Tampilkan postingan dengan label Good. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Good. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10


Minggu, 21 April 2019

Ave Maryam

diambil dari 21cineplex.com

Ave Maryam merupakan film Indonesia tahun 2019 yang disutradarai dan ditulis oleh Ertanto Robby Soediskam. Film ini telah diputar oleh berbagai film festival internasional, salah satunya adalah Hanoi International Film Festival. 

Berlatar belakang di Semarang tahun 1990-an, film ini bercerita tentang kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnadi) yang merawat suster-suster yang sudah tua. Kehidupannya yang teratur mulai mengalami perubahan ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang untuk mengajar orkestra natal. Di saat yang sama, Suster Maryam juga mendapat tugas untuk menjaga Suster Monic yang misterius. Iman dan tekad Suster Maryam diuji ketika Romo Yosef mulai menunjukkan ketertarikan kepada Suster Maryam.

MINI SPOILER ALERT!

diambil dari alinea.id
The visual porn in this movie can not be described with words! Shout out to Ical Tanjung yang jadi penata kamera. Sumpah, gue suka banget framing dan sudut pengambilannya. Cakep banget. Sinematografi film ini menyaingi Marlina menurut gue. 

Film ini mungkin bisa dikategorikan sebagai tipikal film artistik yang slow dan minim dialog. Gue biasanya gak nonton film ini, but the shots in the trailer are just alluring me! Ada satu adegan yang menurut gue terinspirasi dari In The Mood for Love, yaitu ketika Romo Yosef dan Suster Maryam menghentikan mobil ketika hujan. Adegan itu mengingatkan gue ketika Mr. Chow dan Mrs. Chan bertemu di tengah hujan. 

Salah satu aspek yang gue suka adalah bagaimana film ini bisa menggambarkan perubahan yang dibawa oleh Romo Yosef. Menit-menit pertama memperlihatkan keseharian Suster Maryam seperti memasak, merapikan tempat tidur, merawat suster-suster yang tua, berdoa, dll. Keseharian tersebut tenang, teratur, dan bisa diprediksi. Lalu ketika Romo Yosef datang, dia membawa musik yang penuh kehidupan dan gairah. 

Adegan itu, sekaligus adegan mereka berdua merayakan ulang tahun di pantai, sepertinya menjawab mimpi Suster Maryam sebelumnya tentang ombak yang bergelombang. Romo Yosef sebenarnya telah menjawab keinginan dan mimpi Suter Maryam. 

diambil dari tirto.id

Dari unsur dialognya, gue itu rada peevish karena aktornya sama sekali gak ngomong pakai logat Jawa. Sehingga kurang menangkap suasana Jawa Tengah. I think they didn't even try. Di satu sisi, mungkin memang tidak menambah apa-apa dari sisi cerita. Namun gue pribadi merasa kurang bisa hanyut dalam filmnya.

Minimnya dialog juga membuat motivasi para tokoh kurang tergali. Gue in a way bisa mengerti mengapa Suster Maryam bisa tertarik dengan Romo Yosef. Romo Yosef bagaimanapun juga merupakan orang yang baru, merupakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan rutinnya. Maudy Koesnadi juga bisa menunjukkan ketertarikan Suster Maryam terhadap Romo Yosef dengan cara yang subtle. Maudy Koesnadi tidak banyak berkata, namun ia sukses berakting dengan bahasa tubuhnya, terutama ekspresi matanya. 

Namun dari Romo Yosef sendiri, kok gue kurang bisa menerima ya dia suka dengan Suster Maryam, haha. Kurang jelas bagi gue permulaan rasa sukanya, atau alasannya. Apakah itu dimulai karena rasa tertarik yang tulus, atau sekedar bentuk rebellion? 

Selain motivasi tokoh, pergumulan iman mereka pun juga kurang dieksplor atau tergali. Gue merasa Suster Maryam dan Romo Yosef (terutama Maryam) agak banting setir ketika tadinya mereka berani untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi, lalu mereka seperti merasa berdosa. Mungkin ini juga karena adegannya dipotong. Alasan kenapa Maryam bisa mencapai keputusan akhirnya juga kurang terjawab bagi gue.

Suster Monik yang mendapat porsi yang cukup signifikan di film ini juga kurang jelas perannya, atau hubungannya dengan dua tokoh utama film ini. Ada beberapa indikasi bahwa ia mempunyai masa lalu dengan Romo Yosef, tapi tidak ada penjelasan eksplisit dari film. Entahlah, kalau dia merupakan tokoh yang memang tidak mempunyai tujuan jelas, seharusnya tidak mendapat screen time yang cukup signifikan di film. Akan lebih baik jika porsinya dia untuk menggali Yosef dan Maryam lebih dalam.

In conclusion, Ave Maryam is a visually-pleasing film with emotional ending and fantastic actors. Unfortunately, the story leaves many questions unanswered and its characters' motivations unexplained. 7/10




Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Minggu, 25 September 2016

Train to Busan (Busan Haeng)

asianwiki.com

The first Korean zombie film. Kira-kira kalimat itulah yang digunakan untuk mempromosikan Train to Busan di bioskop-bioskop luar Korea. Salah satu film box office dari Korea ini sempat diputar di Cannes Film Festival. Film yang disutradarai Yeon Sang Ho dan ditulis oleh Park Joo Suk ini juga akan mendapat prequel animasi yang juga dibuat oleh sang sutradara berjudul "Seoul Station". 

