Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2019

Love for Sale 2


The most horror love story, kira-kira itulah tagline promosi Love for Sale 2. Pada tahun 2018, Andibachtiar Yusuf sukses menangkap perhatian pecinta film Indonesia lewat film Love for Sale, yang diperankan oleh Della Dartyan dan Gading Marten. Namun, poster film ini tidak menampilkan Gading Marten sama sekali. Bagaimana kelanjutan kisah Arini dan Love Inc?

Film dimuali dengan Ican (Adipati Dolken) yang menghadiri pernikahan adat Padang bersama keluarganya. Sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), cemas karena di antara ketiga anaknya, hanya Ican yang belum menikah. Kakak Ican, Ndoy (Aryo Wahab), sudah menikah meskipun istrinya kerap dikecilkan oleh sang ibu. Si bungsu, Buncun (Bastian Steel), menikah muda dan sudah mempunyai satu anak. Tertekan dan merasa bersalah, akhirnya Ican memutuskan untuk menyewa pacar dengan kriteria dari Padang, agamis, usia 25-30, pintar, dan bisa diajak berbicara dengan ibu-ibu. Love Inc mengirim Arini (Della Dartyan) yang langsung memikat seluruh keluarga Rosmaida.





SPOILER ALERT


Gue cukup suka dengan opening scene film ini, bahkan one-shot di opening cukup panjang. Suasana pernikahan dan dialognya benar-benar menangkap stereotipikal orang Indonesia yang kepoin pernikahan dan bertanya-tanya kapan saudara/anaknya menikah. Adegan tersebut juga menangkap bahwa masih ada beberapa orang yang meskipun sudah tinggal di kota dalam waktu yang cukup lama, mereka masih terikat dengan adat dan kepo-kepo sanak saudara yang kuno. Mungkin agak kelamaan aja sih, karena di menit ke berapa gue sempat mikir, "Ini kapan ceritanya bergerak?".

Meskipun judul ceritanya "Love for Sale 2", jangan berharap banyak dengan aspek romansa film ini. Film ini justru lebih fokus ke aspek keluarga dan konflik menyenangkan orang tua vs keinginan pribadi. Sayangnya, kata-kata yang dikeluarkan oleh tokoh sang ibu bagi gue udah level preachy. Apalagi kata-kata dia sering tidak mendapat perlawanan, atau digambarkan sebagai filmmaker, "Ya udah lah ya, udah ibu-ibu gini, orang tua toh juga udah lebih tahu biasanya." Terutama aspek pemaksaan dan emotional guilt tripping, bahkan manipulatif, kepada Ican. Film ini memang menyentil Rosmaida yang ingin anaknya menikah, tapi dia sangat picky dalam aspek menantu. Tapi ia tidak pernah disentil karena memaksa Ican untuk menikah, bahkan sampai berkata seperti ini, "Ibu gak tahu sampai kapan ibu hidup, dan ibu pengen lihat kamu menikah sebelum ibu mati." Mungkin tidak persis seperti itu, tapi bagi gue itu udah masuk ke emotional manipulation. Orang-orang di sekitar Ican pun seakan-akan mendukung pandangan ibu.

Gue gak tahu apakah penulisnya juga punya tujuan ini, tapi fakta Ican sampai bohong dan bayar wanita untuk menipu keluarganya, adalah bukti tidak langsung betapa toxic permintaan si ibu. Ican berpikir Arini hanya akan menenangkan ibunya sampai beberapa bulan. Ia tidak berpikir apa yang terjadi jika ibunya sampai mempunyai attachment dengan Arini, atau bahkan ketika kontrak tersebut berakhir. Ini juga merugikan Arini, karena Ican sendiri tidak mempertimbangkan bahwa Arini mempunyai rencana lain, atau seberapa kepribadian Arini yang merupakan kepribadian aslinya atau karena dibayar.

Rosmaida pun sayangnya tidak punya watak lain sebagai seorang ibu yang taat adat dan agamis. Sumpah, mungkin karena gue tipikal anak muda kota gak relijius dan gak suka adat, jadinya gak simpatik sama sekali sama karakternya dia. Apalagi ketika dia memarahi anak bungsunya, dia lebih menekankan betapa malunya dia ketimbang kepribadian anaknya.

Aspek keluarga yang ditekankan memang mungkin tema film Indonesia populer tahun 2019, seperti Keluarga Cemara, Dua Garis Biru, bahkan Perempuan Tanah Jahanam juga to some extent. Sayangnya, aspek keluarga film ini malah mengorbankan chemistry dan progres hubungan Arini dan Ican. Adipati Dolken memang aktingnya bagus di film ini, tapi tidak sampai bersinar seperti Gading Marten di film sebelumnya. Della Dartyan pun juga tidak secharming di film sebelumnya bagi gue.

Overall, Love for Sale 2 is a steady film that explores a stereotypical Indonesian family and how having a good marriage is still a source of pressure in Indonesia. Sadly, it compromises the chemistry and the story of its romantic leading pair. 6,5/10.



Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Rabu, 21 September 2016

Comrades: Almost a Love Story


hancinema.net
Sekitar seminggu yang lalu, gue datang ke pemutaran film yang diadakan oleh Jakarta Cinema Club (JACk) di Paviliun 28. Gue datang kesitu karena gue tertarik dengan tema yang diadakan bulan ini, yaitu Hong Kong Second Wave. Karena pengetahuan gue tentang hal terebut masih kecil, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa Hong Kong Second Wave didominasi oleh Wong Kar Wai, sedangkan dari segi aktor didominasi oleh Maggie Cheung dan Tony Leung. Gaya cerita dan filmnya pun beda dari Hong Kong First Wave, dimana First Wave lebih mengutamakan style ketimbang substance, Second Wave lebih banyak eksperimen dan ceritanya lebih relate ke kehidupan nyata. Kalau dari First Wave, film paling terkenalnya mungkin A Better Tomorrow karya John Woo, gue gak tahu Police Story itu film Cina atau film Hong Kong. Anyway, karena gue gak mau kelihatan bego di diskusi film tersebut, gue memutuskan untuk nonton film Hong Kong Second Wave yang bukan dibuat oleh WKW. Tadinya gue bingung antara Rouge sama nih film, tapi nih film ada Maggie Cheung, hehe.

Jun (Leon Lai) merupakan pria desa sederhana dari Wushi, Cina, yang pergi ke Hong Kong untuk mengadu nasibnya. Meskipun ia harus segera bekerja keras di sebuah tempat asing yang orang-orangnya keras dan cepat, ia tidak lupa untuk tetap berhubungan dengan kekasihnya di desa. Suatu hari, ia memutuskan untuk makan siang di McDonalds karena di desanya tidak ada restoran cepat saji. Disana ia bertemu dengan Qiao Li (Maggie Cheung), seseorang yang dapat mengerti bahasa yang Jun gunakan selain bibinya. Mereka bertambah dekat sejak Qiao Li mengantarkannya ke sebuah tempat les bahasa Inggris dan memberikannya pekerjaan part-time. Sejak Qiao Li mengaku bahwa ia juga berasal dari Cina, mereka bisa berbagi rasa rindu terhadap rumah dengan lega.



A relateable cliche romantic film

Salah satu alasan gue untuk tidak langsung menonton film ini meskipun udah download lama adalah gue takut film ini cuma film romance klise sampah. Fortunately, Comrades: Almost a Love Story punya nilai lebih.

