Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Minggu, 07 Januari 2018

A Brighter Summer Day



A Brighter Summer Day (牯岭街少年杀人事件, Youngster Homocide Incident at Guling Street) merupakan film drama yang berlatar di Taiwan pada awal tahun 1960-an. Film Taiwan berdurasi 237 menit ini disutradari oleh Edward Yang dan dirilis pada tahun 1991. Film yang merupakan bagian dari Taiwan New Wave ini sebenarnya loosely based on a true event dan menggunakan sekitar 100 aktor amatir. 

Semuanya dimulai ketika Zhang Zhen, atau Xiao Si'r (Chang Chen) tidak berhasil masuk sekolah siang dan terpaksa masuk sekolah malam. Apa yang ditakutkan ayah S'ir terjadi - S'ir jadi bergaul dengan anak-anak 'nakal'. Daerah di sekitar S'ir dikuasai oleh dua gang, yaitu Little Park Boys dan 217. Little Park Boys merupakan gang dari keluarga pegawai sipil sementara gang 217 merupakan gang dari keluarga militer. Meskipun Si'r bukan anggota gang manapun, ia lebih dekat dengan Little Park Boys. 

Ketika Honey, ketua Little Park Boys, bersembunyi dari polisi, ia meninggalkan kekasihnya, Ming (Lisa Yang). Absennya 'pemilik' Ming memicu lebih banyak konflik antara kedua gang tersebut dan menyeret Si'r ke dalamnya.



There are so many things to be discussed and unpacked in this masterpiece by Edward Yang. But first of all, I have to apologize as I know nothing at all about Taiwanese culture, language, and history (except for Dau Ming Si lol). Padahal ketiga film ini krusial sekali untuk memahami A Brighter Summer Day lebih dalam. ketidakfasihan gue membuat ada beberapa hal yang gue miss seperti orangtua Si'r berbicara Shanghainese agar percakapan mereka tidak dipahami oleh anak-anak mereka yang berbicara bahasa Mandarin. Ada juga aspek seperti bagaimana American pop culture mempengaruhi kehidupan anak-anak muda di Taiwan pada zaman itu dan seberapa kontrasnya dengan rumah mereka yang secara fisik peninggalan Jepang namun didiami oleh mereka yang masih punya ikatan ke Mainland China. 

Uncertainty and Instability

Film ini dibuka dengan kekecewaan dan ketidakyakinan atas masa depan sang tokoh utama. Pembuka filmnya hampir exclusively menunjukkan Si'r dan ayahnya saja, bahkan tidak menunjukkan wajah guru Si'r. Lukisan ini seakan-akan menunjukkan bahwa situasi ini hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya. Selanjutnya kita mendengar daftar nama-nama siswa yang lulus masuk ke berbagai sekolah di Taiwan. Artinya keadaan ini sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya tapi juga oleh berbagai anak dan orangtua di Taiwan. Mungkin ini hanya aspek kecil tapi menurut gue Edward Yang dengan pintar menunjukkan bagaimana bahwa education is both personal and public problem. Kalau dipakai di konteks jaman sekarang, ketika kita membaca riset mengenai pendidikan, kita hanya melihat angka orang-orang, tapi kita tidak pernah tahu perasaan mereka dan apa yang mereka pikirkan. Adegan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bagian dari stastik itu adalah riil dan bukan sekedar angka saja. Sebaliknya untuk gue pribadi, adegan ini agak mengingatkan bagaimana gue merasa hanya gue yang stress untuk mendapat kursi di PTN, padahal bukan gue saja. Dan jikalau gue gagal, I would not be the only one. 

Ketidakyakinan dan ketidakstabilan yang dialami oleh S'ir dan keluarganya tidak hanya datang dari aspek pendidikan saja tapi juga dari fakta bahwa keluarga S'ir merupakan keluarga pendatang. Sang ayah yang terus memantau berita sepertinya menunggu adanya tanda yang memperbolehkan ia dan keluarganya untuk kembali ke Cina. 

Di awal film, penonton mendapatkan informasi bahwa munculnya gang anak muda (walaupun ada beberapa orang dewasa yang masih anggota gang) sangat dipengaruhi oleh kekalahan National Government terhadap kelompok komunis. Setelah gue browsing sedikit, di era 60an, Taiwan masih mengalami berbagai konflik dengan RRC, apalagi Cold War belum berakhir di era tersebut. 



Sociopoliticalish and pieces of gender problem (don't expect much tho)

Setelah melihat keadaan Taiwan di era awal 60an, menjadi wajar sekali bagaimana anak-anak tersebut 'dekat' dengan kekerasan. Kekerasan merupakan hal yang wajar, bisa dilihat bagaimana ada seorang laki-laki dewasa yang dengan gamblang mengekspresikan kepuasannya ketika ia membantai orang-orang komunis. Bahkan berita seorang guru yang dipukul dengan baseball bat sudah seperti gosip pasar, walaupun memang masih dipandang secara buruk dan sekolah masih berusaha untuk mencegah timbulnya kekerasan lebih lanjut. S'ir pun tidak menjadi traumatis ketika ia melihat seseorang yang sekarat karena diserang oleh pedang.

