Rabu, 05 November 2014

In the mood for love

filmaffinity.com
In the mood for love merupakan bagian kedua dari trilogi informal Wong Kar Wai dan juga karya yang paling terkenal dari sang sutradara.  Film ini memenangkan berbagai penghargaan, bahkan sampai dinominasikan Palme D'Or, yang notabene salah satu penghargaan film bergengsi.  Meskipun film ini tidak mendapat Palme D'Or, Tony Leung berhasil mendapat penghargaan Best Actor di Cannes Film Festival.  Film berdurasi 98 menit ini mengajak penonton untuk melihat kehidupan baru Li-zhen dari Days of Being Wild.

Li-zhen (Maggie Cheung) pindah ke sebuah apartemen di hari yang sama dengan Chow Mo-wan (Tony Leung).  Suami Li-zhen sering pergi ke luar negeri sedangkan istri Mo-wan sering lembur.  Meskipun pemilik kedua apartemen sering bermain mahjong bersama, baik Li-zhen dan Mo-wan lebih menyukai untuk sendiri saja.  Li-zhen dan Mo-wan sering makan malam di tempat yang sama, namun mereka biasanya hanya saling menyapa.  Lama-kelamaan, keduanya berinteraksi dan sering bertemu.  Dalam salah satu pertemuan mereka, mereka membahas kecurigaan bahwa suami-istri mereka saling berselingkuh.

SPOILER ALERT!

screenmusings.org

The Affair
 Biasanya dalam film-film perselingkuhan, penonton akan melihat adegan-adegan hot, dilema pada orang-orang yang berselingkuh, dan 'the helplessly-betrayed people'.  Biasanya orang-orang yang dikhianati dtampilkan sebagai orang yang plain, datar, membosankan, mainstream, dll.  Mereka juga korban yang tak bisa mengontrol keinginan dan perasaan pasangan mereka.  Tapi Li-Zhen dan Mo-Wan bukanlah korban.  Mereka 'membrontak' in their own ways.  Mereka tidak mengikuti ekspektasi orang.  Alias, mereka tidak membalas pasangan mereka dengan ikut berselingkuh.  Li-Zhen dan Mo-Wan justru membalas dengan berpegang teguh dengan moral dan etika yang mereka punya.  Meskipun Li-Zhen dan Mo-Wan jarang mengekspresikan rasa sakit dan iri hati, mereka menyalurkan perasaan negatif itu dengan trying hard to not stoop as low as each of their spouses.  Dengan melakukan hal itu, mereka seolah-olah meyakinkan diri mereka bahwa mereka masih punya moral dan etika.  

Namun seperti manusia biasa, toh mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari godaan.  Ada kalanya mereka jatuh kepada godaan itu, entah sadar ataupun tidak.  Ketika mereka sadar, mereka akan menarik diri mereka, terutama Li-Zhen.  Tapi ada kalanya mereka benar-benar tidak bisa menahan godaan itu sehingga mereka mencari-cari suatu dalil.  Mereka meyakinkan diri mereka bahwa tidak apa-apa mereka bertemu di malam hari secara sembunyi-sembunyi karena mereka kesepian.  Tidak apa-apa mereka bertemu di suatu hotel karena mereka mendiskusikan sesuatu.  Itu yang membuat gue mempertanyakan sesuatu: apa yang membuat suatu perbuatan dikatakan perselingkuhan?  Agak lucu bagaimana Li-Zhen dan Mo-Wan pergi ke hotel tapi mereka tidak melakukan apa-apa kecuali berdiskusi.  Walaupun mereka tidak melakukan hal intim, apakah mereka sudah bisa dikatakan berselingkuh? 

Some things that I don't understand

Gue bertanya-tanya apa yang didapatkan Li-Zhen dan Mo-Wan dari 'pemberontakan' mereka.  Li-Zhen dan Mo-Wan tidak terlihat bahagia dan puas bagi gue.  Mereka tidak memenangkan apa-apa dari 'pemberontakan' mereka.  Toh pasangan mereka kurang-lebih tidak peduli dengan mereka.  Jikalau mereka 'menang', apa yang bisa mereka rayakan jika tetangga dan teman mereka tidak mengerti perjuangan mereka untuk menjadi orang baik?  Memang jika Li-Zhen dan Mo-Wan mengambil resiko lebih tinggi pada affair mereka, ada kemungkinan besar mereka akan digosipkan - bahkan dijauhi - oleh masyarakat.  Di sisi lain, masyarakat tidak peduli dan kurang tertarik pada orang-orang 'baik'.  I think it's like a double-edged sword.  When you're bad, people talk shits about you.  When you're good, people just don't care.   

knockedover.wordpress.com

Gue juga bertanya-tanya apakah benar-benar ada cinta di antara Li-Zhen dan Mo-Wan atau tidak.  Mereka tidak pernah benar-benar passionate atau into each other ketika bersama.  Memang orang yang jatuh cinta tidak harus benar-benar terlihat sedang jatuh cinta.  Tapi agak susah melihat cinta yang ditunjukan secara subtle.  Mereka lebih terlihat seperti orang asing yang kesepian dan memiliki beberapa hal yang sama.  There's a bond or some fondness, but I'm not sure whether it's romantic or not.  

Angkor Wat    

Selain adegan 'latihan' Li-Zhen dan Mo-Wan, adegan kesukaan gue yang lain adalah adegan di Angkor Wat.  Adegan itu terasa emosional dan indah bagi gue.  Words just can't describe what I think and feel for that scene.  Mungkin karena gue mengerti bagaimana rasanya punya rahasia yang ingin sekali lo ceritakan, tapi lo juga takut reaksi orang terhadap rahasia itu.  Tapi tetap aja lo ingin menceritakan rahasia lo.  Adegan di Angkor Wat cukup berhasil mengekspresikan perasaan itu.  Angkor Wat sendiri merupakan tempat yang indah, apalagi ditemani sinematografi dan musik yang cakep.  Seriously, words can't describe this scene (in my opinion). 

Other stuffs

Sesuai dengan judul filmnya, Wong Kar Wai berusaha untuk mendorong penonton untuk terhanyut dalam situasi dan nuansa yang romantis dan melankolis dalam In the mood for love.  Longing gaze antara Leung dan Cheung merupakan unsur utama dalam pembangunan situasi-situasi tersebut.  Warna-warna yang digunakan juga cocok sekali untuk membangun mood romantis.  Film ini lebih kuat dalam hal visual daripada dialog and I usually really hate those kind of films. Lagu-lagu yang digunakan juga bagus-bagus banget dan ikut membangun mood dan emosi.  Gue baru tahu kalau lagu Bengawan Solo dinyanyikan dengan bermacam-macam bahasa, termasuk cantonese.  Selain Bengawan Solo, banyak lagu-lagu traditional pop lainnya.  Anyway, two thumbs up for the clothes designer!  Baju-bajunya Li-Zhen modis banget dan cocok dengan figur tubuhnya Maggie Cheung!

