Tampilkan postingan dengan label 1970s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1970s. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Agustus 2014

The Rocky Horror Picture Show

So I'll remove the cause, but not the symptom. -Frank n Furter
drafthouse.com

Rocky Horror Picture Show merupakan film cult dengan genre musikal, komedi, dan horor.  Film berdurasi 100 menit ini disutradari oleh Jim Sharman dan ditulis oleh Richard O' Brien.  O'Brien tidak hanya menulis skrip film ini, tapi dia juga ikut menulis semua lagu.  Saat Rocky Horror Picture Show diputar di bioskop di Amerika, beberapa orang berulang-ulang kali menonton film ini.  Namun menurut kritikus film, Roger Ebert, RHPS boleh dibilang diabaikan sebagian besar orang.  Akhirnya, film ini diputar ulang di sebuah Midnight Cinema dan banyak orang mencoba untuk 'meniru' RHPS lewat cara berdandan ataupun mengadaptasinya menjadi drama di teater.  

Janet (Susan Sarandon) dan Brad (Barry Bostwick) baru saja bertunangan.  Mereka dalam perjalanan menuju salah satu teman Brad ketika mobil Brad mogok.  Hujan turun dan mereka memutuskan untuk mencari pertolongan di kastil yang mereka lewati.  Kedatangan mereka disambut oleh Riff Raff (O'Brien), Magenta (Patricia Quinn), dan Columbia (Nell Campbell).  Mereka merasakan aura aneh yang ada di kastil tersebut.  Perasaan aneh tersebut semakin menjadi-jadi ketika Dr. Frank N. Furter (Tim Curry), a so-called transvestite.  Sang dokter mengajak Brad dan Janet untuk melihat ciptaannya dengan fisik yang nyaris sempurna, Rocky Horror (Peter Hinwood).  Seiring berjalannya waktu, banyak kejadian aneh terjadi di tempat tinggal Dr. Frank.


rhps-paris.fr
Pengalaman menonton RHPS tidak semenyenangkan yang gue kira.  Setelah membaca beberapa resensi dan melihat beberapa stills film ini, gue kira gue bakalan ngefans berat sama filmnya, ternyata gak.  Why?

Pertama, sebagian besar *atau mungkin semua* lagu-lagu film ini dipengaruhi oleh gaya punk.  Nah, lagu-lagu punk biasanya dinyanyikan dengan cara berteriak atau bahkan berbicara, dan tidak dinyanyikan dengan cara menyanyi biasa.  Kalau kagak ngerti, dengerin aja lagu-lagunya The Sex Pistols.  Gue kurang suka sama lagu-lagu punk karena lagu-lagunya gak catchy atau cukup susah untuk dinyanyikan.  Gaya punk dalam soundtrack RHPS justru menyebabkan gue kurang bisa menikmati filmnya.  Lagu yang bener-bener gue suka cuma Hot Pattotie dan lagu yang gue suka aja tuh Science Fiction/Double Feature dan Time Wrap.  Bagian paling awkward tuh ketika gue dengerin Touch-a, Touch-a, Touch-a, Touch me.  That song is so awkward and Susan Sarandon's shrill voice doesn't help.  Call me prude, but that song is f**kin awkward for me.  Somehow, tuh lagu agak mengingatkan gue sama lagu dangdut gak jelas.

Siapapun yang menganggap RHPS itu film horor jelas kagak pernah lihat aktingnya jupe ataupun ngelihat pidatonya wowo.  Gue kira bakalan banyak adegan berdarah-darah, gak tahunya nih film sejinak De Syaining.  Gue jadi agak kecewa karena gue udah mengharapkan unexpected murders or bloody murders.  Walaupun unexpected murders gak banyak di film ini, RHPS masih punya segudang unexpected things sepanjang film.  Unexpected things itulah yang membuat RHPS menjadi film yang cukup fun.        

whoisthemarchking.blogspot.com

Bicara soal bagian akting, Tim Curry jelas aktor yang paling stand-out di film ini dan aktingnya emang hebat banget.  He can be bitchy sassy, playful, or even adorable in this movie.  Frank N. Furter juga tokoh favorit gue dari film ini.  Biasanya, lelaki gay atau biseksual yang suka berdandan sebagai perempuan tuh terlalu lemah lembut nan gemulai, contohnya Kurt dari Glee.  Cukup sedikit dari lelaki gay jenis ini yang mempunyai kekuatan dan karisma.  Frank N. Furter yang diperankan oleh Curry mempunyai dua hal itu.  Adegan yang paling menunjukkan bahwa ia mempunyai kekuatan adalah ketika ia membunuh seseorang.  Kalau karismanya?  For me, he's charismatic throughout the film.  

