Kamis, 28 Agustus 2014

The Kings of Summer

...and be our own man. -Joe Toy
cinemaforensic.com
I love coming-of-age films.  I don't experience the best in my high school and junior high school, but I really enjoy coming-of-age films.  Apalagi kalau yang main cowok-cowok ganteng, bisa jadi waktu fangirling dah.  Sayang nih pelem kagak ada cowok ganteng kayak Leo di Basketball Diaries.

The Kings of Summer merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2013 yang sempat nangkring di Sundance Film Festival.  Film ini disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dan ditulis oleh Chris Galletta.  Film berdurasi 94 menit ini mendapat respon yang cukup positif dari para kritikus film.

Joe Toy (Nick Robinson) merasa sumpek dengan kelakuan ayahnya, Frank (Nick Offerman) yang dirasa terlalu mengontrolnya.  Di sekolahnya, Joe juga mengalami bullying, bahkan ia dipermalukan di depan gadis yang ia taksir, Kelly (Erin Moriarty).  Teman Joe, Patrick (Gabriel Basso) juga merasa tertekan oleh sifat orang tuanya yang aneh dan anggapan mereka bahwa Patrick masih anak kecil.  Ketika emosinya memuncak, Joe merencanakan untuk membangun sebuah rumah di dekat hutan.  Joe mendapatkan ide lokasi rumahnya setelah ia 'berjalan-jalan' dengan Biaggio (Moises Arias), seorang bocah eksentrik.  Mereka bertiga setuju untuk membangun rumah secara diam-diam dengan peralatan dan perlengkapan seadanya.  Setelah rumah itu selesai, mereka segera meninggalkan orang tua mereka dan hidup di tengah alam.

emptykingdom.com
Kalau dari segi cerita, entah kenapa film ini mengingatkan gue dengan My Neighbor Totoro.  Mungkin karena kedua film ini latar tempatnya tuh di hutan dan kurang mengandalkan konflik dan tensi.  Memang ada beberapa konflik, tapi konflik-konflik itu diperlihatkan dengan kurang intens dan penyelesaiannya cenderung cepat.  Sebagian besar film diisi dengan keseharian dan petualangan mereka di hutan, sama seperti film My Neighbor Totoro.      

The Kings of Summer juga agak berbeda dengan film coming-of-age lainnya.  Film ini tidak membicarakan first kiss, losing virginity, bullying, status quo, dan hal lainnya secara intens.  Malah hal-hal itu boleh dibilang menjadi side story saja.  Galleta menuliskan cerita tentang tiga orang remaja yang memaksa diri mereka untuk dewasa.  Joe, Patrick, dan Biaggio 'mewakili' remaja-remaja yang sudah tidak tahan lagi untuk pergi dari rumah mereka.  Mereka hanya berfokus pada kebebasan yang ditawarkan di luar rumah.  Mereka lupa bahwa jika mereka sudah di luar rumah, mereka tidak bisa lagi bergantung pada orang tua mereka.  Seiring berjalannya waktu, Joe, Patrick, dan Biaggio sadar bahwa no parents dan kebebasan tidak seenak yang mereka kira.  Mereka harus berjuang lebih keras tanpa orang tua mereka walaupun mereka belum dewasa.  Usaha mereka untuk menjadi pria akhirnya sia-sia karena pada dasarnya mereka masih remaja dengan sedikit pengetahuan dan pengalaman.

SPOILERNYA MULAI YAAA

filmsandpies.blogspot.com

Gue cukup menikmati petualangan-petualangan yang mereka bertiga alami.  Sayang petualangan itu harus diakhiri dengan cinta segitiga yang klise dan pengen bikin gue muntah.  Bitch please, even The Breakfast Club didn't do love triangle stuff.  Tapi di sisi lain, cinta segitiga ini justru memperlihatkan sisi realistis persahabatan: your best friends don't always sacrifice and or stick for you.  Hollywood sangat sering memperlihatkan kita sahabat-sahabat yang too nice and too selfless while not all of us are blessed with that kind of best friend.      

I don't know about you, but I don't like the actors.  Bukan karena mereka gak ada yang seganteng Judd Nelson kok, tapi mereka memberikan aura awkward di sepanjang film.  Pokoknya gue merasa canggung lihat akting mereka, apalagi aktingnya si Nick Offerman, yang gak bisa meyakinkan gue kalau dia tuh lagi khawatir atau marah.  Beberapa blogger film memuji aktor-aktornya, tapi gue tetap merasa canggung nonton mereka akting.  Kalau dari segi individual aja udah awkward, apalagi waktu berinteraksi dengan tokoh lainnya kan?  Di film ini, ceritanya sih Patrick dan Joe udah temenan dari kecil.  Tapi gue rasa mereka bukan temen sejak kecil, melainkan temen dari SMP yang suka bercanda, bukan yang deket-deket banget.  Sebenarnya gak apa-apa sih kalau ceritanya Joe dan Patrick tuh baru deket waktu SMA, tapi di film ini Joe dan Patrick sudah temenan dari kecil dan Nick Robinson serta Gabriel Basso tidak bisa menunjukkan bahwa they've been pals since they used diapers.

Hal terbaik dari film ini jelas sinematografinya.  Gue suka banget pewarnaan yang digunakan di film ini.  Latar hutan dengan pepohonan rindang melakukan duet yang harmonis dengan sinematografi film ini.  *komen gue hiperbola ya*  Ada juga beberapa adegan slow motion yang gue personally kurang suka, tapi keren juga sih.  Namun, gue kurang suka jenis musik yang digunakan di film ini.  The music is too modern and edgy for me.  Gue pribadi bakalan lebih suka kalau film ini pake lagu-lagu alternative atau rock tahun 80an sampai 90an.

Overall, the film is pretty forgettable for me because the film is not as fun and passionate as I expected.  The story has some messages, but story with less enormous conflict is not everyone.  Oh, the jokes are as fresh as Stewart's acting in Twilight.  I only like the jokes that are told by Joe's dad.  6,7/10  


Sabtu, 16 Agustus 2014

Submarine (2010)

I often imagine how people would react to my death. -Oliver Tate
dwhs.co.uk

Submarine merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2010.  Film ini disutradarai dan disutradari oleh Richard Ayoade.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Joe Dunthorne.  Film berdurasi 97 menit ini diputar di berbagai festival film dan mendapat respon yang positif dari para kritikus film.

