Tampilkan postingan dengan label Bad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bad. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2015

Cinderella (2015)


Gue demen fairytale waktu gue masih eek di celana. Tentu saja gue mencintai fairy tale karena gue gak tahu betapa konyolnya the idea of love at first sight, atau bahwa rata-rata protagonis di fairy tale selalu digambarkan dengan kata cantik, seolah-olah kebaikan bisa terlihat dari luar. Anyway, Cinderella merupakan film fantasi Amerika tahun 2015 yang disutradari oleh Kenneth Branagh dan ditulis oleh Chris Weitz.  Sama seperti Maleficent, Cinderella merupakan recreation dari sebuah fairytale klasik. Karena gue cukup terhibur dengan Maleficent, gue mencoba untuk memberikan Cinderella suatu kesempatan (although I know I won't like this film).

Salah satu ciri khas Ella (Lily James) adalah lunacy daya imajinasi yang besar. Ia percaya bahwa binatang-binatang di sekitarnya mengerti apa yang ia bicarakan dan ibunya bahkan mendukung kepercayaan itu *which I don't really support in real life*. Ibu Ella memberikan suatu nasihat yang akan menjadi prinsip Ella yaitu have courage and be kind. Bla bla bla, ibunya mati, lalu ayahnya menikahi seorang janda bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett).  Lady Tremaine tidak sendirian, ia membawa kedua putrinya yaitu Anastasia dan Drizella. Saat Lady Tremaine membawa sepercik 'keceriaan' ke rumah Ella, sang ayah pergi meninggalkan Ella bersama keluarga barunya. Bla bla bla, Lady Tremaine dan dua putrinya memanfaatkan kepolosan dan kebaikan Ella sehingga status Ella menjadi babu.

Pangeran Kit (Richard Madden) didesak oleh ayahnya (Derek Jacobi) untuk menikahi seorang putri untuk memperkuat posisi kerajaan kecil mereka. Sayangnya, Pangeran Kit telah jatuh hati pada seorang wanita misterius yang ia temui di hutan. Pangeran Kit yang sudah jatuh terlalu dalam memutuskan untuk memperluas undangan pesta dansanya hingga pesta dansa itu bisa dikunjungi setiap orang.

Kapan ya gue gak spoiler?

cgmeetup.net

Gue tahu kok ini diadaptasi dari cerita yang super klise dan targetnya bukan penonton yang serius, tapi...

I dislike this film. Come on, kita udah di era modern, masa masih bikin film dengan tokoh, pesan, dan dialog yang super naif? Gue sadar betul kok film ini diadaptasi dari mana dan target penontonnya siapa, tapi tingkat dreamy dan kenaifan film ini sangat mengganggu gue. Gue melihat banyak bocah ingusan nonton film dan ngerasa kesel sendiri karena gue tahu sebagian dari mereka akan mendapatkan kesan yang kurang tepat dari film ini. Yang membuat kenaifan film ini sulit dimaafkan bagi gue adalah fakta bahwa film ini dibuat di jaman modern dimana otak yang bikin nih film harusnya udah lebih maju daripada pembuat film yang versi kartun di tahun 50an. 

Film ini juga tidak punya sedikit ramuan kegelapan, kalaupun ada, terasa terlalu subtle buat gue. Trust me, a speck of darkness is always good because the world is dark. 

Be kind and have courage my ass

I want to smash my head everytime I hear this line in the film.

Bercita-cita jadi orang baik dan idealis macam Jokowi, Munir, Martin Luther King jr, Mahatma Gandhi, atau orang lain itu bagus kok, asalkan lu juga make otak. Jangan sampe lu keseringan make hati terus otak lo karatan kayak si Ella. Cinderella kurang menekankan pentingnya untuk menjadi orang yang tidak polos dan agak jahat. Well, mungkin diperlihatkan lewat bagaimana 'derajat' Ella turun karena ia terlalu baik dan buta terhadap maksud ibu dan kedua saudari tirinya. Tapi orang yang terlalu fokus pada akhir dimana Ella mendapatkan prince charming mungkin melewatkan hal itu.   

Lady Tremaine dan putri-putrinya emang jahat, tapi mereka tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan yang mereka inginkan. Mereka menggunakan otak mereka secara efektif. Ella bisa saja mendapatkan hal yang ia mau...if she trains her brain enough...which she doesn't do, because her mother only told her,"Be kind and have courage." Well fuck that advice, because you also need your brain. What's the point of kindness and courage without wisdom and cleverness?

Salah satu hal yang gue pelajari dari sejarah adalah bahwa sometimes, the victims let themselves to be victimized. Ella sebenarnya tahu bahwa ia dilakukan secara semena-mena oleh trio macan, tapi dia membiarkan mereka begitu saja. Alasan Ella membiarkan dirinya dilakukan semena-mena adalah ia ingin tetap berada di rumah milik orang tuanya. But in the end of the day, she lets herself to be victimized by the three stooges. Dia mengatakan Lady Tremaine kejam namun gagal melihat bahwa kenaifan dan sifatnya yang super 'baik' juga berperan dalam kesialannya. Also, it's quite ironic that Ella tells herself to have courage, but doesn't have balls to rebel against her step family.

jagatreview.com

This bitch had it too easy

Yang gue maksud dengan bitch bukan ibu tirinya kok, tapi si Ella.

Sumpah, tuh orang hokinya banyak banget anjir. Waktu dia membiarkan gaunnya dirobek, dia kedatangan ibu peri yang membuat gaun yang lebih bagus. Waktu dia cengak cengok di loteng, tikus-tikus yang bukain jendela.

Kurang hoki apa coba? 

Selain itu, hal ini memberikan kesan bahwa hoki akan selalu ada dan yang harus kita lakukan hanyalah be kind and have courage. Well, kenyataannya tidak semua dari kita punya kehokian yang sebesar itu. Kehokian yang terjadi pada Ella pun terjadi bukan karena dirinya, tapi karena orang lain membuka kesempatan itu. Ibu peri yang berusaha, bukan Ella. Tikus-tikus yang membukat jendela, bukan Ella.

...or is it? Gue sadar sih kalau Ella gak ngasih susu ke ibu peri, si ibu peri juga ogah bantuin Ella. Kalau Ella gak baek sama tuh tikus CGI, mereka malah gigit Ella. Jadi gue harus mengakui kalau sifat baiknya Ella memang meningkatkan presentasi kehokiannya. Sayangnya di kehidupan nyata, boro-boro orang yang lu bantu bakalan bantuin lu balik, best friend lu aja punya hati buat backstab lo

The actors

Cate Blanchett is a badass, as usual. Sumpah, dia bisa banget bikin ekspresi sedih yang bisa menipu penonton. Dia juga bisa memperlihatkan seorang ibu yang sayang anaknya, tapi malu sama kebegoan anaknya, haha. Untung nih film punya Blanchett.