Kalau aktris terbaik di film ini bagi gue sih Patricia Quinn.  Sama seperti Frank N. Furter, Magenta yang diperankan Quinn juga mempunyai kekuatan dan karisma.  Hal ini yang membuat Magenta lebih menonjol dibandingkan Riff Raff dan Columbia bagi gue.  Yang membuat Riff Raff kurang menonjol dibandingkan Magenta adalah postur tubuhnya yang membungkuk dan Quinn berakting lebih baik ketimbang O'Brien.  Sedangkan Columbia mempunyai sifat yang lebih lemah (sedikit) daripada Magenta.  Susan Sarandon, I really love you in Enchanted but why are you too dramatic for my taste in this movie?!  Waktu si Janet pingsan, gue pengen banget lempar kolor ijo ke dia saking gedek ngelihat aktingnya.

Applause but Sue Blane, orang yang mendesain kostum-kostum di film ini dan siapapun yang mendesain props yang digunakan di RHPS.  They are cool and unique!  Mungkin kelihatan norak tapi tetap aja barang-barang dan kostum yang digunakan di film ini tuh unik dan iconic.

Overall, The Rocky Horror Picture Show is a unique and offbeat musical-horror-comedy film.  I really recommend it so you guys can experience something different from a film. 8/10 

 

      

Jumat, 09 Mei 2014

Badai Pasti Berlalu (1977)

Seorang diabet tidak boleh kawin dengan seorang diabet.

Akhirnya gue nemu nih film, aaaaaaaaaaa!  Sumpah, sejak setahun yang lalu, gue kepo berat sama ceritanya Badai Pasti Berlalu.  Pertama kali gue tahu film Badai Pasti Berlalu itu waktu gue SD, karena ada remake-nya.  Gue juga tahu lagu Badai Pasti Berlalu, tapi yang versi Chrisye sama Ari Lasso doang.  Pas gue SMA, gue nemu novel Badai Pasti Berlalu di perpustakaan sekolah!!!  So, sebenarnya gimana sih ceritanya Badai Pasti Berlalu?

Hati Siska (Christine Hakim) menjadi beku sejak tunangannya meninggalkan Siska demi sahabatnya sendiri.  Karena Siska berdiam diri saja di vila dan tidak pulang ke rumah, John, kakaknya, meminta tolong pada Leo (Roy Marten) untuk melunakkan hati Siska.  Tanpa diketahui John, Leo mengadakan taruhan dengan teman-temannya agar ia bisa membuat Siska jatuh hati kepadanya.  Leo menggunakan 'reverse psychology' pada Siska.  Tidak seperti teman-teman John yang bermanis-manis pada Siska, Leo cenderung kasar dan dingin pada Siska.  Namun, hal itu justru berhasil karena Siska menyatakan cintanya pada Leo.

Siska yang menderita diabetes, mendengar dari teman-teman Leo bahwa Leo menderita diabetes juga.  Siska jadi teringat perkataan dokter bahwa seorang diabet tidak boleh menikah dengan seorang diabet.  Karena itu Siska membatalkan pertunangannya dengan Leo dengan cara berpura-pura marah soal taruhan yang diadakan Leo.

Leo dan Siska pun melanjutkan kehidupan masing-masing.  Pada saat malam natal, ayah Siska mengundang keluarganya untuk pergi night club yang dimilikinya.  Disana Siska bertemu dengan Helmi (Slamet Rahardjo), seorang pianis dan penyanyi yang menawan.  Siska segera minta diajari bermain piano oleh Helmi.  Namun dibalik keramahan dan sikap Helmi yang menawan terdapat sebuah rencana busuk yang membuat Siska menderita.  


Beberapa orang menyebut Badai Pasti Berlalu sebagai salah satu film terbaik Indonesia.  Dengan hype (?) yang cukup tinggi, tentu saja gue mempunyai ekspetasi tinggi terhadap film Badai Pasti Berlalu.  Anyway, gue udah baca novelnya dan...gue sangat kecewa dengan novelnya.  Kapan-kapan gue review novelnya.  Nah, kekecewaan gue terhadap novel yang ditulis oleh Marga T menyebabkan ekspetasi gue terhadap film ini berkurang.

Kualitas gambar film ini cukup jelek, bahkan lebih parah daripada Gone With The Wind yang notabene film tahun 30an.  Gambarnya...cukup butek. Hmm, mungkin gue harus download ulang dengan kualitas yang lebih tinggi.  Sinematografinya biasa aja, namun bukan berarti film ini tidak mempunyai adegan yang bagus.  Gue suka adegan natal dimana patung-patung yang berkaitan dengan agama Katolik di-shoot sambil diiringi lagu Hai Mari Berhimpun (versi Bahasa Inggris).  

Gue kurang suka editing film ini.  Peralihan dari satu adegan ke adegan lain terasa terlalu cepat untuk gue.  Gue jamin sebagian besar yang nonton film ini tanpa baca novelnya bakalan kebingungan dengan alur filmnya.  Selama 30 menit pertama, film bergerak cepat tanpa memberikan penonton cukup informasi.  Hal ini juga menyebabkan relasi antar karakter lemah.  Hampir tiap karakter tidak melalui suatu proses yang berarti.  

