Jumat, 21 Oktober 2016

Almost Famous

One day, you'll be cool. -Anita

Almost Famous merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2000 yang disutradarai dan ditulis oleh Cameron Crowe.  Film berdurasi 122 menit ini sebenarnya semi-autobiografi karena menceritakan pengalaman Crowe ketika bekerja di majalah Rolling Stone.  Film yang penuh dengan lagu-lagu rock ini gagal menjadi box office, bahkan budget film ini lebih banyak daripada pemasukannya alias rugi.  Meskipun rugi, film ini mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap beberapa orang sebagai salah satu film coming-of-age terbaik.

Anita (Zooey Deschanel) sangat kesal dengan ibunya (Frances  McDormand) yang konservatif sehingga ia meninggalkan rumah.  Sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan koleksi piringan hitamnya *yang sebagian besar album rock* jatuh ke adiknya, William (Patrick Fugit).  Sejak saat itu, William menjadi penggemar rock.

Kecintaannya pada musik rock mendorong William untuk menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan musik rock.  Suatu hari, William bertemu dengan Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), seorang kritikus musik yang terkenal.  Lester akan menyuruh William untuk me-review konser Black Sabbath dan berjanji akan memberikan uang untuk karya tulisnya.  William tidak bisa masuk ke konser Black Sabbath karena ia bukan jurnalis terkenal.  Ia bertemu dengan seorang groupie (Kate Hudson), yang memanggil dirinya sebagai Penny Lane dan band yang bernama Stillwater.  Gitaris band itu, Russell (Billy Crudup) tertarik dengan William dan mengajaknya masuk ke konser.  Editor majalah Rolling Stone tertarik dengan tulisan William.  Sang editor menyuruh William untuk mengikuti tur konser Stillwater dan menulis tentang mereka.  Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ibunya, akhirnya William diizinkan untuk mengikuti tur konser Stillwater.



Anjir, kemana aja gue selama ini......

From little boy to young man

Di awal film, si William ini sepolos bocah SD yang belum terkontaminasi video bokep.  Baek, gak punya niat untuk manfaatin orang lain, dll. Sialnya, kepolosan dan kebaikan William malah diperalat oleh Russell dengan cara menunda-nunda terus wawancaranya dengan William. Akibatnya, studi William terganggu, emaknya marah-marah terus, dan editor Rolling Stone nagih artikelnya melulu. Di sisi lain, waktu bersenang-senang William dengan rombongan Russell semakin banyak. Di saat itulah William semakin terekspos dengan dunia bintang rock yang penuh alkohol, narkoba, dan cewek cakep. Tapi hal-hal ini juga ikut membentuk pandangan hidup dan kepribadian William.

Experience vs Story, Showing vs Telling

Instead of telling its audience a story, this film brings the character's experience to the audience. Menurut gue pribadi, pengalaman dan cerita itu beda. Gue kurang bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi bagi gue film yang mengandung cerita itu kayak film-filmnya Nolan, Quentin Tarantino, dan Martin Scorsese. Film yang berisi pengalaman selain film ini adalah In The Mood for Love, 3 hari untuk selamanya, dan Before Sunrise. Film yang merupakan gabungan dari keduanya adalah Chungking Express dan The Breakfast Club. You kinda have the concept what's in my mind right? 

But anyway, beberapa fakta kecil seperti bahwa film ini tidak menggunakan narator atau bahkan breaking the fourth wall ala Ferris Bueller sangat beperan penting dalam memainkan emosi penonton. Menggunakan narator ketiga (masih ada gak sih film model begini?) akan menjauhkan penonton, membuatnya seakan-akan film ini adalah fairytale...which is not. Breaking the fourth wall justru akan mensadarkan penonton bahwa kita menonton film itu dan tidak mengalaminya. Film itu merupakan hasil pertimbangan  dan rekonstruksi si karakter yang memecahkan tembok keempat.

Gak cuma itu, tapi gue merasa film ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling. Teknik ini cukup sulit dilakukan, bahkan Nolan yang hebat sering sekali melakukan kesalahan dengan sering melakukan telling. Kenapa menurut gue film ini lebih banyak menggunakan showing? How long have Penny and Russell known each other? Where is William's father? Who cares, they do not matter. Kalau gue pikir-pikir mungkin agak salah gue bawa-bawa nama Nolan karena genrenya beda, haha.

The music and songs are fucking wonderful

Terima kasih kepada film ini, gue terekspos sama lagu-lagunya Led Zeppelin dan Elton John. Lagu favorit gue dari film ini: The Rain Song - Led Zeppelin, Mona Lisa and Mad Hatters - Elton John dan America - Simon and Garfunkel. 


SPOILER ALERT


Why is it different with other cheesy films?

This film is cheesy, but a very good cheesy. I also think that this is a feel-good film although it has its own blue moments. Gue gak merekomendasikan film ini ke orang yang suka film "berat" atau "filosofis" although who knows, perhaps you will discover something else through this film. Anyway, hal-hal yang membuat Almost Famous sebagai a good cheesy film adalah film ini jarang melebih-lebihkan fakta kehidupan. Sure, Will's mom is quirky, does that mean she's a hippie? Well the joke's on you 'cause she's a professor in a university. William and Russell becomes closer after the tour, does that mean Russell approves Williams' article? You saved someone's life? That doesn't guarantee that someone will come to your house after that. You make friends? Just because you meet wonderful people who make your days wonderful doesn't mean your friendship will last forever. 