Kesibukan Seok Woo (Gong Yoo) dalam pekerjaan membuat hubungannya dengan putrinya, Su An (Kim Su An). Merasa bersalah karena tidak membelikan hadiah ulang tahun yang pantas, Seok Woo menuruti keinginan Su An untuk pergi ke Busan mengunjungi ibunya. Perjalanan mereka di KTX mendapat goncangan ketika di zombie mulai muncul di kereta mereka. Seok Woo dan Su An harus bertahan hidup di kereta penuh zombie bersama Sang Hwa (Ma Dong Seok) dan istrinya yang hamil, Sung Kyung (Jung Yu Mi). 


indiewire.com
A zombie film with social commentary

Saya rasa film zombie atau film blockbuster yang mengandung social commentary atau kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru. Namun saya menyukai bagaimana Train to Busan membungkus semua kritik dan observasi sosial secara subtle enough. Film ini juga takes time untuk menunjukkan keberagaman kelas sosial dan background dalam suatu wadah kecil, which is the KTX in this film. Kita bisa melihat bahwa ada tim baseball, sepasang kakak-beradik tua, ayah dan anak, suami-istri, pengusaha, and last but not least, the train crews

Keberagaman kelas dan class privilege dapat terlihat juga. Ada penumpang yang mampu mendapat informasi lebih karena koneksi mereka, sedangkan banyak penumpang yang tidak memiliki akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa class privilege bukan sekedar bonus, tetapi juga menyangkut masalah hidup dan mati. Class privilege juga berarti kata-kata anda mempunyai 'berat' lebih banyak daripada orang yang dibawah anda. Sayangnya, orang yag memiliki class privilege juga hanya mau menyelamatkan diri mereka sendiri dan tidak menggunakan privilege tersebut secara optimal.

Usage of modern technology

Mungkin cara film ini menggambarkan penggunaan teknologi adalah salah satu keistimewaan Train to Busan. Instead of showing cool weapon or research, film ini menunjukkan bagaimana teknologi, specifically communication device, membantu kita dalam mendapat informasi dan menyelamatkan kita dalam propaganda.  Ada salah satu adegan yang brief yang menunjukkan bahwa pemerintah berbohong kepada rakyatnya dengan mengatakan bahwa zombie, yes the zombies, are mere protesters who damage public good. Pemerintah di berita-berita juga mengatakan bahwa mereka tidak harus cemas terhadap keselamatan mereka. 

Untungnya dengan keberadaan internet, ketidakberadaan televisi bukanlah penghalang dalam mendapatkan berita. Tidak hanya berita dalam bentuk tulisan, tapi juga video amatir. Ini mungkin juga yang menyebabkran orang beralih ke internet untuk mendapatkan berita. Ironisnya, meskipun banyak orang yang mengatakan internet lebih rentan terhadap hoax, sumber berita di internet lebih beragam dan membuatnya lebih sulit untuk 'dicuci' oleh pemerintah daripada berita di televisi, yang harus lulus sensor dari pihak pemerintah.

Kurangnya senjata yang keren seperti di film World War Z, ataupun senjata pada umumnya, membuat sisi survival dalam film ini lebih kental dan menegangkan. Bayangkan, sudah terjepit pada ruangan yang sempit, kurangnya stasiun untuk berhenti, tidak ada senjata lagi.


*SPOILER ALERT*

Ego vs Comunnity

Maap ye karena gue kurang pintar, gue gak tahu harus menggunakan kata apa selain community, hehe.

Sama seperti kebanyakan film yang mengandung unsur survival and disaster, film ini terus saja memperdebatkan manakah yang akan menyelamatkan kita, mementingkan diri sendiri atau komunitas. 

Film ini memang tidak mementingkan sisi scientific layaknya tayangan zombie lainnya seperti The Walking Dead atau World War Z. Tidak ada pembicaraan bagaimana virus tersebut muncul (hanya dijelaskan secara ambigu), bagaimana menemukan obat, bagaimana orang bisa tertular, dll. Karena gue orangnya kurang peduli dengan science and medic stuff, gue tidak memandang itu sebagai kekurangan. Gue malah senang karena hal tersebut membuat penontonnya fokus pada kritik sosial dan drama yang ada di film ini. Salah satu hal yang gue kritik dari sisi scientific-nya adalah film ini kurang konsisten dalam menentukan waktu yang dibutuhkan manusia untuk berubah menjadi zombie.   

Seperti yang sudah disebutkan tadi, penyebab munculnya virus memang dijelaskan secara ambigu, tapi penyebab zombie ada dalam kereta sudah jelas. Seorang gadis yang digigit zombie memilih untuk masuk kereta dan menginfeksi orang-orang lain. Seandainya si gadis menerima takdirnya dan tidak menaiki kereta, orang-orang yang dalam perjalanan ke Busan mungkin akan mempunyai takdir yang berbeda.

From this, it can be concluded that while being egalitarian doesn't always benefit us, selfishness is the root of problem.