Siska digambarkan sebagai seorang gadis yang dingin.  Tapi gue tidak merasakan suatu 'kedinginan' yang berarti dari film ini.  Memang ada kekakuan, tapi kedinginan?  Apalagi karakter Siska terasa sedikit statis di film ini.  Setidaknya di novel ada perubahan pada Siska.  Di novel, Siska yang tadinya hanya pitying herself akhirnya memikirkan keharmonisan keluarganya.  Tapi pada film ini, perubahan itu kurang terlihat.  Gue kecewa karena pergulatan Siska datang dari luar, bukan dari dirinya sendiri.  Cobaan-cobaan yang datang terasa sangat dramatis dan seperti sinetron.  Pergulatan yang datang dari luar membuat karakter Siska tidak solid atau lemah.  Pergulatan dari dalam justru bisa memantapkan tokoh Siska.  Walaupun gue tidak menyukai 'Siska', gue kagum banget dengan akting Christine Hakim.  Saking kagumnya, adegan dimana Christine Hakim ngamuk di depan Slamet Rahardjo gue masukkin ke tugas puisi gue, haha.   


Gue bingung bagaimana Leo tiba-tiba jatuh cinta dengan Siska.  Yang tadinya cuma taruhan, malah menjadi cinta beneran.  Padahal sebagian besar adegan Siska dan Leo dihabiskan dengan Siska yang cemberut setiap kali melihat Leo.  Memang ada beberapa alasan tak terlihat bagaimana mereka bisa saling 'jatuh cinta', tapi bagi gue itu tidak cukup.  Apalagi Siska dan Leo tidak mempunyai percakapan panjang yang berarti dan membentuk chemistry mereka.  How they fall in love is just like a typical-cheap romance story.  Roy Marten emang cocok jadi berandal yang karismatik.  Dia berhasil menunjukkan sifat-sifat menawan Cassanova.  Anyway, chemistry antara Roy Marten dan Christine Hakim udah lumayan bagus.  Kalau skrip film ini diperbaiki, gue yakin chemistry di antara mereka akan lebih bagus. 

Slamet Rahardjo aktingnya bagus di film ini.  Ia berubah dari seorang pria ramah dan menawan menjadi seorang pria yang manipulatif dan oportunis.  Sayang badannya terlalu kurus, jadi gue masih milih om Roy Marten, haha (?)    

Salah satu hal yang membuat gue kepo dengan film ini adalah album soundtrack yang keren banget!  Sumpah, hampir semuanya bagus.  Mulai dari Pelangi yang puitis, Badai Pasti Berlalu  versi Berlian Hutauruk yang epik, sampe Merpati Putih yang sendu, dan masih banyak lagu keren lainnya!  Eros Djarot emang sabi banget dah.  Gak ada lagu yang jelek amat menurut gue.  Fyi, lagu Cintaku sebenarnya salah satu soundtrack Badai Pasti Berlalu dan versi aslinya memang dinyanyikan oleh Chrisye.  Keseluruhan, album soundtrack-nya lebih bagus daripada filmnya, haha.

I can't help but disappointed by this film.  Although there are solid acting performances, awesome soundtrack album, and some artistic scenes, Badai Pasti Berlalu is an overrated film.  6,5/10

pic cr:
en.wikipedia.org
tobytall.wordpress.com
rumahnegeriku.com

Kamis, 02 Januari 2014

A Clockwork Orange : A Crazy, Sicken, Beautiful, Mind-Provoking, and Satisfying 'Journey'

Happy new year, reader! *suara jangkrik* Maaf banget yah ane jarang update karena ane lagi magar banget liburan ini, hehe.  Gak cuma itu, ane minta maaf karena film yang di-review bukan film liburan atau film keluarga, hehehehehe.  Anyway, semoga ane dapat pacar tahun ini! #bercandakok #mendingcumlaude
-Kezia R.H.H.
Nama Stanley Kubrick tentu tidak asing bagi pecinta film.  Kubrick telah menyutradari berbagai genre, yaitu sci-fi (2001 : A Space Odyssey), black comedy (Dr. Strangelove), horor (The Shining), perang (Full Metal Jacket) sampai drama period (Barry Lyndon).  Meskipun banyaknya pujian yang diterima Kubrick dan film-filmnya, bukan berarti Kubrick tidak mendapat berbagai kontroversi.  Ultra violence dan adegan seksual yang sangat kental di berbagai filmnya membuat Kubrick sangat jarang lepas dari kontroversi.  Bukan hanya itu, karena film 2001 : A Space Odyssey yang tayang pada tahun 1968 (setahun sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan), Kubrick dituduh telah membantu pemerintah dalam 'menyutradarai' Neil Armstrong di bulan.  

