Selasa, 27 Mei 2014

Garden of Words (Kotonoha no Niwa)

pic cr: tube.hk
Makoto Shinkai merupakan seorang animator Jepang yang disebut-sebut sebagai The New Miyazaki walaupun Shinkai sendiri menganggap pernyataan itu sebagai overstatementGue jadi kepo karena gue pengen tahu apa yang membuat dia bisa disetarakan dengan Hayao Miyazaki.  Jujur, walaupun 5 centimeters per second benar-benar mempengaruhi pikiran dan perasaan gue, I don't really think it's an awesome film, or even in the same level with Spirited Away.  Tapi gue mau 'memberikan kesempatan kedua' pada Shinkai lewat film Garden of Words (2013)

Takao (Miyu Irino) selalu membolos jam pertama sekolah jika pagi itu hujan.  Ia pergi ke sebuah taman dan mendesain sepatu.  Disana, ia bertemu dengan seorang wanita (Kana Hanazawa) yang suka minum bir dan cokelat di taman itu.  Akhirnya mereka selalu bertemu di taman itu ketika hujan di pagi hari.  Pertemuan-pertemuan itu membuat mereka nyaman satu sama lain walaupun mereka tidak tahu sama lain.  

Lama-kelamaan, musim hujan berakhir.  Mereka selalu menunggu hujan agar dapat menemukan alasan untuk pergi ke taman tersebut.  Suatu hari, Takao dan wanita itu berpapasan di sekolah Takao.  Ternyata wanita itu adalah Ms. Yukari Yukino, salah satu guru di sekolah Takao.

WARNING: ADA SPOILER

pic cr: leap250.wordpress.com

I still don't understand why people compare Shinkai with Miyazaki.  Both of them are good with what they do, but they certainly have different styles.  Jika Miyazaki bagaikan David Lynch atau Stanley Kubrick yang punya sentuhan surealisme dan plotnya agak berat, maka Shinkai merupakan one of those artsy-indie-modern arthouse's directors.  Get it?  In some way, harus gue akuin kalau gaya animasinya Shinkai lebih keren daripada Miyazaki.  Pewarnaannya bagus banget, gambarnya lebih smooth, dan sudut pengambilan gambarnya super keren.  Bahkan terkadang terasa seperti film live action.  Tapi kalau soal cerita?  Gue tetap milih Miyazaki.

Gue merasa bingung setelah nonton film ini, terutama karena gue ngerti apa yang ingin disampaikan Shinkai lewat film ini.  Atau mungkin Shinkai tidak ingin menyampaikan apa-apa dan sekedar membuat cerita tentang dua orang?  Entahlah, tapi gue rasa Garden of Words bukanlah jenis film pretensius yang mencoba untuk menjelaskan kehebatan cinta atau 'action speaks louder than word' seperti kebanyakan film arthouse bisu gak jelas.  Film "Garden of Words" memang terlihat realistis dan menceritakan slice of life, tapi ada bagian yang gak 'sreg' dengan kehidupan nyata.  Berdasarkan pengalaman hidup selama 15,5 tahun, gue sadar bahwa seseorang bisa nyaman dengan seorang lainnya jika mereka saling berbicara.  Karena lewat berbicara mereka akan sadar apa yang cocok dan tidak cocok di antara mereka.  Bukan berarti orang yang akrab harus selalu berbicara satu sama lain, tapi kalau dua atau lebih orang akrab dan merasa nyaman satu sama lain, mereka pasti sudah melewati fase itu.  Di film "Garden of Words", Takao dan Yukino belum melewati fase itu.  Hell, mereka bahkan gak tahu nama satu sama lain sebelum mereka berpapasan di sekolah Takao.  Bahkan terkadang Takao merasa komunikasi mereka 'satu arah' karena Yukino hampir tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Takao.  So, bagaimana bisa Takao jatuh cinta pada Yukino dan bagaimana bisa Takao menyelamatkan Yukino?

pic cr: anbient.net

Menjelang akhir film, Takao menyatakan cintanya pada Yukino.  Gue berasumsi bahwa Takao hanya berpikir ia mencintai Yukino.  Ia tidak benar-benar mencintainya.  Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa benar-benar mengenal orang itu?  Ia bahkan tidak pernah bertanya nama Yukino.  Takao is charmed by Yukino to the point he thinks he's in love with Yukino.  Anyway, respon Yukino terhadap pernyataan cinta Takao sepertinya tidak seperti yang diharapkan oleh Takao.  Takao akhirnya pergi dari apartemen Yukino.  Lalu Yukino mengejarnya tapi Takao malah mengatakan bahwa ia membenci Yukino dan menuangkan kefrustasiannya pada Yukino.  Lalu Yukino memeluknya dan mengatakan bahwa Takao menyelamatkannya.  Mungkin kebanyakan penonton berpikir bahwa setidaknya Yukino dan Takao punya 'harapan' dan tidak berakhir tragis seperti Akari dan Takaki di film 5 centimeters per second.  Sebaliknya, gue menangkap bagaimana perasaan dan kata-kata orang bisa berubah.  Seperti Takao yang mengatakan cinta lalu -tidak sampai satu jam- mengatakan benci.

Kita tahu bahwa Takao dan Yukino selalu bertemu di sebuah taman jika hujan turun di pagi hari.  Apakah mereka benar-benar menyukai hujan atau mereka hanya menggunakan hujan sebagai alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata?  Gue menginterpretasikan taman yang mereka kunjungi sebagai dunia khayalan mereka.  Dimana mereka bisa lepas dari segala tekanan sekaligus mendapatkan teman.  They are so overwhelmed by their little worlds in the garden sampai mereka gak pernah nanya nama masing-masing ataupun berpikir jika salah satu di antara mereka itu psikopat, pencuri, dll.  Ketika hujan tak kunjung datang, akhirnya mereka pergi ke taman itu walaupun hanya sekali-dua kali.

Gue bingung apakah Shinkai ingin menunjukkan sisi realistis kehidupan atau ilusi yang dialami manusia lewat Kotonoha no Niwa.  Jika Shinkai memang ingin menyampaikan sesuatu lewat film ini, gue rasa pesan itu kurang jelas atau terlalu subtle.  Kotonoha no Niwa hanya menunjukan bahwa Makoto Shinkai pantas disejajarkan oleh Hayao Miyazaki dalam bidang visual, bukan cerita.  6/10 

P.S: Soal soundtrack, gue lebih suka 5 centimeters per second.

          

1 komentar:

  1. bener gan,, ane tersentuh sampe berefek ke kehidupan sehari2.. pengennya sih ada season 2 mngisahkan perjalanan mereka ketemu lagi :)
    thx makoto shinkai

    BalasHapus