Minggu, 17 November 2019

Ratu Ilmu Hitam (Black Magic Queen) 2019



Joko Anwar kembali sebagai penulis dalam film Ratu Ilmu Hitam. Film ini merupakan remake dari film Suzanna yang berjudul sama, yang dirilis tahun 1981. Meskipun mempunyai judul yang sama, film ini merupakan film yang berbeda dengan film Suzanna.

Film ini diawali dengan perjalanan sebuah keluarga menuju panti asuhan sang ayah, Hanif (Ario Bayu). Ia pergi bersama seluruh keluarganya, yang terdiri dari sang istri, Nadia (Hannah Al-Rashid), ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara), dan Haqi (Muzzaki Ramdhan). Mereka mengunjungi panti asuhan tersebut, karena pemilik panti asuha, Pak Bandi (Yayu Unru), sakit keras. Di sana, sang ayah bertemu kembali dengan kedua temannya, yaitu Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), yang datang bersama istri mereka masing-masing. 

Hanif yang penasaran, dengan cepat menemukan misteri dan rumor yang mengerikan mengenai Ibu Mirah (Ruth Mirana), seorang mantan pengurus panti asuhan yang konon meninggal di panti tersebut. Meningalnya Ibu Mirah berkaitan erat dengan hilangnya Murni, salah satu anak panti asuhan yang dikenal oleh Hanif dan teman-temannya. Satu per satu, teror mendatangi semua orang di panti tersebut.



Ada salah satu dialog yang menarik dari film ini yang versi tahun 1981. Konteksnya, kepala desa memprotes perlakuan terhadap ibunya tokoh Suzanna yang diperlakukan semena-mena hanya karena anaknya dituduh tukang santet. Si kepala desa mengatakan, sebagai negara hukum, harusnya diselesaikan secara hukum. Namun si pembuat onar mengatakan bahwa santet sudah di luar ranah hukum. 

Baik versi tahun 1981 dan versi tahun 2019 mempunyai beberapa benang merah. Salah satunya adalah absence of justice bagi korban kekerasan. Salah satu faktor yang membuat ketiadaan keadilan dalam film ini adalah jauhnya panti asuhan tersebut. Mendapatkan sinyal susah dan mencapai jalan tol juga susah. 
Pada akhirnya, hukum menjadi sia-sia karena ia tidak bisa dijangkau oleh si korban baik secara fisik maupun psikologis. 

Tapi, kadang yang membuat hukum menjadi seakan-akan tidak ada atau tidak hidup dalam masyarakat, bukan karena ia "jauh", tapi masyarakat itulah yang tidak bisa menerimanya. Makanya dalam hal ini gue lebih suka penggambaran masyarakat di film yang asli. Kalau kita melihat dari skandal Harvey Weinstein, ia bisa lari dari hukum karena ia tidak sendiri dan the system secara nyata menormalisasikan tindakannya. Agak disayangkan film ini kurang memperhatikan dari sisi the big picture, karena seakan-akan yang terjadi adalah there's this one bad guy. Di sisi lain, film ini juga membuat gue bertanya-tanya: bagaimana posisi moral preteen atau manusia belum dewasa, yang sengaja atau tidak sengaja, membantu si pelaku kekerasan seksual?

Namun, satu hal dari dunia nyata yang direfleksikan film ini adalah fakta bahwa pelaku kekerasan seksual tak jarang merupakan orang yang dikenal korban. Hanya menasehati orang untuk waspada terhadap orang asing sama sekali tidaklah cukup. Tak jarang, orang itu mempunyai posisi di atas korban, seperti orang tua ke anak, atau guru ke murid. And in most cases, si korban jadi takut untuk cerita. Kadang yang terjadi kalau si korban cerita malah victim-blaming, atau si pelaku menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan karakter si korban. I think this part is a very parental or familial horror, especially because these things do happen. 

Yang dijelajah secara tidak langsung di film ini juga adalah dualitas manusia. Si pelaku merupakan orang yang baik dan dipercayai. Tapi ia juga seorang pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. Bahkan memfitnah orang yang melindungi anak-anak tersebut. Sering orang menganggap pelaku kejahatan tertentu adalah monster dan tidak mungkin manusia. Namun mereka tetap manusia, yang kadang punya sisi dermawan, punya orang yang mereka cintai, dan sebagainya. In my opinion, justru itulah yang lebih mengerikan, bahwa pelaku kekejian seperti itu adalah manusia yang mempunyai sifat manusia. Kadang kita unknowingly hidup bersama orang seperti itu, bahkan menganggap orang itu adalah orang baik.