Oliver Tate (Craig Roberts) suka sekali menyendiri karena menurutnya dengan menyendiri ia mempunyai waktu untuk merenungkan berbagai hal.  Suatu hari, Oliver mendorong Zoe, seorang korban bully ke genangan airDihantui rasa bersalah, Oliver menulis surat untuk Zoe.  Ternata ia tertangkap basah oleh Jordana Bevan (Yasmin Paige), seorang gadis yang juga tidak populer seperti Oliver.  Jordana memeras Oliver dengan menyuruh Oliver untuk membawa kamera dan diarinya ke suatu tempat.  Ketika mereka bertemu, Jordana langsung mencium Oliver sambil memfoto momen itu.  Ternyata, Jordana melakukan itu untuk membuat mantan pacarnya cemburu.  Namun rencana itu malah backfire dan membuat Oliver menjadi pacar Jordana.

Di saat yang sama,orang tua Oliver yaitu Lloyd (Noah Taylor) dan Jill (Sally Hawkins), mengalami perguncangan dalam pernikahan mereka.  Pernikahan mereka semakin terguncang ketika Jill menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya, Graham (Paddy Considine).  Oliver berpikir keras untuk menyelamatkan pernikahan orangtuanya sekaligus menghibur ayahnya.  Namun permasalahan Oliver bertambah ketika ibu Jordana terkena kanker.  

SPOILER ALERT!

randomlifeblog.com
I didn't expect much from Submarine.  Gue kira Submarine tuh jenis film sok quirky dan cute, penuh percakapan sok filosofis, and that's it.  Ternyata gue salah.  

Joanna, Oliver, and the relationship between them

Hal yang gue kurang suka dari tokoh-tokoh quirky tuh betapa jarangnya mereka menunjukkan empati dan terkadang mereka terlalu disconnected dengan dunia sekitar mereka.  Oliver tuh tokoh yang quirky, tapi dia masih mampu untuk menunjukkan bahwa dia masih terhubung dan peduli dengan realita di sekitarnya.  Hal itu ditunjukkan bagaimana ia berusaha untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya dan surat permintaan maafnya untuk Zoe.  Sama seperti tokoh quirky lainnya, Oliver mengalami kesulitan dalam mengelola emosinya.  Oliver berusaha untuk dekat dengan Jordana secara emosional dan fisik, namun Jordana menolak usahanya.  Namun ketika Jordana yang melakukan hal-hal itu, Oliver justru menolak usaha Jordana karena ia berpikir bahwa Jordana menjadi semakin sensitif dan emosional.  Hal paling disturbing yang pernah dipikirkan Oliver tuh ketika ia mendapat ide untuk membunuh anjing Jordana dengan tujuan 'menyiapkan' sang pacar untuk kematian ibunya.  Dude, it's fine if you're quirky or neurotic, tapi gak segitunya juga.

Jordana sendiri juga bisa menunjukkan bahwa dia masih connected dan peduli dengan dunia sekitarnya.  Ini ditunjukkan lewat bagaimana ia tidak ragu-ragu untuk menghibur ayahnya yang sedang menangis.  Gue rasa Jordana agak takut untuk emotionally attached atau benar-benar peduli dengan seseorang di luar keluarganya.  Karena itu ia bersikap agak dingin dengan Oliver di awal film.  Hal yang gue suka dari Jordana adalah bahwa alasannya untuk marah dan putus dengan Oliver tuh jelas.  Cewek mana yang gak marah kalau pacarnya tuh lupa janjinya terus gak melakukan komunikasi selama berhari-hari?

Gue memperhatikan bahwa Jordana dan Oliver tidak pernah bertukar kata cinta atau bahkan memuji satu sama lain.  Hal ini membuat gue tidak keberatan dengan kecepatan hubungan antara Jordana dan Oliver.  Ini juga membuat hubungan antara Jordana dan Oliver bukanlah hubungan quirky yang pretensius.  Yang terjadi di antara mereka hanyalah sparks dan ketertarikan.  Awalnya, mereka tidak ingin melibatkan perasaan atau hal-hal romantis yang berlebihan, karena mereka hanya menginginkan kesenangan dan easy relationship.  Hubungan mereka memang pada akhirnya tambah serius, namun peningkatan keseriusan dalam hubungan mereka tidak meroket mendadak.  Tidak ada pula hal-hal cengeng dan angst yang berlebihan pada akhirnya.

sosreelthoughts.com

The Irony

Menurut gue agak ironis bahwa Oliver berusaha menyelamatkan pernikahan orang tuanya sedangkan ayahnya bersikap pasrah.  Ironis juga bagaimana Oliver terlalu berfokus pada pernikahan orang tuanya sehingga hubungannya dengan Jordana malah berantakan.  Keironisan ini sepertinya bisa me-mislead penonton, karena dua kasus ini berakhir bahagia and I think that fact is too good to be true.  Keironisan ini juga menunjukkan sifat manusia yang ingin mengontrol atau memperbaiki kehidupan orang lain tanpa menjaga kehidupannya sendiri.

Technical Stuffs   

Sinematografinya cute dan bagus banget, as expected from music video director.  Latar tempat yang indah juga mendukung sekali sinematografi dan visual stuffs di film ini.  Latar tempat yang gak romantis pun akhirnya jadi romantis gara-gara film ini.  Gue suka banget bagian dimana Oliver membayangkan bagaimana jika kehidupannya difilmkan dan juga seandainya kematiannya diberitakan di televisi.  Ketika aktor berbicara dengan background berwarna hitam, gue jadi teringat film Le Gai Savoir.  

Terima kasih untuk siapapun yang milih Alex Turner dan Andrew Hewitt untuk mengurus departemen musik di film ini.  Gue tertarik nonton film ini gara-gara nonton fanmade video Stuck on a Puzzle.  Lagu itu lagu favorit gue dari album soundtrack Submarine.  Intronya yang unik dan sangat menghantui langsung membuat gue muterin tuh lagu jutaan kali.  Sebenarnya lagunya bagus semua dari tuh album.  Gak ada lagu yang gue benci dari awal film sampe ending credit.

Aktingnya bagus.  Gak ada aktor yang spektakuler dari Submarine, tapi semua aktor mampu memerankan tokoh masing-masing dengan natural.  Aktor terbagi gue sih Yasmin Paige karena tokohnya mempunyai berbagai dimensi.  Dimensi yang bermacam-macam inilah yang membuat Paige memperlihatkan kemampuannya untuk berakting.  Ekspresi yang dibuat Paige juga cukup variatif.  Craig Roberts juga berakting dengan natural, namun ekspresi wajahnya cukup monoton di sepanjang film.  Mungkin emang dari sononya alias skrip film.

