Tampilkan postingan dengan label European Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label European Movie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Mei 2015

Thursday Movie Picks: German Films


Long time no see! I skipped TMP for two weeks in a row and I'm not happy about that. Thursday Movie Picks is a weekly film recommendation that is hosted by Wandering Through The Shelves. If you're interested to be a part of this series, please visit the website and start it! The more the merrier!

So, this week's theme is Foreign Language Film: German. I must admit that I'm not familiar with German cinema. Hence, that's why I specifically watch two German films today.

M (Fritz Lang, 1931)


M is not only my favorite German film, but it's also one of the best films I've ever watched. The duration is longer than necessary, but I still enjoy it. What makes M interesting that the film doesn't focus on the mystery, but rather on the social and psychological impact of a serial killer. It shows how the monster can turn into a prey and vice versa. 

Madchen in Uniform (Leontine Saegan, 1931)





Madchen in Uniform is a film that's ahead it's time. It's interesting how lesbianism is treated as a matter of fact in this film. Although Madchen in Uniform is rather famous for the lesbian context, the main message of this film is the only thing we get from repressing emotion and affection is damage.

Forget me not (David Sieveking, 2012)


Forget me not is the first German film I watch. Greta Sieveking already died years ago, and I'm thankful that I know some pieces about her. It awes me how she's one hundred percent faithful to her husband while God knows how many nights were spent by his husband with another woman. Forget me not is an intimate and personal documentary, but it's also funny, light, and warm.
 

Jumat, 13 Februari 2015

(Some Kind of) Short Reviews: The Bicycle Thieves; Nebraska; and The Grand Budapest Hotel

 
Berhubung gue sibuk banget dengan urusan rumah tangga sama Benedict Cumberbatch sekolah, gue memutuskan untuk nulis review-review pendek dari beberapa film yang baru gue tonton.  Filmnya gak ada yang benar-benar baru sih karena gue gaptek dan bokekTapi daripada gue gak nulis sama sekali, mendingan tulis aja (?)

SPOILER ALERT!!!

The Bicycle Thieves / Ladri di biciclette (Vittorio de Sica, 1948)


The Bicycle Thieves adalah film terkenal dari aliran Neorealisme Italia.  Film ini disutradarai dan ditulis oleh Vittorio de Sica. Film yang dibintangi oleh Lamberto Maggiorani ini menyoroti kemiskinan yang dialami Italia setelah Perang Dunia II.

Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani) berusaha keras untuk menafkahi keluarganya.  Keluarga kecil Antonio terdiri dari istrinya, Maria (Lianella Carell), putranya, Bruno (Enzo Staiola) serta bayi kecilnya.  Suatu hari, Antonio berhasil mendapatkan pekerjaan dengan syarat ia harus mempunyai sepeda.  Ia dan istrinya menjual beberapa barang mereka untuk membeli sepeda mereka yang sudah ada di pawn shop.  Namun baru satu hari Antonio bekerja, sepedanya sudah dicuri orang lain.  

Seperti yang sudah saya katakan, film ini menyoroti kemiskinan yang terjadi di Italia setelah Perang Dunia II.  The Bicycle Thieves menunjukkan penontonnya bagaimana hidup sebuah keluarga bergantung pada suatu barang namun mereka bukan satu-satunya keluarga yang memerangi kemiskinan.  Orang sudah miskin dicuri, tapi karena dia dicuri, dia harus mencuri juga.  Alangkah ironisnya jika orang yang ia curi orang miskin juga, karena ini hanya mengakibatkan siklus yang tidak kunjung selesai.  Selain menyoroti kemiskinan, The Bicycle Thieves juga memperlihatkan dinamika hubungan ayah dan putra yang desperate.  Menyedihkan sekali bagaimana sang anak masih bergantung pada ayahnya, namun ketergantungan itulah yang menyebabkan sang anak hampir kehilangan ayahnya.  Selain plot yang menabjubkan, tidak ada aktor yang berakting jelek di film ini.  