And that is life. 

Conclusion

Kekurangan film ini adalah meskipun kental dengan classic rock yang identik dengan pemberontakan dan perlawanan serta era 70an yang diwarnai pergolakan social justice (walaupun mungkin tidak seheboh tahun 60an), film ini tidak menyinggung gerakan feminisme, rasisme, dan perlawanan terhadap homophobia dan transphobia. But if all you wanna do is watching something light, sweet, a bit sourness, and listening to classic rock, then just play this film. 8,7/10 (very good)


Minggu, 25 September 2016

Train to Busan (Busan Haeng)

asianwiki.com

The first Korean zombie film. Kira-kira kalimat itulah yang digunakan untuk mempromosikan Train to Busan di bioskop-bioskop luar Korea. Salah satu film box office dari Korea ini sempat diputar di Cannes Film Festival. Film yang disutradarai Yeon Sang Ho dan ditulis oleh Park Joo Suk ini juga akan mendapat prequel animasi yang juga dibuat oleh sang sutradara berjudul "Seoul Station". 

Kesibukan Seok Woo (Gong Yoo) dalam pekerjaan membuat hubungannya dengan putrinya, Su An (Kim Su An). Merasa bersalah karena tidak membelikan hadiah ulang tahun yang pantas, Seok Woo menuruti keinginan Su An untuk pergi ke Busan mengunjungi ibunya. Perjalanan mereka di KTX mendapat goncangan ketika di zombie mulai muncul di kereta mereka. Seok Woo dan Su An harus bertahan hidup di kereta penuh zombie bersama Sang Hwa (Ma Dong Seok) dan istrinya yang hamil, Sung Kyung (Jung Yu Mi). 


indiewire.com
A zombie film with social commentary

Saya rasa film zombie atau film blockbuster yang mengandung social commentary atau kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru. Namun saya menyukai bagaimana Train to Busan membungkus semua kritik dan observasi sosial secara subtle enough. Film ini juga takes time untuk menunjukkan keberagaman kelas sosial dan background dalam suatu wadah kecil, which is the KTX in this film. Kita bisa melihat bahwa ada tim baseball, sepasang kakak-beradik tua, ayah dan anak, suami-istri, pengusaha, and last but not least, the train crews

Keberagaman kelas dan class privilege dapat terlihat juga. Ada penumpang yang mampu mendapat informasi lebih karena koneksi mereka, sedangkan banyak penumpang yang tidak memiliki akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa class privilege bukan sekedar bonus, tetapi juga menyangkut masalah hidup dan mati. Class privilege juga berarti kata-kata anda mempunyai 'berat' lebih banyak daripada orang yang dibawah anda. Sayangnya, orang yag memiliki class privilege juga hanya mau menyelamatkan diri mereka sendiri dan tidak menggunakan privilege tersebut secara optimal.

Usage of modern technology

Mungkin cara film ini menggambarkan penggunaan teknologi adalah salah satu keistimewaan Train to Busan. Instead of showing cool weapon or research, film ini menunjukkan bagaimana teknologi, specifically communication device, membantu kita dalam mendapat informasi dan menyelamatkan kita dalam propaganda.  Ada salah satu adegan yang brief yang menunjukkan bahwa pemerintah berbohong kepada rakyatnya dengan mengatakan bahwa zombie, yes the zombies, are mere protesters who damage public good. Pemerintah di berita-berita juga mengatakan bahwa mereka tidak harus cemas terhadap keselamatan mereka. 

Untungnya dengan keberadaan internet, ketidakberadaan televisi bukanlah penghalang dalam mendapatkan berita. Tidak hanya berita dalam bentuk tulisan, tapi juga video amatir. Ini mungkin juga yang menyebabkran orang beralih ke internet untuk mendapatkan berita. Ironisnya, meskipun banyak orang yang mengatakan internet lebih rentan terhadap hoax, sumber berita di internet lebih beragam dan membuatnya lebih sulit untuk 'dicuci' oleh pemerintah daripada berita di televisi, yang harus lulus sensor dari pihak pemerintah.

Kurangnya senjata yang keren seperti di film World War Z, ataupun senjata pada umumnya, membuat sisi survival dalam film ini lebih kental dan menegangkan. Bayangkan, sudah terjepit pada ruangan yang sempit, kurangnya stasiun untuk berhenti, tidak ada senjata lagi.


*SPOILER ALERT*

Ego vs Comunnity

Maap ye karena gue kurang pintar, gue gak tahu harus menggunakan kata apa selain community, hehe.

Sama seperti kebanyakan film yang mengandung unsur survival and disaster, film ini terus saja memperdebatkan manakah yang akan menyelamatkan kita, mementingkan diri sendiri atau komunitas. 

