Selasa, 31 Desember 2019

Star Wars: The Rise of Skywalker (Celotehan Penuh Spoiler)



J.J. Abrams kali ini membawa penonton ke akhir kisah dari trilogi sekuel Star Wars. Film dimulai dengan Kylo Ren (Adam Driver), yang menemukan suatu Sith wayfinder. Alat itu membawanya ke Planet Exegol, di mana ia bertemu dengan Palpatine (Ian McDiarmid), yang ternyata mastermind dari suara-suara yang Kylo dengar. 

Sementara itu, Rey (Daisy Ridley) kini berlatih dengan Leia (Carrie Fisher) setelah Luke meninggal. Poe (Oscar Isaacs) dan Finn (John Boyega) melakukan banyak misi bersama, meskipun Poe tidak selalu setuju dengan Rey. Ketika Resistance mengetahui Palpatine bangkit, Rey memutuskan untuk mencari Exegol dan melawan Palpatine. Di tengah pencarian Sith wayfinder lainnya, Rey dan Kylo Ren kerap bertemu melalui Force, dan mereka belum melepaskan visi mengenai antara satu sama lain.




SPOILER ALERT, I AINT KIDDING





In case y'all don't get it, I paid 50k Rupiah (sike, it's my parent's money) just so I could watch my OTPs in IMAX. No, I'm not alone).

Fandom Star Wars mungkin adalah salah satu fandom yang paling fanatik dan yang paling susah to feel pleased and satisfied. Akan selalu ada bagian fans yang tidak suka dengan keputusan yang diambil Disney atau para filmmaker mengenai trilogi ini. Hal ini bisa dilihat dari betapa pecahnya opini mengenai Episode VIII: The Last Jedi. Mungkin inilah yang membuat Abrams dan Disney memutuskan untuk mencoba pleasing everyone.

And boy, how well did it go in Episode IX.

Let me be clear first: there's a difference in listening to criticism and trying to please everyone. Ketika MCU berupaya untuk membuat musik di Black Panther berbeda dari film-film mereka sebelumnya, mereka telah mendengar kritik mengenai musik dari film-film mereka. Atau ketika mereka membuat film Thor yang berbeda dari dua film sebelumnya. You listen to the criticisms that are given to you, without losing the vision you have. Rise of Skywalker, on the other hand, does not have a clear vision.

Let's start with the development of Rose, Poe, and Finn. Poor Kelly Marie Tran, dia gak kepakai di film ini. Poe dan Finn other than the fact they should've been together hampir tidak mengalami perkembangan sama sekali. Beberapa momen penting mereka di film ini harus dibagi dengan karakter baru, that are not memorable for me. Untuk Poe, fakta dia punya mantan pacar dan dia dulu bekerja sebagai spice smuggler, cuma jadi lelucon dangkal dan gak menambah poin apapun bagi karakternya dia dan plot film. John Boyega tidak bisa menjelajahi kemampuannya karena dia kembali sebagai sidekick dan ship tease dengan Rey. Padahal, masa lalu Finn sebagai stormtrooper punya potensi untuk digali lebih dalam karena dia bertemu dengan eks stormtrooper lainnya. There are so many things that can be explored like, how far his trauma is, how young were the kids who were kidnapped, and what I would personally like, to see him reaching a stormtrooper personally and inspired a stormtrooper. Like, what a wasted potential!



Maybe because I don't follow the franchise religiously, I feel Palpatine's (and Lando) return is just for nostalgia's sake. He just comes and goes. Don't get me wrong, I'm not mad for Palpatine and Lando's return, tapi gak berhasil membawa apa-apa bagi penggemar yang gak fanatik kayak gue. Penjelasan mengenai kembalinya Palpatine juga terasa half-assed. Akan lebih menarik melihat interaksi Lando dengan Ben Solo, tapi kalau gak ditulis dengan baik, juga bakal jelek hasilnya.