Beberapa keluarga di Taiwan tinggal di rumah bekas orang Jepang. Beberapa barang mereka ditinggal di loteng rumah tersebut. Barang-barang yang ditinggalkan termasuk senjata, dan ditemukan oleh beberapa teman Si'r. At one point, bahkan mereka tidak segan menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah pun tidak imun dari kekerasan dan alat senjata. Their parents either don't know or don't care. 

Selain kental dengan casual and not-so-casual violence, film ini juga menghadirkan casual sexism. Salah satu contohnya adalah bagaimana Ming tidak diperlakukan sebagai mahluk mempunyai agency atau otoritas atas dirinya, tapi sebagai barang yang bisa dimiliki. Hal ini terlihat bagaimana adanya sekolompok laki-laki yang memperingatkan S'ir bahwa Ming adalah "our girl" dan bagaimana Little Park Boys bersikap lebih ofensif kepada Si'r ketika mereka memergoki Si'r dan Ming berduaan, seakan-akan mereka tidak bisa berpikir bahwa Ming juga memilih untuk bersama Si'r, atau mempunyai hak untuk memilih dan berpikir. Selain Ming, ibu Si'r juga mendapatkan kata-kata dari suaminya yang menyiratkan pengetahuannya tidak sebanyak suaminya karena ia perempuan, terutama dalam masalah pertemanan antar pria. Meskipun ini tidak menjustifikasi seksisme kasual yang dialami oleh Ming dan tokoh perempuan lainnya di film ini, penonton bisa mengerti bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. 

Also, I doubt the accesible porn helps men to really understand women. I could be reaching too high, but I think the few mention of porn here and there build a subtle bridge for the final act. Many men love porn, especially the one's that full of sexy girls. Ironically, they usually hate girls who date and have sex too much (according to their personal measure lol). Hal ini pun terjadi di film ini. 

Jadi jelas bahwa anak-anak tersebut mempunyai certain ideals or fantasies about violence, glory, relationship, women, etc. Sayangnya baik orangtua maupun sekolah gagal memberikan koreksi atau perbaikan atas ide dan fantasi tersebut. They lack a mature guidance outside school and house. Ini tidak hanya disebabkan oleh orangtua mereka yang sibuk bekerja dan perang yang terjadi, tapi juga indifference and prejudice terhadap hal-hal yang lebih modern dan atau bersifat asing. Bagian ini diperlihatkan lewat ayah Si'r yang mempertahankan suatu radio tua dan nilai-nilainya yang kaku, dan bagaimana guru Si'r menjelaskan bagaimana huruf Cina lebih superior daripada alfabet Latin.

Misc

I just love the techniques Edward Yang used for this film. The lack of camera movement (which seems influenced by Yasujiro Ozu) fascinates me in inexplicable way.  Dan jika benar Yang dipengaruhi oleh Ozu, menurut gue lucu dan pintar. Lucu karena dari sisi musik, film ini justru lebih kaya akan lagu-lagu populer Barat (selain lagu-lagu tersebut, film ini tidak menggunakan musik, which fits perfectly with the realism of this film). Pintar karena kalau gue lihat sekilas filmografi Ozu yang lumayan banyak ambil adegan di dalam rumah sementara rumah-rumah di film ini merupakan rumah bekas Jepang. Selain itu ada beberapa adegan yang menggunakan gaya frame within frame yang membuat gue merasa tidak hanya menonton film tapi juga melihat kejadian historis dan mengintip kehidupan pribadi tokoh-tokohnya. Also the actors were so great, it would be hard to guess who's amateur and who's not.

Conclusion

I would like this film better if it was shorter. However, I myself think all of the scenes are important to build Si'r's world. Harus gue akuin ada beberapa saat dimana gue merasa agak bosan, tapi itu tidak sampai membuat gue ingin mengskip atau mempercepat adegan tersebut. A Brighter Summer Day tidak hanya film yang cantik dengan teknik yang menarik atau brilliant, but it can suck you to its world. 9/10 (Amazing)




Untuk review yang lebih berbobot dalam bahasa Inggris: https://www.criterion.com/current/posts/3981-a-brighter-summer-day-coming-of-age-in-taipei

Jumat, 21 Oktober 2016

Almost Famous

One day, you'll be cool. -Anita

Almost Famous merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2000 yang disutradarai dan ditulis oleh Cameron Crowe.  Film berdurasi 122 menit ini sebenarnya semi-autobiografi karena menceritakan pengalaman Crowe ketika bekerja di majalah Rolling Stone.  Film yang penuh dengan lagu-lagu rock ini gagal menjadi box office, bahkan budget film ini lebih banyak daripada pemasukannya alias rugi.  Meskipun rugi, film ini mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap beberapa orang sebagai salah satu film coming-of-age terbaik.

Anita (Zooey Deschanel) sangat kesal dengan ibunya (Frances  McDormand) yang konservatif sehingga ia meninggalkan rumah.  Sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan koleksi piringan hitamnya *yang sebagian besar album rock* jatuh ke adiknya, William (Patrick Fugit).  Sejak saat itu, William menjadi penggemar rock.

