Tampilkan postingan dengan label 1990s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1990s. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2018

Thursday Movie Picks: Gangster


Hello readers! It's been a long time since I'm working on TMP. I've been busy and just not in the mood for writing but I know you do not come here to listen to my life story. Thursday Movie Picks is hosted by Wandering through the Shelves. For further details you can check here.

Without further a do, here are the movies I picked for this week's theme, Gangster.

Bonnie and Clyde (dir. Arthur Penn, 1967)


Bonnie Parker (Faye Dunaway) caught Clyde Barrow (Warren Beaty) trying to steal his mother's car. But charmed by him, she followed Clyde's world of robbing from small shops to bank. 

This is actually a romantic film that masqueraded itself as a gangster film. The focus of this story is how Bonnie and Clyde handled being chased by the police and the turbulence in their relationship. Bonnie and Clyde is a lovely film that is elevated by its two leads and their chemistry.

A Brighter Summer Day (dir. Edward Yang, 1991)

Xiao Si'r (Chang Chen) was forced to go to a school full of delinquents as his grades weren't enough to go to a better school. Later, he was caught between the feud of two gangs, Little Park Boys, children of civil servants, and 217s, children of military officers. His life was more complicated when Ming (Lisa Yang), the girlfriend of one of the leaders, came to his life.

A Brighter Summer Day is an exquisite realist film. Edward Yang built his protagonist's world carefully to lead us into a tragic climax. 


A Bittersweet Life (dir. Kim Jee Woon, 2005)

Kim Sun-woo (Lee Byung-hun) was assigned to keep an eye for his boss' girlfriend, Hee-soo (Shin Min-ah). He developed feelings for her, and decided to disobey his boss by sparing Hee-soo's life and a man she secretly dated behind Sun-woo's boss. His choice triggered a series of violence events for him.

A bittersweet life is filled with bittersweet music and stunning cinematography. Lee Byung-hun also gave an emotional performance and captured his character perfectly. There is this fluidity I can't explain that didn't make this film rigid.  


Bonus: Sunny (dir. Kang Hyung Chul, 2011)


Nami accidentally met an old high school friend, Chunhwa, in a hospital. They re-connected quickly. As Chunhwa's days numbered, she asked Nami to gather their old gang, Sunny. As she reminisced her past, she was taken back to her high school days in the middle of a political era in South Korea.

I was initially going to pick this over Bonnie and Clyde, but I fear that it will not fit the Gangster genre, lol. Although technically, if the definition of gangster is a group of people who do illegal things, this is a gangster movie. Sunny is (mostly) a feel good film that can make you cry, laugh, and looking back at your own teenage years.

Minggu, 07 Januari 2018

A Brighter Summer Day



A Brighter Summer Day (牯岭街少年杀人事件, Youngster Homocide Incident at Guling Street) merupakan film drama yang berlatar di Taiwan pada awal tahun 1960-an. Film Taiwan berdurasi 237 menit ini disutradari oleh Edward Yang dan dirilis pada tahun 1991. Film yang merupakan bagian dari Taiwan New Wave ini sebenarnya loosely based on a true event dan menggunakan sekitar 100 aktor amatir. 

Semuanya dimulai ketika Zhang Zhen, atau Xiao Si'r (Chang Chen) tidak berhasil masuk sekolah siang dan terpaksa masuk sekolah malam. Apa yang ditakutkan ayah S'ir terjadi - S'ir jadi bergaul dengan anak-anak 'nakal'. Daerah di sekitar S'ir dikuasai oleh dua gang, yaitu Little Park Boys dan 217. Little Park Boys merupakan gang dari keluarga pegawai sipil sementara gang 217 merupakan gang dari keluarga militer. Meskipun Si'r bukan anggota gang manapun, ia lebih dekat dengan Little Park Boys. 

Ketika Honey, ketua Little Park Boys, bersembunyi dari polisi, ia meninggalkan kekasihnya, Ming (Lisa Yang). Absennya 'pemilik' Ming memicu lebih banyak konflik antara kedua gang tersebut dan menyeret Si'r ke dalamnya.



There are so many things to be discussed and unpacked in this masterpiece by Edward Yang. But first of all, I have to apologize as I know nothing at all about Taiwanese culture, language, and history (except for Dau Ming Si lol). Padahal ketiga film ini krusial sekali untuk memahami A Brighter Summer Day lebih dalam. ketidakfasihan gue membuat ada beberapa hal yang gue miss seperti orangtua Si'r berbicara Shanghainese agar percakapan mereka tidak dipahami oleh anak-anak mereka yang berbicara bahasa Mandarin. Ada juga aspek seperti bagaimana American pop culture mempengaruhi kehidupan anak-anak muda di Taiwan pada zaman itu dan seberapa kontrasnya dengan rumah mereka yang secara fisik peninggalan Jepang namun didiami oleh mereka yang masih punya ikatan ke Mainland China. 

Uncertainty and Instability

Film ini dibuka dengan kekecewaan dan ketidakyakinan atas masa depan sang tokoh utama. Pembuka filmnya hampir exclusively menunjukkan Si'r dan ayahnya saja, bahkan tidak menunjukkan wajah guru Si'r. Lukisan ini seakan-akan menunjukkan bahwa situasi ini hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya. Selanjutnya kita mendengar daftar nama-nama siswa yang lulus masuk ke berbagai sekolah di Taiwan. Artinya keadaan ini sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya tapi juga oleh berbagai anak dan orangtua di Taiwan. Mungkin ini hanya aspek kecil tapi menurut gue Edward Yang dengan pintar menunjukkan bagaimana bahwa education is both personal and public problem. Kalau dipakai di konteks jaman sekarang, ketika kita membaca riset mengenai pendidikan, kita hanya melihat angka orang-orang, tapi kita tidak pernah tahu perasaan mereka dan apa yang mereka pikirkan. Adegan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bagian dari stastik itu adalah riil dan bukan sekedar angka saja. Sebaliknya untuk gue pribadi, adegan ini agak mengingatkan bagaimana gue merasa hanya gue yang stress untuk mendapat kursi di PTN, padahal bukan gue saja. Dan jikalau gue gagal, I would not be the only one. 

Ketidakyakinan dan ketidakstabilan yang dialami oleh S'ir dan keluarganya tidak hanya datang dari aspek pendidikan saja tapi juga dari fakta bahwa keluarga S'ir merupakan keluarga pendatang. Sang ayah yang terus memantau berita sepertinya menunggu adanya tanda yang memperbolehkan ia dan keluarganya untuk kembali ke Cina. 

Di awal film, penonton mendapatkan informasi bahwa munculnya gang anak muda (walaupun ada beberapa orang dewasa yang masih anggota gang) sangat dipengaruhi oleh kekalahan National Government terhadap kelompok komunis. Setelah gue browsing sedikit, di era 60an, Taiwan masih mengalami berbagai konflik dengan RRC, apalagi Cold War belum berakhir di era tersebut. 



Sociopoliticalish and pieces of gender problem (don't expect much tho)

Setelah melihat keadaan Taiwan di era awal 60an, menjadi wajar sekali bagaimana anak-anak tersebut 'dekat' dengan kekerasan. Kekerasan merupakan hal yang wajar, bisa dilihat bagaimana ada seorang laki-laki dewasa yang dengan gamblang mengekspresikan kepuasannya ketika ia membantai orang-orang komunis. Bahkan berita seorang guru yang dipukul dengan baseball bat sudah seperti gosip pasar, walaupun memang masih dipandang secara buruk dan sekolah masih berusaha untuk mencegah timbulnya kekerasan lebih lanjut. S'ir pun tidak menjadi traumatis ketika ia melihat seseorang yang sekarat karena diserang oleh pedang.