Overall, Submarine is more than a cute film and surprisingly is more realistic than the usual quirky movies. 9,2/10   

 

Rabu, 06 Agustus 2014

The Rocky Horror Picture Show

So I'll remove the cause, but not the symptom. -Frank n Furter
drafthouse.com

Rocky Horror Picture Show merupakan film cult dengan genre musikal, komedi, dan horor.  Film berdurasi 100 menit ini disutradari oleh Jim Sharman dan ditulis oleh Richard O' Brien.  O'Brien tidak hanya menulis skrip film ini, tapi dia juga ikut menulis semua lagu.  Saat Rocky Horror Picture Show diputar di bioskop di Amerika, beberapa orang berulang-ulang kali menonton film ini.  Namun menurut kritikus film, Roger Ebert, RHPS boleh dibilang diabaikan sebagian besar orang.  Akhirnya, film ini diputar ulang di sebuah Midnight Cinema dan banyak orang mencoba untuk 'meniru' RHPS lewat cara berdandan ataupun mengadaptasinya menjadi drama di teater.  

Janet (Susan Sarandon) dan Brad (Barry Bostwick) baru saja bertunangan.  Mereka dalam perjalanan menuju salah satu teman Brad ketika mobil Brad mogok.  Hujan turun dan mereka memutuskan untuk mencari pertolongan di kastil yang mereka lewati.  Kedatangan mereka disambut oleh Riff Raff (O'Brien), Magenta (Patricia Quinn), dan Columbia (Nell Campbell).  Mereka merasakan aura aneh yang ada di kastil tersebut.  Perasaan aneh tersebut semakin menjadi-jadi ketika Dr. Frank N. Furter (Tim Curry), a so-called transvestite.  Sang dokter mengajak Brad dan Janet untuk melihat ciptaannya dengan fisik yang nyaris sempurna, Rocky Horror (Peter Hinwood).  Seiring berjalannya waktu, banyak kejadian aneh terjadi di tempat tinggal Dr. Frank.


rhps-paris.fr
Pengalaman menonton RHPS tidak semenyenangkan yang gue kira.  Setelah membaca beberapa resensi dan melihat beberapa stills film ini, gue kira gue bakalan ngefans berat sama filmnya, ternyata gak.  Why?

Pertama, sebagian besar *atau mungkin semua* lagu-lagu film ini dipengaruhi oleh gaya punk.  Nah, lagu-lagu punk biasanya dinyanyikan dengan cara berteriak atau bahkan berbicara, dan tidak dinyanyikan dengan cara menyanyi biasa.  Kalau kagak ngerti, dengerin aja lagu-lagunya The Sex Pistols.  Gue kurang suka sama lagu-lagu punk karena lagu-lagunya gak catchy atau cukup susah untuk dinyanyikan.  Gaya punk dalam soundtrack RHPS justru menyebabkan gue kurang bisa menikmati filmnya.  Lagu yang bener-bener gue suka cuma Hot Pattotie dan lagu yang gue suka aja tuh Science Fiction/Double Feature dan Time Wrap.  Bagian paling awkward tuh ketika gue dengerin Touch-a, Touch-a, Touch-a, Touch me.  That song is so awkward and Susan Sarandon's shrill voice doesn't help.  Call me prude, but that song is f**kin awkward for me.  Somehow, tuh lagu agak mengingatkan gue sama lagu dangdut gak jelas.

Siapapun yang menganggap RHPS itu film horor jelas kagak pernah lihat aktingnya jupe ataupun ngelihat pidatonya wowo.  Gue kira bakalan banyak adegan berdarah-darah, gak tahunya nih film sejinak De Syaining.  Gue jadi agak kecewa karena gue udah mengharapkan unexpected murders or bloody murders.  Walaupun unexpected murders gak banyak di film ini, RHPS masih punya segudang unexpected things sepanjang film.  Unexpected things itulah yang membuat RHPS menjadi film yang cukup fun.        

whoisthemarchking.blogspot.com

Bicara soal bagian akting, Tim Curry jelas aktor yang paling stand-out di film ini dan aktingnya emang hebat banget.  He can be bitchy sassy, playful, or even adorable in this movie.  Frank N. Furter juga tokoh favorit gue dari film ini.  Biasanya, lelaki gay atau biseksual yang suka berdandan sebagai perempuan tuh terlalu lemah lembut nan gemulai, contohnya Kurt dari Glee.  Cukup sedikit dari lelaki gay jenis ini yang mempunyai kekuatan dan karisma.  Frank N. Furter yang diperankan oleh Curry mempunyai dua hal itu.  Adegan yang paling menunjukkan bahwa ia mempunyai kekuatan adalah ketika ia membunuh seseorang.  Kalau karismanya?  For me, he's charismatic throughout the film.  

Kalau aktris terbaik di film ini bagi gue sih Patricia Quinn.  Sama seperti Frank N. Furter, Magenta yang diperankan Quinn juga mempunyai kekuatan dan karisma.  Hal ini yang membuat Magenta lebih menonjol dibandingkan Riff Raff dan Columbia bagi gue.  Yang membuat Riff Raff kurang menonjol dibandingkan Magenta adalah postur tubuhnya yang membungkuk dan Quinn berakting lebih baik ketimbang O'Brien.  Sedangkan Columbia mempunyai sifat yang lebih lemah (sedikit) daripada Magenta.  Susan Sarandon, I really love you in Enchanted but why are you too dramatic for my taste in this movie?!  Waktu si Janet pingsan, gue pengen banget lempar kolor ijo ke dia saking gedek ngelihat aktingnya.

Applause but Sue Blane, orang yang mendesain kostum-kostum di film ini dan siapapun yang mendesain props yang digunakan di RHPS.  They are cool and unique!  Mungkin kelihatan norak tapi tetap aja barang-barang dan kostum yang digunakan di film ini tuh unik dan iconic.

Overall, The Rocky Horror Picture Show is a unique and offbeat musical-horror-comedy film.  I really recommend it so you guys can experience something different from a film. 8/10 

 

      

Sabtu, 19 Juli 2014

Chungking Express

I'm no different from a can of pineapple. -He Qiwu
reykissna.blogspot.com

Film Chungking Express merupakan film drama Hong Kong tahun 1994 yang disutradarai dan ditulis oleh Wong Kar Wai.  Film ini merupakan film pertama Wong Kar Wai yang gue tonton.  Film berdurasi 98 menit ini merupakan salah satu karya Wong yang terkenal. 