Kecintaannya pada musik rock mendorong William untuk menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan musik rock.  Suatu hari, William bertemu dengan Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), seorang kritikus musik yang terkenal.  Lester akan menyuruh William untuk me-review konser Black Sabbath dan berjanji akan memberikan uang untuk karya tulisnya.  William tidak bisa masuk ke konser Black Sabbath karena ia bukan jurnalis terkenal.  Ia bertemu dengan seorang groupie (Kate Hudson), yang memanggil dirinya sebagai Penny Lane dan band yang bernama Stillwater.  Gitaris band itu, Russell (Billy Crudup) tertarik dengan William dan mengajaknya masuk ke konser.  Editor majalah Rolling Stone tertarik dengan tulisan William.  Sang editor menyuruh William untuk mengikuti tur konser Stillwater dan menulis tentang mereka.  Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ibunya, akhirnya William diizinkan untuk mengikuti tur konser Stillwater.



Anjir, kemana aja gue selama ini......

From little boy to young man

Di awal film, si William ini sepolos bocah SD yang belum terkontaminasi video bokep.  Baek, gak punya niat untuk manfaatin orang lain, dll. Sialnya, kepolosan dan kebaikan William malah diperalat oleh Russell dengan cara menunda-nunda terus wawancaranya dengan William. Akibatnya, studi William terganggu, emaknya marah-marah terus, dan editor Rolling Stone nagih artikelnya melulu. Di sisi lain, waktu bersenang-senang William dengan rombongan Russell semakin banyak. Di saat itulah William semakin terekspos dengan dunia bintang rock yang penuh alkohol, narkoba, dan cewek cakep. Tapi hal-hal ini juga ikut membentuk pandangan hidup dan kepribadian William.

Experience vs Story, Showing vs Telling

Instead of telling its audience a story, this film brings the character's experience to the audience. Menurut gue pribadi, pengalaman dan cerita itu beda. Gue kurang bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi bagi gue film yang mengandung cerita itu kayak film-filmnya Nolan, Quentin Tarantino, dan Martin Scorsese. Film yang berisi pengalaman selain film ini adalah In The Mood for Love, 3 hari untuk selamanya, dan Before Sunrise. Film yang merupakan gabungan dari keduanya adalah Chungking Express dan The Breakfast Club. You kinda have the concept what's in my mind right? 

But anyway, beberapa fakta kecil seperti bahwa film ini tidak menggunakan narator atau bahkan breaking the fourth wall ala Ferris Bueller sangat beperan penting dalam memainkan emosi penonton. Menggunakan narator ketiga (masih ada gak sih film model begini?) akan menjauhkan penonton, membuatnya seakan-akan film ini adalah fairytale...which is not. Breaking the fourth wall justru akan mensadarkan penonton bahwa kita menonton film itu dan tidak mengalaminya. Film itu merupakan hasil pertimbangan  dan rekonstruksi si karakter yang memecahkan tembok keempat.

Gak cuma itu, tapi gue merasa film ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling. Teknik ini cukup sulit dilakukan, bahkan Nolan yang hebat sering sekali melakukan kesalahan dengan sering melakukan telling. Kenapa menurut gue film ini lebih banyak menggunakan showing? How long have Penny and Russell known each other? Where is William's father? Who cares, they do not matter. Kalau gue pikir-pikir mungkin agak salah gue bawa-bawa nama Nolan karena genrenya beda, haha.

The music and songs are fucking wonderful

Terima kasih kepada film ini, gue terekspos sama lagu-lagunya Led Zeppelin dan Elton John. Lagu favorit gue dari film ini: The Rain Song - Led Zeppelin, Mona Lisa and Mad Hatters - Elton John dan America - Simon and Garfunkel. 


SPOILER ALERT


Why is it different with other cheesy films?

This film is cheesy, but a very good cheesy. I also think that this is a feel-good film although it has its own blue moments. Gue gak merekomendasikan film ini ke orang yang suka film "berat" atau "filosofis" although who knows, perhaps you will discover something else through this film. Anyway, hal-hal yang membuat Almost Famous sebagai a good cheesy film adalah film ini jarang melebih-lebihkan fakta kehidupan. Sure, Will's mom is quirky, does that mean she's a hippie? Well the joke's on you 'cause she's a professor in a university. William and Russell becomes closer after the tour, does that mean Russell approves Williams' article? You saved someone's life? That doesn't guarantee that someone will come to your house after that. You make friends? Just because you meet wonderful people who make your days wonderful doesn't mean your friendship will last forever. 

And that is life. 

Conclusion

Kekurangan film ini adalah meskipun kental dengan classic rock yang identik dengan pemberontakan dan perlawanan serta era 70an yang diwarnai pergolakan social justice (walaupun mungkin tidak seheboh tahun 60an), film ini tidak menyinggung gerakan feminisme, rasisme, dan perlawanan terhadap homophobia dan transphobia. But if all you wanna do is watching something light, sweet, a bit sourness, and listening to classic rock, then just play this film. 8,7/10 (very good)


Minggu, 25 September 2016

Train to Busan (Busan Haeng)

asianwiki.com

The first Korean zombie film. Kira-kira kalimat itulah yang digunakan untuk mempromosikan Train to Busan di bioskop-bioskop luar Korea. Salah satu film box office dari Korea ini sempat diputar di Cannes Film Festival. Film yang disutradarai Yeon Sang Ho dan ditulis oleh Park Joo Suk ini juga akan mendapat prequel animasi yang juga dibuat oleh sang sutradara berjudul "Seoul Station". 