Sexism

Gue kira setelah maraknya tokoh-tokoh wanita yang kuat seperti Furiosa, Black Widow, dan Michonne, kru Train to Busan mungkin akan sadar menambahkan satu karakter wanita yang kuat akan membuat film ini lebih appealing. Saya hanya bisa menahan kesedihan ketika film selesai dan tidak ada female heroine. Mending sekedar tidak ada female heroine, tapi ada kesetimbangan antara bagaimana tokoh-tokoh pria mati di film ini dengan tokoh wanitanya. Tokoh utama yang pria (setidaknya yang protagonis) mati karena mereka sedang berkorban. Tidak ada yang mati karena sedang lengah atau ceroboh. Tokoh yang wanitanya? Cuih, mereka mati karena sedang lengah, ceroboh, dan ada yang mati karena kebodohan. Tidak ada tokoh wanita yang mati karena sedang berkoban. Wanita yang selamat hanya seorang wanita hamil yang cantik dan seorang gadis kecil. Wanita tua dan wanita yang mengenakan rok pendek tidak selamat. Hal ini mengimplikasikan bahwa wanita-wanita tersebut bisa selamat karena umur, kepolosan, dan kemampuan mereka untuk punya anak. I'm just kinda pissed off that the writer is a fucking coward for not killing the pregnant character and the kid. If they were the ones who got killed, the film would be more interesting. 

Other stuff

Setelah membaca salah satu review, gue jadi sadar bahwa tokohnya Gong Yoo bukanlah tokoh tipikal dari film-film zombie. Dia bukanlah Rick Grimer yang punya natural leadership dan tokoh yang masih punya moral dibandingkan let's say Shane. Dia juga bukan Brad Pitt yang punya hubungan baik dengan keluarganya, ataupun akan sukarela menyuntik dirinya dengan penyakit. Instead, he's a selfish bastard who will do anything to ensure the safety of his daughter and him. Yang bagusnya, semua itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kecil, bukan dengan menipu salah satu penumpang misalnya. 

Antagonis di film ini adalah salah satu pria yang boleh dibilang influential dan punya class privilege. Pria tersebut tidak hanya ignorant, tapi juga outright a more evil bastard than Gong Yoo's character. Sama seperti seorang reviewer yang mengatakan bahwa Lotso dari Toy Story 3 merupakan Woody yang jahat, pria ini boleh dibilang juga versi jahatnya Gong Yoo. Tapi sama seperti Woody yang masih punya sahabatnya, Gong Yoo disini masih punya anaknya. 

Aktor-aktornya cukup bagus kok. Kudos for Gong Yoo for having a great comeback. Tapi tokoh yang paling menarik adalah tokohnya si Ma Dong Seok, kocak aja lihat dia anjir, haha. Apakah gue doang yang kurang suka sama aktor ciliknya? Lumayan bagus sih, tapi karena gue udah lihat yang lebih hebat jadi katingnya Kim Su An kurang memberikan impact bagi gue. I can see why Sohee's (ex-member of Wonder Girls) gives mixed reaction though, but it's very clear I prefer Choi Wook Shik to her.

Conclusion

Inilah yang akan terjadi jika lo mencampur makjang (melodrama Korea) dengan Snowpiercer dan The Walking Dead. Penggunaan kereta dan kurangnya space menyebabkan film ini mempunyai nilai plus lebih dibandingkan film zombie lainnya. Sayangnya film ini kekurangan gore dan mempunyai terlalu banyak melowness yang akan membuat beberapa orang get turned off. Also, this 2016 film fails to escape from sexism. 7/10 (good)

P.S: Considering Bong Joon Ho directed both The Host (a monster Korean film) and Snowpiercer, AND, his film is not sappy and has great black humor, I would love to see his version of this film.


Jumat, 13 Februari 2015

(Some Kind of) Short Reviews: The Bicycle Thieves; Nebraska; and The Grand Budapest Hotel

 
Berhubung gue sibuk banget dengan urusan rumah tangga sama Benedict Cumberbatch sekolah, gue memutuskan untuk nulis review-review pendek dari beberapa film yang baru gue tonton.  Filmnya gak ada yang benar-benar baru sih karena gue gaptek dan bokekTapi daripada gue gak nulis sama sekali, mendingan tulis aja (?)

SPOILER ALERT!!!

The Bicycle Thieves / Ladri di biciclette (Vittorio de Sica, 1948)


The Bicycle Thieves adalah film terkenal dari aliran Neorealisme Italia.  Film ini disutradarai dan ditulis oleh Vittorio de Sica. Film yang dibintangi oleh Lamberto Maggiorani ini menyoroti kemiskinan yang dialami Italia setelah Perang Dunia II.

Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani) berusaha keras untuk menafkahi keluarganya.  Keluarga kecil Antonio terdiri dari istrinya, Maria (Lianella Carell), putranya, Bruno (Enzo Staiola) serta bayi kecilnya.  Suatu hari, Antonio berhasil mendapatkan pekerjaan dengan syarat ia harus mempunyai sepeda.  Ia dan istrinya menjual beberapa barang mereka untuk membeli sepeda mereka yang sudah ada di pawn shop.  Namun baru satu hari Antonio bekerja, sepedanya sudah dicuri orang lain.  