Beberapa keluarga di Taiwan tinggal di rumah bekas orang Jepang. Beberapa barang mereka ditinggal di loteng rumah tersebut. Barang-barang yang ditinggalkan termasuk senjata, dan ditemukan oleh beberapa teman Si'r. At one point, bahkan mereka tidak segan menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah pun tidak imun dari kekerasan dan alat senjata. Their parents either don't know or don't care. 

Selain kental dengan casual and not-so-casual violence, film ini juga menghadirkan casual sexism. Salah satu contohnya adalah bagaimana Ming tidak diperlakukan sebagai mahluk mempunyai agency atau otoritas atas dirinya, tapi sebagai barang yang bisa dimiliki. Hal ini terlihat bagaimana adanya sekolompok laki-laki yang memperingatkan S'ir bahwa Ming adalah "our girl" dan bagaimana Little Park Boys bersikap lebih ofensif kepada Si'r ketika mereka memergoki Si'r dan Ming berduaan, seakan-akan mereka tidak bisa berpikir bahwa Ming juga memilih untuk bersama Si'r, atau mempunyai hak untuk memilih dan berpikir. Selain Ming, ibu Si'r juga mendapatkan kata-kata dari suaminya yang menyiratkan pengetahuannya tidak sebanyak suaminya karena ia perempuan, terutama dalam masalah pertemanan antar pria. Meskipun ini tidak menjustifikasi seksisme kasual yang dialami oleh Ming dan tokoh perempuan lainnya di film ini, penonton bisa mengerti bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. 

Also, I doubt the accesible porn helps men to really understand women. I could be reaching too high, but I think the few mention of porn here and there build a subtle bridge for the final act. Many men love porn, especially the one's that full of sexy girls. Ironically, they usually hate girls who date and have sex too much (according to their personal measure lol). Hal ini pun terjadi di film ini. 

Jadi jelas bahwa anak-anak tersebut mempunyai certain ideals or fantasies about violence, glory, relationship, women, etc. Sayangnya baik orangtua maupun sekolah gagal memberikan koreksi atau perbaikan atas ide dan fantasi tersebut. They lack a mature guidance outside school and house. Ini tidak hanya disebabkan oleh orangtua mereka yang sibuk bekerja dan perang yang terjadi, tapi juga indifference and prejudice terhadap hal-hal yang lebih modern dan atau bersifat asing. Bagian ini diperlihatkan lewat ayah Si'r yang mempertahankan suatu radio tua dan nilai-nilainya yang kaku, dan bagaimana guru Si'r menjelaskan bagaimana huruf Cina lebih superior daripada alfabet Latin.

Misc

I just love the techniques Edward Yang used for this film. The lack of camera movement (which seems influenced by Yasujiro Ozu) fascinates me in inexplicable way.  Dan jika benar Yang dipengaruhi oleh Ozu, menurut gue lucu dan pintar. Lucu karena dari sisi musik, film ini justru lebih kaya akan lagu-lagu populer Barat (selain lagu-lagu tersebut, film ini tidak menggunakan musik, which fits perfectly with the realism of this film). Pintar karena kalau gue lihat sekilas filmografi Ozu yang lumayan banyak ambil adegan di dalam rumah sementara rumah-rumah di film ini merupakan rumah bekas Jepang. Selain itu ada beberapa adegan yang menggunakan gaya frame within frame yang membuat gue merasa tidak hanya menonton film tapi juga melihat kejadian historis dan mengintip kehidupan pribadi tokoh-tokohnya. Also the actors were so great, it would be hard to guess who's amateur and who's not.

Conclusion

I would like this film better if it was shorter. However, I myself think all of the scenes are important to build Si'r's world. Harus gue akuin ada beberapa saat dimana gue merasa agak bosan, tapi itu tidak sampai membuat gue ingin mengskip atau mempercepat adegan tersebut. A Brighter Summer Day tidak hanya film yang cantik dengan teknik yang menarik atau brilliant, but it can suck you to its world. 9/10 (Amazing)




Untuk review yang lebih berbobot dalam bahasa Inggris: https://www.criterion.com/current/posts/3981-a-brighter-summer-day-coming-of-age-in-taipei

Rabu, 21 September 2016

Comrades: Almost a Love Story


hancinema.net
Sekitar seminggu yang lalu, gue datang ke pemutaran film yang diadakan oleh Jakarta Cinema Club (JACk) di Paviliun 28. Gue datang kesitu karena gue tertarik dengan tema yang diadakan bulan ini, yaitu Hong Kong Second Wave. Karena pengetahuan gue tentang hal terebut masih kecil, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa Hong Kong Second Wave didominasi oleh Wong Kar Wai, sedangkan dari segi aktor didominasi oleh Maggie Cheung dan Tony Leung. Gaya cerita dan filmnya pun beda dari Hong Kong First Wave, dimana First Wave lebih mengutamakan style ketimbang substance, Second Wave lebih banyak eksperimen dan ceritanya lebih relate ke kehidupan nyata. Kalau dari First Wave, film paling terkenalnya mungkin A Better Tomorrow karya John Woo, gue gak tahu Police Story itu film Cina atau film Hong Kong. Anyway, karena gue gak mau kelihatan bego di diskusi film tersebut, gue memutuskan untuk nonton film Hong Kong Second Wave yang bukan dibuat oleh WKW. Tadinya gue bingung antara Rouge sama nih film, tapi nih film ada Maggie Cheung, hehe.

Jun (Leon Lai) merupakan pria desa sederhana dari Wushi, Cina, yang pergi ke Hong Kong untuk mengadu nasibnya. Meskipun ia harus segera bekerja keras di sebuah tempat asing yang orang-orangnya keras dan cepat, ia tidak lupa untuk tetap berhubungan dengan kekasihnya di desa. Suatu hari, ia memutuskan untuk makan siang di McDonalds karena di desanya tidak ada restoran cepat saji. Disana ia bertemu dengan Qiao Li (Maggie Cheung), seseorang yang dapat mengerti bahasa yang Jun gunakan selain bibinya. Mereka bertambah dekat sejak Qiao Li mengantarkannya ke sebuah tempat les bahasa Inggris dan memberikannya pekerjaan part-time. Sejak Qiao Li mengaku bahwa ia juga berasal dari Cina, mereka bisa berbagi rasa rindu terhadap rumah dengan lega.



A relateable cliche romantic film

Salah satu alasan gue untuk tidak langsung menonton film ini meskipun udah download lama adalah gue takut film ini cuma film romance klise sampah. Fortunately, Comrades: Almost a Love Story punya nilai lebih.

Film yang disutradarai oleh Peter Chan dan ditulis oleh Ivy Ho agak mengingatkan gue pada film AADC yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Dua film ini memang klise, tapi mereka sangat memperhatikan detail dalam pembangunan realita dan dunia tokoh-tokohnya, terutama dalam bagian latar tempat dan pop culture yang sedang tren, bahkan secuil politik. Apa yang gue maksud dalam "pembangunan realita"? Contohnya, dari film ini gue bisa belajar lagu-lagu Teresa Teng yang terkenal yang mana saja dan bagaimana kematiannya membawa impact oleh orang-orang Cina, terutama orang Cina diluar mainland. That's what makes those films as timeless for some people, because we can look back at them and relate to the place and the trend. 

Karena gue belum belajar sejarah Hong Kong dan Cina, gue tidak bisa komentar mengenai unsur politik Hong Kong-Cina yang ada di film ini, atau membenarkan bahwa banyak orang Cina yang berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 90an. For your information, this film was banned in China until 2015. Untungnya, hal tersebut tidak menghentikan gue untuk bisa relate kepada situasi yang dihadapi oleh Jun dan Qiao Li. Gue bisa relate suatu perasaan campur aduk dimana gue excited untuk mengeksplorasi suatu tempat yang jauh dari rumah gue tapi ada saja sesuatu yang mengingatkan gue pada rumah dan membuat gue homesick. Anyway, lucu juga sih gue baru nonton film ini setelah gue kuliah di luar Jakarta, my hometown. Seandainya gue nonton nih film pas SMA, mungkin gue kurang bisa relate ke film ini, haha.