Film yang disutradarai oleh Peter Chan dan ditulis oleh Ivy Ho agak mengingatkan gue pada film AADC yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Dua film ini memang klise, tapi mereka sangat memperhatikan detail dalam pembangunan realita dan dunia tokoh-tokohnya, terutama dalam bagian latar tempat dan pop culture yang sedang tren, bahkan secuil politik. Apa yang gue maksud dalam "pembangunan realita"? Contohnya, dari film ini gue bisa belajar lagu-lagu Teresa Teng yang terkenal yang mana saja dan bagaimana kematiannya membawa impact oleh orang-orang Cina, terutama orang Cina diluar mainland. That's what makes those films as timeless for some people, because we can look back at them and relate to the place and the trend. 

Karena gue belum belajar sejarah Hong Kong dan Cina, gue tidak bisa komentar mengenai unsur politik Hong Kong-Cina yang ada di film ini, atau membenarkan bahwa banyak orang Cina yang berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 90an. For your information, this film was banned in China until 2015. Untungnya, hal tersebut tidak menghentikan gue untuk bisa relate kepada situasi yang dihadapi oleh Jun dan Qiao Li. Gue bisa relate suatu perasaan campur aduk dimana gue excited untuk mengeksplorasi suatu tempat yang jauh dari rumah gue tapi ada saja sesuatu yang mengingatkan gue pada rumah dan membuat gue homesick. Anyway, lucu juga sih gue baru nonton film ini setelah gue kuliah di luar Jakarta, my hometown. Seandainya gue nonton nih film pas SMA, mungkin gue kurang bisa relate ke film ini, haha.

Selain unsur homesickness, gue suka bagaimana paruh pertama film ini melukiskan kehidupan kelas pekerja yang boleh dibilang tidak terlalu miskin. Kalau mereka terlalu miskin, yang ada nih film bakalan jadi telenovela atau sinetron dah. In my opinion, lukisan tersebut cukup sederhana dan hanya mengandung sedikit unsur dramatisasi. Tidak ada adegan orang kaya yang menghardik pelayan, pelayan disiram air minum, dll. Bagian favorit gue adalah ketika Qiao Li dan Jun berusaha untuk menjual sesuatu namun dagangan mereka tidak laku. Jujur, gue cukup terkejut film ini menunjukkan kegagalan di awal film dan tanpa unsur dramatisasi. Yes, failure sucks and sometimes we think it's the end of our world, but in the end, some of us live our life and move on from our failure. Maksud gue, terlalu banyak film yang menggunakan failure sebagai suatu turning point atau suatu akhir, walaupun sebenarnya experiencing failure is normal and most often we move on from it. Bagian tersebut tidak hanya mengajarkan kegagalan sebagai sesuatu yang normal, tapi kegagalan juga bisa terjadi di saat kita sedang sangat optimis.



Unfortunately, the films is ruined by its second half

Sayang sekali film ini ada "tapi".

Gue percaya Comrades: Almost a Love Story akan berakhir indah, gue akan puas, dan gue akan langsung memberitahukan dunia stop watching Wong Kar Wai and just watch this film instead. Well, folks, reality doesn't work that way.

Setelah disuguhi oleh pembangunan realita dan chemistry yang sangat apik, sepertinya Peter Chan dan Ivy Ho kehabisan trik dari tas mereka. Basically, the second half of the movie is fueled by endless drama. Bukan drama macam Happy Together atau There Will be Blood, tapi drama yang sekelas sama sinetron dan telenovela. Just name a cliche trope and I bet you it will appear in the second half. Masih mending drama ini juga diikuti oleh penyisipan pop culture yang solid seperti di paruh pertama, tapi sayangnya Chan dan Ho sudah peduli setan dengan hal tersebut dan berusaha untuk mengisi sisa durasi dengan terburu-buru.


*SPOILER*










Gue rasa akhirnya sangat tidak realistis karena Qiao dan Jun punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi mereka selalu dihalangi sesuatu. Like, I just pissed off that they never get to see each other for petty things, then suddenly the just see each other by chance? What a bullshit. It doesn't even have a sense of ambiguity like the end of Norwegian Wood (novel). No, it's just straight up a shitty and cliche happy ending.

Edited: Tapi setelah gue pikir-pikir, gue juga suka ending klise kayak gitu. Makes my heart giddy.

*SPOILER ENDS*









A beautiful love song to Teresa Teng

Salah satu hal yang harus diapresiasi adalah bagaimana Teresa Teng menjadi sub-substance Comrades tanpa menganggu keseimbangan film ini. This film celebrates Teresa Teng's magnificent career without turning it into a mini-documentary of her. Gue juga jadi suka dengerin lagu-lagu Teresa Teng yang muncul di film ini, haha.

Kalau masih ada yang bingung apa gunanya seni dan seniman, kalian harus nonton film ini. Film ini dengan pintar memperlihatkan bahwa seni pop, walaupun dangkal, bisa menjadi penyatu manusia dan memberikan sense of home bagi orang yang berada jauh dari rumah, terutama di tempat yang bahasanya beda dengan bahasa utama kita. Kebahagiaan terkadang bisa dicapai hanya mendengar lagu yang menggunakan our native language. 

By the way, two thumbs up for Leon Lai dan Maggie Cheung. Akting mereka tidak hanya bagus sebagai individu, tapi sebagai pasangan mereka punya chemistry yang solid.

Conclusion

Jangan berekspektasi sebuah sajian yang modern dan eksperimental bak Chungking Express dkk. Namun jangan langsung mencap film ini sama dengan film romantis cengeng lainnya. Hint: kalau lo suka Sleepless in Seattle dan melihat kehidupan kelas pekerja, then this film is for you! 8/10 (very good)



Selasa, 07 April 2015

Happy Together (春光乍洩)

movies.io
Gue bukan pengagum Wong Kar Wai. Gue lumayan suka In the mood for love, tapi sampai sekarang gue gak ngerti kenapa Chungking Express disebut sebagai film romance karena gue gak bisa merasakan romance dari film itu. But anyway, gue tetap membuka pikiran gue terhadap Wong.

Happy Together merupakan film romance tahun 1997 yang ditulis dan disutradarai oleh Wong Kar Wai. Sama seperti kebanyakan film Wong, film ini menceritakan tentang hubungan cinta yang tidak sempurna dan melankolis. Namun yang membuat Happy Together berbeda dengan film Wong lainnya, film ini bercerita tentang pasangan gay. Film ini mendapat sambutan yang positif, bahkan Wong memenangkan Best Director pada Cannes Film Festival. Meskipun judulnya Happy Together, film ini bukanlah film dengan nuansa happy.  

Let's start over. Hal itulah yang selalu dikatakan Ho Po Wing (Leslie Cheung) setiap kali ia ingin melanjutkan hubungannya (yang putus) dengan Lai Yiu Fai (Tony Leung). Meskipun sudah putus berkali-kali, Lai Yiu Fai tidak berdaya untuk menolak permintaan Ho Po Wing. Tidak lama setelah mereka berbaikan, mereka pergi ke Argentina untuk melihat air terjun Iguazu, air terjun yang terdapat pada lampu milik Po Wing. Namun Po Wing yang tidak suka dengan 'keribetan' malah meninggalkan Yu Fai sendirian di Argentina, dengan uang yang sedikit.

