Tampilkan postingan dengan label Indonesian Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2022

[A Review-ish] Pengabdi Setan 2: Communion [SPOILER ALERT]

Akhirnya sekuel dari Pengabdi Setan ditayangkan pada Agustus tahun ini. Jarak antara sekuel dan film pertama cukup lama, yaitu sekitar lima tahun. Film yang digarap oleh Joko Anwar dan dibintangi oleh Tara Basro ini merupakan salah satu film Indonesia yang ditunggu-tunggu. Buktinya film tersebut sudah mencapai satu juta penonton kurang dari seminggu. Film ini mengikuti kehidupan keluarga Rini yang terdiri dari Rini sendiri, bapak, Bondi, dan Toni. Sekarang mereka tinggal di sebuah rusun (rumah susun) yang cukup terpencil. Hidup di rumah susun tentu saja membuat mereka memiliki beberapa tetangga seperti Tari (Ratu Felisha), seorang PSK yang sering digoda oleh Dino (Jourdy Pranata). Bondi memiliki beberapa teman baru, salah satunya adalah Wisnu, yang dianiyaya oleh bapaknya sendiri. Suatu malam, para penduduk rumah susun khawatir karena adanya peringatan mengenai badai. Namun kekhawatiran mereka berubah menjadi ketakutan ketika suatu kecelakaan mematikan terjadi di rumah susun tersebut.

Pengabdi Setan 2 kembali dengan beberapa aspek yang lebih tentu saja. Sinematografinya jauh lebih bagus dan cantik daripada film sebelumnya. Penggunaan cahaya juga sangat efektif, tidak hanya bagian horornya tapi juga bagian cantiknya. Production value juga kelihatan lebih bagus dan mahal. Gila sih Joko Anwar dan timnya bisa sampai pake gedung rusun yang terbengkalai.

Nah, sayangnya meskipun set-nya udah lebih gede dan lain-lain, gue malah merasa terornya gak semencekam film pertama. Nah mungkin ini karena setting film pertama kan di rumah tua. Kalau lo masih punya kerabat yang rumahnya di desa, gayanya jadul, punya sumur, pasti ada point relateable. Gak cuma itu, tapi karena itu di rumah, kayak lebih terasa claustrophobic karena space untuk lari lebih kecil. Secara psikologis, lo akan lebih merasa tertekan karena lo diserang di tempat yang seharusnya tempat teraman dan ternyaman buat lo.

Tapi ini tidak seharusnya menjadi alasan. Space yang luang seperti rumah susun memiliki teror sendiri. Bisa jadi "teror elektronik" kayak film horor Jepang tahun 90-an seperti The Ring atau Ju-On. Tipe horor "aneh" macam drakor Stranger from Hell yang tetangganya aneh-aneh juga bisa. Atau rumah susun bisa digunakan agar para karakter merasa lelah, terutama secara fisik, karena justru rumah susun jadi terasa terlalu luas. Artinya ya mereka harus lebih banyak lari dong waktu ketemu setan. Rumah susun juga terasa sulit dibedakan karena bentuknya ya begitu-begitu saja, sehingga mungkin bisa menimbulkan keparnoan karena "merasa" sudah ke rumah yang itu. Sayangnya, selama di film tidak ada rasa-rasa tersebut. Mungkin Joko Anwar merasa ide-ide gue yang itu terlalu klise, tapi I'll take cliche over underwhelming horror anytime.

Intinya, setting rumah susun di film Pengabdi Setan 2 gak bikin gue paranoid kayak sumur atau ke toilet malem-malem (dari film pertama). Sebenarnya bukan berarti gagal bikin takut sih. Ada beberapa yang lumayan bikin gue dagdigdug kek waktu si Wisnu buang sampah atau si tetangga-tetangganya Rini pada melihat ke arah dia. Tapi entah build-upnya terlalu pendek (untuk gue) sehingga tidak ada lingering fear setelah pulang, I don't know. Gue takut sih nonton PS2, tapi takutnya ya udah, gak bikin parno.