Overall

In the mood for love bukanlah tipikal film perselingkuhan.  Film ini justru menunjukkan betapa berat dan susahnya untuk memegang etika dan etiket yang ada dengan teguh.  Kadang-kadang kita tidak mendapatkan apa-apa atas perjuangan yang kita alami.  Wong Kar Wai tidak memberikan banyak dialog di film ini, namun sinematografi dan musik yang ada bisa menggantikan kekurangan dialog tersebut.  Tapi karena kurangnya dialog dan konflik, beberapa orang mungkin akan menganggap film ini membosankan.  I'm not into this kind of arthouse, but In the mood for love is good enough for me. 8,5/10

Selasa, 21 Oktober 2014

Brooklyn Castle


Brooklyn Castle merupakan film dokumentasi 2012 yang disutradarai oleh Katie Dellamagiore.  Film dokumenter ini memperlihatkan kehidupan lima pemain catur dari I.S. 318 (SMP 318) dari Brooklyn, New York.  Film ini memperlihatkan bagaimana catur mempengaruhi sekelompok anak muda yang baru mencapai usia remaja. 

Catur merupakan olahraga yang kurang populer dibandingkan basket dan sepak bola.  Apalagi klub catur boleh dibilang klub buangan yang berisi geek dan nerds.  Dalam kasta sekolah pun, boleh dibilang pemain catur masuk dalam golongan paria.  Lucunya, ada sebuah SMP di Brooklyn dimana klub catur merupakan salah satu klub yang paling terkenal dan pemain catur diperlakukan layaknya atlet-atlet populer.  Anak-anak klub catur sering sekali ikut championship dan SMP mereka langganan piala catur.  Namun terjadi kendala ketika sekolah mereka mengalami pemotongan dana.  


Di tengah-tengah film, gue bingung karena tadinya gue kira film ini bercerita tentang ekstrakurikuler catur di IS 318.  Tapi filmnya malah melebar jadi budget sekolah dan masalah-masalah hidup lima anak ini.  Akhirnya gue ngerti kalau film ini bercerita tentang perjuangan sebuah sekolah yang budget-nya dipotong dan kehidupan anak-anak di IS 318.  Tapi pencampuran kedua topik itu dilakukan secara kasar.  Misalkan lo pengen mencampur warna biru dan merah.  Harusnya yang keluar itu ungu, tapi hasilnya tetap biru dan merah.  Selain itu, pemotongan budget yang terjadi di film ini sempat membuat gue kesel sendiri karena gue gak suka kalau nih film ceritanya jadi from zero to hero atau from nothing to something.  Come on, cerita-cerita kayak gitu tuh biasa banget dan memuakan bagi gue.

Porsi cerita antara kelima anak ini juga kurang seimbang menurut gue.  Beberapa di antara mereka juga kurang nyambung dengan catur.  

Justus tuh anak yang jenius.  Kalau kata pelatih di IS 318 - Miss Vicary - biasanya anak-anak yang masuk IS 318 skor caturnya 1000an, tapi Justus tuh lebih banget.    Klub catur tentu punya ekspektasi yang besar pada Justus dengan skornya yang tinggi.  Unexpectedly, hasilnya dia kurang bagus di pertandingan.  Dia sempat kecewa dan kehilangan minatnya pada catur dalam beberapa waktu.  Yang gue suka dari ceritanya si Justus, dia berhasil bangun dari keterpurukannya.  Kita juga bisa belajar bahwa hanya karena kita pintar tidak berarti kita bisa lepas dari keselahan dan melakukan kesalahan tuh manusiawi.  Tapi yang gue gak suka adalah kekecewaan Justus kurang diperlihatkan.  Film ini juga tidak memberi tahu penonton apa yang membuat Justus sangat passionate di catur atau apa yang pertama kali membuatnya tertarik di catur.  Hal-hal ini membuat gue disconnected dengan Justus.  He's just a background character yang cuma punya kepintaran untuk membuatnya stand-out.  


Gue tertarik dengan Patrick karena dia mengidap ADHD.  Disini dibilang bahwa catur membantu Patrick untuk lebih berkonsentrasi.  Tapi gak ada perbandingan antara Patrick yang susah berkonsentrasi dan Patrick yang fokus bermain catur.  Film ini hanya memperlihatkan Patrick yang fokus bermain catur.  Other than that, this film doesn't exactly show why and how Patrick's lack of focus is handled by chess.  Jadi kurang terasa bagaimana ADHD Patrick bisa terbantu dengan catur.  Patrick juga menerima 'airtime' yang sedikt dibandingkan keempat murid lainnya.  Tiga dari pemain catur IS 318 tampil di awal film, hanya Patrick dan Justus yang muncul di tengah-tengah film.  In the end, Patrick is a character with so much potential that wasn't used by the director. 

Setelah itu ada Pobo.  Man, he's an interesting person, but I don't think he's fit with the chess theme.  Pobo lebih banyak berbicara mengenai getting rich dan mencicipi dunia politik.  Tapi dia jarang berbicara mengenai catur.  Anyway, Pobo terpilih sebagai ketua OSIS di sekolahnya.  It's great for Pobo, tapi terpilihnya dia sebagai ketua OSIS tidak berdampak langsung dengan ekskul catur.  So, other than his interesting personality, I don't understand why he was picked as one of the main students.  

Gue kurang suka dengan Alexis.  Ya, dia berbakat dalam catur.  Ya, dia memenangkan banyak pertandingan.  Ya, dia keras dengan dirinya sendiri ketika dia kalah dalam bermain catur.  Tapi film ini justru lebih banyak memperlihatkan perjuangannya untuk masuk ke SMA terfavorit.  Film ini lebih banyak bercerita mengenai susahnya orangtua Alexis, betapa Alexis belajar keras untuk masuk ke SMA favorit, dan blablabla.  For fuck's sake, it's fuckin' annoying. 


Tokoh yang menurut gue paling cocok di film ini tuh Rochelle.  Film ini memang tidak memberi tahu penonton apa yang membuat Rochelle tertarik dengan catur at the first time.  Tapi film ini membuat gue mengerti apa yang membuat Rochelle stay di bidang catur.  Pembagian antara kehidupan pribadinya dengan catur pun cukup seimbang.  Selain itu, Rochelle akhirnya menerima beasiswa karena catur, bukan hanya karena studi akademiknya.  Bukannya gue marah sama Alexis yang dapet beasiswa, tapi beasiswa yang diterima Rochelle lebih cocok dengan tema catur di film ini.   

