Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Crime. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Thursday Movie Picks: Cop Movies


Howdy readers, welcome back to Thursday Movie Picks! Thursday Movie Picks is a weekly recommendation of three movies, that is hosted by Wandering Through the Shelves. If you want to join this series and need more info, please click here.

This week theme is... *drum rolling* COP MOVIES! This is a very unique theme, but unfortunately, my range of choice is limited. 

Rush Hour (Brett Ratner, 1998)


I don't care what people say, Jackie Chan and Chris Tucker is one of the greatest duo for me. And Rush Hour is one of the funniest films I've ever watched. Hell, I love the other two films too.

Infernal Affairs (Andrew Lau and Alan Mak, 2002)


Am I the only one who watch Infernal Affairs but never watch The Departed?

Bless Andrew Lau, Alan Mak, and Felix Chong for their great skill in storytelling and filmmaking. I think Infernal Affairs is an example where the people behind the scene stand out more than the performers. Both Tony Leung and Andy Lau were good, but not memorable or mesmerizing enough. But I think the script didn't give them enough space to show us their limit.

Hot Fuzz (Edgar Wright, 2007)





Hot Fuzz and The Departed were the sweethearts this week! I still love Shaun of the Dead more than Hot Fuzz, but I love Hot Fuzz more than The World's End! I love everything about this film (and all the other two films)!

I don't even know which one if my favorite scene. When I think it's the duck scene, I remember the some-kind-of-bomb-that-name-I-forget scene, then I remember theater scene, then the final shooting scene.

Well, I hope Edgar Wright, Simon Pegg, and Nick Frost will make a badass movie again! 

Bonus: Chungking Express (Wong Kar Wai, 1994)


I don't even understand myself why I pick this film as bonus. 1) I'm not a big fan of the film. I have a mix feeling about it. 2) I don't understand why this film is considered as a romantic movie. I hardly see and feel anything romantic about this film 3) This film doesn't talk about the main aspect of a cop's life.

Okay, so those are the three cons. Now let's get to the pros. 1) The two male protagonists are cops. 2) The first part is almost like a typical crime and or cop film. 3) I bet that only 1-3 people picks this movie for this week's theme.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Frozen Ground


Yeay, akhirnya gue bisa review film baru, haha.  Eh, tapi gue gak tahu juga sih, kayaknya Frozen Ground gak baru-baru amat, wkwkwk.  

Frozen Ground adalah film crime-thriller 2013 yang disutradarai Scott Walker dan dibintangi oleh Nicholas Cage, John Cusack, dan Vanessa Hudgens.  Film ini berdasarkan kisah nyata.  Cindy Paulson (Hudgens) mengaku dirinya korban penculikan dan pemerkosaan, namun tidak ada polisi yang mempercayainya karena dia seorang pelacur.  Kasus Cindy pun tidak diinvestigasi lebih lanjut.  Ternyata setelah kasus Cindy yang tidak terselesaikan, ditemukan sebuah mayat wanita yang sebelumnya disiksa dan diperkosa.  Jack Halcombe (Cage) yang menyelidiki kasus ini curiga bahwa mayat yang ditemukan ada kaitannya dengan kasus Cindy.  Penyelidikan Halcombe mengarah pada seorang pria bernama Robert Hansen (Cusack) yang mempunyai image baik di depan teman-temannya dan orang sekitar.


A bit oot, but whatever : Why Disney girls turn into bitches? 

Frozen Ground tuh film misteri OLD school.  Yap, formula yang dipake terlalu 'klasik' dan sama sekali tidak mempunyai sentuhan modern.  Padahal ekspektasi saya sudah lumayan tinggi mengingat ada Nicholas Cage dan John Cusack dan opening-nya yang cukup menegangkan.  Apalagi Scott Walker tidak 'memutihkan' si protagonis.  Tapi saya langsung mengerutkan kening ketika saya melihat si antagonis keluar.  I hate that formula.  Saya dari dulu heran kenapa Hollywood suka sekali memperlihatkan wajah si antagonis dan hanya memberikan penonton proses-proses penyelidikan yang terkadang monoton.  Tapi Silence of the Lambs masih bisa menjadi salah satu film misteri terbaik walau menggunakan formula itu, bukan?  Well, Frozen Ground is no Silence of the Lambs and John Cusack is no Sir Anthony Hopkins.  