Sekarang kita lanjut ke masalah teori-teori di film ini. Dari perspektif ekonomi, memang Joko Anwar sukses creating hype and buzz for the film, yang gue yakin bikin investor seneng. Di sisi lain, misteri di film ini tuh terlalu loose dan out of nowhere for me. Tidak banyak fondasi yang menjadi anchor bagi penonton. Padahal gue suka misteri di mana clue-nya yang memang bisa digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan di film.

Contoh misteri yang baik unexpectedly menurut gue malah ditulis oleh J.K. Rowling. Contohnya, Rowling suka menggunakan trope di mana ada "tersangka" yang digunakan untuk men-distract pembaca/penonton dari tersangka sebetulnya, kayak Snape di buku pertama tapi penjahatnya sebenarnya malah Quirell. Quirell merupakan penjahat pun bukan twist yang out of nowhere and for the sake of twist, karena Rowling sudah menebar petunjuk kecil seperti kepala Quirell yang ditutup terus, dan Snape yang mencoba untuk melawan Quirell.

Jujur gue sudah menebak si Bapak adalah seorang petrus (penembak misterius) karena kata petrus terlalu sering disebut di awal film, apalagi pekerjaan si Bapak tidak pernah dijelaskan. Tapi alangkah lebih baiknya jika ada petunjuk subtle yang lebih. Sebenarnya misteri atau hint yang going to nowhere is not something yang inherently wrong, tapi wajar jika ada beberapa penonton yang merasa tidak puas.

On the other hand, ada beberapa hint kecil yang gak (atau belum?) ke mana-mana. Contohnya, kenapa pocong-pocongnya di awal kok specifically munculnya di Boscha? Boscha-nya tidak disebut lagi di bagian selanjutnya. Kalau gue punya teori nih. Kan occult yang di film ini berasa kayak ala-ala horor film barat dibandingkan Asia. Kek pemujaan setan/paranormal atau apalah. I can't explain it clearly tapi vibenya tuh beda aja sama film sebelumnya. Mungkin kultus/kelompok pengabdi setan si ibu ini, aslinya muncul dari luar Indonesia, dari negara-negara yang ikut KAA di Bandung, makanya kemunculunnya baru ada sekitar mendekati KAA. Nah, Barata (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) lebih ke arah agen yang menyebarkan ajaran, tapi mungkin bukan anggota aktif, hence their dialogue in the end of the movie!

Overall, Pengabdi Setan 2 improves the cinematography and production value. Sadly, the terror has less grip as the set wasn't used effectively. My personal hope: Joko Anwar will give us more of Fachri Albar and Asmara Abigail so their face talent won't be wasted <3

Minggu, 17 November 2019

Ratu Ilmu Hitam (Black Magic Queen) 2019



Joko Anwar kembali sebagai penulis dalam film Ratu Ilmu Hitam. Film ini merupakan remake dari film Suzanna yang berjudul sama, yang dirilis tahun 1981. Meskipun mempunyai judul yang sama, film ini merupakan film yang berbeda dengan film Suzanna.

Film ini diawali dengan perjalanan sebuah keluarga menuju panti asuhan sang ayah, Hanif (Ario Bayu). Ia pergi bersama seluruh keluarganya, yang terdiri dari sang istri, Nadia (Hannah Al-Rashid), ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara), dan Haqi (Muzzaki Ramdhan). Mereka mengunjungi panti asuhan tersebut, karena pemilik panti asuha, Pak Bandi (Yayu Unru), sakit keras. Di sana, sang ayah bertemu kembali dengan kedua temannya, yaitu Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), yang datang bersama istri mereka masing-masing. 

Hanif yang penasaran, dengan cepat menemukan misteri dan rumor yang mengerikan mengenai Ibu Mirah (Ruth Mirana), seorang mantan pengurus panti asuhan yang konon meninggal di panti tersebut. Meningalnya Ibu Mirah berkaitan erat dengan hilangnya Murni, salah satu anak panti asuhan yang dikenal oleh Hanif dan teman-temannya. Satu per satu, teror mendatangi semua orang di panti tersebut.



Ada salah satu dialog yang menarik dari film ini yang versi tahun 1981. Konteksnya, kepala desa memprotes perlakuan terhadap ibunya tokoh Suzanna yang diperlakukan semena-mena hanya karena anaknya dituduh tukang santet. Si kepala desa mengatakan, sebagai negara hukum, harusnya diselesaikan secara hukum. Namun si pembuat onar mengatakan bahwa santet sudah di luar ranah hukum. 