Yiu Fai berusaha bertahan hidup dengan bekerja di sebuah night club. Namun, sepertinya Po Wing tidak puas terhadap luka yang ia tinggalkan pada Yufai, karena ia mencium laki-laki lain di depan Yiu Fai. Yiu Fai pun hanya bisa diam terhadap kelakuan Po Wing. Tapi pada akhirnya Yiu Fai tetap menerima Po Wing ketika Po Wing muncul di depan apartemen Yiu Fai dalam keadaan babak belur.

pinterest.com
A Fanfiction-like film

Gue mulai curiga kalau salah satu tujuan Wong Kar Wai bikin nih film karena dia ingin menginspirasi cewek-cewek untuk menulis fanfic homo.

Happy Together adalah film yang perfect untuk seluruh fujoshi di dunia. Everything is in here. EVERYTHING. Sexual tension, angst, chemistry, romance, beautiful quotes, handsome guys, angst, angst, angst... Gila, gue yakin banyak fangirl gak bakal keberatan kalau Tony Leung dan Leslie Cheung diganti entah sama anggota boyband atau bromance dari franchise terkenal macam Sherlock-Watson, Kirk-Spock, Draco-Harry, dll.

Ceritanya tuh sebenarnya...

Cukup biasa. It's an everyday love story. Tidak ada twist ataupun hal yang sangat kontroversial. Tapi di sisi lain, hal yang menawan dari film Happy Together adalah cerita yang everyday love story (well, not exactly everyday). Happy Together tidak bercerita tentang usaha sepasang gay untuk diterima masyarakat, forbidden love story, perselingkuhan, perbedaan kelas sosial, penyakit, dan hal klise lainnya. Film ini justru bercerita tentang orang yang kesepian, egois, mencoba untuk move on, tidak sadar akan perasaan orang lain, haus akan cinta, dan membuat kesalahan. Gue rasa ini menyebabkan banyak orang akan lebih mudah untuk relate dengan film Happy Together dibandingkan film romance klise lainnya.  

Meskipun Yiu Fai dan Po Wing merupakan tokoh utama di film ini, Happy Together tidak pernah menjelaskan ke penonton apakah mereka pernah struggle dengan orientasi seksual mereka, atau apakah mereka takut dengan opini keluarga mereka dan masyarakat mengenai gay. Pandangan masyarakat tentang gay pun tidak diperlihatkan secara gamblang oleh Wong. Tapi ada kemungkinan Wong menyelipkannya secara subtle. Contohnya, salah satu teman kerja Yiu Fai bersikap indifferent terhadap kemungkinan bahwa kekasih Yiu Fai adalah laki-laki. Po Wing sendiri mencium laki-laki lain di tempat terbuka. Hal-hal kecil ini sepertinya mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada yang salah dengan orang mencintai orang lain dengan gender yang sama. Homoseksualitas bukanlah hal yang tabu atau memalukan.  

The characters

Salah satu hal yang gue suka dari film ini adalah baik Yiu Fai dan Po Wing sama-sama kotor, emosional, dan melankolis. Po Wing memang selalu yang pertama memutuskan pertalian di antara mereka, tapi itu tidak menjadikan Yiu Fai tanpa dosa. Yiu Fai sendiri sebenarnya selalu diberi kesempatan untuk pergi meninggalkan Yiu Fai. Seegois-egoisnya Po Wing, dia bukanlah mafia yang punya kekuatan besar untuk memaksa Yiu Fai.
 
Yiu Fai dan Po Wing bertolak belakang. Yiu Fai menginginkan kestabilan dan ia bersedia untuk 'berperang' supaya hubungannya dengan Po Wing lancar. Yiu Fai memang punya sisi spontaneous, tapi akhirnya dia adalah pria yang menghargai masa lalu dan keluarga. Meskipun ia masih sakit hati, keputusannya untuk Po Wing didorong rasa iba terhadap Po Wing, bukan karena kata hati atau personal code. Po Wing benar-benar spontaneous. Dia tidak punya suatu keinginan untuk stabil atau melakukan hal-hal mundane. Begitu dia merasa jenuh atau kesal, dia akan pergi dari 'perang', termasuk hubungannya dengan Yiu Fai. Dia sama sekali tidak peduli dengan keinginan dan perasaan orang lain. Bahkan ketika ia menangisi kepergian Yiu Fai pun itu hanya karena ia kesepian dan membutuhkan seseorang. Begitu dia menemukan seseorang yang tepat, ia tidak menangisi kepergian Yiu Fai.

youtube.com
 Di sisi lain, Yiu Fai dan Po Wing punya beberapa kesamaan. Mereka orang yang tidak takut untuk menyakiti dan disakiti satu sama lain. Mungkin memang ada sedikit perasaan takut untuk disakiti, tapi perasaan itu tidak diperlihatkan secara kuat. Ketika kebiasaan Po Wing marah karena ia merasa terikat oleh Yiu Fai, Yiu Fai tidak takut dengan amarah yang dikeluarkan Po Wing. Po Wing...well, Po Wing sudah jelas tidak punya rasa takut untuk menyakiti Yiu Fai, bahkan ia tahan diperlakukan dengan kasar setelah ia tinggal di apartemen Yiu Fai.

Chang (Chang Chen) merupakan perpaduan antara Yiu Fai dan Po Wing. Dia senang berkeliling dunia dan berpetualangan, tapi ia tidak melupakan keluarganya dan ia peka terhadap perasaan orang lain. Dia tidak bersikap menghakimi terhadap flaw yang ditunjukkan oleh Yiu Fai.

Technical stuffs

I don't know if it's just me, gue rasa Happy Together punya suasana yang...remang-remang. It's rarely sunny in Happy Together. Gue rasa itu melambangkan hubungan yang tidak pernah fully clear antara Yiu Fai dan Po Wing. Mereka tidak pernah punya hubungan yang stabil dalam jangka waktu yang lama. Pencahayaan yang dim juga bisa berarti bahwa kebahagian yang mereka capai tidak pernah tidak dibayangi-bayangi dengan abuse dan ego. Each of their opinions about their relationship never hits the bull because they never have a clear sight on their relationship. Yiu Fai tidak pernah sadar bahwa ia selalu kembali ke hubungan yang gagal dan Po Wing tidak pernah bersikap dewasa, karena mereka dibutakan oleh secuil kebahagiaan.

Efek hitam putih yang digunakan di film ini sepertinya melambangkan melankolisme dan nostalgia Yiu Fai.  Anyway, applause for Christopher Doyle for the wonderful cinematography.

As usual, lagu-lagu yang digunakan oleh Wong Kar Wai keren-keren semua. Gue personally sih suka lagu penutupnya, yaitu Happy Together oleh The Turtles. Lagu itu memberikan sesendok keceriaan setelah luapan angst di sepanjang film.

Tentu saja film Happy Together tidak akan menjadi film yang spektakuler tanpa Tony Leung dan Leslie Cheung. They convince me that they are one hundred percent gay. Apa yang mereka lakukan untuk meyakinkan gue bukan hanya sekedar ciuman. Namun, Wong tidak merendahkan martabat Happy Together dengan menjadikan film ini 11-12 dengan film porno.    