Chungking Express dibagi dalam dua segmen.  Pada segmen pertama, He Qiwu (Takeshi Kaneshiro) patah hati karena baru saja putus dengan pacarnya.  Ia bersumpah untuk memakan 30 kaleng nanas yang expired pada tanggal 1 Mei jika ia tidak mantan pacarnya tidak menerimanya kembali.  Di suatu bar, ia bertemu dengan seorang wanita misterius (Brigitte Lin) yang memakai wig pirang.  Wanita misterius itu merupakan seorang drug dealer yang ditipu oleh pekerjanya.  Untuk mengusir rasa kesepiannya, He Qiwu berusaha memikat si wanita misterius itu.

Pada segmen kedua, seorang polisi dengan nomor 663 (Tony Leung) berlangganan di suatu snack bar.  Salah satu pekerja snack bar, Faye (Faye Wong), merasa tertarik kepada polisi itu.  Polisi ini baru saja putus dengan pacarnya yang bekerja sebagai pramugari.  Si pramugari sempat menetipkan surat dan kunci apartemen mereka kepada paman Faye, yang juga bekerja sebagai bos.  Faye memutuskan untuk 'menghibur' si polisi dengan diam-diam membersihkan rumahnya dan memberikan suasana baru pada rumah si polisi.  Setiap kali si polisi datang ke rumah, Faye akan bersembunyi.

graffitiwithpunctuation.net
Beberapa orang mungkin memuji adegan pembuka film ini, but frankly, I don't like it.  Adegannya memusingkan dan bikin mata gue sakit.  Gue juga kurang ngerti apa yang ingin disampaikan Wong Kar Wai lewat teknik kamera seperti itu.  Mungkin adegan itu bersifat eksperimental?  Atau mungkin adegan itu melambangkan bagaimana manusia tidak mampu melihat beberapa hal dengan jelas?  Whatever that scene means, that scene made me dizzy.

At first, gue bingung maksud cerita Chungking Express itu apa.  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, cerita film ini simpel kok.  Menurut gue, Chungking Express agak mirip dengan Blue Velvet, karena ada beberapa orang yang gak ngerti cerita dua film ini, padahal kedua film ini ceritanya simpel.  Terkadang, beberapa penonton berpikir kejauhan padahal konsep filmnya simpel.  Cerita dari Chungking Express hanyalah dua polisi yang patah hati lalu menemukan seorang wanita.  


Tokoh yang diperankan Brigitte Lin langsung memikat gue.  Tokohnya Brigitte Lin mempunyai aura misterius dan karisma yang langsung menarik perhatian gue.  Tokoh yang diperankan Brigitte Lin pun juga tokoh yang paling dewasa dalam menghadapi masalahnya.  Ketika ia ditipu oleh pekerjanya, ia tidak melakukan aksi konyol seperti He Qiwu, ia tidak berbicara dengan boneka seperti polisi 663, ia juga tidak bersembunyi dari masalahnya seperti Faye.  Gue memprekdisikan Brigitte Lin sulit untuk mengekspresikan tokohnya karena ia menggunakan kacamata hitam di sepanjang film.  Namun, dia tetap berakting dengan bagus lewat monolog dan dialognya, serta bahasa tubuhnya.

Faye is one of those Manic Pixie Dream Girls.  Gue kurang suka tokoh-tokoh seperti itu, karena mereka terasa pretensius.  Bagi gue, Faye hanyalah boneka quirky.  Dia hanya menghias film ini tanpa tujuan dan sifat yang jelas.

criterion.com

Sedangkan polisi 663 dan He Qiwu layaknya Tom Hansen yang labil gara-gara ditinggal ceweknya.  Secara umum, polisi merupakan orang-orang yang telah melewati latihan untuk menjadi disiplin dan menyelesaikan masalah.  Namun reaksi kedua polisi dalam film ini tidak jauh berbeda dari orang-orang biasa yang sedang patah hati.  Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa pada akhirnya, orang sekuat apapun tidak bisa kabur dari efek patah hati.  Tidak semua patah hati membuat kita melakukan hal-hal konyol, tapi patah hati memang bisa membuat kita berantakan dan melakukan hal-hal konyol.

Gue gak mengerti mengapa beberapa orang menganggap Chungking Express sebagai film romance.  Tidak ada emosi atau gairah dalam konteks romance antara empat tokoh utama dalam film ini.  Di cerita pertama jelas He Qiwu hanya mencari wanita untuk menyingkirkan rasa kesepiannya.  Si wanita misterius juga bersikap acuh tak acuh pada He Qiwu.  Sedangkan hubungan antara Faye dan polisi 663 adalah hubungan yang gue sebut sebagai quirky relationship.  Memang ada ketertarikan antara Faye dan polisi 663, namun interaksi antara mereka terasa aneh bagi gue.  Faye mengekspresikan simpatinya pada polisi 663 dengan membersihkan rumahnya.  Namun polisi 663 kurang mengekspresikan perasaannya kepada Faye.  Malah dia masih dibayang-bayangi oleh mantan pacarnya. Selain itu, gue rasa aneh aja kalau lo lebih memilih untuk bersembunyi daripada menghabiskan waktu dengan orang yang lo suka.  Mungkin Faye terlalu malu untuk berinteraksi dengan polisi 663?  Menurut gue, kalau rasa suka lo atau cinta lo kepada seseorang memang kuat, pasti itu mengalahkan perasaan malu lo.  So, apapun yang ada di antara Faye dan polisi 663 hanyalah ketertarikan atau saling naksir.       

Gue suka banget lagu-lagu dari film ini.  Lagu yang paling ngena sih California Dreaming, yang merupakan lagu kesukaan Faye.  Gue juga suka Dreams, tapi lebih suka lagu aslinya yang dinyanyikan oleh The Cranberries.  Sebenarnya sih lagu Dreams yang asli dengan yang di-cover oleh Faye Wong sama persis, hanya beda bahasa.  Di film ini, Faye Wong menanyikan lagu Dreams dalam bahasa Cantonese.