Kesibukan Seok Woo (Gong Yoo) dalam pekerjaan membuat hubungannya dengan putrinya, Su An (Kim Su An). Merasa bersalah karena tidak membelikan hadiah ulang tahun yang pantas, Seok Woo menuruti keinginan Su An untuk pergi ke Busan mengunjungi ibunya. Perjalanan mereka di KTX mendapat goncangan ketika di zombie mulai muncul di kereta mereka. Seok Woo dan Su An harus bertahan hidup di kereta penuh zombie bersama Sang Hwa (Ma Dong Seok) dan istrinya yang hamil, Sung Kyung (Jung Yu Mi). 


indiewire.com
A zombie film with social commentary

Saya rasa film zombie atau film blockbuster yang mengandung social commentary atau kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru. Namun saya menyukai bagaimana Train to Busan membungkus semua kritik dan observasi sosial secara subtle enough. Film ini juga takes time untuk menunjukkan keberagaman kelas sosial dan background dalam suatu wadah kecil, which is the KTX in this film. Kita bisa melihat bahwa ada tim baseball, sepasang kakak-beradik tua, ayah dan anak, suami-istri, pengusaha, and last but not least, the train crews

Keberagaman kelas dan class privilege dapat terlihat juga. Ada penumpang yang mampu mendapat informasi lebih karena koneksi mereka, sedangkan banyak penumpang yang tidak memiliki akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa class privilege bukan sekedar bonus, tetapi juga menyangkut masalah hidup dan mati. Class privilege juga berarti kata-kata anda mempunyai 'berat' lebih banyak daripada orang yang dibawah anda. Sayangnya, orang yag memiliki class privilege juga hanya mau menyelamatkan diri mereka sendiri dan tidak menggunakan privilege tersebut secara optimal.

Usage of modern technology

Mungkin cara film ini menggambarkan penggunaan teknologi adalah salah satu keistimewaan Train to Busan. Instead of showing cool weapon or research, film ini menunjukkan bagaimana teknologi, specifically communication device, membantu kita dalam mendapat informasi dan menyelamatkan kita dalam propaganda.  Ada salah satu adegan yang brief yang menunjukkan bahwa pemerintah berbohong kepada rakyatnya dengan mengatakan bahwa zombie, yes the zombies, are mere protesters who damage public good. Pemerintah di berita-berita juga mengatakan bahwa mereka tidak harus cemas terhadap keselamatan mereka. 

Untungnya dengan keberadaan internet, ketidakberadaan televisi bukanlah penghalang dalam mendapatkan berita. Tidak hanya berita dalam bentuk tulisan, tapi juga video amatir. Ini mungkin juga yang menyebabkran orang beralih ke internet untuk mendapatkan berita. Ironisnya, meskipun banyak orang yang mengatakan internet lebih rentan terhadap hoax, sumber berita di internet lebih beragam dan membuatnya lebih sulit untuk 'dicuci' oleh pemerintah daripada berita di televisi, yang harus lulus sensor dari pihak pemerintah.

Kurangnya senjata yang keren seperti di film World War Z, ataupun senjata pada umumnya, membuat sisi survival dalam film ini lebih kental dan menegangkan. Bayangkan, sudah terjepit pada ruangan yang sempit, kurangnya stasiun untuk berhenti, tidak ada senjata lagi.


*SPOILER ALERT*

Ego vs Comunnity

Maap ye karena gue kurang pintar, gue gak tahu harus menggunakan kata apa selain community, hehe.

Sama seperti kebanyakan film yang mengandung unsur survival and disaster, film ini terus saja memperdebatkan manakah yang akan menyelamatkan kita, mementingkan diri sendiri atau komunitas. 

Film ini memang tidak mementingkan sisi scientific layaknya tayangan zombie lainnya seperti The Walking Dead atau World War Z. Tidak ada pembicaraan bagaimana virus tersebut muncul (hanya dijelaskan secara ambigu), bagaimana menemukan obat, bagaimana orang bisa tertular, dll. Karena gue orangnya kurang peduli dengan science and medic stuff, gue tidak memandang itu sebagai kekurangan. Gue malah senang karena hal tersebut membuat penontonnya fokus pada kritik sosial dan drama yang ada di film ini. Salah satu hal yang gue kritik dari sisi scientific-nya adalah film ini kurang konsisten dalam menentukan waktu yang dibutuhkan manusia untuk berubah menjadi zombie.   

Seperti yang sudah disebutkan tadi, penyebab munculnya virus memang dijelaskan secara ambigu, tapi penyebab zombie ada dalam kereta sudah jelas. Seorang gadis yang digigit zombie memilih untuk masuk kereta dan menginfeksi orang-orang lain. Seandainya si gadis menerima takdirnya dan tidak menaiki kereta, orang-orang yang dalam perjalanan ke Busan mungkin akan mempunyai takdir yang berbeda.

From this, it can be concluded that while being egalitarian doesn't always benefit us, selfishness is the root of problem.

