Tampilkan postingan dengan label Sci-Fi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sci-Fi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2019

Star Wars: The Rise of Skywalker (Celotehan Penuh Spoiler)



J.J. Abrams kali ini membawa penonton ke akhir kisah dari trilogi sekuel Star Wars. Film dimulai dengan Kylo Ren (Adam Driver), yang menemukan suatu Sith wayfinder. Alat itu membawanya ke Planet Exegol, di mana ia bertemu dengan Palpatine (Ian McDiarmid), yang ternyata mastermind dari suara-suara yang Kylo dengar. 

Sementara itu, Rey (Daisy Ridley) kini berlatih dengan Leia (Carrie Fisher) setelah Luke meninggal. Poe (Oscar Isaacs) dan Finn (John Boyega) melakukan banyak misi bersama, meskipun Poe tidak selalu setuju dengan Rey. Ketika Resistance mengetahui Palpatine bangkit, Rey memutuskan untuk mencari Exegol dan melawan Palpatine. Di tengah pencarian Sith wayfinder lainnya, Rey dan Kylo Ren kerap bertemu melalui Force, dan mereka belum melepaskan visi mengenai antara satu sama lain.




SPOILER ALERT, I AINT KIDDING





In case y'all don't get it, I paid 50k Rupiah (sike, it's my parent's money) just so I could watch my OTPs in IMAX. No, I'm not alone).

Fandom Star Wars mungkin adalah salah satu fandom yang paling fanatik dan yang paling susah to feel pleased and satisfied. Akan selalu ada bagian fans yang tidak suka dengan keputusan yang diambil Disney atau para filmmaker mengenai trilogi ini. Hal ini bisa dilihat dari betapa pecahnya opini mengenai Episode VIII: The Last Jedi. Mungkin inilah yang membuat Abrams dan Disney memutuskan untuk mencoba pleasing everyone.

And boy, how well did it go in Episode IX.

Let me be clear first: there's a difference in listening to criticism and trying to please everyone. Ketika MCU berupaya untuk membuat musik di Black Panther berbeda dari film-film mereka sebelumnya, mereka telah mendengar kritik mengenai musik dari film-film mereka. Atau ketika mereka membuat film Thor yang berbeda dari dua film sebelumnya. You listen to the criticisms that are given to you, without losing the vision you have. Rise of Skywalker, on the other hand, does not have a clear vision.

Let's start with the development of Rose, Poe, and Finn. Poor Kelly Marie Tran, dia gak kepakai di film ini. Poe dan Finn other than the fact they should've been together hampir tidak mengalami perkembangan sama sekali. Beberapa momen penting mereka di film ini harus dibagi dengan karakter baru, that are not memorable for me. Untuk Poe, fakta dia punya mantan pacar dan dia dulu bekerja sebagai spice smuggler, cuma jadi lelucon dangkal dan gak menambah poin apapun bagi karakternya dia dan plot film. John Boyega tidak bisa menjelajahi kemampuannya karena dia kembali sebagai sidekick dan ship tease dengan Rey. Padahal, masa lalu Finn sebagai stormtrooper punya potensi untuk digali lebih dalam karena dia bertemu dengan eks stormtrooper lainnya. There are so many things that can be explored like, how far his trauma is, how young were the kids who were kidnapped, and what I would personally like, to see him reaching a stormtrooper personally and inspired a stormtrooper. Like, what a wasted potential!



Maybe because I don't follow the franchise religiously, I feel Palpatine's (and Lando) return is just for nostalgia's sake. He just comes and goes. Don't get me wrong, I'm not mad for Palpatine and Lando's return, tapi gak berhasil membawa apa-apa bagi penggemar yang gak fanatik kayak gue. Penjelasan mengenai kembalinya Palpatine juga terasa half-assed. Akan lebih menarik melihat interaksi Lando dengan Ben Solo, tapi kalau gak ditulis dengan baik, juga bakal jelek hasilnya.

And now, let's talk about Ben fucking Solo, the last canonically, Skywalker descendant. Ada ironi pahit meskipun Ben Solo pada akhirnya kembali ke light side dan ia menyelesaikan apa yang kakeknya inginkan, yaitu menyelamatkan wanita yang ia cintai, ia akhirnya tetap mati dan kematiannya benar-benar mengakhiri garis Skywalker. What's harsher in hindsight, Palpatine lah yang menang karena keturunannya masih hidup lewat Rey. I personally feel Kylo Ren merupakan salah satu karakter yang ditulis paling bagus dalam trilogi ini. Karakternya merupakan yang paling kompleks dan multidimensional. Karena itu, gue merasa Abrams dan penulis lainnya bingung mereka mau membawa  Kylo Ren / Ben Solo ke mana. Also, Ben Solo using the mask back is just tasteless for me. Ben Solo tidak berkata apapun setelah meninggalkan dark side. Ada komentar yang mengatakan akan lebih menarik jika RoS lebih menggali Ben Solo, dengan membuat proses Bendemption terjadi lebih awal. I agree with that! Sisi positif yang gue suka mungkin adalah Kylo Ren akhirnya menjadi sama kuatnya dengan Rey, setelah ia dikalahkan (di TFA) dan mengalami stalemate (di TLJ). Dia akhirnya bisa mengalahkan Rey di duel lightsaber karena ia lebih tenang dan percaya diri.

Which brings us to Reylo. Disney benar-benar memancing shipper dengan menggunakan Reylo selama marketing TROS. Yang paling bikin Reylo shippers baper tentu saja that But I do line. I gotta say, me and other shipper feel cheated. Mereka menggunakan Reylo dan memberikan banyak hint mengenai Reylo, tapi chemistry dan perkembangannya tidak terasa semagis TLJ. Sebenarnya ada chemistry, but it owes to Adam Driver and Daisy Ridley, not the writers. In addition, gimana gue percaya Rey dan Ben beneran force mate kalau Rey reaksinya biasa saja? Coba deh, bandingkan reaksi Rey waktu lihat Han Solo dibunuh, dan waktu mengira Chewie mati. Masa Rey lebih berduka lihat mereka berdua mati dibandingkan her own soulmate? Apalagi, Rey S K Y W A L K E R. Last time I check, it's Ben SOLO, not Skywalker. Padahal Rey sendiri yang bilang meskipun ia punya camaraderie dengan Resistance, ia tetap kesepian. Artinya, ada Leia pun ia kesepian. She wasn't even mourning deeply for Luke, how am I supposed to believe that she would pick Skywalker as her last name? 

Overall, I do not think The Rise of Skywalker is a bad film. It is just a disappointing one, as it wastes potentials, tries to please too many sections, and uses too much nostalgia points. 6,5/10.



Senin, 22 Juni 2015

Jurassic World


Berhubung nyokap ngedenin gue tahun 1998, gue gak nonton Jurassic Park, which was released in 1993, di bioskop. Gue beberapa kali nonton Jurassic Park di TV waktu kecil, and I never felt fascinated or awed by the film. Gue justru bisa merasakan dan menghargai keajaiban film Jurassic Park beberapa bulan yang lalu, setelah gue rewatch di HBO. Gue belum pernah nonton The Lost World dan Jurassic Park III karena belum menemukan mood. 