Sebelum gue nulis, gue merasa gak suka dengan aktingnya Lily James. Tapi gue mempertanyakan diri gue sendiri apakah gue gak suka aktingnya, atau gak suka karakternya. Sometimes, people have a hard time to separate between the actors who act and the characters they play. Saat ini, gue memutuskan bahwa akting Lily James cukup, apalagi mengingat dia itu rookie.

Overall

Gue tahu kok film ini diadaptasi dari kisah yang super klise dan target penontonnya bukanlah penonton yang serius. Tapi gue pikir kedua hal itu bukanlah alasan untuk membuat film dengan pesan-pesan yang kurang tepat kepada penonton yang masih ngadu ke bokap nyokap mereka. Meskipun sang sutradara dan penulis melebih-lebihkan be-kind-and-have-courage stuff, ada kemungkinan mereka berusaha memperlihatkan kekurangan pesan itu lewat turunnya derajat Cinderella. Unfortunately,  Cinderella only gives me a super naive protagonist who's ironically doesn't have enough guts to rebel against her step family. And I don't like it. 4,5/10


Kamis, 19 Juni 2014

Black Butler (2014): A disappointing adaptation of "Kuroshitsuji"

I'm just...a devilish butler. -Sebastian Michaelis
eigapedia.com

Gue gak pernah baca komik Black Butler a.k.a Kuroshitsuji ataupun nonton anime-nya.  Tapi teman SMP gue ngefans banget sama nih komik, makanya gue tahu satu-dua hal tentang komik ini.  Black Butler merupakan film supernatural dan misteri Jepang 2014 yang disutradarai oleh Kentaro Otani dan Keiichi Sato serta ditulis oleh Tsutomu Kuroiwa.  Film ini merupakan live action yang diangkat dari komik Black Butler yang ditulis oleh Yana Toboso.  Durasi film ini sekitar 199 menit.

Film ini berlatar pada tahun 2020, dimana dunia terpisah menjadi "Barat" dan "Timur".  Ratu dari "Barat" pun mengirim 'mata-mata' ke seluruh dunia yang disebut Queen's Watchdogs.  Salah satu dari Queen's watchdogs itu adalah Kiyoharu Genpo (Ayame Gouriki).  Nama asli Kiyoharu adalah Shiori.  Ia merupakan satu-satunya putri pasangan Genpo yang dibunuh pada suatu malam.  Shiori selamat dan ia menyamar sebagai anak laki-laki haram ayahnya agar dapat menguasai seluruh aset keluarga Genpo.  Ia kembali dengan seorang pria yang bernama Sebastian Michaelis (Hiro Mizhushima)Sejak saat itu, Sebastian menjadi pelayan setia bagi Kiyoharu.  Sebenarnya Sebastian seorang setan yang melakukan perjanjian dengan Kiyoharu.  Kiyoharu menjual jiwanya kepada Sebastian agar ia bisa melakukan balas dendam bagi orang-orang yang telah membunuh orangtuanya.

Akhir-akhir ini, muncul kasus orang-orang yang berubah menjadi mumi.  Korban-korbannya merupakan orang yang punya jabatan di dunia politik.  Tapi polisi tidak bisa menemukan koneksi antara orang-orang yang dibunuh serta apapun yang menyebabkan mereka menjadi mumi.  Kiyoharu dan Sebastian pun menyelidiki kasus ini dengan sedikit bantuan dari bibi Kiyoharu, Hanae (Yuka).  Kasus ini malah menarik Sebastian dan Kiyoharu ke dunia gelap yang melibatkan obat-obatan dan terorisme.  Siapapun orang di balik ini semua, ternyata juga terlibat dengan pembunuhan pasangan Genpo.

eigapedia.com

What the hell is Genpo family?  Bukannya Ciel Phantomhive ini cowok?  Kok malah jadi cewek?!!!  Kok nama keluarganya beda?  Bukannya Black Butler setting-nya di jaman ratu Victoria gitu ya?!!

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan berbagai pertanyaan yang memenuh otak gue saat menonton film ini.  Tapi karena gue belum pernah baca dan nonton Kuroshitsuji, makanya gue melupakan pertanyaan-pertanyaan itu.  Sampai rumah, gue pun browsing tentang Black Butler dan ternyata live action ini emang agak beda dengan komik aslinya.  Karena gue bukan fans berat Black Butler, gue malah appreciate Tsutomu Kuroiwa yang berusaha agar film ini sedikit berbeda dari komik aslinya.  But does that mean I like this film?

First thing first, Sebastian Michaelis ganteng banget!!!!!!!!  Mau yang versi komik atau versi live action, dia ganteng banget sumpah!!!  Selama ini gue membayangkan Sebastian sebagai sosok yang karismatik, misterius, agak dingin namun punya sense of humor yang rada sarkastik.  Praise to the lord, Hiro Mizushima berhasil mewujudkan Sebastian impian gue!  Hal yang paling gue suka dari aktingnya Hiro Mizushima itu bukan facial expression-nya, tapi gesture dan intonasi suaranya.  Mizushima berbicara dengan cara yang anggun namun juga mempunyai unsur playfulness.  Gue rasa Mizushima berhasil memerankan sosok Sebastian Michaelis karena dia berhasil menarik perhatian gue, yang tadinya gak tahu apa-apa soal Sebastian Michaelis, malah tergila-gila sama dia sekarang.   Gue suka bagaimana penulis dapat menunjukan kesetiaan Sebastian, tapi di sisi yang lain, Sebastian tidak takut memainkan nyawa tuannya di waktu tertentu.  Meskipun Sebastian 'terikat' untuk melayani Kiyoharu, there's still a sense of independence from Sebastian.  Tidak hanya karena Sebastian lebih kuat daripada Kiyoharu, tapi ada sesuatu dari aura dan watak Sebastian yang membuatnya...agak bebas dan mandiri.

Ciel Phantomhive di otak gue merupakan sosok tuan muda yang karismatik, dingin, kaku, tapi juga agak pemalu.  Sayang, Ayame Gouriki gagal mewujudkan Ciel Phantomhive.  Atau mungkin karena Ciel Phantomhive yang di otak gue berbeda dengan Ciel yang di komik ataupun anime?  Oke, oke, Ayame Gouriki tidak berperan sebagai Ciel di film ini, tapi sebagai Kiyoharu Genpo.  Entahlah, bukankah orang yang memimpin suatu perusahaan besar dan mata-mata ratu harusnya mempunyai aura seorang pemimpin atau karisma yang besar?  Gouriki tidak memiliki unsur ini.  Bukan hanya itu, terkadang ekspresi Gouriki terlihat seperti dipaksakan.  Memang ada momen dimana aktingnya bagus, tapi ada juga momen dimana it's awkward to watch her.  Sayangnya juga, chemistry antara Gouriki dan Mizushima kurang terasa.   