Sepertinya sang sutradara bermaksud mencampurkan isu dana sekolah, ekskul catur, serta kehidupan pribadi orang-orang yang jago catur.  Tapi mereka gagal karena pencampuran ketiganya tidak berhasil seimbang.  Mungkin mereka takut mereka terlalu fokus pada unsur pribadi sehingga unsur caturnya berkurang?  Kalau masalahnya itu, harusnya mereka bisa memilah mana unsur pribadi yang bisa 'dicampur' dan yang mana yang gak bisa.  Atau mungkin sebenarnya mereka ingin fokus ke perjuangan anak-anak di film ini dan bukan fokus ke caturnya?  Kalau begitu jangan ambil anak-anak ekskul catur, ambil juga anak dari ekskul lain.

But enough for the dark side, let's talk about the bright side.  Film ini memperlihatkan bahwa meskipun pendidikan akademik lebih penting daripada ekskul, ekskul tetap penting.  Buat para koruptor yang mikir kalau it's okay for schools to run without after school activities, I hope Freddy Krueger will find you.  Moreover, some of the kids are serious with their after school activities.  Mereka gak main-main, mereka punya ambisi dan bahkan mereka bisa menggunakan ekskul mereka untuk merebut beasiswa.  Setelah nonton film ini, cuma orang super bego yang masih men-judge seseorang berdasarkan umurnya.

Overall, kesulitan Dellamagiore untuk menyimbangkan cerita mengenai kesulitan sebuah sekolah, kehidupan 'karir' dan pribadi pemain-pemain catur cukup terlihat di film ini.  Beberapa bagian film ini juga klise.  Namun passion dan tekad anak-anak di film ini somehow menyentuh dan inspiratif.  7/10              

Selasa, 14 Oktober 2014

Annabelle (2014)

I want her soul.

http://www.impawards.com/2014/annabelle_ver2.html

Gara-gara The Conjuring, boneka butek bernama Annabelle ini jadi populer.  Walaupun masih lebih mengerikan Sy*hrini daripada nih boneka, gue yakin banyak orang yang gak mau bobok bareng Annabelle.  Anyway, Annabelle merupakan film horor Amerika tahun 2014 yang disutradarai oleh John R. Leonetti dan ditulis oleh Gary Dauberman.  Film ini merupakan prequel atau spin-off dari film The Conjuring.  Film Annabelle ditunggu-tunggu oleh banyak pecinta film horor, terutama mereka yang menyukai The Conjuring.  Film ini berhasil meraup keuntungan dengan cepat, sayangnya ia tidak mendapat banyak pujian dari kritikus film.

Mia (Annabelle Wallis) dan John (Ward Horton) sedang menanti kedatangan anak pertama mereka.  Suatu hari, John memberikan Mia sebuah boneka antik yang dicari-cari Mia.  Mia sangat senang dengan boneka itu.  Namun tidak lama setelah kehadiran boneka itu, tetangga mereka, keluarga Higgins, dibunuh.  Keluarga Mia dan John juga ikut diserang oleh pembunuh keluarga Higgins.  Ternyata pelakunya adalah Annabelle, putri keluarga Higgins yang menjadi bagian sekte pemuja setan.  Semenjak penyerangan itu, Mia dan John mengalami banyak pengalaman aneh dan mengerikan di rumah mereka.  Karena itu, mereka pindah dari rumah mereka.  Namun, perpindahan rumah tidak menghapus kejadian-kejadian spiritual serta kekuatan gelap yang mengincar mereka.

ADA SPOILER GAK YA...

http://www.fatmovieguy.com/annabelle-official-main-trailer/

The Conjuring bakalan tetap bagus ada atau enggaknya nih film.  Sejelek-jeleknya Insidious 2, korelasi Insidious 2 dan Insidious tuh masih lebih bagus daripada Annabelle dengan The Conjuring.  Annabelle hanya menceritakan masa lalu Annabelle and that's it.  Kalau tahu ceritanya gitu doang, mendingan gue baca fanficnya aja, gak usah keluar duit buat nonton nih film.
The similarity and difference between Annabelle and Rosemary's Baby

Entah kenapa film ini agak mengingatkan gue dengan Rosemary's Baby.  Gue baru sadar kalau secara dasar, kedua film ini bercerita tentang ibu hamil yang mengalami kejadian-kejadian aneh dan menggunakan satanic cult sebagai 'aksesoris' filmnya.  Eits, Annabelle sama Rosemary's Baby beda kasta *walaupun gue gak demen Mia Farrow*.  Rosemary's Baby berhasil menggunakan satanic cult sebagai 'magnet' penontonnya karena satanic cult dibahas dengan cukup mendetai.  Sedangkan Annabelle menggunakan satanic cult sebagai bahan basa-basi gak jelas.

A bit exposure on religion (Catholic)

Sepertinya Leonetti atau Dauberman mencoba bikin religious horror yang menggugah layaknya The Exorcist.  Sorry dude, if that's what you're trying to do, you fail.  Why?  Karena Leonetti dan Dauberman kurang serius menggunakan aspek agama di film ini.  Film ini hanya memperlihatkan gereja, romo yang pada akhirnya gak ngapa-ngapain, dan beberapa quotes religius klise yang bikin gue internal bleeding.  Anyway, gue rada kaget nih film gak ada adegan exorcism. Gue punya dua pendapat mengenai tiadanya adegan exorcism.  Pendapat pertama sih adegan exorcism cuma nambah keklisean film ini.  Pendapat kedua, adegan exorcism yang fuckin' awesome mungkin akan meningkatkan rating film ini.  Gue somehow senang di adegan si romo 'K.O.' sama setannya.  That scene shows that not all of devout people can beat 'the evil'.    

http://somewhatnerdy.com/wp-content/uploads/2014/07/Capturen.jpg

A message about sacrifice

I don't know about you, tapi gue bingung kenapa nih film tiba-tiba mencoba memasukkan pesan mengenai pengorbanan.  Kalau pengorbanan itu ditunjukkan secara nonchalant atau masa bodo sih gak apa-apa bagi gue.  Tapi adegan pengorbanan itu ternyata harus ditemani oleh kalimat religius yang biasa banget.  Kalimat religius itu membuat seakan-akan crew berusaha keras memberikan pesan mengenai pengorbanan.  Sayangnya, pengorbanan yang ditunjukkan kurang ngena bagi gue.  Why?  Pertama, pengorbanan itu dilakukan oleh tokoh yang menurut gue kurang ngena atau insignificant.  Kedua, pengorbanan itu dilakukan oleh orang yang kurang dekat dengan Mia dan John.  Emang kadang-kadang ada orang asing yang mau berkorban untuk kita.  Tapi langka banget orang asing yang bekorban untuk kita 'sebanyak itu'.  Ini membuat pengorbanan di film Annabelle terasa kurang relatable dan ngena bagi gue.   

Other Stuffs

TWO THUMBS UP BUAT JOSEPH BISHARA YANG BIKIN JANTUNG GUE OLAHRAGA SEPANJANG FILM.  Sumpah, gue emang gak suka Annabelle, tapi tetep aja gue tegang waktu gue nonton filmnya.