Baik versi tahun 1981 dan versi tahun 2019 mempunyai beberapa benang merah. Salah satunya adalah absence of justice bagi korban kekerasan. Salah satu faktor yang membuat ketiadaan keadilan dalam film ini adalah jauhnya panti asuhan tersebut. Mendapatkan sinyal susah dan mencapai jalan tol juga susah. 
Pada akhirnya, hukum menjadi sia-sia karena ia tidak bisa dijangkau oleh si korban baik secara fisik maupun psikologis. 

Tapi, kadang yang membuat hukum menjadi seakan-akan tidak ada atau tidak hidup dalam masyarakat, bukan karena ia "jauh", tapi masyarakat itulah yang tidak bisa menerimanya. Makanya dalam hal ini gue lebih suka penggambaran masyarakat di film yang asli. Kalau kita melihat dari skandal Harvey Weinstein, ia bisa lari dari hukum karena ia tidak sendiri dan the system secara nyata menormalisasikan tindakannya. Agak disayangkan film ini kurang memperhatikan dari sisi the big picture, karena seakan-akan yang terjadi adalah there's this one bad guy. Di sisi lain, film ini juga membuat gue bertanya-tanya: bagaimana posisi moral preteen atau manusia belum dewasa, yang sengaja atau tidak sengaja, membantu si pelaku kekerasan seksual?

Namun, satu hal dari dunia nyata yang direfleksikan film ini adalah fakta bahwa pelaku kekerasan seksual tak jarang merupakan orang yang dikenal korban. Hanya menasehati orang untuk waspada terhadap orang asing sama sekali tidaklah cukup. Tak jarang, orang itu mempunyai posisi di atas korban, seperti orang tua ke anak, atau guru ke murid. And in most cases, si korban jadi takut untuk cerita. Kadang yang terjadi kalau si korban cerita malah victim-blaming, atau si pelaku menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan karakter si korban. I think this part is a very parental or familial horror, especially because these things do happen. 

Yang dijelajah secara tidak langsung di film ini juga adalah dualitas manusia. Si pelaku merupakan orang yang baik dan dipercayai. Tapi ia juga seorang pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. Bahkan memfitnah orang yang melindungi anak-anak tersebut. Sering orang menganggap pelaku kejahatan tertentu adalah monster dan tidak mungkin manusia. Namun mereka tetap manusia, yang kadang punya sisi dermawan, punya orang yang mereka cintai, dan sebagainya. In my opinion, justru itulah yang lebih mengerikan, bahwa pelaku kekejian seperti itu adalah manusia yang mempunyai sifat manusia. Kadang kita unknowingly hidup bersama orang seperti itu, bahkan menganggap orang itu adalah orang baik.



Other Stuffs

Gue jarang melihat body horror di film Indonesia. Itupun jatuhnya ke gore, kayak Rumah Dara  (is it a body horror tho?). Tapi film ini berhasil mencampur-adukan body horror, gore, Indonesian mystical horror, and bits of other horror (bad stuffs happen to children). Sayangnya, ilmu hitam sendiri tidak digali dengan dalam di film ini. Jadi kurang nendang, padahal yang gue nanti-nanti justru itu. Gue pribadi lebih ke arah jijik kalau lihat gore, tapi gak bakal kebayang. Yang bikin gue terngiang-ngiang justru horor yang dedemitnya gitu (kek yang adegan TV). Karena tidak tergali dalam, ilmu hitam ini datangnya rada abrupt dan gak bikin impression yang memorable di film ini. 

On the other hand, build up misteri Ibu Mirah dan Murni udah bagus sih. Intriguing, reveal-nya pun juga memuaskan. Mungkin untuk menjaga mistri, sisi manusiawi Bu Mirah sedikit sekali yang diperlihatkan. 

Cast Ratu Ilmu Hitam cukup solid, but I give extra credits for Hannah dan Muzzaki. Apalagi Muzzaki dengan jatah dialog yang cukup menghibur dan 'pemandu' penonton dalam beberapa misteri film ini. Sayang yang jadi final boss kurang menakutkan. Mungkin dipengaruhi juga dengan build up yang rada rushed.