And now, let's talk about Ben fucking Solo, the last canonically, Skywalker descendant. Ada ironi pahit meskipun Ben Solo pada akhirnya kembali ke light side dan ia menyelesaikan apa yang kakeknya inginkan, yaitu menyelamatkan wanita yang ia cintai, ia akhirnya tetap mati dan kematiannya benar-benar mengakhiri garis Skywalker. What's harsher in hindsight, Palpatine lah yang menang karena keturunannya masih hidup lewat Rey. I personally feel Kylo Ren merupakan salah satu karakter yang ditulis paling bagus dalam trilogi ini. Karakternya merupakan yang paling kompleks dan multidimensional. Karena itu, gue merasa Abrams dan penulis lainnya bingung mereka mau membawa  Kylo Ren / Ben Solo ke mana. Also, Ben Solo using the mask back is just tasteless for me. Ben Solo tidak berkata apapun setelah meninggalkan dark side. Ada komentar yang mengatakan akan lebih menarik jika RoS lebih menggali Ben Solo, dengan membuat proses Bendemption terjadi lebih awal. I agree with that! Sisi positif yang gue suka mungkin adalah Kylo Ren akhirnya menjadi sama kuatnya dengan Rey, setelah ia dikalahkan (di TFA) dan mengalami stalemate (di TLJ). Dia akhirnya bisa mengalahkan Rey di duel lightsaber karena ia lebih tenang dan percaya diri.

Which brings us to Reylo. Disney benar-benar memancing shipper dengan menggunakan Reylo selama marketing TROS. Yang paling bikin Reylo shippers baper tentu saja that But I do line. I gotta say, me and other shipper feel cheated. Mereka menggunakan Reylo dan memberikan banyak hint mengenai Reylo, tapi chemistry dan perkembangannya tidak terasa semagis TLJ. Sebenarnya ada chemistry, but it owes to Adam Driver and Daisy Ridley, not the writers. In addition, gimana gue percaya Rey dan Ben beneran force mate kalau Rey reaksinya biasa saja? Coba deh, bandingkan reaksi Rey waktu lihat Han Solo dibunuh, dan waktu mengira Chewie mati. Masa Rey lebih berduka lihat mereka berdua mati dibandingkan her own soulmate? Apalagi, Rey S K Y W A L K E R. Last time I check, it's Ben SOLO, not Skywalker. Padahal Rey sendiri yang bilang meskipun ia punya camaraderie dengan Resistance, ia tetap kesepian. Artinya, ada Leia pun ia kesepian. She wasn't even mourning deeply for Luke, how am I supposed to believe that she would pick Skywalker as her last name? 

Overall, I do not think The Rise of Skywalker is a bad film. It is just a disappointing one, as it wastes potentials, tries to please too many sections, and uses too much nostalgia points. 6,5/10.



Kamis, 19 Desember 2019

Marriage Story (2019): Ketika Kylo Ren bercerai dengan Black Widow


Perceraian atau rumitnya suatu pernikahan bukanlah tema yang baru dalam dunia perfilman. Sebut saja Kramer vs Kramer, yang posternya kerap dibandingkan dengan poster di atas, oleh para penggemar film. Ada juga Blue Valentine, yang cukup membuat sesak penontonnya. Lalu, bagaimana Noah Baumbach mengelola suatu tema yang jarang tapi bukan baru?

Film dibuka dengan montage manis yang menunjukkan apa Charlie (Adam Driver) suka dari Nicole (Scarlett Johansoon), lalu sebaliknya. Mood yang manis itu langsung pecah ketika adegan selanjutnya menunjukkan bahwa keduanya sedang dalam proses perpisahan dan Nicole menolak untuk membaca surat yang berisi apa yang ia suka dari Charlie. Keduanya sepakat untuk tidak memakai pengacara dan melakukan perpisahan secara damai. 

Saat itu, Nicole telah menerima pekerjaan di Los Angeles, sementara Charlie tetap mengurus teaternya yang terletak di New York. Nicole membawa putra tunggal mereka, Henry. Ketika di L.A., Nicole bertemu dengan Nora (Laura Dern), seorang pengacara keluarga yang bersimpati dengan Nicole. Ia meyakinkan Nicole untuk membayar ia sebagai pengacaranya. Charlie pada awalnya menganggap santai karena ia mengira Nicole dan ia pada akhirnya tidak akan menggunakan perceraian. Tapi, akhirnya Charlie menyadari bahwa Nicole serius menggunakan Nora sebagai advokatnya dan ia segera mencari pengacara. Tidak kuat membayar Jay (Ray Liotta), ia beralih kepada Burt (Alan Alda), seorang pengacara yang tidak secerdik Jay, namun meminta Charlie untuk berpikir panjang mengenai masa depan putranya.