Selain unsur homesickness, gue suka bagaimana paruh pertama film ini melukiskan kehidupan kelas pekerja yang boleh dibilang tidak terlalu miskin. Kalau mereka terlalu miskin, yang ada nih film bakalan jadi telenovela atau sinetron dah. In my opinion, lukisan tersebut cukup sederhana dan hanya mengandung sedikit unsur dramatisasi. Tidak ada adegan orang kaya yang menghardik pelayan, pelayan disiram air minum, dll. Bagian favorit gue adalah ketika Qiao Li dan Jun berusaha untuk menjual sesuatu namun dagangan mereka tidak laku. Jujur, gue cukup terkejut film ini menunjukkan kegagalan di awal film dan tanpa unsur dramatisasi. Yes, failure sucks and sometimes we think it's the end of our world, but in the end, some of us live our life and move on from our failure. Maksud gue, terlalu banyak film yang menggunakan failure sebagai suatu turning point atau suatu akhir, walaupun sebenarnya experiencing failure is normal and most often we move on from it. Bagian tersebut tidak hanya mengajarkan kegagalan sebagai sesuatu yang normal, tapi kegagalan juga bisa terjadi di saat kita sedang sangat optimis.



Unfortunately, the films is ruined by its second half

Sayang sekali film ini ada "tapi".

Gue percaya Comrades: Almost a Love Story akan berakhir indah, gue akan puas, dan gue akan langsung memberitahukan dunia stop watching Wong Kar Wai and just watch this film instead. Well, folks, reality doesn't work that way.

Setelah disuguhi oleh pembangunan realita dan chemistry yang sangat apik, sepertinya Peter Chan dan Ivy Ho kehabisan trik dari tas mereka. Basically, the second half of the movie is fueled by endless drama. Bukan drama macam Happy Together atau There Will be Blood, tapi drama yang sekelas sama sinetron dan telenovela. Just name a cliche trope and I bet you it will appear in the second half. Masih mending drama ini juga diikuti oleh penyisipan pop culture yang solid seperti di paruh pertama, tapi sayangnya Chan dan Ho sudah peduli setan dengan hal tersebut dan berusaha untuk mengisi sisa durasi dengan terburu-buru.


*SPOILER*










Gue rasa akhirnya sangat tidak realistis karena Qiao dan Jun punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi mereka selalu dihalangi sesuatu. Like, I just pissed off that they never get to see each other for petty things, then suddenly the just see each other by chance? What a bullshit. It doesn't even have a sense of ambiguity like the end of Norwegian Wood (novel). No, it's just straight up a shitty and cliche happy ending.

Edited: Tapi setelah gue pikir-pikir, gue juga suka ending klise kayak gitu. Makes my heart giddy.

*SPOILER ENDS*









A beautiful love song to Teresa Teng

Salah satu hal yang harus diapresiasi adalah bagaimana Teresa Teng menjadi sub-substance Comrades tanpa menganggu keseimbangan film ini. This film celebrates Teresa Teng's magnificent career without turning it into a mini-documentary of her. Gue juga jadi suka dengerin lagu-lagu Teresa Teng yang muncul di film ini, haha.

Kalau masih ada yang bingung apa gunanya seni dan seniman, kalian harus nonton film ini. Film ini dengan pintar memperlihatkan bahwa seni pop, walaupun dangkal, bisa menjadi penyatu manusia dan memberikan sense of home bagi orang yang berada jauh dari rumah, terutama di tempat yang bahasanya beda dengan bahasa utama kita. Kebahagiaan terkadang bisa dicapai hanya mendengar lagu yang menggunakan our native language. 

By the way, two thumbs up for Leon Lai dan Maggie Cheung. Akting mereka tidak hanya bagus sebagai individu, tapi sebagai pasangan mereka punya chemistry yang solid.

Conclusion

Jangan berekspektasi sebuah sajian yang modern dan eksperimental bak Chungking Express dkk. Namun jangan langsung mencap film ini sama dengan film romantis cengeng lainnya. Hint: kalau lo suka Sleepless in Seattle dan melihat kehidupan kelas pekerja, then this film is for you! 8/10 (very good)



Selasa, 07 April 2015

Happy Together (春光乍洩)

movies.io
Gue bukan pengagum Wong Kar Wai. Gue lumayan suka In the mood for love, tapi sampai sekarang gue gak ngerti kenapa Chungking Express disebut sebagai film romance karena gue gak bisa merasakan romance dari film itu. But anyway, gue tetap membuka pikiran gue terhadap Wong.

Happy Together merupakan film romance tahun 1997 yang ditulis dan disutradarai oleh Wong Kar Wai. Sama seperti kebanyakan film Wong, film ini menceritakan tentang hubungan cinta yang tidak sempurna dan melankolis. Namun yang membuat Happy Together berbeda dengan film Wong lainnya, film ini bercerita tentang pasangan gay. Film ini mendapat sambutan yang positif, bahkan Wong memenangkan Best Director pada Cannes Film Festival. Meskipun judulnya Happy Together, film ini bukanlah film dengan nuansa happy.  

Let's start over. Hal itulah yang selalu dikatakan Ho Po Wing (Leslie Cheung) setiap kali ia ingin melanjutkan hubungannya (yang putus) dengan Lai Yiu Fai (Tony Leung). Meskipun sudah putus berkali-kali, Lai Yiu Fai tidak berdaya untuk menolak permintaan Ho Po Wing. Tidak lama setelah mereka berbaikan, mereka pergi ke Argentina untuk melihat air terjun Iguazu, air terjun yang terdapat pada lampu milik Po Wing. Namun Po Wing yang tidak suka dengan 'keribetan' malah meninggalkan Yu Fai sendirian di Argentina, dengan uang yang sedikit.

Yiu Fai berusaha bertahan hidup dengan bekerja di sebuah night club. Namun, sepertinya Po Wing tidak puas terhadap luka yang ia tinggalkan pada Yufai, karena ia mencium laki-laki lain di depan Yiu Fai. Yiu Fai pun hanya bisa diam terhadap kelakuan Po Wing. Tapi pada akhirnya Yiu Fai tetap menerima Po Wing ketika Po Wing muncul di depan apartemen Yiu Fai dalam keadaan babak belur.

pinterest.com
A Fanfiction-like film

Gue mulai curiga kalau salah satu tujuan Wong Kar Wai bikin nih film karena dia ingin menginspirasi cewek-cewek untuk menulis fanfic homo.

Happy Together adalah film yang perfect untuk seluruh fujoshi di dunia. Everything is in here. EVERYTHING. Sexual tension, angst, chemistry, romance, beautiful quotes, handsome guys, angst, angst, angst... Gila, gue yakin banyak fangirl gak bakal keberatan kalau Tony Leung dan Leslie Cheung diganti entah sama anggota boyband atau bromance dari franchise terkenal macam Sherlock-Watson, Kirk-Spock, Draco-Harry, dll.

Ceritanya tuh sebenarnya...

Cukup biasa. It's an everyday love story. Tidak ada twist ataupun hal yang sangat kontroversial. Tapi di sisi lain, hal yang menawan dari film Happy Together adalah cerita yang everyday love story (well, not exactly everyday). Happy Together tidak bercerita tentang usaha sepasang gay untuk diterima masyarakat, forbidden love story, perselingkuhan, perbedaan kelas sosial, penyakit, dan hal klise lainnya. Film ini justru bercerita tentang orang yang kesepian, egois, mencoba untuk move on, tidak sadar akan perasaan orang lain, haus akan cinta, dan membuat kesalahan. Gue rasa ini menyebabkan banyak orang akan lebih mudah untuk relate dengan film Happy Together dibandingkan film romance klise lainnya.  