Seperti yang gue tulis sebelumnya, Chungking Express menceritakan kedua polisi yang sedang patah hati lalu menemukan wanita yang mengalihkan mereka dari rasa sakit mereka.  Film ini tidak menceritakan berbagai konflik ataupun memperlihatkan orang-orang yang sedang jatuh cinta.  Chungking Express menceritakan bagaimana takdir atau pilihan-pilihan kita bisa mempertemukan kita dengan orang tertentu when we least expect it.  It's not as great as I expected, but I still recommend it for people who want to see a unique film.  7,5/10 

 

Minggu, 29 Juni 2014

Selamat Pagi, Malam (In the Absence of the Sun)

Anggap aja ini New York. -Gia

Some of you maybe wondering how the hell I watched this film...

GUE NONTON NIH FILM BARENG NYOKAP, HAHA.   Beginilah nasib anak belum punya KTP.

Selamat Pagi, Malam merupakan film drama Indonesia tahun 2014 dengan durasi 98 menit.  Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi.  Film ini menarik perhatian movie-enthusiast di Indonesia karena topiknya yang cukup menarik.  Gue sudah melewatkan Jalanan and I somehow think that maybe by watching this film, I can redeem myself.  Or not.  Jujur, gue gak tahu banyak tentang Lucky Kuswandi, bahkan dia belum punya page di wikipedia Indonesia.  Akhirnya gue browsing di google dan nemu page-nya dia di imdb.com.  But enough with Lucky Kuswandi, let's talk about Selamat Pagi, Malam, shall we?

Gia (Adinia Wirasti) yang telah menetap di New York bertahun-tahun tidak lagi merasa Jakarta sebagai rumahnya ketika pulang. Apalagi ketika bertemu Naomi (Marissa Anita), soulmate-nya di New York yang telah lebih dahulu pulang ke Jakarta dan berkompromi dengan kemunafikan gaya hidup kelas atas Jakarta.
Indri (Ina Panggabean) berambisi untuk meng-upgrade kehidupannya yang pas-pasan sebagai penjaga handuk di gym dengan menemukan laki-laki kaya melalui chatting di smart phone cicilannya, tempat di mana identitas tidak lagi pasti.
Ci Surya (Dayu Wijanto), ibu rumah tangga yang dikenal hanya dengan nama suaminya, Koh Surya seorang pengusaha yang sukses. Ketika suaminya meninggal, hidupnya terasa tidak berarti. Apalagi ketika menemukan kalau selama ini Koh Surya mempunyai kekasih lain: seorang penyanyi bar bernama Sofia (Dira Sugandi).
Pada malam yang sama, kehidupan mereka berubah di luar rencana. (diambil dari 21cineplex.com).
SPOILERNYA DIKIT KOK, SUMPAH


Buat kalian yang belum punya KTP, coba deh nonton ini bareng orangtua kalian.  Dijamin gak nyesel.  Lumayan loh, kalian pasti dapat pengalaman baru gitu...

Film Selamat Pagi, Malam agak mengingatkan gue pada film Magnolia.  Kedua film ini sama-sama menceritakan beberapa tokoh yang punya suatu relasi, mengalami suatu perubahan dalam waktu kurang-lebih satu hari.  In In the Absence of the Sun's case, dalam semalam.  Gue baru tahu kalau gaya bercerita seperti ini disebut juga dengan interwoven.  

Kalau saya lihat, ketiga tokoh ini disatukan oleh suatu tema yaitu lifestyle.  Gia terheran-heran melihat lifestyle baru temannya, Ci Surya menemukan lifestyle yang cukup gelap setelah kepergian suaminya, dan Indri mencoba untuk beradaptasi dalam suatu lifestyle that she can't afford.  Kalau gue pribadi sih lebih tertarik dengan ceritanya Ci Surya dan gue berharap banget ceritanya dia lebih dikembangin.  Gue emang tertarik dengan cerita seberapa jauh dampak kematian bagi seseorang atau suatu kelompok.  Cerita Gia dan Indri membawakan aspek satir dan dramedy gaya hidup kelas atas Jakarta.  Cerita mereka berdua memang lebih bisa memancing tawa dari penonton.  Sumpah, entah kenapa gue ngakak melihat orang-orang pake tongsis, ngomongin rainbow cake, sampe pernikahan.  Fyi, gue sama sekali gak merasa tersindir nonton film ini, karena gue hampir tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang dijadikan ejekan disini, haha. 

Cuma gue agak bingung karena gue kurang bisa merasakan perubahan 'emosional' atau perubahan apapun dari mereka.  Gue hanya bisa merasakan 'perubahan' pada satu tokoh, dan tokoh itu sempat berinteraksi dengan Aming.  Jadi menurut gue, tiga tokoh utama di film ini melewati malam yang eventful, tapi sedikit sekali perubahan yang TERJADI, dalam diri mereka.  Perubahan dalam aspek pemikiran atau sikap kurang terlihat dalam dua karakter lainnya.   

Sinematografinya bagus sih, walaupun ada beberapa adegan yang gue kurang suka.  Bukan masalah kontennya, tapi dari range atau sudut pengambilan gambarnya.  Oh iya, SPM dibuka dengan montage kota Jakarta.  Jangan membayangkan montage-nya bakalan kayak pelem Midnight in Paris atau Manhattan karya Woody Allen.  Justru montage-nya memperlihatkan kota Jakarta sehari-hari.  Alias kota Jakarta yang macet dan sesak.   Gue juga berharap lebih banyak shot Jakarta malam hari.  Daripada memperlihatkan GI dan monas doang, kenapa gak meng-explore lebih banyak sisi kota Jakarta?


I don't like the English conversation between Adinia Wirasti and Marissa Anita.  Gak natural dan agak maksa.  Don't get me wrong, akting mereka berdua tuh sebenarnya bagus.  But I'm always turned off whenever I heard they talk in English.  Simply because it's awkward.  Sayangnya juga, chemistry antara Adinia Wirasti dan Marissa Anita kurang terasa.  Mereka terlihat maksa banget waktu lagi 'have fun'.  

 Ekspresi Dayu Wijanto bak ekspresi anggota DPR yang ngantuk dengerin presiden kita tercintah dan ekspresinya cocok banget dijadikan berbagai meme.  Gue gak terlalu familiar dengan Dayu Wijanto sehingga gue gak bisa membandingkan aktingnya dia di film lainnya.  Tapi gue rasa ekspresi Dayu Wijanto yang mirip peramal tarot sangar tuh disebabkan oleh skrip film yang membatasi cara dia untuk berekspresi.  Memang ada beberapa adegan dimana ekspresinya berubah, tapi sebagian besar adegannya dia ya gitu-gitu aja.  Atau mungkin Lucky Suwandi ingin memperlihatkan suatu unusual perspective seseorang yang baru ditinggal orang yang dicintai?  Biasanya kan orang yang baru 'ditinggal' tuh emosional, sering nangis, dll.  Sedangkan Ci Surya ini cenderung kalem, alias lebih banyak menyimpan di dalam.  Anyway, adegan dimana Dira Sugandi menyanyikan lagu terakhirnya kok kurang ngena ya bagi gue?  Suaranya sih bagus dan pencahayaan buat adegan itu bagus banget, tapi tetap aja adegan itu kurang ngena bagi gue.   Kalau aktingnya si Ina Panggabean menurut gue sih masih terasa akting (re: kurang natural). 