Seperti yang sudah saya katakan, film ini menyoroti kemiskinan yang terjadi di Italia setelah Perang Dunia II.  The Bicycle Thieves menunjukkan penontonnya bagaimana hidup sebuah keluarga bergantung pada suatu barang namun mereka bukan satu-satunya keluarga yang memerangi kemiskinan.  Orang sudah miskin dicuri, tapi karena dia dicuri, dia harus mencuri juga.  Alangkah ironisnya jika orang yang ia curi orang miskin juga, karena ini hanya mengakibatkan siklus yang tidak kunjung selesai.  Selain menyoroti kemiskinan, The Bicycle Thieves juga memperlihatkan dinamika hubungan ayah dan putra yang desperate.  Menyedihkan sekali bagaimana sang anak masih bergantung pada ayahnya, namun ketergantungan itulah yang menyebabkan sang anak hampir kehilangan ayahnya.  Selain plot yang menabjubkan, tidak ada aktor yang berakting jelek di film ini.  

Maggiorani dengan hebat membawa sosok yang desperate, tegas, namun seorang family-man.  Ia bisa menjadi keras dan pushy, tapi ia juga bisa bersenang-senang dan menjadi kepala keluarga yang pantang menyerah.  Enzo Staiola sendiri tidak kalah hebat.  Aktingnya terasa raw dan tulus, terutama pada adegan terakhir.  Staiola dan Maggiorani tidak hanya baik sebagai individu, tapi mereka juga mempunyai chemistry yang sangat mengesankan.  Overall, The Bicycle Thieves adalah film yang mampu membuat penontonnya untuk merefleksikan keputusan yang mereka sudah atau akan lakukan. 10/10    

Nebraska (Alexander Payne, 2013)


Alexander Payne kembali dengan tema keluarga pada 2013 dengan film berjudul Nebraska.  Tidak seperti ketiga film sebelumnya, Nebraska tidak ditulis oleh Payne sendiri melainkan oleh Bob Nelson, yang mendapat nominasi Best Origina Screenplay pada Academy Award ke-86.

Meskipun Woody Grant (Bruce Dern) adalah seorang pemabuk dan delusional, anak bungsunya, Davey (Will Forte) sangat peduli kepadanya.  Woody yang percaya ia baru saja memenangkan satu juta dollar, terobsesi untuk pergi ke Lincoln, Nebraska.  Istrinya, Kate (June Squibb), dan putra tertuanya, Ross (Bob Odenkirk) tidak merestui keinginannya.  Namun Davey yang melihat hal ini sebagai hal yang bisa membangkitkan gairah ayahnya setuju untuk mengantarkan Woody ke Lincoln.  Sayangnya di perjalanan, Woody terluka.  Ia harus singgah di rumah saudaranya.  Disana, Woody bertemu dengan orang-orang yang dulu merupakan bagian dari hidupnya.

Second half-nya Nebraska penuh dengan perbincangan mengenai masa lalu Woody.  Ini sepertinya berkaitan dengan komentar Kate mengenai Woody yang tidak pernah memperhatikan keadaan di sekitarnya.  Hal ini mengingatkan kita bahwa tempat yang kita tinggali sekarang mungkin bisa saja menjadi tempat yang nanti hanya berisi memori.  On the dark side, I think Woody had it too easy.  Sure, his wife can be a bitch, and his relatives are punch-worth, tapi ia mempunyai putra yang supportive dan toh pada akhirnya keluarga intinya mendukung dia.  Akan lebih bagus jika ada kontras dimana ada seorang lansia yang tidak punya keluarga yang mempermudah hidupnya.  Nebraska tidak hanya mempunyai plot yang menyenangkan, aktor-aktornya pun sangat lihai dalam memerankan masing-masing karakter dan mempunyai chemistry yang indah di antara mereka.  Overall, Nebraska adalah film yang lucu, hangat, dan engaging. 8/10

The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014)


Why oh why gue gak nonton nih film dari awal.....*jedotin kepala ke lemari*

Setelah sukses dengan Moonrise Kingdom, Wes Anderson kembali dengan film yang tidak kalah menariknya, The Grand Budapest Hotel.  Film yang hits sekali di tahun 2014 ini telah menerima banyak pujian dari kritikus film.

Grand Budapest Hotel mungkin adalah hotel terhebat di Budapest pada tahun 1930an.  Sang pengelola, Gustave H (Ralph Fiennes) merupakan sosok yang perfeksionis dan menomorsatukan setiap tamu Grand Budapest Hotel.  Ia akan melakukan apa saja untuk tamu-tamunya.  Apa saja.  Zero (Tony Revolori) hanyalah lobby boy yang keluarganya baru saja dieksekusi.  Meskipun Zero hanyalah pegawai baru, kesetiannya pada Gustave terbukti saat Gustave dipenjara karena diduga membunuh salah satu regular guest-nya.

Sumpah, gue nyesel banget gak nonton film ini dari awal, karena filmnya super keren.  Gue cuma punya satu pengalaman dengan om Wes Anderson (Moonrise Kingdom) itu pun gue cuma nonton setengah karena gue ketiduran, haha.