I found another movie that can explain the 34487th reason why I do not want to get married, lol. Sebelum nonton nih film gue juga enggan sih buat menikah, tapi kalau ada orang yang masih bacot, beneran gue paksa deh nonton nih film.

On the serious note, salah satu poin penting kenapa pernikahan Charlie dan Nicole gagal adalah komunikasi yang buruk di antara mereka. Ada miscommunication kecil tetapi menumpuk dan menumpuk. Suatu hal yang kecil pada akhirnya karena gagal dikomunikasikan, atau hanya dipendam, jadi membusuk di hati. Masalah komunikasi merupakan masalah klasik dalam interaksi manusia, dan kadang kita hanya bisa memahami ketika sudah "pecah". Komunikasi memang tidak bisa sekedar membaca atau mendengar kata. Contohnya, Nicole menjadi kesal kepada Charlie karena mereka tidak kunjung tinggal di L.A. Padahal, Charlie dulu pernah berjanji bahwa mereka akan tinggal di L.A., tempat tinggal Nicole sebelumnya. Charlie hanya memandang permintaan Nicole untuk tinggal di L.A. seperti suatu permintaan untuk mengganti sofa, atau perabotan, yang tidak dilakukan tidak memiliki akibat apapun. Artinya, Charlie tahu Nicole tertarik untuk tinggal di L.A., tapi ia gagal memahami seberapa dalam keinginan istrinya itu.

Selain masalah komunikasi, mereka berdua sudah tidak berbagi visi yang sama mengenai masa depan mereka. Sebenarnya hal ini sudah ada subtle hint di awal, ketika Charlie bersedia untuk membaca suratnya sementara Nicole bersikeras agar kedua surat tersebut tidak dibaca. Nicole juga punya gairah untuk memperkaya wawasannya, ia tidak ingin terjebak di teater atau New York. Ini berbeda dengan Charlie yang terlalu mencintai New York dan teaternya, bahkan enggan membiarkan Nicole untuk menyutradarai sekalipun.

Ketiga, Charlie memang kurang peka terhadap keinginan dan kebutuhan orang yang ia cintai. Menurut gue, hal ini menjadi poin minus dari Marriage Story. Noah Baumbach seakan-akan membuat mereka mempunyai beban kesalahan yang sama, tapi di mata gue, Charlie dosanya lebih banyak. Charlie tidak hanya kurang peka, ia bahkan berselingkuh sebelum ia dan Nicole memutuskan untuk bercerai. Ketika dikonfrontasi oleh Nicole, ia berdalih bahwa hal itu "bukan selingkuh". That information really held me back from completely sympathizing with him. Di bagian ini gue lebih suka Kramer vs Kramer. Meskipun tokohnya Dustin Hoffman agak lalai, akhirnya ia memperbaiki kesalahannya dan memiliki a happier relationship with his son. Meskipun begitu, gue pribadi tetap sedih melihat Charlie memikul "hukuman" yang lebih berat daripada Nicole di akhir film.



Poin yang membuat film ini agak berbeda dengan film lainnya mungkin adalah pergulatan legal yang sebenarnya tidak hanya mahal di keuangan, tapi mahal juga di ekonomi. Kramer vs Kramer mungkin ada adegan di pengadilan, tapi tidak sepadat di Marriage Story. Proses perceraian yang sifatnya adversarial justru membuat perceraian menjadi kompetisi, baik finansial maupun gengsi. Mereka berdua akhirnya mengeluarkan kata-kata yang mereka sesali, baik yang diucapkan diri sendiri maupun dari kuasa hukum masing-masing.

Poin lain yang gue suka dari film ini adalah it's not all about love. Pernikahan hidup bukan karena cinta saja. Cinta dan pernikahan butuh nutrisi berupa komunikasi yang baik dan kepekaan yang cukup. Ada quotes dari film ini yang kira-kira berbunyi, "I will never stop loving him, although it doesn't make sense anymore." Hubungan yang memiliki cinta, tapi tanpa komunikasi, kepekaan, and sometimes, a shared vision, is a doomed relationship. I also love how the film makes a distinction between love and relationship. 

