Kamis, 02 Januari 2014

A Clockwork Orange : A Crazy, Sicken, Beautiful, Mind-Provoking, and Satisfying 'Journey'

Happy new year, reader! *suara jangkrik* Maaf banget yah ane jarang update karena ane lagi magar banget liburan ini, hehe.  Gak cuma itu, ane minta maaf karena film yang di-review bukan film liburan atau film keluarga, hehehehehe.  Anyway, semoga ane dapat pacar tahun ini! #bercandakok #mendingcumlaude
-Kezia R.H.H.
Nama Stanley Kubrick tentu tidak asing bagi pecinta film.  Kubrick telah menyutradari berbagai genre, yaitu sci-fi (2001 : A Space Odyssey), black comedy (Dr. Strangelove), horor (The Shining), perang (Full Metal Jacket) sampai drama period (Barry Lyndon).  Meskipun banyaknya pujian yang diterima Kubrick dan film-filmnya, bukan berarti Kubrick tidak mendapat berbagai kontroversi.  Ultra violence dan adegan seksual yang sangat kental di berbagai filmnya membuat Kubrick sangat jarang lepas dari kontroversi.  Bukan hanya itu, karena film 2001 : A Space Odyssey yang tayang pada tahun 1968 (setahun sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan), Kubrick dituduh telah membantu pemerintah dalam 'menyutradarai' Neil Armstrong di bulan.  

A Clockwork Orange disutradari Kubrick pada 1971.  Film ini diangkat dari novel dengan nama yang sama, yang ditulis oleh Anthony Burgess.  Berkat film ini, novel A Clockwork Orange makin dikenal banyak masyarakat, bahkan membayangi novel Burgess lainnya.  Saya pribadi belum membaca novelnya dan masih kurang mengenal gaya Stanley Kubrick karena saya baru menonton dua filmnya : The Shining dan A Clockwork Orange.

A Clockwork Orange bercerita tentang seorang remaja bernama Alex (Malcolm McDowell) yang senang sekali melakukan kekerasan dan pemerkosaan.  Dia mempunyai gang yang terdiri dari empat orang -termasuk dia- dan boleh dibilang Alex adalah pemimpinnya.  Alex sebagai pemimpin tidak segan untuk menyakiti anggota gangnya.  Suatu hari, Alex yang mencoba untuk memperkosa seorang wanita malah membunuhnya.  Droogs-nya meninggalkan Alex sehingga hanya Alex yang ditangkap oleh polisi.  Di penjara, Alex menjadi relawan untuk Ludovico technique.  Eksperimen itu malah membawa horor ke pikiran dan jiwa Alex.  Penderitaan yang harus dialami Alex tidak sampai disitu.  Orang-orang yang disakiti Alex mewujudkan rasa dendam mereka kepada Alex.


Film A Clockwork Orange tentunya bukan jenis film yang akan anda tayangkan dalam acara keluarga.

Dari awal kita sudah disuguhi adegan yang cukup 'wah'.  Kita sudah bisa melihat kesintingan Kubrick lewat make-up McDowell dan desain prop untuk Korova Milk Bar.  Music for the Funeral of Queen Mary karya Henry Purcell, dan gerakan kamera yang pelan-pelan mundur membuat adegan ini fucking epic.  Sejak awal film kita sudah disuguhi kepiawan Kubrick, McDowell, dan Walter Carlos (bagian musik).  Curcol sedikit, saya yakin banyak laki-laki menginginkan prop dari adegan ini :p

A Clockwork Orange mempunyai adegan pelecehan seksual yang cukup realistis.  Meskipun wanita di film itu telanjang bulat, saya rasa adegan itu bukanlah pornografi karena Kubrick bukanlah sutradara film porno dan Kubrick tidak mengclose-up bagian intim wanita itu.  Pada adegan pemerkosaan Mrs. Alexander, McDowell berimprovisasi dengan menyanyikan "Singing in the Rain".  Bagi saya, hal itu menegaskan kesadisan dan kesintingan Alex, dimana dia dengan mudahnya menyanyikan lagu riang sambil memerkosa wanita.  It's a sick scene yet a genius improvisation.  Anyway, keduanya mempunyai gaya editing yang rapi, tidak seperti sebagian besar film yang menyajikan adegan pemerkosaan dengan gaya editing yang berantakan. 


Namun, kedua adegan itu tidak seberapa dibandingkan adegan dimana Alex menjalani eksperimen Ludovico.  Saya men-skip adegan itu karena Kubrick men-shoot adegan itu benar-benar dengan detail.  I mean, lihat saja kait atau apapun itu yang membuka mata McDowell secara paksa, belum lagi air (atau cairan) yang diteteskan ke mata McDowell.  Berita (yang saya ketahui sebelum menonton film ini) bahwa retina McDowell robek ketika melakukan adegan itu menambah beban mental saya (?) ketika menonton adegan ini.  Lebih baik saya menonton V/H/S/2 daripada menonton adegan Ludovico.