A Clockwork Orange disutradari Kubrick pada 1971.  Film ini diangkat dari novel dengan nama yang sama, yang ditulis oleh Anthony Burgess.  Berkat film ini, novel A Clockwork Orange makin dikenal banyak masyarakat, bahkan membayangi novel Burgess lainnya.  Saya pribadi belum membaca novelnya dan masih kurang mengenal gaya Stanley Kubrick karena saya baru menonton dua filmnya : The Shining dan A Clockwork Orange.

A Clockwork Orange bercerita tentang seorang remaja bernama Alex (Malcolm McDowell) yang senang sekali melakukan kekerasan dan pemerkosaan.  Dia mempunyai gang yang terdiri dari empat orang -termasuk dia- dan boleh dibilang Alex adalah pemimpinnya.  Alex sebagai pemimpin tidak segan untuk menyakiti anggota gangnya.  Suatu hari, Alex yang mencoba untuk memperkosa seorang wanita malah membunuhnya.  Droogs-nya meninggalkan Alex sehingga hanya Alex yang ditangkap oleh polisi.  Di penjara, Alex menjadi relawan untuk Ludovico technique.  Eksperimen itu malah membawa horor ke pikiran dan jiwa Alex.  Penderitaan yang harus dialami Alex tidak sampai disitu.  Orang-orang yang disakiti Alex mewujudkan rasa dendam mereka kepada Alex.


Film A Clockwork Orange tentunya bukan jenis film yang akan anda tayangkan dalam acara keluarga.

Dari awal kita sudah disuguhi adegan yang cukup 'wah'.  Kita sudah bisa melihat kesintingan Kubrick lewat make-up McDowell dan desain prop untuk Korova Milk Bar.  Music for the Funeral of Queen Mary karya Henry Purcell, dan gerakan kamera yang pelan-pelan mundur membuat adegan ini fucking epic.  Sejak awal film kita sudah disuguhi kepiawan Kubrick, McDowell, dan Walter Carlos (bagian musik).  Curcol sedikit, saya yakin banyak laki-laki menginginkan prop dari adegan ini :p

A Clockwork Orange mempunyai adegan pelecehan seksual yang cukup realistis.  Meskipun wanita di film itu telanjang bulat, saya rasa adegan itu bukanlah pornografi karena Kubrick bukanlah sutradara film porno dan Kubrick tidak mengclose-up bagian intim wanita itu.  Pada adegan pemerkosaan Mrs. Alexander, McDowell berimprovisasi dengan menyanyikan "Singing in the Rain".  Bagi saya, hal itu menegaskan kesadisan dan kesintingan Alex, dimana dia dengan mudahnya menyanyikan lagu riang sambil memerkosa wanita.  It's a sick scene yet a genius improvisation.  Anyway, keduanya mempunyai gaya editing yang rapi, tidak seperti sebagian besar film yang menyajikan adegan pemerkosaan dengan gaya editing yang berantakan. 


Namun, kedua adegan itu tidak seberapa dibandingkan adegan dimana Alex menjalani eksperimen Ludovico.  Saya men-skip adegan itu karena Kubrick men-shoot adegan itu benar-benar dengan detail.  I mean, lihat saja kait atau apapun itu yang membuka mata McDowell secara paksa, belum lagi air (atau cairan) yang diteteskan ke mata McDowell.  Berita (yang saya ketahui sebelum menonton film ini) bahwa retina McDowell robek ketika melakukan adegan itu menambah beban mental saya (?) ketika menonton adegan ini.  Lebih baik saya menonton V/H/S/2 daripada menonton adegan Ludovico.

Apa persamaan Joker dan Alex DeLarge?  Penyebab mereka menjadi orang sinting dan sadis tidak jelas.  Ada sisi positif dan negatifnya.  Sisi positifnya, tentu keduanya bukan antagonis klise yang menjadi antagonis karena masa lalu yang gelap (e.g : Voldemort, Hannibal Lecter).  Sisi negatifnya, well, tidak ada manusia yang dilahirkan jahat, hanya ada manusia yang dibentuk menjadi orang jahat.  Tapi setelah saya pikir-pikir, Joker dan Alex bukan tipe laki-laki melankolis yang hobi flashback, or in Alex's case, curhat ke penonton.   