Tapi untungnya hubungan antara Kiyoharu dan Sebastian tergali dengan cukup baik disini.    

theeoy.com
Waktu gue melihat ada mobil yang dikendarai dengan agak aneh dan di mobil itu ada mumi, somehow, gue mengira bahwa film ini merupakan pertemuan antara Confession (Kokuhaku) dan Battle Royale.  Artinya, film ini merupakan film misteri gelap bercampur dengan bunuh-bunuhan yang berdarah.  Sadly, Black Butler is far from Confession or Battle Royale.  Gue malah merasa agak bosan dengan film ini dan pengen cepat-cepat keluar dari bioskop.  Why?  Karena durasinya kepanjangan.  Kalau durasinya panjang tapi akting, plot, dan sinematografinya bagus sih yang jelas gak apa-apa.  But I think this film is mediocre.

Yes, there are some twists in this film, but overall, film ini gak punya cerita misteri yang 'menggigit'.  I don't really know why, pertama-pertamanya sih gue ngikuti dan kepo dengan misteri yang ditawarkan film ini.  Tapi lama-kelamaan gue males dan udah gak kepo lagi dengan misterinya.  Gue rasa karena twist yang ada di film ini malah backfire ke filmnya.  Beberapa twist agak nonsense bagi gue.  Karena ada terlalu banyak twist, gue malah mikir "masa bodo, suka-suka penulisnya aja".  Gue paling gak suka adegan dimana Kiyoharu dan Sebastian menghadapi dalang dari kekacauan yang terjadi di film ini.  Seriously, it's awkward to watch it karena aktor yang jadi 'si dalang' gak punya kemampuan akting yang kuat.  Nangisnya kelihatan maksa and the evil laugh is really awkward for me.    

Gue juga punya hubungan love-hate dengan sinematografinya.  Ada gambar-gambar bagus, tapi seringkali sinematografinya terasa biasa banget.  Gue rasa karena crew film ini jarang menggunakan long-range shot.  Kebanyakan adegan diambil dengan jarak yang pendek.  Sayang sekali aktor-aktor ini tidak punya skill yang sejajar dengan Jack Nicholson ataupun Meryl Streep.  Bukannya melihat aktor yang berakting dengan penuh emosional, kita malah melihat aktor yang ekspresinya maksa banget.  Nuansa gelap yang kurang dikontrol dengan baik juga membuat gue kurang suka dengan teknik sinematografinya.

Mungkin karena pengalaman musik Ghibli gue sangat bagus makanya gue berharap musik di film ini juga bisa menyaingi musiknya Joe HisaishiOh well, not everybody can be Joe Hisaishi.  Gue malah terkadang terganggu dengan musiknya, entah karena musiknya emang gak cocok dengan adegannya atau sound system bioskopnya yang jelek.

Unless you're a fan of Black Butler a.k.a Kuroshitsuji, I don't recommend this film for you.  The mystery is pretty good, but the other aspects of this film don't encourage me to keep watching this film.  The actors -other than Hiro Mizushima- are pretty awkward for me.  4,3/10                    

 

Senin, 16 Desember 2013

Frozen : Nothing But a Few Laugh and Light Entertainment

It's much easier to melt a frozen head than a frozen heart.

Berbagai film kartun telah dirilis di tahun 2013.  Sebut saja Despicable Me 2, Monsters University, Turbo, dan Epic.  Namun, tidak ada dari yang mereka yang benar-benar menggaet hati kritikus.  Gue sendiri sih baru nonton Despicable Me 2, karena gak sempet nonton MU dan yang lainnya simply gak menarik hati, wkwk.  Wreck-It-Ralph aja gue gak nonton (?)  But, adik sepupu gue yang ultah kemarin pengen nonton ini, so, gue nonton deh nih film.

Frozen dibuka dengan sebuah lagu yang menceritakan kekuatan es dan bahwa hati di otak lebih mudah disembuhkan daripada yang di hati dan blablabla.  Di istana, terdapat dua putri bernama Anna (Kristen Bell) dan Elsa (Idina Menzel).  Elsa memiliki kekuatan untuk membuat salju dan es sementara Anna tidak.  Namun mereka berdua saling menyayangi.  And guess what?  They love to play with snow and ice!!! *gasp* *sarcasm*  

Anyway, mereka sedang bermain-main dan Elsa dengan tidak sengaja 'memasukkan' es ke dalam kepala Anna.  Raja dan ratu yang panik membawa Anna dan Elsa ke troll yang baik hati manis dan imut.  Troll itu menyembuhkan Anna dan menyarankan agar ingatan Anna tentang kekuatan Elsa dihilangkan dan Elsa harus belajar mengontrol kekuatannya.  Elsa pun tidak pernah menemui Anna lagi karena terlalu takut untuk mengulangi kesalahannya lagi.  Hingga sang ratu dan sang raja meninggal.

Elsa terpaksa mengundang banyak orang untuk hari pemahkotaannya.  Di pesta itu, Anna bertemu dengan Pangeran Hans dan jatuh cinta pada pertemuan pertama *muntah*  Anna dan Pangeran Hans yang udah kebelet nikah langsung meminta restu Elsa sebagai ratu.  Elsa tidak setuju karena menurutnya wedding proposal setelah satu hari pertemuan tidak wajar.  Karena Anna terlalu menekan Elsa, Elsa akhirnya menunjukkan kekuasaannya dan kabur dari istana.  Anna yang merasa bersalah memutuskan untuk mengejar Elsa dan menyerahkan kekuasaan sementara kepada Hans.  Di tengah perjalanan, Anna bertemu dengan Kristoff (Jonathan Groff).

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


First thought : too much singing in the beginning.  Lagu prelude (Frozen Heart) yang dinyanyikan di awal sudah cukup bagus untuk mendeskripsikan film ini, dan gue rasa adegannya cukup bagus.  Dilanjutkan dengan lagu "Do you want to build a snowman" yang entah kenapa menurut gue ritmenya terkesan maksa dan liriknya meaningless banget.  Apalagi jeda antara kedua lagu sedikit sekali.  Apakah film-film Disney selalu dipenuhi lagu-lagu yang terkesan maksa?  Well, I think I have to do "Disney Marathon" to find out.  Anyway, gue merasa biasa aja dengan lagu-lagu yang ada di film ini karena kebanyakan lagunya forgettable dan...maksa.  Setidaknya lagu-lagu Princess and the Frog (2009) mempunyai sentuhan jazz dan gospel sedangkan iringan musik Brave (2012) mempunyai sentuhan irish folk.  Lagu dari film Frozen yang paling besar impact-nya tentu saja Let It Go.  