Overall, Ratu Ilmu Hitam is a very solid Indonesian horror with good visual effects and cast, although rushed on the third act. It brings proper points on the reality of sexual harassment victims and how das sollen (law in the books) can not always bring justice. 8,5/10.


Minggu, 10 November 2019

Love for Sale 2


The most horror love story, kira-kira itulah tagline promosi Love for Sale 2. Pada tahun 2018, Andibachtiar Yusuf sukses menangkap perhatian pecinta film Indonesia lewat film Love for Sale, yang diperankan oleh Della Dartyan dan Gading Marten. Namun, poster film ini tidak menampilkan Gading Marten sama sekali. Bagaimana kelanjutan kisah Arini dan Love Inc?

Film dimuali dengan Ican (Adipati Dolken) yang menghadiri pernikahan adat Padang bersama keluarganya. Sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), cemas karena di antara ketiga anaknya, hanya Ican yang belum menikah. Kakak Ican, Ndoy (Aryo Wahab), sudah menikah meskipun istrinya kerap dikecilkan oleh sang ibu. Si bungsu, Buncun (Bastian Steel), menikah muda dan sudah mempunyai satu anak. Tertekan dan merasa bersalah, akhirnya Ican memutuskan untuk menyewa pacar dengan kriteria dari Padang, agamis, usia 25-30, pintar, dan bisa diajak berbicara dengan ibu-ibu. Love Inc mengirim Arini (Della Dartyan) yang langsung memikat seluruh keluarga Rosmaida.





SPOILER ALERT


Gue cukup suka dengan opening scene film ini, bahkan one-shot di opening cukup panjang. Suasana pernikahan dan dialognya benar-benar menangkap stereotipikal orang Indonesia yang kepoin pernikahan dan bertanya-tanya kapan saudara/anaknya menikah. Adegan tersebut juga menangkap bahwa masih ada beberapa orang yang meskipun sudah tinggal di kota dalam waktu yang cukup lama, mereka masih terikat dengan adat dan kepo-kepo sanak saudara yang kuno. Mungkin agak kelamaan aja sih, karena di menit ke berapa gue sempat mikir, "Ini kapan ceritanya bergerak?".

Meskipun judul ceritanya "Love for Sale 2", jangan berharap banyak dengan aspek romansa film ini. Film ini justru lebih fokus ke aspek keluarga dan konflik menyenangkan orang tua vs keinginan pribadi. Sayangnya, kata-kata yang dikeluarkan oleh tokoh sang ibu bagi gue udah level preachy. Apalagi kata-kata dia sering tidak mendapat perlawanan, atau digambarkan sebagai filmmaker, "Ya udah lah ya, udah ibu-ibu gini, orang tua toh juga udah lebih tahu biasanya." Terutama aspek pemaksaan dan emotional guilt tripping, bahkan manipulatif, kepada Ican. Film ini memang menyentil Rosmaida yang ingin anaknya menikah, tapi dia sangat picky dalam aspek menantu. Tapi ia tidak pernah disentil karena memaksa Ican untuk menikah, bahkan sampai berkata seperti ini, "Ibu gak tahu sampai kapan ibu hidup, dan ibu pengen lihat kamu menikah sebelum ibu mati." Mungkin tidak persis seperti itu, tapi bagi gue itu udah masuk ke emotional manipulation. Orang-orang di sekitar Ican pun seakan-akan mendukung pandangan ibu.

Gue gak tahu apakah penulisnya juga punya tujuan ini, tapi fakta Ican sampai bohong dan bayar wanita untuk menipu keluarganya, adalah bukti tidak langsung betapa toxic permintaan si ibu. Ican berpikir Arini hanya akan menenangkan ibunya sampai beberapa bulan. Ia tidak berpikir apa yang terjadi jika ibunya sampai mempunyai attachment dengan Arini, atau bahkan ketika kontrak tersebut berakhir. Ini juga merugikan Arini, karena Ican sendiri tidak mempertimbangkan bahwa Arini mempunyai rencana lain, atau seberapa kepribadian Arini yang merupakan kepribadian aslinya atau karena dibayar.