Moral juga salah satu tema A Clockwork Orange.  Sayang sekali film ini kurang mengeksplor pemicu keinginan Alex untuk menjadi orang yang baik atau mengikuti eksperimen Ludovico.  Saya pernah membaca salah satu analisis A Clockwork Orange yang menyatakan bahwa alasan Alex mengikuti eksperimen untuk bebas dari penjara selama dua minggu.  Sayang sekali saya lupa linknya dan tidak terlihat di history.  Kalau analisis itu benar, masalah moralitas dalam A Clockwork Orange bertambah rumit.  Maksud saya, bagaimana mungkin masyarakat bisa memaafkan seorang bajingan yang tidak menyesali perbuatannya?  Itu sama saja Alex pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat setelah ia dibebaskan.  Lain cerita kalau Alex menjadi relawan karena ia menyesali perbuatannya atau memang ada niat menjadi orang yang lebih baik, maka ia tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat.  But, it's called A Clockwork Orange, not The Shawshank fucking Redemption or one of those tearjerker inspirational movie.  Anyway, kalau Alex memang berniat menjadi a better person, maka film ini menyindir masyarakat yang justru mencemooh dan bertindak kasar pada seorang yang menyesali perbuatannya.  Saya rasa ketika seorang mantan tahanan atau semacamnya telah dibebaskan dan berusaha untuk menjadi a better person, seharusnya kita mencoba untuk menerimanya.  Kalau kita mencemooh dan bertindak kasar, bukankah sama saja kita menghukum orang itu karena mencoba untuk lebih baik dari sebelumnya?



Dalam film ini, pemerintah menggunakan 'senjata psikologis' untuk mengontrol masyarakat, alias Alex.  'Senjata psikologis' ini mengubah orang menjadi clockwork orange, mahluk hidup di luar, tapi robot di dalam.  Ludovico treatment mungkin mengubah Alex menjadi 'lebih baik', or so they thought.  Alex bertindak layaknya orang normal, namun tindakannya bukan datang dari hati nurani  serta hati dan pikirannya sangat tersiksa.  Artinya, pemerintah mencoba menciptakan sesuatu yang baik atau lebih baik dengan cara yang buruk.  Tapi saya tetap tidak menyalahkan pemerintah -di film ACO- sepenuhnya karena mereka mencoba menemukan solusi masalah moralitas di dunia.  

Alex memang jahat, tapi dunia di sekitarnya juga jahat.  Cat-lady, wanita yang dibunuh Alex, mempunyai selera seksual yang kira-kira sama gilanya dengan Alex.  Ketika Alex bangung dari koma, terlihat seorang dokter dan perawat melakukan hubungan seksual.   Hal ini membuat saya sadar bahwa ketika kita mencemooh seseorang atas kesalahan yang ia lakukan, sebenarnya ada kemungkinan kita juga melakukannya, hanya saja kita melakukannya dengan cara yang berbeda, sehingga kita tidak merasa.    

Moral, sosial, politik, psikologi, dan berbagai tema lainya dibalut Stanley Kubrick dengan begitu artistik, keji, pintar, dengan gaya surealis yang kental.  Sayang sekali saya tidak bisa menulis atau mengekspresikan kekaguman saya pada Stanley Kubrick, Malcolm McDowell, Walter Carlos, John Alcott (sinematografi), Bill Butler (editing) dan seluruh pihak yang telah bekerja sama *ceilah* dalam film A Clockwork Orange.  Mereka patut berbangga karena mereka telah membuat salah satu film terbaik sepanjang masa. 9,3/10 

P.S. Menurut wikipedia, film ini bukanlah film distopia karena subjeknya hanya satu individu (Alex) dan bukan masyarakat luas  

pic cr : 
nonamovieblog.wordpress.com
fanart.tv
neurulogues.qwriting.qc.cuny.edu
readingsubtly.blogspot.com

Minggu, 05 Mei 2013

(500) Days of Summer vs Annie Hall

This is not a love story, it's a story about love. -(500) Days of Summer


Ini dia dua film rom-com favorit gue sepanjang masa!  Tagline diatas mungkin satu-satunya cara yang tepat untuk menggambarkan dua film ini.  Sayang banget orang dari generasi sekarang yang menganggap (500) Days of Summer adalah film rom-com yang paling unik dan 'sedih', padahal Annie Hall sama bagusnya.  Malah, boleh dibilang (500) Days of Summer nyontek Annie Hall loh...Kenapa ya?

Sinopsis  : (500) Days of Summer

 Soultmate and true love...banyak orang yang percaya akan hal itu, salah satunya adalah Tom (Joseph Gordon-Levitt).  Beruntungnya, dia bekerja sebagai penulis kartu ucapan...walau cita-cita sebenarnya adalah menjadi seorang arsitek.  Tom yang belum pernah tergila-gila dengan seorang wanita akhirnya bertemu dengan Summer (Zooey Deschanel).  Tidak hanya Tom yang langsung tergila-gila dengan Summer, sebenarnya banyak laki-laki berharap sekali mempunyai hubungan spesial dengan Summer.  Tapi Summer sangat berlawanan dengan Tom karena Summer tidak percaya akan cinta sejati ataupun soulmate.  Akhirnya hari-hari mereka lewati dan Tom benar-benar jatuh cinta dengan Summer.  Tom sendiri berhasil mendekatkan diri dengan Summer, bahkan sampai mereka berhubungan intim.  Tapi Tom tidak pernah tahu apa perasaan Summer yang sebenarnya.