Leslie Cheung dan Tony Leung outstanding baik sebagai individu maupun pasangan. Tony Leung dengan luar biasa (an understatement) memerankan seseorang dengan watak yang agak reserved, tapi juga passionate dan bisa agresif. Tony Leung memang luar biasa, but Leslie Cheung tops the game. Leslie Cheung secara spektakuler memerankan orang yang flamboyan, childish, egois, tapi tidak takut untuk bermain otot. Dia juga bisa menunjukan dengan sangat baik (another understatement) momen ketika Po Wing lemah dan melankolis.   

Conclusion 

JUST FUCKIN' WATCH IT! 9,7/10

P.S: Kurang disarankan buat orang yang belum nyaman dengan adegan pasangan gay bermesraan. 

 

Kamis, 12 Februari 2015

Thursday Movie Picks #31: Unrequited Love



Okay, this is my first post for Thursday Movie Picks that is hosted by Wandering Through the Shelves.  If you want to join this blogathon or series, you can visit here.  This week theme for Thursday Movie Picks is Unrequited Love.

1. (500) Days of Summer


I bet that most people will have this movie on list of films about unrequited love. After all, (500) Days of Summer is not a love story, but a story about love.  But I have to admit that (500) Days of Summer is the first film I think for this theme.  We sing, we laugh, and we learn with Tom (Joseph Gordon-Levitt) and Summer (Zooey Deschanel).  Liking the same things isn't a guarantee for eternal love and love can come in the most unexpected time and place.  Other than that, (500) Days of Summer shows it's viewers that not all men are heartless and not all women are victims.  By the way, I have to personally thank this film for upgrading my music taste :)

2.Fatal Attraction


We all know the feeling of unrequited love, but most of us don't have extreme experience like Fatal Attraction.  Dan (Michael Douglas) decides to have a little fling with Alex (Glenn Close) after his family are out of town in weekend.  Dan is a dick, but his loyalty still lies to his family.  Dan thinks that as an adult, Alex can accept the fact.  Unfortunately, Alex has fallen too deep for Dan.  For me, Fatal Attraction shows that you should check someone's mentality before you have a relationship with them.  And just because you see something as a little part of yourself, the other person doesn't always see it with your eyes.         

I understand that what Alex feels for Dan is not love, but this film is too amazing to be missed!

3. Almost Famous


Rock n roll, drugs, alcohol, chicks, and sex.  Almost Famous screams all of those things but bless Cameron Crowe for making those things into a fun, warm, and bittersweet experience.  William Miller (Patrick Fugit) is a one of those virgin geek who loves rock.  He goes to see his favorite band's concert but he ends up seeing Penny Lane (Kate Hudson), who introduces him to Russell Hammond (Billy Crudup), who is a member of Stillwater.  Will is a given a task by Rolling Stone Magazine to write about Stillwater.  As Will follows Stillwater, he experiences losing virginity, falling in love, and betrayal.

Both William and Penny's love is unrequited.  Both of their love is somewhat pure and sincere, Penny is clueless about Russell's true nature and undependable, while Will knows that he is not the right guy for Penny but Penny can always depend on him.  It is not the freshest contrast, but still a good one.

Honorable mention: 5 Centimeters per Second


5 Centimeters per Second is perhaps the only anime that really shows the bitterness of unrequited love, helplessness of obstacles on our way, and the difficulty of moving on.  Even though 5 Centimeters per Second contains sad and sappy things, the animation is so beautiful and breathtaking enough that it's worth to buy a box of tissue.  Kanae tells us that knowing the true feeling of your crush is not always satisfying, Tono tells us that being haunted by memories is useless, and Akari tells us that in the end we have to move on.

P.S: I personally think that 5 centimeters per second is a bit boring, haha.       

Rabu, 05 November 2014

In the mood for love

filmaffinity.com
In the mood for love merupakan bagian kedua dari trilogi informal Wong Kar Wai dan juga karya yang paling terkenal dari sang sutradara.  Film ini memenangkan berbagai penghargaan, bahkan sampai dinominasikan Palme D'Or, yang notabene salah satu penghargaan film bergengsi.  Meskipun film ini tidak mendapat Palme D'Or, Tony Leung berhasil mendapat penghargaan Best Actor di Cannes Film Festival.  Film berdurasi 98 menit ini mengajak penonton untuk melihat kehidupan baru Li-zhen dari Days of Being Wild.

Li-zhen (Maggie Cheung) pindah ke sebuah apartemen di hari yang sama dengan Chow Mo-wan (Tony Leung).  Suami Li-zhen sering pergi ke luar negeri sedangkan istri Mo-wan sering lembur.  Meskipun pemilik kedua apartemen sering bermain mahjong bersama, baik Li-zhen dan Mo-wan lebih menyukai untuk sendiri saja.  Li-zhen dan Mo-wan sering makan malam di tempat yang sama, namun mereka biasanya hanya saling menyapa.  Lama-kelamaan, keduanya berinteraksi dan sering bertemu.  Dalam salah satu pertemuan mereka, mereka membahas kecurigaan bahwa suami-istri mereka saling berselingkuh.

SPOILER ALERT!

screenmusings.org

The Affair
 Biasanya dalam film-film perselingkuhan, penonton akan melihat adegan-adegan hot, dilema pada orang-orang yang berselingkuh, dan 'the helplessly-betrayed people'.  Biasanya orang-orang yang dikhianati dtampilkan sebagai orang yang plain, datar, membosankan, mainstream, dll.  Mereka juga korban yang tak bisa mengontrol keinginan dan perasaan pasangan mereka.  Tapi Li-Zhen dan Mo-Wan bukanlah korban.  Mereka 'membrontak' in their own ways.  Mereka tidak mengikuti ekspektasi orang.  Alias, mereka tidak membalas pasangan mereka dengan ikut berselingkuh.  Li-Zhen dan Mo-Wan justru membalas dengan berpegang teguh dengan moral dan etika yang mereka punya.  Meskipun Li-Zhen dan Mo-Wan jarang mengekspresikan rasa sakit dan iri hati, mereka menyalurkan perasaan negatif itu dengan trying hard to not stoop as low as each of their spouses.  Dengan melakukan hal itu, mereka seolah-olah meyakinkan diri mereka bahwa mereka masih punya moral dan etika.  

Namun seperti manusia biasa, toh mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari godaan.  Ada kalanya mereka jatuh kepada godaan itu, entah sadar ataupun tidak.  Ketika mereka sadar, mereka akan menarik diri mereka, terutama Li-Zhen.  Tapi ada kalanya mereka benar-benar tidak bisa menahan godaan itu sehingga mereka mencari-cari suatu dalil.  Mereka meyakinkan diri mereka bahwa tidak apa-apa mereka bertemu di malam hari secara sembunyi-sembunyi karena mereka kesepian.  Tidak apa-apa mereka bertemu di suatu hotel karena mereka mendiskusikan sesuatu.  Itu yang membuat gue mempertanyakan sesuatu: apa yang membuat suatu perbuatan dikatakan perselingkuhan?  Agak lucu bagaimana Li-Zhen dan Mo-Wan pergi ke hotel tapi mereka tidak melakukan apa-apa kecuali berdiskusi.  Walaupun mereka tidak melakukan hal intim, apakah mereka sudah bisa dikatakan berselingkuh? 