Menonton film ini terasa seperti menonton salah satu episode Criminal Minds yang buruk.  Walker mengisi Frozen Ground dengan formula-formula kuno dan aksi kejar-kejaran 'kucing dan anjing' yang terkesan bertele-tele.  Tidak ada yang istimewa.  Dialognya biasa-biasa saja, kadar ketegangan berkurang, dan semuanya menjadi predictable.  Proses penyelidikan kurang berkesan karena Scott Walker menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas Hansen yang membosankan dan proses penyelidikan yang kurang melibatkan bukti-bukti forensik ataupun profil pembunuh (kriminologi gitu loh).

Tidak cuma itu, film ini TERLALU mencoba menjadi salah satu dari film-film stylish dengan menggunakan shaky-cam.  Let me rephrase it : OVERDO shaky-cam.  


Oh please, Law & Order : SVU has better performances.  Menurut saya, penampilan John Cusack dan Nicholas Cage buruk.  Titik.  Ada orang yang mengatakan mereka penampilan mereka tidak istimewa tapi tidak mengecewakan juga.  Well, jika dua aktor veteran masih memberikan penampilan tidak istimewa, itu sudah saya klasifikasikan jelek atau buruk.  Saya sendiri kurang tahu kemampuan akting Cage yang 'sesungguhnya' karena saya tetap tidak suka dia, padahal saya sudah menonton City of Angels, Ghost Rider, dan Season of the Witch.  Wrong movies, maybe?  Saya sendiri juga bukan penggemar Cusack, tapi saya cukup puas dengan penampilannya di 1408.  Untung saja John Cusack sempat bersinar sebentar di bagian akhir film.  Vanessa Hudgens jelas permata dari tiga aktor utama film Frozen Ground.  Penampilannya bagus, walaupun masih tidak sebagus Jodie Foster di The Accused karena ada beberapa momen yang masih terasa dipaksakan.  Saya tidak tahu apakah kesalahan ada di pihak aktor-aktor atau skrip Scott Walker yang mediocre dan cenderung membosankan.  

Hubungan Cindy dan Jack juga sekedar tempelan.  Momen-momen mengharukan yang dibuat oleh Walker tidak buruk, tapi biasa.  Malah, terasa sedikit dipaksakan karena waktu yang diberikan untuk Cindy-Jack cukup sedikit dan chemistry antara Cage dan Hudgens jelas tidak sehebat Jodie Foster dengan Sir Anthony Hopkins.

Scott Walkes tried so hard to create an old-school-thriller-crime movie.  Yet, Frozen Ground looked like one of the worst episode from Criminal Minds.  It's not THAT disappointing, but it's not something that I want to watch twice. 4,5/10    

pic cr :
craveonline.com
movies.buzzintown.com
standard.co.uk

Sabtu, 28 September 2013

Se7en / Seven (1995)

Ernest Hemmingway once wrote, "The world is a fine place and worth fighting for." I agree with the second part. -Det. William Somerset.

Err...ini bukan Se7en penyanyi Korea loooooh jayusamatgue  Gue kurang familiar dengan karya-karya David Fincher, bahkan gue belum nonton Fight Club, Zodiac, dan Girl with the Dragon Tattoo yangdvdnyaudahguebelidaritahunjebot  Anyway, gue hoki banget banget bisa nonton nih film.  Waktu gue nonton nih film gue lagi sakit.  Karena bosen, gue nyalain TV.  PAS BANGET gue nyalain TV tinggal 2 detik lagi dari film Se7en.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER!

Se7en adalah film misteri yang disutradari oleh David Fincher pada 1995.  Film ini dibintangi oleh Brad Pitt, Morgan Freeman, dan Gwyneth Paltrow, dan Kevin Spacey. Detektif William Sommerset (Morgan Freeman) sebenarnya akan segera pensiun.  Namun, Sommerset adalah salah satu detektif terbaik sehingga ia disuruh mengejarkan kasus yang sangat disturbing dimana korban memakan terlalu banyak makanan hingga perutnya pecah.  Ia ditugaskan bersama seorang detektif muda yaitu David Millis (Brad Pitt).  Ketika mereka tidak menemukan bukti kuat siapa pembunuh si pria gendut, seorang pengacara terbunuh dan lagi-lagi meninggalkan bukti-bukti rumit.  Investigasi yang mereka lakukan akhirnya mengarahkan mereka pada kesimpulan bahwa mereka sedang mencari seorang pembunuh berantai.  Pembunuh berantai ini membunuh berdasarkan seven deadly sins atau tujuh dosa mematikan : gluttony (rakus), greed (keserakahan), sloth (kemalasan), pride (kesombongan / harga diri), lust (nafsu seksual), envy (kecemburuan), dan wrath (kemarahan / kebencian yang besar).  Ternyata si pembunuh, John Doe (Kevin Spacey), mengejutkan mereka dengan menyerahkan diri ke kantor polisi.