Marriage Story has a very strong solid. Bagi yang mengikuti karir Adam Driver rasanya tidak akan terlalu terkejut dengan acting range yang ia tunjukkan di film ini. I haven't seen Scarlett in a drama movie for a long time, so I was a little surprised with how well she acted. Can't wait to see her in other drama films. Tidak hanya kedua lead actors yang aktingnya solid, Laura Dern dan Ray Liotta sangat bagus dan bisa menyelipkan humor ketika mereka tampil. Alan Alda sangat cocok menjadi pengacara lembut tapi telah mencicipi pahit-manisnya hidup. Shout out to Julie Hagerty and Merritt Wever yang jadi ibu dan kakaknya Nicole. Singkat, tapi menghibur. In short, I applaud the whole cast. 

Marriage Story shows us the distinction between love and relationship, while slipping some lighthearted and funny moments, with a damn solid cast. 8,5/10.


Minggu, 17 November 2019

Ratu Ilmu Hitam (Black Magic Queen) 2019



Joko Anwar kembali sebagai penulis dalam film Ratu Ilmu Hitam. Film ini merupakan remake dari film Suzanna yang berjudul sama, yang dirilis tahun 1981. Meskipun mempunyai judul yang sama, film ini merupakan film yang berbeda dengan film Suzanna.

Film ini diawali dengan perjalanan sebuah keluarga menuju panti asuhan sang ayah, Hanif (Ario Bayu). Ia pergi bersama seluruh keluarganya, yang terdiri dari sang istri, Nadia (Hannah Al-Rashid), ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara), dan Haqi (Muzzaki Ramdhan). Mereka mengunjungi panti asuhan tersebut, karena pemilik panti asuha, Pak Bandi (Yayu Unru), sakit keras. Di sana, sang ayah bertemu kembali dengan kedua temannya, yaitu Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), yang datang bersama istri mereka masing-masing. 

Hanif yang penasaran, dengan cepat menemukan misteri dan rumor yang mengerikan mengenai Ibu Mirah (Ruth Mirana), seorang mantan pengurus panti asuhan yang konon meninggal di panti tersebut. Meningalnya Ibu Mirah berkaitan erat dengan hilangnya Murni, salah satu anak panti asuhan yang dikenal oleh Hanif dan teman-temannya. Satu per satu, teror mendatangi semua orang di panti tersebut.



Ada salah satu dialog yang menarik dari film ini yang versi tahun 1981. Konteksnya, kepala desa memprotes perlakuan terhadap ibunya tokoh Suzanna yang diperlakukan semena-mena hanya karena anaknya dituduh tukang santet. Si kepala desa mengatakan, sebagai negara hukum, harusnya diselesaikan secara hukum. Namun si pembuat onar mengatakan bahwa santet sudah di luar ranah hukum. 

Baik versi tahun 1981 dan versi tahun 2019 mempunyai beberapa benang merah. Salah satunya adalah absence of justice bagi korban kekerasan. Salah satu faktor yang membuat ketiadaan keadilan dalam film ini adalah jauhnya panti asuhan tersebut. Mendapatkan sinyal susah dan mencapai jalan tol juga susah. 
Pada akhirnya, hukum menjadi sia-sia karena ia tidak bisa dijangkau oleh si korban baik secara fisik maupun psikologis. 

Tapi, kadang yang membuat hukum menjadi seakan-akan tidak ada atau tidak hidup dalam masyarakat, bukan karena ia "jauh", tapi masyarakat itulah yang tidak bisa menerimanya. Makanya dalam hal ini gue lebih suka penggambaran masyarakat di film yang asli. Kalau kita melihat dari skandal Harvey Weinstein, ia bisa lari dari hukum karena ia tidak sendiri dan the system secara nyata menormalisasikan tindakannya. Agak disayangkan film ini kurang memperhatikan dari sisi the big picture, karena seakan-akan yang terjadi adalah there's this one bad guy. Di sisi lain, film ini juga membuat gue bertanya-tanya: bagaimana posisi moral preteen atau manusia belum dewasa, yang sengaja atau tidak sengaja, membantu si pelaku kekerasan seksual?

Namun, satu hal dari dunia nyata yang direfleksikan film ini adalah fakta bahwa pelaku kekerasan seksual tak jarang merupakan orang yang dikenal korban. Hanya menasehati orang untuk waspada terhadap orang asing sama sekali tidaklah cukup. Tak jarang, orang itu mempunyai posisi di atas korban, seperti orang tua ke anak, atau guru ke murid. And in most cases, si korban jadi takut untuk cerita. Kadang yang terjadi kalau si korban cerita malah victim-blaming, atau si pelaku menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan karakter si korban. I think this part is a very parental or familial horror, especially because these things do happen. 