Film ini memang tidak mementingkan sisi scientific layaknya tayangan zombie lainnya seperti The Walking Dead atau World War Z. Tidak ada pembicaraan bagaimana virus tersebut muncul (hanya dijelaskan secara ambigu), bagaimana menemukan obat, bagaimana orang bisa tertular, dll. Karena gue orangnya kurang peduli dengan science and medic stuff, gue tidak memandang itu sebagai kekurangan. Gue malah senang karena hal tersebut membuat penontonnya fokus pada kritik sosial dan drama yang ada di film ini. Salah satu hal yang gue kritik dari sisi scientific-nya adalah film ini kurang konsisten dalam menentukan waktu yang dibutuhkan manusia untuk berubah menjadi zombie.   

Seperti yang sudah disebutkan tadi, penyebab munculnya virus memang dijelaskan secara ambigu, tapi penyebab zombie ada dalam kereta sudah jelas. Seorang gadis yang digigit zombie memilih untuk masuk kereta dan menginfeksi orang-orang lain. Seandainya si gadis menerima takdirnya dan tidak menaiki kereta, orang-orang yang dalam perjalanan ke Busan mungkin akan mempunyai takdir yang berbeda.

From this, it can be concluded that while being egalitarian doesn't always benefit us, selfishness is the root of problem.

Sexism

Gue kira setelah maraknya tokoh-tokoh wanita yang kuat seperti Furiosa, Black Widow, dan Michonne, kru Train to Busan mungkin akan sadar menambahkan satu karakter wanita yang kuat akan membuat film ini lebih appealing. Saya hanya bisa menahan kesedihan ketika film selesai dan tidak ada female heroine. Mending sekedar tidak ada female heroine, tapi ada kesetimbangan antara bagaimana tokoh-tokoh pria mati di film ini dengan tokoh wanitanya. Tokoh utama yang pria (setidaknya yang protagonis) mati karena mereka sedang berkorban. Tidak ada yang mati karena sedang lengah atau ceroboh. Tokoh yang wanitanya? Cuih, mereka mati karena sedang lengah, ceroboh, dan ada yang mati karena kebodohan. Tidak ada tokoh wanita yang mati karena sedang berkoban. Wanita yang selamat hanya seorang wanita hamil yang cantik dan seorang gadis kecil. Wanita tua dan wanita yang mengenakan rok pendek tidak selamat. Hal ini mengimplikasikan bahwa wanita-wanita tersebut bisa selamat karena umur, kepolosan, dan kemampuan mereka untuk punya anak. I'm just kinda pissed off that the writer is a fucking coward for not killing the pregnant character and the kid. If they were the ones who got killed, the film would be more interesting. 

Other stuff

Setelah membaca salah satu review, gue jadi sadar bahwa tokohnya Gong Yoo bukanlah tokoh tipikal dari film-film zombie. Dia bukanlah Rick Grimer yang punya natural leadership dan tokoh yang masih punya moral dibandingkan let's say Shane. Dia juga bukan Brad Pitt yang punya hubungan baik dengan keluarganya, ataupun akan sukarela menyuntik dirinya dengan penyakit. Instead, he's a selfish bastard who will do anything to ensure the safety of his daughter and him. Yang bagusnya, semua itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kecil, bukan dengan menipu salah satu penumpang misalnya. 

Antagonis di film ini adalah salah satu pria yang boleh dibilang influential dan punya class privilege. Pria tersebut tidak hanya ignorant, tapi juga outright a more evil bastard than Gong Yoo's character. Sama seperti seorang reviewer yang mengatakan bahwa Lotso dari Toy Story 3 merupakan Woody yang jahat, pria ini boleh dibilang juga versi jahatnya Gong Yoo. Tapi sama seperti Woody yang masih punya sahabatnya, Gong Yoo disini masih punya anaknya. 

Aktor-aktornya cukup bagus kok. Kudos for Gong Yoo for having a great comeback. Tapi tokoh yang paling menarik adalah tokohnya si Ma Dong Seok, kocak aja lihat dia anjir, haha. Apakah gue doang yang kurang suka sama aktor ciliknya? Lumayan bagus sih, tapi karena gue udah lihat yang lebih hebat jadi katingnya Kim Su An kurang memberikan impact bagi gue. I can see why Sohee's (ex-member of Wonder Girls) gives mixed reaction though, but it's very clear I prefer Choi Wook Shik to her.

Conclusion

Inilah yang akan terjadi jika lo mencampur makjang (melodrama Korea) dengan Snowpiercer dan The Walking Dead. Penggunaan kereta dan kurangnya space menyebabkan film ini mempunyai nilai plus lebih dibandingkan film zombie lainnya. Sayangnya film ini kekurangan gore dan mempunyai terlalu banyak melowness yang akan membuat beberapa orang get turned off. Also, this 2016 film fails to escape from sexism. 7/10 (good)

P.S: Considering Bong Joon Ho directed both The Host (a monster Korean film) and Snowpiercer, AND, his film is not sappy and has great black humor, I would love to see his version of this film.


Kamis, 22 September 2016

Thursday Movie Picks: Teen Angst


Howdy, readers! It's been a damn long time since I release Thursday Movie Picks. Hello for my old usual readers and welcome to new readers! Thursday Movie Picks is a weekly three-film recommendation from certain. This meme is hosted by Wandering Through the Shelves.   If you want to know more, please visit this link.