22 tahun setelah John Hammond membuka (dan menutup) Jurassic Park, seorang pengusaha bernama Masrani (Irffan Khan) membuka Jurassic World. Ia dibantu oleh Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), seorang operations manager. Mereka berencana untuk mempamerkan sebuah trik gen yang sangat hebat secepatnya. Untuk itu, mereka meminta pendapat dan bantuan Owen Grady (Chris Pratt) a sexist white asshole yang bersahabat dengan velociraptor. Disaat yang sama, kakak Claire menitipkan dua putranya, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins) untuk bersenang-senang bersama tante tersayang mereka. Masalah dimulai ketika trik gen yang sangat hebat itu berhasil lolos dari kandangnya.


RISK YOURSELF WITH CRAPPY REVIEW AND SPOILER


In the next movie, just let the dinosaurs kill all the people

I give the cute four raptors more fuck than the Hermione Granger-wannabe and the sexist white asshole. I'm not kidding, it's really sad to see those cute raptors die.

Gue udah melengos waktu lihat Claire yang too perfect sekaligus needs to get laid badly. God, do we really need another Hermione Granger? Serius, workaholic, control-freak, dll. But hey, at least Hermione doesn't describe house-elves as "assets". Claire is a very stereotypical character. Awalnya sih dia emang cold, sangat logis dan organized, but in the end, she still needs a guy to save her and "melt her heart". I know this is annoying, but even Hermione doesn't need any guy to save her or melt her. 

Beberapa orang gak suka dengan sisi feminin Claire karena berbagai alasan. Gue tadinya gak suka sih, simply karena gue bukan penggemar orang yang centil dan perfeksionis (kecuali artis). Tapi gue melihat itu sebagai suatu statement bahwa women do not have to be a tomboy or "guy-like" to be considered strong. She can wear dress and heels but still a strong woman. In the end, 'pernyataan' itu jadi useless karena Claire menemukan kekuatannya setelah berinteraksi dengan Owen dan melupakan sedikit penampilannya. On the other hand, pekerjaan Claire tidak mengharuskan ia untuk terekspos dengan kehidupan outdoor. So, bisa dimengerti sih how incompetence she is ketika menghadapi dinosaurus. But still...that doesn't make me love her. Sorry, but I love female characters like Ellen Ripley, Black Widow, heck, even Belle from Beauty and the Beast.

What I like from Claire is that she keeps her heels after dozens of complain about her attire and attitude. Nope, I still think she's too pretty and stiff. But you go girl for keeping your shoes!

Am I the only who one who do not fall for Chris Pratt? He's hot, tapi gue lebih milih Loki, Magneto, Sherlock, Iron Man, dan Jack Dawson daripada dia. Anyway, apakah otot, keseksian, 'karisma', asshole-y sense of humor, dan Ace Ventura-skill benar-benar diperlukan untuk membuat sebuah hero untuk film blockbuster? Dr. Grant doesn't have those things, and he still kicks asses. But the thing I like the most from Dr. Grant? He's not fond with children, but he ends up taking care of them. Penampilan Chris Pratt sendiri did nothing for me. Not bad but not memorable either. The same goes with Howard's performance.

Selain itu, Dr. Grant dan Dr. Sattler tidak membutuhkan a ridiculous amount of UST (unresolved sexual tension) dan adegan ciuman untuk menunjukkan chemistry mereka. Gue gak membenci UST antara Claire dan Owen, just saying that Grant and Sattler do not need those things. And you know what? Gue bukan penggemar Sam Neill dan Laura Dern, tapi Jurassic World telah menuliskan nama gue di daftar fans Neill dan Dern. 

Yes, it's women's job to give birth and take care of children while the men don't have any natural obligation.

Satu hal yang bikin gue sangat benci dengan Claire adalah bagian akhirnya. Sebelumnya, Claire dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan dua keponakannya. Lalu ada adegan dimana Claire menelpon kakaknya dan kakaknya sangat yakin bahwa Claire suatu saat akan menikah dan punya anak. Guess what? In the end, Claire gets a boyfriend and she interacts more with her nephews! There you go Claire, your long lost motherly instinct! 

Nah, kan udah dibilang nih kalau Claire terlalu sibuk ngurusin keponakannya. Terus, siapa dong yang ngurusin Zach sama Gray pas mereka nyampe di Jurassic World. Claire menyuruh salah satu asistennya, Zara, untuk mengurus kebutuhan Zach dan Gray. Zara doesn't really care for them. Come on, they are only her boss' nephews. Guess what Zara's punishment for not taking care of Zach and Gray? She has the most gruesome death in this film. Even the death of the selfish fat guy in Jurassic Park isn't as bad as Zara's. Get what I meant?    

A woman's decision to not have children or lack of skill in dealing with children doesn't make her "evil" or "abnormal".


Little Homages

Jika diperhatikan baik-baik, banyak homages kecil maupun besar yang berteteran di Jurassic World. Gue udah kasih warning buat spoiler kan? So far, homages yang gue ingat: John Williams' original theme song, the jeep, eggs in lab, dilophosaurus, B.D Wong, human's greed for power and money, T-Rex, raptors vs bigger dinosaur, and a scene that dedicates for Dr. Grant and Dr. Malcolm. Gue senang sih ada satu aktor dari JP yang balik untuk main di JW, but I prefer seeing Samuel L. Jackson in this film with one arm and one eye, lol.

Other Things

Using mosasaurus for promotion is a stupid move; it ruins the surprise.

Ada satu percakapan yang menurut gue menekankan bahwa it's not "science's fault" but human's fault. Menurut gue, beberapa film sci-fi sering memberikan kesan bahwa inovasi pada sains dan teknologi itu buruk bagi kemanusiaan. Mungkin bukan itu maksud pembuatnya, tapi gue menangkapnya seperti itu. Mereka kurang memberikan penekanan bahwa berinovasi tidak salah, tapi apa yang dilakukan pada inovasi itu.

I'm not fond with the characters, but I'm crazy with the CGI! Goddamn, rasanya tuh kayak liburan ke Universal Studio di USA, but it's certainly better than that. Doh, gue jadi ngarep Jurassic World beneran ada. Wahana yang ditayangkan di film ini juga menarik. Gue merasa kayak bocah lagi jalan-jalan ke Taman Safari yang sangat, sangat, sangat, modern.

Overall

I can't understand how come the plot is bad because it's written by four people. But this film satisfies my inner starve for a mind-blowing amusement park. 6/10


Selasa, 25 November 2014

Interstellar

Do not go gentle into that good night. -Dylan Thomas
uniqpost.com

Setelah berbulan-bulan sibuk dengan pekerjaan sekolah, akhirnya gue bisa nonton film baru di bioskop!  Aaaah, apalagi film yang ditonton tuh film terbarunya om jauh gue alias om Christopher Nolan.  

Interstellar merupakan film sci-fi tahun 2014 yang disutradarai, diproduseri, dan ditulis oleh Christopher Nolan.  Nolan ikut menulis bersama saudaranya, Jonathan Nolan sedangkan Emma Thomas - istri Nolan - ikut membantu sang suami di bagian produser.  Interstellar dengan cepat menarik perhatian orang-orang, termasuk mereka yang bukan fans Nolan ataupun pecinta film.  Interstellar bahkan dibanding-bandingkan dengan salah satu mahakarya Stanley Kubrick yaitu 2001:  A Space Odyssey.  Movie-buffs dan Nolan seharusnya tahu bahwa hal itu merupakan suatu kehormatan besar di perfilman.  Bahkan hype Interstellar sendiri mengalahkan film Gravity, film sci-fi yang dianggap sebagai salah satu film tahun 2013 yang terbaik.  