Sexism

Gue kira setelah maraknya tokoh-tokoh wanita yang kuat seperti Furiosa, Black Widow, dan Michonne, kru Train to Busan mungkin akan sadar menambahkan satu karakter wanita yang kuat akan membuat film ini lebih appealing. Saya hanya bisa menahan kesedihan ketika film selesai dan tidak ada female heroine. Mending sekedar tidak ada female heroine, tapi ada kesetimbangan antara bagaimana tokoh-tokoh pria mati di film ini dengan tokoh wanitanya. Tokoh utama yang pria (setidaknya yang protagonis) mati karena mereka sedang berkorban. Tidak ada yang mati karena sedang lengah atau ceroboh. Tokoh yang wanitanya? Cuih, mereka mati karena sedang lengah, ceroboh, dan ada yang mati karena kebodohan. Tidak ada tokoh wanita yang mati karena sedang berkoban. Wanita yang selamat hanya seorang wanita hamil yang cantik dan seorang gadis kecil. Wanita tua dan wanita yang mengenakan rok pendek tidak selamat. Hal ini mengimplikasikan bahwa wanita-wanita tersebut bisa selamat karena umur, kepolosan, dan kemampuan mereka untuk punya anak. I'm just kinda pissed off that the writer is a fucking coward for not killing the pregnant character and the kid. If they were the ones who got killed, the film would be more interesting. 

Other stuff

Setelah membaca salah satu review, gue jadi sadar bahwa tokohnya Gong Yoo bukanlah tokoh tipikal dari film-film zombie. Dia bukanlah Rick Grimer yang punya natural leadership dan tokoh yang masih punya moral dibandingkan let's say Shane. Dia juga bukan Brad Pitt yang punya hubungan baik dengan keluarganya, ataupun akan sukarela menyuntik dirinya dengan penyakit. Instead, he's a selfish bastard who will do anything to ensure the safety of his daughter and him. Yang bagusnya, semua itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kecil, bukan dengan menipu salah satu penumpang misalnya. 

Antagonis di film ini adalah salah satu pria yang boleh dibilang influential dan punya class privilege. Pria tersebut tidak hanya ignorant, tapi juga outright a more evil bastard than Gong Yoo's character. Sama seperti seorang reviewer yang mengatakan bahwa Lotso dari Toy Story 3 merupakan Woody yang jahat, pria ini boleh dibilang juga versi jahatnya Gong Yoo. Tapi sama seperti Woody yang masih punya sahabatnya, Gong Yoo disini masih punya anaknya. 

Aktor-aktornya cukup bagus kok. Kudos for Gong Yoo for having a great comeback. Tapi tokoh yang paling menarik adalah tokohnya si Ma Dong Seok, kocak aja lihat dia anjir, haha. Apakah gue doang yang kurang suka sama aktor ciliknya? Lumayan bagus sih, tapi karena gue udah lihat yang lebih hebat jadi katingnya Kim Su An kurang memberikan impact bagi gue. I can see why Sohee's (ex-member of Wonder Girls) gives mixed reaction though, but it's very clear I prefer Choi Wook Shik to her.

Conclusion

Inilah yang akan terjadi jika lo mencampur makjang (melodrama Korea) dengan Snowpiercer dan The Walking Dead. Penggunaan kereta dan kurangnya space menyebabkan film ini mempunyai nilai plus lebih dibandingkan film zombie lainnya. Sayangnya film ini kekurangan gore dan mempunyai terlalu banyak melowness yang akan membuat beberapa orang get turned off. Also, this 2016 film fails to escape from sexism. 7/10 (good)

P.S: Considering Bong Joon Ho directed both The Host (a monster Korean film) and Snowpiercer, AND, his film is not sappy and has great black humor, I would love to see his version of this film.


Kamis, 22 September 2016

Thursday Movie Picks: Teen Angst


Howdy, readers! It's been a damn long time since I release Thursday Movie Picks. Hello for my old usual readers and welcome to new readers! Thursday Movie Picks is a weekly three-film recommendation from certain. This meme is hosted by Wandering Through the Shelves.   If you want to know more, please visit this link.

What is one of the first thing we think about teenagers? That's right: angst. Angst because you are seen too emotional, too young but too old, too ignorant and too idealist at the same time. As a teenager myself, I think it's funny that so many adults think that teenagers are ignorant, party-obsessed, and lustful, while I witness my friends having debates - both logical and passionate - and being critical, being bullied. Teenagers are as complex as adults, both the people and the world, but since so many people forget about the, boom, an angst is born.

1. Thread of Lies (Lee Han, 2014)

tumblr.com

A mother and a daughter have to face a bitter reality after their daughter and younger sister left them by suicide. The older sister stars to investigate what kind of life her younger sister lives by meeting her young sister's "friends".

I don't know what to say about this film. I think I have to rewatch this again because I even confused by my own opinion about this film. I think the family drama in this film is pretty good, but it makes the bullying sub-plot less solid. There are some scenes I would like to cut.

But I like how so many aspects of bullying are present in this film. Like, how sometimes people do not realize that they actually hurt someone, how bully victims sometimes do not see themselves as a bully victim and try to normalize what happen to them, the "gray" people who neither help the bully victim nor support the bully, etc.

2. Tag (Sion Sono, 2015)

filmschoolrejects.com

Mitsuko (Reina Triendl) is a timid schoolgirl who likes to write poem. One day, she has to face something powerful and fearful as all of her friends are killed in a blink. As she survives the tag, she finds herself a new identity and new friends.