Other Stuffs

Gue jarang melihat body horror di film Indonesia. Itupun jatuhnya ke gore, kayak Rumah Dara  (is it a body horror tho?). Tapi film ini berhasil mencampur-adukan body horror, gore, Indonesian mystical horror, and bits of other horror (bad stuffs happen to children). Sayangnya, ilmu hitam sendiri tidak digali dengan dalam di film ini. Jadi kurang nendang, padahal yang gue nanti-nanti justru itu. Gue pribadi lebih ke arah jijik kalau lihat gore, tapi gak bakal kebayang. Yang bikin gue terngiang-ngiang justru horor yang dedemitnya gitu (kek yang adegan TV). Karena tidak tergali dalam, ilmu hitam ini datangnya rada abrupt dan gak bikin impression yang memorable di film ini. 

On the other hand, build up misteri Ibu Mirah dan Murni udah bagus sih. Intriguing, reveal-nya pun juga memuaskan. Mungkin untuk menjaga mistri, sisi manusiawi Bu Mirah sedikit sekali yang diperlihatkan. 

Cast Ratu Ilmu Hitam cukup solid, but I give extra credits for Hannah dan Muzzaki. Apalagi Muzzaki dengan jatah dialog yang cukup menghibur dan 'pemandu' penonton dalam beberapa misteri film ini. Sayang yang jadi final boss kurang menakutkan. Mungkin dipengaruhi juga dengan build up yang rada rushed.

Overall, Ratu Ilmu Hitam is a very solid Indonesian horror with good visual effects and cast, although rushed on the third act. It brings proper points on the reality of sexual harassment victims and how das sollen (law in the books) can not always bring justice. 8,5/10.


Rabu, 13 November 2019

Our Little Sister (Umimachi Diary)



Hirokazu Kore-eda merupakan nama yang tidak asing bagi penggemar film festival. Karyanya tahun 2013, Like Father Like Son (yang belum gue tonton padahal udah didownload dari kapan tahu) menerima Jury Prize di Cannes Film Festival. Puncak karirinya sejauh ini adalah menerima Palme d'Or untuk Shoplifter pada tahun 2018. Our Little Sister merupakan filmnya yang dirilis pada tahun 2015, dan diadaptasi dari manga yang berjudul Umimachi Diary oleh Akimi Yoshida.

Film Hirokazu kali ini bercerita tiga orang kakak-beradik dewasa. Yang tertua, Sachi (Haruka Ayase), lalu Yoshino (Masami Nagasawa), dan Chika (Kaho). Mereka telah lama hidup bertiga sejak orang tua mereka bercerai. Tiba-tiba, mereka mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal. Saat pemakaman, mereka bertemu dengan adik bungsu mereka dari pernikahan kedua sang ayah, Asano Suzu (Suzu Hirose). Sachi yang merasa sang adik kurang bahagia tinggal bersama istri ketiga ayahnya, mengajak Suzu untuk tinggal bersama mereka bertiga. Suzu menerimanya.



SMALL SPOILER ALERT

Karena gue belum menonton film Hirokazu Kora-eda yang lain, gue belum bisa membuat perbandingan dengan film-film sebelumnya, hehe. Film ini malah mengingatkan gue dengan film Jepang jadul yang berjudul Tokyo Story. Jika Tokyo Story berbicara mengenai orang tua yang diabakan anak-anaknya yang dewasa, maka Our Little Sister menceritakan orang dewasa yang diabaikan orang tuanya saat muda, serta seorang anak yang dikecewakan oleh orang dewasa.

Apa ini gue doang atau gak, film Amerika Serikat yang indie cenderung lebih menyukai dekonstruksi ideal relationship atau cerita mengenai dysfunctional relationship. Sebut saja Marriage Story yang Desember nanti dirilis oleh Netflix (at least based on the trailer), Midsommar, Lady Bird, heck, one of its' biggest franchise is basically a family space opera! Untungnya Hirokazu Kore-eda menghindari tren itu, dan memperlihatkan hubungan saudara yang sehat. 