What is one of the first thing we think about teenagers? That's right: angst. Angst because you are seen too emotional, too young but too old, too ignorant and too idealist at the same time. As a teenager myself, I think it's funny that so many adults think that teenagers are ignorant, party-obsessed, and lustful, while I witness my friends having debates - both logical and passionate - and being critical, being bullied. Teenagers are as complex as adults, both the people and the world, but since so many people forget about the, boom, an angst is born.

1. Thread of Lies (Lee Han, 2014)

tumblr.com

A mother and a daughter have to face a bitter reality after their daughter and younger sister left them by suicide. The older sister stars to investigate what kind of life her younger sister lives by meeting her young sister's "friends".

I don't know what to say about this film. I think I have to rewatch this again because I even confused by my own opinion about this film. I think the family drama in this film is pretty good, but it makes the bullying sub-plot less solid. There are some scenes I would like to cut.

But I like how so many aspects of bullying are present in this film. Like, how sometimes people do not realize that they actually hurt someone, how bully victims sometimes do not see themselves as a bully victim and try to normalize what happen to them, the "gray" people who neither help the bully victim nor support the bully, etc.

2. Tag (Sion Sono, 2015)

filmschoolrejects.com

Mitsuko (Reina Triendl) is a timid schoolgirl who likes to write poem. One day, she has to face something powerful and fearful as all of her friends are killed in a blink. As she survives the tag, she finds herself a new identity and new friends.

THIS FILM HAS ONE OF THE BEST OPENING SCENE I EVER WATCH. By the way, this is also the first Sion Sono's film I watched, so please forgive my ignorance, LOL. 

I can't really tell you why I pick this gory film in "Teen Angst" week because it will ruin all the fun, LOL.

P.S: It's also because I don't really the message of the film. I understand the message after I read some of its reviews.

3. The Perks of Being a Wallflower (Stephen Chbosky, 2012)

emilykazakh.wordpress.com
Ah yes, the ultimate modern, typica, teenage angst film.

Charlie (Logan Lerman) is an introverted freshman who likes to write. His life is changed forever after he meets Sam (Emma Watson) and Patrick (Ezra Miller).

I guess one of the thing I like about Perks is that it brings something new other than typical everyday-teenage-angst. It also talks about homophobia and mental illness, something that classics like The Breakfast Club and Rebel Without a Cause have done. I'm not saying that Perks is the pioneer of that because I bet earlier underground films had done that before this film. Also, the novel is a lot darker than the film, which is a sad thing. I love the soundtrack though.

Rabu, 21 September 2016

Comrades: Almost a Love Story


hancinema.net
Sekitar seminggu yang lalu, gue datang ke pemutaran film yang diadakan oleh Jakarta Cinema Club (JACk) di Paviliun 28. Gue datang kesitu karena gue tertarik dengan tema yang diadakan bulan ini, yaitu Hong Kong Second Wave. Karena pengetahuan gue tentang hal terebut masih kecil, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa Hong Kong Second Wave didominasi oleh Wong Kar Wai, sedangkan dari segi aktor didominasi oleh Maggie Cheung dan Tony Leung. Gaya cerita dan filmnya pun beda dari Hong Kong First Wave, dimana First Wave lebih mengutamakan style ketimbang substance, Second Wave lebih banyak eksperimen dan ceritanya lebih relate ke kehidupan nyata. Kalau dari First Wave, film paling terkenalnya mungkin A Better Tomorrow karya John Woo, gue gak tahu Police Story itu film Cina atau film Hong Kong. Anyway, karena gue gak mau kelihatan bego di diskusi film tersebut, gue memutuskan untuk nonton film Hong Kong Second Wave yang bukan dibuat oleh WKW. Tadinya gue bingung antara Rouge sama nih film, tapi nih film ada Maggie Cheung, hehe.

Jun (Leon Lai) merupakan pria desa sederhana dari Wushi, Cina, yang pergi ke Hong Kong untuk mengadu nasibnya. Meskipun ia harus segera bekerja keras di sebuah tempat asing yang orang-orangnya keras dan cepat, ia tidak lupa untuk tetap berhubungan dengan kekasihnya di desa. Suatu hari, ia memutuskan untuk makan siang di McDonalds karena di desanya tidak ada restoran cepat saji. Disana ia bertemu dengan Qiao Li (Maggie Cheung), seseorang yang dapat mengerti bahasa yang Jun gunakan selain bibinya. Mereka bertambah dekat sejak Qiao Li mengantarkannya ke sebuah tempat les bahasa Inggris dan memberikannya pekerjaan part-time. Sejak Qiao Li mengaku bahwa ia juga berasal dari Cina, mereka bisa berbagi rasa rindu terhadap rumah dengan lega.



A relateable cliche romantic film

Salah satu alasan gue untuk tidak langsung menonton film ini meskipun udah download lama adalah gue takut film ini cuma film romance klise sampah. Fortunately, Comrades: Almost a Love Story punya nilai lebih.