Kalau lo belum nonton filmnya, gue sangat menyarankan lo untuk tidak baca review-nya karena itu cuma ngurangin kenikmatan lo nonton nih film.  

Di masa depan, tanah yang kita pijak tidak bisa lagi memberikan kita makanan.  Gandum dan okra tidak bisa lagi ditanam sehingga masyarakat Amerika hanya bisa mengandalkan jagung.  Tidak ada lagi tentara, ilmuwan, dan penemu, karena orang-orang lebih membutuhkan petani.  Salah satu petani itu adalah Cooper (Matthew McConaughey), seorang duda dengan dua anak.  Cooper membenci pekerjaannya, tapi menjadi petani adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.  Ia mempunyai dua orang anak, Tom (Timothee Chalamet; Casey Affleck) dan Murphy (Mackenzie Foy; Jessica Chastain).  Suatu hari, Murphy merasa bahwa kamar tidurnya dihantui.  Ia beralasan bahwa buku-buku dan pesawatnya jatuh walaupun ia tidak menjatuhkannya.  Si hantu memberi mereka pesan lain lewat sebuah anomali gravitasi.  Anomali gravitasi itu ternyata merupakan suatu koordinat tempat.  Koordinat tempat itu mengantarkan mereka pada Dr. Amelia Brand (Anne Hathaway) dan ayahnya, Professor Brand (Michael Caine).

mashable.com

I'm not sure whether Christopher and Jonathan Nolan are ordinary men or not...Can I switch my brain with one of these guys?  


What do the haters say?

Not everybody loves Nolan.  Some of his haters say that his films lack emotion, feeling, or even passion.  Well, Nolan jelas memperhatikan masalah itu karena Interstellar merupakan film Nolan yang paling emosional...so far.  Mungkin saking pengen nunjukin kalau dia masih punya emosi, Nolan sampe membahas the L word.  

Nolan, I know you want to prove that you're not a robobitch, but why the hell you have to discuss the L word?!!  

Sebenarnya, gue merasa somewhat tersentuh bagaimana film ini berusaha menunjukkan bahwa cinta itu menembus ruang dan waktu.  Tapi tokoh-tokoh di film ini lebih berfokus pada nasib seluruh umat manusia.  Itu tidak masalah jika 'cinta' yang dimaksud adalah cinta pada kehidupan atau umat manusia.  Tapi film ini lebih menekankan jenis cinta yang bersifat personal.  Sayangnya, Interstellar kurang fokus pada personal bond. Cooper mungkin memang terdorong untuk mengikuti misi Lazarus karena anaknya, tapi ketiga rekannya dan Prof. Brand terdorong karena faktor humanity, bukan personal bond.  So, pesan mengenai cinta yang bisa menembus ruang dan waktu kurang mengena bagi gue.  Moreover, it sounds so cheesy and corny.  

Some things I learn from Interstellar

Gue merasa bahwa Nolan ingin menyampaikan suatu pesan tentang hidup which is: you can not change your past.  Amelia mengatakan bahwa waktu bisa mengecil atau melebar, tapi manusia tidak bisa kembali ke masa lalu.  Cerita film ini pun juga menekankan pesan itu.  Cooper bisa melihat kembali keputusan-keputusan yang ia buat tapi pada akhirnya ia tidak bisa merubah apa yang 'sudah' terjadi kepadanya.  Dirinya dia di masa lalu tetap akan melakukan 'kesalahan' itu.  Yang ia ubah pada akhirnya bukanlah masa lalu, tapi masa depan. 
Nolan mungkin pendukung besar ekspedisi untuk ke luar angkasa, tapi Nolan tidak menutupi hal-hal negatif dari ekspedisi besar semacam itu.  Misi-misi semacam ini menghabiskan banyak uang dan tidak memberikan jaminan yang pasti dalam jangka waktu pendek.  Toh pada akhirnya dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memecahkan 'Plan A'.  Selain itu, ada kemungkinan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang terlibat sebenarnya memalsukan data untuk kepentingan pribadi.  I'm glad that even though Nolan is supporting outer space missions, he also shows the audience the ugly side of missions like that.  

Confusing stuffs

huffingtonpost.com

Gue bingung banget sama timetable-nya Interstellar.  Jadi Murphy udah seusia ayahnya setelah ayahnya kembali dari Planet Miller.  Tapi bagaimana mungkin usia Murphy tidak bertambah setelah ayahnya kembali dari planet Dr. Mann?  Gak mungkin perjalanan ke Planet Dr. Mann menghabiskan waktu yang sedikit.  Apakah mungkin Cooper mengalami masalah dalam dimensi waktu sehingga umur Murphy tidak berubah banyak sejak ayahnya kembali dari Planet Miller?

Gue juga bingung kenapa Cooper 'jatuh' ke rumahnya.  I mean, kenapa dia gak 'jatuh' kantornya NASA atau tempat lain?  Kalo Cooper 'jatuh' ke rumahnya, kenapa TARS (robot) gak ikut 'jatuh' ke rumahnya?  I know kalau ceritanya gak kayak gitu pasti gak bakalan seseru itu.  Apalagi menjelaskan hal-hal ini pasti membutuhkan waktu yang banyak.

The usual stuffs

Applause buat seluruh cast and crew yang bekerja buat film ini.  Untuk pemainnya, gue memberikan credit lebih ke Matthew McConaughey because he's so badass, charming, but also caring.  Matt Damon - walaupun hanya tampil sebentar - tetap berhasil membuat gue kagum.  Anyway, Hans Zimmer juga tidak gagal membuat kagum dengan musik yang ia ciptakan untuk Interstellar.  Gue paling suka Docking karena itu dapet banget ketegangannya.  Belum lagi sinematografinya Hoyte van Hoytema yang kecantikannya udah gak bisa digambarkan dengan kata-kata (whatthehellamIwriting).    

About duration

Gue sendiri agak menyayangkan durasi film ini yang cukup panjang.  Tapi apa daya?  Kalau gak background yang cukup mengenai hubungan Murphy-Cooper, pasti hubungan itu gak akan menyentuh penontonnya. 

Beberapa reviewer sepertinya kecewa dengan klimaks Interstellar yang 'tidak seru' karena lebih banyak penjelasan daripada hal-hal seru.  Tapi kalau gak dikasih penjelasan, kasihan penonton yang kagak pintar kayak gue. 

Conclusion

Sumpah, lu rugi banget kalau gak nonton nih film di bioskop.  Lu bakalan nyesel banget kalau lo nonton di film ini lewat dvd bajakan doang.  Lupakan soal budget because I personally think this is definitely a not-to-be-missed-in-cinema movie.  9,3/10

 

Sabtu, 07 Juni 2014

The Girl who Leapt Through Time: An awesome romcom animation with light sci-fi

Time waits for no one.
animea.net
The Girl who Leapt Through Time merupakan film animasi yang terinspirasi dari sebuah novel Jepang yang berjudul sama.  Gue menulis "inspirasi" karena tokoh dan latar film ini berbeda dengan yang ada di novel.  The Girl Who Leapt Through Time dirilis pada 2006 dan disutradarai oleh Mamoru Hosada serta ditulis oleh Satoko Okodera.  Film yang berdurasi 98 menit ini ternyata bisa mengambil hati para kritikus film.