Overall, Selamat Pagi, Malam a.k.a In The Absence of The Sun is a funny and smart film that (maybe) will create bitter and cynical smile from your face.  The cinematography is great and there are some beautiful shots from Monas.  It's a shame that the acting department is not really spectacular.  8,3/10   

         

Rabu, 25 Juni 2014

Battle Royale (2000)

So today's lesson is...you kill each other off. -Kitano
ukhorrorscene.com
Battle Royale merupakan film Jepang tahun 2000 dengan genre distopia, thriller, dan action.  Film ini disutradarai oleh Kinji Fukasaku dan skripnya ditulis oleh anak Fukasaku, Kenta Fukasaku.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Koushun Takami.  Film dengan durasi 112 menit merupakan salah satu film yang paling kontroversial, sampai tidak ditayangkan di Amerika tahun 2000 yang lalu.  Namun, film ini merupakan salah satu film blockbuster di negaranya sendiri.  Battle Royale juga merupakan salah satu film favorit Quentin Tarantino.  

Film ini berlatar belakang di sebuah alternated universe dimana kelas sembilan dari sebuah sekolah di Jepang dipilih secara acak untuk mengikuti sebuah Survival Program.  Kelas Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) pergi ke sebuah pulau untuk mengikuti field trip.  Tapi field trip itu menjadi suatu mimpi buruk ketika kelas Shuya bangun dan mendapati mereka di suatu ruang kelas dengan 'kalung' di leher mereka.  Wali kelas mereka dua tahun yang lalu, Kitano (Beat Kitano) mengatakan bahwa mereka terpilih untuk mengikuti The Program.  Kelas mereka juga mendapat tambahan dua orang, Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) dan Shogo Kawada (Taro Yamamoto).  Sahabat Shuya, Yoshitoki Kuninobu (Yukihiro Kotani) dengan cepat terbunuh karena mencoba melawan Kitano.

Untuk mengingat temannya, Shuya berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Noriko Nakagawa (Aki Maeda), karena ia mengira bahwa Nobu menyukainya.  Kelas 9B dengan cepat membunuh teman mereka masing-masing.  Kazuo Kiriyama dan Mitsuko Souma (Kou Shibasaki) dengan cepat menjadi dua orang paling berbahaya.  Noriko dan Shuya beruntung karena bisa membentuk persekutuan dengan Shogo Kawada, salah satu orang yang juga harus diwasapadai.     

SPOILER ALERT!


Sorry guys, but I've never heard anything about Battle Royale before The Hunger Games, lol.  I'm not a big fan of THG, tapi kalau gak ada tuh film, mungkin gue juga gak bakal tahu Battle Royale.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara film dan manga Battle Royale.  Gue lebih suka komiknya.  Komiknya lebih bisa memasukkan beberapa detail dan lebih bisa mengikat pembacanya dengan tokoh-tokohnya, bahkan tokoh pembantu.  But I must admit emang sulit mengelola 42 tokoh ke dalam film, yang durasi maksimalnya dua jam.  Tapi untuk tokoh antagonisnya, si guru dan Kazuo, gue lebih suka versi filmnya.  Penampilan cowok-cowoknya pun gue lebih suka yang versi film, karena jauuuuuuuuh lebih ganteng *brb, fangirling dulu*.

Battle Royale merupakan Hunger Games yang jauh lebih mentah.  Sifatnya yang mentah ini entah membuat penonton merasakan 'keaslian' film ini atau membuat penonton malah gak suka.  Gue rasa bagi mereka yang menonton THG dan BR juga tahu bahwa THG merupakan 'adik' dari BR, baik dari segi umur maupun isi.  Tapi yang membuat BR lebih nyesek daripada THG adalah orang-orang di BR merupakan orang-orang yang telah belajar bersama minimal dua tahun.  Mereka udah kenal satu sama lain *at least kenal nama*, belajar bareng, main bareng, tapi akhirnya mereka jatuh pada tekanan dan membunuh satu sama lain.  Orang-orang di THG are literally strangers.  Battle Royale mendorong diri gue untuk 'berimajinasi' bagaimana kalau kelas gue ikutan acara beginian.  Tbh, I will either die early or suicide, lol.         


Battle Royale mengandung metafora bagaimana orang-orang dewasa mendorong anak-anak muda untuk berkompetisi, but in a bad way.  Tidak hanya kompetisi, tapi mereka juga mempunyai ekspektasi yang besar -dan kadang tidak masuk akal- pada kita.  Karena inilah banyak dari mereka yang jatuh dalam tekanan.  Not everyone, but most of them.  Yang lemah langsung mati, yang gak bisa membunuh temannya ya bunuh diri, ada yang kelewat ambisius makanya bunuh temannya, dan ada juga segilintir dari mereka bertahan dan menolak untuk mengkhianati temannya.   BR juga mengandung unsur black humor, terutama adegan dimana ada mbak-mbak yang menjelaskan Battle Royale ke kelasnya Shuya.  I think that scene is very funny and amusing.  Sikapnya yang penuh keceriaan dan semangat kontras dengan isi penjelasannya.  Anyway, gue kurang ngerti letak 'horor' dari Battle Royale.  Memang banyak pembunuhan yang dilakukan secara tiba-tiba, tapi gue gak merasa tegang sama sekali ketika nonton film ini.  Ada rasa terkejut, tapi gak ada tegangnya sama sekali.

I don't like Shuya and Noriko.  They are too naive for my liking.  Gue berpikir mereka stereotipe protagonis naif yang gak tahu diri, yang sok-sokan mau jadi pahlawan.  Tapi setelah gue merenung, ada kemungkinan juga watak mereka yang naif malah jadi sebuah mock bagi stereotipe itu sendiri.  Bagaimana pemikiran mereka yang naif tidak sejalan dengan realita yang mereka alami dan usaha mereka untuk menjadi pahlawan malah nihil karena mereka gak berhasil menyelamatkan orang lain.  