Tidak jarang premis cerita yang menarik dieksekusi dengan buruk.  Untungnya hal itu tidak terjadi di Se7en.  Saya menyukai keseluruhan proses Se7en, namun saya merasa Se7en kurang mempunyai unsur kriminologi dalam penyelidikannya dan kurangnya 'percakapan pintar' (ini istilah ciptaan gue) dalam dialog-dialognya.  Mungkin karena saya berharap film ini mengandung unsur kriminologi yang kental dan mengasyikkan seperti Silence of the Lambs.  Dan musik iringan Howard Shore kurang menarik perhatian.
 
Opening sequence-nya sangat memikat dan menegangkan.  Sesaat saya mengira film ini akan menjadi tontonan yang penuh darah atau malah membuat saya 'tegang' karena sok menjadi film thriller.  Ternyata saya cukup salah.  Film ini tidak berdarah-darah (opini gue loooooh) ataupun sok memberikan ketegangan.  Sinematografi Darius Khondji yang gelap dan menawan diatur dengan apik oleh Fincher.  Film Seven sendiri memberikan segera kengerian dan kejijikan dari skrip Andrew Kevin Walker.  Andrew Kevin Walker berhasil memberikan sajian yang pintar, emosional, dan keji kepada penonton.  Saya tidak mengerti mengapa David Fincher (terlalu) dipuji-puji sedangkan Walker hampir tidak terdengar namanya.  Toh kekuatan film ini bukan hanya di visual, tapi di penulisan juga.  Inilah alasan saya bukan penggemar berat David Fincher dan Martin Scorsese, menurut saya mereka overrated.  Film mereka bukan apa-apa tanpa skenario yang jenius, tapi bukannya si penulis yang mendapat popularitas, malah sutradaranya saja.


Karakter yang dimainkan Brad Pitt begitu menyala-nyala dan ekspresif.  Dia memberikan kesan yang lebih kuat daripada Freeman.  Saya suka sekali melihat perubahan emosi yang diperlihatkan Brad Pitt.  Sedangkan Morgan Freeman yah...Morgan Freeman.  Saya tidak melihat sesuatu yang beda di film ini.  Karakternya itu-itu saja sehingga Morgan Freeman tidak memberikan kesan mendalam pada saya di film ini.  Gwyneth Paltrow hanyalah karakter tempelan dan Kevin Spacey tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilainya.  Saya kurang menyukai karakter Spacey.  Saya mengagumi John Doe (Spacey) karena ia unexpectedly menyerahkan dirinya ke kantor polisi.  Namun saya merasa ia terlalu narsis *bahkan lebih narsis daripada Lecter* dengan TERLALU berusaha mendapatkan perhatian.  Dia bagaikan anak manja yang cerewet dan caper, sedangkan Lecter mencari perhatian dengan kepribadiannya yang pintar, licik, dan berdarah dingin.  Dan seperti saya bilang, dia tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilai kemampuannya.

The so-called twist or shocking ending didn't shock me at all.  Saya sudah menebaknya dari pertengahan film.  Beneran loh, bukan paruh terakhir.  Saya merasa agak kecewa dengan ending-nya, walaupun si aktor sudah memberikan kemampuan akting yang terbaik. 

Film ini membuat saya berpikir tentang dosa-dosa yang dilakukan manusia.  Secara umum, kita tidak akan dipenjara jika Seven Deadly Sins yang kita lakukan tidak ada di undang-undang.  Maksud saya, kita menonton film bokep atau baca cerita bokep sebenarnya sudah melakukan tindakan lust, namun hal itu tidak melanggar hukum.  Apa yang harus kita lakukan ketika kita melihat orang melakukan dosa walaupun itu tidak melanggar hukum?  Membiarkannya?  Menghukumnya?  Dengan kita membiarkannya, kita sama saja telah melakukan sebuah dosa, namun siapakah kita yang berhak menghakimi atau menghukum orang padahal kita sendiri juga melakukan dosa, dan kemungkinan besar akan melakukan suatu dosa setelah kita menegur orang itu?