Makoto Konno merupakan seorang gadis SMA dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.  Ia tinggal bersama keluarganya, ia hobi bermain baseball dengan dua sahabatanya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.  Suatu hari, Makoto terlambat pergi ke sekolah.  Ia mengira bahwa ia hanya akan mengalami satu kesialan.  Tapi ternyata kesialannya berjalan terus.  Ketika Makoto berada di laboratorium, ia menemukan sebuah alat yang berbentuk seperti kacang.  Ia juga merasa ia didorong seseorang.  Namun Makoto hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan bergegas untuk mengantarkan kue kepada bibinya.  Makoto mengendarai sepedanya.  Saat lampu menandakan kereta akan lewat, Makoto tidak bisa menggunakan rem sepedanya.  Ia menabrak portal dan terlempar.  Tiba-tiba, ia kembali ke beberapa menit sebelum menabrak portal kereta.  Makoto yang bingung langsung berbicara kepada bibinya mengenai apa yang terjadi.  Bibi Makoto mengatakan bahwa Makoto mempunyai kemampuan untuk kembali ke waktu.

Makoto pun terus berusaha untuk menemukan cara kembali ke masa lalu.  Ternyata untuk kembali ke masa lalu, Makoto harus melakukan sebuah loncatan atau putaran.  Makoto menggunakan kekuatannya untuk hal-hal ringan seperti tidak terlambat, karaoke berulang kali, membaca arah bola baseball, dsb.  Namun ketika nyawa salah satu teman Makoto terancam, sisa kemampuan Makoto hanya satu.

primeedges.wordpress.com

I'm not a big fan of Japanese animation and manga.  Gue kalau nonton anime gak rajin-rajin amat dan baca manga secara random.  Entahlah, mungkin karena gue juga bukan penggemar berat film-film sci-fi dan fantasi gak jelas ataupun komik shojo dengan cerita romance yang membosankan.  Apalagi animasi Jepang itu rough at the edge, gak 'sebersih' animasi USA.  Tapi akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama film animasi Jepang (bukan yang seri).  The Girl who Leapt Through Time tidak mempunyai animasi yang seindah Ghibli ataupun yang dibuat Makoto Shinkai, tapi....  

I LOVE THE GIRL WHO LEAPT THROUGH TIME.

Alur cerita yang ditawarkan film ini sama sekali gak original atau unik, tapi Mamoru Hosada dan Satoko Okudera dapat mengemas keseluruhan film secara baik.  Ada komedi, romance, dan sci-fi, meskipun  sci-fi film ini gak akan membuat lo jedot-jedotin kepala ke tembok kayak Inception ato The Matrix.  Salah satu pengguna youtube mengatakan bahwa komedi di film ini bukan jenis komedi yang bakalan bikin lo ngakak, tapi gue ngakak nonton film ini.  Bahkan gue tetap ngakak waktu kedua kalinya gue nonton film ini. 

Gue suka semua tiga tokoh utama film ini karena mereka gak punya sifat yang benar-benar menonjol untuk dimasukkan ke sebuah stereotipe.  

theonlineanimestore.blogspot.com

Mungkin awalnya Makoto terlihat sebagai one-of-those-clumsy-and-cutesy-Korean-drama-heroines, tapi ternyata tidak.  Dia memang ceroboh, tapi bukan jenis ceroboh yang membuat lo jijik.  Ketika dia sedang ceroboh, dia tidak melebarkan matanya, menggigit bibirnya, dan hal-hal klise seperti itu.  Dia juga bukan tokoh yang totally idiot.  Makoto masih mempunyai akal sehat yang kuat untuk menangkap dan memahami beberapa hal.  Plus, rambutnya pendek dan ia bisa bermain baseball.  Ia juga tidak popular ataupun seorang outcast.  Cuma satu yang gue gak suka dari Makoto: gue gak suka cara nangisnya dia, secara visual maupun audio.  Suaranya cempreng aja kalau lagi nangis.  Tapi secara keseluruhan, voice actor yang mengisi suara Makoto bagus kok.  Dia cukup ekspresif ketika mengisi suara. 

At first, I thought Chiaki Mamiya was another carbon-copy of Usui from Maid-sama.  Untungnya gue salah.  Chiaki Mamiya bukanlah Gary Sue, which means he's not perfect.  Dia memang memiliki penggemar, tapi bukan berarti seluruh perempuan memuja dan mendewakan Chiaki.  Yang lebih mirip Gary Sue justru Kosuke.  Dia pintar, cukup atletis, tidak pernah telat, bahkan memiliki penggemar seperti Chiaki *walaupun gak seheboh Usui*.  But I know he's not Gary Sue from his appearance.  Bajunya gak rapi dan kupingnya Kosuke punya semacam anting atau tindikan.  Kepintarannya juga bukan jenis pintar yang kayak Einsten.  The point is, all of them are normal teenagers.   

Di film romance, biasanya kalau ada persahabatan yang melibatkan tiga orang akan ada the other guy/girl dan atau cinta segitiga yang memuakkan.  The other guy/girl bisa berarti cewek atau cowok yang cintanya tidak dibalas atau teman yang menjadi tidak relevan.  Gue rasa hal ini tidak terjadi di The Girl who Leapt Through Time.  Baik Satoko maupun Mamoru melakukan usaha yang bagus dalam membuat seluruh tiga tokoh utama tetap menjadi tokoh utama.  Ketika Makoto bingung mengenai perasaanya kepada salah satu temannya, Satoko Okodera memberikan kita momen-momen antara Makoto dengan 'the other guy'.  Bahkan 'the other guy' ini malah mengantarkan penonton pada twist film The Girl who Leapt Through Time.  Gue sampai bingung mau ngeship Makoto sama Kosuke atau Chiaki.  Tapi sayangnya, hanya Makoto yang mempelajari sesuatu di film ini.  Chiaki dan Kosuke tidak bertambah dewasa di film ini.  But at least they still have characters.         

The Girl Who Leapt Through Time doesn't have fresh, original, or mind-provoking plot, but at least the plot is still good, even we can learn something from this film.  If you expect anything like Akira or Spirited Away, I don't recommend this film for you.  But if you expect above-average entertainment, then I recommend this film for you.  8,7/10      

    

Jumat, 16 Mei 2014

The Amazing Spider-man 2: "At least there's no cicak-man"

I need you. -Harry Osborn

I'm not a big fan of Superhero movies.  Gue cuma suka film Batman sama The Avengers doang, yang lainnya gue kurang suka.  Gue juga bukan penggemar film Spider-man, cuma suka film Spider-man 3 aja.  Beberapa hari yang lalu gue nonton Captain America: The Winter Soldier and I actually like it!  Gara-gara film itu, gue memutuskan untuk 'memberikan kesempatan' pada film The Amazing Spider-Man 2. 

Kali ini Peter Parker (Andrew Garfield) sedang menjalin hubungan dengan Gwen Stacy (Emma Stone). Di tengah kesibukannya muncul seorang penjahat tangguh bernama Electro (Jamie Foxx) yang datang menebar teror di New York. Electro ini memiliki kekuatan mutan dan dapat mengendalikan medan listrik, sebagai pertahanan diri sekaligus senjata.

Di saat yang sulit itu Peter mengetahui sebuah rahasia mengejutkan tentang ayahnya. Ia menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang berisi berbagai penemuan dan melihat video ayahnya yang mengaku menyembunyikan penemuannya untuk melindungi dunia. 

Selain itu muncul Harry Osborn (Dane DeHaan), teman lama Peter yang telah kembali dan menunjukkan ambisinya tentang 'Oscorp'. Peter pun menyadari sesuatu bahwa dalam video ayahnya juga menyebutkan hal yang sama dengan Harry.

sinopsis diambil dari sini

WARNING: MENGANDUNG SPOILER!