Meskipun Yiu Fai dan Po Wing merupakan tokoh utama di film ini, Happy Together tidak pernah menjelaskan ke penonton apakah mereka pernah struggle dengan orientasi seksual mereka, atau apakah mereka takut dengan opini keluarga mereka dan masyarakat mengenai gay. Pandangan masyarakat tentang gay pun tidak diperlihatkan secara gamblang oleh Wong. Tapi ada kemungkinan Wong menyelipkannya secara subtle. Contohnya, salah satu teman kerja Yiu Fai bersikap indifferent terhadap kemungkinan bahwa kekasih Yiu Fai adalah laki-laki. Po Wing sendiri mencium laki-laki lain di tempat terbuka. Hal-hal kecil ini sepertinya mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada yang salah dengan orang mencintai orang lain dengan gender yang sama. Homoseksualitas bukanlah hal yang tabu atau memalukan.  

The characters

Salah satu hal yang gue suka dari film ini adalah baik Yiu Fai dan Po Wing sama-sama kotor, emosional, dan melankolis. Po Wing memang selalu yang pertama memutuskan pertalian di antara mereka, tapi itu tidak menjadikan Yiu Fai tanpa dosa. Yiu Fai sendiri sebenarnya selalu diberi kesempatan untuk pergi meninggalkan Yiu Fai. Seegois-egoisnya Po Wing, dia bukanlah mafia yang punya kekuatan besar untuk memaksa Yiu Fai.
 
Yiu Fai dan Po Wing bertolak belakang. Yiu Fai menginginkan kestabilan dan ia bersedia untuk 'berperang' supaya hubungannya dengan Po Wing lancar. Yiu Fai memang punya sisi spontaneous, tapi akhirnya dia adalah pria yang menghargai masa lalu dan keluarga. Meskipun ia masih sakit hati, keputusannya untuk Po Wing didorong rasa iba terhadap Po Wing, bukan karena kata hati atau personal code. Po Wing benar-benar spontaneous. Dia tidak punya suatu keinginan untuk stabil atau melakukan hal-hal mundane. Begitu dia merasa jenuh atau kesal, dia akan pergi dari 'perang', termasuk hubungannya dengan Yiu Fai. Dia sama sekali tidak peduli dengan keinginan dan perasaan orang lain. Bahkan ketika ia menangisi kepergian Yiu Fai pun itu hanya karena ia kesepian dan membutuhkan seseorang. Begitu dia menemukan seseorang yang tepat, ia tidak menangisi kepergian Yiu Fai.

youtube.com
 Di sisi lain, Yiu Fai dan Po Wing punya beberapa kesamaan. Mereka orang yang tidak takut untuk menyakiti dan disakiti satu sama lain. Mungkin memang ada sedikit perasaan takut untuk disakiti, tapi perasaan itu tidak diperlihatkan secara kuat. Ketika kebiasaan Po Wing marah karena ia merasa terikat oleh Yiu Fai, Yiu Fai tidak takut dengan amarah yang dikeluarkan Po Wing. Po Wing...well, Po Wing sudah jelas tidak punya rasa takut untuk menyakiti Yiu Fai, bahkan ia tahan diperlakukan dengan kasar setelah ia tinggal di apartemen Yiu Fai.

Chang (Chang Chen) merupakan perpaduan antara Yiu Fai dan Po Wing. Dia senang berkeliling dunia dan berpetualangan, tapi ia tidak melupakan keluarganya dan ia peka terhadap perasaan orang lain. Dia tidak bersikap menghakimi terhadap flaw yang ditunjukkan oleh Yiu Fai.

Technical stuffs

I don't know if it's just me, gue rasa Happy Together punya suasana yang...remang-remang. It's rarely sunny in Happy Together. Gue rasa itu melambangkan hubungan yang tidak pernah fully clear antara Yiu Fai dan Po Wing. Mereka tidak pernah punya hubungan yang stabil dalam jangka waktu yang lama. Pencahayaan yang dim juga bisa berarti bahwa kebahagian yang mereka capai tidak pernah tidak dibayangi-bayangi dengan abuse dan ego. Each of their opinions about their relationship never hits the bull because they never have a clear sight on their relationship. Yiu Fai tidak pernah sadar bahwa ia selalu kembali ke hubungan yang gagal dan Po Wing tidak pernah bersikap dewasa, karena mereka dibutakan oleh secuil kebahagiaan.

Efek hitam putih yang digunakan di film ini sepertinya melambangkan melankolisme dan nostalgia Yiu Fai.  Anyway, applause for Christopher Doyle for the wonderful cinematography.

As usual, lagu-lagu yang digunakan oleh Wong Kar Wai keren-keren semua. Gue personally sih suka lagu penutupnya, yaitu Happy Together oleh The Turtles. Lagu itu memberikan sesendok keceriaan setelah luapan angst di sepanjang film.

Tentu saja film Happy Together tidak akan menjadi film yang spektakuler tanpa Tony Leung dan Leslie Cheung. They convince me that they are one hundred percent gay. Apa yang mereka lakukan untuk meyakinkan gue bukan hanya sekedar ciuman. Namun, Wong tidak merendahkan martabat Happy Together dengan menjadikan film ini 11-12 dengan film porno.    

Leslie Cheung dan Tony Leung outstanding baik sebagai individu maupun pasangan. Tony Leung dengan luar biasa (an understatement) memerankan seseorang dengan watak yang agak reserved, tapi juga passionate dan bisa agresif. Tony Leung memang luar biasa, but Leslie Cheung tops the game. Leslie Cheung secara spektakuler memerankan orang yang flamboyan, childish, egois, tapi tidak takut untuk bermain otot. Dia juga bisa menunjukan dengan sangat baik (another understatement) momen ketika Po Wing lemah dan melankolis.   

Conclusion 

JUST FUCKIN' WATCH IT! 9,7/10

P.S: Kurang disarankan buat orang yang belum nyaman dengan adegan pasangan gay bermesraan. 

 

Sabtu, 19 Juli 2014

Chungking Express

I'm no different from a can of pineapple. -He Qiwu
reykissna.blogspot.com

Film Chungking Express merupakan film drama Hong Kong tahun 1994 yang disutradarai dan ditulis oleh Wong Kar Wai.  Film ini merupakan film pertama Wong Kar Wai yang gue tonton.  Film berdurasi 98 menit ini merupakan salah satu karya Wong yang terkenal. 

Chungking Express dibagi dalam dua segmen.  Pada segmen pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro) patah hati karena baru saja putus dengan pacarnya.  Ia bersumpah untuk memakan 30 kaleng nanas yang expired pada tanggal 1 Mei jika ia tidak mantan pacarnya tidak menerimanya kembali.  Di suatu bar, ia bertemu dengan seorang wanita misterius (Brigitte Lin) yang memakai wig pirang.  Wanita misterius itu merupakan seorang drug dealer yang ditipu oleh pekerjanya.  Untuk mengusir rasa kesepiannya, He Qiwu berusaha memikat si wanita misterius itu.

Pada segmen kedua, seorang polisi dengan nomor 663 (Tony Leung) berlangganan di suatu snack bar.  Salah satu pekerja snack bar, Faye (Faye Wong), merasa tertarik kepada polisi itu.  Polisi ini baru saja putus dengan pacarnya yang bekerja sebagai pramugari.  Si pramugari sempat menetipkan surat dan kunci apartemen mereka kepada paman Faye, yang juga bekerja sebagai bos.  Faye memutuskan untuk 'menghibur' si polisi dengan diam-diam membersihkan rumahnya dan memberikan suasana baru pada rumah si polisi.  Setiap kali si polisi datang ke rumah, Faye akan bersembunyi.

graffitiwithpunctuation.net
Beberapa orang mungkin memuji adegan pembuka film ini, but frankly, I don't like it.  Adegannya memusingkan dan bikin mata gue sakit.  Gue juga kurang ngerti apa yang ingin disampaikan Wong Kar Wai lewat teknik kamera seperti itu.  Mungkin adegan itu bersifat eksperimental?  Atau mungkin adegan itu melambangkan bagaimana manusia tidak mampu melihat beberapa hal dengan jelas?  Whatever that scene means, that scene made me dizzy.