THIS FILM HAS ONE OF THE BEST OPENING SCENE I EVER WATCH. By the way, this is also the first Sion Sono's film I watched, so please forgive my ignorance, LOL. 

I can't really tell you why I pick this gory film in "Teen Angst" week because it will ruin all the fun, LOL.

P.S: It's also because I don't really the message of the film. I understand the message after I read some of its reviews.

3. The Perks of Being a Wallflower (Stephen Chbosky, 2012)

emilykazakh.wordpress.com
Ah yes, the ultimate modern, typica, teenage angst film.

Charlie (Logan Lerman) is an introverted freshman who likes to write. His life is changed forever after he meets Sam (Emma Watson) and Patrick (Ezra Miller).

I guess one of the thing I like about Perks is that it brings something new other than typical everyday-teenage-angst. It also talks about homophobia and mental illness, something that classics like The Breakfast Club and Rebel Without a Cause have done. I'm not saying that Perks is the pioneer of that because I bet earlier underground films had done that before this film. Also, the novel is a lot darker than the film, which is a sad thing. I love the soundtrack though.

Rabu, 21 September 2016

Comrades: Almost a Love Story


hancinema.net
Sekitar seminggu yang lalu, gue datang ke pemutaran film yang diadakan oleh Jakarta Cinema Club (JACk) di Paviliun 28. Gue datang kesitu karena gue tertarik dengan tema yang diadakan bulan ini, yaitu Hong Kong Second Wave. Karena pengetahuan gue tentang hal terebut masih kecil, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa Hong Kong Second Wave didominasi oleh Wong Kar Wai, sedangkan dari segi aktor didominasi oleh Maggie Cheung dan Tony Leung. Gaya cerita dan filmnya pun beda dari Hong Kong First Wave, dimana First Wave lebih mengutamakan style ketimbang substance, Second Wave lebih banyak eksperimen dan ceritanya lebih relate ke kehidupan nyata. Kalau dari First Wave, film paling terkenalnya mungkin A Better Tomorrow karya John Woo, gue gak tahu Police Story itu film Cina atau film Hong Kong. Anyway, karena gue gak mau kelihatan bego di diskusi film tersebut, gue memutuskan untuk nonton film Hong Kong Second Wave yang bukan dibuat oleh WKW. Tadinya gue bingung antara Rouge sama nih film, tapi nih film ada Maggie Cheung, hehe.

Jun (Leon Lai) merupakan pria desa sederhana dari Wushi, Cina, yang pergi ke Hong Kong untuk mengadu nasibnya. Meskipun ia harus segera bekerja keras di sebuah tempat asing yang orang-orangnya keras dan cepat, ia tidak lupa untuk tetap berhubungan dengan kekasihnya di desa. Suatu hari, ia memutuskan untuk makan siang di McDonalds karena di desanya tidak ada restoran cepat saji. Disana ia bertemu dengan Qiao Li (Maggie Cheung), seseorang yang dapat mengerti bahasa yang Jun gunakan selain bibinya. Mereka bertambah dekat sejak Qiao Li mengantarkannya ke sebuah tempat les bahasa Inggris dan memberikannya pekerjaan part-time. Sejak Qiao Li mengaku bahwa ia juga berasal dari Cina, mereka bisa berbagi rasa rindu terhadap rumah dengan lega.



A relateable cliche romantic film

Salah satu alasan gue untuk tidak langsung menonton film ini meskipun udah download lama adalah gue takut film ini cuma film romance klise sampah. Fortunately, Comrades: Almost a Love Story punya nilai lebih.

Film yang disutradarai oleh Peter Chan dan ditulis oleh Ivy Ho agak mengingatkan gue pada film AADC yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Dua film ini memang klise, tapi mereka sangat memperhatikan detail dalam pembangunan realita dan dunia tokoh-tokohnya, terutama dalam bagian latar tempat dan pop culture yang sedang tren, bahkan secuil politik. Apa yang gue maksud dalam "pembangunan realita"? Contohnya, dari film ini gue bisa belajar lagu-lagu Teresa Teng yang terkenal yang mana saja dan bagaimana kematiannya membawa impact oleh orang-orang Cina, terutama orang Cina diluar mainland. That's what makes those films as timeless for some people, because we can look back at them and relate to the place and the trend. 

Karena gue belum belajar sejarah Hong Kong dan Cina, gue tidak bisa komentar mengenai unsur politik Hong Kong-Cina yang ada di film ini, atau membenarkan bahwa banyak orang Cina yang berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 90an. For your information, this film was banned in China until 2015. Untungnya, hal tersebut tidak menghentikan gue untuk bisa relate kepada situasi yang dihadapi oleh Jun dan Qiao Li. Gue bisa relate suatu perasaan campur aduk dimana gue excited untuk mengeksplorasi suatu tempat yang jauh dari rumah gue tapi ada saja sesuatu yang mengingatkan gue pada rumah dan membuat gue homesick. Anyway, lucu juga sih gue baru nonton film ini setelah gue kuliah di luar Jakarta, my hometown. Seandainya gue nonton nih film pas SMA, mungkin gue kurang bisa relate ke film ini, haha.