Sinopsis : Annie Hall

Alvy Singer (Woody Allen) mulai beranda-andai mengapa hubungannya dengan Annie Hall (Diane Keaton) berakhir.  Maka Alvy melihat kebelakang hidupnya, mulai dari masa kecilnya, hubungannya dengan wanita sebelum Annie, pertemuan pertamanya dengan Annie, hubungannya dengan Annie, dan perpisahannya dengan Annie.

Alvy adalah seorang komedian yang sudah bercerai dua kali, sedangkan Annie hanyalah seorang wanita dari Chippewa Falls yang mencoba peruntungannya di New York.  Mereka merasakan sesuatu yang 'klik' saat mereka bertemu, dan akhirnya mereka menjadi pasangan.  Alvy yang ingin Annie menjadi sama inteleknya dengan dia, memenuhi Annie dengan buku-buku berat dan kuliah.  Tapi apa yang terjadi jika Annie benar-benar berkembang dan menemukan kepercayaan diri tanpa Alvy?


The Review

Let's start with (500) Days of Summer.   I love that movie sooooooooooooooooo much.  Dari jalan ceritanya yang catchy tapi tetap berisi, akting pemainnya, musiknya, semuanya bagus banget.  Gue sendiri lebih ngerti humor di film ini daripada Annie Hall.  Mungkin karena humornya lebih ringan dan gak se-dark Annie Hall?

Gue suka banget chemistry antara Levitt dan Deschanel.  Deschanel mampu membawakan karakter Summer yang cukup unik menurut gue.  Tapi kalau dilihat kembali, Deschanel juga mempunyai sesuatu yang agak off.  Gue rasa akan lebih bagus kalau karakter Summer dibikin lebih gloomy.  Terlalu banyak tersenyum bisa bikin lo kayak Kristen Stewart loh...(baca : jual tampang).  Entahlah, ada sesuatu dari karakter Summer yang sulit gue jelaskan karena ada sesuatu yang off dari Deschanel sendiri.  Kalau karakter Summer lebih gloomy atau lebih neurotic, pasti karakter Summer jadi lebih menarik.

Levitt juga berhasil berperan sebagai Tom.  Tapi apakah dia pantas menerima nominasi Oscar? Nope.  Levitt kurang melakukan improviasi atau semacam pengembangan pada karakternya.  Mungkin karena karater Tom Hansen terlalu biasa?  That's right.  Saat gue menonton film ini untuk yang kedua kalinya, gue merasa karakter Tom itu biasa-biasa aja, gak ada yang spesial atau sifat yang membedakan dia dari cowok lainnya.  Malah keperceyaannya dalam cinta sejati dan pilihannya untuk bekerja di perusahaaan greeting cards membuat tokoh Tom agak childish and silly.  Tapi kalau Tom jadi karakter yang sinis dan sarkatis juga pasti membingungkan.  Dan ceritanya yang simpel membuat karakter ini menjadi terlalu simpel.

Tapi gue merasa kalau (500) Days of Summer terlalu berbias kepada Tom.  Hal yang bisa 'menyelamatkan' Summer adalah fakta bahwa Summer sudah memperingatkan Tom bahwa dia gak mau hubungan serius, dan ketika Tom curhat ke cewek tentang masalahnya dengan Summer.  Sedangkan Summer sendiri yang memulai hubungannya dengan Tom, bahkan sempat menyatakan bahwa dia menyukai Tom.  Bahkan di 'reuni'nya dengan Tom, Summer dengan kurang ajar PHP-in Tom dengan mengajaknya dansa dan tidur di bahunya.  Emang dia gak punya hati atau bego.  Tom, seperti yang gue katakan, salah juga karena dia childish dalam menghadapi Summer.  Dia jatuh ke 'perangkap' karena dibutakan dengan pikirannya sendiri tentang Summer, bukan realita.

(500) Days of Summer juga mempunyai beberapa teknik unik.  Salah satu contohnya adalah perbandingan antara realita dan pengharapan.


Musik dan lagu yang dipakai di (500) Days of Summer juga bagus-bagus.  Cocok banget dengan suasana rom-com film ini.  Efek yang dipakai di film ini juga bagus banget.  Dan film ini memang lebih stylish daripada Annie Hall dan lebih cocok buat orang muda.

Overall, it's one of the best rom-com movies!


Annie Hall boleh dibilang (500) Days of Summer versi more serious and more dramatic.  As usual, I don't get most of Woody Allen's jokes and sense of humor.  Satu hal yang bisa gue dapat dari dialog-dialog Annie Hall adalah Woody Allen is a genius writer with a good sense of sarcasm and wit.  Gue emang gak terlalu banyak tertawa di Annie Hall, tapi gue menanggap bahwa banyak dialog-dialog di film ini yang jenius banget.  I really don't know how to describe it.  