Pertama-tama, gue minta maaf karena (kayaknya) bakalan banyak perbandingan antara Spiderman versi Raimi dan Webb.

Apakah lu percaya sosok Peter Parker yang diperankan oleh Andrew Garfield ini seorang geek dan korban bully di sekolahnya? 

Gue bukan penggemar Tobey Maguire, tapi entah kenapa ada perasaan gak rela melihat peran Peter Parker a.k.a Spiderman diambil alih oleh Garfield.  Spiderman yang diperankan oleh Maguire itu sifatnya mellow dan angsty, sedangkan Garfield memerankan Peter Parker sebagai sosok yang santai dan punya sense of humor yang lumayan.  Is that a bad thing?  I don't think so, gue menikmati kok segala lelucon yang dilontarkan oleh Spidey versi Garfield.  Bahkan melihat versi lain Spidey sebenarnya merupakan hal yang cukup refreshing.  Tapi ada alasan tertentu gue (sempat) bersimpati dan 'ikut merasa' kepada Peter Parker versi Maguire, karena versinya dia emang lebih hopeless & geeky, dan karakternya dia lebih meyakinkan penonton bahwa dia adalah seorang 'korban'.  Gue memang menulis bahwa Spidey yang diperankan Garfield cukup refreshing dan fun, tapi gue tidak merasa bersimpati kepadanya karena ia mempunyai karakter yang likeable.  I mean, he will survive in this cruel world.  Di Spider-Man 2, kita bisa melihat dan merasakan perjuangan Bibi May dan Peter untuk survive dalam bidang finansial.  Di film ini memang ditunjukkan, tapi...kurang terasa dan diolah dengan baik.

Am I the only one who hate the sappy romance in this film?  Seriously, gue gak suka sisi romance yang menurut gue terlalu cengeng dan dramatis di film ini.  Di tengah-tengah menonton film ini, gue mempertanyakan diri sendiri apakah gue sedang menonton film Superhero atau film romance yang diadaptasi dari novel Nicholas Sparks.  Webb, gue jauh-jauh datang ke Blitz dan pake promo KakaoTalk buat nonton film superhero yang seru dan (syukur-syukur) mengajak gue bepikir, bukan buat nonton dua orang muda penuh hormon berakting cute.  Emma Stone dan Garfield bagus kok dalam memerankan karakter individual mereka, namun begitu mereka berdua?  Gue merasa chemistry mereka kurang kuat.  Ada momen-momen dimana chemistry mereka bagus, tapi chemistry mereka kurang konsisten di sepanjang film.  Terkadang ada saatnya adegan cute yang dilakukan mereka terasa terpaksa.  Adegan-adegan itu seakan-akan hanya menunjukkan,"Woohoo, we're the cutest and the most romantic couple ever!"  Untungnya film ini gak sekedar menunjukkan adegan cute (menjijikkan) tapi juga ikut mengelola hubungan Gwen dan Peter.  Setidaknya tim penulis TASM2 menggali permasalahan dalam hubungan Gwen & Peter, dan memperlakukan mereka sebagai dua subjek yang punya keinginan, perasaan, dan pemikiran.  Tapi ending-nya?  GUE YAKIN BANGET NICHOLAS SPARKS IKUT TERLIBAT DALAM FILM INI. 


Gue kira Marc Webb akan belajar sesuatu setelah memasukkan cicak gak jelas ke film The Amazing Spiderman.  Tapi apa yang kita dapat?  DUBSTEP DJANGO (gue pake kata-kata ini dari blog ini).  Mungkin Marc Webb demen banget sama Yang Mulia Quentin Tarantino sampe bikin versi Dubstep-nya Django.  Kayaknya Django emang bosen dan kebetulan juga dia pengen dapet make over.  At least Dubstep Django is better than cicak-man from the previous film. 

Tim penulis dan Webb sepertinya berusaha membuat Dubstep Django more than an antagonist.  Tapi mereka seakan-akan bingung apakah mereka akan membuat antagonist yang angsty atau comical.  I must say I enjoy the comical side of Dubstep Django, tapi gue kurang puas dengan karakterisasi Electro yang cukup dangkal.  Tokoh Electro membuat gue lebih frustasi daripada Harvey Dent karena Electro memang 'segitu aja', he's not more than an ordinary antagonist.  He's a funny and pityable antagonist, but that's it.    

For Farhat Abbas's sake, WHAT HAVE THEY DONE TO HARRY OSBORN.  Anjirrr, ini kenapa Harry Osborn jadi jelmaan diva (?) gak jelas dengan gaya rambut yang tingkat kealayannya sama kayak Andhika Kangen Band?!!  OMG, speechless gue...  Putting Harry Osborn in this film is a bad decision.  Chemistry antara Garfield dan DeHaan sama sekali gak menyaingi chemistry antara Maguire dan James Franco.  Franco's Harry Osborn was charming and charismatic while DeHaan's Harry Osborn is a fail diva.  Kedatangan Harry Osborn hanya memperumit plot dan karakternya tidak tergali dengan cukup dalam.  Osborn di film ini sama sekali tidak membuat gue merasa simpatik atau membuat gue ingin fangirling dengan karismanya.  Nope, Osborn di film ini lebih cocok untuk casting ke America's Next Top Model.  Kelakuannya annoying.  Ikatan dan persahabatan Harry dengan Peter kurang terasa di film ini dan sepertinya kurang logis jika teman masa kecil yang delapan tahun gak ketemu tiba-tiba bisa ngobrol secara 'dalem'.  

The plot in TASM2 is full of complicated stuffs.  Entah itu Spiderman yang menghadapi dubstep django, arwah bokapnya Gwen (yang mungkin) belum menunaikan rukun Islam dan kepo sama si dubstep, kisah cinta Gwen & Peter yang terkontaminasi Sparks, sampe menghadapi anaknya si cicak-man yang pengen nyaingin poni Andhika Kangen Band.  The point is, plotnya terlalu ambisius dan lebar.

Gue enjoy dengan special effect TASM2 dan untungnya gak terlalu menyakitkan mata seperti film Transformers.  Tapi gue merasa adegan berantemnya kurang greget.  Soundtrack dan score film TASM2 lebih bersifat pop dan emang cocok banget buat ababil.  Gue rada gak nyangka bahwa musik film ini diurus sama Hans Zimmer.

Overall, The Amazing Spider-Man 2 has incredible visual effect, very good performances from Garfield & Stone, and it is an entertaining & enjoyable film. But just don't expect more than that. 6,5/10    

pic cr:
unleashthefanboy.com
adittyaregas.com
fansided.com

  

Kamis, 02 Januari 2014

A Clockwork Orange : A Crazy, Sicken, Beautiful, Mind-Provoking, and Satisfying 'Journey'

Happy new year, reader! *suara jangkrik* Maaf banget yah ane jarang update karena ane lagi magar banget liburan ini, hehe.  Gak cuma itu, ane minta maaf karena film yang di-review bukan film liburan atau film keluarga, hehehehehe.  Anyway, semoga ane dapat pacar tahun ini! #bercandakok #mendingcumlaude
-Kezia R.H.H.
Nama Stanley Kubrick tentu tidak asing bagi pecinta film.  Kubrick telah menyutradari berbagai genre, yaitu sci-fi (2001 : A Space Odyssey), black comedy (Dr. Strangelove), horor (The Shining), perang (Full Metal Jacket) sampai drama period (Barry Lyndon).  Meskipun banyaknya pujian yang diterima Kubrick dan film-filmnya, bukan berarti Kubrick tidak mendapat berbagai kontroversi.  Ultra violence dan adegan seksual yang sangat kental di berbagai filmnya membuat Kubrick sangat jarang lepas dari kontroversi.  Bukan hanya itu, karena film 2001 : A Space Odyssey yang tayang pada tahun 1968 (setahun sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan), Kubrick dituduh telah membantu pemerintah dalam 'menyutradarai' Neil Armstrong di bulan.  