Some things that I don't understand

Gue bertanya-tanya apa yang didapatkan Li-Zhen dan Mo-Wan dari 'pemberontakan' mereka.  Li-Zhen dan Mo-Wan tidak terlihat bahagia dan puas bagi gue.  Mereka tidak memenangkan apa-apa dari 'pemberontakan' mereka.  Toh pasangan mereka kurang-lebih tidak peduli dengan mereka.  Jikalau mereka 'menang', apa yang bisa mereka rayakan jika tetangga dan teman mereka tidak mengerti perjuangan mereka untuk menjadi orang baik?  Memang jika Li-Zhen dan Mo-Wan mengambil resiko lebih tinggi pada affair mereka, ada kemungkinan besar mereka akan digosipkan - bahkan dijauhi - oleh masyarakat.  Di sisi lain, masyarakat tidak peduli dan kurang tertarik pada orang-orang 'baik'.  I think it's like a double-edged sword.  When you're bad, people talk shits about you.  When you're good, people just don't care.   

knockedover.wordpress.com

Gue juga bertanya-tanya apakah benar-benar ada cinta di antara Li-Zhen dan Mo-Wan atau tidak.  Mereka tidak pernah benar-benar passionate atau into each other ketika bersama.  Memang orang yang jatuh cinta tidak harus benar-benar terlihat sedang jatuh cinta.  Tapi agak susah melihat cinta yang ditunjukan secara subtle.  Mereka lebih terlihat seperti orang asing yang kesepian dan memiliki beberapa hal yang sama.  There's a bond or some fondness, but I'm not sure whether it's romantic or not.  

Angkor Wat    

Selain adegan 'latihan' Li-Zhen dan Mo-Wan, adegan kesukaan gue yang lain adalah adegan di Angkor Wat.  Adegan itu terasa emosional dan indah bagi gue.  Words just can't describe what I think and feel for that scene.  Mungkin karena gue mengerti bagaimana rasanya punya rahasia yang ingin sekali lo ceritakan, tapi lo juga takut reaksi orang terhadap rahasia itu.  Tapi tetap aja lo ingin menceritakan rahasia lo.  Adegan di Angkor Wat cukup berhasil mengekspresikan perasaan itu.  Angkor Wat sendiri merupakan tempat yang indah, apalagi ditemani sinematografi dan musik yang cakep.  Seriously, words can't describe this scene (in my opinion). 

Other stuffs

Sesuai dengan judul filmnya, Wong Kar Wai berusaha untuk mendorong penonton untuk terhanyut dalam situasi dan nuansa yang romantis dan melankolis dalam In the mood for love.  Longing gaze antara Leung dan Cheung merupakan unsur utama dalam pembangunan situasi-situasi tersebut.  Warna-warna yang digunakan juga cocok sekali untuk membangun mood romantis.  Film ini lebih kuat dalam hal visual daripada dialog and I usually really hate those kind of films. Lagu-lagu yang digunakan juga bagus-bagus banget dan ikut membangun mood dan emosi.  Gue baru tahu kalau lagu Bengawan Solo dinyanyikan dengan bermacam-macam bahasa, termasuk cantonese.  Selain Bengawan Solo, banyak lagu-lagu traditional pop lainnya.  Anyway, two thumbs up for the clothes designer!  Baju-bajunya Li-Zhen modis banget dan cocok dengan figur tubuhnya Maggie Cheung!

Overall

In the mood for love bukanlah tipikal film perselingkuhan.  Film ini justru menunjukkan betapa berat dan susahnya untuk memegang etika dan etiket yang ada dengan teguh.  Kadang-kadang kita tidak mendapatkan apa-apa atas perjuangan yang kita alami.  Wong Kar Wai tidak memberikan banyak dialog di film ini, namun sinematografi dan musik yang ada bisa menggantikan kekurangan dialog tersebut.  Tapi karena kurangnya dialog dan konflik, beberapa orang mungkin akan menganggap film ini membosankan.  I'm not into this kind of arthouse, but In the mood for love is good enough for me. 8,5/10

Sabtu, 16 Agustus 2014

Submarine (2010)

I often imagine how people would react to my death. -Oliver Tate
dwhs.co.uk

Submarine merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2010.  Film ini disutradarai dan disutradari oleh Richard Ayoade.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Joe Dunthorne.  Film berdurasi 97 menit ini diputar di berbagai festival film dan mendapat respon yang positif dari para kritikus film.

Oliver Tate (Craig Roberts) suka sekali menyendiri karena menurutnya dengan menyendiri ia mempunyai waktu untuk merenungkan berbagai hal.  Suatu hari, Oliver mendorong Zoe, seorang korban bully ke genangan airDihantui rasa bersalah, Oliver menulis surat untuk Zoe.  Ternata ia tertangkap basah oleh Jordana Bevan (Yasmin Paige), seorang gadis yang juga tidak populer seperti Oliver.  Jordana memeras Oliver dengan menyuruh Oliver untuk membawa kamera dan diarinya ke suatu tempat.  Ketika mereka bertemu, Jordana langsung mencium Oliver sambil memfoto momen itu.  Ternyata, Jordana melakukan itu untuk membuat mantan pacarnya cemburu.  Namun rencana itu malah backfire dan membuat Oliver menjadi pacar Jordana.

Di saat yang sama,orang tua Oliver yaitu Lloyd (Noah Taylor) dan Jill (Sally Hawkins), mengalami perguncangan dalam pernikahan mereka.  Pernikahan mereka semakin terguncang ketika Jill menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya, Graham (Paddy Considine).  Oliver berpikir keras untuk menyelamatkan pernikahan orangtuanya sekaligus menghibur ayahnya.  Namun permasalahan Oliver bertambah ketika ibu Jordana terkena kanker.  

SPOILER ALERT!

randomlifeblog.com
I didn't expect much from Submarine.  Gue kira Submarine tuh jenis film sok quirky dan cute, penuh percakapan sok filosofis, and that's it.  Ternyata gue salah.  

Joanna, Oliver, and the relationship between them

Hal yang gue kurang suka dari tokoh-tokoh quirky tuh betapa jarangnya mereka menunjukkan empati dan terkadang mereka terlalu disconnected dengan dunia sekitar mereka.  Oliver tuh tokoh yang quirky, tapi dia masih mampu untuk menunjukkan bahwa dia masih terhubung dan peduli dengan realita di sekitarnya.  Hal itu ditunjukkan bagaimana ia berusaha untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya dan surat permintaan maafnya untuk Zoe.  Sama seperti tokoh quirky lainnya, Oliver mengalami kesulitan dalam mengelola emosinya.  Oliver berusaha untuk dekat dengan Jordana secara emosional dan fisik, namun Jordana menolak usahanya.  Namun ketika Jordana yang melakukan hal-hal itu, Oliver justru menolak usaha Jordana karena ia berpikir bahwa Jordana menjadi semakin sensitif dan emosional.  Hal paling disturbing yang pernah dipikirkan Oliver tuh ketika ia mendapat ide untuk membunuh anjing Jordana dengan tujuan 'menyiapkan' sang pacar untuk kematian ibunya.  Dude, it's fine if you're quirky or neurotic, tapi gak segitunya juga.

