Tampilkan postingan dengan label Period Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Period Drama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2020

Enola Holmes

 

pic credit to netflix
pic credit to Netflix

Enola Holmes merupakan adaptasi dari novel Nancy Springer, dan disutradarai oleh Harry Bradbeer. Film ini mengikuti Enola (Millie Bobby Brown) yang dibesarkan oleh ibunya, Eudoria (Helena Bonham-Carter). Eudoria mengajarkan Enola keahlian dan pelajaran yang tidak umum dipelajari wanita waktu itu, seperti bela diri dan sains. Suatu hari, ibunya memutuskan untuk meninggalkan Enola. Enola yang belum dewasa menjadi anak wali Mycroft (Sam Claflin), kakak dari Enola dan Sherlock (Henry Cavill). Enola memutuskan untuk kabur dan mencari ibunya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tewkesbury (Louis Partridge), seorang bangsawan yang lari dari keluarganya.


pic credit to Netflix


Okay, I just need this to get out of my chest first: Henry Cavill lebih ganteng di sini daripada di DCEU woy. Kalau kata adek gue: "Emang mana yang lebih ganteng, orang pake celana dalam di luar atau di dalem."


Kalau gue menebak ini mengambil latar belakang di Edwardian Era. Edwardian Era sendiri berjalan dari sekitar tahun 1901 hingga 1910, sebelum Perang Dunia I. Gerakan suffrage berkembang cukup pesat di era ini. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok suffragattes sebenarnya memuncak sekitar tahun 1914, di bawah rezim George V. Meskipun gerakan suffrage berkembang di akhir Victorian Era, wanita yang memiliki pendidikan tinggi seperti Eudoria dan Enola sudah ada sejak lama di Inggris, sebut saja Ada Lovelace dan Mary Shelley.


Mungkin ada beberapa penonton juga yang tidak percaya wanita di zaman itu bisa belajar olahraga bela diri. Justru di Edwardian Era lah para wanita belajar jiu-jitsu untuk melindungi wanita lain. Wanita yang menyebarkan jiu-jitsu kepada wanita lain adalah Edith Garrud, instruktur WSPU (Women's Social and Political Union). Enola Holmes juga memiliki tokoh bernama Edith yang diperankan oleh Susie Wokoma, seorang wanita kulit hitam. 


Gue agak kaget gak ada yang mempermasalahkan pemilihan casting Wokoma, mengingat ia jelas-jelas terinspirasi dari real person. Mungkin ini karena Garrud sendiri bukan tokoh feminis yang populer. Menampilkan tokoh kulit hitam di Edwardian Era mungkin terasa seperti usaha dangkal yang bagus untuk terlihat memiliki 'diverse cast'. Tapi itu juga bisa usaha untuk whitewashing the history. Benar, tidak seharusnya orang menganggap serius nuansa historis dari film fiksi. Tapi ini film yang kelompok demografisnya adalah anak muda who probably do not know any better. 


Gue juga tidak akan mempermasalahkan pilihan casting itu kalau Enola Homes fully for entertainment. Alas, mereka mencoba untuk preaching for social justice and why you should participate in it. Tingkat preachnya sampai level penulisnya menuliskan dialog yang spelling out the message. Seandainya mereka gak preachy, mungkin I will take the faults of the film less seriously.


Walaupun Jack Thorne selaku screenwriter bersusah payah untuk menjelaskan pesan film, ada aspek cerita dan tokoh yang mengkontradiksi pesan tersebut. Ada adegan di mana Edith called out on Sherlock's apolotical position. Edith menyatakan bahwa wajar Sherlock tidak tertarik untuk mengubah tatanan politik, karena ia tidak pernah dirugikan oleh politik. Gue pribadi setuju bahwa orang yang apolitik cenderung priveleged, dan tidak peduli politik sama sekali artinya apatis terhadap kehidupan orang lain. Edith bahkan dengan gamblang ngomong kalau Sherlock kayak burung unta yang ngumpetin kepalanya di bawah tanah.


Di sisi lain, Enola dengan keras kepala menolak untuk berkompromi dengan Mycroft. Ia menolak untuk bergaul dengan cewek yang seumuran dengan dia di sekolah. Enola hampir tidak mengubah pendiriannya, bahkan menyatakan bahwa dunia lah yang harusnya berubah. Lalu, film ditutup dengan Enola yang menyatakan, "My life is my own (...)". Enola's hard headedness can hinder social change too, in real life. Karena di kehidupan nyata orang harus belajar untuk berkompromi dan choose their battle wisely. Gue juga mikir dengan dia menolak untuk belajar di sekolah itu, kemungkinan dia malah membuang kesempatan untuk networking dan menyebarkan feminisme ke kaumnya sendiri. Pilihan dia untuk bersikeras terhadap pendiriannya jadi kontras dengan keputusannya dia untuk menyamar, bahkan ganti gender dan kelas, di sepanjang film.


Nilai-nilai feminisme di film ini juga jadi berkurang jika mengingat film ini seakan-akan membagi tokoh-tokoh wanitanya menjadi dua: progresif dan kuno. Di sisi progresif ada Edith, Eudoria, dan Enola. Di kelompok kuno ada wanita bangsawan, cewek-cewek di sekolah Enola, dan Miss Harrison (Fiona Shaw, yang jadi tantenya Harry Potter). Hampir gak ada wanita yang di tengah-tengah. Mungkin ada satu sih, penjaga kosannya Enola, yang oportunis. Mycroft is also over-villainized? Dia jadi konservatif dangkal yang tipikal. I would've liked it more if he had been a traditional centrist that can challenge Enola's thought. 