Rosmaida pun sayangnya tidak punya watak lain sebagai seorang ibu yang taat adat dan agamis. Sumpah, mungkin karena gue tipikal anak muda kota gak relijius dan gak suka adat, jadinya gak simpatik sama sekali sama karakternya dia. Apalagi ketika dia memarahi anak bungsunya, dia lebih menekankan betapa malunya dia ketimbang kepribadian anaknya.

Aspek keluarga yang ditekankan memang mungkin tema film Indonesia populer tahun 2019, seperti Keluarga Cemara, Dua Garis Biru, bahkan Perempuan Tanah Jahanam juga to some extent. Sayangnya, aspek keluarga film ini malah mengorbankan chemistry dan progres hubungan Arini dan Ican. Adipati Dolken memang aktingnya bagus di film ini, tapi tidak sampai bersinar seperti Gading Marten di film sebelumnya. Della Dartyan pun juga tidak secharming di film sebelumnya bagi gue.

Overall, Love for Sale 2 is a steady film that explores a stereotypical Indonesian family and how having a good marriage is still a source of pressure in Indonesia. Sadly, it compromises the chemistry and the story of its romantic leading pair. 6,5/10.



Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10


Minggu, 21 April 2019

Ave Maryam

diambil dari 21cineplex.com

Ave Maryam merupakan film Indonesia tahun 2019 yang disutradarai dan ditulis oleh Ertanto Robby Soediskam. Film ini telah diputar oleh berbagai film festival internasional, salah satunya adalah Hanoi International Film Festival. 

Berlatar belakang di Semarang tahun 1990-an, film ini bercerita tentang kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnadi) yang merawat suster-suster yang sudah tua. Kehidupannya yang teratur mulai mengalami perubahan ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang untuk mengajar orkestra natal. Di saat yang sama, Suster Maryam juga mendapat tugas untuk menjaga Suster Monic yang misterius. Iman dan tekad Suster Maryam diuji ketika Romo Yosef mulai menunjukkan ketertarikan kepada Suster Maryam.

MINI SPOILER ALERT!

diambil dari alinea.id
The visual porn in this movie can not be described with words! Shout out to Ical Tanjung yang jadi penata kamera. Sumpah, gue suka banget framing dan sudut pengambilannya. Cakep banget. Sinematografi film ini menyaingi Marlina menurut gue. 

Film ini mungkin bisa dikategorikan sebagai tipikal film artistik yang slow dan minim dialog. Gue biasanya gak nonton film ini, but the shots in the trailer are just alluring me! Ada satu adegan yang menurut gue terinspirasi dari In The Mood for Love, yaitu ketika Romo Yosef dan Suster Maryam menghentikan mobil ketika hujan. Adegan itu mengingatkan gue ketika Mr. Chow dan Mrs. Chan bertemu di tengah hujan. 

Salah satu aspek yang gue suka adalah bagaimana film ini bisa menggambarkan perubahan yang dibawa oleh Romo Yosef. Menit-menit pertama memperlihatkan keseharian Suster Maryam seperti memasak, merapikan tempat tidur, merawat suster-suster yang tua, berdoa, dll. Keseharian tersebut tenang, teratur, dan bisa diprediksi. Lalu ketika Romo Yosef datang, dia membawa musik yang penuh kehidupan dan gairah. 

Adegan itu, sekaligus adegan mereka berdua merayakan ulang tahun di pantai, sepertinya menjawab mimpi Suster Maryam sebelumnya tentang ombak yang bergelombang. Romo Yosef sebenarnya telah menjawab keinginan dan mimpi Suter Maryam. 

diambil dari tirto.id

Dari unsur dialognya, gue itu rada peevish karena aktornya sama sekali gak ngomong pakai logat Jawa. Sehingga kurang menangkap suasana Jawa Tengah. I think they didn't even try. Di satu sisi, mungkin memang tidak menambah apa-apa dari sisi cerita. Namun gue pribadi merasa kurang bisa hanyut dalam filmnya.