Maggiorani dengan hebat membawa sosok yang desperate, tegas, namun seorang family-man.  Ia bisa menjadi keras dan pushy, tapi ia juga bisa bersenang-senang dan menjadi kepala keluarga yang pantang menyerah.  Enzo Staiola sendiri tidak kalah hebat.  Aktingnya terasa raw dan tulus, terutama pada adegan terakhir.  Staiola dan Maggiorani tidak hanya baik sebagai individu, tapi mereka juga mempunyai chemistry yang sangat mengesankan.  Overall, The Bicycle Thieves adalah film yang mampu membuat penontonnya untuk merefleksikan keputusan yang mereka sudah atau akan lakukan. 10/10    

Nebraska (Alexander Payne, 2013)


Alexander Payne kembali dengan tema keluarga pada 2013 dengan film berjudul Nebraska.  Tidak seperti ketiga film sebelumnya, Nebraska tidak ditulis oleh Payne sendiri melainkan oleh Bob Nelson, yang mendapat nominasi Best Origina Screenplay pada Academy Award ke-86.

Meskipun Woody Grant (Bruce Dern) adalah seorang pemabuk dan delusional, anak bungsunya, Davey (Will Forte) sangat peduli kepadanya.  Woody yang percaya ia baru saja memenangkan satu juta dollar, terobsesi untuk pergi ke Lincoln, Nebraska.  Istrinya, Kate (June Squibb), dan putra tertuanya, Ross (Bob Odenkirk) tidak merestui keinginannya.  Namun Davey yang melihat hal ini sebagai hal yang bisa membangkitkan gairah ayahnya setuju untuk mengantarkan Woody ke Lincoln.  Sayangnya di perjalanan, Woody terluka.  Ia harus singgah di rumah saudaranya.  Disana, Woody bertemu dengan orang-orang yang dulu merupakan bagian dari hidupnya.

Second half-nya Nebraska penuh dengan perbincangan mengenai masa lalu Woody.  Ini sepertinya berkaitan dengan komentar Kate mengenai Woody yang tidak pernah memperhatikan keadaan di sekitarnya.  Hal ini mengingatkan kita bahwa tempat yang kita tinggali sekarang mungkin bisa saja menjadi tempat yang nanti hanya berisi memori.  On the dark side, I think Woody had it too easy.  Sure, his wife can be a bitch, and his relatives are punch-worth, tapi ia mempunyai putra yang supportive dan toh pada akhirnya keluarga intinya mendukung dia.  Akan lebih bagus jika ada kontras dimana ada seorang lansia yang tidak punya keluarga yang mempermudah hidupnya.  Nebraska tidak hanya mempunyai plot yang menyenangkan, aktor-aktornya pun sangat lihai dalam memerankan masing-masing karakter dan mempunyai chemistry yang indah di antara mereka.  Overall, Nebraska adalah film yang lucu, hangat, dan engaging. 8/10

The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014)


Why oh why gue gak nonton nih film dari awal.....*jedotin kepala ke lemari*

Setelah sukses dengan Moonrise Kingdom, Wes Anderson kembali dengan film yang tidak kalah menariknya, The Grand Budapest Hotel.  Film yang hits sekali di tahun 2014 ini telah menerima banyak pujian dari kritikus film.

Grand Budapest Hotel mungkin adalah hotel terhebat di Budapest pada tahun 1930an.  Sang pengelola, Gustave H (Ralph Fiennes) merupakan sosok yang perfeksionis dan menomorsatukan setiap tamu Grand Budapest Hotel.  Ia akan melakukan apa saja untuk tamu-tamunya.  Apa saja.  Zero (Tony Revolori) hanyalah lobby boy yang keluarganya baru saja dieksekusi.  Meskipun Zero hanyalah pegawai baru, kesetiannya pada Gustave terbukti saat Gustave dipenjara karena diduga membunuh salah satu regular guest-nya.

Sumpah, gue nyesel banget gak nonton film ini dari awal, karena filmnya super keren.  Gue cuma punya satu pengalaman dengan om Wes Anderson (Moonrise Kingdom) itu pun gue cuma nonton setengah karena gue ketiduran, haha.