Kelalaian orang tua mereka tidak muncul lewat hubungan saudara yang tidak sehat, atau apapun yang mencolok. Luka itu justru tumbuh lebih subtle. Seperti Sachi yang sering kali lebih seperti ibu daripada kakak. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana ia yang sering memasak dan menegur adik-adiknya. Ada Yoshino yang sering memanjakan pacarnya secara material. Chika yang masih sedikit kekanak-kanakan. Yang terakhir, Suzu, yang menyimpan unek-unek mengenai ibu tirinya, ditambah merasa insecure karena merasa ibunya lah yang menghancurkan pernikahan orangtua kakak-kakaknya. Akibat dari abandonment nyatanya tidak selalu terlihat mencolok dan inilah yang kadang-kadang dilupakan media dan masyarakat awam. Ini poin favorit gue dari film ini. Luka itu kadang-kadang terlalu dalam atau sudah mati rasa sehingga hanya terlihat jika diperhatikan sangat baik-baik saja.

Film ini juga tidak mempunyai alur cerita yang konvensional. Alur ceritanya sama dengan manga yang diadaptasi, di mana ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari keempat kakak-beradik itu. Kadang-kadang ada hari yang sekedar rutinitas, ada yang sangat membahagiakan, dan ada yang diisi dengan ketegangan. Ketika kamu berharap bahwa konflik kecil itu akan menjadi konflik utama, konflik itu akan terselesaikan atau hanya digantung. Contohnya, ada cerita mengenai kedatangan ibu the elder sisters. Hal ini memicu konflik karena Sachi belum sepenuhnya memaafkan sang ibu. Suzu juga menjadi tidak nyaman. Tapi, Koru-eda tidak membuat tarik-ulur dengan konflik ini secara berlebihan, dan memberikan resolusi yang heartwarming. Tidak hanya resolusi yang heartwarming, film ini juga menampilkan momen-momen kecil membahagikan seperti memanen buah plum, makan katsu, atau sekedar naik sepeda dengan teman. Meskipun demikian, Hirokazu berhasil menyulap momen kecil itu menjadi tidak hanya membuat senang penonton, tapi juga menghangatkan hati mereka.

Secara teknis, gue jatuh cinta banget dengan musiknya! Kudos for Yoko Kanno. Sayang gue cari di YouTube dan Spotify gak ketemu, huhu. Lantunan pianonya itu ringan, tapi manis gak sampai diabetes. Benar-benar menangkap esensi filmnya. Akting para aktornya bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah chemistry di antara mereka. Benar-benar meyakinkan kalau mereka itu kakak beradik. And the landscape!!! No word to describe the landscape. 

Overall, Our Little Sister has the perfect amount of sweetness, warmness, tension, and melancholy. It captures the subtle effect of parental abandonment and disappointment, while also proving you can break it by being a functional adult and having a healthy and loving relationship with your sisters. 7,5/10. 

Minggu, 10 November 2019

Love for Sale 2


The most horror love story, kira-kira itulah tagline promosi Love for Sale 2. Pada tahun 2018, Andibachtiar Yusuf sukses menangkap perhatian pecinta film Indonesia lewat film Love for Sale, yang diperankan oleh Della Dartyan dan Gading Marten. Namun, poster film ini tidak menampilkan Gading Marten sama sekali. Bagaimana kelanjutan kisah Arini dan Love Inc?

Film dimuali dengan Ican (Adipati Dolken) yang menghadiri pernikahan adat Padang bersama keluarganya. Sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), cemas karena di antara ketiga anaknya, hanya Ican yang belum menikah. Kakak Ican, Ndoy (Aryo Wahab), sudah menikah meskipun istrinya kerap dikecilkan oleh sang ibu. Si bungsu, Buncun (Bastian Steel), menikah muda dan sudah mempunyai satu anak. Tertekan dan merasa bersalah, akhirnya Ican memutuskan untuk menyewa pacar dengan kriteria dari Padang, agamis, usia 25-30, pintar, dan bisa diajak berbicara dengan ibu-ibu. Love Inc mengirim Arini (Della Dartyan) yang langsung memikat seluruh keluarga Rosmaida.





