Sabtu, 28 September 2013

Se7en / Seven (1995)

Ernest Hemmingway once wrote, "The world is a fine place and worth fighting for." I agree with the second part. -Det. William Somerset.

Err...ini bukan Se7en penyanyi Korea loooooh jayusamatgue  Gue kurang familiar dengan karya-karya David Fincher, bahkan gue belum nonton Fight Club, Zodiac, dan Girl with the Dragon Tattoo yangdvdnyaudahguebelidaritahunjebot  Anyway, gue hoki banget banget bisa nonton nih film.  Waktu gue nonton nih film gue lagi sakit.  Karena bosen, gue nyalain TV.  PAS BANGET gue nyalain TV tinggal 2 detik lagi dari film Se7en.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER!

Se7en adalah film misteri yang disutradari oleh David Fincher pada 1995.  Film ini dibintangi oleh Brad Pitt, Morgan Freeman, dan Gwyneth Paltrow, dan Kevin Spacey. Detektif William Sommerset (Morgan Freeman) sebenarnya akan segera pensiun.  Namun, Sommerset adalah salah satu detektif terbaik sehingga ia disuruh mengejarkan kasus yang sangat disturbing dimana korban memakan terlalu banyak makanan hingga perutnya pecah.  Ia ditugaskan bersama seorang detektif muda yaitu David Millis (Brad Pitt).  Ketika mereka tidak menemukan bukti kuat siapa pembunuh si pria gendut, seorang pengacara terbunuh dan lagi-lagi meninggalkan bukti-bukti rumit.  Investigasi yang mereka lakukan akhirnya mengarahkan mereka pada kesimpulan bahwa mereka sedang mencari seorang pembunuh berantai.  Pembunuh berantai ini membunuh berdasarkan seven deadly sins atau tujuh dosa mematikan : gluttony (rakus), greed (keserakahan), sloth (kemalasan), pride (kesombongan / harga diri), lust (nafsu seksual), envy (kecemburuan), dan wrath (kemarahan / kebencian yang besar).  Ternyata si pembunuh, John Doe (Kevin Spacey), mengejutkan mereka dengan menyerahkan diri ke kantor polisi.


Tidak jarang premis cerita yang menarik dieksekusi dengan buruk.  Untungnya hal itu tidak terjadi di Se7en.  Saya menyukai keseluruhan proses Se7en, namun saya merasa Se7en kurang mempunyai unsur kriminologi dalam penyelidikannya dan kurangnya 'percakapan pintar' (ini istilah ciptaan gue) dalam dialog-dialognya.  Mungkin karena saya berharap film ini mengandung unsur kriminologi yang kental dan mengasyikkan seperti Silence of the Lambs.  Dan musik iringan Howard Shore kurang menarik perhatian.
 
Opening sequence-nya sangat memikat dan menegangkan.  Sesaat saya mengira film ini akan menjadi tontonan yang penuh darah atau malah membuat saya 'tegang' karena sok menjadi film thriller.  Ternyata saya cukup salah.  Film ini tidak berdarah-darah (opini gue loooooh) ataupun sok memberikan ketegangan.  Sinematografi Darius Khondji yang gelap dan menawan diatur dengan apik oleh Fincher.  Film Seven sendiri memberikan segera kengerian dan kejijikan dari skrip Andrew Kevin Walker.  Andrew Kevin Walker berhasil memberikan sajian yang pintar, emosional, dan keji kepada penonton.  Saya tidak mengerti mengapa David Fincher (terlalu) dipuji-puji sedangkan Walker hampir tidak terdengar namanya.  Toh kekuatan film ini bukan hanya di visual, tapi di penulisan juga.  Inilah alasan saya bukan penggemar berat David Fincher dan Martin Scorsese, menurut saya mereka overrated.  Film mereka bukan apa-apa tanpa skenario yang jenius, tapi bukannya si penulis yang mendapat popularitas, malah sutradaranya saja.


Karakter yang dimainkan Brad Pitt begitu menyala-nyala dan ekspresif.  Dia memberikan kesan yang lebih kuat daripada Freeman.  Saya suka sekali melihat perubahan emosi yang diperlihatkan Brad Pitt.  Sedangkan Morgan Freeman yah...Morgan Freeman.  Saya tidak melihat sesuatu yang beda di film ini.  Karakternya itu-itu saja sehingga Morgan Freeman tidak memberikan kesan mendalam pada saya di film ini.  Gwyneth Paltrow hanyalah karakter tempelan dan Kevin Spacey tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilainya.  Saya kurang menyukai karakter Spacey.  Saya mengagumi John Doe (Spacey) karena ia unexpectedly menyerahkan dirinya ke kantor polisi.  Namun saya merasa ia terlalu narsis *bahkan lebih narsis daripada Lecter* dengan TERLALU berusaha mendapatkan perhatian.  Dia bagaikan anak manja yang cerewet dan caper, sedangkan Lecter mencari perhatian dengan kepribadiannya yang pintar, licik, dan berdarah dingin.  Dan seperti saya bilang, dia tampil terlalu cepat bagi saya untuk menilai kemampuannya.