At first, gue bingung maksud cerita Chungking Express itu apa.  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, cerita film ini simpel kok.  Menurut gue, Chungking Express agak mirip dengan Blue Velvet, karena ada beberapa orang yang gak ngerti cerita dua film ini, padahal kedua film ini ceritanya simpel.  Terkadang, beberapa penonton berpikir kejauhan padahal konsep filmnya simpel.  Cerita dari Chungking Express hanyalah dua polisi yang patah hati lalu menemukan seorang wanita.  


Tokoh yang diperankan Brigitte Lin langsung memikat gue.  Tokohnya Brigitte Lin mempunyai aura misterius dan karisma yang langsung menarik perhatian gue.  Tokoh yang diperankan Brigitte Lin pun juga tokoh yang paling dewasa dalam menghadapi masalahnya.  Ketika ia ditipu oleh pekerjanya, ia tidak melakukan aksi konyol seperti He Qiwu, ia tidak berbicara dengan boneka seperti polisi 663, ia juga tidak bersembunyi dari masalahnya seperti Faye.  Gue memprekdisikan Brigitte Lin sulit untuk mengekspresikan tokohnya karena ia menggunakan kacamata hitam di sepanjang film.  Namun, dia tetap berakting dengan bagus lewat monolog dan dialognya, serta bahasa tubuhnya.

Faye is one of those Manic Pixie Dream Girls.  Gue kurang suka tokoh-tokoh seperti itu, karena mereka terasa pretensius.  Bagi gue, Faye hanyalah boneka quirky.  Dia hanya menghias film ini tanpa tujuan dan sifat yang jelas.

criterion.com

Sedangkan polisi 663 dan He Qiwu layaknya Tom Hansen yang labil gara-gara ditinggal ceweknya.  Secara umum, polisi merupakan orang-orang yang telah melewati latihan untuk menjadi disiplin dan menyelesaikan masalah.  Namun reaksi kedua polisi dalam film ini tidak jauh berbeda dari orang-orang biasa yang sedang patah hati.  Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, orang sekuat apapun tidak bisa kabur dari efek patah hati.  Tidak semua patah hati membuat kita melakukan hal-hal konyol, tapi patah hati memang bisa membuat kita berantakan dan melakukan hal-hal konyol.

Gue gak mengerti mengapa beberapa orang menganggap Chungking Express sebagai film romance.  Tidak ada emosi atau gairah dalam konteks romance antara empat tokoh utama dalam film ini.  Di cerita pertama jelas He Qiwu hanya mencari wanita untuk menyingkirkan rasa kesepiannya.  Si wanita misterius juga bersikap acuh tak acuh pada He Qiwu.  Sedangkan hubungan antara Faye dan polisi 663 adalah hubungan yang gue sebut sebagai quirky relationship.  Memang ada ketertarikan antara Faye dan polisi 663, namun interaksi antara mereka terasa aneh bagi gue.  Faye mengekspresikan simpatinya pada polisi 663 dengan membersihkan rumahnya.  Namun polisi 663 kurang mengekspresikan perasaannya kepada Faye.  Malah dia masih dibayang-bayangi oleh mantan pacarnya. Selain itu, gue rasa aneh aja kalau lo lebih memilih untuk bersembunyi daripada menghabiskan waktu dengan orang yang lo suka.  Mungkin Faye terlalu malu untuk berinteraksi dengan polisi 663?  Menurut gue, kalau rasa suka lo atau cinta lo kepada seseorang memang kuat, pasti itu mengalahkan perasaan malu lo.  So, apapun yang ada di antara Faye dan polisi 663 hanyalah ketertarikan atau saling naksir.       

Gue suka banget lagu-lagu dari film ini.  Lagu yang paling ngena sih California Dreaming, yang merupakan lagu kesukaan Faye.  Gue juga suka Dreams, tapi lebih suka lagu aslinya yang dinyanyikan oleh The Cranberries.  Sebenarnya sih lagu Dreams yang asli dengan yang di-cover oleh Faye Wong sama persis, hanya beda bahasa.  Di film ini, Faye Wong menanyikan lagu Dreams dalam bahasa Cantonese.

Seperti yang gue tulis sebelumnya, Chungking Express menceritakan kedua polisi yang sedang patah hati lalu menemukan wanita yang mengalihkan mereka dari rasa sakit mereka.  Film ini tidak menceritakan berbagai konflik ataupun memperlihatkan orang-orang yang sedang jatuh cinta.  Chungking Express menceritakan bagaimana takdir atau pilihan-pilihan kita bisa mempertemukan kita dengan orang tertentu when we least expect it.  It's not as great as I expected, but I still recommend it for people who want to see a unique film.  7,5/10 

 

Rabu, 30 Oktober 2013

Titanic and Why I Love it Although it's a Bit Overrated

You jump, I jump, right? -Rose

My first favorite movie.  Jadi ingat gue dulu tergila-gila banget sama Kate and Leo, wkwk.  Dulu gue sampai bela-belain melek sampe jam 12 waktu SD cuma gara-gara nih film diputar di TV (belum punya DVD-nya).  DVD om gue aja gak pernah gue balikin, wkwk.

Titanic merupakan film pertama yang penghasilan kotornya mencapai 1 triliun dollar.  Di masanya, Titanic sering disebut-sebut sebagai film terbaik.  Sampai sekarang pun masih banyak orang yang mencintai film ini dan itu terbukti dari pendapatan re-relase Titanic, dalam format 3D.  Apa yang membuat Titanic begitu dikenang banyak orang dan membuatnya masuk dalam berbagai daftar film terbaik sepanjang masa?

Sebuah tim yang mencari "Heart of the Ocean" berhasil menemukan Titanic.  Sayang barang yang mereka cari tidak ditemukan dan hanya ada sebuah lukisan wanita yang memakai kalung itu.  Mereka memberitakannya dan seorang wanita tua bernama Rose mengaku bahwa dia adalah perempuan di lukisan itu.  Rose mendatangi tim itu dan menceritakan pengalamannya di Titanic.

Rose (Kate Winslet) mempunyai gairah yang besar dalam hidupnya.  Sayangna tunangannya, Cal Hockley (Billy Zane) dan ibunya (Frances Fisher) tidak pernah mengerti dirinya.  Ia merasa dirinya terjebak dengan pria yang tidak dicintainya.  Ketika ia mencoba untuk bunuh diri, ia malah bertemu dengan seorang pria bernama Jack (Leonardo DiCaprio).  Jack memang orang miskin, namun Jack adalah seorang seniman yang berpikiran luas.  Blablabla, Jack dan Rose jatuh cinta (dalam waktu kurang dari seminggu :p) dan bukan hanya orang-orang terdekat Rose yang menghalangi, tapi sebuah gunung es besar.


Gue pernah baca beberapa komentar yang bilang bahwa film ini overrated.  Jujur, gue belum bisa ngomong apakah gue setuju dengan pernyataan apakah Titanic overrated atau tidak.  Gue juga lihat beberapa komentar bahwa film ini tidak pantas mendapatkan piala Oscar kategori Best Picture.  Gue juga belum bisa menyatakan apakah gue setuju atau tidak.  Gue cuma tahu kalau masih banyak orang mengingat, menyukai, dan tertarik pada film Titanic.  Dan yang gue maksud banyak orang itu bukan cuma komentar-komentar di youtube, tapi penghasilan 1 triliun dollar dari re-relase-nya (3D).  Titanic mungkin overrated, tapi film itu jelas salah satu film yang susah dimakan waktu. 