Overall, Enola Holmes is an entertaining movie with Millie Bobby Brown as a solid lead. It has a pretty cinematography and a nice flow. Unfortunately, its attempt to be political is weak and the message is contradictory. 6,5/10






Senin, 28 September 2020

The Devil All The Time


Istilah "manusia lebih jahat daripada setan" berlaku terhadap film ini. Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama oleh Donald Ray Pollock berlatar belakang di Ohio, Amerika, setelah Perang Dunia II. Film ini mengikuti Willard (Bill Skaarsgard), veteran PD II, yang jatuh cinta kepada Charlotte (Haley Bennet). Mereka mempunyai seorang putra bernama Arvin (Tom Holland). Tragedi mulai jatuh ketika Charlotte sakit. Willard yang desperate untuk menyelamatkan Charlotte, menjadi lebih fanatik lewat doa-doanya, bahkan mengorbankan anjing milik Arvin. Charlotte tetap mati dan Willard bunuh diri. Arvin dibantu oleh Sheriff Bodereck (Sebastian Stan) sebelum dikirim untuk tinggal bersama neneknya, pamannya, dan Lenora (Eliza Scanlen).


Lenora dan Arvin bonding sebagai sesama anak yatim piatu. Lenora dibully oleh anak SMA sekitar karena ketaatannya terhadap agamanya. Arvin hanya ikut ke gereja demi menyenangkan neneknya. Insecurity Lenora dieksploitasi oleh pendeta baru, Preston Teagardin (Robert Pattinson). Sementara itu, Sheriff Bodereck mempunyai kecurigaan terhadap kegiatan adiknya, Sandy (Riley Keough). Bodereck menemukan foto aneh di rumah Sandy dan suaminya, Carl (Jason Clarke).




The Devil All the Time merupakan ujian pertama Tom Holland dalam akting yang lebih serius. Tidak hanya akting serius, Holland juga harus belajar menggunakan aksen semi-southern. Berbeda tentu dengan Pattinson yang memang on the rise as a serious actor. Seluruh pameran berakting dengan bagus di film ini, gak ada yang bolong. I personally want to give extra shoutout to Eliza Scanlen, yang benar-benar menangkap kerelijiusan dan insekuritas Lenora. 


Mungkin sudah bisa ditebak bahwa film ini akan berbicara tentang agama, specifically Christianity. Film ini tidak menyerang agama Kristen, hanya mengkritik fanatisme keras pengikutnya. Namun, menurut gue kritikan tersebut kurang relevan, tidak baru, dan tidak berani. Fanatisme relijius di film ini berlatar belakang tahun 50an dan di daerah rural. Ini era di mana pendidikan tidak seaksesible sekarang dan tokoh-tokohnya tidak punya banyak kesempatan untuk menjelajah dunia. Tentu wajar jika mereka bergantung pada agama. Kenyataannya, fanatisme sinting macam film ini bisa terjadi zaman sekarang dan di kota besar. Lihat saja gereja kultus di Seoul yang menyebarkan Covid-19, atau masjid di kota yang menyebarkan bibit intoleransi. Justru akan lebih menarik untuk melihat fanatisme relijius di era modern dan di perkotaan. Seandainya "The Devil All the Time" dibuat di Indonesia di era sekarang, atau di Amerika tapi lebih awal, mungkin akan terasa lebih berani atau baru. 


The religious background doesn't get anywhere, which is a shame. Apalagi kita semua udah pernah dengar preacher/reverend yang melecehkan jemaatnya. Orang tua yang memaksakan nilai agama ke anak juga familiar. Hampir gak ada eksplorasi lebih dalam dari fanatisme dan tokoh-tokoh itu. Fanatisme relijius hanya untuk props dari cerita Arvin dan tokoh-tokoh lainnya.


Tapi ada satu aspek yang gue setuju adalah orang yang posisinya lemah secara psikologis, akan lebih mudah untuk dicuci otaknya. Contohnya tentu saja Willard yang makin relijius ketika istrinya sakit, dan Lenora yang terlalu percaya kepada Pendeta Teagardin. Yang menarik juga adalah perbedaan antara Willard dan Arvin dalam menghadapi trauma. Willard mulai kembali menjadi relijius karena pengalamannya yang mengerikan di PD II. Trauma masa kecil Arvin justru membuatnya menjadi apatis terhadap agama, bahkan tidak menyukai Teagardin.


Gue juga suka film ini gak pakai tetek bengek supernatural atau magical realism kayak The Green Mile. Ada sense of realism yang menambah horor. Di dunia nyata kekejaman dan sisi gelap bukan datang dari setan atau devil, but the humans all the time. Apalagi kekejaman itu dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya melindungi orang lain, seperti ayah, pendeta, dan polisi.


Film ini sifatnya non-linear dan semi-hyperlink kayak Magnolia atau Contagion. Jadi filmnya akan lompat-lompat perspektif. Menurut gue backstory-nya agak panjang dan boring. Backstory-nya juga agak memperlambat film dengan beberapa hal yang bisa di-skip. Editing-nya gue pribadi juga kurang sreg karena sekali atau dua kali gue agak kesusahan dengan ngikutin nama-nama tokoh di film dan koneksi mereka tokoh yang lain.


Overall, The Devil All the Time punya jajaran aktor yang solid, sinematografi yang apik, dan music score yang memperkuat atmosfer film. Sayang ceritanya kurang mendalami isu sosial yang diceritakan, dan tidak terasa baru dan berani. 6,5/10