Yang dijelajah secara tidak langsung di film ini juga adalah dualitas manusia. Si pelaku merupakan orang yang baik dan dipercayai. Tapi ia juga seorang pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. Bahkan memfitnah orang yang melindungi anak-anak tersebut. Sering orang menganggap pelaku kejahatan tertentu adalah monster dan tidak mungkin manusia. Namun mereka tetap manusia, yang kadang punya sisi dermawan, punya orang yang mereka cintai, dan sebagainya. In my opinion, justru itulah yang lebih mengerikan, bahwa pelaku kekejian seperti itu adalah manusia yang mempunyai sifat manusia. Kadang kita unknowingly hidup bersama orang seperti itu, bahkan menganggap orang itu adalah orang baik.



Other Stuffs

Gue jarang melihat body horror di film Indonesia. Itupun jatuhnya ke gore, kayak Rumah Dara  (is it a body horror tho?). Tapi film ini berhasil mencampur-adukan body horror, gore, Indonesian mystical horror, and bits of other horror (bad stuffs happen to children). Sayangnya, ilmu hitam sendiri tidak digali dengan dalam di film ini. Jadi kurang nendang, padahal yang gue nanti-nanti justru itu. Gue pribadi lebih ke arah jijik kalau lihat gore, tapi gak bakal kebayang. Yang bikin gue terngiang-ngiang justru horor yang dedemitnya gitu (kek yang adegan TV). Karena tidak tergali dalam, ilmu hitam ini datangnya rada abrupt dan gak bikin impression yang memorable di film ini. 

On the other hand, build up misteri Ibu Mirah dan Murni udah bagus sih. Intriguing, reveal-nya pun juga memuaskan. Mungkin untuk menjaga mistri, sisi manusiawi Bu Mirah sedikit sekali yang diperlihatkan. 

Cast Ratu Ilmu Hitam cukup solid, but I give extra credits for Hannah dan Muzzaki. Apalagi Muzzaki dengan jatah dialog yang cukup menghibur dan 'pemandu' penonton dalam beberapa misteri film ini. Sayang yang jadi final boss kurang menakutkan. Mungkin dipengaruhi juga dengan build up yang rada rushed.

Overall, Ratu Ilmu Hitam is a very solid Indonesian horror with good visual effects and cast, although rushed on the third act. It brings proper points on the reality of sexual harassment victims and how das sollen (law in the books) can not always bring justice. 8,5/10.


Rabu, 13 November 2019

Our Little Sister (Umimachi Diary)



Hirokazu Kore-eda merupakan nama yang tidak asing bagi penggemar film festival. Karyanya tahun 2013, Like Father Like Son (yang belum gue tonton padahal udah didownload dari kapan tahu) menerima Jury Prize di Cannes Film Festival. Puncak karirinya sejauh ini adalah menerima Palme d'Or untuk Shoplifter pada tahun 2018. Our Little Sister merupakan filmnya yang dirilis pada tahun 2015, dan diadaptasi dari manga yang berjudul Umimachi Diary oleh Akimi Yoshida.

Film Hirokazu kali ini bercerita tiga orang kakak-beradik dewasa. Yang tertua, Sachi (Haruka Ayase), lalu Yoshino (Masami Nagasawa), dan Chika (Kaho). Mereka telah lama hidup bertiga sejak orang tua mereka bercerai. Tiba-tiba, mereka mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal. Saat pemakaman, mereka bertemu dengan adik bungsu mereka dari pernikahan kedua sang ayah, Asano Suzu (Suzu Hirose). Sachi yang merasa sang adik kurang bahagia tinggal bersama istri ketiga ayahnya, mengajak Suzu untuk tinggal bersama mereka bertiga. Suzu menerimanya.



SMALL SPOILER ALERT

Karena gue belum menonton film Hirokazu Kora-eda yang lain, gue belum bisa membuat perbandingan dengan film-film sebelumnya, hehe. Film ini malah mengingatkan gue dengan film Jepang jadul yang berjudul Tokyo Story. Jika Tokyo Story berbicara mengenai orang tua yang diabakan anak-anaknya yang dewasa, maka Our Little Sister menceritakan orang dewasa yang diabaikan orang tuanya saat muda, serta seorang anak yang dikecewakan oleh orang dewasa.