Waktu gue SD, gue menganggap bahwa Titanic adalah film paling romantis di dunia ini.  Gak cuma itu, gue menganggap bahwa film ini merupakan film paling sempurna.  Tapi begitu gue nonton film ini di bioskop waktu gue SMP, gue baru sadar kalau plot film ini lemah.  Kalau dipikir-pikir, inti plot Titanic tuh old-fashion melodrama yang bercerita seorang wanita kaya yang terjebak dalam perjodohan yang tidak diinginkan lalu bertemu dengan seorang pria miskin yang berbeda dari pria yang pernah ditemuinya dan mereka jatuh cinta dalam waktu yang kurang dari seminggu lalu keadaan memaksa hanya salah satu dari mereka yang hidup dan sepanjang pertemuan mereka ditemukan beberapa quote kacangan.  Simpel kan?  

Sekarang sudah banyak orang yang menyadari itu.  Tapi kenapa film ini begitu digemari banyak orang?  Kenapa film ini tidak mendapat kritikan yang sangat tajam atau dingin?  Dan satu hal yang gue tangkap, orang sering komentar kalau plotnya cengeng atau James Cameron itu overratted, tapi mereka jarang banget nulis James Cameron itu sutradara yang jelek atau efek visualnya Titanic jelek.  

Titanic merupakan karya yang komersil, namun memiliki kualitas yang sangat bagus.  Seandainya Titanic tidak memiliki plot yang cheesy ataupun menyentuh, kesuksesannya tidak akan seperti sekarang.  Kebanyakan orang kurang tertarik dengan film disaster biasa, apalagi yang berbau historic karena biasanya memiliki plot yang 'kering'.  Tapi kalau film melodrama biasa, pasti langsung dicerca oleh kritikus.  Disini, keahlian teknik visual James Cameron menjadi 'pengalih'.  Keduanya bekerja sama untuk membuat suatu film yang bisa dinikmati masyarakat, tapi punya kualitas yang cukup bagus.  James Horner sendiri berhasil banget dalam menambah 'hidup' di film Titanic.


Apakah hanya tiga unsur itu yang membuat Titanic terkenal?  Nope.  Tentu saja kemampuan akting aktor-aktrisnya yang membuat film ini sangat sukses.  Salah satu hal yang gue perhatikan adalah orang jarang banget mengatakan bahwa kemampuan akting Leo dan Kate jelek banget di film ini.  Ataupun chemistry-nya.  Chemistry mereka memang masih agak jelek di adegan Rose hampir bunuh diri, tapi setelah adegan itu chemistry mereka kuat banget.  Tidak hanya sebagai pasangan, Kate dan Leo juga kuat sebagai individu.  Kate berhasil sekali berperan sebagai seorang gadis kaya yang angkuh, tapi mempunyai gairah dan keberanian yang besar.  Leo juga berhasil banget dalam membawakan perannya sebagai pelukis berpikiran luas dan menyukai petualangan, namun bisa menjadi cukup melankolis dan emosional hanya karena satu cewek.  Jangan lupakan Billy Zane yang menurut gue classic asshole banget.  Pokoknya aktingnya dia keren banget deh, dan gue gak nyangka waktu shooting dia sebenarnya botak, haha.  Aktor pembantu lainnya seperti Victor Garber, Kathy Bates, Frances Fisher, dan lainnya juga mampu memperlihatkan kemampuan mereka. Sangat jarang terjadi aktor pembantu mampu meninggalkan kesan dalam diri gue.  

Film Titanic sebenarnya lebih dari sebuah romance cengeng, karena terdapat sepotong nilai kemanusiaan, walaupun mungkin kecil.  Gue suka banget bagaimana Cameron menggambarkan bahwa harta, pride, dan segala hal yang manusiawi pada akhirnya akan hilang ketika kita mati, segalanya bisa terjadi karena manusia tidak bisa mengatur takdir atau alam, atau bagaimana manusia bisa menjadi 'tidak sopan' alias biadab dalam keadaan yang mendesak.  Intinya, film ini mengajarkan bahwa we are nothing without God.  Cameron juga tidak memasukkan nilai keagaaman yang kental, gue ingat Cal mengatakan, "Even God can't drown it (Titanic)", atau intinya seperti itu.  Tidak hanya itu, Cameron juga menggambarkan Titanic sebagai the unsinkable ship.  Ketika Titanic hancur dan tenggelam, gue langsung ingat dengan kedua hal itu.  Gue harap orang berpikir dua kali kalau mereka komentar bahwa Titanic hanya sebuah film romance cengeng.

Oh iya, gue kagum banget dengan Titanic karena banyak hal-hal iconic dari film ini.  Entah itu adegan, quote, lagu, bahkan sampe fashion.  Leonrdo DiCaprio mungkin sudah terkenal dari film Romeo + Juliet, tapi gue pikir tetap film Titanic yang membuat benar-benar terkenal dan booming.  

Maybe Titanic is overrated, but with James Cameron's genius and (clever) commercial mind, James Horner's beautiful music, amazing performance from all the cast, great chemistry from Leo and Kate, the morality in the plot, and Celine Dion's My Heart Will Go On at the credit, it certainly deserved the awards and those reasons explain why the movie is loved by so many people. 9/10


pic cr :
imdb.com
mondomoda.wordpress.com
paullee.com

 

Sabtu, 28 September 2013

Se7en / Seven (1995)

Ernest Hemmingway once wrote, "The world is a fine place and worth fighting for." I agree with the second part. -Det. William Somerset.

Err...ini bukan Se7en penyanyi Korea loooooh jayusamatgue  Gue kurang familiar dengan karya-karya David Fincher, bahkan gue belum nonton Fight Club, Zodiac, dan Girl with the Dragon Tattoo yangdvdnyaudahguebelidaritahunjebot  Anyway, gue hoki banget banget bisa nonton nih film.  Waktu gue nonton nih film gue lagi sakit.  Karena bosen, gue nyalain TV.  PAS BANGET gue nyalain TV tinggal 2 detik lagi dari film Se7en.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER!

Se7en adalah film misteri yang disutradari oleh David Fincher pada 1995.  Film ini dibintangi oleh Brad Pitt, Morgan Freeman, dan Gwyneth Paltrow, dan Kevin Spacey. Detektif William Sommerset (Morgan Freeman) sebenarnya akan segera pensiun.  Namun, Sommerset adalah salah satu detektif terbaik sehingga ia disuruh mengejarkan kasus yang sangat disturbing dimana korban memakan terlalu banyak makanan hingga perutnya pecah.  Ia ditugaskan bersama seorang detektif muda yaitu David Millis (Brad Pitt).  Ketika mereka tidak menemukan bukti kuat siapa pembunuh si pria gendut, seorang pengacara terbunuh dan lagi-lagi meninggalkan bukti-bukti rumit.  Investigasi yang mereka lakukan akhirnya mengarahkan mereka pada kesimpulan bahwa mereka sedang mencari seorang pembunuh berantai.  Pembunuh berantai ini membunuh berdasarkan seven deadly sins atau tujuh dosa mematikan : gluttony (rakus), greed (keserakahan), sloth (kemalasan), pride (kesombongan / harga diri), lust (nafsu seksual), envy (kecemburuan), dan wrath (kemarahan / kebencian yang besar).  Ternyata si pembunuh, John Doe (Kevin Spacey), mengejutkan mereka dengan menyerahkan diri ke kantor polisi.


Tidak jarang premis cerita yang menarik dieksekusi dengan buruk.  Untungnya hal itu tidak terjadi di Se7en.  Saya menyukai keseluruhan proses Se7en, namun saya merasa Se7en kurang mempunyai unsur kriminologi dalam penyelidikannya dan kurangnya 'percakapan pintar' (ini istilah ciptaan gue) dalam dialog-dialognya.  Mungkin karena saya berharap film ini mengandung unsur kriminologi yang kental dan mengasyikkan seperti Silence of the Lambs.  Dan musik iringan Howard Shore kurang menarik perhatian.
 