Gue sebel sama Mia Farrow di Rosemary's Baby karena menurut gue dia lebay.  But that doesn't mean I like poker face.  Gue pengen lempar Annabelle Wallis pake beha bolong warna orange ngejreng saking frustasinya sama dia.  Lagian ekspresinya gitu-gitu aja.  Lupakan chemistry-nya Wallis dengan Horton.  Percayalah, Jokowi sama JK punya chemistry yang lebih bagus daripada Wallis sama Horton!

Conclusion

Annabelle is an unnecessary spin-off.  The quality is not a match to The Conjuring.  It's also a waste of money and time for me.  5/10   


Jumat, 03 Oktober 2014

[OOT] Bacotan Remaja Labil Mengenai Ateisme dan Agnostisisme


A. Pengantar

Oke, gue tahu ini out of topic banget, tapi gue pengen meluapkan kefrustasian dan pendapat-pendapat gue mengenai ateisme, agnotisme, serta kaitan pelarangan mereka dengan pelanggaran HAM.  Artikel yang kalian baca ini ditulis oleh remaja labil yang philosopher try-hard alias filsuf gagal. 

Gue rasa sebagian besar dari kita udah tahu kalau ateisme adalah suatu pandangan yang tidak mempercayai Tuhan sedangkan agnostisisme adalah suatu pandangan bahwa ada atau tidak adanya Tuhan tidak akan bisa dibuktikan oleh manusia.  Itu definisi kasar ateisme dan agnostitisme.  

B. Some Foolish Opinions from Some Theists



1. Orang ateis dan orang agnostik merupakan orang-orang yang gak punya moral karena mereka gak punya "aturan agama".

Jadi orang punya aturan agama = orang bermoral?  OMG, gue kasihan sama orang yang masih punya pikiran kayak gini karena pasti IQnya dibawah satu.  Gue rasa cuma orang dengan otak seupil yang bilang kalau Osama bin Laden tuh "orang baik".  Selain itu, cuma orang idiot yang bilang bahwa tindakan Mary I of England (seorang ratu Katolik) yang mengeksekusi ratusan orang Protestan di Inggris merupakan tindakan terpuji.

Jadi, punya atau tidak punya agama berpengaruh kecil terhadap tindakan dan moral seseorang.  Tindakan dan moral seseorang dipengaruhi oleh karakteristik dan pemikiran-pemikiran yang dimilikinya.  Kalian tuh harusnya gak usah khawatir sama orang ateis dan agnostik kecuali orangnya seautis Nurdin M Top dkk.  Daripada takut ateisme dan agnostisisme mendominasi dunia, mendingan kalian mikirin ISIS dan Boko Haram, yaitu dua kelompok yang dibuat oleh orang-orang BERTUHAN dan BERAGAMA.  The point is, baik-buruknya orang gak ditentukan sama kepercayaannya.  Baik-buruknya orang merupakan permasalahan kompleks yang bisa dibahas dari berbagai sisi.   

Oh iya, gue meragukan eksistensi Tuhan tapi gue gak pernah tuh ngebom orang atau ikut berperan dalam suatu genosida.  

2. God is obviousy exist.

Apakah ada ilmuwan yang punya bukti ILMIAH mengenai keberadaan Tuhan?  Yup, I thought so.  So, God's existence is not obvious.  

Gue rasa kebanyakan orang lebih sering menggunakan akal daripada sains dalam hal-hal yang menyangkut eksistensi Tuhan.  Manusia memang bisa menggunakan nalar untuk 'membuktikkan' bahwa Tuhan itu ada atau tidak.  Tapi benar dan salah hasil penalaran itu sama-sama punya potensi benar dan salah karena tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hasil penalaran itu.  Hal-hal spiritual memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dan empiris karena tidak ada manusia yang mati lalu bisa menceritakan pengalamannya di afterlife kepada orang yang hidup.  Selain itu, orang-orang yang mengaku bertemu Tuhan, santo-santa, nabi, atau malaikat, tidak bisa memberikan bukti fisik pertemuan mereka. 

Oh iya, gue juga mempunyai beberapa pertanyaan yang gue harap bisa memperdalam pemahaman kalian mengenai eksistensi Tuhan.  Apakah hanya karena Tuhan tidak bisa dilihat itu bisa dijadikan fondasi bahwa Tuhan tidak ada?  Kita tidak bisa melihat pikiran, tapi siapa yang sih gak pernah punya 'pikiran'?  Kita tidak bisa melihat memori, lalu apakah semua hal yang kita ingat sebenarnya hanya omong kosong?  Pemerintah jarang sekali mendengar teriakan rakyat, apakah itu berarti mereka hanya orang-orang fiktif?  Sebaliknya, apakah kehidupan dan alam semesta merupakan bukti pasti dari eksistensi Tuhan?  Apakah tidak ada kemungkinan bahwa kehidupan terjadi begitu saja? 

At the end of the day, teori "hidup terjadi begitu saja" sama mungkinnya dengan teori "Tuhan menciptakan semuanya".  

3. Ateisme dan agnostisisme buruk karena orang-orang ateis dan agnostik ingin bebas dari konsekuensi dosa.

So what?  Emangnya enak hidup dipenuhi rasa takut?  

Dan plis deh, orang beragama yang berpendapat gitu gak usah muna.  Emang kalian gak pengen sesuatu dari percaya pada Tuhan atau mengikuti suatu agama?  Gue yakin kebanyakan orang yang percaya pada Tuhan dan mengikuti suatu agama pasti pengen masuk surga.  Gue ragu banyak orang teis yang menahan penderitaan mereka kalau mereka gak yakin dengan suatu reward dari Tuhan.  Gue yakin juga kalau beberapa orang tuh beragama dan percaya Tuhan supaya batinnya tenang, bukan karena alasan yang logis atau rasional.  In the end of the day, kebanyakan orang taat mengikuti agamanya karena reward yang dikatakan di kitab-kitab suci. 

Seandainya jiwa seorang Paus di pintu surga, terus Tuhan bilang bahwa tuh Paus udah pasti gak masuk surga, terus Pausnya dikirim lagi ke bumi, yakin gak tuh Paus masih sereligius sebelum dia ke pintu surga? 

4. Komunisme = Ateisme 

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi. (sumber: id.wikipedia.org)

Komunisme adalah paham yang menolak kepemilikan barang pribadi dan beranggapan bahwa semua barang produksi harus menjadi milik bersama. (sumber: https://www.facebook.com/notes/anda-bertanya-ateis-menjawab/apakah-ateis-itu-komunis/123407424481576)

Masih gak ngerti bedanya?  Buat yang udah lulus SMA, gue heran kenapa kalian bisa lulus dari SMA.  Buat yang belum lulus SMA, gue harap kalian ngerti bedanya ateisme dan komunisme.