Animasinya indah dan magical.  Apalagi istana-istananya dan landscape-nya.  Keren banget dah.  Kalau soal kualitas 3D gue gak bisa menilai karena gue gak nonton versi 3D.

Generally, I think Frozen can be enjoyed by only children.  Why?  The characters are shallow and forgettable to me!  Kelakuan Anna yang awkward gagal banget menutupi stereotipe tokoh Disney : gampang jatuh cinta.  Penampilan fisik dan watak yang klise malah membuat tekanan darah tinggi gue naik selama nonton nih film.  Kegalauan Elsa dalam menghadapi kekuatan dan tanggung jawabnya pun kurang diolah dengan baik.  Itu kan film anak-anak, masa ada galau-galaunya?  Just for you know, I think The Lion King (1994) berhasil mengelola kegalauan Simba untuk memilih apakah ia akan menjadi raja atau tidak.  Elsa dan Anna merupakan tokoh utama dalam film ini.  Tapi Jennifer Lee dan Chris Buck cukup gagal untuk membangun relasi atau ikatan yang cukup di antara mereka.  I think it's a bit impossible to still love your sister whom you almost never met in your entire life.  Well, Frozen is just a movie anyway.  Tapi tetap aja gue jadi frustasi waktu nonton, wkwk.   

Olaf is as annoying as SpongeBob.  I just want to strangle Olaf (almost) everytime he appears!  Hans ketebak banget bakalan 'ngambil perannya' Marion Cottilard di TDKR.  Sorry dude, your true character is known for me waaaaaaaay early.  Kristoff?  Lumayan sih, gue suka hubungannya dia dengan Sven.


Clearly this movie's weakest point is PLOT.  Yang paling menyedihkan, plot adalah bagian (paling) utama dari sebuah film.  Apapun film itu.  Frozen bak cupcake kecil yang luarnya bagus namun tidak punya isian.  Intinya, nih film ringan banget dan terlalu cute.  

Gue gak tahu apakah 'twist' yang ada di tengah-tengah film ini adalah usaha jujur Jennifer Lee dan Disney untuk memperbaiki plotnya, atau mereka hanya sok-sokan pake 'twist'.  

Memang terkadang bagus untuk berjalan cepat dan to the point.  Namun, kita juga harus melihat konteks keseluruhan film itu.  Gue gak yakin Frozen ditargetkan untuk orang dewasa sehingga filmnya to the point dan mempunyai tingkat kepadatan yang cukup rumit.  But the problem is, Frozen walks too fast and straight to the point.  Ini agak berlawanan dengan prelude yang seakan-akan menjanjikan background yang akan menarik emosi penonton.  Bukannya memberikan background yang cukup dan membangun emosi penonton dan cerita, film ini malah tetap berjalan dengan pace cepat.  I just don't feel any connection to the characters.  I mean, screw up with them.  Begitu juga di tengah-tengah film.  Gue tetap gak merasa adanya koneksi atau adventure mode seperti menonton Finding Nemo, Mulan, Shrek, dll.  

The Snow Queen karangan Hans Christian Andersen sebenarnya mempunyai tema yang sedikit gelap.  Yang gue heran, gue hampir gak merasakan unsur gelap itu.  Come on, gue udah nonton film-film animasi yang mempunyai tema gelap seperti Coraline, Nightmare Before Christmas, Corpse Bride, dll.  Sebenarnya The Lion King dan Beauty and the Beast juga mempunyai sedikit unsur gelap kok.  Tim produksinya benar-benar main aman dah.  Sedikit kepahitan bisa menyeimbangkan 'kemanisan' film ini. 

I'm still trying to figure out why the critics love "Frozen" so much while the plot is too light and has shallow characters just like "Despicable Me 2".  But I must admit that "Frozen" has a beautiful animation. 4,5/10  



pic cr :
jagatreview.com
skwigly.co.uk
cartoonbrew.com

Sabtu, 05 Oktober 2013

Frozen Ground


Yeay, akhirnya gue bisa review film baru, haha.  Eh, tapi gue gak tahu juga sih, kayaknya Frozen Ground gak baru-baru amat, wkwkwk.  

Frozen Ground adalah film crime-thriller 2013 yang disutradarai Scott Walker dan dibintangi oleh Nicholas Cage, John Cusack, dan Vanessa Hudgens.  Film ini berdasarkan kisah nyata.  Cindy Paulson (Hudgens) mengaku dirinya korban penculikan dan pemerkosaan, namun tidak ada polisi yang mempercayainya karena dia seorang pelacur.  Kasus Cindy pun tidak diinvestigasi lebih lanjut.  Ternyata setelah kasus Cindy yang tidak terselesaikan, ditemukan sebuah mayat wanita yang sebelumnya disiksa dan diperkosa.  Jack Halcombe (Cage) yang menyelidiki kasus ini curiga bahwa mayat yang ditemukan ada kaitannya dengan kasus Cindy.  Penyelidikan Halcombe mengarah pada seorang pria bernama Robert Hansen (Cusack) yang mempunyai image baik di depan teman-temannya dan orang sekitar.


A bit oot, but whatever : Why Disney girls turn into bitches? 

Frozen Ground tuh film misteri OLD school.  Yap, formula yang dipake terlalu 'klasik' dan sama sekali tidak mempunyai sentuhan modern.  Padahal ekspektasi saya sudah lumayan tinggi mengingat ada Nicholas Cage dan John Cusack dan opening-nya yang cukup menegangkan.  Apalagi Scott Walker tidak 'memutihkan' si protagonis.  Tapi saya langsung mengerutkan kening ketika saya melihat si antagonis keluar.  I hate that formula.  Saya dari dulu heran kenapa Hollywood suka sekali memperlihatkan wajah si antagonis dan hanya memberikan penonton proses-proses penyelidikan yang terkadang monoton.  Tapi Silence of the Lambs masih bisa menjadi salah satu film misteri terbaik walau menggunakan formula itu, bukan?  Well, Frozen Ground is no Silence of the Lambs and John Cusack is no Sir Anthony Hopkins.  