The so-called twist or shocking ending didn't shock me at all.  Saya sudah menebaknya dari pertengahan film.  Beneran loh, bukan paruh terakhir.  Saya merasa agak kecewa dengan ending-nya, walaupun si aktor sudah memberikan kemampuan akting yang terbaik. 

Film ini membuat saya berpikir tentang dosa-dosa yang dilakukan manusia.  Secara umum, kita tidak akan dipenjara jika Seven Deadly Sins yang kita lakukan tidak ada di undang-undang.  Maksud saya, kita menonton film bokep atau baca cerita bokep sebenarnya sudah melakukan tindakan lust, namun hal itu tidak melanggar hukum.  Apa yang harus kita lakukan ketika kita melihat orang melakukan dosa walaupun itu tidak melanggar hukum?  Membiarkannya?  Menghukumnya?  Dengan kita membiarkannya, kita sama saja telah melakukan sebuah dosa, namun siapakah kita yang berhak menghakimi atau menghukum orang padahal kita sendiri juga melakukan dosa, dan kemungkinan besar akan melakukan suatu dosa setelah kita menegur orang itu?

Overall, film Seven bukanlah film yang sempurna, namun Fincher, Walker, dan Pitt membuat film ini lebih menonjol dan unik daripada film misteri lainnya. 8,7/10

pic cr :
join4movies.com
moeatthemovies.com
andsoitbeginsfilms.com

 

8 komentar:

  1. Gw udah nonton semua filmnya Fincher kecuali Alien 3 dan harus diakui gw sendiri ga menganggap Se7en adalah salah satu yang terbaik. Yep, endingnya mungkin mudah ditebak tapi olahan skrip dan kolaborasi akting Pitt, Freeman, dan Spacey membuat ending (dan filmnya secara keseluruhan) terasa sangat psychologically disturbing. Dan, tentu saja, Fincher dengan jeniusnya mengemas paket lengkap ini dengan brilian. Haha, memang spotlights are (always) on Fincher instead of other crew members. But hey, kalo diperhatikan, sangat kelihatan bagaimana ia mengemas film2nya menjadi sajian visual yang distinctive dan berkelas. Ia punya karakter, ia bisa mempertahankan pace cerita menjadi tetap menarik walaupun ceritanya cenderung biasa2 aja (Panic Room, sebagai contoh). Aura misteri tetap kental dari awal hingga akhir, belum lagi bagaimana ia mampu mengeksplorasi aspek teknis secara rinci (perhatikan, di opening credit nama Kevin Spacey ga ditulis, itu sengaja supaya penonton surprised saat John Doe muncul di akhir cerita). Editing, scoring, camera work, shots, bahkan hingga ke pewarnaan (low-key coloring, which adds up to the whole mysterious nuance) sangat menunjukkan bahwa aspek directing yang ia tampilkan juga patut mendapatkan perhatian. If you love thrillers or mysteries, you should see his other movies! Then you'll recognize his trademarks, which I found so much suits my taste. :D Fincher hampir ga pernah main-main sama adegan yg terlalu berdarah, tapi kalo suka sama kriminologi coba tonton Zodiac.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, kalo gue nangkep dari tiga filmnya dia itu punya atmosfir gelap di film-filmnya, cuma gak quirky kayak Tim Burton.

      Gue jadi tambah kepo sama Zodiac-_-

      Hapus
  2. Lah gw malah belom nonton Se7en. Fight Club, Zodiac sama Girl with Dragon Tattoo sudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah gua baru nonton yang Fight Club sama yang The Curious Case of Benjamin Button.. emang film David Fincher ini keren dari segi cerita kalo efek mah mungkin masih kalah sama Michael Bay atau Nolan..

      Hapus
  3. Seven is good, but seven bukanlah crime-thriller yang sampe mindblowing gimana, twistnya pun sebenarnya biasa aja (gw udah tau tu dalem kotak ada apaan), try Zodiac, Crime-thriller terbaik yang pernah gw tonton, dan karya terbaiknya Fincher selain Fight Club dan The Game, walopun tuh Zodiac udah 3 kali gw tonton (2 kali karena ketiduran), tapi percayalah, ending Zodiac bener2 rewarding di akhir dan imaginary realistis banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi gue udah ada perasaan nih bakalan tahu endingnya Zodiac, soalnya dulu sempat ngefans sama kasus-kasus kriminologi.

      Hapus