Minimnya dialog juga membuat motivasi para tokoh kurang tergali. Gue in a way bisa mengerti mengapa Suster Maryam bisa tertarik dengan Romo Yosef. Romo Yosef bagaimanapun juga merupakan orang yang baru, merupakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan rutinnya. Maudy Koesnadi juga bisa menunjukkan ketertarikan Suster Maryam terhadap Romo Yosef dengan cara yang subtle. Maudy Koesnadi tidak banyak berkata, namun ia sukses berakting dengan bahasa tubuhnya, terutama ekspresi matanya. 

Namun dari Romo Yosef sendiri, kok gue kurang bisa menerima ya dia suka dengan Suster Maryam, haha. Kurang jelas bagi gue permulaan rasa sukanya, atau alasannya. Apakah itu dimulai karena rasa tertarik yang tulus, atau sekedar bentuk rebellion? 

Selain motivasi tokoh, pergumulan iman mereka pun juga kurang dieksplor atau tergali. Gue merasa Suster Maryam dan Romo Yosef (terutama Maryam) agak banting setir ketika tadinya mereka berani untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi, lalu mereka seperti merasa berdosa. Mungkin ini juga karena adegannya dipotong. Alasan kenapa Maryam bisa mencapai keputusan akhirnya juga kurang terjawab bagi gue.

Suster Monik yang mendapat porsi yang cukup signifikan di film ini juga kurang jelas perannya, atau hubungannya dengan dua tokoh utama film ini. Ada beberapa indikasi bahwa ia mempunyai masa lalu dengan Romo Yosef, tapi tidak ada penjelasan eksplisit dari film. Entahlah, kalau dia merupakan tokoh yang memang tidak mempunyai tujuan jelas, seharusnya tidak mendapat screen time yang cukup signifikan di film. Akan lebih baik jika porsinya dia untuk menggali Yosef dan Maryam lebih dalam.

In conclusion, Ave Maryam is a visually-pleasing film with emotional ending and fantastic actors. Unfortunately, the story leaves many questions unanswered and its characters' motivations unexplained. 7/10




Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Senin, 19 September 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I

pic credit: movie.co.id

Setelah satu tahun lebih gak ngeblog, gue jadi kagok di depan laptop. Hai pembaca (?) yang sudah lama gak gue temui! Satu tahun terakhir ini gue sibuk dengan urusan sekolah, terutama Try Out, Ujian praktek, UN, SBMPTN, dan persiapan buat pindah ke kosan karena gue gak di Jakarta lagi. Untungnya gue dapet PTN (Perguruan Tinggi Negeri) walaupun UGM maupun UI. But considering that some of my smarter friends or friends of my friends fail to make it, I'm very thankful with what I have right now. 

Sekian dari gue, sekarang kita bahas dikit filmnya. Bagi mereka yang doyan nonton film jadul ataupun mantengin TV sebelum tidur siang pas tahun 2000an, pasti udah familiar dengan DKI alias Dono Kasino Indro. Gue sendiri tahu trio komedi tersebut dari hobi nonton TV sebelum tidur siang, hehe. Sedikit melenceng, I think this last few years (so far) have been good to Indonesia's film industry. Tahun 2015 ada A Copy of Mind karya Joko Anwar yang masih diputar di beberapa bioskop kecil saat ini. Tahun 2016 ada Ada Apa Dengan Cinta? 2, which sadly falls below my expectation that is already average, dan My Stupid Boss, yang sangat melebihi ekspektasi gue and frankly is better than AADC2. Jangan lupa beberapa film pendek Indonesia yang berhasil masuk berbagai festival bergengsi. Yang gue ingat adalah Prenjak, karya Wregas Bhanuteja. Tahun 2014 juga ada Siti. Sayangnya gue belum sempat nonton Srikandi 3. Jadi, apakah Warkop DKI Reborn berhasil menjaga momentum bangunnya industri film Indonesia?

Dono (Abimanya Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bekerja di sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Sayangnya, kekonyolan mereka malah menimbulkan masalah daripada menanggulanginya. Suatu hari, mereka terkenal masalah sehingga mereka didenda sebanyak delapan miliar. Dibantu rekan perempuan mereka, Sophie, mereka pergi ke suatu tempat untuk mencari uang tersebut. 



Not gonna lie, I laugh at some of the scenes...some more than it should, lol.