A Clockwork Orange disutradari Kubrick pada 1971.  Film ini diangkat dari novel dengan nama yang sama, yang ditulis oleh Anthony Burgess.  Berkat film ini, novel A Clockwork Orange makin dikenal banyak masyarakat, bahkan membayangi novel Burgess lainnya.  Saya pribadi belum membaca novelnya dan masih kurang mengenal gaya Stanley Kubrick karena saya baru menonton dua filmnya : The Shining dan A Clockwork Orange.

A Clockwork Orange bercerita tentang seorang remaja bernama Alex (Malcolm McDowell) yang senang sekali melakukan kekerasan dan pemerkosaan.  Dia mempunyai gang yang terdiri dari empat orang -termasuk dia- dan boleh dibilang Alex adalah pemimpinnya.  Alex sebagai pemimpin tidak segan untuk menyakiti anggota gangnya.  Suatu hari, Alex yang mencoba untuk memperkosa seorang wanita malah membunuhnya.  Droogs-nya meninggalkan Alex sehingga hanya Alex yang ditangkap oleh polisi.  Di penjara, Alex menjadi relawan untuk Ludovico technique.  Eksperimen itu malah membawa horor ke pikiran dan jiwa Alex.  Penderitaan yang harus dialami Alex tidak sampai disitu.  Orang-orang yang disakiti Alex mewujudkan rasa dendam mereka kepada Alex.


Film A Clockwork Orange tentunya bukan jenis film yang akan anda tayangkan dalam acara keluarga.

Dari awal kita sudah disuguhi adegan yang cukup 'wah'.  Kita sudah bisa melihat kesintingan Kubrick lewat make-up McDowell dan desain prop untuk Korova Milk Bar.  Music for the Funeral of Queen Mary karya Henry Purcell, dan gerakan kamera yang pelan-pelan mundur membuat adegan ini fucking epic.  Sejak awal film kita sudah disuguhi kepiawan Kubrick, McDowell, dan Walter Carlos (bagian musik).  Curcol sedikit, saya yakin banyak laki-laki menginginkan prop dari adegan ini :p

A Clockwork Orange mempunyai adegan pelecehan seksual yang cukup realistis.  Meskipun wanita di film itu telanjang bulat, saya rasa adegan itu bukanlah pornografi karena Kubrick bukanlah sutradara film porno dan Kubrick tidak mengclose-up bagian intim wanita itu.  Pada adegan pemerkosaan Mrs. Alexander, McDowell berimprovisasi dengan menyanyikan "Singing in the Rain".  Bagi saya, hal itu menegaskan kesadisan dan kesintingan Alex, dimana dia dengan mudahnya menyanyikan lagu riang sambil memerkosa wanita.  It's a sick scene yet a genius improvisation.  Anyway, keduanya mempunyai gaya editing yang rapi, tidak seperti sebagian besar film yang menyajikan adegan pemerkosaan dengan gaya editing yang berantakan. 


Namun, kedua adegan itu tidak seberapa dibandingkan adegan dimana Alex menjalani eksperimen Ludovico.  Saya men-skip adegan itu karena Kubrick men-shoot adegan itu benar-benar dengan detail.  I mean, lihat saja kait atau apapun itu yang membuka mata McDowell secara paksa, belum lagi air (atau cairan) yang diteteskan ke mata McDowell.  Berita (yang saya ketahui sebelum menonton film ini) bahwa retina McDowell robek ketika melakukan adegan itu menambah beban mental saya (?) ketika menonton adegan ini.  Lebih baik saya menonton V/H/S/2 daripada menonton adegan Ludovico.

Apa persamaan Joker dan Alex DeLarge?  Penyebab mereka menjadi orang sinting dan sadis tidak jelas.  Ada sisi positif dan negatifnya.  Sisi positifnya, tentu keduanya bukan antagonis klise yang menjadi antagonis karena masa lalu yang gelap (e.g : Voldemort, Hannibal Lecter).  Sisi negatifnya, well, tidak ada manusia yang dilahirkan jahat, hanya ada manusia yang dibentuk menjadi orang jahat.  Tapi setelah saya pikir-pikir, Joker dan Alex bukan tipe laki-laki melankolis yang hobi flashback, or in Alex's case, curhat ke penonton.   

Moral juga salah satu tema A Clockwork Orange.  Sayang sekali film ini kurang mengeksplor pemicu keinginan Alex untuk menjadi orang yang baik atau mengikuti eksperimen Ludovico.  Saya pernah membaca salah satu analisis A Clockwork Orange yang menyatakan bahwa alasan Alex mengikuti eksperimen untuk bebas dari penjara selama dua minggu.  Sayang sekali saya lupa linknya dan tidak terlihat di history.  Kalau analisis itu benar, masalah moralitas dalam A Clockwork Orange bertambah rumit.  Maksud saya, bagaimana mungkin masyarakat bisa memaafkan seorang bajingan yang tidak menyesali perbuatannya?  Itu sama saja Alex pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat setelah ia dibebaskan.  Lain cerita kalau Alex menjadi relawan karena ia menyesali perbuatannya atau memang ada niat menjadi orang yang lebih baik, maka ia tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat.  But, it's called A Clockwork Orange, not The Shawshank fucking Redemption or one of those tearjerker inspirational movie.  Anyway, kalau Alex memang berniat menjadi a better person, maka film ini menyindir masyarakat yang justru mencemooh dan bertindak kasar pada seorang yang menyesali perbuatannya.  Saya rasa ketika seorang mantan tahanan atau semacamnya telah dibebaskan dan berusaha untuk menjadi a better person, seharusnya kita mencoba untuk menerimanya.  Kalau kita mencemooh dan bertindak kasar, bukankah sama saja kita menghukum orang itu karena mencoba untuk lebih baik dari sebelumnya?



Dalam film ini, pemerintah menggunakan 'senjata psikologis' untuk mengontrol masyarakat, alias Alex.  'Senjata psikologis' ini mengubah orang menjadi clockwork orange, mahluk hidup di luar, tapi robot di dalam.  Ludovico treatment mungkin mengubah Alex menjadi 'lebih baik', or so they thought.  Alex bertindak layaknya orang normal, namun tindakannya bukan datang dari hati nurani  serta hati dan pikirannya sangat tersiksa.  Artinya, pemerintah mencoba menciptakan sesuatu yang baik atau lebih baik dengan cara yang buruk.  Tapi saya tetap tidak menyalahkan pemerintah -di film ACO- sepenuhnya karena mereka mencoba menemukan solusi masalah moralitas di dunia.  

Alex memang jahat, tapi dunia di sekitarnya juga jahat.  Cat-lady, wanita yang dibunuh Alex, mempunyai selera seksual yang kira-kira sama gilanya dengan Alex.  Ketika Alex bangung dari koma, terlihat seorang dokter dan perawat melakukan hubungan seksual.   Hal ini membuat saya sadar bahwa ketika kita mencemooh seseorang atas kesalahan yang ia lakukan, sebenarnya ada kemungkinan kita juga melakukannya, hanya saja kita melakukannya dengan cara yang berbeda, sehingga kita tidak merasa.    

