak bisa menutup plot super payah dari Jon dan Erich Hoeber.  Ada beberapa momen yang menurut gue garing dan awkward.  Apalagi formula yang terlalu sama dengan film sebelumnya dan dialog yang gak kelihatan sama sekali improvement-nya.  *SPOILER* Yah, walaupun di film  sebelumnya twist-nya tidak kuat, setidaknya masih terlihat usaha Jon dan Erich untuk memberikan shock kepada penonton.  I really can't call it a twist unless it's in the ending.


Belum lagi usaha untuk membangkitkan karakter Hannibal Lecter yang menurut gue pribadi gagal.  Gue kira karena ini film bergenre komedi, gue bakal bisa lihat sesuatu yang baru dari Anthony Hopkins, seperti yang gue lihat pada Robert de Niro di film Silver Lining Playbook dan Analyze This.  But...walaupun gue cukup kecewa dengan karakter Dr. Bailey, Hopkins really stole my attention in this movie.  Alias, gue sama sekali gak kecewa dengan aktingnya Sir Anthony Hopkins.  Selain Hopkins, Mirren, dan Malkovich, gak ada lagi aktor yang benar-benar stood out di film ini.  Termasuk Lee Byung-hun yang sebelumnya bisa cukup menonojol di film Joint Security Area dan I Saw the Devil.  Di awal film, gue tertarik banget buat ngikutin hubungan Sarah dan Frank yang boleh dibilang eksentrik dan berbeda dari pasangan lainnya.  Tapi dengan kehadiran Zeta-Jones yang membuat gue berteriak klise dalam hati, dan kurangnya chemistry antara Willis dan Louise-Parker, membuat pasangan eksentrik ini terasa mediocre.  

Although with flaws, RED 2 still comes with some laugh-out-loud moments and fun action.  Oh, and Hellen Mirren is sexy as hell! (?)  They should've given her more curses!  5/10

pic cr :
defilmblog.be
hdwallpapers.in
ropeofsilicon.com

Rabu, 03 Juli 2013

Despicable Me 2

Lipstick taser! -Lucy


I love minions!  Gosh, they are too cute to be true!  Despicable Me (2010) telah memperoleh respon positif baik dari kritikus maupun penonton.  Kesuksesan film pertama tentu saja membuat Despicable Me 2 sebagai salah satu film liburan yang ditunggu-tunggu. Untungnya, Pierre Coffin dan Chris Renaud menampilkan lebih banyak minions di Despicable Me 2.

Ternyata, mengadopsi tiga anak perempuan bisa membuat penjahat super seperti Gru (Steve Carell) berubah dan menjadi orang yang lebih baik.  Tiga anak perempuan itu adalah Margo (Miranda Cosgrove), Edith (Dana Gaier), dan Agnes (Elsie Fisher).  Gru dan Dr. Nefario (Russell Brand) memproduksi selai dan jeli yang rasanya sangat 'dahsyat'.

Suatu hari, Gru diculik oleh seorang agen rahasia bernama Lucy Wilde (Kristen Wiig).  Ternyata Silas RamsBOTTOM (Steve Coogan) berusaha merekut Gru untuk membantu Anti Villain League (Liga Anti Penjahat).  Setelah pertimbangan, Gru memutusskan untuk membantu LAP mencari penjahat yang telah mencuri serum berbahaya yang membuat binatang menjadi liar.  

WARNING : CONTAIN SPOILER 




Romance, action, comedy, and family all in one movie.  

Menurut gue sih Agnes dkk agak di-push ke belakang dan sekedar background.  Sayang banget, soalnya Agnes imut banget!  Tapi di awal film Agnes sudah diberi porsi keimutan yang cukup.  Tidak ketinggalan dengan ayahnya, Margo juga mempunyai cerita romance sendiri yang memberi porsi cukup bagi Margo untuk keluar dari background.  Sayang Edith tidak bisa mengikuti kedua saudarinya.  Padahal Edith itu karakter favorit ketiga gue!  She's so awesome and cool!  Beruntung sekali pengisi suara Gru adalah Steve Carell, yang mampu memberi keunikan pada logat Gru.  Tadinya gue suka karakter Lucy yang eksentrik dan memberikan feel beda dari heroine di film-film spy.  Tapi kecewa juga karena akhirnya dia bernasib sama dengan heroine di film spy : diselamatkan sama cowoknya.  


Minions tidak hanya sekedar penghibur, tapi juga bagian dari plot cerita.  Cinco Paul dan Ken Daurio pun memasukkan mereka sebagai bagian yang unik, tidak seperti di film sebelumnya dimana mereka hanyalah suruhan Dr. Nefario dan Gru. 