Selain unsur homesickness, gue suka bagaimana paruh pertama film ini melukiskan kehidupan kelas pekerja yang boleh dibilang tidak terlalu miskin. Kalau mereka terlalu miskin, yang ada nih film bakalan jadi telenovela atau sinetron dah. In my opinion, lukisan tersebut cukup sederhana dan hanya mengandung sedikit unsur dramatisasi. Tidak ada adegan orang kaya yang menghardik pelayan, pelayan disiram air minum, dll. Bagian favorit gue adalah ketika Qiao Li dan Jun berusaha untuk menjual sesuatu namun dagangan mereka tidak laku. Jujur, gue cukup terkejut film ini menunjukkan kegagalan di awal film dan tanpa unsur dramatisasi. Yes, failure sucks and sometimes we think it's the end of our world, but in the end, some of us live our life and move on from our failure. Maksud gue, terlalu banyak film yang menggunakan failure sebagai suatu turning point atau suatu akhir, walaupun sebenarnya experiencing failure is normal and most often we move on from it. Bagian tersebut tidak hanya mengajarkan kegagalan sebagai sesuatu yang normal, tapi kegagalan juga bisa terjadi di saat kita sedang sangat optimis.



Unfortunately, the films is ruined by its second half

Sayang sekali film ini ada "tapi".

Gue percaya Comrades: Almost a Love Story akan berakhir indah, gue akan puas, dan gue akan langsung memberitahukan dunia stop watching Wong Kar Wai and just watch this film instead. Well, folks, reality doesn't work that way.

Setelah disuguhi oleh pembangunan realita dan chemistry yang sangat apik, sepertinya Peter Chan dan Ivy Ho kehabisan trik dari tas mereka. Basically, the second half of the movie is fueled by endless drama. Bukan drama macam Happy Together atau There Will be Blood, tapi drama yang sekelas sama sinetron dan telenovela. Just name a cliche trope and I bet you it will appear in the second half. Masih mending drama ini juga diikuti oleh penyisipan pop culture yang solid seperti di paruh pertama, tapi sayangnya Chan dan Ho sudah peduli setan dengan hal tersebut dan berusaha untuk mengisi sisa durasi dengan terburu-buru.


*SPOILER*










Gue rasa akhirnya sangat tidak realistis karena Qiao dan Jun punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi mereka selalu dihalangi sesuatu. Like, I just pissed off that they never get to see each other for petty things, then suddenly the just see each other by chance? What a bullshit. It doesn't even have a sense of ambiguity like the end of Norwegian Wood (novel). No, it's just straight up a shitty and cliche happy ending.

Edited: Tapi setelah gue pikir-pikir, gue juga suka ending klise kayak gitu. Makes my heart giddy.

*SPOILER ENDS*









A beautiful love song to Teresa Teng

Salah satu hal yang harus diapresiasi adalah bagaimana Teresa Teng menjadi sub-substance Comrades tanpa menganggu keseimbangan film ini. This film celebrates Teresa Teng's magnificent career without turning it into a mini-documentary of her. Gue juga jadi suka dengerin lagu-lagu Teresa Teng yang muncul di film ini, haha.

Kalau masih ada yang bingung apa gunanya seni dan seniman, kalian harus nonton film ini. Film ini dengan pintar memperlihatkan bahwa seni pop, walaupun dangkal, bisa menjadi penyatu manusia dan memberikan sense of home bagi orang yang berada jauh dari rumah, terutama di tempat yang bahasanya beda dengan bahasa utama kita. Kebahagiaan terkadang bisa dicapai hanya mendengar lagu yang menggunakan our native language. 

By the way, two thumbs up for Leon Lai dan Maggie Cheung. Akting mereka tidak hanya bagus sebagai individu, tapi sebagai pasangan mereka punya chemistry yang solid.

Conclusion

Jangan berekspektasi sebuah sajian yang modern dan eksperimental bak Chungking Express dkk. Namun jangan langsung mencap film ini sama dengan film romantis cengeng lainnya. Hint: kalau lo suka Sleepless in Seattle dan melihat kehidupan kelas pekerja, then this film is for you! 8/10 (very good)



Senin, 19 September 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I

pic credit: movie.co.id

Setelah satu tahun lebih gak ngeblog, gue jadi kagok di depan laptop. Hai pembaca (?) yang sudah lama gak gue temui! Satu tahun terakhir ini gue sibuk dengan urusan sekolah, terutama Try Out, Ujian praktek, UN, SBMPTN, dan persiapan buat pindah ke kosan karena gue gak di Jakarta lagi. Untungnya gue dapet PTN (Perguruan Tinggi Negeri) walaupun UGM maupun UI. But considering that some of my smarter friends or friends of my friends fail to make it, I'm very thankful with what I have right now. 

Sekian dari gue, sekarang kita bahas dikit filmnya. Bagi mereka yang doyan nonton film jadul ataupun mantengin TV sebelum tidur siang pas tahun 2000an, pasti udah familiar dengan DKI alias Dono Kasino Indro. Gue sendiri tahu trio komedi tersebut dari hobi nonton TV sebelum tidur siang, hehe. Sedikit melenceng, I think this last few years (so far) have been good to Indonesia's film industry. Tahun 2015 ada A Copy of Mind karya Joko Anwar yang masih diputar di beberapa bioskop kecil saat ini. Tahun 2016 ada Ada Apa Dengan Cinta? 2, which sadly falls below my expectation that is already average, dan My Stupid Boss, yang sangat melebihi ekspektasi gue and frankly is better than AADC2. Jangan lupa beberapa film pendek Indonesia yang berhasil masuk berbagai festival bergengsi. Yang gue ingat adalah Prenjak, karya Wregas Bhanuteja. Tahun 2014 juga ada Siti. Sayangnya gue belum sempat nonton Srikandi 3. Jadi, apakah Warkop DKI Reborn berhasil menjaga momentum bangunnya industri film Indonesia?