Film yang disutradarai oleh Peter Chan dan ditulis oleh Ivy Ho agak mengingatkan gue pada film AADC yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Dua film ini memang klise, tapi mereka sangat memperhatikan detail dalam pembangunan realita dan dunia tokoh-tokohnya, terutama dalam bagian latar tempat dan pop culture yang sedang tren, bahkan secuil politik. Apa yang gue maksud dalam "pembangunan realita"? Contohnya, dari film ini gue bisa belajar lagu-lagu Teresa Teng yang terkenal yang mana saja dan bagaimana kematiannya membawa impact oleh orang-orang Cina, terutama orang Cina diluar mainland. That's what makes those films as timeless for some people, because we can look back at them and relate to the place and the trend. 

Karena gue belum belajar sejarah Hong Kong dan Cina, gue tidak bisa komentar mengenai unsur politik Hong Kong-Cina yang ada di film ini, atau membenarkan bahwa banyak orang Cina yang berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 90an. For your information, this film was banned in China until 2015. Untungnya, hal tersebut tidak menghentikan gue untuk bisa relate kepada situasi yang dihadapi oleh Jun dan Qiao Li. Gue bisa relate suatu perasaan campur aduk dimana gue excited untuk mengeksplorasi suatu tempat yang jauh dari rumah gue tapi ada saja sesuatu yang mengingatkan gue pada rumah dan membuat gue homesick. Anyway, lucu juga sih gue baru nonton film ini setelah gue kuliah di luar Jakarta, my hometown. Seandainya gue nonton nih film pas SMA, mungkin gue kurang bisa relate ke film ini, haha.

Selain unsur homesickness, gue suka bagaimana paruh pertama film ini melukiskan kehidupan kelas pekerja yang boleh dibilang tidak terlalu miskin. Kalau mereka terlalu miskin, yang ada nih film bakalan jadi telenovela atau sinetron dah. In my opinion, lukisan tersebut cukup sederhana dan hanya mengandung sedikit unsur dramatisasi. Tidak ada adegan orang kaya yang menghardik pelayan, pelayan disiram air minum, dll. Bagian favorit gue adalah ketika Qiao Li dan Jun berusaha untuk menjual sesuatu namun dagangan mereka tidak laku. Jujur, gue cukup terkejut film ini menunjukkan kegagalan di awal film dan tanpa unsur dramatisasi. Yes, failure sucks and sometimes we think it's the end of our world, but in the end, some of us live our life and move on from our failure. Maksud gue, terlalu banyak film yang menggunakan failure sebagai suatu turning point atau suatu akhir, walaupun sebenarnya experiencing failure is normal and most often we move on from it. Bagian tersebut tidak hanya mengajarkan kegagalan sebagai sesuatu yang normal, tapi kegagalan juga bisa terjadi di saat kita sedang sangat optimis.



Unfortunately, the films is ruined by its second half

Sayang sekali film ini ada "tapi".

Gue percaya Comrades: Almost a Love Story akan berakhir indah, gue akan puas, dan gue akan langsung memberitahukan dunia stop watching Wong Kar Wai and just watch this film instead. Well, folks, reality doesn't work that way.

Setelah disuguhi oleh pembangunan realita dan chemistry yang sangat apik, sepertinya Peter Chan dan Ivy Ho kehabisan trik dari tas mereka. Basically, the second half of the movie is fueled by endless drama. Bukan drama macam Happy Together atau There Will be Blood, tapi drama yang sekelas sama sinetron dan telenovela. Just name a cliche trope and I bet you it will appear in the second half. Masih mending drama ini juga diikuti oleh penyisipan pop culture yang solid seperti di paruh pertama, tapi sayangnya Chan dan Ho sudah peduli setan dengan hal tersebut dan berusaha untuk mengisi sisa durasi dengan terburu-buru.


*SPOILER*










Gue rasa akhirnya sangat tidak realistis karena Qiao dan Jun punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi mereka selalu dihalangi sesuatu. Like, I just pissed off that they never get to see each other for petty things, then suddenly the just see each other by chance? What a bullshit. It doesn't even have a sense of ambiguity like the end of Norwegian Wood (novel). No, it's just straight up a shitty and cliche happy ending.

Edited: Tapi setelah gue pikir-pikir, gue juga suka ending klise kayak gitu. Makes my heart giddy.

*SPOILER ENDS*









A beautiful love song to Teresa Teng

Salah satu hal yang harus diapresiasi adalah bagaimana Teresa Teng menjadi sub-substance Comrades tanpa menganggu keseimbangan film ini. This film celebrates Teresa Teng's magnificent career without turning it into a mini-documentary of her. Gue juga jadi suka dengerin lagu-lagu Teresa Teng yang muncul di film ini, haha.

Kalau masih ada yang bingung apa gunanya seni dan seniman, kalian harus nonton film ini. Film ini dengan pintar memperlihatkan bahwa seni pop, walaupun dangkal, bisa menjadi penyatu manusia dan memberikan sense of home bagi orang yang berada jauh dari rumah, terutama di tempat yang bahasanya beda dengan bahasa utama kita. Kebahagiaan terkadang bisa dicapai hanya mendengar lagu yang menggunakan our native language. 

By the way, two thumbs up for Leon Lai dan Maggie Cheung. Akting mereka tidak hanya bagus sebagai individu, tapi sebagai pasangan mereka punya chemistry yang solid.