Apa ini gue doang atau gak, film Amerika Serikat yang indie cenderung lebih menyukai dekonstruksi ideal relationship atau cerita mengenai dysfunctional relationship. Sebut saja Marriage Story yang Desember nanti dirilis oleh Netflix (at least based on the trailer), Midsommar, Lady Bird, heck, one of its' biggest franchise is basically a family space opera! Untungnya Hirokazu Kore-eda menghindari tren itu, dan memperlihatkan hubungan saudara yang sehat. 

Kelalaian orang tua mereka tidak muncul lewat hubungan saudara yang tidak sehat, atau apapun yang mencolok. Luka itu justru tumbuh lebih subtle. Seperti Sachi yang sering kali lebih seperti ibu daripada kakak. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana ia yang sering memasak dan menegur adik-adiknya. Ada Yoshino yang sering memanjakan pacarnya secara material. Chika yang masih sedikit kekanak-kanakan. Yang terakhir, Suzu, yang menyimpan unek-unek mengenai ibu tirinya, ditambah merasa insecure karena merasa ibunya lah yang menghancurkan pernikahan orangtua kakak-kakaknya. Akibat dari abandonment nyatanya tidak selalu terlihat mencolok dan inilah yang kadang-kadang dilupakan media dan masyarakat awam. Ini poin favorit gue dari film ini. Luka itu kadang-kadang terlalu dalam atau sudah mati rasa sehingga hanya terlihat jika diperhatikan sangat baik-baik saja.

Film ini juga tidak mempunyai alur cerita yang konvensional. Alur ceritanya sama dengan manga yang diadaptasi, di mana ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari keempat kakak-beradik itu. Kadang-kadang ada hari yang sekedar rutinitas, ada yang sangat membahagiakan, dan ada yang diisi dengan ketegangan. Ketika kamu berharap bahwa konflik kecil itu akan menjadi konflik utama, konflik itu akan terselesaikan atau hanya digantung. Contohnya, ada cerita mengenai kedatangan ibu the elder sisters. Hal ini memicu konflik karena Sachi belum sepenuhnya memaafkan sang ibu. Suzu juga menjadi tidak nyaman. Tapi, Koru-eda tidak membuat tarik-ulur dengan konflik ini secara berlebihan, dan memberikan resolusi yang heartwarming. Tidak hanya resolusi yang heartwarming, film ini juga menampilkan momen-momen kecil membahagikan seperti memanen buah plum, makan katsu, atau sekedar naik sepeda dengan teman. Meskipun demikian, Hirokazu berhasil menyulap momen kecil itu menjadi tidak hanya membuat senang penonton, tapi juga menghangatkan hati mereka.

Secara teknis, gue jatuh cinta banget dengan musiknya! Kudos for Yoko Kanno. Sayang gue cari di YouTube dan Spotify gak ketemu, huhu. Lantunan pianonya itu ringan, tapi manis gak sampai diabetes. Benar-benar menangkap esensi filmnya. Akting para aktornya bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah chemistry di antara mereka. Benar-benar meyakinkan kalau mereka itu kakak beradik. And the landscape!!! No word to describe the landscape. 

Overall, Our Little Sister has the perfect amount of sweetness, warmness, tension, and melancholy. It captures the subtle effect of parental abandonment and disappointment, while also proving you can break it by being a functional adult and having a healthy and loving relationship with your sisters. 7,5/10. 

Minggu, 10 November 2019

Love for Sale 2


The most horror love story, kira-kira itulah tagline promosi Love for Sale 2. Pada tahun 2018, Andibachtiar Yusuf sukses menangkap perhatian pecinta film Indonesia lewat film Love for Sale, yang diperankan oleh Della Dartyan dan Gading Marten. Namun, poster film ini tidak menampilkan Gading Marten sama sekali. Bagaimana kelanjutan kisah Arini dan Love Inc?