SPOILER ALERT


Gue cukup suka dengan opening scene film ini, bahkan one-shot di opening cukup panjang. Suasana pernikahan dan dialognya benar-benar menangkap stereotipikal orang Indonesia yang kepoin pernikahan dan bertanya-tanya kapan saudara/anaknya menikah. Adegan tersebut juga menangkap bahwa masih ada beberapa orang yang meskipun sudah tinggal di kota dalam waktu yang cukup lama, mereka masih terikat dengan adat dan kepo-kepo sanak saudara yang kuno. Mungkin agak kelamaan aja sih, karena di menit ke berapa gue sempat mikir, "Ini kapan ceritanya bergerak?".

Meskipun judul ceritanya "Love for Sale 2", jangan berharap banyak dengan aspek romansa film ini. Film ini justru lebih fokus ke aspek keluarga dan konflik menyenangkan orang tua vs keinginan pribadi. Sayangnya, kata-kata yang dikeluarkan oleh tokoh sang ibu bagi gue udah level preachy. Apalagi kata-kata dia sering tidak mendapat perlawanan, atau digambarkan sebagai filmmaker, "Ya udah lah ya, udah ibu-ibu gini, orang tua toh juga udah lebih tahu biasanya." Terutama aspek pemaksaan dan emotional guilt tripping, bahkan manipulatif, kepada Ican. Film ini memang menyentil Rosmaida yang ingin anaknya menikah, tapi dia sangat picky dalam aspek menantu. Tapi ia tidak pernah disentil karena memaksa Ican untuk menikah, bahkan sampai berkata seperti ini, "Ibu gak tahu sampai kapan ibu hidup, dan ibu pengen lihat kamu menikah sebelum ibu mati." Mungkin tidak persis seperti itu, tapi bagi gue itu udah masuk ke emotional manipulation. Orang-orang di sekitar Ican pun seakan-akan mendukung pandangan ibu.

Gue gak tahu apakah penulisnya juga punya tujuan ini, tapi fakta Ican sampai bohong dan bayar wanita untuk menipu keluarganya, adalah bukti tidak langsung betapa toxic permintaan si ibu. Ican berpikir Arini hanya akan menenangkan ibunya sampai beberapa bulan. Ia tidak berpikir apa yang terjadi jika ibunya sampai mempunyai attachment dengan Arini, atau bahkan ketika kontrak tersebut berakhir. Ini juga merugikan Arini, karena Ican sendiri tidak mempertimbangkan bahwa Arini mempunyai rencana lain, atau seberapa kepribadian Arini yang merupakan kepribadian aslinya atau karena dibayar.

Rosmaida pun sayangnya tidak punya watak lain sebagai seorang ibu yang taat adat dan agamis. Sumpah, mungkin karena gue tipikal anak muda kota gak relijius dan gak suka adat, jadinya gak simpatik sama sekali sama karakternya dia. Apalagi ketika dia memarahi anak bungsunya, dia lebih menekankan betapa malunya dia ketimbang kepribadian anaknya.

Aspek keluarga yang ditekankan memang mungkin tema film Indonesia populer tahun 2019, seperti Keluarga Cemara, Dua Garis Biru, bahkan Perempuan Tanah Jahanam juga to some extent. Sayangnya, aspek keluarga film ini malah mengorbankan chemistry dan progres hubungan Arini dan Ican. Adipati Dolken memang aktingnya bagus di film ini, tapi tidak sampai bersinar seperti Gading Marten di film sebelumnya. Della Dartyan pun juga tidak secharming di film sebelumnya bagi gue.

Overall, Love for Sale 2 is a steady film that explores a stereotypical Indonesian family and how having a good marriage is still a source of pressure in Indonesia. Sadly, it compromises the chemistry and the story of its romantic leading pair. 6,5/10.



Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10


Minggu, 21 April 2019

Ave Maryam

diambil dari 21cineplex.com

Ave Maryam merupakan film Indonesia tahun 2019 yang disutradarai dan ditulis oleh Ertanto Robby Soediskam. Film ini telah diputar oleh berbagai film festival internasional, salah satunya adalah Hanoi International Film Festival. 

Berlatar belakang di Semarang tahun 1990-an, film ini bercerita tentang kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnadi) yang merawat suster-suster yang sudah tua. Kehidupannya yang teratur mulai mengalami perubahan ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang untuk mengajar orkestra natal. Di saat yang sama, Suster Maryam juga mendapat tugas untuk menjaga Suster Monic yang misterius. Iman dan tekad Suster Maryam diuji ketika Romo Yosef mulai menunjukkan ketertarikan kepada Suster Maryam.