Jordana sendiri juga bisa menunjukkan bahwa dia masih connected dan peduli dengan dunia sekitarnya.  Ini ditunjukkan lewat bagaimana ia tidak ragu-ragu untuk menghibur ayahnya yang sedang menangis.  Gue rasa Jordana agak takut untuk emotionally attached atau benar-benar peduli dengan seseorang di luar keluarganya.  Karena itu ia bersikap agak dingin dengan Oliver di awal film.  Hal yang gue suka dari Jordana adalah bahwa alasannya untuk marah dan putus dengan Oliver tuh jelas.  Cewek mana yang gak marah kalau pacarnya tuh lupa janjinya terus gak melakukan komunikasi selama berhari-hari?

Gue memperhatikan bahwa Jordana dan Oliver tidak pernah bertukar kata cinta atau bahkan memuji satu sama lain.  Hal ini membuat gue tidak keberatan dengan kecepatan hubungan antara Jordana dan Oliver.  Ini juga membuat hubungan antara Jordana dan Oliver bukanlah hubungan quirky yang pretensius.  Yang terjadi di antara mereka hanyalah sparks dan ketertarikan.  Awalnya, mereka tidak ingin melibatkan perasaan atau hal-hal romantis yang berlebihan, karena mereka hanya menginginkan kesenangan dan easy relationship.  Hubungan mereka memang pada akhirnya tambah serius, namun peningkatan keseriusan dalam hubungan mereka tidak meroket mendadak.  Tidak ada pula hal-hal cengeng dan angst yang berlebihan pada akhirnya.

sosreelthoughts.com

The Irony

Menurut gue agak ironis bahwa Oliver berusaha menyelamatkan pernikahan orang tuanya sedangkan ayahnya bersikap pasrah.  Ironis juga bagaimana Oliver terlalu berfokus pada pernikahan orang tuanya sehingga hubungannya dengan Jordana malah berantakan.  Keironisan ini sepertinya bisa me-mislead penonton, karena dua kasus ini berakhir bahagia and I think that fact is too good to be true.  Keironisan ini juga menunjukkan sifat manusia yang ingin mengontrol atau memperbaiki kehidupan orang lain tanpa menjaga kehidupannya sendiri.

Technical Stuffs   

Sinematografinya cute dan bagus banget, as expected from music video director.  Latar tempat yang indah juga mendukung sekali sinematografi dan visual stuffs di film ini.  Latar tempat yang gak romantis pun akhirnya jadi romantis gara-gara film ini.  Gue suka banget bagian dimana Oliver membayangkan bagaimana jika kehidupannya difilmkan dan juga seandainya kematiannya diberitakan di televisi.  Ketika aktor berbicara dengan background berwarna hitam, gue jadi teringat film Le Gai Savoir.  

Terima kasih untuk siapapun yang milih Alex Turner dan Andrew Hewitt untuk mengurus departemen musik di film ini.  Gue tertarik nonton film ini gara-gara nonton fanmade video Stuck on a Puzzle.  Lagu itu lagu favorit gue dari album soundtrack Submarine.  Intronya yang unik dan sangat menghantui langsung membuat gue muterin tuh lagu jutaan kali.  Sebenarnya lagunya bagus semua dari tuh album.  Gak ada lagu yang gue benci dari awal film sampe ending credit.

Aktingnya bagus.  Gak ada aktor yang spektakuler dari Submarine, tapi semua aktor mampu memerankan tokoh masing-masing dengan natural.  Aktor terbagi gue sih Yasmin Paige karena tokohnya mempunyai berbagai dimensi.  Dimensi yang bermacam-macam inilah yang membuat Paige memperlihatkan kemampuannya untuk berakting.  Ekspresi yang dibuat Paige juga cukup variatif.  Craig Roberts juga berakting dengan natural, namun ekspresi wajahnya cukup monoton di sepanjang film.  Mungkin emang dari sononya alias skrip film.

Overall, Submarine is more than a cute film and surprisingly is more realistic than the usual quirky movies. 9,2/10   

 

Sabtu, 07 Juni 2014

The Girl who Leapt Through Time: An awesome romcom animation with light sci-fi

Time waits for no one.
animea.net
The Girl who Leapt Through Time merupakan film animasi yang terinspirasi dari sebuah novel Jepang yang berjudul sama.  Gue menulis "inspirasi" karena tokoh dan latar film ini berbeda dengan yang ada di novel.  The Girl Who Leapt Through Time dirilis pada 2006 dan disutradarai oleh Mamoru Hosada serta ditulis oleh Satoko Okodera.  Film yang berdurasi 98 menit ini ternyata bisa mengambil hati para kritikus film.

Makoto Konno merupakan seorang gadis SMA dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.  Ia tinggal bersama keluarganya, ia hobi bermain baseball dengan dua sahabatanya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.  Suatu hari, Makoto terlambat pergi ke sekolah.  Ia mengira bahwa ia hanya akan mengalami satu kesialan.  Tapi ternyata kesialannya berjalan terus.  Ketika Makoto berada di laboratorium, ia menemukan sebuah alat yang berbentuk seperti kacang.  Ia juga merasa ia didorong seseorang.  Namun Makoto hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan bergegas untuk mengantarkan kue kepada bibinya.  Makoto mengendarai sepedanya.  Saat lampu menandakan kereta akan lewat, Makoto tidak bisa menggunakan rem sepedanya.  Ia menabrak portal dan terlempar.  Tiba-tiba, ia kembali ke beberapa menit sebelum menabrak portal kereta.  Makoto yang bingung langsung berbicara kepada bibinya mengenai apa yang terjadi.  Bibi Makoto mengatakan bahwa Makoto mempunyai kemampuan untuk kembali ke waktu.

Makoto pun terus berusaha untuk menemukan cara kembali ke masa lalu.  Ternyata untuk kembali ke masa lalu, Makoto harus melakukan sebuah loncatan atau putaran.  Makoto menggunakan kekuatannya untuk hal-hal ringan seperti tidak terlambat, karaoke berulang kali, membaca arah bola baseball, dsb.  Namun ketika nyawa salah satu teman Makoto terancam, sisa kemampuan Makoto hanya satu.

primeedges.wordpress.com

I'm not a big fan of Japanese animation and manga.  Gue kalau nonton anime gak rajin-rajin amat dan baca manga secara random.  Entahlah, mungkin karena gue juga bukan penggemar berat film-film sci-fi dan fantasi gak jelas ataupun komik shojo dengan cerita romance yang membosankan.  Apalagi animasi Jepang itu rough at the edge, gak 'sebersih' animasi USA.  Tapi akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama film animasi Jepang (bukan yang seri).  The Girl who Leapt Through Time tidak mempunyai animasi yang seindah Ghibli ataupun yang dibuat Makoto Shinkai, tapi....  

I LOVE THE GIRL WHO LEAPT THROUGH TIME.

Alur cerita yang ditawarkan film ini sama sekali gak original atau unik, tapi Mamoru Hosada dan Satoko Okudera dapat mengemas keseluruhan film secara baik.  Ada komedi, romance, dan sci-fi, meskipun  sci-fi film ini gak akan membuat lo jedot-jedotin kepala ke tembok kayak Inception ato The Matrix.  Salah satu pengguna youtube mengatakan bahwa komedi di film ini bukan jenis komedi yang bakalan bikin lo ngakak, tapi gue ngakak nonton film ini.  Bahkan gue tetap ngakak waktu kedua kalinya gue nonton film ini. 