Gue kecewa pada Noriko karena karakternya tuh stereotipe cewek yang terlalu bergantung pada cowok.  Gue berharap karakternya dia mirip Takako Chigusa (Chiaki Kiriyama).  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, bukankah klise banget kalau Noriko sekuat Takako atau Mitsuko?  I mean, langsung kelihatan dong kalau Shuya dan Noriko pemenangnya.  I hate to admit it, tapi emang cewek membutuhkan cowok di bidang yang sangat membutuhkan kekuatan fisik.  Gue juga kecewa Shuya, baik dari aktor yang memainkan tokohnya maupun karakternya sendiri.  Flashback tentang Shuya yang diperlihatkan di film tetap gagal membuat gue jatuh hati atau bahkan bersimpati pada karakternya.  Mungkin karena flashback itu kurang kuat untuk memancing gue atau emang Tatsuya Fujiwara gak cocok jadi Shuya.  Gue juga kurang suka Shuya yang di komik, tapi Shuya di komik jauh lebih karismatik dan periang daripada yang di film. 

Beberapa orang gak suka dengan Noriko dan Shuya karena mereka bukan hanya naif, tapi juga terlalu hoki.  Seriously, mereka bakalan mati kalau gak ada Kawada.  Tapi gue rasa ini hanyalah semacam mock, lagi.  Superman, Harry Potter, Katniss Everdeen, they are not just heroes, but they are survivors.  Mereka jelas orang-orang kuat yang memang 'ditakdirkan' untuk menjadi pahlawan dan survivors.  Lalu apakah orang-orang yang lemah tidak punya chance untuk 'selamat'?  Tentu saja mereka bisa menjadi survivor....dengan sedikit keberuntungan.  Noriko dan Shuya memasuki sebuah situasi dengan waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dan membuntuk aliansi dengan Shogo.  Ini juga merupakan metafora dimana orang-orang yang sebenarnya lemah dan skill-nya tidak hebat, bisa selamat karena mereka mendapat keberuntungan.  

Kalau bicara departemen akting, gue memperhatikan kalau sebagian besar dari mereka tuh aktingnya matinya konyol banget.  Bukan cara mereka dibunuh, tapi aktingnya.  Doh, kok kayak film-film Hollywood jaman batu yang matinya tuh lebay dah.  Mereka mengatakan 'kata-kata perpisahan' terus menggerakkan kepalanya, terus mati deh.  Sumpah, gue pengen banting laptop gue kalau gue lihat ada yang mati kayak gitu.  Anyway, kenapa disini dua aktor utamanya yang mengecewakan ya?  Tatsuya Fujiwara aktingnya gak natural.  Maksa banget sumpah.  Gue merasa canggung banget waktu lihat beberapa adegan nangisnya yang...awkward.  Aki Maeda?  Gue gak tahu apakah aktingnya yang datar itu emang karena kemampuannya terbatas atau emang skrip film ini yang membatasi kemampuan aktingnya.  Aktor terbaik tentu saja Takeshi Kitano alias Beat Kitano.  Gue kaget juga ternyata dia ini sutradara, bukan aktor.  Dia berhasil memerankan seseorang yang karismatik, tapi tidak benar-benar keji seperti versi lain di komik.  Dia gak nangis atau memerankan seseorang yang psikopat, tapi Kitano memerankan karakternya dengan begitu natural.  Sayang banget Masanobu Ando tidak diberikan dialog ataupun monolog.  Masanobu jelas mempunyai potensial lebih daripada Fujiwara.  Dan gue lebih suka Kazuo Kariyama yang diperankan dia daripada versi manga, karena Kiriyama disini jauh lebih gila dan ekspresif.  

Sinematografinya cukup standard, tapi musiknya bagus banget, terutama di adegan pembukanya.  Film ini menggunakan beberapa musik klasik yang dimainkan oleh Warsaw Philarmonic Orchestra.  Tapi gue gak suka lagu buat ending credit-nya.

Overall, Battle Royale is an amazing dystopian film that full of surprising murders and blood.  The acting department maybe disappoint you, but the plot of this film is too amazing to be missed.  I recommend this film for you who like The Hungers Games and strong enough to watch bloody murders.  9/10   

 

Kamis, 19 Juni 2014

Black Butler (2014): A disappointing adaptation of "Kuroshitsuji"

I'm just...a devilish butler. -Sebastian Michaelis
eigapedia.com

Gue gak pernah baca komik Black Butler a.k.a Kuroshitsuji ataupun nonton anime-nya.  Tapi teman SMP gue ngefans banget sama nih komik, makanya gue tahu satu-dua hal tentang komik ini.  Black Butler merupakan film supernatural dan misteri Jepang 2014 yang disutradarai oleh Kentaro Otani dan Keiichi Sato serta ditulis oleh Tsutomu Kuroiwa.  Film ini merupakan live action yang diangkat dari komik Black Butler yang ditulis oleh Yana Toboso.  Durasi film ini sekitar 199 menit.

Film ini berlatar pada tahun 2020, dimana dunia terpisah menjadi "Barat" dan "Timur".  Ratu dari "Barat" pun mengirim 'mata-mata' ke seluruh dunia yang disebut Queen's Watchdogs.  Salah satu dari Queen's watchdogs itu adalah Kiyoharu Genpo (Ayame Gouriki).  Nama asli Kiyoharu adalah Shiori.  Ia merupakan satu-satunya putri pasangan Genpo yang dibunuh pada suatu malam.  Shiori selamat dan ia menyamar sebagai anak laki-laki haram ayahnya agar dapat menguasai seluruh aset keluarga Genpo.  Ia kembali dengan seorang pria yang bernama Sebastian Michaelis (Hiro Mizhushima)Sejak saat itu, Sebastian menjadi pelayan setia bagi Kiyoharu.  Sebenarnya Sebastian seorang setan yang melakukan perjanjian dengan Kiyoharu.  Kiyoharu menjual jiwanya kepada Sebastian agar ia bisa melakukan balas dendam bagi orang-orang yang telah membunuh orangtuanya.