MINI SPOILER ALERT!

diambil dari alinea.id
The visual porn in this movie can not be described with words! Shout out to Ical Tanjung yang jadi penata kamera. Sumpah, gue suka banget framing dan sudut pengambilannya. Cakep banget. Sinematografi film ini menyaingi Marlina menurut gue. 

Film ini mungkin bisa dikategorikan sebagai tipikal film artistik yang slow dan minim dialog. Gue biasanya gak nonton film ini, but the shots in the trailer are just alluring me! Ada satu adegan yang menurut gue terinspirasi dari In The Mood for Love, yaitu ketika Romo Yosef dan Suster Maryam menghentikan mobil ketika hujan. Adegan itu mengingatkan gue ketika Mr. Chow dan Mrs. Chan bertemu di tengah hujan. 

Salah satu aspek yang gue suka adalah bagaimana film ini bisa menggambarkan perubahan yang dibawa oleh Romo Yosef. Menit-menit pertama memperlihatkan keseharian Suster Maryam seperti memasak, merapikan tempat tidur, merawat suster-suster yang tua, berdoa, dll. Keseharian tersebut tenang, teratur, dan bisa diprediksi. Lalu ketika Romo Yosef datang, dia membawa musik yang penuh kehidupan dan gairah. 

Adegan itu, sekaligus adegan mereka berdua merayakan ulang tahun di pantai, sepertinya menjawab mimpi Suster Maryam sebelumnya tentang ombak yang bergelombang. Romo Yosef sebenarnya telah menjawab keinginan dan mimpi Suter Maryam. 

diambil dari tirto.id

Dari unsur dialognya, gue itu rada peevish karena aktornya sama sekali gak ngomong pakai logat Jawa. Sehingga kurang menangkap suasana Jawa Tengah. I think they didn't even try. Di satu sisi, mungkin memang tidak menambah apa-apa dari sisi cerita. Namun gue pribadi merasa kurang bisa hanyut dalam filmnya.

Minimnya dialog juga membuat motivasi para tokoh kurang tergali. Gue in a way bisa mengerti mengapa Suster Maryam bisa tertarik dengan Romo Yosef. Romo Yosef bagaimanapun juga merupakan orang yang baru, merupakan sesuatu yang berbeda dari kehidupan rutinnya. Maudy Koesnadi juga bisa menunjukkan ketertarikan Suster Maryam terhadap Romo Yosef dengan cara yang subtle. Maudy Koesnadi tidak banyak berkata, namun ia sukses berakting dengan bahasa tubuhnya, terutama ekspresi matanya. 

Namun dari Romo Yosef sendiri, kok gue kurang bisa menerima ya dia suka dengan Suster Maryam, haha. Kurang jelas bagi gue permulaan rasa sukanya, atau alasannya. Apakah itu dimulai karena rasa tertarik yang tulus, atau sekedar bentuk rebellion? 

Selain motivasi tokoh, pergumulan iman mereka pun juga kurang dieksplor atau tergali. Gue merasa Suster Maryam dan Romo Yosef (terutama Maryam) agak banting setir ketika tadinya mereka berani untuk menjalin hubungan lebih dekat lagi, lalu mereka seperti merasa berdosa. Mungkin ini juga karena adegannya dipotong. Alasan kenapa Maryam bisa mencapai keputusan akhirnya juga kurang terjawab bagi gue.

Suster Monik yang mendapat porsi yang cukup signifikan di film ini juga kurang jelas perannya, atau hubungannya dengan dua tokoh utama film ini. Ada beberapa indikasi bahwa ia mempunyai masa lalu dengan Romo Yosef, tapi tidak ada penjelasan eksplisit dari film. Entahlah, kalau dia merupakan tokoh yang memang tidak mempunyai tujuan jelas, seharusnya tidak mendapat screen time yang cukup signifikan di film. Akan lebih baik jika porsinya dia untuk menggali Yosef dan Maryam lebih dalam.

In conclusion, Ave Maryam is a visually-pleasing film with emotional ending and fantastic actors. Unfortunately, the story leaves many questions unanswered and its characters' motivations unexplained. 7/10




Kamis, 01 November 2018

Thursday Movie Picks: Gangster


Hello readers! It's been a long time since I'm working on TMP. I've been busy and just not in the mood for writing but I know you do not come here to listen to my life story. Thursday Movie Picks is hosted by Wandering through the Shelves. For further details you can check here.