The Grand Budapest Hotel mempunyai aspek visual yang indah, iringan musik yang sejalan dengan film, plot yang witty, and last but not least, jajaran aktor yang sangat hebat.  Gue tidak melihat adanya kekurangan dalam film ini walaupun harus gue akuin film ini terlihat agak pretensius dan typical indie film.  Dibalik kelucuan dan kemewahan The Grand Budapest Hotel, ada sedikit kegelapan dan melankolis pada film ini.  Madame D mungkin tipikal orang setengah baya, tapi bukankah sedih juga jika keluarganya (termasuk anaknya sendiri) datang ke pemakamannya hanya untuk mendapatkan warisan?  Zero yang dewasa juga dengan blak-blakan menceritakan kematian Agatha (Saosoire Ronan) dan tuannya sendiri, Gustave.  Ia melakukan itu seolah-olah ia tidak ingin merusak masa-masa bahagia yang ia alami bersama mereka.  Kematian mereka memang tidak dibahas secara mendalam, tapi kematian mereka tetap menimbulkan perasaan pahit dan sedih pada gue.  

Gue rasa ada alasan mengapa saat-saat terakhir Gustave justru diberikan warna hitam-putih.  Mungkin karena jika kita hanya melihat Gustave yang membela Zero kita akan langsung menilai bahwa Gustave adalah seorang saint atau noble.  Atau jika kita ingat bagaimana Gustave bisa apatis terhadap nasib keluarga Zero, kita akan langsung menilai Gustave sebagai antagonis.  Padahal pada akhirnya, Gustave bukanlah sosok yang bisa diberikan warna hitam atau putih saja.

Overall, no words can describe my love for The Grand Budapest Hotel. 10/10             

Jumat, 14 Maret 2014

The Seventh Seal: A masterpiece that questions God's existence

I want knowledge! Not faith, not assumptions, but knowledge! -Antonius Block

Jika anda penggemar film (500) Days of Summer maka anda tahu adegan dimana Tom menonton film hitam putih dan membayangkan dirinya sebagai ksatria yang bermain catur dengan cupid.  Nah, adegan itu memparodikan adegan dari film The Seventh Seal, yang boleh dibilang salah satu film Ingmar Bergman yang terkenal.  Saya belum pernah menonton film-filmnya Ingmar Bergman, sehingga The Seventh Seal merupakan film Ingmar Bergman yang saya tonton pertama kalinya.  Saya sendiri kurang paham dan tahu dengan gaya penulisan dan penyutradaraan Bergman.  Tapi setelah saya menonton The Seventh Seal, saya tidak sabar untuk menonton film-film Bergman lainnya.

The Seventh Seal menceritakan perjalanan seorang ksatria yang bernama Antonius Block (Max von Sydow), setelah Perang Salib.  Dia pulang ke Swedia bersama rekannya, Jons (Gunnar Bjornstrand).  Mereka sadar bahwa Swedia  sedang terserang sebuah wabah.  Di tengah perjalanan, Antonius bertemu dengan Kematian a.k.a Death (Bengt Ekerot).  Karena Antonius belum siap menemui ajal, ia mengajak Death untuk bermain catur.  Antonius memainkan yang putih sedangkan kematian yang hitam.

Antonius dan Jons melanjutkan perjalanan mereka dan melewati sekelompok aktor-sirkus.  Kelompok itu terdiri dari Mia (Bibi Anderson), suaminya, Jof (Nils Poppe) dan manajer mereka, Skat (Erik Strandmark).  Di tengah perjalanan, Skat pergi meninggalkan mereka dan kabur dengan seorang wanita (Inga Gill).  Ternyata wanita itu sudah menikah.  Suaminya (Ake Fridell) yang patah hati memutuskan untuk pergi dengan Antonius dan Jons.  Kebetulan Jons telah menyelamatkan seorang gadis (Gunnel Lindblom) sehingga si gadis ikut dengan rombongan Antonius & Jons.  Antonius & Jons sendiri memutuskan pergi dengan rombongan Mia & Jof.  Ketika mereka melewati hutan, mereka menemui seorang wanita yang akan dibakar karena wanita itu mengaku menyembah setan dan menyebarkan wabah.