Akhir-akhir ini, muncul kasus orang-orang yang berubah menjadi mumi.  Korban-korbannya merupakan orang yang punya jabatan di dunia politik.  Tapi polisi tidak bisa menemukan koneksi antara orang-orang yang dibunuh serta apapun yang menyebabkan mereka menjadi mumi.  Kiyoharu dan Sebastian pun menyelidiki kasus ini dengan sedikit bantuan dari bibi Kiyoharu, Hanae (Yuka).  Kasus ini malah menarik Sebastian dan Kiyoharu ke dunia gelap yang melibatkan obat-obatan dan terorisme.  Siapapun orang di balik ini semua, ternyata juga terlibat dengan pembunuhan pasangan Genpo.

eigapedia.com

What the hell is Genpo family?  Bukannya Ciel Phantomhive ini cowok?  Kok malah jadi cewek?!!!  Kok nama keluarganya beda?  Bukannya Black Butler setting-nya di jaman ratu Victoria gitu ya?!!

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan berbagai pertanyaan yang memenuh otak gue saat menonton film ini.  Tapi karena gue belum pernah baca dan nonton Kuroshitsuji, makanya gue melupakan pertanyaan-pertanyaan itu.  Sampai rumah, gue pun browsing tentang Black Butler dan ternyata live action ini emang agak beda dengan komik aslinya.  Karena gue bukan fans berat Black Butler, gue malah appreciate Tsutomu Kuroiwa yang berusaha agar film ini sedikit berbeda dari komik aslinya.  But does that mean I like this film?

First thing first, Sebastian Michaelis ganteng banget!!!!!!!!  Mau yang versi komik atau versi live action, dia ganteng banget sumpah!!!  Selama ini gue membayangkan Sebastian sebagai sosok yang karismatik, misterius, agak dingin namun punya sense of humor yang rada sarkastik.  Praise to the lord, Hiro Mizushima berhasil mewujudkan Sebastian impian gue!  Hal yang paling gue suka dari aktingnya Hiro Mizushima itu bukan facial expression-nya, tapi gesture dan intonasi suaranya.  Mizushima berbicara dengan cara yang anggun namun juga mempunyai unsur playfulness.  Gue rasa Mizushima berhasil memerankan sosok Sebastian Michaelis karena dia berhasil menarik perhatian gue, yang tadinya gak tahu apa-apa soal Sebastian Michaelis, malah tergila-gila sama dia sekarang.   Gue suka bagaimana penulis dapat menunjukan kesetiaan Sebastian, tapi di sisi yang lain, Sebastian tidak takut memainkan nyawa tuannya di waktu tertentu.  Meskipun Sebastian 'terikat' untuk melayani Kiyoharu, there's still a sense of independence from Sebastian.  Tidak hanya karena Sebastian lebih kuat daripada Kiyoharu, tapi ada sesuatu dari aura dan watak Sebastian yang membuatnya...agak bebas dan mandiri.

Ciel Phantomhive di otak gue merupakan sosok tuan muda yang karismatik, dingin, kaku, tapi juga agak pemalu.  Sayang, Ayame Gouriki gagal mewujudkan Ciel Phantomhive.  Atau mungkin karena Ciel Phantomhive yang di otak gue berbeda dengan Ciel yang di komik ataupun anime?  Oke, oke, Ayame Gouriki tidak berperan sebagai Ciel di film ini, tapi sebagai Kiyoharu Genpo.  Entahlah, bukankah orang yang memimpin suatu perusahaan besar dan mata-mata ratu harusnya mempunyai aura seorang pemimpin atau karisma yang besar?  Gouriki tidak memiliki unsur ini.  Bukan hanya itu, terkadang ekspresi Gouriki terlihat seperti dipaksakan.  Memang ada momen dimana aktingnya bagus, tapi ada juga momen dimana it's awkward to watch her.  Sayangnya juga, chemistry antara Gouriki dan Mizushima kurang terasa.   

Tapi untungnya hubungan antara Kiyoharu dan Sebastian tergali dengan cukup baik disini.    

theeoy.com
Waktu gue melihat ada mobil yang dikendarai dengan agak aneh dan di mobil itu ada mumi, somehow, gue mengira bahwa film ini merupakan pertemuan antara Confession (Kokuhaku) dan Battle Royale.  Artinya, film ini merupakan film misteri gelap bercampur dengan bunuh-bunuhan yang berdarah.  Sadly, Black Butler is far from Confession or Battle Royale.  Gue malah merasa agak bosan dengan film ini dan pengen cepat-cepat keluar dari bioskop.  Why?  Karena durasinya kepanjangan.  Kalau durasinya panjang tapi akting, plot, dan sinematografinya bagus sih yang jelas gak apa-apa.  But I think this film is mediocre.

Yes, there are some twists in this film, but overall, film ini gak punya cerita misteri yang 'menggigit'.  I don't really know why, pertama-pertamanya sih gue ngikuti dan kepo dengan misteri yang ditawarkan film ini.  Tapi lama-kelamaan gue males dan udah gak kepo lagi dengan misterinya.  Gue rasa karena twist yang ada di film ini malah backfire ke filmnya.  Beberapa twist agak nonsense bagi gue.  Karena ada terlalu banyak twist, gue malah mikir "masa bodo, suka-suka penulisnya aja".  Gue paling gak suka adegan dimana Kiyoharu dan Sebastian menghadapi dalang dari kekacauan yang terjadi di film ini.  Seriously, it's awkward to watch it karena aktor yang jadi 'si dalang' gak punya kemampuan akting yang kuat.  Nangisnya kelihatan maksa and the evil laugh is really awkward for me.    

Gue juga punya hubungan love-hate dengan sinematografinya.  Ada gambar-gambar bagus, tapi seringkali sinematografinya terasa biasa banget.  Gue rasa karena crew film ini jarang menggunakan long-range shot.  Kebanyakan adegan diambil dengan jarak yang pendek.  Sayang sekali aktor-aktor ini tidak punya skill yang sejajar dengan Jack Nicholson ataupun Meryl Streep.  Bukannya melihat aktor yang berakting dengan penuh emosional, kita malah melihat aktor yang ekspresinya maksa banget.  Nuansa gelap yang kurang dikontrol dengan baik juga membuat gue kurang suka dengan teknik sinematografinya.

Mungkin karena pengalaman musik Ghibli gue sangat bagus makanya gue berharap musik di film ini juga bisa menyaingi musiknya Joe HisaishiOh well, not everybody can be Joe Hisaishi.  Gue malah terkadang terganggu dengan musiknya, entah karena musiknya emang gak cocok dengan adegannya atau sound system bioskopnya yang jelek.

Unless you're a fan of Black Butler a.k.a Kuroshitsuji, I don't recommend this film for you.  The mystery is pretty good, but the other aspects of this film don't encourage me to keep watching this film.  The actors -other than Hiro Mizushima- are pretty awkward for me.  4,3/10