Without further a do, here are the movies I picked for this week's theme, Gangster.

Bonnie and Clyde (dir. Arthur Penn, 1967)


Bonnie Parker (Faye Dunaway) caught Clyde Barrow (Warren Beaty) trying to steal his mother's car. But charmed by him, she followed Clyde's world of robbing from small shops to bank. 

This is actually a romantic film that masqueraded itself as a gangster film. The focus of this story is how Bonnie and Clyde handled being chased by the police and the turbulence in their relationship. Bonnie and Clyde is a lovely film that is elevated by its two leads and their chemistry.

A Brighter Summer Day (dir. Edward Yang, 1991)

Xiao Si'r (Chang Chen) was forced to go to a school full of delinquents as his grades weren't enough to go to a better school. Later, he was caught between the feud of two gangs, Little Park Boys, children of civil servants, and 217s, children of military officers. His life was more complicated when Ming (Lisa Yang), the girlfriend of one of the leaders, came to his life.

A Brighter Summer Day is an exquisite realist film. Edward Yang built his protagonist's world carefully to lead us into a tragic climax. 


A Bittersweet Life (dir. Kim Jee Woon, 2005)

Kim Sun-woo (Lee Byung-hun) was assigned to keep an eye for his boss' girlfriend, Hee-soo (Shin Min-ah). He developed feelings for her, and decided to disobey his boss by sparing Hee-soo's life and a man she secretly dated behind Sun-woo's boss. His choice triggered a series of violence events for him.

A bittersweet life is filled with bittersweet music and stunning cinematography. Lee Byung-hun also gave an emotional performance and captured his character perfectly. There is this fluidity I can't explain that didn't make this film rigid.  


Bonus: Sunny (dir. Kang Hyung Chul, 2011)


Nami accidentally met an old high school friend, Chunhwa, in a hospital. They re-connected quickly. As Chunhwa's days numbered, she asked Nami to gather their old gang, Sunny. As she reminisced her past, she was taken back to her high school days in the middle of a political era in South Korea.

I was initially going to pick this over Bonnie and Clyde, but I fear that it will not fit the Gangster genre, lol. Although technically, if the definition of gangster is a group of people who do illegal things, this is a gangster movie. Sunny is (mostly) a feel good film that can make you cry, laugh, and looking back at your own teenage years.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Sunny (써니)

Courtesy CJ Entertainment, diambil dari imdb.com
Sunny merupakan film komedi drama dari Korea Selatan tahun 2011 yang disutradarai dan ditulis oleh Kang Hyung Chul. Film ini merupakan film dengan pendapatan tertinggi di Korea pada tahun 2011. Sunny juga menerima banyak penghargaan di Korea dan telah mengalami remake di Vietnam dan Jepang.

Sinopsis

Semuanya berawal ketika Im Nami (Yoo Ho Jung) tidak sengaja bertemu dengan temannya di SMA, Ha Chun Hwa (Jin Hee Kyung). Pertemuannya dengan Nami serta penyakitnya yang parah membuat Chun Hwa sangat ingin bertemu dengan teman-teman mereka yang lain. Gang mereka disebut Sunny. Beruntung, Nami bertemu dengan salah satu anggota yang lain, Kim Jangmi (Go Soo Hee), setelah mendapat kartu namanya lewat guru SMA mereka. Nami dan Jangmi memutuskan untuk melacak teman-teman mereka dengan menyewa detektif privat.

Nami tidak berteman dengan Chun Hwa dan Jang Midari awal. Nami (Shim Eun Kyung) baru saja pindah ke Seoul dari daerah Jeolla-do. Karena aksennya yang kuat dan jelas berbeda, dia menjadi bahan tertawa dan calon bully pemimpin suatu gang, Sangmi (Chun Wo Hee). Chun Hwa (Kang Sora) serta Jangmi (Kim Min Young) dengan cepat mengintimidasi gang lawan mereka. Selanjutnya, mereka mengajak Nami untuk makan siang dan bertemu dengan teman-teman mereka yang lain. Ada Hwang Jinhee (Park Jinjoo), yang suka berkata kasar, Seo Geum Ok (Nam Bora), anak pintar yang suka memukul orang, Ryu Bokhee (Kim Bomi), yang bermimpi menjadi Miss Korea, serta Jung Suji (Min Hyorin), gadis cantik yang dingin dan misterius.