Conclusion

Jangan berekspektasi sebuah sajian yang modern dan eksperimental bak Chungking Express dkk. Namun jangan langsung mencap film ini sama dengan film romantis cengeng lainnya. Hint: kalau lo suka Sleepless in Seattle dan melihat kehidupan kelas pekerja, then this film is for you! 8/10 (very good)



Senin, 19 September 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I

pic credit: movie.co.id

Setelah satu tahun lebih gak ngeblog, gue jadi kagok di depan laptop. Hai pembaca (?) yang sudah lama gak gue temui! Satu tahun terakhir ini gue sibuk dengan urusan sekolah, terutama Try Out, Ujian praktek, UN, SBMPTN, dan persiapan buat pindah ke kosan karena gue gak di Jakarta lagi. Untungnya gue dapet PTN (Perguruan Tinggi Negeri) walaupun UGM maupun UI. But considering that some of my smarter friends or friends of my friends fail to make it, I'm very thankful with what I have right now. 

Sekian dari gue, sekarang kita bahas dikit filmnya. Bagi mereka yang doyan nonton film jadul ataupun mantengin TV sebelum tidur siang pas tahun 2000an, pasti udah familiar dengan DKI alias Dono Kasino Indro. Gue sendiri tahu trio komedi tersebut dari hobi nonton TV sebelum tidur siang, hehe. Sedikit melenceng, I think this last few years (so far) have been good to Indonesia's film industry. Tahun 2015 ada A Copy of Mind karya Joko Anwar yang masih diputar di beberapa bioskop kecil saat ini. Tahun 2016 ada Ada Apa Dengan Cinta? 2, which sadly falls below my expectation that is already average, dan My Stupid Boss, yang sangat melebihi ekspektasi gue and frankly is better than AADC2. Jangan lupa beberapa film pendek Indonesia yang berhasil masuk berbagai festival bergengsi. Yang gue ingat adalah Prenjak, karya Wregas Bhanuteja. Tahun 2014 juga ada Siti. Sayangnya gue belum sempat nonton Srikandi 3. Jadi, apakah Warkop DKI Reborn berhasil menjaga momentum bangunnya industri film Indonesia?

Dono (Abimanya Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bekerja di sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Sayangnya, kekonyolan mereka malah menimbulkan masalah daripada menanggulanginya. Suatu hari, mereka terkenal masalah sehingga mereka didenda sebanyak delapan miliar. Dibantu rekan perempuan mereka, Sophie, mereka pergi ke suatu tempat untuk mencari uang tersebut. 



Not gonna lie, I laugh at some of the scenes...some more than it should, lol.

Apakah berarti filmnya lucu? Nope, semua leluconnya gak ada yang nendang ataupun memorable. Belum lagi banyak dari kelakarnya yang immature dan so-last-year. Hampir gak ada lelucon yang menstimulasi otak kayak film-filmnya Woody Allen ataupun acaranya Jon Stewart. Harus gue apresiasi Indro yang asli mencoba mencampurkan politik ke dalam kelakarnya bak Jon Stewart. Sayangnya, dia hanya mengimitasi dari luarnya saja, tidak sampai ke intisarinya The Daily Show. Next time you want to create a skit as a sassy news reporter, just call Jon Stewart himself instead of make a fail copy of him. 

Meskipun gue pernah nonton beberapa film Warkop DKI, gue benar-benar blank dengan filmnya. Jadi gue gak bisa menilai seberapa banyak homage yang film ini lakukan atau apakah film ini lebih baik, or at least succesful at capturing the atmosphere and the spirit of the original film. Anyway, kenapa film-film Warkop DKI udah jarang diputar ya? Apakah itu karena gue udah jarang nonton film lokal atau mereka emang udah berhenti muterin film? Makanya saluran TV lokal di Indo, plis puterin film-film Indonesia yang bagus dan berkualitas. Jangan cuma muterin Warkop DKI, tapi puterin juga masterpiece kayak Daun di Atas Bantal, A Copy of my Mind, Petualangan Sherina (nih film dulu sering diputar kalau liburan sekolah, haha #nostalgia), bahkan film dokumenternya Munir. Buat Metro, lanjutin dong programnya Sunday Night Movies nya. Cuma lu yang berani muterin film berat kayak Eternal Sunshine of the Spotless Mind (sumpah, nih film sempet diputar di Metro TV). 

By the way, humor nih film bukan hanya jelek, tapi mengandung unsur-unsur bermasalah seperti seksisme, objektifikasi wanita, dan colorism. Tokoh Sophie diperlakukan sebagai eye candy bagi tokoh-tokoh laki-lakinya doang. Belum lagi dia tipe eye candy yang ditzy dan oblivious dengan lingkungan sekitarnya. Dia sempat dilukiskan sebagai wanita yang pandai dan capable tapi seiring berjalannya film, gue malah merasa kedua kualitas tersebut menguap dari dia. Beberapa petugas wanita CHIPS juga menggunakan pakaian yang obviously lebih ketat dan pendek dibandingkan petugas laki-laki. Kesannya mereka di CHIPS buat jadi model baju ketat instead of jadi petugas CHIPS. 