The Grand Budapest Hotel mempunyai aspek visual yang indah, iringan musik yang sejalan dengan film, plot yang witty, and last but not least, jajaran aktor yang sangat hebat.  Gue tidak melihat adanya kekurangan dalam film ini walaupun harus gue akuin film ini terlihat agak pretensius dan typical indie film.  Dibalik kelucuan dan kemewahan The Grand Budapest Hotel, ada sedikit kegelapan dan melankolis pada film ini.  Madame D mungkin tipikal orang setengah baya, tapi bukankah sedih juga jika keluarganya (termasuk anaknya sendiri) datang ke pemakamannya hanya untuk mendapatkan warisan?  Zero yang dewasa juga dengan blak-blakan menceritakan kematian Agatha (Saosoire Ronan) dan tuannya sendiri, Gustave.  Ia melakukan itu seolah-olah ia tidak ingin merusak masa-masa bahagia yang ia alami bersama mereka.  Kematian mereka memang tidak dibahas secara mendalam, tapi kematian mereka tetap menimbulkan perasaan pahit dan sedih pada gue.  

Gue rasa ada alasan mengapa saat-saat terakhir Gustave justru diberikan warna hitam-putih.  Mungkin karena jika kita hanya melihat Gustave yang membela Zero kita akan langsung menilai bahwa Gustave adalah seorang saint atau noble.  Atau jika kita ingat bagaimana Gustave bisa apatis terhadap nasib keluarga Zero, kita akan langsung menilai Gustave sebagai antagonis.  Padahal pada akhirnya, Gustave bukanlah sosok yang bisa diberikan warna hitam atau putih saja.

Overall, no words can describe my love for The Grand Budapest Hotel. 10/10             

Sabtu, 19 Juli 2014

Chungking Express

I'm no different from a can of pineapple. -He Qiwu
reykissna.blogspot.com

Film Chungking Express merupakan film drama Hong Kong tahun 1994 yang disutradarai dan ditulis oleh Wong Kar Wai.  Film ini merupakan film pertama Wong Kar Wai yang gue tonton.  Film berdurasi 98 menit ini merupakan salah satu karya Wong yang terkenal. 

Chungking Express dibagi dalam dua segmen.  Pada segmen pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro) patah hati karena baru saja putus dengan pacarnya.  Ia bersumpah untuk memakan 30 kaleng nanas yang expired pada tanggal 1 Mei jika ia tidak mantan pacarnya tidak menerimanya kembali.  Di suatu bar, ia bertemu dengan seorang wanita misterius (Brigitte Lin) yang memakai wig pirang.  Wanita misterius itu merupakan seorang drug dealer yang ditipu oleh pekerjanya.  Untuk mengusir rasa kesepiannya, He Qiwu berusaha memikat si wanita misterius itu.

Pada segmen kedua, seorang polisi dengan nomor 663 (Tony Leung) berlangganan di suatu snack bar.  Salah satu pekerja snack bar, Faye (Faye Wong), merasa tertarik kepada polisi itu.  Polisi ini baru saja putus dengan pacarnya yang bekerja sebagai pramugari.  Si pramugari sempat menetipkan surat dan kunci apartemen mereka kepada paman Faye, yang juga bekerja sebagai bos.  Faye memutuskan untuk 'menghibur' si polisi dengan diam-diam membersihkan rumahnya dan memberikan suasana baru pada rumah si polisi.  Setiap kali si polisi datang ke rumah, Faye akan bersembunyi.

graffitiwithpunctuation.net
Beberapa orang mungkin memuji adegan pembuka film ini, but frankly, I don't like it.  Adegannya memusingkan dan bikin mata gue sakit.  Gue juga kurang ngerti apa yang ingin disampaikan Wong Kar Wai lewat teknik kamera seperti itu.  Mungkin adegan itu bersifat eksperimental?  Atau mungkin adegan itu melambangkan bagaimana manusia tidak mampu melihat beberapa hal dengan jelas?  Whatever that scene means, that scene made me dizzy.

At first, gue bingung maksud cerita Chungking Express itu apa.  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, cerita film ini simpel kok.  Menurut gue, Chungking Express agak mirip dengan Blue Velvet, karena ada beberapa orang yang gak ngerti cerita dua film ini, padahal kedua film ini ceritanya simpel.  Terkadang, beberapa penonton berpikir kejauhan padahal konsep filmnya simpel.  Cerita dari Chungking Express hanyalah dua polisi yang patah hati lalu menemukan seorang wanita.  


Tokoh yang diperankan Brigitte Lin langsung memikat gue.  Tokohnya Brigitte Lin mempunyai aura misterius dan karisma yang langsung menarik perhatian gue.  Tokoh yang diperankan Brigitte Lin pun juga tokoh yang paling dewasa dalam menghadapi masalahnya.  Ketika ia ditipu oleh pekerjanya, ia tidak melakukan aksi konyol seperti He Qiwu, ia tidak berbicara dengan boneka seperti polisi 663, ia juga tidak bersembunyi dari masalahnya seperti Faye.  Gue memprekdisikan Brigitte Lin sulit untuk mengekspresikan tokohnya karena ia menggunakan kacamata hitam di sepanjang film.  Namun, dia tetap berakting dengan bagus lewat monolog dan dialognya, serta bahasa tubuhnya.