Courtesy CJ Entertainment, Toilet Pictures, Aloha Pictures

Background and Amateur Analysis

Film ini berlatar belakang pada Korea Selatan era 1980an. Kalau berdasarkan lagu yang menjadi soundtrack, maka ini setidaknya tahun 1986. Jika ingin dipersempit lagi, berdasarkan demo besar-besaran yang dilakukan, kemungkinan besar film ini terjadi sekitar June Struggle, sebuah fase gerakan besar-besaran demi demokratisasi Korea. Sebelum terjadi June Struggle, Korea juga mengalami fase gejolak politik yang cukup besar pada tahun 1980 di Gwangju. Munculnya gelombang politik ini salah satu penyebabnya adalah meninggalnya Presiden Park Chung Hee, yang dianggap diktaktor oleh beberapa orang. Salah satu kenalan saya mengatakan kehidupan pribadi di zaman Park hampir tidak ada, dan Korea tidak terekspos dengan budaya pop dunia luar. Bahkan, Park memaksa agar orang Korea untuk menggunakan hangeul saja dan tidak menggunakan huruf mandarin. Meskipun dianggap diktaktor, Park sangat berpengaruh terhadap improvement ekonomi Korea karena ia mendorong industrialisme di Korea. Improvement ini juga yang melahirkan chaebol (boleh dibilang Crazy Rich Korean).

Poin terakhir ini mungkin sempat disinggung Sunny ketika kakak Nami menyebut agar ayahnya untuk berhenti bekerja karena atasannya adalah "diktaktor". Ayah Nami langsung membalas selama ia menggunakan uangnya, ia tidak boleh mengeluh soal darimana uang itu berasal. Menurut saya, adegan itu betul-betul menangkap dilema dari "warisan" Park kepada Korea. Ini juga food for thought bagi kita, apakah kita harus menutup asal uang kita atau tidak.

Meskipun seklias gang Sunny apolitical, mereka tidak bebas sama sekali dari politik. Hal ini terlihat dari Nami yang tiba-tiba menyebut demokrasi ketika berbicara dengan Suji, dan ketika Sunny melabrak gang lawan di tengah konfrontasi antara aktivis dan tentara militer. Adegan tersebut bukan adegan yang berdarah-darah, namun justru salah satu adegan yang lucu. Salah satu hal yang membuat lucu adalah bagaimana adegan tersebut memperlihatkan bahwa gang war dan perang aktivis-militer itu cukup tipis perbedaannya. Sebenarnya juga bisa dibilang cukup sedih, karena artinya mereka sudah cuek dan terbiasa dengan kekerasan, bahkan sudah tahu cara menghadapinya.

Bicara soal kekerasan, Sunny menunjukkan tiga macam kekerasan berdasarkan orang yang terlibat. Pertama, antar golongan/kelompok sosial, kedua peer violence, dan ketiga antargenerasi. Yang pertama tentu saja aktivis-militer, yang kedua perang antar gang. Kekerasan antar generasi boleh dibilang, diperlihatkan mempunyai nuansa yang berbeda di film ini. Jenis pertama dan kedua mempunyai sense of equalness, dimana tidak ada pihak yang takut menyerang, meskipun ada yang kalah dan menang. Namun kekerasan antar generasi digambarkan mempunyai nuansa yang lebih sedih dan kejam. Ketika Sangmi, lawan gang Sunny, dipukul oleh guru mereka, anggota Sunny tidak ada yang cuek, bahkan ikut merasa iba. Begitu juga ketika gang Sunny dihukum dan dipukul oleh guru tersebut, mereka menangis dan tidak melawan, bahkan berusaha menghindari si guru. Adegan ini sangat bertolak belakang ketika mereka dengan berani menyerang gang lawan di tengah-tengah keributan antara aktivis dan tentara.

Kekerasan antar generasi ini berlanjut ketika Nami, Chun Hwa, Jangmi, dan Jinhee di masa depan menyerang gang yang mem-bully anaknya Nami. Gue kecewa karena mereka tidak ditegur secara keras oleh filmmaker, meskipun mereka ditangkap polisi. Mereka memang tumbuh menjadi orang yang in generally emotionally healthy, dan Nami ibu yang tidak menggunakan kekerasan, tapi bukan berarti mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap generasi muda. Ini menunjukkan kekerasan oleh orang tua dan figur otoritas mereka sangat membekas, walaupun dunia sekarang kurang menolerir hal tersebut. 