Overall, film Seven bukanlah film yang sempurna, namun Fincher, Walker, dan Pitt membuat film ini lebih menonjol dan unik daripada film misteri lainnya. 8,7/10

pic cr :
join4movies.com
moeatthemovies.com
andsoitbeginsfilms.com

 

Senin, 16 September 2013

Mother (2009)


Bong Joon-ho mulai dikenal para penggemar film ketika ia mensutradarai The Host (2006).  Gue sih baru nonton sebagian, tapi Memories of Murders yang benar-benar bikin gue tergila-gila sepertinya alasan yang cukup bagi gue untuk nyari-nyari film Mother.  Apalagi Won Bin ganteng banget!  Setahun yang lalu gue udah beli DVD-nya, tapi hilang-_-  Untung kemarin gue nemu link download film ini.

Mother menceritakan seorang ibu (Kim Hye-ja) yang hidup berdua dengan anaknya yang sedikit...berbeda bernama Yoon Do-joon (Won Bin).  Pada dasarnya, Do-joon adalah laki-laki yang baik, tapi ia akan bereaksi dengan keras ketika ada yang memanggilnya 'bodoh'.  Do-joon yang terpengaruh temannya mulai melirik gadis-gadis di lingkungannya.  Hingga suatu malam, Do-joon dinyatakan sebagai tersangka pembunuhan seorang gadis karena bola golfnya ditemukan di mayat gadis itu.


Opening scene-nya yang cukup freakish udah langsung memikat gue.  Yang dimaksud dari freakish, adegannya termasuk unusual, tapi gak disturbing atau gory.  Opening scene dari film Mother membuat gue merasa geli, heran, dan takjub.  

Mungkin kemampuan Bong Joon-ho di sinematografi masih bisa dikalahkan oleh Park Chan-wook (Trilogi Vengeance, Stoker) tapi gue tetap kagum bagaimana Bong mempresentasikan ceritanya (dengan Park Eun-gyo) secara gelap, emosional, dan indah.  Bagaimana ia bisa menunjukkan seorang ibu yang penuh kasih sayang, tapi kasah sayang itu juga punya sisi gelap, itu adalah kemampuan yang awesome banget!  Gue pikir Mother adalah gambaran realistis kelam bagaimana seorang ibu yang terlalu sayang pada anaknya akan melakukan APAPUN ketika anaknya hampir terpojok atau diambil dari dia.  

Iringan musik Lee Byung-woo pun sangat menambah keindahan film ini, apalagi di opening scene-nya dan final scene-nya.  Film ini akan terasa kosong tanpa iringan musik Lee Byung-woo.


Kemampuan akting Kim Hye-ja sangat jauh dari kata...jelek.  Sumpah, keren banget dah, kira-kira dibawahnya Meryl Streep di film Sophie's Choice.  Menurut gue sih Won Bin kurang bego & autis.  Bagus sih, cuma kalah dari Kim Hye-ja.  Sangat disayangkan loh, soalnya karakternya dia lebih berpotensi mencuri perhatian penonton dan kritikus.  Mungkin memang karena Won Bin kurang memiliki pengalaman, karena karater yang ia ambil, rata-rata diperankan oleh aktor yang lebih senior/berpengalaman seperti Cha Tae-hyun (BA:BO), Dustin Hoffman (Rain Man), Tom Hanks (Forrest Gump), dll.

Berbeda dari kebanyakan film, twist film ini justru hadir sekitar 20 menit sebelum klimaks.  Dan twist itu dibawakan dengan begitu 'frontal'nya, Bong tidak melebih-lebihkan twist itu.  Dan percayalah, twist-nya sama simpelnya seperti film Memories of Murders.

Overall, Mother is a beautiful, emotional, and dark story about a mother's love which was crafted amazingly by Bong Joon-ho and Park Eun-gyo.  Thank God Kim Hye-ja nailed her character! 9,7/10


pic cr :
downloadfreemovies.ca
relativefilmreviews.com
delupher.wordpress.com

Kamis, 13 Juni 2013

Now You See Me

The more you look, the less you see. -Daniel


Finally, gue update film baru!  Sial banget gue ngelewatin The Great Gatsby sama Epic-_-  Nonton Jurrasic Park 3D aja kagak, ampun om Steven Spielberg... :"

Dimulai dari opening sequence yang menurut gue cukup keren, Louis Letterier mengenalkan kita pada empat pesulap-Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher), Jack Wilder (Dave Franco), dan Merrit McKinney (Woody Harrelson).  Mereka berempat menerima kartu tarot dan berkumpul di sebuah apartemen.  