Faye is one of those Manic Pixie Dream Girls.  Gue kurang suka tokoh-tokoh seperti itu, karena mereka terasa pretensius.  Bagi gue, Faye hanyalah boneka quirky.  Dia hanya menghias film ini tanpa tujuan dan sifat yang jelas.

criterion.com

Sedangkan polisi 663 dan He Qiwu layaknya Tom Hansen yang labil gara-gara ditinggal ceweknya.  Secara umum, polisi merupakan orang-orang yang telah melewati latihan untuk menjadi disiplin dan menyelesaikan masalah.  Namun reaksi kedua polisi dalam film ini tidak jauh berbeda dari orang-orang biasa yang sedang patah hati.  Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, orang sekuat apapun tidak bisa kabur dari efek patah hati.  Tidak semua patah hati membuat kita melakukan hal-hal konyol, tapi patah hati memang bisa membuat kita berantakan dan melakukan hal-hal konyol.

Gue gak mengerti mengapa beberapa orang menganggap Chungking Express sebagai film romance.  Tidak ada emosi atau gairah dalam konteks romance antara empat tokoh utama dalam film ini.  Di cerita pertama jelas He Qiwu hanya mencari wanita untuk menyingkirkan rasa kesepiannya.  Si wanita misterius juga bersikap acuh tak acuh pada He Qiwu.  Sedangkan hubungan antara Faye dan polisi 663 adalah hubungan yang gue sebut sebagai quirky relationship.  Memang ada ketertarikan antara Faye dan polisi 663, namun interaksi antara mereka terasa aneh bagi gue.  Faye mengekspresikan simpatinya pada polisi 663 dengan membersihkan rumahnya.  Namun polisi 663 kurang mengekspresikan perasaannya kepada Faye.  Malah dia masih dibayang-bayangi oleh mantan pacarnya. Selain itu, gue rasa aneh aja kalau lo lebih memilih untuk bersembunyi daripada menghabiskan waktu dengan orang yang lo suka.  Mungkin Faye terlalu malu untuk berinteraksi dengan polisi 663?  Menurut gue, kalau rasa suka lo atau cinta lo kepada seseorang memang kuat, pasti itu mengalahkan perasaan malu lo.  So, apapun yang ada di antara Faye dan polisi 663 hanyalah ketertarikan atau saling naksir.       

Gue suka banget lagu-lagu dari film ini.  Lagu yang paling ngena sih California Dreaming, yang merupakan lagu kesukaan Faye.  Gue juga suka Dreams, tapi lebih suka lagu aslinya yang dinyanyikan oleh The Cranberries.  Sebenarnya sih lagu Dreams yang asli dengan yang di-cover oleh Faye Wong sama persis, hanya beda bahasa.  Di film ini, Faye Wong menanyikan lagu Dreams dalam bahasa Cantonese.

Seperti yang gue tulis sebelumnya, Chungking Express menceritakan kedua polisi yang sedang patah hati lalu menemukan wanita yang mengalihkan mereka dari rasa sakit mereka.  Film ini tidak menceritakan berbagai konflik ataupun memperlihatkan orang-orang yang sedang jatuh cinta.  Chungking Express menceritakan bagaimana takdir atau pilihan-pilihan kita bisa mempertemukan kita dengan orang tertentu when we least expect it.  It's not as great as I expected, but I still recommend it for people who want to see a unique film.  7,5/10 

 

Minggu, 15 Juni 2014

Maleficent: A film with predictable plot and Angelina Jolie's stunning performance

I know you, I know you from once upon a dream.

comingsoon.net

Gue langsung menulis Maleficent dalam watchlist gue setelah gue menonton trailer-nya.  Hati gue langsung dicuri oleh penampilan Angelina Jolie, meskipun hanya sekilas.  Maleficent merupakan film fantasi 2014 yang disutradarai oleh Robert Stromberg dan ditulis oleh Linda Woolverton.  Film ini merupakan 'spin-off' dari film animasi Disney, yaitu Sleeping Beauty.  

Dahulu kala, ada dua kerajaan yang bermusuhan.  Moors, penuh dengan keindahan dan keajaiban.  Sedangkan kerajaan manusia....well, kita tahu realita 'seindah' apa.  Di Moors, ada seorang peri bernama Maleficent (Angelina Jolie).  Suatu hari, Stefan (Sharlto Copley) seorang bocah biasa dari kerajaan manusia, mencoba mencuri sesuatu dari Moors.  Malecifent menyuruhnya untuk mengembalikan barang yang ia curi dan ia mengantarkan Stefan pulang ke kerajaan manusia.  Maleficent dan Stefan berjabat tangan, namun Maleficent menarik tangannya kembali karena Stefan memakai cincin besi, dan peri tidak tahan besi.  Stefan pun langsung membuang cincin besinya.  Malecifent tersentuh dengan perbuatan Stefan.