Perang antar gang yang gue ceritain di atas disebabkan karena Nami dikeroyok oleh gang lawan. Meskipun yang diserang cuma Nami, Chun Hwa bersikeras untuk melawan gang tersebut secara bersama-sama. Ini mencerminkan semangat kolektivisme dalam film ini, dan mungkin masyarakat Korea secara umum. Bahkan ada montage dimana makan siang dilewati bersama gang, hampir tidak ada murid yang beridiri sendiri. Suji seklias memang terlihat individualis, namun perlu diingat ia tetap anggota Sunny, dan akhirnya tetap ikut dengan acara-acara gang tersebut. 

Semangat kolektivisme ini boleh dibilang berlebihan, bahkan mengarah ke hegemonisme, karena hampir semua orang di kelas Nami memakai Nike. Saking risihnya, Nami mengeluh bahwa ia satu-satunya gadis yang tidak memakai sepatu Nike atau tas Nike. Hegemonisme ini juga terlihat dari murid-murid yang mentertawakan Nami karena absennya, dan bagaimana Nami berusaha untuk menghilangkan aksennya agar terlihat seperti gadis Seoul. Nami juga tidak terlihat mempunyai teman dari kelompok lain. Ini memunculkan semacam sense  of we vs the rest of people atau Nami adalah gang, dan gang itu adalah Nami. Lagi-lagi ini tercermin oleh konflik aktivis, dimana seakan-akan yang konflik itu hanya aktivis dan tentara. 

Salah satu orang yang digambarkan "netral" atau tidak berpihak mungkin adalah anggota keluarga Nami, yaitu orangtuanya dan neneknya. Mengingat orang tua Nami tidak setuju dengan posisi kakak Nami sebagai aktivis, ditambahkan tekanan dari pihak kepolisian, kenetralan mereka perlu dipertanyakan. Kenetralan mereka pun sebenarnya terlihat self-serving bagi gue karena mereka mengacuhkan perbuatan anak-anak mereka tanpa memahami konteks serta penjelasan dari mereka. "Kenetralan" mereka bukan karena mereka memang netral, tapi karena mereka tidak mau tahu.

Courtesy CJ Entertainment, Toilet Pictures, Aloha Pictures via modernkoreancinema.com
Kang Hyeong Chul menulis Sunny dengan flow yang lancar dan natural. Mungkin pembukanya terlalu lama dan akan lebih baik jika bergerak cepat ke masa lalu Nami. Kang juga menggunakan teknik maju-mundur dengan begitu baik. Teknik maju mundur yang rapi ini membawa hasil juxtaposition atau perbandingan yang begitu emosional bagi gue. Agak mengingatkan gue dengan hasilnya Blue Valentine meskipun gak sesedih itu, haha.

Mungkin yang gue suka adalah sub-plot Nami dengan cinta pertamanya dia. Bagi gue sub-plot itu walaupun gak jelek, kurang membawa bobot kepada kepribadian Nami maupun persahabatannya. Padahal sudah jelas persahabatan merupakan inti tema Sunny. Durasi sub-plot bisa digunakan untuk menggali lebih dalam hubungan Nami dengan anggota lainnya atau memberikan tambahan "tes" kepada gang Sunny.

Gue gak ada banyak masalah dengan sinematografi serta aktor-aktornya. Mereka secara umum bagus aktingnya dan dapet banget chemistry sebagai grup. Extra kudos buat Shim Eun Kyung (Nami) dan Kang Sora (Chun Hwa). Kang Sora berhasil meyakinkan gue kalau dia memang gang leader dengan karismanya dia selama di film. Yang bikin ngakak juga neneknya Nami sih, lol.

Konklusi

Cerita Sunny memang bukan cerita yang dalam, kompleks, ataupun out of the box. Ia cerita simpel bagaimana seorang gadis hidup di tengah hiruk pikuk politik dan politik di sekolahnya. Namun ia membuktikan bahwa bukan selalu ide yang membuat film itu bagus, tapi cara mempresentasikannya kepada penonton. 9,3/10 (Amazing). 

P.S: Coba tonton Reply 1988 (drama Korea) kalau lo suka film ini.