5. Ateisme dan agnostisisme tidak memberikan tujuan hidup yang jelas.

Memang benar bahwa tujuan hidup tidak jelas dalam ateisme dan agnostisisme.  Tapi apakah semua orang ateis dan agnostik tidak punya tujuan dalam hidup mereka?  Cuma orang dengan otak sekecil tai yang bilang iya.

Terkadang, lebih baik kita gak punya tujuan hidup daripada tujuan hidup kita merugikan orang lain.  Setidaknya orang ateis dan agnostik gak bakalan bunuh orang lain hanya karena mereka misinterpret kitab suci atau fanatisme sempit mereka terhadap Tuhan.  Itu adalah kegiatan yang dilakukan umat BERAGAMA dan BERTUHAN dari berbagai agama dan negara.

Besides, whether I have purpose or not in my life is my business, not yours. 

6. Orang ateis dan orang agnostik bakalan masuk neraka.

Orang yang judgmental kayak lu bisa masuk surga?  Gue kasihan sama penghuni surganya.    
 
C. Pelarangan ateisme dan agnostisisme serta kaitannya dengan pelanggaran HAM.

Orang Indonesia tentu tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang berketuhanan.  Secara kasar, artinya Indonesia merupakan negara yang percaya pada Tuhan.  Apakah itu artinya seluruh rakyat Indonesia harus percaya pada Tuhan?

Berarti negara Indonesia memaksakan suatu aliran kepercayaan atau pandangan kepada rakyatnya.  Padahal salah satu hak asasi manusia adalah bebas beragama. Berarti negara Indonesia telah melanggar hak asasi rakyatnya.  

Sebenarnya sih gue kurang yakin apakah ateisme dan agnostisisme benar-benar dilarang di Indonesia secara hukum, tapi toh di KTP gak ada pilihan agnostik dan ateis.  Sila pertama pancasila sendiri berbunyi,"Ketuhanan yang Maha Esa."  In some way, ateisme dan agnostisisme 'dilarang' di Indonesia.  

Seperti yang gue tulis sebelumnya, baik-buruknya orang tidak ditentukan oleh agamanya.  So, kalau ateisme dan agnostisisme dilarang karena pemerintah takut orang-orang jadi gak punya moral, harusnya dari dulu agama juga dilarang karena kelakuan orang-orang beragama sendiri gak semuanya bermoral.  

Menurut gue gak masalah kalau lo seorang neo-nazi (walaupun gue berpikir kalau neo-nazisme itu bodoh) asalkan lo gak melakukan kejahatan terhadap seseorang hanya karena orang itu Yahudi.  Gue tahu kalimat itu random, tapi hal yang ingin gue sampaikan adalah bahwa seseorang harusnya dihukum karena apa yang ia lakukan, bukan yang ia percayaiLagipula, kalau gue menganut Yahudi, Kristen, Katolik, dan Islam sekaligus, apakah gue melanggar hak lo?  Gak kan.  Tapi gue melanggar hak lu kalau misalkan gue nyuri saksang lu gara-gara gue nganggep itu haram buat lu.  Selain itu, yang harusnya dilarang tuh bukan ateisme dan agnostisisme, tapi segala bentuk intoleransi beragama.  Intinya, gue gak peduli apa yang lo ajarkan dan yang lo lakukan dalam agama lo asalkan itu gak berdampak negatif ke masyarakat.
Jadi, why the hell ateisme dan agnostisisme harus dan masih 'dilarang' di Indonesia?  Apa sih salahnya tidak percaya pada Tuhan?  Apa salahnya meragukan eksistensi Tuhan?  Mengapa sebagai manusia kita tidak boleh menyangkal Tuhan?  Mengapa sebagai manusia kita tidak boleh meragukan eksistensi Tuhan?  Mengapa semua orang harus percaya kepada Tuhan jika tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan Tuhan itu ada?  

Seseorang harusnya bebas memilih apa yang mereka percayai.  Melarangnya untuk mempercayai sesuatu merupakan pelanggaran hak asasi manusia.  Mengapa?  Karena kita mempunyai otak, organ tubuh yang sudah ada sejak kita lahir.  Karena kita memiliki otak, kita bisa menentukan apa yang kita percayai.  Dengan merenggut kemampuan untuk menentukan itu, sama saja menyangkal bagian diri manusia yang paling penting.  Selain itu, lo seharusnya mikir apa perasaan lo kalau suatu kepercayaan dipaksakan ke lu. 
  
Buat kalian yang masih berpikir bahwa orang ateis dan agnostik pergi aja dari Indonesia, gue punya komentar buat kalian:

Shame.

On.

You.

Narrow-minded.

Assholes.  


Sekarang sudah lazim untuk mendengar orang berkata "Aku tersinggung dengan itu." Seolah-olah itu memberikan mereka semacam hak.  Itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah...rengekan. "Aku rasa itu menghina." Itu tidak punya arti; itu tidak punya tujuan; itu tidak punya alasan mengapa itu harus dihormati sebagai kalimat. "Aku tersinggung oleh itu." Well, so fucking what. -Stephen Fry  

Minggu, 28 September 2014

Grave of the Fireflies (Hotaru No Haka)

dalkomlollipop.wordpress.com

Grave of the Fireflies merupakan film animasi Jepang tahun 1988 yang disutradarai dan ditulis oleh Isao Takahata.  Film ini diadaptasi dari novel semi-autobiografi berjudul sama yang ditulis oleh Akiyuki Nosaka.  Film berdurasi 89 menit ini diproduksi oleh Studio Ghibli dan dirilis bersamaan dengan salah satu film Ghibli yang terkenal, My Neighbor Totoro.  Meskipun film ini tidak meraup keuntungan setinggi My Neighbor Totoro, film ini menerima banyak pujian dari banyak kritkus film.

Seita, Setsuko, dan ibu mereka bersiap-siap untuk pergi ke sebuah bomb shelter di Kobe.  Ibu mereka berangkat lebih dulu sementar mereka menyimpan persidaan makanan dan sedikit bekal.  Mereka terkejut ketika bom mulai jatuh di lingkungan mereka.  Mereka selamat dan tidak terluka, namun ibu mereka mengalami luka bakar yang sangat parah.  Karena Seita takut dengan reaksi Setsuko, maka Seita tidak mempertemukan Setsuko dengan ibunya.  

Beberapa hari kemudian, Seita dan Setsuko pergi ke rumah bibi mereka untuk mengungsi.  Sebenarnya ibu mereka sudah meninggal, namun Seita tidak berani untuk menyatakan sejujurnya kepada Setsuko.  Awalnya, sang bibi menerima mereka dengan terbuka.  Namun seiring berkurangnya rasio makanan, sang bibi justru tidak senang dengan kehadiran mereka.  Bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka tidak pantas untuk ikut makan karena mereka tidak berkontribusi di masa perang.  Tidak tahan, Seita dan Setsuko memutuskan untuk pergi dari rumah sang bibi.