WARNING : SPOILER ALERT!!!


Oh my God, I fuckin' in love with The Seventh Seal.  Seriously, I love the topic and Bengt Ekerot's iconic character.  Saya agak terkejut dengan teknik visual dalam film ini.  Film ini boleh saja berwarna hitam-putih, tapi sudut-sudut pengambilan gambar memberikan banyak adegan indah dalam film ini.  Saya suka bagaimana Ingmar Bergman membahas masalah yang serius dan menyangkut kehidupan manusia, namun mencampurnya dengan fantasi sehingga The Seventh Seal terasa seperti film.  Bukan terasa seperti dokumentasi kecil.  Yang saya maksudkan dengan 'dokumentasi kecil' adalah film-film yang terlalu realistis dan terasa agak plain, contohnya Blue Valentine, Like Crazy, Before Midnight, dll.  Film adalah film, harus ada sesuatu yang membuatnya menarik.  Ada beberapa hal dari film ini yang saya kurang suka, seperti editing dan musik.  Editing-nya membuat film ini seakan-akan bergerak secara random, sedangkan musiknya lebay.  Anyway, is it just me or this movie has some kind of spooky touch? 

Meskipun adegan catur dan dansa (di akhir film) merupakan dua adegan yang paling terkenal, adegan favorit saya adalah dimana Antonius tidak sengaja mencurahkan pikirannya -dan strategi caturnya- kepada Kematian.  Saya suka sekali adegan itu mulai dari sudut pengambilan gambar, dialog, bahkan akting.  Pemikiran dan keinginan Antonius sama seperti saya.  Seperti quote yang tertulis diatas poster, yang Antonius inginkan adalah pengetahuan yang pasti apakah Tuhan itu ada atau tidak.  Ia juga ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang mau percaya tapi tidak bisa percaya atau yang tidak bisa dan tidak mau percaya kepada Tuhan.  Dia tidak menginkan iman atau asumsi, tapi kepastian dan pengetahuan. 

Saya tidak tahu mengapa Bergman memilih catur, namun saya mempunyai interpretasi sendiri.  Catur merupakan permainan yang membutuhkan strategi atau rencana.  Strategi itu entah untuk menghindari lawan, menyerang lawan, atau mempertahankan bagian kita.  Manusia boleh saja berencana menghindari kematian, tapi pada akhirnya kematian akan datang kepada kita semua.  Entah kepada orang percaya atau tidak, orang baik atau jahat, siap atau tidak, kematian akan mendatangi kita semua.  You can cheat death once, twice, or even more, but eventually, death always wins.  Hal ini membuat saya sadar bahwa antara kematian dan kehidupan setiap individu selalu ada permainan, yang pada akhirnya akan dimenangkan kematian.  Kita bisa mendapatkan banyak hal selama kita hidup bahkan mungkin mencurangi kematian, tapi pada akhirnya, entah dalam waktu yang lama atau sebentar, kematian akan selalu mengungguli kita.




Kepesimisan, keoptimisan, dan perjalanan tokoh-tokoh The Seventh Seal menuangkan pilihan dan pemikiran manusia akan Tuhan.  Ada yang dengan mudahnya percaya seperti Jof, ada juga yang bertanya-tanya dan pesimis seperti Jons dan Antonius.  Namun kesamaan dari semua karakter dalam film ini adalah mereka menghindari dan takut akan kematian.  Keberadaan Tuhan boleh saja dipertanyakan, tapi eksistensi kematian tentu saja nyata dan hanya orang bodoh yang mempertanyakan hal itu.  Mungkin karena itu Bergman menamakan karakter Kematian sebagai Death, bukan Angel of Death atau sejenisnya.  Memberikan karakter yang bernama Malaikat Kematian seakan-akan memberikan konfirmasi bahwa Tuhan itu ada.  Namun jika hanya dinamai Kematian, Bergman menceritakan slice of life apa adanya.