Sudah jelas Keaton dan Allen mempunyai chemistry yang bagus karena dulu mereka pernah pacaran.  Setelah putus pun mereka masih bersahabat.  Akting Keaton keren banget!  Penampilan Keaton di film ini adalah salah satu penampilan terhebat yang pernah gue liat, dan bukan gue doang yang bilang itu! (?) Filmsite memasukkan karakter Annie Hall sebagai 100 Penampilan Terbaik.  Silahkan cek linknya disini.  Oh iya, majalah Rolling Stones pun sempat menjagokan Keaton sebagai the next Hepburn.  

Keaton memerankan seseorang yang gak pede dengan dirinya sendiri, lalu menjadi orang yang pede dan mandiri, itu transformasi yang keren banget.  Kalau gue kurang mengerti karakter Summer, disini gue mengerti banget karakter Annie.

Allen pantas mendapat nominasi Oscar sebagai aktor terbaik di film ini.  Mungkin karakter Alvy adalah karakter tipikal Woody Allen, tapi tetap aja penampilan Allen di film ini juga salah satu penampilan terbaik yang pernah gue lihat.  Allen tidak hanya sekedar memerankan seorang komedian yang happy in unhappines dan comfortable in uncomfortness. Dia juga berhasil memerankan orang yang diam-diam longing for happy ending.  Gue suka banget tatapan Allen saat karakter Alvy menulis drama tentang hubungannya dengan Annie.  It just hit me! 

Christopher Walken dan Tony Roberts juga sukses jadi pameran pembantu.  Roberts berperan sebagai Rob, sahabat Alvy.  Roberts dan Allen juga mempunyai chemistry yang bagus, dan Rob boleh dibilang penetral Alvy.  Percaya gak percaya, gue baru sadar ada Shelley Duvall (Wendy Torrance di The Shining) di film ini-____-"

Untuk film 70an, film ini kaya akan banyak teknik.  Dan tekniknya lebih banyak daripada (500) Days of Summer.  Salah satunya adalah subtittle scene dan Alvy's famous monologue!  


 Salah satu adegan yang kelihatannya sepele, tapi cukup krusial adalah adegan monolog Alvy.  Allen berhasil berkomunikasi dengan penonton dengan membiarkan dirinya sendiri menjadi si narator.  Karena (500) Days of Summer memakai narator (yang kalau kita dengar jadi kayak narator di Discovery Channel) kesannya 5DS itu sekedar film, sedangkan Annie Hall adalah sebuah fairytale yang nyata.  Gue senang di saat-saat terakhir Annie Hall, Allen memutuskan untuk tidak meng-closeup pemainnya.  Gue rasa itu membuat penonton menjadi benar-benar menonton kehidupan Alvy dan Annie, bukan sekedar menonton film berjudul Annie Hall.

Sebenarnya (500) Days of Summer dan Annie Hall sama-sama menceritakan hubungan dari kacamata cowok.  Bahkan mereka sama-sama mempunyai unsur fantasi.  Tapi Woody Allen tidak melebih-lebihkan fantasi itu dengan misleading penontonnya.  Ia memberikan Annie alasan tersendiri untuk membela dirinya, Annie tidak se-annoying Summer.  Bisa dilihat sejak Annie berkuliah, Annie tambah kritis dan berkembang, sedangkan Alvy adalah Alvy.  Dia diam saja.  Bagaimana mungkin sebuah hubungan bisa berjalan mulus ketika yang satu diam saja dan yang satunya lagi berkembang?

Film ini memang tidak terlalu kaya  akan musik, tapi justru hal itu yang membuat film ini tambah realistis.  Tapi yang namanya film juga membutuhkan dramatisasi, bukan?  Allen menyimpan itu di saat-saat terakhir juga.  Save the best for the last.


Overall, it's one of the best MOVIE I've ever watched.


Kalau lo tonton baik-baik Annie Hall dan 5DS, masing-masing film mempunyai mellow tersendiri.  Mellow yang mereka ciptakan tentu saja berbeda dari film-film drama seperti The Notebook ataupun P.S I Love You.  Pengalaman Alvy dan Tom itu lebih tragis daripada Titanic ataupun Romeo & Juliet, karena itu pengalaman sehari-hari.  Alvy & Annie dan Tom & Summer telah mendalami hubungan mereka masing-masing, saling mengenal dan saling mencintai, beda kan daripada kisah yang terlalu tragis ataupun kurang dari seminggu udah mengorbankan nyawa? -__- Anyway, gue baru dapatin rasa mellow itu saat gue menonton dua film ini yang kedua kalinya-___-

And the winner is....................................................................................................................
