SPOILER ALERT!

photo9.us
Fuck this film.  Belum 30 menit, air mata dan ingus gue meleleh gara-gara nih film.  Bangke.

Menurut wikipedia, ada dua pandangan mengenai film ini.  Orang-orang Barat memandan film ini sebagai film anti-perang sedangkan orang Jepang memandang film ini sebagai film obey-your-elders.

Anti-war, conscience, and society

Kenapa film ini dipandang sebagai film anti-perang?  Jelas karena film ini memperlihatkan dampak-dampak perang yang sangat mengerikan.  Perang membuat orang-orang kehilangan tempat tinggal mereka, orang yang mereka cintai, kebahagiaan, dan bahkan bisa membuat orang-orang kehilangan hati nurani mereka.  Seita dan Setsuko adalah anak-anak yang kehilangan rumah dan ibu mereka.  Seita mungkin sudah bisa 'mencerna' perang, tapi Setsuko masih terlalu muda untuk 'mencerna' perang dan bersikap dewasa mengenai hal itu.  Fuck, they're not even adults, so why and how should they know how to act as adults in war?  Inilah fakta yang dilupakan oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.  Bukan berarti mereka bisa bermanja-manja, tapi mereka juga tidak bisa dituntut untuk 'matang' secara tiba-tiba.  Yang kurang jelas dari sini kenapa Seita dan Setsuko tidak pergi ke sekolah dan apakah itu bisa dihitung sebagai 'kontribusi' atau tidak.   

Misalkan ada bayi yang belum pernah diajarin untuk berjalan.  Dia gak pernah pake alat bantu buat berjalan atau apalah itu.  Dia cuma biasa merangkak.  Suatu hari, orangtuanya ngajarin dia belajar dan expect tuh bayi bisa jalan setelah hari itu selesai.  Apakah semua bayi bisa langsung jalan dengan pelajaran satu hari padahal dia cuma biasa merangkak?  Cuma orang bego yang jawab iya. 

Ada adegan dimana seorang dokter memeriksa Setsuko.  Si dokter mengatakan bahwa Setsuko tuh sebenarnya gak sakit tapi kena malnutrisi, alias kekurangan nutrisi.  Jadi yang dibutuhkan Setsuko tuh makanan, bukan obat-obatan.  Seita yang frustasi akhirnya meledak karena dia bingung mau cari makanan dimana.  Si dokter juga gak menawarkan bantuan apapun.  Ini adalah salah satu contoh bagaimana perang bisa membuat kita menjadi mahluk yang apatis.  Emang sih itu cuma adegan film, tapi cerita kayak gitu pasti pernah terjadi beneran.  Gue tahu bahwa membantu orang gak selalu gampang.  Tapi manusia merupakan mahluk yang (katanya) memiliki hati nurani.  So why helping people is so hard?  Bukan karena perang, bukan karena gak ada uang atau waktu, tapi pada akhirnya karena ego kita masing-masing.  I know it's not always the case but ego is the main factor on our apathy.  Hal ini dibuktikan di adegan pertama Grave of the Fireflies.  Perang memang sudah berakhir, tapi tidak ada orang yang menunjukkan kepedulian pada Seita yang sekarat.  Orang-orang tidak bisa menggunakan perang sebagai alasan mengapa mereka tidak membantu Seita karena perang sudah berakhir saat itu.  Jadi menurut gue perang tidak membuat kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan, tapi perang membuat kita lebih apatis dan lebih egois dari yang sebelumnya.  

basementrejects.com
 
You-should-respect-me-because-my-age-not-my-deeds 

Isao Takahata menyatakan bahwa pesan yang ingin ia sampaikan di film ini adalah anak-anak muda harus menghormati orangtua mereka, terutama di masa-masa yang susah.  Bibi Seita dan Setsuko memang tidak melukai mereka secara fisik, bahkan tetap memberi mereka makan.  Namun perlakuan dan perkataan sang bibi tentu membuat mereka tertekan.  Apalagi mereka sudah berusaha untuk bertahan di rumah si bibi, tapi mereka akhirnya menyerah dalam tekanan.  Kita perlu ingat bahwa manusia tidak hanya punya kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan psikis.  Mungkin tindakan Seita memang bodoh, namun tidak semua orang bisa bertahan di suatu rumah yang membuat mereka tidak bahagia.  

Suatu hari, Seita dan Setsuko main piano dan bersenang-senang, lalu sang bibi memarahi mereka karena mereka bersenang-senang di saat yang susah.  Bitch please, they even don't waste money or stuff like that.  They only play a fuckin' piano.  Perang memang mengerikan dan kita tidak boleh melupakan orang-orang yang berjuang dalam perang.  Namun apa salahnya merasakan sedikit kesenangan di saat perang?  Apa salahnya untuk melupakan kesedihan dan kepahitan hidup untuk sesaat?  Apa salahnya untuk menyelamatkan secuil masa kanak-kanak?  Apakah kita harus berlarut dalam kesedihan hanya karena orang lain merasa sedih?  Apakah kita harus dihantui kesedihan dan depresi hingga akhirnya kita bunuh diri?  Hal-hal inilah yang membuat gue mengerti kesusahan Seita dan Setsuko untuk menghormati bibi mereka.  Gue merasa sedih bagaimana Takahata berusaha memasukan pesan itu dengan figur orangtua yang menekan anak-anak.     

Ini juga membuat gue bertanya-tanya apakah kita memang harus menghormati orang-orang tua yang telah memberi kita makan.  Apakah tolak ukur kehormatan hanya umur dan apakah mereka memberikan kita makan atau tidak?  Kalau iya, berarti banyak banget orang yang gak gue hormatin.  Yang jelas, kita harus merasa bersyukur bahwa kita dihidupi oleh orang-orang yang lebih tua saat kita kecil.  Tapi apakah kita harus tetap menghormati orang-orang itu jika tindakan-tindakan mereka jelas salah?  Dan mengapa kita harus tetap menghormati mereka?  Kalau gue sih menggunakan perbuatan dan pemikiran sebagai tolak ukur gue dalam menghormati seseorang, bukan umur dan apakah mereka memberikan gue makan atau tidak.  Contohnya aja Osama Bin Laden, dia lebih tua daripada gue, tapi tindakan-tindakan yang dia lakukan menunjukkan betapa kecil otak dan hatinya.  Karena itulah meskipun dia lebih tua daripada gue, gue sama sekali gak menghormati dia.  So, kita harus bisa membedakan being grateful and respect kepada orang lain.     