Bergman memperlihatkan sisi negatif dan positif agama dan Tuhan, entah sengaja atau tidak.  Agama dan Tuhan menyebabkan manusia melarikan diri dari masalah-masalahnya.  Hal ini diungkapkan melalui adegan dimana sekelompok orang menyiksa diri mereka dan menangis-nangis meminta ampun Tuhan.  Saya tidak tahu apakah Bergman mengidolakan Karl Marx, karena adegan ini mirip dengan salah satu kritikan Karl Marx bahwa agma adalah candu masyarakat.  Artinya, agama membuat manusia melarikan dari masalahnya dan bersikap tidak rasional.  Tapi di sisi lain, taat beragama dan mempercayai Tuhan merupakan safer bet dalam hidup.  Bukan safest, tapi safer.  Hal ini terlihat ketika Mia & Jof selamat dari kematian.  

Akting semuanya bagus.  Mulai dari Bengkt Ekerot yang menampilkan sosok Death yang misterius dan karismatik, Max von Sydow yang galau dalam memahami Tuhan, Gunnar Bjornstrand yang pesimis, Bibi Anderson & Nils Poppe yang ceria dalam menghadapi hidup, sampai Inga Gill yang flirty banget.  Mereka semua berhasil memerankan peran-peran masing-masing dan di waktu yang sama membangun chemistry satu sama lain. 

Overall, The Seventh Seal is a classic mind-provoking film and a masterpiece that questions God's existence without being boring, heavy, or too supernaturalish. 9,8/10


pic cr:
mecail2012.blogspot.com
imagesci.com
empireonline.com
rainz.tumblr.com


Rabu, 26 Juni 2013

Forget Me Not (Vergiss Mein Nicht) - 2012

Who's Malte? -Gretel


Sebenarnya review yang ini pengen gue masukkin ke German Cinema Film Critic Competition, tapi review gue gak sampe 500 kata, hiks...karena gue males bikin review lain, makanya gue copas aja terus gue post ke blog gue, hehe.

Alzheimer mungkin salah satu penyakit yang sering terlihat di film-film tearjerker.  Sejauh ini, saya tidak punya teman atau kenalan yang anggota keluarganya menderita alzheimer, dan satu-satunya orang terkenal yang saya tahu menderita alzheimer adalah Iris Murdoch, seorang penulis Inggris.  Dan kali ini, David Sieveking (Fly with David, 2010) akan mengangkat tema alzheimer ke filmnya, tapi dalam bentuk dokumenter, dan penderitanya adalah ibunya sendiri. 

 David Sieveking akan mengenalkan kita pada Gretel, ibunya.  Sebelum sakit, Gretel adalah sosok yang hangat, kuat, dan aktif.  Setelah sakit, Gretel menjadi orang yang pemalas dan keras kepala  Beruntung ia mempunyai suami seperti Malte.  Malte yang hidupnya didedikasikan pada matematika dan ingin mengelilingi Eropa, akhirnya mengorbankan waktunya untuk Gretel. 

Selama David merawat ibunya, David menyadari bahwa ia tidak terlalu mengenal ibunya.  Bahkan ia baru tahu pernikahan orangtuanya adalah pernikahan terbuka setelah ibunya sakit.  Hal ini membuat David menghabiskan waktunya untuk melihat foto-foto lama, melihat dokumen politik ibunya, bahkan mengunjungi saudari-saudari Gretel.    



Jujur, saya cukup bingung dengan definisi kritik di perlombaan ini.  Apakah yang dimaksud kritik adalah mengkritik dengan artian mencari hal-hal buruk dari film ini, atau meresensinya?  Tapi, saya akan tetap mencoba untuk melihat film ini dengan kacamata kritis. (?) 

Seiring berjalannya film, entah kenapa saya merasa sedikit bosan.  Saya sadar bahwa Forget Me Not adalah film dokumenter yang  99% adegannya tidak direncanakan.  Saya menyukai usaha David Sieveking untuk menghadirkan beberapa moment komedi, tapi menurut saya kurang bisa mengimbangi dengan drama yang ‘disuap’ ke penonton.  Beberapa adegan juga tidak ada salahnya di-cut.  

