Jumat, 21 Oktober 2016

Almost Famous

One day, you'll be cool. -Anita

Almost Famous merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2000 yang disutradarai dan ditulis oleh Cameron Crowe.  Film berdurasi 122 menit ini sebenarnya semi-autobiografi karena menceritakan pengalaman Crowe ketika bekerja di majalah Rolling Stone.  Film yang penuh dengan lagu-lagu rock ini gagal menjadi box office, bahkan budget film ini lebih banyak daripada pemasukannya alias rugi.  Meskipun rugi, film ini mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap beberapa orang sebagai salah satu film coming-of-age terbaik.

Anita (Zooey Deschanel) sangat kesal dengan ibunya (Frances  McDormand) yang konservatif sehingga ia meninggalkan rumah.  Sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan koleksi piringan hitamnya *yang sebagian besar album rock* jatuh ke adiknya, William (Patrick Fugit).  Sejak saat itu, William menjadi penggemar rock.

Kecintaannya pada musik rock mendorong William untuk menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan musik rock.  Suatu hari, William bertemu dengan Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), seorang kritikus musik yang terkenal.  Lester akan menyuruh William untuk me-review konser Black Sabbath dan berjanji akan memberikan uang untuk karya tulisnya.  William tidak bisa masuk ke konser Black Sabbath karena ia bukan jurnalis terkenal.  Ia bertemu dengan seorang groupie (Kate Hudson), yang memanggil dirinya sebagai Penny Lane dan band yang bernama Stillwater.  Gitaris band itu, Russell (Billy Crudup) tertarik dengan William dan mengajaknya masuk ke konser.  Editor majalah Rolling Stone tertarik dengan tulisan William.  Sang editor menyuruh William untuk mengikuti tur konser Stillwater dan menulis tentang mereka.  Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ibunya, akhirnya William diizinkan untuk mengikuti tur konser Stillwater.



Anjir, kemana aja gue selama ini......

From little boy to young man

Di awal film, si William ini sepolos bocah SD yang belum terkontaminasi video bokep.  Baek, gak punya niat untuk manfaatin orang lain, dll. Sialnya, kepolosan dan kebaikan William malah diperalat oleh Russell dengan cara menunda-nunda terus wawancaranya dengan William. Akibatnya, studi William terganggu, emaknya marah-marah terus, dan editor Rolling Stone nagih artikelnya melulu. Di sisi lain, waktu bersenang-senang William dengan rombongan Russell semakin banyak. Di saat itulah William semakin terekspos dengan dunia bintang rock yang penuh alkohol, narkoba, dan cewek cakep. Tapi hal-hal ini juga ikut membentuk pandangan hidup dan kepribadian William.

Experience vs Story, Showing vs Telling

Instead of telling its audience a story, this film brings the character's experience to the audience. Menurut gue pribadi, pengalaman dan cerita itu beda. Gue kurang bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi bagi gue film yang mengandung cerita itu kayak film-filmnya Nolan, Quentin Tarantino, dan Martin Scorsese. Film yang berisi pengalaman selain film ini adalah In The Mood for Love, 3 hari untuk selamanya, dan Before Sunrise. Film yang merupakan gabungan dari keduanya adalah Chungking Express dan The Breakfast Club. You kinda have the concept what's in my mind right? 

But anyway, beberapa fakta kecil seperti bahwa film ini tidak menggunakan narator atau bahkan breaking the fourth wall ala Ferris Bueller sangat beperan penting dalam memainkan emosi penonton. Menggunakan narator ketiga (masih ada gak sih film model begini?) akan menjauhkan penonton, membuatnya seakan-akan film ini adalah fairytale...which is not. Breaking the fourth wall justru akan mensadarkan penonton bahwa kita menonton film itu dan tidak mengalaminya. Film itu merupakan hasil pertimbangan  dan rekonstruksi si karakter yang memecahkan tembok keempat.

Gak cuma itu, tapi gue merasa film ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling. Teknik ini cukup sulit dilakukan, bahkan Nolan yang hebat sering sekali melakukan kesalahan dengan sering melakukan telling. Kenapa menurut gue film ini lebih banyak menggunakan showing? How long have Penny and Russell known each other? Where is William's father? Who cares, they do not matter. Kalau gue pikir-pikir mungkin agak salah gue bawa-bawa nama Nolan karena genrenya beda, haha.

The music and songs are fucking wonderful

Terima kasih kepada film ini, gue terekspos sama lagu-lagunya Led Zeppelin dan Elton John. Lagu favorit gue dari film ini: The Rain Song - Led Zeppelin, Mona Lisa and Mad Hatters - Elton John dan America - Simon and Garfunkel. 


SPOILER ALERT


Why is it different with other cheesy films?

This film is cheesy, but a very good cheesy. I also think that this is a feel-good film although it has its own blue moments. Gue gak merekomendasikan film ini ke orang yang suka film "berat" atau "filosofis" although who knows, perhaps you will discover something else through this film. Anyway, hal-hal yang membuat Almost Famous sebagai a good cheesy film adalah film ini jarang melebih-lebihkan fakta kehidupan. Sure, Will's mom is quirky, does that mean she's a hippie? Well the joke's on you 'cause she's a professor in a university. William and Russell becomes closer after the tour, does that mean Russell approves Williams' article? You saved someone's life? That doesn't guarantee that someone will come to your house after that. You make friends? Just because you meet wonderful people who make your days wonderful doesn't mean your friendship will last forever. 

And that is life. 

Conclusion

Kekurangan film ini adalah meskipun kental dengan classic rock yang identik dengan pemberontakan dan perlawanan serta era 70an yang diwarnai pergolakan social justice (walaupun mungkin tidak seheboh tahun 60an), film ini tidak menyinggung gerakan feminisme, rasisme, dan perlawanan terhadap homophobia dan transphobia. But if all you wanna do is watching something light, sweet, a bit sourness, and listening to classic rock, then just play this film. 8,7/10 (very good)


1 komentar: