Jumat, 18 April 2014

Rio 2: An entertaining and beautiful animation

I will survive, as long as I know how to hate. -Nigel

First of all, gue belum nonton film pertamanya, haha.  Gue juga minta maaf karena udah lama gak nulis (emang ada yang baca?)

Jelas "Rio 2" merupakan kelanjutan dari Rio dan lokasi ceritanya masih di sekitar Amerika Selatan dan mengandung sedikit kebudayaan Brazil.  Kesukesan film pertamanya jelas membuat Carlos Saldanha tak berlama-lamam merencanakan sekuel.  "Rio 2" diproduksi dengan budget sebesar 103 juta dollar AS dan didistribusi oleh 20th Century Fox.  Beberapa bintang pun kembali menjadi voice actor seperti Anne Hathaway dan Jesse Eisenberg.  Meskipun "Rio 2" masih berlatar di sekitar Amerika Selatan, Hutan Amazon jelas cukup jauh dari kota Rio sehingga riset mesti dilakukan.  Anyway, apa sih yang diceritakan "Rio 2" dan seberapa bagusnya film ini?

"Rio 2" menceritakan kelanjutan dari kisah cinta Blu (Jesse Eisenberg) dan Jewel (Anne Hathaway).  Mereka tidak lagi hidup berdua melainkan bersama ketiga anak mereka, yaitu Carla (Rachel Crow), Bia (Amandla Stenberg) dan Tiago (Pierce Gagnon).  Carla mempunyai hobi mendengarkan musik, Bia senang membaca buku, sedangkan Tiago sangat usil.  Suatu hari, kedua sahabat mereka, Linda (Leslie Mann) dan Tulio (Rodrigo Santoro) pergi menjelajahi Amazon dan menemukan bukti adanya burung makau biru.  Mereka mengungumkannya di TV.  Jewel yang melihat mereka terkejut mendengarkan hal itu.  Ia langsung membujuk keluarganya untuk mengunjungi Amazon.  Blu tadinya agak ragu karena ia belum pernah ke alam liar, namun demi Jewel, ia setuju untuk pergi ke Amazon.  Keluarga mereka ditemani oleh Rafael (George Lopez), Nico (Jamie Foxx), dan Pedro (will.i.am).

Sampai disana, Blue sulit beraaptasi di Amazon.  Apalagi mertuanya, Eduardo (Andy Garcia), boleh dibilang cukup kuno dan keras.  Ia juga merasa tersaingi oleh kehadiran Roberto (Bruno Mars), teman masa kecil Jewel.  Linda yang berniat menyelamatkan hutan Amazon dengan cara menemukan burung makau biru malah menemukan rintangan dalam bentuk sekelompok orang yang menebang hutan secara ilegal.  Tidak hanya itu, tapi ada Nigel (Jemaine Clement) dan Gabi (Kristin Chenoweth) yang mengikuti mereka untuk membalas dendam kepada Blu.


Overall, gue lebih suka Rio 2 daripada Frozen (yang menurut gue overrated).  Tapi ada dua hal yang gak gue suka dari dua film ini: pace filmnya cepet banget.  Padahal dulu film kartun yang penuh dengan lagu juga masih dapat berjalan dengan pace yang tepat dan membangung relasi antara karakter-karakternya dengan cukup stabil.  Contohnya, Lion King mampu membangun ikatan antara Simba dengan Mufasa maupun dengan Timon & Pumbaa.  Lalu Tarzan juga mampu menunjukkan ikatan batin antara Kala dan Tarzan, dan membangun chemistry antara Tarzan dan Jane.  Ada juga Up -walaupun bukan musikal- yang mampu membuat penonton menangis dengan kisah cinta Carl & Ellie yang tidak sampai 1/2 jam, namun sudah menyentuh.  Frozen sudah membangun hubungan antara Elsa dan Anna, tapi agak dikacaukan dengan adegan dimana Anna yang membeku, which I think, pengen banget bikin penonton nangis.  Selain itu, hubungan mereka dengan karakter-karakter lainnya diolah dengan kurang baik.

Gue ngerti kalau relasi antara Blu, Jewel, dan kawan-kawan mereka tidak terlalu...dibangun karena mungkin hal itu sudah ada di film sebelumnya.  Tapi bagaimana dengan hubungan Jewel & Blu dengan ayah -atau dalam kasus Blu, ayah mertua- mereka?  Atau dengan anak-anak mereka?  Dalam hal ini, harusnya mereka bisa mencontek Shrek 2 sedikit.  I'm sorry for comparing Rio 2 with so many films, lol.  

Blue kinda reminds me of Woody Allen, lol.  Paranoid, city man, dan sedikit...awkward.  Gue suka dengan Jewel because she's just another girl from animation movie.  Dia punya keinginan dan punya hal yang disampaikan.  Maksud gue dari keinginan bukan hanya ingin menikah dengan pacarnya, atau blablabla.  Jewel lebih dari objek yang digunakan untuk melengkapi Blu.  She's a subject.  


 My favorite character is definitely Nigel.  Seriously, he's hilarious and classy at the same time!  Kelebayannya dia mengingatkan gue pada Scar dari Lion King, cuma lebih kocak aja.  Coba aja dia dikasih lebih banyak quote Shakespeare atau wittier dialogue.  Gabi sendiri sangat megagumi dan terobsesi dengan Nigel, padahal jelas-jelas Nigel hanya menggunakan Gabi.  Dia dan Gabi bagaikan Joker dan Harley Quinn.  They're just so whacky and love to be a part of 'play'. 

Salah satu hal yang gue suka dari Rio 2 adalah plot film ini mengandung banyak unsur pop culture.  Mulai dari GPS, iPod, sampe ada parodi lagu-lagu pop, bahkan hip-hop, haha.  Di film ini juga ada beberapa adegan sepak bola.  Gue pribadi sih gak keberatan film ini mempromosikan FIFA, World Cup, apapun itu, ataupun tim Brazil.  Malah menurut gue itu pintar banget.

Hal-hal teknis lainnya seperti gambar, musik, dan voice-acting bagus banget.  Gue suka banget animasi, gambar, -apapun istilahnya- Rio 2.  Keren, indah, modern, colorful banget, dan mata gue gak sakit waktu nonton, haha.  Terkadang animasi yang diproduksi diluar Disney, -menurut gue- kurang halus dan terlalu computer-ish.  Untung hal ini tidak terjadi di Rio 2.  Gue gak tahu apakah bener musiknya memang mengandung unsur musik Brazil (since I'm not a fan of Brazilian music), tapi lagu-lagunya lebih refreshing dan unik untuk didengar, beda banget dari Frozen yang menurut gue mainstream.  Memang Rio 2 gak punya lagu yang catchy atau gampang dinyanyiin, tapi kualitasnya lebih bagus daripada Frozen.  Apalagi ada Bruno Mars, hip-hop, sampai klasik, terdengar di film Rio 2. 

Secara keseluruhan, Rio 2 mempunyai plot yang penuh pop culture, voice-actor yang bagus, animasi yang sangat, sangat, SANGAT, indah, dan musik yang refreshing, keren, dan variatif.  Sayang sekali durasi film ini cukup pendek. 8/10

pic cr:
zonaomg.com
thesun.co.uk
itsartmag.com

 

Jumat, 14 Maret 2014

The Seventh Seal: A masterpiece that questions God's existence

I want knowledge! Not faith, not assumptions, but knowledge! -Antonius Block

Jika anda penggemar film (500) Days of Summer maka anda tahu adegan dimana Tom menonton film hitam putih dan membayangkan dirinya sebagai ksatria yang bermain catur dengan cupid.  Nah, adegan itu memparodikan adegan dari film The Seventh Seal, yang boleh dibilang salah satu film Ingmar Bergman yang terkenal.  Saya belum pernah menonton film-filmnya Ingmar Bergman, sehingga The Seventh Seal merupakan film Ingmar Bergman yang saya tonton pertama kalinya.  Saya sendiri kurang paham dan tahu dengan gaya penulisan dan penyutradaraan Bergman.  Tapi setelah saya menonton The Seventh Seal, saya tidak sabar untuk menonton film-film Bergman lainnya.

The Seventh Seal menceritakan perjalanan seorang ksatria yang bernama Antonius Block (Max von Sydow), setelah Perang Salib.  Dia pulang ke Swedia bersama rekannya, Jons (Gunnar Bjornstrand).  Mereka sadar bahwa Swedia  sedang terserang sebuah wabah.  Di tengah perjalanan, Antonius bertemu dengan Kematian a.k.a Death (Bengt Ekerot).  Karena Antonius belum siap menemui ajal, ia mengajak Death untuk bermain catur.  Antonius memainkan yang putih sedangkan kematian yang hitam.

Antonius dan Jons melanjutkan perjalanan mereka dan melewati sekelompok aktor-sirkus.  Kelompok itu terdiri dari Mia (Bibi Anderson), suaminya, Jof (Nils Poppe) dan manajer mereka, Skat (Erik Strandmark).  Di tengah perjalanan, Skat pergi meninggalkan mereka dan kabur dengan seorang wanita (Inga Gill).  Ternyata wanita itu sudah menikah.  Suaminya (Ake Fridell) yang patah hati memutuskan untuk pergi dengan Antonius dan Jons.  Kebetulan Jons telah menyelamatkan seorang gadis (Gunnel Lindblom) sehingga si gadis ikut dengan rombongan Antonius & Jons.  Antonius & Jons sendiri memutuskan pergi dengan rombongan Mia & Jof.  Ketika mereka melewati hutan, mereka menemui seorang wanita yang akan dibakar karena wanita itu mengaku menyembah setan dan menyebarkan wabah.

WARNING : SPOILER ALERT!!!


Oh my God, I fuckin' in love with The Seventh Seal.  Seriously, I love the topic and Bengt Ekerot's iconic character.  Saya agak terkejut dengan teknik visual dalam film ini.  Film ini boleh saja berwarna hitam-putih, tapi sudut-sudut pengambilan gambar memberikan banyak adegan indah dalam film ini.  Saya suka bagaimana Ingmar Bergman membahas masalah yang serius dan menyangkut kehidupan manusia, namun mencampurnya dengan fantasi sehingga The Seventh Seal terasa seperti film.  Bukan terasa seperti dokumentasi kecil.  Yang saya maksudkan dengan 'dokumentasi kecil' adalah film-film yang terlalu realistis dan terasa agak plain, contohnya Blue Valentine, Like Crazy, Before Midnight, dll.  Film adalah film, harus ada sesuatu yang membuatnya menarik.  Ada beberapa hal dari film ini yang saya kurang suka, seperti editing dan musik.  Editing-nya membuat film ini seakan-akan bergerak secara random, sedangkan musiknya lebay.  Anyway, is it just me or this movie really some kind of spooky touch? 

Meskipun adegan catur dan dansa (di akhir film) merupakan dua adegan yang paling terkenal, adegan favorit saya adalah dimana Antonius tidak sengaja mencurahkan pikirannya -dan strategi caturnya- kepada Kematian.  Saya suka sekali adegan itu mulai dari sudut pengambilan gambar, dialog, bahkan akting.  Pemikiran dan keinginan Antonius sama seperti saya.  Seperti quote yang tertulis diatas poster, yang Antonius inginkan adalah pengetahuan yang pasti apakah Tuhan itu ada atau tidak.  Ia juga ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang mau percaya tapi tidak bisa percaya atau yang tidak bisa dan tidak mau percaya kepada Tuhan.  Dia tidak menginkan iman atau asumsi, tapi kepastian dan pengetahuan. 

Saya tidak tahu mengapa Bergman memilih catur, namun saya mempunyai interpretasi sendiri.  Catur merupakan permainan yang membutuhkan strategi atau rencana.  Strategi itu entah untuk menghindari lawan, menyerang lawan, atau mempertahankan bagian kita.  Manusia boleh saja berencana menghindari kematian, tapi pada akhirnya kematian akan datang kepada kita semua.  Entah kepada orang percaya atau tidak, orang baik atau jahat, siap atau tidak, kematian akan mendatangi kita semua.  You can cheat death once, twice, or even more, but eventually, death always wins.  Hal ini membuat saya sadar bahwa antara kematian dan kehidupan setiap individu selalu ada permainan, yang pada akhirnya akan dimenangkan kematian.  Kita bisa mendapatkan banyak hal selama kita hidup bahkan mungkin mencurangi kematian, tapi pada akhirnya, entah dalam waktu yang lama atau sebentar, kematian akan selalu mengungguli kita.




Kepesimisan, keoptimisan, dan perjalanan tokoh-tokoh The Seventh Seal menuangkan pilihan dan pemikiran manusia akan Tuhan.  Ada yang dengan mudahnya percaya seperti Jof, ada juga yang bertanya-tanya dan pesimis seperti Jons dan Antonius.  Namun kesamaan dari semua karakter dalam film ini adalah mereka menghindari dan takut akan kematian.  Keberadaan Tuhan boleh saja dipertanyakan, tapi eksistensi kematian tentu saja nyata dan hanya orang bodoh yang mempertanyakan hal itu.  Mungkin karena itu Bergman menamakan karakter Kematian sebagai Death, bukan Angel of Death atau sejenisnya.  Memberikan karakter yang bernama Malaikat Kematian seakan-akan memberikan konfirmasi bahwa Tuhan itu ada.  Namun jika hanya dinamai Kematian, Bergman menceritakan slice of life apa adanya.

Bergman memperlihatkan sisi negatif dan positif agama dan Tuhan, entah sengaja atau tidak.  Agama dan Tuhan menyebabkan manusia melarikan diri dari masalah-masalahnya.  Hal ini diungkapkan melalui adegan dimana sekelompok orang menyiksa diri mereka dan menangis-nangis meminta ampun Tuhan.  Saya tidak tahu apakah Bergman mengidolakan Karl Marx, karena adegan ini mirip dengan salah satu kritikan Karl Marx bahwa agma adalah candu masyarakat.  Artinya, agama membuat manusia melarikan dari masalahnya dan bersikap tidak rasional.  Tapi di sisi lain, taat beragama dan mempercayai Tuhan merupakan safer bet dalam hidup.  Bukan safest, tapi safer.  Hal ini terlihat ketika Mia & Jof selamat dari kematian.  

Akting semuanya bagus.  Mulai dari Bengkt Ekerot yang menampilkan sosok Death yang misterius dan karismatik, Max von Sydow yang galau dalam memahami Tuhan, Gunnar Bjornstrand yang pesimis, Bibi Anderson & Nils Poppe yang ceria dalam menghadapi hidup, sampai Inga Gill yang flirty banget.  Mereka semua berhasil memerankan peran-peran masing-masing dan di waktu yang sama membangun chemistry satu sama lain. 

Overall, The Seventh Seal is a classic mind-provoking film and a masterpiece that questions God's existence without being boring, heavy, or too supernaturalish. 9,8/10


pic cr:
mecail2012.blogspot.com
imagesci.com
empireonline.com
rainz.tumblr.com


Kamis, 13 Maret 2014

Blue Jasmine : Woody Allen's excellent comeback that still has his elements

Some people, they don't put things behind so easily. -Augie

Pecinta film mana yang tidak tahu Woody Allen dan belum pernah menonton filmnya?  Woody Allen merupakan salah satu filmmaker teraktif, walaupun bukan yang terbaik.  Filmnya mengalami naik turun sejak 90an akhir.  Ada yang disambut dengan baik seperti Midnight in Paris, Vicky Christina Barcelona, dan Match Point, ada juga yang tidak disambut baik seperti...well, karya-karya Woody Allen dari 2000an sepertinya tidak ada yang disambut baik selain tiga film diatas.  Beruntung setelah kegagalan To Rome With Love, Woody Allen masih bisa menulis dan menyutradarai Blue Jasmine yang ternyata disambut baik.  

Blue Jasmine menceritakan tentang kehidupan Jasmine Francis (Cate Blanchett) setelah suaminya, Hal (Alec Baldwin) bunuh diri.  Jasmine memutuskan untuk pindah dari New York ke rumah adiknya, Ginger (Sally Hawkins) di San Fransisco.  Sally shock melihat mendengar pengakuan Jasmine -yang memakai baju mahal dan mementeng koper Louis Vuitton- bahwa ia menaiki pesawat kelas satu, padahal Sally tahu bahwa Jasmine sudah bangkrut.  Sally mengenalkan Jasmine pada pacarnya, Chilli (Bobby Cannavale).  Chilli tidak bisa mengerti mengapa Sally memaafkan saudarinya dengan mudah,

Jasmine harus menghadapi perubahan hidup yang drastis, dari seorang ibu rumah tangga Park Avenue ke janda yang hidup dengan adiknya di apartemen biasa.  Hal ini membuat nervous breakdown Jasmine semakin parah.  Jasmine mencoba untuk membangun kembali hidupnya dengan bekerja dengan seorang dokter gigi sekaligus mengambil les komputer.  Ketika Jasmine menghadiri pesta salah satu temannya, ia menemui Dwight Westlake (Peter Sarsgaard), seorang politisi yang jatuh cinta pada selera dan kecantikan Jasmine.  Sayangnya, Jasmine tidak menceritakan masa lalunya dengan jujur kepada Dwight.


Blue Jasmine sebenarnya gak beda jauh dengan karya-karya Woody Allen sebelumnya.  Film ini mempunyai berbagai unsur film-film Woody Allen: white-on-black opening, jazz music, fail romance, psychoanalysis, plot yang maju-mundur, New York City, dan tentu saja, plot yang realistis dengan bumbu black comedy.  Walaupun gue masih kurang ngerti dimana letak black comedy-nya, karena menurut film ini dramanya cukup kental.  Sure, there's a few black comedy that I understand, but I don't really think Blue Jasmine is a 'comedy' film.  Salah satu hal yang membedakan Blue Jasmine dari kebanyakan film Woody Allen adalah film ini ditulis dari sudut pandang seorang wanita.  Seorang wanita -yang seperti kebanyakan tokoh utama Woody Allen- mengalami kegugupan dan ketakutan terhadap berbagai hal.  Biasanya tokoh dengan sifat seperti ini dimainkan oleh pria di film-film Woody Allen.

Film ini diceritakan dengan alur maju-mundur.  Seiring berjalannya film, kita bisa tahu sejauh mana kerusakan yang terjadi pada kehidupan Jasmine.  Gue rasa hal ini juga digunakan untuk membandingkan Jasmine yang sekarang dan dulu.  Allen membiarkan penonton mencoba untuk memahami Jasmine dan merasakan perasaan yang dialami Jasmine.  Mungkin bagi kita hidup sederhana itu biasa, tapi kalau kehidupan kita bergelimang harta, lalu semua itu hilang dan cepat, tentu kita akan merasakan tekanan, bukan?  Tidak cukup dengan itu, Jasmine harus menerima kenyataan bahwa semua orang tahu suaminya telah melakukan perselingkuhan, tapi Jasmine sendiri yang tidak sadar akan hal itu.  Bisa kita perhatikan bahwa Jasmine sering membicarakan suaminya dan her golden age walaupun kedua hal itu sudah menghilang.  Hal ini menunjukkan bahwa Jasmine masih belum siap atas kejadian-kejadian yang dia alami.  Jasmine maybe a bitch, but that doesn't stop me to feel sympathy for her.  Anyway, gue suka unsur psikologi dalam plot Blue Jasmine, as expected from Allen.  Bahkan ada twist kecil menjelang akhir film.

Cate Blanchett's role as Jasmine is an excellent acting performance, but still...replaceable.  Saya bisa membayangkan Kate Winslet -dan bila umur tokohnya diubah- Meryl Streep, memainkan Jasmine.  Both actresses have grace, charm, and the skill that match Blanchett's.  But still, aktingnya Blanchett mengagumkan banget and worth-Oscar.  Bagaimana dia dari seseorang yang anggun dan respectable berubah menjadi damsel in distress alias gila.  Dia gila sampai ke titik dia berbicara dengan dirinya sendiri di tempat umum, but at the same time, masih ada sedikit kewarasan dalam dirinya.  She's one of my favorite anti-heroine. 


Gak cuma Blanchett yang bagus, tapi begitu juga Sally Hawkins dan Andrew Dice Clay yang berperan sebagai Augie, mantan suami Ginger.  Eh salah, semuanya berperan bagus, hehe.  Baik Hawkins, Clay, dan Cannavale (Chilli) memerankan karakter mereka dengan baik.  Mereka bisa mengekspresikan tekanan yang mereka alami akibat ulah Jasmine dan almarhum suaminya.  Hawkins berperan sebagai saudari angkat Jasmine.  I love the contrast between Jasmine and Ginger, from their personality, prefrence, life, and how they deal their problems.  Kontras antara Jasmine dan Ginger memberikan two point of views.  But at the same time, mereka sebenarnya peduli satu sama lain.  Dari pihak Ginger jelas terlihat ia memperbolehkan Jasmine tinggal di rumahnya, dan dari pihak Jasmine bisa terlihat ia mendukung Ginger untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, walaupun caranya memang kurang benar.

Salah satu hal yang gue suka dari Woody Allen adalah dia mengajak penontonnya untuk 'berjalan-jalan'.  Lihat saja bagaimana Allen mengajak penontonnya untuk 'berjalan-jalan' di Manhattan lewat Manhattan (1979), Paris lewat Midnight in Paris (2011), dan ke Barcelona lewat Vicky Christina Barcelona (2007).  Sekarang, Allen mengajak penonton 'berjalan-jalan' di Park Avenue dan San Fransisco.  Anyway, I really love Jasmine's house and fashion style in this film.

Overall, Blue Jasmine may not be Allen's best film, but it certainly is an excellent and satisfying film.  9,7/10

pic cr:
entertainmentwise.com
athenacinema.com
sawangarom.com

 

Kamis, 27 Februari 2014

The Perks of Being a Wallflower : A Realistic and Charming Coming-of-Age Movie with Lovely Soundtracks

We accept the love we think we deserve.

Haha, telat banget ya gue masukin film ini ke blog gue, wkwk.  Gue bukan penggemar Logan Lerman ataupun Emma Watson, gue juga belum baca novelnya.  Terus, apa yang membuat gue tertarik dengan The Perks of Being a Wallflower? Simple, banyak review yang bilang nih film bagus.  Akhirnya gue kepo sendiri dan memutuskan untuk beli DVD bajakannya.

Meet Charlie (Logan Lerman), anak yang paling gak eksis di sekolahnya.  Udah gak punya temen, kakaknya Charlie gak ngebolehin dia buat duduk bareng kakaknya.  Pada suatu hari, Charlie memberanikan diri untuk berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller), 'veteran' yang duduk bareng dia di shop class.  Tidak hanya berkenalan dengan Patrick, Charlie juga berkenalan dengan Sam (Emma Watson) saudara tiri Patrick.  Sejak Charlie berkenalan dengan mereka berdua, Charlie merasakan hidup sesungguhnya: pesta, hangout bareng teman, belajar bareng, dan tentu saja jatuh cinta.


Oh.  My.  God.  Charlie mirip sama gue.  Astaga, sumpah, gue benar-benar bisa relate dengan perasaannya dia waktu first day of school.  Perasaan takut gak punya teman, gak kenal siapa-siapa, takut di-bully, I can relate all of that feelings!

Jalan ceritanya simpel, tentang bagaimana Charlie berusaha survive in high school dengan teman-temannya.  Tapi gue kurang suka dengan cerita cinta segitiganya Charlie, Sam, dan Mary Elizabeth (Mae Whitman).  It's just super cliche.  Do we need a fucking love triangle in every teenage movie?  

Berbagai karakter di The Perks of Being a Wallflower mempunyai keunikan masing-masing.  Entah itu Sam dan Patrick yang mempunyai selera musik yang keren, Mary Elizabeth yang suka dengan gaya gotik tapi menganut Budha, ataupun Alice (Erin Wilhelmi) yang sebenarnya kaya tapi suka nyolong jeans.  Hal ini mempunyai sisi positif dimana semua karakter mempunyai peluang untuk membuat impact atau menjadi memorable.  Tapi sisi negatifnya, Steven Chobosky terlihat keras untuk membuat karakter-karakter yang unik.  It's quite hardly to believe that a group of people who are very unique and have little in common can be close friends.  But hey, it's a movie, it doesn't have to be so realistic.  


Ada suatu titik dimana gue benci film ini karena gue merasa kesal dengan tokoh-tokohnya.  Sam menurut gue slutty alias gampangan (dan tanpa alasan yang jelas), Patrick dengan mudah meninggalkan Charlie tanpa mendengar penjalasannya, Mary Elizabeth dengan ke-GRannya pada Charlie, dan Alice dan Brad yang hampir gak relevan di film ini.  Tapi lama-kelamaan gue bisa menerima hal itu karena realita seperti itu.  Tidak semua orang punya loyalitas yang tinggi, banyak orang yang geer because they are too desperate to be loved, ada juga orang yang melakukan sesuatu tanpa mempedulikan perkatan orang lain, dan tidak semua orang relevan, entah itu di film, SMA, pekerjaan, dll.  It's the reality, and Chbosky just wanted to show the ugly truth.  Bandingkan saja dengan film-film remaja lain dimana tokoh-tokohnya mempunyai loyalitas tinggi terhadap temannya, ataupun tokoh yang menggunakan seks sebagai pelarian atau karena trauma.  

I don't know about you, tapi gue kadang merasa agak bosan di tengah-tengah film ini.  Entahlah, soundtracknya-nya emang keren semua, tapi ada sesuatu dari film ini yang agak plain.  Hal ini bisa saja disebabkan oleh karakter Charlie yang too plain for my liking.  I understand that not all of us (and movie characters) are blessed with dry and sarcastic sense of humor, but like I said before, it's a movie.  Chbosky harusnya bisa memberikan sedikit 'aksesoris' pada karakter Charlie.  Karakternya lumayan datar.  Menurut gue, dia terlalu polos dan penakut, bahkan untuk bersenang-senang dengan temannya.  Gue tahu bahwa di film ini dia sempat mengkonsumsi narkoba, tapi selain itu, (dan di ending film) dia gak pernah benar-benar have fun dengan teman-temannya.  Lo tahu adegan dance di film The Breakfast Club?  Itulah have fun yang gue maksud, dimana Charlie just loosen up and being free, not consuming drugs.  But on the other hand, Chbosky menunjukkan bahwa persahabatan atau pertemanan di dunia nyata tidak seindah seperti kebanyakan film Hollywood.  Tidak semua dari kita bisa dengan lancar menuangkan perasaan dan pemikiran kita kepada teman-teman kita, bahkan terkadang, sahabat kita.

Gue pengen banget Chbosky menggunakan pendekatan yang lebih psikologis terhadap Charlie.  Menurut gue, Perks of Being a Wallflower kurang menjelaskan hubungan Charlie dengan orangtuanya.  Gak cuma sama Charlie sih, gue juga pengen Chbosky menggunakan pendekatan psikologis terhadap Sam.  Sampai sekarang gue kepo apa yang mendorong Sam menjadi seperti 'itu'. 



Aktingnya bagus-bagus, but not really makes me 'wow'.  Pengecualian untuk Ezra Miller karena aktingnya dia keren dan bagus banget.  Miller berhasil sekali dalam memerankan cowok yang ceria dan ekspresif namun mempunyai rahasia yang gelap dan beban emosi yang cukup berat.  Gak cuma aktingnya yang keren, tampangnya bang Ezra Miller juga keren, hehe.

Anyway, I really love the soundtracks!  Walaupun gue bukan remaja 90an, gue tetap enjoy lagu-lagu dari film ini.  Apalagi ada Something - The Beatles yang notabene lagu kesukaan gue dari band paporit gue, long live The Beatles, yea!  Sumpah, soundtrack-nya The Perks of Being a Wallflower menambah koleksi lagu-lagu rock di HP gue.  Lagu favorit gue --> Come on Eileen - Dexy's Midnight Runners, pertama kali dengar nih lagu langsung download lagunya dan cari liriknya.  I personally think The Perks of Being a Wallflower is a wet dream for anyone who loves rock or 90's music.  

Film ini menunjukkan hanya karena hidupmu 'suram', bukan berarti itu tidak bisa membuatmu menonton Rocky Horror Picture Show (which is my favorite scene), merayakan natal bersama teman, sedikit berpesta, ataupun melakukan pose Titanic diatas truk yang sedang berjalan.  The point is, sesuram-suramnya hidup lo, lo bisa mengalahkan kesuraman itu dengan bersenang-senang dan tertawa.  Not only that, The Perks of Being a Wallflower membuat gue cukup bersyukur dengan situasi sekolah di Indonesia?  Kenapa?  Karena bullying di SMA-SMA Indonesia gak separah di Amerika.  Lihat saja, Charlie saking gak punya teman, cuma bisa temenan sama senior-seniornya.  Separah-parahnya gue, gue masih punya lebih dari satu teman di kelas gue.

Overall, The Perks of Being a Wallflower is a realistic-but-not-depressing and enjoyable-but-not-fantastical coming of age film.  8,7/10

pic cr:
cinecritical.com
popcornaddiction.com
hendriologi.blogspot.com

 

Selasa, 25 Februari 2014

Cinema Paradiso #5 : Male Movie Characters I would Date

 
First, this list contains male movie characters whom I would date, not the most romantic men, not the sexiest male movie characters, and mostly not the most f*ckable male movie characters.  Second, I'm really sorry that I haven't watched (yet) legendary romance films such as Casablanca, Dirty Dancing, Grease, An Affair to Remember, Pretty Woman, Love Story, Ghost, etc.  Third, it's MY list and MY criteria.  Fourth, the sequence in the list is disordered.

Ferris Bueller from "Ferris Bueller's Day Off"


Why would I date him?

+ He's funny
+ He's smart and creative
+ He really knows how to have fun

Why would I not date him?

- He can be a bit insensitive to his friends
- He seems too laid-back 

Guido from "Life is Beautiful"


Why would I date him?
 
+ He's an optimistic and cheerful
+ He has great sense of humor
+ He's loyal and protective toward the person he loves

Why would I not date him?

- His occupation is somewhat unstable
- (I think) it can a bit hard to discuss serious stuffs with him

Jesse Wallace from Before Trilogy


Why would I date him?

+ He's not serious and stiff
+ He's open-minded and has broad knowledge
+ He has some wisdom

Why would I not date him?

- He is a horny jerk
- He's a bit passive in house-chores

Jack Dawson from "Titanic"


Why would I date him?

+ His artistic talent is awesome
+ He's brave and has sense of adventure
+ He is open-minded and quite wisdom 
+ He's not boring
+ Those eyes...Oh God...

Why would I not date him?

- He has unstable job/life
- He likes to gamble

Fred & George Weasley from Harry Potter series


Why would I date (one of) them?

+ They're funny and laid-back
+ They're brave and have sense of adventure
+ They're loyal
+ They're creative and quite cunning
+ Their British accent

Why would I not date them?

- They're hard to be serious 
- They're hot-headed
- They can be annoying pricks

Noah Calhoun from "The Notebook"


Why would I date him?

+ He's REALLY romantic
+ He has strong loyalty toward the people he love
+ He's funny 
+ He's a hard-worker

Why would I not date him?

- He can be a bit pushy
- He's quite stalkish (writing 365 letters without one single reply?) 

Howl from "Howl's Moving Castle"


Why would I date him?

+ He's charming and charismatic
+ He's loyal
+ He's brave 
+ He really tries hard to build Sophie's confidence

Why would I not date him?

- He's a playboy
- He's a bit reckless
- He can be vain and selfish sometimes
- He (used to) pay too much attention on his appearance

Mr. Fitzwilliam Darcy from "Pride & Prejudice" (2005)


Why would I date him?

+ He's a generous (and gorgeous) man
+ He's filthy rich!
+ That deep voice with thick British accent...
+ He's willing to be a better person for the person he loves
+ He admits his mistake to Elizabeth

Why would I not date him?

- He's a stiff person
- He doesn't have sense of humor

Ranchoddas Shamaldas Chancad from "3 Idiots"

  
Why would I date him?

+ He's cunning, creative, talented, and genius
+ He's charming, charismatic, and confidence
+ He's brave
+ He's loyal
+ He has great sense of humor
+ He's quite humble
+ He's not too ambitious

Why would I not date him?

- He doesn't really think or see things from his friends' perspective
- He's not 100% truthful or trust his friends


Almost

John Bender from "The Breakfast Club"
Why did I not include him on the list? He's a bad boy  

Patrick from "The Perks of Being a Wallflower"
Why did I not include him on the list? He's gay

Harry Potter from Harry Potter series
Why did I not include him on the list? He really has serious hero issues

Edward from "Edward Scissorhands
Why did I not include him on the list? He's way too freaky for me

Alvy Singer from "Annie Hall"
Why did I not include him on the list? He's too awkward and bitter

Vincent Vega from "Pulp Fiction"
Why did I not include him on the list? He's a gangster  

Jumat, 21 Februari 2014

High Fidelity : An Allen-esque Romance-Comedy-Drama with Fun Soundtrack

I'm too tired not to be with you. -Laura

Bagi saya, John Cusack bukanlah aktor yang stand out.  Dia memang cukup tampan, tapi bukan tampan yang wow seperti Leonardo DiCaprio ataupun Tom Cruise.  Kemampuan aktingnya bagus, but not as legendary as Robert de Niro or as impressive as Johnny Depp.  Film-film terbarunya juga kurang meng-upgrade namanya. Tapi hal itu tidak membuat Cusack mempunyai 'jejak' tersendiri dalam dunia film.  Cusack meninggalkan 'jejak' yang cukup terlihat di dua filmnya, Say Anything (1986) dan High Fidelity (2000).

High Fidelity menceritakan Rob Gordon (Cusack) yang baru saja putus dengan pacarnya, Laura (Iben Hjejle).  Rob akhirnya membuat perubahan dalam daftar "Top Five Break-Up".  Rob merefleksikan hubungannya dengan mantan-mantannya dan bertanya-tanya apa yang salah dan why he was dumped.  Rob sendiri berusaha keras untuk bisa mendapatkan Laura kembali.  Hari-hari pencarian jawaban Rob ditemani oleh dua karyawan toko musiknya, Barry (Jack Black) dan Dick (Todd Louiso) yang mempunyai keanehan dalam masing-masing karakter.



High Fidelity adalah salah satu film yang memperlihatkan sisi realistis dalam hubungan romantis dan cinta antara pria dan wanita.  Kenyataannya, cinta tidak sempurna dan romantisme tidak akan bertahan lama.  Keyataannya, kita akan melakukan kesalahan yang mungkin sangat-sangat kita hindari.  Kenyataannya, kita bisa saja capek dengan hubungan yang kita jalani dan keinginan untuk 'seeing other people' tumbuh begitu saja.  High Fidelity memperlihatkan hal-hal itu dengan cara yang tidak depresif ataupun melankolis.  Stephen Frears menunjukkan hal-hal itu dengan kadar yang tepat dan membuatnya sangat relateable.  

Tidak seperti (500) Days of Summer yang menurut saya men-bias, High Fidelity menampilkan pria dan wanita dengan cukup adil.  Film ini menunjukkan tidak semua wanita pengertian, sabar, penuh kasih sayang, and all those bullshits, di sisi lain, tidak semua pria benar-benar brengsek, hanya ingin memainkan hati cewek, php, and all those shits.   Baik pria dan wanita mempunyai kelemahan dan melakukan kesalahan di film ini.  Walaupun film ini ditulis, disutradarai, dan menceritakan pikiran dan perasaan pria, film ini dibuat dengan objektif dan tidak hanya membuat karakter perempuan sebagai objek keinginan pria.  Just like Summer Finn, beberapa mantan Rob memang agak membingungkan dan sulit dipahami, tapi bedanya dengan Summer,mereka tidak sekedar tampil sebagai 'hiasan', mereka ada agar Rob menyadari kesalahannya dan memperbaiki hubungannya dengan Laura.


Not all of romantic relationship between man and woman experience forbidden love, social class difference, melancholic affair, abuse, etc.  Hubungan Laura dan Rob memang mengalami perbedaan kelas sosial dan perselingkuhan (dalam kadar yang cukup kecil) dan hal-hal itu yang secara tidak langsung membuat mereka putus.  Tapi Frears tidak meng-highlight permasalahan itu.  Laura dan Rob yang tadinya romantis  dan bahagia lama-kelamaan berubah.  Mungkin saja tadinya mereka percaya bahwa mereka akan baik-baik saja dan mereka tidak akan melakukan kesalahan fatal, tapi pada akhirnya ada beberapa kesalahan fatal yang mereka lakukan.  But the point is, they just simply tired and unhappy with each other, even before the damages were done.  Tidak mudah untuk melakukan komitmen dan tidak semua dari kita akan mengalami everlasting love atau apapun itu.  Kadang kita capek, bosan, dan berandai-andai apa yang terjadi jika kita 'bersama' orang lain.  


Bahkan terkadang kita tidak tahu posisi hubungan kita apa.  Setelah Laura memutuskan untuk tidak serumah lagi dengan Rob, ia harus mengambil barang-barang yang tertinggal di rumah Rob.  Hal ini menyebabkan mereka untuk bertemu lagi dan lagi.  Akhirnya Rob bertanya apa yang Laura lakukan dengan terus bertemu dengan Rob dan posisi atau status mereka sebenarnya apa.  Laura menjawab tidak tahu karena memang dia tidak tahu. 

Kemampuan akting Cusack dan Hjejle sangat bagus di film ini, begitu juga chemistry mereka.  Cusack mampu mengekspresikan kelabilan dan kegalauan seorang pria yang baru saja putus.  Hjejle sendiri sangat berhasil dalam memerankan seorang wanita yang capek dan tidak tahu bagaimana menghadapi mantan.  Jack Black dan Todd Louiso juga mampu memberikan kesan tersendiri dalam film ini.  

Hal yang paling mencolok dalam film ini adalah musik-musiknya.  Begitu banyak lagu-lagu rock atau indie yang dimainkan di film ini.  Tidak hanya itu, penulis skrip High Fidelity juga memasukkan berbagai refrensi film dan musik dalam dialog-dialognya.  Anyway, entah kenapa saya berpikir bahwa film ini mirip dengan Annie Hall dan cukup dipengaruhi oleh gaya Woody Allen.  Lihat saja bagaimana film ini langsung "breaking the fourth wall" dengan cara si tokoh utama berbicara langsung dengan penonton, Annie Hall dan High Fidelity berjalan dengan alur yang non-linear, dan film ini juga menceritakan pria yang bertanya-tanya dimana dan apa yang salah dari hubungan cinta mereka.

Salah satu hal yang saya pelajari dari High Fidelity adalah bahwa pacaran, komitmen, dan cinta tidak seindah dan semudah yang kita bayangkan.  Akan selalu ada kesalahan yang kita lakukan, even the kind of mistakes that we swear we won't do.  Juga akan ada perasaan letih, bosan dan berandai-andai.  Yang kita bisa lakukan hanyalah merekfleksikan dan belajar dari kesalahan itu, dan berusaha menjalani sebuah hubungan dengan lebih baik.  

Overall, High Fidelity menawarkan sisi realistis hubungan romantis antara pria dan wanita dengan ringan dan berbagai lagu keren. 9/10

Jumat, 03 Januari 2014

Secret Sunshine : A Mother's 'Rollercoaster' After Her Son's Death


Menurut wikipedia, Lee Chang-dong adalah salah satu sutradara terkemuka di Korea.  Saya belum menonton filmnya yang paling terkenal, yaitu Poetry (2010), dan Secret Sunshine (2007) adalah film pertama Lee yang saya tonton.  Film ini meraih berbagai penghargaan film internasional, dan yang paling besar adalah Cannes Film Festival kategori Best Actress untuk Jun Do-yeon.  Secret Sunshine juga dinominasikan Palme D'or, salah satu penghargaan film terbesar di dunia.  Apa yang menyebabkan Secret Sunshine menerima banyak penghargaan dan pujian?