Ada juga salah satu tokoh pembantu (atau karakter yang numpang lewat doang?) yang seluruh tubuhnya sengaja banget dibikin hitam, hitamnya bahkan menurut gue berlebihan. And surprise, surprise...they make a joke based on the person's dark skin! Memang ya kulit hitam tuh tipe kulit yang pantas buat jadi bahan lelucon. Maksud gue, gak ada yang lucu kan dari kulit putih? Kulit putih tuh kulit yang bagus, saking bagusnya sering dikaitkan sama penjajahan orang kulit hitam dan genocida orang Native American. 

Untuk divisi akting, kenapa sih mereka mesti menggunakan Vino G Bastian. Jujur, sejak Reza Rahadian berhasil akting sebagai Bossman di film My Stupid Boss, gue langsung percaya kalau Vino Bastian akan memberikan kejutan baik kepada gue. Ternyata...yang ada hanya kekecewaan. Gak cuma dari segi ekspresi wajah, denger dia ngomong dengan aksen Jawa yang dibuat-buat dan kurang natural cukup menyiksa gue. Tora Sudiro terbagus kedua, walaupun bagus disini bukan bagus yang wow. Mungkin karena Tora sempat di Extravaganza dan gak asing dalam komedi, Tora membawakan karakternya lebih langgeng daripada Vino. Aktor terbaik adalah Abimana Aryasatya...walaupun lu juga jangan berpikir terbaik dalam konteks dia pantas menang piala apapun. 

Yang pengen gue applause disini adalah divisi make-up dan kostum yang ngurusin bagiannya Abimana Aryasatya. Bagus, and that's the only good thing from this film. 

Overall

The gag reel is a lot funnier than the whole movie. 2,5/10 (trash)





Selasa, 13 September 2016

The Sunshine Blogger Awards 2016

A scene from Ferris Bueller's Day Off that never fails to make my day brighter. Credits to Huffington Post.

Howdy readers! Can't believe it's more than one year since the last time I updated this blog! Ah, my poor, poor blog. Sorry for abandoning you baby, I've been so busy and mager lately.

Gue gak percaya gue mati data Sunshine Blogger Awards anjir! Thank you very much Erlita from It Caught My Eyes!

Here are some rules to follow if you want to take a part in this award:


  • Post the award in your blog
  • Thank the person who nominated you
  • Answer their 11 questions
  • Choose another 11 bloggers (and let them know about this nomination)
  • Give them 11 questions
Now, I'm going to answer eleven questions from It Caught My Eyes!

1. Pitch a crossover movie using existing characters from a medium of your choosing (movies, comic books, or novels).

I want a crossover where Gandalf (LOtR)is actually a very far relative of Dumbledore (Harry Potter series) and when Dumbledore uses the time turner, he meets Gandalf (X-Men series) and they go to an adventure where they meet Gandalf's evil twin from another universe, who is actually Magneto. Gandalf and Dumbledore will help Magneto in repairing the latter's relationship with Professor X (X-Men series). Once Professor X and Magneto unites, Gandalf gets glimpses of his soulmate who is also in another universe, who turns out to be Captain Jean Luc-Picard (Star Trek: The Next Generation). But since their world is too different, they can not unite like Magneto and Professor X.

2. Name one unpopular opinion about Star Wars.

Not a big fan of any of its movies so far, I only like the characters. I don't know, I find Star Wars' films as boring and too old-fashioned for my taste. But like I said, I dig the characters and the scores.

3. It’s 2 am, you can’t sleep and you’re home alone. What movie would you watch?

Either a safe critically-acclaimed movie or a very pretentious arthouse that would make me look more sophisticated, haha. I just watched a movie by Chantal Akerman last night and fifteen minutes felt like more than an hour to me.

4. Some people have a song they’d rather not listen again because it hurts too much. What’s yours?

I don't think there is a song that hurts me that bad. But I usually skip Damien Rice's The Blower's Daughter and Big Bang's If You (yes, Big Bang, the same group that sings Fantastic Baby) because they are too sad for me.

5. Change the ending of a movie, and make a character ends up with someone else.

I would pair Draco Malfoy with Hermione Granger. Dramione shipper until forever!11!

Oh, I would also make the ending of Comrades: Almost a Love Story less cliche and make it more ambiguous like Murakami's Norwegian Wood.

6. What concert you would kill to watch?

From recent musicians, I would kill to watch BTS, a Kpop group. If there was a time machine, I would definitely kill anyone to watch The Beatles, Queen, and David Bowie and Annie Lennox's Under Pressure live.

7. BBC series time, Doctor Who or Sherlock?

I haven't watched any of Doctor Who's episode, so Sherlock for me. David Tennant is a hottie tho.

8. What’s your all time favorite music video?

The only thing in my mind right now is MINO - BODY. Watch it once and you will get pregnant soon. I also like Big Bang - Let's Not Fall In Love and Rap Monster - Do You. Oh, and Winner - Sentimental because it makes me falling in love with Winner. SHINee - Married to the Music is a great homage to Rocky Horror Picture Show, and f(x) - 4 Walls is very aesthetic.