Menonton film ini terasa seperti menonton salah satu episode Criminal Minds yang buruk.  Walker mengisi Frozen Ground dengan formula-formula kuno dan aksi kejar-kejaran 'kucing dan anjing' yang terkesan bertele-tele.  Tidak ada yang istimewa.  Dialognya biasa-biasa saja, kadar ketegangan berkurang, dan semuanya menjadi predictable.  Proses penyelidikan kurang berkesan karena Scott Walker menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas Hansen yang membosankan dan proses penyelidikan yang kurang melibatkan bukti-bukti forensik ataupun profil pembunuh (kriminologi gitu loh).

Tidak cuma itu, film ini TERLALU mencoba menjadi salah satu dari film-film stylish dengan menggunakan shaky-cam.  Let me rephrase it : OVERDO shaky-cam.  


Oh please, Law & Order : SVU has better performances.  Menurut saya, penampilan John Cusack dan Nicholas Cage buruk.  Titik.  Ada orang yang mengatakan mereka penampilan mereka tidak istimewa tapi tidak mengecewakan juga.  Well, jika dua aktor veteran masih memberikan penampilan tidak istimewa, itu sudah saya klasifikasikan jelek atau buruk.  Saya sendiri kurang tahu kemampuan akting Cage yang 'sesungguhnya' karena saya tetap tidak suka dia, padahal saya sudah menonton City of Angels, Ghost Rider, dan Season of the Witch.  Wrong movies, maybe?  Saya sendiri juga bukan penggemar Cusack, tapi saya cukup puas dengan penampilannya di 1408.  Untung saja John Cusack sempat bersinar sebentar di bagian akhir film.  Vanessa Hudgens jelas permata dari tiga aktor utama film Frozen Ground.  Penampilannya bagus, walaupun masih tidak sebagus Jodie Foster di The Accused karena ada beberapa momen yang masih terasa dipaksakan.  Saya tidak tahu apakah kesalahan ada di pihak aktor-aktor atau skrip Scott Walker yang mediocre dan cenderung membosankan.  

Hubungan Cindy dan Jack juga sekedar tempelan.  Momen-momen mengharukan yang dibuat oleh Walker tidak buruk, tapi biasa.  Malah, terasa sedikit dipaksakan karena waktu yang diberikan untuk Cindy-Jack cukup sedikit dan chemistry antara Cage dan Hudgens jelas tidak sehebat Jodie Foster dengan Sir Anthony Hopkins.

Scott Walkes tried so hard to create an old-school-thriller-crime movie.  Yet, Frozen Ground looked like one of the worst episode from Criminal Minds.  It's not THAT disappointing, but it's not something that I want to watch twice. 4,5/10    

pic cr :
craveonline.com
movies.buzzintown.com
standard.co.uk

Minggu, 18 Agustus 2013

Exteremely Loud and Incredibly Close



To be honest, I'm not a big fan of Stephen Daldry.  Gue nonton The Reader dan The Hours gak sampai habis karena ngantuk dan bosan banget.  Walaupun harus gue akuin Nicole Kidman dan Kate Winslet menampilkan performa yang keren banget.  Sayang performa mereka masih gak bisa membuat gue stay dan menonton film mereka sampai habis.  Yah, akhirnya gue memutuskan untuk memaksakan diri nonton film ini sampai habis.

Oskar Schell (Thomas Horn) adalah anak yang sangat 'spesial'.  Dia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan ayahnya (Tom Hanks).  Sebelum ayahnya meninggal di peristiwa 9/11, ayahnya meninggalkan banyak pesan di telepon.  Akhirnya Oskar terpaksa hidup berdua dengan ibunya (Sandra Bullock) dan neneknya saja.  Hingga suatu hari, seorang kakek misterius (Max von Sydow) tinggal di dekat apartemen neneknya.


Bahkan sebelum gue selesai nonton film ini, gue ngerti kalau film ini terlalu mencoba untuk menjadi film inspirasional.  TERLALU.

Personally, I don't think Oskar is that annoying.  Lebih baik dia annoying daripada dia menjadi karakter yang terlalu baik seperti Forrest Gump.  Gue udah gak butuh karakter seperti Forrest Gump di film seperti ini.  Why?  Karena rasanya setiap karakter (TERLALU) berusaha untuk menarik perhatian, menjadi sumber inspirasi, and stuffs like that.  Film ini sudah mempunyai ayah yang mengerti anaknya, ibu yang bersabar dalam menghadapi anaknya, nenek yang perhatian dengan cucunya, dan kakek yang tiba-tiba datang untuk menemani cucunya tepat saat si cucu kehilangan figur ayah.  I think he's not Oskar Schell, he's Oskar Sue.  Besides, gue rasa selain Oskar dan sifat 'spesial'nya, tidak ada anggota keluarga yang mempunyai flaw yang kuat.  Memang, kakeknya bisu, tapi kesabarannya (yang terlalu sabar) menutupi flaw-nya, yaitu bisu.  

Film ini sebenarnya mempunyai sinematografi yang bagus dan teknik suara yang bagus.  Tapi yang buat gue kebelet buat matiin TV adalah setiap sequence terasa lambat dan monoton.  Semuanya jadi terasa bertele-tele.


Gak cuma itu, gue terus mencoba memahami apa sih point sebenarnya dari film ini.  Film ini mencoba untuk menjadi film yang inspirasional, dan boleh dibilang Oscar-winner-wannabe.  Tapi, gue gak dapat pesan moralnya, maksud ending-nya.  I just don't understand what's the point of this movie.  Kalau film ini memang bersifat ambigu dan rumit, atau tidak mencoba untuk inspiring, seperti Pulp Fiction, A Clockwork Orange, Inception, dan film-film seperti itu, I get it, karena film-film itu memang seni, bukan bertujuan untuk inspire people.  Selain itu, Oskar tidak punya figur tetap yang berperan penting dalam plot film ini.  Dari ayah menjadi ibu, lalu ada nenek, tiba-tiba kakek datang, belum lagi kedatangan Abby Black yang terasa memenuhi film ini dengan protagonis.  Akan lebih baik jika Oskar punya figur sampingan yang berperan penting dalam plot, seperti Tom Cruise di Rain Man.  Lagipula, salah satu faktor yang membuat Rain Man lebih bagus daripada film ini adalah Rain Man tidak mencoba dengan keras untuk menjadi inspirasional atau menyentuh.  Inti film Rain Man adalah hubungan antara kakak-beradik yang sempat terputus.  Dan Tom Cruise pun tidak berusaha untuk menjadi protagonis dan Dustin Hoffman...well, di awal film, gue menganggap dia lebih annoying daripada Oskar.  Tenang, karakternya doang, ofc akting Dustin Hoffman brilian banget. 