Gue suka semua tiga tokoh utama film ini karena mereka gak punya sifat yang benar-benar menonjol untuk dimasukkan ke sebuah stereotipe.  

theonlineanimestore.blogspot.com

Mungkin awalnya Makoto terlihat sebagai one-of-those-clumsy-and-cutesy-Korean-drama-heroines, tapi ternyata tidak.  Dia memang ceroboh, tapi bukan jenis ceroboh yang membuat lo jijik.  Ketika dia sedang ceroboh, dia tidak melebarkan matanya, menggigit bibirnya, dan hal-hal klise seperti itu.  Dia juga bukan tokoh yang totally idiot.  Makoto masih mempunyai akal sehat yang kuat untuk menangkap dan memahami beberapa hal.  Plus, rambutnya pendek dan ia bisa bermain baseball.  Ia juga tidak popular ataupun seorang outcast.  Cuma satu yang gue gak suka dari Makoto: gue gak suka cara nangisnya dia, secara visual maupun audio.  Suaranya cempreng aja kalau lagi nangis.  Tapi secara keseluruhan, voice actor yang mengisi suara Makoto bagus kok.  Dia cukup ekspresif ketika mengisi suara. 

At first, I thought Chiaki Mamiya was another carbon-copy of Usui from Maid-sama.  Untungnya gue salah.  Chiaki Mamiya bukanlah Gary Sue, which means he's not perfect.  Dia memang memiliki penggemar, tapi bukan berarti seluruh perempuan memuja dan mendewakan Chiaki.  Yang lebih mirip Gary Sue justru Kosuke.  Dia pintar, cukup atletis, tidak pernah telat, bahkan memiliki penggemar seperti Chiaki *walaupun gak seheboh Usui*.  But I know he's not Gary Sue from his appearance.  Bajunya gak rapi dan kupingnya Kosuke punya semacam anting atau tindikan.  Kepintarannya juga bukan jenis pintar yang kayak Einsten.  The point is, all of them are normal teenagers.   

Di film romance, biasanya kalau ada persahabatan yang melibatkan tiga orang akan ada the other guy/girl dan atau cinta segitiga yang memuakkan.  The other guy/girl bisa berarti cewek atau cowok yang cintanya tidak dibalas atau teman yang menjadi tidak relevan.  Gue rasa hal ini tidak terjadi di The Girl who Leapt Through Time.  Baik Satoko maupun Mamoru melakukan usaha yang bagus dalam membuat seluruh tiga tokoh utama tetap menjadi tokoh utama.  Ketika Makoto bingung mengenai perasaanya kepada salah satu temannya, Satoko Okodera memberikan kita momen-momen antara Makoto dengan 'the other guy'.  Bahkan 'the other guy' ini malah mengantarkan penonton pada twist film The Girl who Leapt Through Time.  Gue sampai bingung mau ngeship Makoto sama Kosuke atau Chiaki.  Tapi sayangnya, hanya Makoto yang mempelajari sesuatu di film ini.  Chiaki dan Kosuke tidak bertambah dewasa di film ini.  But at least they still have characters.         

The Girl Who Leapt Through Time doesn't have fresh, original, or mind-provoking plot, but at least the plot is still good, even we can learn something from this film.  If you expect anything like Akira or Spirited Away, I don't recommend this film for you.  But if you expect above-average entertainment, then I recommend this film for you.  8,7/10      

    

Selasa, 27 Mei 2014

Garden of Words (Kotonoha no Niwa)

pic cr: tube.hk
Makoto Shinkai merupakan seorang animator Jepang yang disebut-sebut sebagai The New Miyazaki walaupun Shinkai sendiri menganggap pernyataan itu sebagai overstatementGue jadi kepo karena gue pengen tahu apa yang membuat dia bisa disetarakan dengan Hayao Miyazaki.  Jujur, walaupun 5 centimeters per second benar-benar mempengaruhi pikiran dan perasaan gue, I don't really think it's an awesome film, or even in the same level with Spirited Away.  Tapi gue mau 'memberikan kesempatan kedua' pada Shinkai lewat film Garden of Words (2013)

Takao (Miyu Irino) selalu membolos jam pertama sekolah jika pagi itu hujan.  Ia pergi ke sebuah taman dan mendesain sepatu.  Disana, ia bertemu dengan seorang wanita (Kana Hanazawa) yang suka minum bir dan cokelat di taman itu.  Akhirnya mereka selalu bertemu di taman itu ketika hujan di pagi hari.  Pertemuan-pertemuan itu membuat mereka nyaman satu sama lain walaupun mereka tidak tahu sama lain.  

Lama-kelamaan, musim hujan berakhir.  Mereka selalu menunggu hujan agar dapat menemukan alasan untuk pergi ke taman tersebut.  Suatu hari, Takao dan wanita itu berpapasan di sekolah Takao.  Ternyata wanita itu adalah Ms. Yukari Yukino, salah satu guru di sekolah Takao.

WARNING: ADA SPOILER

pic cr: leap250.wordpress.com

I still don't understand why people compare Shinkai with Miyazaki.  Both of them are good with what they do, but they certainly have different styles.  Jika Miyazaki bagaikan David Lynch atau Stanley Kubrick yang punya sentuhan surealisme dan plotnya agak berat, maka Shinkai merupakan one of those artsy-indie-modern arthouse's directors.  Get it?  In some way, harus gue akuin kalau gaya animasinya Shinkai lebih keren daripada Miyazaki.  Pewarnaannya bagus banget, gambarnya lebih smooth, dan sudut pengambilan gambarnya super keren.  Bahkan terkadang terasa seperti film live action.  Tapi kalau soal cerita?  Gue tetap milih Miyazaki.

Gue merasa bingung setelah nonton film ini, terutama karena gue ngerti apa yang ingin disampaikan Shinkai lewat film ini.  Atau mungkin Shinkai tidak ingin menyampaikan apa-apa dan sekedar membuat cerita tentang dua orang?  Entahlah, tapi gue rasa Garden of Words bukanlah jenis film pretensius yang mencoba untuk menjelaskan kehebatan cinta atau 'action speaks louder than word' seperti kebanyakan film arthouse bisu gak jelas.  Film "Garden of Words" memang terlihat realistis dan menceritakan slice of life, tapi ada bagian yang gak 'sreg' dengan kehidupan nyata.  Berdasarkan pengalaman hidup selama 15,5 tahun, gue sadar bahwa seseorang bisa nyaman dengan seorang lainnya jika mereka saling berbicara.  Karena lewat berbicara mereka akan sadar apa yang cocok dan tidak cocok di antara mereka.  Bukan berarti orang yang akrab harus selalu berbicara satu sama lain, tapi kalau dua atau lebih orang akrab dan merasa nyaman satu sama lain, mereka pasti sudah melewati fase itu.  Di film "Garden of Words", Takao dan Yukino belum melewati fase itu.  Hell, mereka bahkan gak tahu nama satu sama lain sebelum mereka berpapasan di sekolah Takao.  Bahkan terkadang Takao merasa komunikasi mereka 'satu arah' karena Yukino hampir tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Takao.  So, bagaimana bisa Takao jatuh cinta pada Yukino dan bagaimana bisa Takao menyelamatkan Yukino?

pic cr: anbient.net

Menjelang akhir film, Takao menyatakan cintanya pada Yukino.  Gue berasumsi bahwa Takao hanya berpikir ia mencintai Yukino.  Ia tidak benar-benar mencintainya.  Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa benar-benar mengenal orang itu?  Ia bahkan tidak pernah bertanya nama Yukino.  Takao is charmed by Yukino to the point he thinks he's in love with Yukino.  Anyway, respon Yukino terhadap pernyataan cinta Takao sepertinya tidak seperti yang diharapkan oleh Takao.  Takao akhirnya pergi dari apartemen Yukino.  Lalu Yukino mengejarnya tapi Takao malah mengatakan bahwa ia membenci Yukino dan menuangkan kefrustasiannya pada Yukino.  Lalu Yukino memeluknya dan mengatakan bahwa Takao menyelamatkannya.  Mungkin kebanyakan penonton berpikir bahwa setidaknya Yukino dan Takao punya 'harapan' dan tidak berakhir tragis seperti Akari dan Takaki di film 5 centimeters per second.  Sebaliknya, gue menangkap bagaimana perasaan dan kata-kata orang bisa berubah.  Seperti Takao yang mengatakan cinta lalu -tidak sampai satu jam- mengatakan benci.