Moral, sosial, politik, psikologi, dan berbagai tema lainya dibalut Stanley Kubrick dengan begitu artistik, keji, pintar, dengan gaya surealis yang kental.  Sayang sekali saya tidak bisa menulis atau mengekspresikan kekaguman saya pada Stanley Kubrick, Malcolm McDowell, Walter Carlos, John Alcott (sinematografi), Bill Butler (editing) dan seluruh pihak yang telah bekerja sama *ceilah* dalam film A Clockwork Orange.  Mereka patut berbangga karena mereka telah membuat salah satu film terbaik sepanjang masa. 9,3/10 

P.S. Menurut wikipedia, film ini bukanlah film distopia karena subjeknya hanya satu individu (Alex) dan bukan masyarakat luas  

pic cr : 
nonamovieblog.wordpress.com
fanart.tv
neurulogues.qwriting.qc.cuny.edu
readingsubtly.blogspot.com

Sabtu, 14 Desember 2013

Snowpiercer

Wilford is merciful! -Mason

Sejak rilisnya film Oldboy (2003), mulai banyak kritikus dan pecinta film yang memperhatikan industri film di Korea Selatan.  Sutradara-sutradara seperti Park Chan-wook, Kim Ji-woon, Kim Ki-duk, dan Bong Joon-ho pun menjadi terkenal dan diperhtungkan sebagai sutradara-sutradara dunia yang hebat.  Pada 2013, Park Chan-wook, Kim Ji-woon, dan Bong Joon-ho melakukan debut di Hollywood.  Stoker, film Park Chan-wook, menerima mix reviews karena plotnya yang tidak memuaskan namun memiliki sinematografi dan teknik visual yang indah.  The Last Stand, film Kim Ji-woon, dikritik karena Kim Ji-woon terlalu meng-hollywood-sasikan (saya bahkan gak tahu kalau kata itu benar, haha) filmnya.  Lalu bagaimana dengan Snowpiercer, debut Hollywood dari Bong Joon-ho?

Snowpiercer diadaptasi dari komik Perancis yang berjudul Le Transperceneige.  Snowpiercer menceritakan keadaan bumi di masa depan yang dingin.  I really mean it.  Spring, summer, and fall sudah lama tidak menyapa bumi.  Seorang pria bernama Wilford (Ed Harris) mendirikan sebuah industri kereta dimana rel dari tiap-tiap negara tergabung dan kereta tidak akan berhenti selamanya.  Ada tiga kelas di kereta itu, yaitu : kelas satu yang tinggal di bagian depan kereta api, kelas ekonomi yang tinggal di tengah kereta, dan kelas 'ekor' yang tinggal di kereta itu dengan gratis namun diperlakukan dengan tidak manusiawi.  Kaum 'ekor' yang merasa lelah diperlakukan secara tidak adil mulai merencakan pemberontakan yang dipimpin oleh Curtis (Chris Evans) dan Gilliam (John Hurt).  Curtis sendiri didampingi oleh Edgar (Jamie Bell).  Rencana mereka dibantu oleh sosok misterius yang memberikan mereka surat rahasia di dalam 'balok protein' (makanan sehari-hari mereka).  Untuk mencapai bagian depan, mereka membutuhkan bantuan Namgoong Min-su (Song Kang-ho), yang dulu kepala keamanan, namun sekarang di penjara karena ketagihan cronole.

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


Saya belum menonton The Host (2006), jadi saya tidak bisa membandingkan kemampuan Bong di efek visual enam tahun yang lalu dengan sekarang.  Snowpiercer memang menyajikan efek visual yang masih agak kasar, namun melebihi ekspektasi saya.  Itu untuk EFEK visual.  Untuk sinematografi dan setting, saya agak kecewa.  Saya berharap Snowpiercer setidaknya menyamai keindahan V for Vendetta atau Oldboy (mengingat posisi Park Chan-wook sebagai produser).  Memang banyak adegan-adegan yang indah, tapi saya tetap tidak cukup untuk setidaknya menyamai V for Vendetta ataupun Oldboy.  Anyway, Snowpiercer has a nice opening sequence.   

Belum lagi gaya editing yang cukup berantakan di awal-awal film.  Gaya editing yang digunakan untuk adegan perkelahian di jembatan pun terlalu Hollywood-ish.  Tapi saya bersyukur Bong tidak terlalu 'disilaukan' oleh gaya-gaya Hollywood yang sering mainstream dan cukup norak.

Iringan musik yang digunakan cukup minim.  Mungkin hal ini yang membuat film ini KURANG memiliki jiwa dan emosi.  Yup, kurang, bukan tidak punya.  Hal ini juga membuat saya tidak attach secara emosional dengan film ini.  Ya, film ini memiliki distopia dan adegan-adegan yang saya sukai, but I'm simply not connected to this movie.  

Adegan favorit saya adalah ketika Curtis dkk mengunjungi sekolah 'depan'.  Sekolah yang kelihatan bagus dan normal serta dipenuhi anak-anak lucu dan riang itu ternyata sudah mempraktekkan pencucian otak.  Anak-anak itu tidak menyadari bahwa otak mereka dicuci dengan ideologi bahwa Wilford adalah orang terhebat.  Belum lagi kata-kata 'hipnotis' dimana si guru mengulangi terus bahwa ketika mereka turun dari kereta, mereka akan langsung mati.  Ah, sayang sekali saya lupa kata-kata aslinya.   


Tilda Swinton jelas yang paling stand out di film ini.  Dia berhasil memainkan antagonis yang gila dan sadis, namun setia terhadap pemimpinnya dan ketakutan.  Tokoh antagonis cenderung melawan pemimpin -atau mereka pemimpin itu sendiri- dan jarang sekali menunjukkan ketakutan yang eksplisit.  Memang Mason (Tilda Swinton) bukan 'aktor' utama politik di dalam Wilford Industry, mungkin untuk yang menyebabkannya menunjukkan ketakutannya secara eksplisit.  Mason sendiri mengingatkan saya pada Bellatrix dari serial Harry Potter, dimana mereka menunjukkan kesetiaan, bahkan mungkin kefanatikkan, kepada pemimpin mereka.  Mereka tidak menunjukkan ketakutan atau hormat ala kadarnya.  Ketika Curtis dkk mencoba untuk menghasut Mason dengan menanyakan apakah Wilford tetap tidak peduli jika tubuh Mason dipotong oleh mereka, Mason tetap membela Wilford.  Penampilan Tilda Swinton yang spektakuler begitu memukau dan meninggalkan kesan yang dalam sehingga saya lupa bahwa Mason bukan 'aktor' sesungguhnya.  Dia hanya boneka yang diumpankan ke kaum miskin.

Chris Evans tampil dengan membosankan di awal film.  Namun seiring perjalanan film, penampilan Evans makin mantap dan mantap, terutama di saat-saat terakhir.  Song Kang-ho yang saya harapkan menjadi pusat perhatian malah dibayang-bayangi oleh Evans dan Swinton.  Entah dia minder di antara aktor-aktor barat atau karakternya tidak memberikan ruang untuk berimprovisasi.  Gaya rambut Song mengingatkan saya pada Oh Dae-su di film Oldboy.  Film ini juga memberikan satu refrensi Oldboy (atau mungkin kebetulan) dimana salah satu orang menyarankan Curtis ketika ia bertemu Wilford, langsung saja memotong lidahnya.  Ed Harris yang harusnya menjadi 'klimaks' malah tampil kurang mengesankan dan cenderung membosankan.  Sesudah Swinton menampilkan antagonis yang hebat, Harris malah tampil membosankan dan membuat film ini sedikit anti-klimaks di pertengahan akhir. 