Film dimuali dengan Ican (Adipati Dolken) yang menghadiri pernikahan adat Padang bersama keluarganya. Sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), cemas karena di antara ketiga anaknya, hanya Ican yang belum menikah. Kakak Ican, Ndoy (Aryo Wahab), sudah menikah meskipun istrinya kerap dikecilkan oleh sang ibu. Si bungsu, Buncun (Bastian Steel), menikah muda dan sudah mempunyai satu anak. Tertekan dan merasa bersalah, akhirnya Ican memutuskan untuk menyewa pacar dengan kriteria dari Padang, agamis, usia 25-30, pintar, dan bisa diajak berbicara dengan ibu-ibu. Love Inc mengirim Arini (Della Dartyan) yang langsung memikat seluruh keluarga Rosmaida.





SPOILER ALERT


Gue cukup suka dengan opening scene film ini, bahkan one-shot di opening cukup panjang. Suasana pernikahan dan dialognya benar-benar menangkap stereotipikal orang Indonesia yang kepoin pernikahan dan bertanya-tanya kapan saudara/anaknya menikah. Adegan tersebut juga menangkap bahwa masih ada beberapa orang yang meskipun sudah tinggal di kota dalam waktu yang cukup lama, mereka masih terikat dengan adat dan kepo-kepo sanak saudara yang kuno. Mungkin agak kelamaan aja sih, karena di menit ke berapa gue sempat mikir, "Ini kapan ceritanya bergerak?".

Meskipun judul ceritanya "Love for Sale 2", jangan berharap banyak dengan aspek romansa film ini. Film ini justru lebih fokus ke aspek keluarga dan konflik menyenangkan orang tua vs keinginan pribadi. Sayangnya, kata-kata yang dikeluarkan oleh tokoh sang ibu bagi gue udah level preachy. Apalagi kata-kata dia sering tidak mendapat perlawanan, atau digambarkan sebagai filmmaker, "Ya udah lah ya, udah ibu-ibu gini, orang tua toh juga udah lebih tahu biasanya." Terutama aspek pemaksaan dan emotional guilt tripping, bahkan manipulatif, kepada Ican. Film ini memang menyentil Rosmaida yang ingin anaknya menikah, tapi dia sangat picky dalam aspek menantu. Tapi ia tidak pernah disentil karena memaksa Ican untuk menikah, bahkan sampai berkata seperti ini, "Ibu gak tahu sampai kapan ibu hidup, dan ibu pengen lihat kamu menikah sebelum ibu mati." Mungkin tidak persis seperti itu, tapi bagi gue itu udah masuk ke emotional manipulation. Orang-orang di sekitar Ican pun seakan-akan mendukung pandangan ibu.

Gue gak tahu apakah penulisnya juga punya tujuan ini, tapi fakta Ican sampai bohong dan bayar wanita untuk menipu keluarganya, adalah bukti tidak langsung betapa toxic permintaan si ibu. Ican berpikir Arini hanya akan menenangkan ibunya sampai beberapa bulan. Ia tidak berpikir apa yang terjadi jika ibunya sampai mempunyai attachment dengan Arini, atau bahkan ketika kontrak tersebut berakhir. Ini juga merugikan Arini, karena Ican sendiri tidak mempertimbangkan bahwa Arini mempunyai rencana lain, atau seberapa kepribadian Arini yang merupakan kepribadian aslinya atau karena dibayar.

Rosmaida pun sayangnya tidak punya watak lain sebagai seorang ibu yang taat adat dan agamis. Sumpah, mungkin karena gue tipikal anak muda kota gak relijius dan gak suka adat, jadinya gak simpatik sama sekali sama karakternya dia. Apalagi ketika dia memarahi anak bungsunya, dia lebih menekankan betapa malunya dia ketimbang kepribadian anaknya.

Aspek keluarga yang ditekankan memang mungkin tema film Indonesia populer tahun 2019, seperti Keluarga Cemara, Dua Garis Biru, bahkan Perempuan Tanah Jahanam juga to some extent. Sayangnya, aspek keluarga film ini malah mengorbankan chemistry dan progres hubungan Arini dan Ican. Adipati Dolken memang aktingnya bagus di film ini, tapi tidak sampai bersinar seperti Gading Marten di film sebelumnya. Della Dartyan pun juga tidak secharming di film sebelumnya bagi gue.

Overall, Love for Sale 2 is a steady film that explores a stereotypical Indonesian family and how having a good marriage is still a source of pressure in Indonesia. Sadly, it compromises the chemistry and the story of its romantic leading pair. 6,5/10.



Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10