Extremely Loud and Incredibly Close is trying extremely to inspire the viewers.  4/10 

 

Minggu, 28 Juli 2013

Chibi Maruko Chan The Movie


Tadinya gue udah niatin buat nonton Pasir Berbisik.  Tapi gue malah ngerasa agak ngantuk dan mutusin buat nonton Chibi Maruko Chan The Movie aja, wkwkwk.  Mungkin kalau kalian udah mencapai usia balita di era 90an (?) kalian tahu serial ini.  Gue tahu serial ini dari Animax, dan suka banget!  Sayang sampe sekarang gue gak nemu komiknya, dan udah gak ditayangin lagi di Animax... -_____-"

Ceritanya sih masih ber-setting di tahun yang sama, yaitu ketika Maruko kelas 3.  Bedanya, kali ini penonton diajak untuk lebih meniliti lingkungan sekolah Maruko.  Atau lebih tepatnya, dua teman sekelas Maruko, yaitu Ono dan Sugiyama.  Ono dan Sugiyama adalah sepasang sahabat yang akrab banget, mereka berdua juga mempunyai leadership skill, tapi tingkah laku yang mereka yang sedikit kasar membuat Maruko kurang menyukai mereka.  Ternyata sepasang sahabat yang sudah akrab pun bisa saling menjauhi ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia akan pindah ke kota lain.


Judul filmnya sih Chibi Maruko Chan The Movie, tapi kok gue merasa Maruko itu kayak Scrat di Ice Age ataupun Minion di Despicable Me?  Maksudnnya dia yang di promosiin, tapi bukan dia karakter utamanya.  Gue nonton film ini malah merasa karakter utama yang bener itu Ono dan Sugiyama.  Oke, emang Maruko dapat screen time yang lebih banyak dari mereka, tapi gak ada tuh konflik berarti buat Maruko, bahkan keluarga dan sahabat terdekatnya, Tamae, hanya figuran di film ini.  Kakek yang absurd dan konyol juga terasa sebagai pintu emergency, dia hanya hadir ketika film ini membutuhkan lelucon.       

Pemilihan tokoh kenapa juga harus Oono dan Sugiyama?  Memang gue bukan penggemar BERAT Chibi Maruko Chan, tapi setahu gue mereka tuh jarang banget muncul di serialnya, yang lumayan sering sih Hamazaki, Tamae, Hanawa, Maruo, Butaro, sama Migiwa.  Yang kadang-kadang ada Fujiki, Nagasawa, Sekiguchi, sama Yamada.  Beneran dah, gue nonton nih film itu beberapa tahun setelah Maruko gak tayang di Animax, jadinya gue lupa kalau Maruko punya teman namanya Ono sama Sugiyama-___- tuh, saking jarangnya mereka tampil gue sampe lupa, padahal yang lainnya gue inget kok.  Makanya sebagai fans Maruko, gue kurang bisa connected dengan film ini.  Mungkin kalau lebih fokus ke teman-teman utamanya Maruko, gue bisa connected dengan film ini.


Soal keluarga, gue juga merasa interaksinya kurang natural.  Atmosfirnya terlalu damai dibandingkan dengan serial.  Maaf ya kalau gue cuma bisa lihat dari perspektif orang yang nonton serialnya, karena rada susah juga kalau lihat dari perspektif orang yang belum nonton.  Yang lumayan stay on character di keluarga ini cuma si kakek, dan...si ayah lumayan lah.  Kan biasanya Maruko itu berantem sama kakak dan ibunya, tapi disini mereka hubungannya adem-adem aja.  Itu sih mengurangi kelucuan sama daya tarik filmnya.  Padahal gue pengen lihat mereka berantem, dan pengen lihat juga bagaimana mereka bisa berkomunikasi atau ada usaha untuk mengurangi berantemnya.  Ternyata konflik ceritanya malah di temannya Maruko, yang dulunya bener-bener figuran doang lagi.  


Sini dah gue perjelas : karakter utamanya itu Maruko dan keluarganya, tapi yang megang konflik itu Sugiyama dan Ono.  Gimana gak 'lucu' (in a bad way) coba?  Walaupun begitu, film ini masih bisa menyajikan momen lucu dan menarik, baik dari kakek, maupun beberapa teman Maruko (Hanawa, Migiwa, Maruo, dan Hamazaki).  Dan ending-nya itu...kalau dari jalan cerita sih udah terduga, tapi dari adegan (yang benar-benar 2 menit terakhir) gak terlalu terduga (?) Wkwk, tonton aja deh :p *udah dihapus dari youtube looooh*

All I can say is that Chibi Maruko Chan The Movie is definitely worse than The Simpsons Movie. 4,5/10

Jumat, 17 Mei 2013

Cinta Brontosaurus

...lama-lama, cinta juga kadalruasa. -Dika


I'm not a big fan of Raditya Dika, boleh dibilang cuma sekedar penikmat.  Buku Cinta Brontosaurus aja baru gue baca setengah.  But, because I love his sense of humor, gue merelakan waktu gue untuk nonton film ini, meskipun gue rada males nonton film komedi lokal.

Dika (of course Raditya Dika!) adalah penulis baru yang skeptis dengan cinta setelah putus dengan Nina (Pamela Bowie).  Untungnya Kosasih (Soleh Solihun) selalu sabar menemani Dika.  Kosasih akhirnya mengatur kencan-kencan buta Dika.  Sayang semuanya berakhir absurd.  Hingga Dika bertemu dengan Jessica (Eriska Reinisa).  Setelah Dika bisa merasakan kebahagiaan dengan Jessica, Dika harus berjuang agar bukunya bisa diadaptasi menjadi film yang berkualitas.  Sayangnya, ide Soe Lim (Ronny P Tjandra) sering membuat Dika terganggu.


Cinta kadalruasa?  Quote itu meningatkan gue pada quote di film Annie Hall (ok, I'm too addicted to Annie Hall) yang berbunyi : Love fadesCinta memudar.  Nope, film ini beda kok dari Annie Hall.

Sekali lagi, keluhan yang pertama kali ada di benak gue seperti kebanyakan film Indonesia : sinematografnya jelek.  Efek visualnya juga jelek.  Visual effect sih masih bisa gue maafin.  Sinematografi?  Nope, it's 2013 already.  Come on, you gotta make Indonesian movies better and better!  Laskar Pelangi aja yang notabene film 2008 bagus kok sinematografinya.  Film ini gagal menangkap sisi arsetik (?) latar tempatnya.  Dan sayangnya lagi, karena lebih sering meng-close up muka (yah, gak sampai muka doang yang kelihatan sih) akting pemainnya yang biasa menjadi tidak tertutupi. 