Satu tahun kemudian, mereka berempat sudah menjadi pesulap terkenal (The Four Horsemen) yang dibiayai oleh Arthur Tressler (Michael Caine).  Sebagai penutup show mereka di Vegas, mereka berhasil merampok bank di Paris.  Hal ini menyebabkan kegaduhan dan kebingungan.  FBI mengutus Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) dan seorang agen interpol bernama Alma Vargas (Melanie Laurent).  Bukan hanya FBI yang mengawasi The Four Horseman, tapi ada juga Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang hobinya adalah membuka rahasia pesulap.


Hmm, gimana ya?  Sama seperti The First Wives Club, gue mempunyai hubungan love-hate dengan film ini.  Why?  Kalau gue memakai mata gue *yang agak* kritis (?) menurut gue film ini...cukup buruk.  Tapi kalau gue memakai mata penonton awam, NYSM (kependekkan) adalah salah satu film terkeren yang gue tonton.  Yowes lah, gue tulis dulu pendapat gue tentang film ini.

Gue sebenarnya suka film yang menampilkan semacam 'gank' seperti The Breakfast Club, The Goonies, The Avengers, Harry Potter, Madagascar, dll.  Biasanya seru dan lucu.  Sayangnya, NYSM tidak memfokuskan pada karakter dan hubungan mereka seperti lima film yang gue sebut tadi.  Yang menjadi fokus utama film ini adalah trik dan magic.  Emang harus gue akuin kalau trik sulap yang dipakai film ini seru dan keren, tapi karakter-karaternya jadi dibayang-bayangi sehingga kekurangan rasa epik (?)  David Yates saja bisa kok menyeimbangkan aksi dan pengembangan tokoh dalam tiga (kecuali Harry Potter and the Half-Blood Prince) film Harry Potter yang terakhir.  


Gue nonton ini mau melihat mbah Alfred sama Lucius Fox (Nolan's Batman trilogy).  Sebagai aktor senior, tentu dua-duanya berhasil menangkap perhatian gue.  Anyway, what's Mark Zuckerberg doing in that movie.  No, I'm serious it's Mark Zuckerberg!  Selama gue nonton film ini, gue tetap gak terkesan dengan akting Jesse Eisenberg, serasa nonton The Social Network tanpa Andrew Garfield, dkk.  Emang Eisenberg keren baget di Social Network, tapi kalau ekspresinya dan tokohnya (hampir) sama, kan bukan 'wow' lagi.  Walaupun gue gak terkesan, bukan berarti dia jelek banget atau separah kristen stewart dkk di seri twilight.  Walaupun gak terkesan dengan akting dia, I still think that Jesse is so cool<3

Ehem, back to the topic.  Hey, hebat banget si Shosanna (Inglourious Basterds) bisa terdampar disini.  Aktingnya lumayan disini, tapi tetap lebih bagus waktu di IB.  Isla Fisher, Woody Harrelson, dan Dave Franco membawakan decent performances, but not enough to leave a deep impression.  Boleh dibilang aktor utama yang bersinar adalah Mark Ruffalo.  Rasa frustasinya saat mengejar The Four Horsemen dapat banget.  Dan di pertengahan, chemistry-nya dengan Melanie Laurent membaik.  

Sebenarnya bukan salah aktor-aktornya jika mereka tidak bisa mengembangkan karakter dengan baik.  Ini salah tim penulis, yaitu Ed Solomon, Boaz Yakin, dan Edward Ricourt.  Apalagi pengantaran klimaks yang terlalu cepat dan terkesan buru-buru.  Walaupun  memang harus diakui trik yang ditampilkan menarik, dan bahkan ada beberapa trik yang 'terjawab'.  
Spoiler : menurut gue pribadi, twist-nya biasa aja.

It's not a complex movie like The Prestige, it's a feel-good movie with decent performances from the cast.  As a simple viewer, I rate this movie 8/10, but as a reviewer, 6/5/10.

pic cr : 
impawards.com
moviefanatic.com
geektyrant.com