Bertahun-tahun kemudian, persahabatan Stefan dan Maleficent renggang karena ambisi Stefan untuk menjadi seorang raja.  Sang raja berjanji akan mengangkat siapapun yang berhasil membunuh Maleficent.  Stefan pun merayu Malecifent untuk berbicara dengannya di malam hari.  Ketika Maleficent tertidur, Stefan tidak bisa membunuhnya.  Karena itu, Stefan hanya memotong sayapnya dan memberikannya kepada raja.  Maleficent bangun dan menemukan bahwa sayapnya dan Stefan telah menghilang.  Sakit hati, Malecifent berkelana di sekitar Moors tanpa tujuan pasti.  Malecifent menemukan seekor burung gagak dan mengubahnya menjadi manusia.  Maleficent memanggilnya Diaval (Sam Riley).

Waktu berjalan, istri Raja Stefan melahirkan seorang anak perempuan.  Anak perempuan itu bernama Aurora (Elle Fanning).  Malecifent mendengarnya dan langsung pergi ke istana.  As expected, dia memberinya kutukan.  Kutukan itu hanya bisa dipecahkan oleh true love's kiss, sesuatu yang tidak dipercayai oleh Malecifent.  

rickey.org

I'm not really surprised with the story.  I can even guess all the so-called 'twists', lol.  

Maleficent merupakan tokoh yang ditangani dengan cukup baik.  Padahal film Maleficent merupakan film komersil dengan durasi yang tidak panjang.  Kita tahu hubungannya dengan Stefan dan seberapa besar kuasa dan rasa cintanya pada Moors.  Though I wish more background story in the prologue.  Gue setuju dengan pernyataan Angelina Jolie bahwa bagian dimana sayap Maleficent dipotong oleh Stefan merupakan metafora dari pelecehan seksual.  Not just any sexual assault, tapi yang dilakukan oleh orang yang dipercayai oleh korban.  Apa yang biasanya terjadi pada korban pelecehan seksual?  Mereka merasa kecewa, marah, skeptis, dan menarik diri.  Maleficent menutup dirinya dengan membangun tembok duri yang besar di perbatasan Moors dengan kerajaan manusia.  Am I the only one who think how creepy it is to see Maleficent stalking watching Aurora 24/7?  Gue sih bakalan lapor polisi kalau tahu ada yang ngestalk gue 24/7, bahkan kalaupun gue tahu orang itu ternyata bias gue.  Bagi gue, Maleficent juga merupakan lambang dari manusia yang mengalami berbagai hal dalam hidupnya.  She falls in love, she's betrayed, she does her revenge, she regrets, and she seeks her redemption, just like ordinary humans.  Meskipun dia mempunyai tanduk dan melakukan kesalahan, those things don't make her a total bad guy.   

Tapi, Malecifent punya inkonsistensi kecil.  Maleficent dengan cepat menaruh ekspektasi dan kepercayaan pada Divial.  Walaupun hubungan mereka agak berbau master and servant, Maleficent punya kepercayaan yang cukup pada Divial.  Hal ini jarang terjadi pada seseorang yang telah dikhianati oleh orang terdekatnya.  Walaupun Maleficent tidak curhat atau sering mencurahkan perasaannya pada Divial, there's clearly some trust from her.   


I'm a bit confused by Stefan.  Bagaimana mungkin bocah yang dulu rela membuang cincin besinya malah akhirnya mengkhianati temannya?  Apakah Woolverton memang sengaja memberi porsi kecil kepada Stefan agar penonton tidak bersimpati kepadanya?  Gue rasa gak adil banget bagaimana penonton tidak mengetahui apa-apa tentang Stefan agar simpati dan perhatian penonton tertuju pada Maleficent.  I know, I know, this film is about Maleficent.  Tapi gue berharap Stefan mempunyai porsi background story yang cukup.  Apa yang membuat dia begitu terobsesi dengan posisi raja sampai mengkhianati temannya?  Kita bisa mengira-ngira bahwa hal itu disebabkan status ekonomi dan sosial, tapi akan susah bagi penonton untuk memahami dan bersimpati kepada Stefan.   

Aurora is just a blondie Mary Sue.  Karakternya dangkal karena Aurora hanya merupakan jalan untuk mengekspresikan dan way of redemption bagi Maleficent.  Sebenarnya kalau beneran niat bikin twist buat film ini, anaknya raja Stefan tuh laki-laki, bukan perempuan.  That's a real twist.  Tapi, gue agak terganggu dengan latar belakang Aurora.  Ia merupakan produk arranged-and-cold marriage, lalu ia dikutuk oleh seorang perempuan yang dikhianati ayahnya, lalu ia diasuh dengan tiga peri goblok, tapi ia malah diawasi oleh perempuan yang mengutuknya.  Hmm, that sounds like a cheerful and colorful story.  Oh well, as expected from a blondie Mary Sue, she has no problem in life and sees life as a world full of magical things.

dailymail.co.uk
Other than Jolie and Copley, gue gak terkesan dengan akting aktor lainnya.  Angelina Jolie emang keren, dia anggun, dingin, karismatik, dan dia berhasil banget mengkomunikasikan patah hati yang dirasakan Maleficent kepada penonton.  Tapi gue merasa akting Susan Sarandon di Enchanted lebih bagus daripada dia.  Copley juga bagus, terutama di bagian setelah Aurora dikutuk Maleficent.  Copley berhasil meyakinkan penonton betapa terobsesinya dia untuk menangkap dan membunuh Maleficent.  Apalagi make up-nya dia, seriously, kudos for the make up artist.  Also, I think I don't need to tell you guys how wonderful the visual effect is.  