Raditya Dika, you're clearly not Woody Allen, Stephen Fry or Steve Martin.  Hey, gue cukup adil loh membandingkan Raditya dengan Allen, Fry, dan Martin, karena Allen dan Martin sama-sama komedian dan Fry adalah penulis dan komedian.  Gue gak tahu apakah Raditya Dika niat beneran jadi aktor atau sekedar terpaksa memerankan dirinya sendiri.  Karakternya terasa cukup datar disini.  Atau memang karakter Dika seperti itu?  Kalaupun memang karakter Dika agak stoic, kan bisa diimprovisasi.  Sebenarnya juga gak apa-apa kalau Raditya Dika tidak memerankan dirinya sendiri, kayak film Invictus.  Nelson Mandela masih hidup, tapi pamerannya Morgan Freeman. 

Hmm, akting pemain-pemainnya gak ada yang parah banget sih, boleh dibilang avarage.  Tapi Eriska Reinisa berhasil menonjolkan diri.  Dia menutupi poker face-nya Raditya Dika dengan emosi yang berhasil dibawakannya.  Gue suka aktingnya, padahal gue udah skeptis dia yang bakal jelek aktingnya.  Habis kalau lihat film lokal, (hampir) selalu kecewa dengan akting cewek-ceweknya.  Sampai sekarang, gue masih belum bisa menemukan aktris muda yang bisa melawan Dian Sastrowaradoyo, Ladya Cheryl, dan Cut Mini...


Gue jadi ingat kasus The Iron Lady, dimana para reviewer [termasuk gue (?)] menganggap bahwa film itu gak tahu mau fokus kemana.  Nah, film ini juga membawa dua topik yang kurang tergali, yaitu perjuangan Dika sebagai penulis dan hubungannya dengan Jessica.  Di bagian belakang, ditambah pula dengan persahabatan Dika dan Kosasih.  Film ini mencoba untuk memberika dua konflik yang sayangnya berjalan dengan shallow.  Dua konflik itu kurang tergali dengan baik.  Sebenarnya gak apa-apa kok film ini jadi lebih fokus ke romance kayak Annie Hall, When Harry Met Sally, (500) Days of Summer, dll.  Hey, not all of rom-com movies are bad.  Ketiga film itu menggali hubungan antara dua pemain utamanya dengan baik. Oh iya, humor di film ini bagaikan (ceilah) roller coaster, naik-turun.  Kadang-kadang lucu, kadang-kadang garing, kadang-kadang juga kurang 'nendang'.

Overall, I'm pretty disappointed by this movie. 4,3/10

pic cr : 21cineplex.com
            tabloidbintang.com
            tribunnews.com
            muvila.com

 

Jumat, 03 Mei 2013

The Naked Kitchen

Film yang pengen banget gue tonton karena ada Joo Ji Hoon.  Tapi setelah nonton ini gue kecewa.  Mulai sekarang gue gak akan nonton film karena ada artis favorit gue deh, gue liat dulu ceritanya -__-

Ahn Mo Rae (Shin Min A) adalah wanita polos yang sudah menikah.  Suaminya, Han Sang In (Kim Tae Woo) adalah seorang pengusaha yang berhenti bekerja karena ia ingin membangun sebuah restoran.  Sang In sangat menyukai memasak walaupun ia kurang bisa memasak.  Mo Rae dan Sang In sudah kenal dari kecil.

Suatu hari, Mo Rae pergi ke sebuah galeri dan bertemu dengan orang asing.  Mereka melakukan hal 'itu'.  Mo Rae merasa bersalah karena hari itu juga hari ulang tahun pernikahannya.  Saat mereka makan malam, Mo Rae langsung mengaku pada Sang In.  Sang In sempat marah, tapi ia memaafkan Mo Rae karena Mo Rae langsung mengaku.  Sebelum pulang ke rumah, Sang In akan menjemput temannya dari Perancis bernama Park Du Rae (Joo Ji Hoon).  Ternyata Du Rae adalah orang asing yang ditemui Mo Rae.  Mo Rae mencoba untuk memberi tahu Sang In, tapi Sang In tidak ingin mendengarkan dengan alasan ingin melupakan hal ini sepenuhnya.

Lebih parah lagi, Du Rae akan tinggal di rumah Mo Rae dan Sang In untuk beberapa waktu.  Walaupun Mo Rae mencoba untuk menghindari Du Rae, Mo Rae selalu saja berakhir bersama Du Rae.  Walaupun begitu, Mo Rae juga mencintai suaminya.  Siapa yang akan dipilih Mo Rae?

Lagi-lagi film romantis menjadi andalan Korea.  Film ini terkenal banget.  Gue udah berharap banyak sama film ini.  Tapi.....

INI SALAH SATU FILM TERPARAH YANG PERNAH GUE TONTON.

Film ini berdurasi kurang lebih 2 jam, dan super membosankan.  Mulai dari adegannya yang biasa-biasa saja, dan dialognya juga sama sekali gak menyentuh.  Alias biasa saja.  Lagipula, pas Mo Rae & Du Rae melakukan 'itu', mereka berdua sama-sama sadar kok.  Gak terlalu logis menurut gue.

Alur cerita yang membosankan.  Gue nonton film ini sampai akhir cuma pengen tahu nanti Mo Rae sama siapa.  Kenapa?  Karena si Mo Rae gak jelas cinta sama siapa.  Dia benar-benar suka sama Du Rae & Sang In.  Kalau akhirnya 'begitu', mendingan alur ceritanya di cut aja bagian yang gak penting.  Jadi nyesel nonton lama-lama tapi endingnya 'begitu'.  2 hours is a long torture.  Lebih bagus lagi kalau ada konflik yang greget, tapi konflik di film ini gitu-gitu aja.

Shin Min A juga aktingnya plain, terlalu biasa.  Gue lebih suka lihat dia di Sad Movie dan My Mighty Princess.  Joo Ji Hoon lumayan sih.  Tapi dia....gimana ya.... ekspresinya gitu-gitu aja.  Kim Tae Woo juga menurutku plain.  Mungkin karena alur ceritanya plain, makanya mereka juga.  Soundtracknya juga gak ada yang menonjol.  Gue nonton film ini juga hampir gak ada musiknya, benar-benar plain deh adegannya.  Padahal musik bisa memainkan emosi penonton.  Karena hampir gak ada musik, gue nguap berkali-kali selama nonton ini.  Jadi film ini benar-benar datar, empty plot, sama sekali gak ada amanat dan menyentuh.  Mungkin film ini mencoba untuk menjadi film romance yang lebih berkelas, tapi karena kurang dramatisasi, film ini jadi agak membosankan dan datar (agak mengingatkan gue sama The Remains of the Day).  4,8/10

pic cr : kaymadness


Silent Hill : Revelation


Heather (Adelaide Clemens) atau Sharon, pindah ke sebuah kota kecil untuk menghindari mimpi buruknya.  Dia tinggal berdua bersama ayahnya, Harry (Sean Bean).  Ternyata hal itu tidak mengentikan mimpi buruknya.  Ia bertemu dengan Vincent (Kit Harrington), murid baru yang terus berusaha untuk mendekatinya.  Heather merasa diikuti, maka ia menelpon ayahnya untuk bertemu di sebuah mall.  Disana ia bertemu detektif Douglas Cartland (Martin Donovan) yang mengatakan kalau ordo sudah mengetahui keberadaannya.