Film diawali dengan Lee Shin-ae (Jun Do-yeon) yang pindah ke kota Miryang bersama putranya.  Shin-ae pindah ke Miryang karena almarhum suaminya yang baru saja meninggal, ingin sekali pindah ke Miryang, kampung halamannya.  Di perjalanan, mobil Shin-ae rusak dan harus diderek.  Orang yang membantunya adalah warga Miryang sendiri yang bernama Kim Jong-chan (Song Kang-ho).  Meskipun Shin-ae tidak terlalu memperhatikan Jong-chan, Jong-chan bersikeras untuk membantu Shin-ae dan anaknya.  Shin-ae memulai hidupnya dengan membuka les piano sambil mencari tanah untuk investasi.  Usahanya untuk memulai kembali mengalami kemunduran karena putranya diculik.  Tragisnya lagi, putranya tetap dibunuh walaupun Shin-ae telah menyerahkan uang tebusan.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


I thought Secret Sunshine is another Korean revenge flick.  It's also not a very 'sunshine' (happy) movie.

Kadang-kadang saya bertanya apa yang terjadi jika Dae-su (Oldboy, 2003) pasrah saja atas keadaannya, atau jika Geum-ja (Lady Revenge, 2005) tidak memiliki bantuan untuk membalas dendam pada penculik anaknya.  Saya rasa Lee Chang-dong memberikan salah satu jawaban lewat Secret Sunshine.  Secret Sunshine menceritakan ibu biasa yang tidak mempunyai combat skill, koneksi dengan mantan tahanan, ataupun obsesi dan keahlian yang luar biasa untuk membalas dendam pada pembunuh anaknya.  Dia hanya bisa diam, berkabung, dan meneriakkan rasa ketidakadilan atas kematian anaknya.  Hanya tiga hal itu yang bisa ia lakukan.  

Iman, lebih tepatnya iman Kristiani, menjadi salah satu tema film ini.  Untungnya Lee memberikan sedikit latar belakang iman Shin-ae, yang boleh dibilang ateis (tidak percaya Tuhan).  Saya sangat menyukai adegan restorasi iman yang dialami Shin-ae, dimana ia menangis keras lalu sang pendeta, tanpa menanyakan apapun, memegang kepalanya dan mendoakannya.  Bukan menasihatinya, tapi mendoakannya.  Film ini memberikan pesan bahwa ketika kita berusaha untuk lebih dekat kepada Tuhan, beban kita akan lebih ringan dan batin kita akan lebih tenang.  Saya senang mendengar beberapa lagu gereja dinyanyikan di film ini, salah satunya versi Korea "Sebab Dia Hidup", walaupun hanya sebentar.  Film ini tidak hanya berbicara restorasi dan kekuatan iman, tapi juga menceritakan pergulatan iman yang bisa terjadi dimana saja, termasuk dimana saja.  Lee Chang-dong menunjukkannya dengan cara yang unik.  Ketika seorang pendeta sedang berdoa atau mungkin berkotbah, Shin-ae mengacaukan audio system dan memutar lagu yang bercerita tentang kebohongan.  Bisa dilihat ada beberapa jemaat yang berdoa lebih keras (karena takut iman mereka jatuh) dan relawan yang langsung membimbing beberapa jemaat.  Serangan bisa terjadi dimana saja, bahkan di tempat dan saat yang sangat tidak terduga.    

Entah sengaja atau tidak, Lee memberikan aspek psikologi dalam film ini.  Saya menduga Shin-ae mengalami major depressive disorder setelah kematian anaknya dan mengalami bipolar disorder.  MDD adalah low mood dan hilangnya keinginan untuk berbahagia yang berkepanjangan, yang biasanya disebabkan oleh pengalaman traumatis psikologis.  Salah satu pengalaman traumatis psikologis adalah kematian orang terdekat.  Bipolar disorder kira-kira dipicu oleh kenyataan bahwa pembunuh putranya sudah menemukan kedamaian sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Itu membuktikan Shin-ae belum sepenuhnya memaafkan pembunuh putranya, ia ingin agar pembunuh itu menderita dan dihantui perasaan bersalah sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Bipolar disorder terlihat ketika Shin-ae mulai mencuri CD, menggoda suami temannya, mengira putranya masih hidup, sampai tidak sadar telah melukai tangannya.  


100 thumbs up for Jun Do-yeon.  Dia berhasil sekali mengekspresikan pasang dan surut emosi seorang ibu, yang makin labil setelah ditinggal anaknya.  Dia bisa menjadi seorang malaikat dan tiba-tiba menjadi wanita jalang atau wanita yang dingin.  Anyway, saya rasa fondasi hubungan ibu-anak di film ini kurang kuat.  Cukup, tapi kurang kuat.  Saya mempunyai ekspetasi lebih kepada Song Kang-ho, namun mungkin karena perannya yang hanya sebagai karakter pembantu, mempersempit peluang untuk mengeksplorasi dan mengimprovisasi karakternya.  Tadinya saya kira dia akan menjadi detektif atas kasus penculikan anaknya Shin-ae, haha.

Untuk sisi teknis, saya kurang menyukai musik temanya, tapi saya menyukai iringan musik lainnya.  Film ini menggunakan shaky cam, untuknya guncangan tidak terlalu menganggu.  Sepertinya Lee kurang 'bermain' di sisi pewarnaan, sehingga terkadang film ini terasa sedikit plain.  Anyway, saya rasa ending-nya yang ambigu memberikan pesan bahwa apapun yang terjadi, ketika kamu masih hidup, maka duniamu tetap akan berputar dan melanjutkan aktifitasnya.

Secret Sunshine tidak menceritakan tentang misteri, tidak juga menceritakan balas dendam yang keji dan berdarah-darah.  Film ini bercerita tentang perjalanan batin seorang ibu yang ditinggalkan anaknya dengan sentuhan mentah namun indah, emosional namun tidak lebay.  Although there's a depressing atmosphere, it's still a beautiful movie.  9,5/10     

pic cr :
lifesanadventure2.wordpress.com
filmfestivaltourism.com
timeout.com