Opening sequence-nya sangat memikat dan menegangkan.  Sesaat saya mengira film ini akan menjadi tontonan yang penuh darah atau malah membuat saya 'tegang' karena sok menjadi film thriller.  Ternyata saya cukup salah.  Film ini tidak berdarah-darah (opini gue loooooh) ataupun sok memberikan ketegangan.  Sinematografi Darius Khondji yang gelap dan menawan diatur dengan apik oleh Fincher.  Film Seven sendiri memberikan segera kengerian dan kejijikan dari skrip Andrew Kevin Walker.  Andrew Kevin Walker berhasil memberikan sajian yang pintar, emosional, dan keji kepada penonton.  Saya tidak mengerti mengapa David Fincher (terlalu) dipuji-puji sedangkan Walker hampir tidak terdengar namanya.  Toh kekuatan film ini bukan hanya di visual, tapi di penulisan juga.  Inilah alasan saya bukan penggemar berat David Fincher dan Martin Scorsese, menurut saya mereka overrated.  Film mereka bukan apa-apa tanpa skenario yang jenius, tapi bukannya si penulis yang mendapat popularitas, malah sutradaranya saja.


Karakter yang dimainkan Brad Pitt begitu menyala-nyala dan ekspresif.  Dia memberikan kesan yang lebih kuat daripada Freeman.  Saya suka sekali melihat perubahan emosi yang diperlihatkan Brad Pitt.  Sedangkan Morgan Freeman yah...Morgan Freeman.  Saya tidak melihat sesuatu yang beda di film ini.  Karakternya itu-itu saja sehingga Morgan Freeman tidak memberikan kesan mendalam pada saya di film ini.  Gwyneth Paltrow hanyalah karakter tempelan dan Kevin Spacey tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilainya.  Saya kurang menyukai karakter Spacey.  Saya mengagumi John Doe (Spacey) karena ia unexpectedly menyerahkan dirinya ke kantor polisi.  Namun saya merasa ia terlalu narsis *bahkan lebih narsis daripada Lecter* dengan TERLALU berusaha mendapatkan perhatian.  Dia bagaikan anak manja yang cerewet dan caper, sedangkan Lecter mencari perhatian dengan kepribadiannya yang pintar, licik, dan berdarah dingin.  Dan seperti saya bilang, dia tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilai kemampuannya.

The so-called twist or shocking ending didn't shock me at all.  Saya sudah menebaknya dari pertengahan film.  Beneran loh, bukan paruh terakhir.  Saya merasa agak kecewa dengan ending-nya, walaupun si aktor sudah memberikan kemampuan akting yang terbaik. 

Film ini membuat saya berpikir tentang dosa-dosa yang dilakukan manusia.  Secara umum, kita tidak akan dipenjara jika Seven Deadly Sins yang kita lakukan tidak ada di undang-undang.  Maksud saya, kita menonton film bokep atau baca cerita bokep sebenarnya sudah melakukan tindakan lust, namun hal itu tidak melanggar hukum.  Apa yang harus kita lakukan ketika kita melihat orang melakukan dosa walaupun itu tidak melanggar hukum?  Membiarkannya?  Menghukumnya?  Dengan kita membiarkannya, kita sama saja telah melakukan sebuah dosa, namun siapakah kita yang berhak menghakimi atau menghukum orang padahal kita sendiri juga melakukan dosa, dan kemungkinan besar akan melakukan suatu dosa setelah kita menegur orang itu?

Overall, film Seven bukanlah film yang sempurna, namun Fincher, Walker, dan Pitt membuat film ini lebih menonjol dan unik daripada film misteri lainnya. 8,7/10

pic cr :
join4movies.com
moeatthemovies.com
andsoitbeginsfilms.com

 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Magnolia

The Goddamn regret! -Earl Partridge

Jujur aja, ini adalah film PT Anderson pertama yang gue tonton.  Dan gue nonton film ini di tahun 2013, wkwk-___-  Tapi saking jeniusnya PT Anderson, dia bisa membuat gue 'naksir' dia dan akhirnya memutuskan untuk beli DVD-nya The Master.  Kalau lo mau membuktikan diri lo beneran pecinta film, lo gak usah terintimidasi dengan durasi tiga jamnya.  Emang sih pendapat dan selera orang lain berbeda, tapi Magnolia mempunya sesuatu yang memberikan penontonnya sukses mengikuti film ini dalam tiga jam.  Sebelum nonton film ini, I had never really liked Tom Cruise.  Tapi penampilannya di film ini benar-benar mengubah pendapat gue tentang dia.  So, kalau lo masih berpikir Tom Cruise cuma jago jadi playboy ala Jerry Maguire atau agen kayak Ethan Hunt, mending lo nonton film ini dulu.

Sebenarnya agak susah untuk menceritakan plot Magnolia.  Magnolia menceritakan mosaik dari kehidupan sembilan orang di San Francisco.  Ada seorang mantan quiz kid (semacam anak jenius) bernama Donnie Smith (William H. Macy) yang hidupnya tidak menentu sejak ia tidak tampil di TV lagi.  Sekarang ada bocah bernama Stanley Spector (Jeremy Blackman) yang mencoba untuk mengalahkan rekor Donnie di acara "What Do Kids Now?".  Acara ini dipandu oleh Jimmy Gator (Philip Baker Hall) yang sedang melawan kanker.  Karena ia tahu dirinya sekarat, ia mencoba untuk berbaikan dengan putrinya, Claudia (Melora Walters) yang kecanduan narkoba.  Namun, tingkah Claudia yang aneh tetap membuat Jim (John C. Reily), seorang polisi yang baik & tekun, tetap tertarik dengan Claudia, sampai mengajaknya berkencan.  Tentu acara WDKN tidak akan ada tanpa seorang produser.  Acara WDKN diproduseri oleh Earl Patridge (Jason Robards) yang dirawat oleh Phil (Philip Seymour Hoffman).  Meskipun Earl dirawat oleh Phil, itu bukan berarti Linda (Julianne Moore), istri keduanya, tidak berkontribusi atau mengkhawatirkan Earl.  Tapi, pernikahan Earl dan Linda harus dibayar dengan menjauhnya Frank (Tom Cruise) putranya dari pernikahan pertama yang sekarang menjadi 'motivator' dengan slogan : Seduce and Destroy.

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


Jujur, gue speechless dan bingung apa yang harus gue tulis atau katakan.

Serius dah, ini salah satu film dengan skrip jenius yang pernah gue tonton.  Gue suka banget opening scene dan opening sequence-nya.  Bahkan dari awal PT Anderson udah memberikan gue alasan kenapa gue harus stay buat nonton film Magnolia selama tiga jam.  Gue bukan analis yang baik, jadi gue kurang bisa menginterpretasikan opening scene-nya.  Yang jelas, opening scene-nya berbicara tentang takdir dan kebetulan, sama seperti topik di film ini.  Opening sequence-nya juga ditata dengan sangat artistik dan diiringi oleh lagu One yang dinyanyikan Aimee Mann (adik ipar Sean Penn).  Gue pribadi sih lebih suka opening sequence-nya Magnolia dibandingkan Skyfall, hehe.  One is the loneliest number.

Ternyata kehebatan Aimee Mann tidak berhenti disitu.  Lagu selanjutnya adalah Momentum, yang akan terdengar ketika Jim ditugaskan ke rumah Claudia akan tetangganya mengeluhkan suara keras.  Sebenarnya lagu Wise Up di film ini dinyanyikan oleh karakter-karakter di film ini.  Gue kurang suka adegannya sih, karena menurut gue rada garing dan kacangan.  Tapi...bukan berarti lagunya jelek.  Lagunya bagus banget malah.  Setelah lagu Wise Up, Aimee Mann akan 'menghidangkan' lagu Save Me di bagian terakhir.  Ya ampun, itu lagu benar-benar nusuk hati gue.