Jujur, menurut gue sih ada beberapa adegan yang garing, dan terlalu bermain di slapstick.  But at the end of the day, the comedy really covered the plot's weakness.  Belum lagi adegan terakhir yang memparodikan sebuah lagu terkenal!  Bagian itu yang menurut gue kocak banget! 

Advice : Watch the 3D version and wait until the credits!  6/10    


pic cr :
brainfreeze.de
andpop.com
reviewtrailers.com
kootation.com

Senin, 01 Juli 2013

A Wonderful Moment (My Little Hero)


Yoo Il Han (Kim Rae Won) adalah seorang sutradara drama musikal yang ingin sekali pergi ke Broadway.  Sebenarnya kepergiannya ke Broadway dibatalkan, namun karena kesombongannya ia berlagak sibuk dan jual mahal.  

Il Han mengikuti kontes drama musikal "King Joseon" di TV bersama empat sutradara lainnya.  Mereka harus memilih lima anak untuk menjadi aktor mereka tanpa melihat wajahnya.  Il Han dan sutradara Min ternyata memilih anak Korea-Filpina bernama Yeong Gwang (Ji Dae Han).


Alasan gue nonton film ini tentu saja buat lihat om Giraffe, eh Kwangsoo!  

Selain Lee Kwang Soo, gue gak punya ekspektasi apa-apa sama film ini.  Gue gak cek review-nya ataupun alurnya.  Jadi agak gak nyangka juga ternyata film ini membahas masalah orang campuran disini.

Pengetahuan gue tentang kebudayaan Korea sebenarnya pas-pasan sih.  Gue pernah baca blog kalau ternyata orang Korea juga agak diskriminatif.  Nope, bukan masalah agama, tapi masalah kulit.  Orang Asia Tenggara yang notabene berkulit lebih gelap daripada mereka, sering diacuhkan.  Bahkan, orang Korea sendiri yang punya kulit lebih gelap juga sering diacuhkan.  Tapi sejauh ini gue belum dengar ada artis Korea yang ganti kulit kayak Michael Jackson.

Di paruh pertama film, gue kurang bisa merasakan chemistry antara Kim Rae Won dan Ji Dae Han.  Cukup terasa ada sesuatu yang off dari mereka.  Apalagi saat-saat terakhir yang sepertinya 'menggantungkan' nasib hubungan karakter mereka berdua.  Gue sih lebih suka Cha Tae Hyun dan Wang Seok Hyun di Speedy Scandal.  Tapi sebagai individual, mereka cukup bagus.  Kim Rae Won berhasil menjadi sosok sutradara yang annoying, tapi di bagian selanjutnya Kim berhasil menjelma sebagai 'manusia baru'.  Orang yang lebih peka dan baik.  Gue gak ada masalah dengan aktornya, tapi justru gue punya masalah dengan karakternya.  Film ini kurang menggali motif-motif Il Han.  Il Han digambarkan sebagai orang yang sombong, tapi ada indikasi dia bukan orang kayak ataupun dramanya sukses.  Bahkan dia sempat bekerja sebagai janitor.  Film ini tidak menunjukkan mengapa Il Han bisa berubah menjadi orang sombong.  Begitu juga ketika dia berubah menjadi orang yang baik.  Ada beberapa saat dia terlihat tersentuh dengan kerja keras Yeong Gwang, tapi kelakuannya tetap annoying.  Jadi perubahannya terasa agak mendadak.


To be honest, Ji Dae Han isn't my favorite little actor.  Masih terasa agak kaku.  Emang sih dia bisa nyanyi, but he couldn't speak with his eyes.  I just couldn't connect with his eyes.  He's not bad, but he's not that good either.  Aktor lainnya seperti Lee Min Sung, Kwang Soo, dan Jo An juga bagus.  Gue suka banget penampilan Hwang Yong Yeon.  Dia berperan sebagai Seong Jun, temannya Yeong Gwang.  Lucu banget!  Walaupun adegan nangisnya masih harus dilatih.  90% humor di paruh pertama film ini diberikan oleh penampilan Hwang.  Setelah ia menghilang, humornya juga ikut menghilang. -__-"

Bagus juga film ini mengangkat masalah ras di Korea dengan cara yang tidak preachy.  Film ini memang tidak preachy, sayangnya paruh kedua film ini terasa terlalu dramatik for my liking.  This film is so emotional, but it's not deep.  Adegan-adegan menyentuh itu hanya terasa sebagai pancingan air mata penonton.  Walaupun cukup banyak yang nangis, gue tetap merasa paruh kedua agak berlebihan.  Pancingan tangisan dari film yang paling bagus tetap Hello Ghost.  Dan beberapa adegan menyanyi juga terasa membosankan dan kepanjangan, walaupun ada beberapa yang menarik dan sangat bagus.

A Wonderful moment is good, but not that wonderful. 6/10

pic cr :
asianwiki.com
s1askactor.com