Okay I should shut up because the answer can turn into a list of my favorite kpop music videos, LOL.

9. If you could direct a movie, who would you choose to pen the script: Neil Gaiman or Alan Moore?

Neither. I'm not familiar with their style, and I want the characters and cast in my family as diverse as possible.

10. Pick an existing movie, and re-cast the main characters… with Indonesian actors and actresses.

Since I'm a lazy potato...I'm going to answer the 2005 version of Pride and Prejudice. 

Elizabeth Bennet > Keira Knightley > Dian Sastrowardoyo
Mr. Darcy > Matthew MacFadyen > Nicholas Saputra
Jane Bennet > Rosamund Pike > Ladya Cheryl
Charles Bingley > Simon Woods > Samuel Rizal?
Mr. Bennet > Donald Sutherland > Roy Marthen
Mrs. Bennet > Brenda Blethyn > Meriam Belina
Mr. Collins > Tom Hollander > Dennis Adhiswara (too young huh?)
Lady Catherine > Judi Dench > Christine Hakim...I seriously can't think any Indonesian actress who would fit Lady Catherine's role other than her.

I actually thought long how Ada Apa Dengan Cinta is kinda like Pride and Prejudice, but the social class difference is swapped between Rangga and Cinta, and the who is Mr. Darcy and who is Elizabeth between Rangga and Cinta was kinda blurred in the film. Moreover, Cinta had four friends while Elizabeth had four sisters.

11. What song you would play at your own funeral?

Ennio Morricone's masterpiece, which is the main theme of John Carpenter's The Thing.

Now, eleven questions from me!

1. What non-romantic song would you play at your wedding?
2. Which Indonesian musician whose life would you create as a base of a film?
3. Which country has the best wave i.e Hong Kong second wave, French New Wave, etc.
4. Name three films you would recommend to a rookie in indie and classic films.
5. What non-horror film you would remake as a horror film?
6. Which classic western novel you would make as an Indonesian film?
7. Which classic Indonesian novel you would remake as a non-Indonesian film?
8. Which film defines love for you? (it can be any kind of love, including non-romantic one)
9. Is there a film that makes you crying out of happiness or gratefulness?
10. If you can edit a scene from any movie, what song would you put into the scene?
11. The best YA (young adult) movie series?

These are the blogs I nominate for this award:

4. Cinejour
5-11 You can partake this award as long as you thank me in your post :)

Kamis, 20 Agustus 2015

Thursday Movie Picks: Asian Language Movies set in East Asia (Non-Horror)


Hello, folks! Welcome back to Thursday Movie Picks where we recommend you the lamest films. Thursday Movie Picks is a weekly film recommendation from a certain theme. It's hosted by Wandering Through the Shelves. Today's theme is.........................Asian Language Movies set in East Asia.

WHAT?! I THOUGHT ASIA IS JUST...ASIA. I thought Asia is this one big country where everybody looks the same. Oh, nevermind my blabber. So, I've researched a bit for this theme. Turns out, East Asia is a place where people looks so Asian. 

Kung Fu Hustle (Stephen Chow, 2004) --> Hong Kong


This film ruined my relationship with my bed when I was in primary school. I ignored my bed so I could continue to watch Stephen Chow's action in television. Even before the film finished, I had decided that Kung Fu Hustle is my favorite film.  

I know that Kung Fu Hustle is cheesy and exaggerating CGI, but this film still makes me laughing out loud, for Kung Fu's sake. I love how it's a bit more bleak than the usual comedy films. I love all the characters, from the lady whose lipstick got smeared to the psychopath kung fu master.

All the good things aside, I don't like how Kung Fu Hustle tells you that you can't be a hero unless you're the one or have some sort of power.

Letters from Iwo Jima (Clint Eastwood, 2006) --> Japan



I'm not sure with this week's criteria, but I'm sure it's Asian language, not Asian director or something.  

I don't know which one is more depressing. Seeing a pair of siblings dying slowly or seeing innocent men were forced to be in war they didn't want. I know Japan is one of the bad guys in World War II, but it still clenches my heart to know that there are thousands of people suffered in Japan, too. But it doesn't erase Japan's sin as a country in the past, for me at least. 

The most depressing scene is where the soldiers listen to children's singing through the radio. Some of them crying. Perhaps they know they won't make it, or they're reminded by their own children.

Kudos for Clint Eastwood because he didn't make the Japanese people as gibberish enemy and talking in actual Japanese. He didn't do this film like Scorsese did to Hugo. It's also a shame that Letters from Iwo Jima is an underrated film.

Memories of Murder (Bong Joon Ho, 2003) --> South Korea


If you love True Detective, you should give Bong Joon Ho's 2003 brilliant masterpiece a look. I think the two detectives from MoM are a mix from Rust and Martin Hart. The main detective has Rust's quirkiness and Marty's easygoing and unquestioning nature. While the detective from town doesn't like to break the rule, but he doesn't talk much (it's debatable), critical, and detail-oriented like Rust.   

Fyi, this film is based on true story. 

Honorable mentions: 
Battle Royale (I don't see it as a horror)
Happy Together
Sympathy for Mr. Vengeance
Akira
The Chaser