But can you save me
Come on and save me
If you could save me
From the ranks of the freaks
Who suspect they could never love anyone


Yah, gue tahu sih gue kurang membahas soundtrack secara keseluruhan, tapi gue suka banget soundtrack-nya Magnolia yang udah kayak lukisan Picasso (?) alias modern, artful, beautiful.  


Gue juga suka banget sinematografinya.  Kadang-kadang ngambilnya mirip Martin Scorsese alias long take ngikutin si aktor.  Ada juga zoom in lambat.  Sumpah, zoom in lambat cocok banget buat Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Melora Walters, dan (surprisingly) Tom Cruise.  Toh kalau Philip Seymour Hoffman yang mendapat nominasi Oscar gue juga gak keberatan.  Sumpah, nangisnya Hoffman bagus banget.  Gue aja hampir nangis nontonnya (gue tipe yang susah nangis).  Sayang banget karakter yang diperankan Hoffman kurang mempunyai koneksi diluar keluarga Partridge, padahal penampilannya Hoffman bloody-brilliant pake banget.  Jarang loh aktor yang bisa bikin gue speechless dalam waktu singkat.  Sejauh ini cuma Jodie Foster (Taxi Driver), Anthony Hopkins (Silence of the Lambs), Javier Bardem (Skyfall), dan Helena Bonham-Carter (Harry Potter series) yang bisa kayak gitu.  

Kalau gue sih menduga nominasi jatuh ke Tom Cruise karena dia menunjukkan dua sisi disini.  Di satu sisi dia adalah orang yang PD banget dan bisa menghipnotis baik wanita maupun pria (pengikutnya) dan di sisi yang lain dia adalah orang yang pernah terluka.  Makanya sah juga kalau nominasi jatuh ke Cruise.  Julianne Moore?  Gue cuma bisa komen kalau juri Oscar bego banget gak pernah ngasih dia piala (dan nominasi buat film ini).  Tante Julianne emang udah terkenal di genre drama.  Yah, jangan lo pikir juga dia mainnya kayak pemain sinetron sini.  Rasa dramatiknya ada, tapi (somehow) masa lebih terasa berkelas dibandingkan sinetron.  Satu lagi yang SANGAT pantas dapat nominasi Oscar (yup, bahkan melebihi Moore) adalah Melora Walters.  Dia berhasil banget memerankan seseorang yang udah runtuh, udah berantakan.  Apalagi adegan 'date' antara dia dengan Jim yang menurut gue bloody-brilliant pake banget.  Gue suka bagaimana dia ingin membangun suatu ikatan dengan Jim, namun tidak bisa karena dia membenci dan takut dengan masa lalunya.  Dan gue pernah di posisi itu (tapi jelas masa lalunya beda-_-).  

Oh iya, belum lagi Jeremy Blackman.  Menurut gue sih masih kalah sama Jodie Foster (Taxi Driver) dan Danny Lloyd (The Shining), tapi tetep bagus banget.  Bagaimana cara Blackman memperlihatkan the aftermath seorang anak yang dipaksa menjadi dewasa dan akhirnya mencapai batasnya...sumpah, keren banget.  Gue juga suka bagaimana PT Anderson merancang adegan, skrip, dan dialognya.  After all, kids are KIDS.


Ada adegan yang sampai sekarang masih stuck di otak gue saking gue benar-benar speechless dan hampir nangis waktu nontonnya.  Jadi diawali oleh Earl yang curhat ke Phil.  Pokoknya dia sering ngomong gini : The Goddamn regret!  Somehow, cara dia natap dan ngomong itu tuh langsung nancep ke hati dan otak gue.  Jadi dia curhat kalau dia tahu istrinya itu tahu dia sering selingkuh.  Tapi dia tetap melakukannya.  Baru sekarang dia nyesal karena gak merawat istrinya dan seakan-akan menyerahkan tanggung jawab itu ke putranya yang baru berusia 14.  Terus ada juga quote yang menurut gue bagus banget : Life ain’t short it’s long, it’s long.  Intinya, waktu dia muda, dia termakan dengan perkataan orang kalau hidup tuh pendek.  Tapi ternyata ia malah hidup panjang dan menghabiskan sisa hidupnya dengan penyesalan.  Doh, gue cuma bisa mandang bengong saking terhipnotisnya dengan akting  Jason Robards dan monolog yang ditulis PT Anderson.

Walaupun gue cuma nulis beberapa orang, bukan berarti yang lainnya jelek.  Cuma penampilan mereka tuh meninggalkan kesan yang lebih mendalam aja dibandingkan yang lain.  Gue kurang tahu tentang John C. Reily, tapi setahu gue dia itu temannya Jack Black dan Will Ferell, jadi dia pasti langganan komedi atau semacam komedian bukan?  Tapi penampilannya hampir gak menunjukkan tanda-tanda komedian.  Pokoknya, Magnolia adalah salah satu film yang memiliki ensemble cast terbaik.

Gue suka banget tema-tema yang ada di film ini karena film ini membicarakan kesepian, penyesalan, kekerasan dalam keluarga, dan usaha untuk mencari kebahagiaan.  Dan karakter-karakternya bukanlah orang yang harus melakukan dosa besar atau di penjara seperti The Shawshank Redemption.  Itulah mengapa gue kurang suka dengan film-film seperti The Shawshank Redemption, karena banyak karakter yang melakukan dosa besar atau semacamnya.  Dan biasanya yang mereka cari adalah kedamaian batin dan pengampunan, jarang sekali rasa penyesalan itu mereka ekspresikan dengan mendalam.  Terkadang, hal itu membuat gue gak suka nontonnya karena akan terasa cukup ekstrim.  Toh tidak semua orang harus di penjara atau membunuh untuk merasakan suatu penyesalan.  Dan terkadang penyesalan itu dilebih-lebihkan.  Begitu juga kesepian yang sangat jarang dibahas secara mendalam di film.  Padahal kesepian lebih sering dirasakan ketimbang kekerasan dalam keluarga atau penyesalan berat.  Bukan cuma itu, gue masih gak tahu bagaimana Anderson menyusun mosaic ini dengan sangat indah dan menarik.

Ada salah satu kalimat yang membuat gue sempet bingung.  We have through the past, but the past hasn't through with us.  Kira-kira begitulah.  Kalau gue sih nangkepnya kayak plot film Oldboy.  Dimana Dae-su udah lupa dengan kakak penculiknya dan apa yang ia katakan tentang kakak penculiknya, tapi ternyata penculiknya balas dendam pada Dae-su karena apa yang ia katakan tentang kakaknya.  Maksudnya, mungkin lo lupa apa yang lo katakan, atau orang yang lo temui, tapi kalau lo mempunyai efek tertentu, mereka bisa tiba-tiba datang 'mengunjungi' lo.

Gue tuh gak suka film yang berbau agamis dan preachy.  Di tengah-tengah film gue sempet menduga bahwa PT Anderson akan memasukkan unsur Tuhan dan blablabla dengan cara yang klise.  Ternyata gak.  Anderson memang memasukkan unsur Tuhan dan agama, tapi dengan cara yang berbeda.  Mungkin beberapa penonton akan menontonnya dengan rasa jijik, tapi menurut gue pribadi 'itu' adalah salah satu adegan terindah yang pernah gue tonton. 

I don't know what to write anymore!  All I know that Magnolia is one of the best, beautiful, emotional, epic, modern, artful movie I've ever watched.  Maybe the there are too much actors and the story is quite complicated, but the three hours duration is really worth it! 9,8/10 

pic cr : 
punjenipaprikas.com
tehparadox.com
dbcover.com
hdbitz.org