ANNIE HALL!
FINAL SCORE :

(500) Days of Summer : 8/10
Annie Hall : 10/10  

pic cr : suchmovingpictures
            ladybugfreak
         pocketcultures
            dvdactive
            riverbank
            peeslowlynsee
            quotes-savedme  

Jumat, 03 Mei 2013

Sinopsis Kramer vs Kramer

Sebenarnya gue udah lama pengen nonton film ini karena gue penggemar Dustin Hoffman dan Merly Streep.  Apalagi ini termasuk dalam AFI'S 10 TOP 10 untuk genre court-drama.  And finally, I watched it!  Film ini memang sudah seharusnya memenangkan berbagai pengehargaan.  Belum lagi akting Dustin Hoffman dan Meryl Streep, juga chemistry diantara mereka walaupun bukan romantic chemistry.  Dan plot yang realistis banget. 

Ted Kramer (Dustin Hoffman) adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab.  Boleh dibilang upah pekerjaannya melebihi kebutuhan mereka.  Tapi ia hampir tidak pernah mengurus keluarganya.  Sedangkan Joanna (Meryl Streep) ibu rumah tangga yang lama-lama gerah akan pernikahannya.  Joanna yang tidak bahagia meninggalkan Ted dan putra mereka, Billy (Justin Henry), setelah Ted memenangkan seorang klien besar dari perusahaannya.  Margaret Phelps (Jane Alexander), tetangga mereka, juga membela Joanna.

Setelah Joanna pergi, Ted kerepotan mengurusi Billy.  Bahkan Billy lebih memilih Joanna ketimbang Ted.  Ted juga mengalami penurunan performance kerjanya karena sibuk mengurus Billy.  Dan kejadian beruntun seperti Billy yang sakit demam, dan Billy yang jatuh dan menyebabkannya hampir buta, membuat Ted semakin mengabaikan pekerjaannya.  Untung sekarang Margaret 'berpihak' kepada Ted.  Apalagi setelah Joanna kembali untuk menggugat cerai Ted disaat yang tepat.  Yaitu saat Ted dipecat.

Tanpa pekerjaan, tidak mungkin Ted akan mendapat hak asuh Billy.  Padahal ayah dan anak itu sudah semakin dekat karena Ted yang membacakan Billy cerita disaat malam dan yang menghiburnya saat ia sedih.  Untuk itu Ted berusaha mencari pekerjaan dalam waktu 24 jam walaupun pekerjaan itu dengan gaji yang lebih rendah daripada pekerjaan sebelumnya.  Sedangkan Joanna kembali dengan pekerjaan yang bergaji besar dan statement seorang psikiater yang menyatakan Joanna waras.  Siapa yang akan memenangkan pengadilan?

Semua ini akan terjawab di Kramer vs Kramer.



Film ini dibuka justru dari sebuah ending.  Yaitu ending dari hubungan Joanna dan Ted, walaupun gue juga meragukan awal film itu adalah ending mutlaknya karena ada beberapa indikasi hubungan Joanna dan Ted  sudah agak memburuk.

Setelah gue browse, ternyata film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama.  Tapi, gue belum pernah baca novelnya, jadi gue gak bisa membandingkan.

Lewat film inilah Meryl Streep memenangkan Oscar untuk pertama kali.  Film ini juga yang memperkuat posisi Streep sebagai aktris terbaik setelah film ini.  Lewat film ini juga Dustin Hoffman memenangkan Oscar pertama kali.  Sayang sekali Dustin Hoffman dibayang-bayangi oleh Robert de Niro, Al Pacino, dan Jack Nicholson, padahal Hoffman sama bagusnya dengan mereka.  Mungkin di tahun itu orang lebih banyak yang mempertanyakan kemampuan Streep because she was less famous than Hoffman at that time.  Hoffman sudah mempunyai status lewat nominasi Oscar-nya di film The Graduate.  Tapi, Streep, yang saat itu boleh dibilang rookie, berhasil bersinar.  Tambah salut gue sama Meryl Streep.

Gue nonton film ini pertama kali di HBO FamilyDan gue benar-benar tersentuh dengan film ini.  Bagaimana karakter mereka bukan 100% putih atau 100% lemah tapi dimana karakter mereka semua abu-abu dan 50% kuat dan 50% lemah.  Hal itu tercermin saat Ted ingin menghibur anaknya tapi dia sendiri juga menahan tangis.  Atau bagaimana Joanna yang bingung karena dia ingin bahagia dan tinggal bersama Billy tapi ada sesuatu yang menahannya.  Pokoknya realisitis banget.  Dan di endingnya ada TWIST.  Gue emang seneng film yang ada twist.  

But, gue tersentuh film ini karena akting Hoffman, Streep, dan Justin Henry.  Ada beberapa scene yang gue tonton dengan perasaan datar dan biasa-biasa saja.  Setelah gue ingat-ingat kembali, gue sadar kalau departemen musik film ini gagal menyentuh penontonnya.  Mungkin maksudnya bagian musik diminimaliskan agar tambah realistis seperti Annie Hall?  Tapi, kesimpulan gue cuma satu, this movie is fully recommended. 9,5/10

pic cr : cinejour
           dvdbeaver