Apa persamaan Joker dan Alex DeLarge?  Penyebab mereka menjadi orang sinting dan sadis tidak jelas.  Ada sisi positif dan negatifnya.  Sisi positifnya, tentu keduanya bukan antagonis klise yang menjadi antagonis karena masa lalu yang gelap (e.g : Voldemort, Hannibal Lecter).  Sisi negatifnya, well, tidak ada manusia yang dilahirkan jahat, hanya ada manusia yang dibentuk menjadi orang jahat.  Tapi setelah saya pikir-pikir, Joker dan Alex bukan tipe laki-laki melankolis yang hobi flashback, or in Alex's case, curhat ke penonton.   

Moral juga salah satu tema A Clockwork Orange.  Sayang sekali film ini kurang mengeksplor pemicu keinginan Alex untuk menjadi orang yang baik atau mengikuti eksperimen Ludovico.  Saya pernah membaca salah satu analisis A Clockwork Orange yang menyatakan bahwa alasan Alex mengikuti eksperimen untuk bebas dari penjara selama dua minggu.  Sayang sekali saya lupa linknya dan tidak terlihat di history.  Kalau analisis itu benar, masalah moralitas dalam A Clockwork Orange bertambah rumit.  Maksud saya, bagaimana mungkin masyarakat bisa memaafkan seorang bajingan yang tidak menyesali perbuatannya?  Itu sama saja Alex pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat setelah ia dibebaskan.  Lain cerita kalau Alex menjadi relawan karena ia menyesali perbuatannya atau memang ada niat menjadi orang yang lebih baik, maka ia tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat.  But, it's called A Clockwork Orange, not The Shawshank fucking Redemption or one of those tearjerker inspirational movie.  Anyway, kalau Alex memang berniat menjadi a better person, maka film ini menyindir masyarakat yang justru mencemooh dan bertindak kasar pada seorang yang menyesali perbuatannya.  Saya rasa ketika seorang mantan tahanan atau semacamnya telah dibebaskan dan berusaha untuk menjadi a better person, seharusnya kita mencoba untuk menerimanya.  Kalau kita mencemooh dan bertindak kasar, bukankah sama saja kita menghukum orang itu karena mencoba untuk lebih baik dari sebelumnya?



Dalam film ini, pemerintah menggunakan 'senjata psikologis' untuk mengontrol masyarakat, alias Alex.  'Senjata psikologis' ini mengubah orang menjadi clockwork orange, mahluk hidup di luar, tapi robot di dalam.  Ludovico treatment mungkin mengubah Alex menjadi 'lebih baik', or so they thought.  Alex bertindak layaknya orang normal, namun tindakannya bukan datang dari hati nurani  serta hati dan pikirannya sangat tersiksa.  Artinya, pemerintah mencoba menciptakan sesuatu yang baik atau lebih baik dengan cara yang buruk.  Tapi saya tetap tidak menyalahkan pemerintah -di film ACO- sepenuhnya karena mereka mencoba menemukan solusi masalah moralitas di dunia.  

Alex memang jahat, tapi dunia di sekitarnya juga jahat.  Cat-lady, wanita yang dibunuh Alex, mempunyai selera seksual yang kira-kira sama gilanya dengan Alex.  Ketika Alex bangung dari koma, terlihat seorang dokter dan perawat melakukan hubungan seksual.   Hal ini membuat saya sadar bahwa ketika kita mencemooh seseorang atas kesalahan yang ia lakukan, sebenarnya ada kemungkinan kita juga melakukannya, hanya saja kita melakukannya dengan cara yang berbeda, sehingga kita tidak merasa.    

Moral, sosial, politik, psikologi, dan berbagai tema lainya dibalut Stanley Kubrick dengan begitu artistik, keji, pintar, dengan gaya surealis yang kental.  Sayang sekali saya tidak bisa menulis atau mengekspresikan kekaguman saya pada Stanley Kubrick, Malcolm McDowell, Walter Carlos, John Alcott (sinematografi), Bill Butler (editing) dan seluruh pihak yang telah bekerja sama *ceilah* dalam film A Clockwork Orange.  Mereka patut berbangga karena mereka telah membuat salah satu film terbaik sepanjang masa. 9,3/10 

P.S. Menurut wikipedia, film ini bukanlah film distopia karena subjeknya hanya satu individu (Alex) dan bukan masyarakat luas  

pic cr : 
nonamovieblog.wordpress.com
fanart.tv
neurulogues.qwriting.qc.cuny.edu
readingsubtly.blogspot.com

7 komentar:

  1. Ngeliat film ini pertama kali, saya pusing
    Dilihat kedua kalinya, baru enjoy... hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, emang harus siapin mental kalau mau nonton ini ;)

      Hapus
  2. Hai,salam kenal..btw boleh tahu knp km gak suka shawshank? thanks before and peace :D

    BalasHapus
  3. Mungkin akan suka juga "American Beauty" (1999, Sam Mendes) atau "Bitter Moon" (1992, Roman Polanski). Tapi mungkin ya. Tidak saya recommend yang art house, soalnya bilangnya tidak suka. :D

    BalasHapus