Kalau tidak salah, film ini sempat mendeskripsikan bahwa film ini bercerita tentang dampak penyakit alzheimer Gretel kepada keluarganya.  Kalau memang dampak pada keluarganya, dampaknya pada dua anak perempuan Gretel kurang diperlihatkan.  Bahkan peran mereka kurang tertangkap di film.  Mungkin untuk hal ini, anda harus berpegang dengan fakta bahwa film ini adalah film dokumenter.



Dan rasanya topiknya jadi agak melebar dan kurang fokus.  Saya sempat merasa bingung karena apakah film ini bermaksud untuk berkenalan dengan masa lalu Gretel, hubungannya dengan suaminya, atau dampak alzheimer pada Gretel dan keluarganya?  Itu yang mungkin membuat saya agak bosan karena saya merasa ‘disuapi; oleh berbagai topik dan informasi.  Tapi harus saya akui bahwa ketiga topic itu dibawakan dengan cukup seimbang. 

Hal-hal teknis seperti sinematografi danmusik, saya tidak punya masalah.  Hanya saja saya akan lebih suka jika beberapa momen intim antara Gretel dan suaminya (Malte) tidak usah di close-up dan menggunakan long atau medium-range shots, seperti kebanyakan film-film Woody Allen.  Momen-momen intim itu akan terasa lebih nyata dan dalam.

Bagian yang paling menganggu saya adalah bagian klimaks, yaitu ketika David menunjukkan keadaan ibunya enam bulan kemudian.  Rasanya bagian itu terlalu cepat dan kosong.  Bagian beberapa bulan/tahun kemudian itu terasa klise, dan di film ini, terasa dipaksakan.  Bagian itu memang sebaiknya di-cut saja.   

Film ini mungkin membuat saya agak bosan, tapi mau tidak mau saya menyukai Gretel dan berempati dengannya.  And maybe, in a way, she was a close friend that I never met. 

pic cr : cineastentreff.de
berlinable.de
filmfestivalrotterdam.com 
 

Jumat, 03 Mei 2013

Asterix and Obelix : God Save Britannia


Julius Caesar berhasil menyebu Inggris!  Ratu mengirim Jolitorax untuk pergi ke desa untuk minta tolong Asterix dan Obelix.  Kepala desa pun setuju untuk membantu Inggris dengan menyuruh Panoramix membuat ramuan kekuatan satu tong untuk Inggris.  Kepala Desa juga menyuruh Asterix dan Obelix untuk membawa Justforkix, keponakan kepala desa sendiri.  (Gue lupa nama kepala desanya).

Di satu poin dalam perjalanan ini, Asterix dan Obelix berusaha untuk menemukan orang baru dalam kehidupan masing-masing, alias cewek!  Kira-kira, petulangan apa yang akan dihadapi oleh Jolitorax, Justforkix, dan Asterix & Obelix? Tonton aja filmnya!

Filmnya lucu banget!  Kalau film-film horor dan komedi gue emang bikin pengecualian.  Kalau filmnya bisa bikin gue ketakutan dan ketawa, pasti nilai filmnya diatas 7.  Dan ya, film ini berhasil bikin gue ketawa!  Film ini memang membawa parodi yang juga sering ada di komik Asterix & Obelix.  Gue udah cukup lama gak baca komiknya, tapi gue ingat ada karakter yang suka nyanyi, tapi gak bisa nyanyi!  Gue suka dia, tapi lupa namanya -__-

Endingnya emang agak klise, tapi prosesnya cukup bagus kok.  Efeknya emang kurang bagus karena ini bukan film hollywood, tapi juga gak jelek-jelek banget.  Gue sempat memperhatikan kalau beberapa karakter disini pakai kaos biasa dan jeans, entah itu bagian dari parodi atau menghemat biaya produksi.  

Gue kurang suka aktingnya Gerard Depardieu (Obelix).  Entah kenapa, seandainya ini bukan film komedi, aktingnya dia bakalan terlalu datar.  Dia itu kurang lucu dan hanya menjadi Obelix.  But, it's a good movie anyway. 7/9/10