Keadaan lebih rumit lagi ketika Heather tidak menemukan ayahnya dan detektif Douglas terbunuh.  Akhirnya ia memutuskan untuk ke Silent Hill untuk mencari ayahnya.  Namun, siapakah Vincent sebenarnya?  Nonton aja deh, hehe.  Masih ada kok di bioskop :p

Sebenarnya efeknya keren banget, apalagi kalo 3D, tambah mantep deh.  Apalagi sound effect yang akan memanjakan lo (kalo lo penggemar thriller dan horror).  Tapi....

PLOTNYA ANCUR BANGET

It did surprise me, but I'm neither afraid nor very scared.  It's just....surprise you know.  Dan karena terlalu banyak kejutan, akhirnya gue menjadi terbiasa dan kebal, kejutan itu jadi besi dan kejutan-kejutan selanjutnya gak ada yang spesial.  Akhirnya ini seperti film romance atau film perang dan kita tahu endingnya.  Yah, formula basi, kejutan, ada yang meninggal atau harus pergi, kissing, the hero survived.  It's very lame you know.  So far, the best hero movie is The Dark Knight (2008).  Akting si Adelaide Clemens juga biasa, gak ada sense of power kayak Jodie Foster atau sense of action and sexy kayak Angelina Jolie.  Yah, dia hanya berteriak, mengeluarkan air mata, menyelamatkan orang, dan bla bla bla.  Kid, you need to learn from Foster and Jolie.  Less screaming, more action.  Itu akan membuat film ini lebih baik.

Harusnya surprisenya tidak usah terlalu banyak dan atmosfir di film harus lebih intense.  Dengan begitu, setiap kejutan akan terasa lebih spesial dan mengagetkan, dan gue ga akan terlalu kebal.

Yang paling konyol adalah, kenapa si Vincent bisa dengan mudah, dalam satu hari jatuh cinta sama si Heather? Hello, it's very idiotic and ridiculous!  And the kiss scene just made the movie less interesting.  This movie is a-crappy-teenage-hero-survived-and-kissing movie.  Dan dialog para tokohnya itu jelek banget dan membosankan.  Gue tahu kok ini adaptasi dari game, but, it's not an excuse for making this movie (maybe) the worst movie of the year.  Plotnya parah banget, dan rasanya film ini berjalan terlalu cepat, jadinya yang gue lihat adalah monster payah di suatu tempat yang payah. 5/10

pic cr : collider

Oz the Great and Powerful


Ini dia, prequel dari film legendaris The Wizard of Oz.  Nope, ini bukan film musikal dan tidak ada Judy Garland disini.  Film ini disutradari oleh Sam Raimi dan dibintangi oleh James Franco, Mila Kunis, Michelle Williams, dan Rachel Weisz. 

Oscar Diggs, atau Oz(James Franco) adalah seorang pesulap sirkus sekaligus womanizer dan penipu.  Suatu hari, saat Oz menaiki balon udaranya, terjadi angin beliung yang membawanya ke sebuah negeri ajaib.  Negeri ajaib itu bernama Oz.  Disana ia bertemu dengan Theodora (Mila Kunis), seorang penyihir baik.  Theodora percaya bahwa Oz adalah penyihir yang diramalkan akan merebut tahta si penyihir jahat.  Di tengah jalan ia bertemu dengan Finley (Zach Braff), seekor monyet yang diselamatkan oleh Oz (sebenarnya Theodora yang menyelamatkannya).  Finley sudah bersumpah ia akan melayani Oz sampai ia mati, sehingga Oz memberi tahu rahasianya. 

Theodora pun jatuh hati pada Oz, dan segera membawanya ke Emerald City.  Disana mereka bertemu Evanora (Rachel Weisz), seorang penyihir baik dan 'pemimpin' sementara Emerald City.  Saat tahu Oscar bisa menjadi raja dan mengambil banyak emas, ia langsung berencana untuk mengalahkan si penyihir jahat.  Ternyata, si penyihir jahat adalah Glinda (Michelle Williams), seorang penyihir baik yang difitnah dan diusir oleh Evanora.

Kelanjutannya bisa kalian tonton sendiri...tapi ceritanya sih sudah mudah ditebak.  Kira-kira sama kayak Twilight lah.

Hadeh, filmnya boring dan klise banget! Nyesel gue menyia-nyiakan waktu berharga gue.  Aktingnya Williams dan Kunis pathetic banget.  Williams terlalu lemah lembut untuk menjadi pahlawan wanita.  She's like oh-i'm-just-a-pretty-girl-in-a-munchkind-land.  Kunis juga terlalu datar, waktu dia jadi protagonis dia datar, waktu dia jadi penjahat ketawanya lebay.  Dan, Franco?  Oh, cuma segitu doang cara lo untuk merayu cewek?  Kalau gue jadi ceweknya, gue udah kabur duluan bareng Mad Hatter (Johnny Depp).  Gue lebih suka aktingnya Helena Bonham-Carter sama Johnny Depp di Alice in Wonderland.  Seandainya Jodie Foster belum terlalu tua, gue pengen banget lihat dia ganttin si Williams.  Foster for President! (?)

Plotnya terlalu mudah ditebak.  Sumpah, plotnya klisenya itu separah Twilight sama Transformer 3.  Lagi-lagi gue lebih suka ending dari film Alice in Wonderland.  Memangnya setiap kali ada pahlawan wanita dan pahlawan pria, mereka berdua harus jatuh cinta dan ciuman?

Sebenci-bencinya gue sama film ini, gue harus tetap mengakui sound editing dan visual effect film ini cukup keren.  Yang gue suka dari film ini adalah transisi dari hitam-putih menjadi berwarna.  Film ini juga lebih colorful dibandingkan Alice in Wonderland.  Tapi, kalau Tim Burton membiarkan Alice in Wonderland diberi lebih banyak warna, sudah pasti Alice in Wonderland akan mengalahkan film ini. 5/10


pic cr : wikipedia