Apakah berarti filmnya lucu? Nope, semua leluconnya gak ada yang nendang ataupun memorable. Belum lagi banyak dari kelakarnya yang immature dan so-last-year. Hampir gak ada lelucon yang menstimulasi otak kayak film-filmnya Woody Allen ataupun acaranya Jon Stewart. Harus gue apresiasi Indro yang asli mencoba mencampurkan politik ke dalam kelakarnya bak Jon Stewart. Sayangnya, dia hanya mengimitasi dari luarnya saja, tidak sampai ke intisarinya The Daily Show. Next time you want to create a skit as a sassy news reporter, just call Jon Stewart himself instead of make a fail copy of him. 

Meskipun gue pernah nonton beberapa film Warkop DKI, gue benar-benar blank dengan filmnya. Jadi gue gak bisa menilai seberapa banyak homage yang film ini lakukan atau apakah film ini lebih baik, or at least succesful at capturing the atmosphere and the spirit of the original film. Anyway, kenapa film-film Warkop DKI udah jarang diputar ya? Apakah itu karena gue udah jarang nonton film lokal atau mereka emang udah berhenti muterin film? Makanya saluran TV lokal di Indo, plis puterin film-film Indonesia yang bagus dan berkualitas. Jangan cuma muterin Warkop DKI, tapi puterin juga masterpiece kayak Daun di Atas Bantal, A Copy of my Mind, Petualangan Sherina (nih film dulu sering diputar kalau liburan sekolah, haha #nostalgia), bahkan film dokumenternya Munir. Buat Metro, lanjutin dong programnya Sunday Night Movies nya. Cuma lu yang berani muterin film berat kayak Eternal Sunshine of the Spotless Mind (sumpah, nih film sempet diputar di Metro TV). 

By the way, humor nih film bukan hanya jelek, tapi mengandung unsur-unsur bermasalah seperti seksisme, objektifikasi wanita, dan colorism. Tokoh Sophie diperlakukan sebagai eye candy bagi tokoh-tokoh laki-lakinya doang. Belum lagi dia tipe eye candy yang ditzy dan oblivious dengan lingkungan sekitarnya. Dia sempat dilukiskan sebagai wanita yang pandai dan capable tapi seiring berjalannya film, gue malah merasa kedua kualitas tersebut menguap dari dia. Beberapa petugas wanita CHIPS juga menggunakan pakaian yang obviously lebih ketat dan pendek dibandingkan petugas laki-laki. Kesannya mereka di CHIPS buat jadi model baju ketat instead of jadi petugas CHIPS. 

Ada juga salah satu tokoh pembantu (atau karakter yang numpang lewat doang?) yang seluruh tubuhnya sengaja banget dibikin hitam, hitamnya bahkan menurut gue berlebihan. And surprise, surprise...they make a joke based on the person's dark skin! Memang ya kulit hitam tuh tipe kulit yang pantas buat jadi bahan lelucon. Maksud gue, gak ada yang lucu kan dari kulit putih? Kulit putih tuh kulit yang bagus, saking bagusnya sering dikaitkan sama penjajahan orang kulit hitam dan genocida orang Native American. 

Untuk divisi akting, kenapa sih mereka mesti menggunakan Vino G Bastian. Jujur, sejak Reza Rahadian berhasil akting sebagai Bossman di film My Stupid Boss, gue langsung percaya kalau Vino Bastian akan memberikan kejutan baik kepada gue. Ternyata...yang ada hanya kekecewaan. Gak cuma dari segi ekspresi wajah, denger dia ngomong dengan aksen Jawa yang dibuat-buat dan kurang natural cukup menyiksa gue. Tora Sudiro terbagus kedua, walaupun bagus disini bukan bagus yang wow. Mungkin karena Tora sempat di Extravaganza dan gak asing dalam komedi, Tora membawakan karakternya lebih langgeng daripada Vino. Aktor terbaik adalah Abimana Aryasatya...walaupun lu juga jangan berpikir terbaik dalam konteks dia pantas menang piala apapun. 

Yang pengen gue applause disini adalah divisi make-up dan kostum yang ngurusin bagiannya Abimana Aryasatya. Bagus, and that's the only good thing from this film. 

Overall

The gag reel is a lot funnier than the whole movie. 2,5/10 (trash)