Other stuffs

Animasinya bagus meskipun masih rough at the edge (seperti animasi Jepang lainnya).  Musiknya Michio Mamiya tuh bagus, tapi gak punya efek memorable seperti musiknya Joe Hisaishi.  I just can't think any song or music from this film.  Kesedihan dan kengerian film ini entah bisa membuat orang terharu atau illfeel dengan kelebayan film ini.  Gue sedih sama film ini bukan karena kematian tokoh-tokohnya.  Tapi gue sedih karena gue mikir apakah manusia tuh mahluk yang punya hati nurani atau sekedar mahluk yang egois. 

Overall

Masih mikir film kartun tuh film anak-anak gak penting?  Nonton aja film ini. 8,7/10


    

Kamis, 28 Agustus 2014

The Kings of Summer

...and be our own man. -Joe Toy
cinemaforensic.com
I love coming-of-age films.  I don't experience the best in my high school and junior high school, but I really enjoy coming-of-age films.  Apalagi kalau yang main cowok-cowok ganteng, bisa jadi waktu fangirling dah.  Sayang nih pelem kagak ada cowok ganteng kayak Leo di Basketball Diaries.

The Kings of Summer merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2013 yang sempat nangkring di Sundance Film Festival.  Film ini disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dan ditulis oleh Chris Galletta.  Film berdurasi 94 menit ini mendapat respon yang cukup positif dari para kritikus film.

Joe Toy (Nick Robinson) merasa sumpek dengan kelakuan ayahnya, Frank (Nick Offerman) yang dirasa terlalu mengontrolnya.  Di sekolahnya, Joe juga mengalami bullying, bahkan ia dipermalukan di depan gadis yang ia taksir, Kelly (Erin Moriarty).  Teman Joe, Patrick (Gabriel Basso) juga merasa tertekan oleh sifat orang tuanya yang aneh dan anggapan mereka bahwa Patrick masih anak kecil.  Ketika emosinya memuncak, Joe merencanakan untuk membangun sebuah rumah di dekat hutan.  Joe mendapatkan ide lokasi rumahnya setelah ia 'berjalan-jalan' dengan Biaggio (Moises Arias), seorang bocah eksentrik.  Mereka bertiga setuju untuk membangun rumah secara diam-diam dengan peralatan dan perlengkapan seadanya.  Setelah rumah itu selesai, mereka segera meninggalkan orang tua mereka dan hidup di tengah alam.

emptykingdom.com
Kalau dari segi cerita, entah kenapa film ini mengingatkan gue dengan My Neighbor Totoro.  Mungkin karena kedua film ini latar tempatnya tuh di hutan dan kurang mengandalkan konflik dan tensi.  Memang ada beberapa konflik, tapi konflik-konflik itu diperlihatkan dengan kurang intens dan penyelesaiannya cenderung cepat.  Sebagian besar film diisi dengan keseharian dan petualangan mereka di hutan, sama seperti film My Neighbor Totoro.      

The Kings of Summer juga agak berbeda dengan film coming-of-age lainnya.  Film ini tidak membicarakan first kiss, losing virginity, bullying, status quo, dan hal lainnya secara intens.  Malah hal-hal itu boleh dibilang menjadi side story saja.  Galleta menuliskan cerita tentang tiga orang remaja yang memaksa diri mereka untuk dewasa.  Joe, Patrick, dan Biaggio 'mewakili' remaja-remaja yang sudah tidak tahan lagi untuk pergi dari rumah mereka.  Mereka hanya berfokus pada kebebasan yang ditawarkan di luar rumah.  Mereka lupa bahwa jika mereka sudah di luar rumah, mereka tidak bisa lagi bergantung pada orang tua mereka.  Seiring berjalannya waktu, Joe, Patrick, dan Biaggio sadar bahwa no parents dan kebebasan tidak seenak yang mereka kira.  Mereka harus berjuang lebih keras tanpa orang tua mereka walaupun mereka belum dewasa.  Usaha mereka untuk menjadi pria akhirnya sia-sia karena pada dasarnya mereka masih remaja dengan sedikit pengetahuan dan pengalaman.

SPOILERNYA MULAI YAAA

filmsandpies.blogspot.com

Gue cukup menikmati petualangan-petualangan yang mereka bertiga alami.  Sayang petualangan itu harus diakhiri dengan cinta segitiga yang klise dan pengen bikin gue muntah.  Bitch please, even The Breakfast Club didn't do love triangle stuff.  Tapi di sisi lain, cinta segitiga ini justru memperlihatkan sisi realistis persahabatan: your best friends don't always sacrifice and or stick for you.  Hollywood sangat sering memperlihatkan kita sahabat-sahabat yang too nice and too selfless while not all of us are blessed with that kind of best friend.      

I don't know about you, but I don't like the actors.  Bukan karena mereka gak ada yang seganteng Judd Nelson kok, tapi mereka memberikan aura awkward di sepanjang film.  Pokoknya gue merasa canggung lihat akting mereka, apalagi aktingnya si Nick Offerman, yang gak bisa meyakinkan gue kalau dia tuh lagi khawatir atau marah.  Beberapa blogger film memuji aktor-aktornya, tapi gue tetap merasa canggung nonton mereka akting.  Kalau dari segi individual aja udah awkward, apalagi waktu berinteraksi dengan tokoh lainnya kan?  Di film ini, ceritanya sih Patrick dan Joe udah temenan dari kecil.  Tapi gue rasa mereka bukan temen sejak kecil, melainkan temen dari SMP yang suka bercanda, bukan yang deket-deket banget.  Sebenarnya gak apa-apa sih kalau ceritanya Joe dan Patrick tuh baru deket waktu SMA, tapi di film ini Joe dan Patrick sudah temenan dari kecil dan Nick Robinson serta Gabriel Basso tidak bisa menunjukkan bahwa they've been pals since they used diapers.

Hal terbaik dari film ini jelas sinematografinya.  Gue suka banget pewarnaan yang digunakan di film ini.  Latar hutan dengan pepohonan rindang melakukan duet yang harmonis dengan sinematografi film ini.  *komen gue hiperbola ya*  Ada juga beberapa adegan slow motion yang gue personally kurang suka, tapi keren juga sih.  Namun, gue kurang suka jenis musik yang digunakan di film ini.  The music is too modern and edgy for me.  Gue pribadi bakalan lebih suka kalau film ini pake lagu-lagu alternative atau rock tahun 80an sampai 90an.

Overall, the film is pretty forgettable for me because the film is not as fun and passionate as I expected.  The story has some messages, but story with less enormous conflict is not everyone.  Oh, the jokes are as fresh as Stewart's acting in Twilight.  I only like the jokes that are told by Joe's dad.  6,7/10  


Sabtu, 16 Agustus 2014

Submarine (2010)

I often imagine how people would react to my death. -Oliver Tate
dwhs.co.uk

Submarine merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2010.  Film ini disutradarai dan disutradari oleh Richard Ayoade.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Joe Dunthorne.  Film berdurasi 97 menit ini diputar di berbagai festival film dan mendapat respon yang positif dari para kritikus film.