Dono (Abimanya Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bekerja di sebuah lembaga bernama CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial). Sayangnya, kekonyolan mereka malah menimbulkan masalah daripada menanggulanginya. Suatu hari, mereka terkenal masalah sehingga mereka didenda sebanyak delapan miliar. Dibantu rekan perempuan mereka, Sophie, mereka pergi ke suatu tempat untuk mencari uang tersebut. 



Not gonna lie, I laugh at some of the scenes...some more than it should, lol.

Apakah berarti filmnya lucu? Nope, semua leluconnya gak ada yang nendang ataupun memorable. Belum lagi banyak dari kelakarnya yang immature dan so-last-year. Hampir gak ada lelucon yang menstimulasi otak kayak film-filmnya Woody Allen ataupun acaranya Jon Stewart. Harus gue apresiasi Indro yang asli mencoba mencampurkan politik ke dalam kelakarnya bak Jon Stewart. Sayangnya, dia hanya mengimitasi dari luarnya saja, tidak sampai ke intisarinya The Daily Show. Next time you want to create a skit as a sassy news reporter, just call Jon Stewart himself instead of make a fail copy of him. 

Meskipun gue pernah nonton beberapa film Warkop DKI, gue benar-benar blank dengan filmnya. Jadi gue gak bisa menilai seberapa banyak homage yang film ini lakukan atau apakah film ini lebih baik, or at least succesful at capturing the atmosphere and the spirit of the original film. Anyway, kenapa film-film Warkop DKI udah jarang diputar ya? Apakah itu karena gue udah jarang nonton film lokal atau mereka emang udah berhenti muterin film? Makanya saluran TV lokal di Indo, plis puterin film-film Indonesia yang bagus dan berkualitas. Jangan cuma muterin Warkop DKI, tapi puterin juga masterpiece kayak Daun di Atas Bantal, A Copy of my Mind, Petualangan Sherina (nih film dulu sering diputar kalau liburan sekolah, haha #nostalgia), bahkan film dokumenternya Munir. Buat Metro, lanjutin dong programnya Sunday Night Movies nya. Cuma lu yang berani muterin film berat kayak Eternal Sunshine of the Spotless Mind (sumpah, nih film sempet diputar di Metro TV). 

By the way, humor nih film bukan hanya jelek, tapi mengandung unsur-unsur bermasalah seperti seksisme, objektifikasi wanita, dan colorism. Tokoh Sophie diperlakukan sebagai eye candy bagi tokoh-tokoh laki-lakinya doang. Belum lagi dia tipe eye candy yang ditzy dan oblivious dengan lingkungan sekitarnya. Dia sempat dilukiskan sebagai wanita yang pandai dan capable tapi seiring berjalannya film, gue malah merasa kedua kualitas tersebut menguap dari dia. Beberapa petugas wanita CHIPS juga menggunakan pakaian yang obviously lebih ketat dan pendek dibandingkan petugas laki-laki. Kesannya mereka di CHIPS buat jadi model baju ketat instead of jadi petugas CHIPS. 

Ada juga salah satu tokoh pembantu (atau karakter yang numpang lewat doang?) yang seluruh tubuhnya sengaja banget dibikin hitam, hitamnya bahkan menurut gue berlebihan. And surprise, surprise...they make a joke based on the person's dark skin! Memang ya kulit hitam tuh tipe kulit yang pantas buat jadi bahan lelucon. Maksud gue, gak ada yang lucu kan dari kulit putih? Kulit putih tuh kulit yang bagus, saking bagusnya sering dikaitkan sama penjajahan orang kulit hitam dan genocida orang Native American. 

Untuk divisi akting, kenapa sih mereka mesti menggunakan Vino G Bastian. Jujur, sejak Reza Rahadian berhasil akting sebagai Bossman di film My Stupid Boss, gue langsung percaya kalau Vino Bastian akan memberikan kejutan baik kepada gue. Ternyata...yang ada hanya kekecewaan. Gak cuma dari segi ekspresi wajah, denger dia ngomong dengan aksen Jawa yang dibuat-buat dan kurang natural cukup menyiksa gue. Tora Sudiro terbagus kedua, walaupun bagus disini bukan bagus yang wow. Mungkin karena Tora sempat di Extravaganza dan gak asing dalam komedi, Tora membawakan karakternya lebih langgeng daripada Vino. Aktor terbaik adalah Abimana Aryasatya...walaupun lu juga jangan berpikir terbaik dalam konteks dia pantas menang piala apapun. 

Yang pengen gue applause disini adalah divisi make-up dan kostum yang ngurusin bagiannya Abimana Aryasatya. Bagus, and that's the only good thing from this film. 

Overall

The gag reel is a lot funnier than the whole movie. 2,5/10 (trash)