Ketika Curtis dan Wilford berbincang-bincang, Wilford menjustifikasi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia melakukan berbagai ketidakadilan pada kaum 'ekor' untuk menyimbangkan ekologi tertutupnya (kereta).  Penjelasan Wilford memang gila dan heartless, but in my crazy sense, I understand and accept his reasons.  Coba kita bayangkan dunia tanpa penyakit, perang, dan pembunuhan, pastilah orang yang hidup di dunia akan JAUH lebih banyak dari yang sekarang.  Ketiga hal itu memang buruk, but in a crazy way, itu menyeimbangkan dunia kita.  Semua hal memang ada hikmahnya, termasuk ketiga hal itu.  Memang kenyataan pahit bahwa kejadian-kejadian mengerikan harus terjadi untuk menyeimbangkan dunia kita.

Snowpiercer is a quite satisfying dish and a smart dystopian movie.  I just don't know why I keep feeling that Snowpiercer lacks beauty and emotion despite some scenes which I admire and like. 8,5/10
  

pic cr :
hiburan.kompasiana.com
geektyrant.com
duniaku.net

Sabtu, 19 Oktober 2013

Gravity : Cuaron is a genius

I've got you. -Ryan Stone

Saya harap saya bisa memberikan sedikit perbandingan antara Gravity dengan 2001 :  A Space Odyssey atau Apollo 13, namun saya belum menonton keduanya-_-  Saya bukan penggemar sci-fi, dan jarang sekali mengikuti perkembangan sci-fi.  Sejauh ini film sci-fi yang saya sukai hanya Inception dan Star Trek (2009). Akhirnya saya kepo juga dengan film Gravity yang tidak hanya 'bagus' di mata para kritikus, tapi suatu film yang luar biasa, bahkan disebut-sebut sebagai movie of the year.  Oh iya, saya belum menonton Children of Men, dan satu-satunya film Alfonso Cuaron yang saya tonton adalah HarPot and the Prisoner of Azkaban (yang menurut saya film kedua terbaik serial Harry Potter).  

Sebenarnya cerita dari Gravity cukup sederhana.  Kita akan mengikuti perjalanan Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) di luar angkasa.  Kowalski mempunyai karakteristik yang cukup periang, optimis, dan suka bercerita dan Stone sebaliknya.  Mereka dalam sebuah misi, yaitu memperbaiki satelit (saya kurang tahu).  Sayangnya mereka tidak tahu bahwa satelit Rusia meledak dan akan segera menyerang mereka.  Seluruh anggota tim mereka meninggal, pesawat mereka rusak, komunikasi dengan bumi terputus, dan kadar oksigen mereka menipis.  Dengan semua masalah dan keterbatasan, mereka berjuang hidup di luar angkasa.  Dan hanya mereka berdua di alam semesta yang tak terbatas.

WARNING : CONTAIN SPOILER


Saya gak tahu harus komentar apa.  Saya sendiri kurang ngerti komentar soal teknik dalam sinematografi dsb.  Saya hanya tahu bahwa Gravity is one the most fucking-amazing-brilliant movie I've ever watched.    

Saya ikutan tegang bukan karena ceritanya, tapi saya jadi tegang karena mendengar nafas Sandra Bullock yang pendek.  Suara nafas Bullock menghipnotis saya sehingga saya menjadi tegang.  Soal akting, Sandra Bullock memang sudah memberikan yang terbaik, dan Gravity sejauh ini adalah puncak kemampuan akting Bullock.  Tapi, saya masih merasa Bullock masih bisa digantikan di film ini.  Beberapa aktris saya pikir mampu menggantikan Bullock yaitu Nicole Kidman, Julianne Moore, Cate Blanchett, dan Meryl Streep (jika ia lebih muda :p).  Intinya, akting Bullock sudah bagus, hanya saja replaceable.  The same goes to Mr. George Clooney.  Ya, dia charming dan blablabla, but am I the only one who wasn't THAT impressed with Clooney after I had watched it?  But, I must admit they had a good chemistry.  

Banyak sekali adegan yang membuat saya takjub, entah itu serangan 'satelit' Rusia, atau Stone yang melayang-layang sendirian di alam semesta, atau kamera yang seakan-akan masuk ke helm Stone, namun yang benar-benar membuat saya eyegasming adalah pemandangan matahari terbit dan aurora dari luar angkasa.  Di adegan itu saya merasa bersyukur karena saya sudah bisa menikmati cinematic experience di masa kini dan saya bisa menontonnya di 3D.  Ah, saya jadi kasihan sama generasi selanjutnya yang belum tentu bisa nonton ini di bioskop :p

Ternyata plot Gravity tidak sedangkal saya kira.  Saya suka dengan plotnya yang simpel dan tidak ada romance kacangan mendadak.  *SPOILER* Walaupun si tokoh selamat, dan memang dengan cara yang agak wah, keselamatan itu digambarkan dengan cara yang lebih natural dan somewhat menyentuh dibandingkan dengan kebanyakan film-film sci-fi atau hero lainnya (e.g Kirk yang tiba-tiba bisa hidup padahal sudah mati?) *SPOILER ENDS*  Film ini menceritakan survival, baik secara fisik maupun psikis, pilihan dalam hidup, rebirth, dan masih banyak lagi.  Itu semua hadir dari penampilan 'solo' Ryan Stone.  Cuaron juga menggunakan banyak simbol dalam film-filmnya.  Yang ditangkap oleh banyak orang mungkin adegan dimana posisi Sandra Bullock terlihat seperti janin, lalu ketika ia sampai di bumi dan ia belajar untuk berdiri.  Atau ketika perjalanan Stone terhambat oleh parasut dan akhirnya ia sendiri juga diselamatkan oleh parasut.  Sayang sekali percakapan filosofis antara Stone dan Kowalski kurang nendang, mungkin maksud Cuaron untuk tidak terlalu menggurui.  Tapi di adegan itu saya sadar bahwa semangat, survival, niat, dan sebagainya datang dari kita sendiri.  Orang lain hanya bisa menyemangati.  Berhasil atau tidaknya, hadir atau tidak, itu tergantung diri kita masing-masing.  Ketika Kowalski memberikan kata-kata untuk membangun semangat Stone, ia masih tetap tidak bereaksi.  Namun perlahan-lahan, ia sadar bahwa ada alasan ia masih hidup, dan ia harus berjuang untuk mempertahankannya.  Adegan itu berhasil membuat saya menangis, karena saya tahu juga bagaimana rasanya putus asa dan sendirian.  Ryan Stone mungkin tokoh fiktif, namun saya senang dia memilih untuk bangun dan berjuang.

Saya akan kaget sekali jika ada film yang bisa mengungguli Gravity dari segi teknik, akting, dan cerita dalam waktu dekat ini.  Karena Gravity bukan sekedar film sci-fi dengan peralatan mewah ataupun film yang menggurui penontonnya dengan filosofi ataupun human survival. 9,5/10

pic cr :
lorinpolin.com
beyondhollywood.com