Oliver Tate (Craig Roberts) suka sekali menyendiri karena menurutnya dengan menyendiri ia mempunyai waktu untuk merenungkan berbagai hal.  Suatu hari, Oliver mendorong Zoe, seorang korban bully ke genangan airDihantui rasa bersalah, Oliver menulis surat untuk Zoe.  Ternata ia tertangkap basah oleh Jordana Bevan (Yasmin Paige), seorang gadis yang juga tidak populer seperti Oliver.  Jordana memeras Oliver dengan menyuruh Oliver untuk membawa kamera dan diarinya ke suatu tempat.  Ketika mereka bertemu, Jordana langsung mencium Oliver sambil memfoto momen itu.  Ternyata, Jordana melakukan itu untuk membuat mantan pacarnya cemburu.  Namun rencana itu malah backfire dan membuat Oliver menjadi pacar Jordana.

Di saat yang sama,orang tua Oliver yaitu Lloyd (Noah Taylor) dan Jill (Sally Hawkins), mengalami perguncangan dalam pernikahan mereka.  Pernikahan mereka semakin terguncang ketika Jill menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya, Graham (Paddy Considine).  Oliver berpikir keras untuk menyelamatkan pernikahan orangtuanya sekaligus menghibur ayahnya.  Namun permasalahan Oliver bertambah ketika ibu Jordana terkena kanker.  

SPOILER ALERT!

randomlifeblog.com
I didn't expect much from Submarine.  Gue kira Submarine tuh jenis film sok quirky dan cute, penuh percakapan sok filosofis, and that's it.  Ternyata gue salah.  

Joanna, Oliver, and the relationship between them

Hal yang gue kurang suka dari tokoh-tokoh quirky tuh betapa jarangnya mereka menunjukkan empati dan terkadang mereka terlalu disconnected dengan dunia sekitar mereka.  Oliver tuh tokoh yang quirky, tapi dia masih mampu untuk menunjukkan bahwa dia masih terhubung dan peduli dengan realita di sekitarnya.  Hal itu ditunjukkan bagaimana ia berusaha untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya dan surat permintaan maafnya untuk Zoe.  Sama seperti tokoh quirky lainnya, Oliver mengalami kesulitan dalam mengelola emosinya.  Oliver berusaha untuk dekat dengan Jordana secara emosional dan fisik, namun Jordana menolak usahanya.  Namun ketika Jordana yang melakukan hal-hal itu, Oliver justru menolak usaha Jordana karena ia berpikir bahwa Jordana menjadi semakin sensitif dan emosional.  Hal paling disturbing yang pernah dipikirkan Oliver tuh ketika ia mendapat ide untuk membunuh anjing Jordana dengan tujuan 'menyiapkan' sang pacar untuk kematian ibunya.  Dude, it's fine if you're quirky or neurotic, tapi gak segitunya juga.

Jordana sendiri juga bisa menunjukkan bahwa dia masih connected dan peduli dengan dunia sekitarnya.  Ini ditunjukkan lewat bagaimana ia tidak ragu-ragu untuk menghibur ayahnya yang sedang menangis.  Gue rasa Jordana agak takut untuk emotionally attached atau benar-benar peduli dengan seseorang di luar keluarganya.  Karena itu ia bersikap agak dingin dengan Oliver di awal film.  Hal yang gue suka dari Jordana adalah bahwa alasannya untuk marah dan putus dengan Oliver tuh jelas.  Cewek mana yang gak marah kalau pacarnya tuh lupa janjinya terus gak melakukan komunikasi selama berhari-hari?

Gue memperhatikan bahwa Jordana dan Oliver tidak pernah bertukar kata cinta atau bahkan memuji satu sama lain.  Hal ini membuat gue tidak keberatan dengan kecepatan hubungan antara Jordana dan Oliver.  Ini juga membuat hubungan antara Jordana dan Oliver bukanlah hubungan quirky yang pretensius.  Yang terjadi di antara mereka hanyalah sparks dan ketertarikan.  Awalnya, mereka tidak ingin melibatkan perasaan atau hal-hal romantis yang berlebihan, karena mereka hanya menginginkan kesenangan dan easy relationship.  Hubungan mereka memang pada akhirnya tambah serius, namun peningkatan keseriusan dalam hubungan mereka tidak meroket mendadak.  Tidak ada pula hal-hal cengeng dan angst yang berlebihan pada akhirnya.

sosreelthoughts.com

The Irony

Menurut gue agak ironis bahwa Oliver berusaha menyelamatkan pernikahan orang tuanya sedangkan ayahnya bersikap pasrah.  Ironis juga bagaimana Oliver terlalu berfokus pada pernikahan orang tuanya sehingga hubungannya dengan Jordana malah berantakan.  Keironisan ini sepertinya bisa me-mislead penonton, karena dua kasus ini berakhir bahagia and I think that fact is too good to be true.  Keironisan ini juga menunjukkan sifat manusia yang ingin mengontrol atau memperbaiki kehidupan orang lain tanpa menjaga kehidupannya sendiri.

Technical Stuffs   

Sinematografinya cute dan bagus banget, as expected from music video director.  Latar tempat yang indah juga mendukung sekali sinematografi dan visual stuffs di film ini.  Latar tempat yang gak romantis pun akhirnya jadi romantis gara-gara film ini.  Gue suka banget bagian dimana Oliver membayangkan bagaimana jika kehidupannya difilmkan dan juga seandainya kematiannya diberitakan di televisi.  Ketika aktor berbicara dengan background berwarna hitam, gue jadi teringat film Le Gai Savoir.  

Terima kasih untuk siapapun yang milih Alex Turner dan Andrew Hewitt untuk mengurus departemen musik di film ini.  Gue tertarik nonton film ini gara-gara nonton fanmade video Stuck on a Puzzle.  Lagu itu lagu favorit gue dari album soundtrack Submarine.  Intronya yang unik dan sangat menghantui langsung membuat gue muterin tuh lagu jutaan kali.  Sebenarnya lagunya bagus semua dari tuh album.  Gak ada lagu yang gue benci dari awal film sampe ending credit.

Aktingnya bagus.  Gak ada aktor yang spektakuler dari Submarine, tapi semua aktor mampu memerankan tokoh masing-masing dengan natural.  Aktor terbagi gue sih Yasmin Paige karena tokohnya mempunyai berbagai dimensi.  Dimensi yang bermacam-macam inilah yang membuat Paige memperlihatkan kemampuannya untuk berakting.  Ekspresi yang dibuat Paige juga cukup variatif.  Craig Roberts juga berakting dengan natural, namun ekspresi wajahnya cukup monoton di sepanjang film.  Mungkin emang dari sononya alias skrip film.

Overall, Submarine is more than a cute film and surprisingly is more realistic than the usual quirky movies. 9,2/10