Gue mungkin bisa menebak arah cerita Maleficent, tapi gue menghargai usaha sang penulis untuk membuat cerita klasik ini lebih segar dan modern.  Gue merekomendasikan film ini bagi mereka yang suka film-film ringan dan fantasi.  But if you look for a really twisted sorry, I'm affraid Malecifent may disappoint you.  6,8/10      


Rabu, 26 Juni 2013

Forget Me Not (Vergiss Mein Nicht) - 2012

Who's Malte? -Gretel


Sebenarnya review yang ini pengen gue masukkin ke German Cinema Film Critic Competition, tapi review gue gak sampe 500 kata, hiks...karena gue males bikin review lain, makanya gue copas aja terus gue post ke blog gue, hehe.

Alzheimer mungkin salah satu penyakit yang sering terlihat di film-film tearjerker.  Sejauh ini, saya tidak punya teman atau kenalan yang anggota keluarganya menderita alzheimer, dan satu-satunya orang terkenal yang saya tahu menderita alzheimer adalah Iris Murdoch, seorang penulis Inggris.  Dan kali ini, David Sieveking (Fly with David, 2010) akan mengangkat tema alzheimer ke filmnya, tapi dalam bentuk dokumenter, dan penderitanya adalah ibunya sendiri. 

 David Sieveking akan mengenalkan kita pada Gretel, ibunya.  Sebelum sakit, Gretel adalah sosok yang hangat, kuat, dan aktif.  Setelah sakit, Gretel menjadi orang yang pemalas dan keras kepala  Beruntung ia mempunyai suami seperti Malte.  Malte yang hidupnya didedikasikan pada matematika dan ingin mengelilingi Eropa, akhirnya mengorbankan waktunya untuk Gretel. 

Selama David merawat ibunya, David menyadari bahwa ia tidak terlalu mengenal ibunya.  Bahkan ia baru tahu pernikahan orangtuanya adalah pernikahan terbuka setelah ibunya sakit.  Hal ini membuat David menghabiskan waktunya untuk melihat foto-foto lama, melihat dokumen politik ibunya, bahkan mengunjungi saudari-saudari Gretel.    



Jujur, saya cukup bingung dengan definisi kritik di perlombaan ini.  Apakah yang dimaksud kritik adalah mengkritik dengan artian mencari hal-hal buruk dari film ini, atau meresensinya?  Tapi, saya akan tetap mencoba untuk melihat film ini dengan kacamata kritis. (?) 

Seiring berjalannya film, entah kenapa saya merasa sedikit bosan.  Saya sadar bahwa Forget Me Not adalah film dokumenter yang  99% adegannya tidak direncanakan.  Saya menyukai usaha David Sieveking untuk menghadirkan beberapa moment komedi, tapi menurut saya kurang bisa mengimbangi dengan drama yang ‘disuap’ ke penonton.  Beberapa adegan juga tidak ada salahnya di-cut.  

Kalau tidak salah, film ini sempat mendeskripsikan bahwa film ini bercerita tentang dampak penyakit alzheimer Gretel kepada keluarganya.  Kalau memang dampak pada keluarganya, dampaknya pada dua anak perempuan Gretel kurang diperlihatkan.  Bahkan peran mereka kurang tertangkap di film.  Mungkin untuk hal ini, anda harus berpegang dengan fakta bahwa film ini adalah film dokumenter.



Dan rasanya topiknya jadi agak melebar dan kurang fokus.  Saya sempat merasa bingung karena apakah film ini bermaksud untuk berkenalan dengan masa lalu Gretel, hubungannya dengan suaminya, atau dampak alzheimer pada Gretel dan keluarganya?  Itu yang mungkin membuat saya agak bosan karena saya merasa ‘disuapi; oleh berbagai topik dan informasi.  Tapi harus saya akui bahwa ketiga topic itu dibawakan dengan cukup seimbang. 

Hal-hal teknis seperti sinematografi danmusik, saya tidak punya masalah.  Hanya saja saya akan lebih suka jika beberapa momen intim antara Gretel dan suaminya (Malte) tidak usah di close-up dan menggunakan long atau medium-range shots, seperti kebanyakan film-film Woody Allen.  Momen-momen intim itu akan terasa lebih nyata dan dalam.

Bagian yang paling menganggu saya adalah bagian klimaks, yaitu ketika David menunjukkan keadaan ibunya enam bulan kemudian.  Rasanya bagian itu terlalu cepat dan kosong.  Bagian beberapa bulan/tahun kemudian itu terasa klise, dan di film ini, terasa dipaksakan.  Bagian itu memang sebaiknya di-cut saja.   

Film ini mungkin membuat saya agak bosan, tapi mau tidak mau saya menyukai Gretel dan berempati dengannya.  And maybe, in a way, she was a close friend that I never met. 

pic cr : cineastentreff.de
berlinable.de
filmfestivalrotterdam.com