Kita tahu bahwa Takao dan Yukino selalu bertemu di sebuah taman jika hujan turun di pagi hari.  Apakah mereka benar-benar menyukai hujan atau mereka hanya menggunakan hujan sebagai alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata?  Gue menginterpretasikan taman yang mereka kunjungi sebagai dunia khayalan mereka.  Dimana mereka bisa lepas dari segala tekanan sekaligus mendapatkan teman.  They are so overwhelmed by their little worlds in the garden sampai mereka gak pernah nanya nama masing-masing ataupun berpikir jika salah satu di antara mereka itu psikopat, pencuri, dll.  Ketika hujan tak kunjung datang, akhirnya mereka pergi ke taman itu walaupun hanya sekali-dua kali.

Gue bingung apakah Shinkai ingin menunjukkan sisi realistis kehidupan atau ilusi yang dialami manusia lewat Kotonoha no Niwa.  Jika Shinkai memang ingin menyampaikan sesuatu lewat film ini, gue rasa pesan itu kurang jelas atau terlalu subtle.  Kotonoha no Niwa hanya menunjukan bahwa Makoto Shinkai pantas disejajarkan oleh Hayao Miyazaki dalam bidang visual, bukan cerita.  6/10 

P.S: Soal soundtrack, gue lebih suka 5 centimeters per second.

          

Kamis, 22 Mei 2014

Cinema Paradiso #8: Artikel Sok Angsty dan Melankolis Tentang "5 Centimeters per Second"

Pic cr: sepasangkata.wordpress.com

Biasanya, kalau gue mau ngomong tentang satu film, gue bakal review film itu dan nilai aspek efek, sinematografi, akting, plot, dsb.  Lalu, gue bakal menentukan nilai film itu.  Well, hal-hal itu tadinya akan gue lakukan untuk film 5 centimeters per second.  But in the end, gue memutuskan untuk bacot tentang perasaan dan pemikiran gue setelah menonton film itu.

THERE'S F**KIN SPOILER IN THIS POST!!!

Sebelum gue nonton film ini, cuma ada satu film yang benar-benar membuat gue berharap film itu berakhir bahagia, yaitu Never Let Me Go.  Hanya ada dua film yang membuat gue depresi berhari-hari setelah nonton film itu, yaitu Magnolia dan Blue Valentine.   5 Centimeters per Second masuk ke dua kategori tersebut.

Gue gak merasa langsung depresi setelah menontonnya.  Tapi gue membiarkan pikiran gue melayang-layang tentang film ini.  Kenapa?  Karena waktu gue mikirin film ini, terjadi kemacetan dalam proses boker gue.  

Lu mau tahu fakta super kocak?  Gue berharap nih film berakhir bahagia, tapi gue tahu gue bakal mencaci maki film ini kalau film ini dapet happy ending.  But I just can't stand the melancholy and bitterness in this film's ending!  I didn't even know why I feel so mad, depress, and angsty about the ending.  Bahkan perasaan yang gue rasakan lebih dari yang gue rasakan setelah menonton Never Let Me Go, Magnolia, ataupun Blue Valentine.  Gue juga udah banyak nonton film romance yang tidak berakhir bahagia seperti Annie Hall, (500) Days of Summer, Remains of the Day, dan tentu saja, Blue Valentine.  Lalu gue sadar bahwa gue benci ending-nya bukan karena Takaki dan Akari tidak bersama alias pacaran di akhir film.

Apa yang terjadi pada Takaki merupakan salah satu ketakutan gue.

Takaki tidak menggunakan kesempatan dan keberuntungannya sama sekali.  Pada kesempatan pertama, Takaki diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Akari.  Dia tidak menggunakan kesempatannya.  Selanjutnya, Takaki diberi kesempatan untuk melupakan Akari dan melanjutkan kehidupannya.  Tidak hanya sekedar melanjutkan kehidupannya, tapi ia juga diberi kesempatan untuk tidak merasakan kepahitan hidup dan kesepian.  Namun, Takaki malah terus memandang jauh dan mengharapkan sesuatu tanpa memperjuangkan hal itu.  Ia tidak melihat sekelilingnya dan berjuang untuk hal yang lebih mudah diperjuangkan.  And he lost the second chance.  Akibatnya dia harus hidup dalam a pool of (un)happiness.  Sama seperti ababil galau lainnya, dia susah move on dari orang yang dicintainya. 

Hal-hal itulah yang gue takutkan.  Gue takut suatu saat nanti hidup gue dipenuhi ketidakbahagiaan, what ifs, dan susah move on dari memori.  Inilah yang membuat 5 Centimeters per Second membuat gue lebih depresi daripada film Magnolia dan Blue Valentine.  

Bagaimana dengan nasib Akari?  Akari -sekilas- bisa hidup lebih baik daripada Takaki.  Dia memang juga tidak berani mengungkapkan perasaannya, tapi Akari berhasil membuka dirinya dan move on dari masa lalunya dengan Takaki.   

Pic cr: agilcahyap.wordpress.com

Betapa kontrasnya Takaki dan Akari, bukan?  Kita juga bisa melihat dari adegan crossrail mereka, dimana Takaki menunggu untuk melihat wajah Akari sementara Akari tidak menunggu Takaki.  Itu artinya hati Takaki masih saja menunggu Akari, sedangkan Akari sudah 'melepaskan' Takaki dan bertunangan dengan pria lain.

Salah satu blogger merasa marah bagaimana Takaki 'diperlakukan' secara tidak adil oleh sang penulis, karena hanya Takaki lah yang menderita di film ini.  Tadinya gue merasa marah juga karena alasan yang sama dengan blogger tadi.  Tapi pada akhirnya, Takaki memang 'pantas' mendapatkan 'hukuman' seperti itu.  Ia harus membayar harga yang mahal untuk kebutaannya dan kepengecutannya.  

Gue rasa -dalam hidup-, seseorang harus melakukan kesalahan agar orang lain belajar dan atau tidak mengulang dari kesalahan yang telah dilakukan.  Seandainya Takaki tidak melakukan kesalahan, apakah penonton akan belajar sesuatu dari film ini?  Seandainya film ini berakhir bahagia, apakah penonton akan menyadari sesuatu dari film ini?

Gue udah tahu jawaban dari dua pertanyaan tadi.  But I can't help to imagine that Takaki and Akari have a happy ending.