Tampilkan postingan dengan label Jack Nicholson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jack Nicholson. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

About Schmidt

You gotta appreciate what you have while you still have it. -Warren Schmidt

Saya kurang familiar dengan karya-karya Alexander Payne, bahkan saya belum sempat menonton The Descendant.  Tapi nama Payne yang sempat terdengar di Golden Globes dan Academy Awards, dan Jack Nicholson sebagai pemain utama, cukup membuat saya menunggu-nunggu film ini di HBO Signature (setelah sekian lama diputar di weeknghts atau di jam yang terlalu malam-_-)

About Schmidt bercerita tentang kehidupan Warren Schmidt (Jack Nicholson) setelah ia pensiun.  Namun, ia merasa sedikit bosan karena ia tidak mempunyai sesuatu untuk dikerjakan lagi.  Sampai suatu hari ia melihat iklan sebuah yayasan yang menyatakan bisa menyumbang sekitar 22 dollar per bulan.  Tidak hanya menyumbang, ia juga harus menulis surat kepada 'anak asuhnya' yang bernama Ndugu.  Di surat itu, ia mencurahkan pikiran dan perasaannya tentang keluarganya dan kehidupannya, bahkan menjelek-jelekkan istrinya.  Ironisnya, istrinya, Helen, meninggal setelah ia mengeposkan suratnya.  Namun, hidup Warren tetap berlanjut.  Setelah istrinya meninggal ia mulai melakukan perjalanan dengan trailer-nya sebelum putrinya, Jeannie, menikah.  


Film ini mempunyai pace yang lambat, namun saya tetap menyukai perjalanan hidup Warren Schmidt.  Selain itu, melihat Jack Nicholson berperan sebagai pria yang lebih 'normal' merupakan sesuatu yang refreshing.  Belum lagi sinematografi yang cukup menawan dan musik pengiring yang terdengar satir.

Schmidt memang tua, tapi tidak cukup tua untuk berdiam diri di panti jompo ataupun membayar seorang perawat.  Saya rasa cukup menarik bagaimana Schmidt harusnya 'berhenti' saja dalam hidup karena ia sudah pensiun, istrinya sudah meninggal, dan putri satu-satunya akan menikah.  Tapi nyatanya ia masih hidup dan cukup sehat, bahkan mampu untuk melakukan perjalanan.  Entah mengapa ada sesuatu yang menarik dari cerita seorang pria 60an yang memang tidak muda namun belum di umur yang pantas untuk mati.  Bagaimana dia harus hidup dalam kesuraman dan kesedihan, atau keadaan yang saya akan membuatnya untuk meminta agar waktu berhenti saja, tapi waktu tetap berjalan dan dia tetap hidup.  Itu adalah pesan hidup yang cukup kejam, namun realistis juga.  

Agak disayangkan Alexander Payne dan Jim Taylor kurang menyeimbangkan petualangan yang dialami Warren dan hubungannya dengan putrinya.  Namun film ini memang berjudul About Schmidt, bukan About Schmidt and...  Tapi bagaimana ya?  Saya sendiri merasa bahwa perjalanan yang dilakukan Schmidt kurang memiliki porsi dan kurang amusing.  Adegan yang cukup menghibur dari petulangan Schmidt adalah ketika ia mencium istri orang dan ketika ia berbicara pada bintang karena ia menyesal bahwa ia kurang memikirkan perasaan almarhum istrinya.  Beruntung sekali cerita hubungan Schmidt dan putrinya sudah sempat terbangung di awal film.  Dan konflik mereka pun berakhir bittersweet, agak mirip dengan film Magnolia (1999).




Saya tahu bahwa memberikan pujian kepada Jack Nicholson terlihat agak basi, tapi saya toh tetap melakukannya, haha.  Saya belum menonton As Good as it Gets ataupun Something's Gotta Give, jadi ini pertama kalinya saya menonton Jack Nicholson menjadi sosok yang lembut dan cukup lovable.  Bagaimana ia mampu menunjukkan kerapuhan Schmidt dan kepolosannya (terserah anda setuju atau tidak, lol).  Dan tatapan terakhirnya di adegan terakhir film ini agak meningatkan saya pada ending film Oldboy (2003).

Ada juga Kathy Bates yang berperan sebagai calon besan, and she nailed her character.  Her character is really amusing and free-spirited.  Dia tidak tampil cukup lama bagi saya untuk menilai chemistry-nya dengan Jack Nicholson.  Selain Kathy Bates ada juga Hope Davis yang berperan sebagai Jeannie, putri Schmidt.  She gave a great performance.  

Yes, people can hurt others and they don't realize it.  But people can make others happy or make positive changes and they still don't realize it.  Just keep both in mind. 8,7/10

pic cr:
blogs.yahoo.co.jp
slantmagazine.com
listal.com

 

Selasa, 14 Mei 2013

The Shining

Come and play with us, Danny. Forever and ever. -The Graddy Twins


Ini dia!  Salah satu film horor klasik yang paling berpengaruh!  Alasan gue nonton film ini bukan karena Jack Nicholson, tapi karena rasa ingin tahu gue terhadap sang sutradara, Stanley Kubrick!  Dan... hasilnya sama sekali gak mengecewakan!

Film ini diangkat dari novel Stephen King yang berjudul sama.  Jack Torrance (Jack Nicholson) adalah seorang mantan pecandu alkohol yang memutuskan untuk bekerja di Hotel Overlook.  Jack mempunyai istri bernama Wendy (Shelley Duvall) dan putra bernama Danny (Danny Lloyd).  Sebelumnya, ia sudah diperingatkan bahwa Jack harus menghadapi badai musim salju.  Tidak hanya itu, ia juga diperingatkan tentang pengurus sebelumnya, Charles Grady, yang membunuh istrinya dan anak kembarnya.  Setelah sampai di Hotel Overlook, keluarga Torrance juga diperingatkan untuk tidak memasuki kamar 237 yang misterius.


Pertama-tama, gue ingin mengingatkan kalau gue adalah penonton 'bego', jadi maklumi kalau review dan observasi gue tentang The Shining gak sebanyak dan 'sedalam' artikel lain.

Bravo for Stanley Kubrick!  Kalau The Silence of the Lambs bisa memenangkan Best Picture di Academy Awards, kenapa The Shining tidak bisa?  Harusnya pihak Academy malu tidak memberikan nominasi apa-apa pada The Shining.  Stanley Kubrick, Jack Nicholson, Danny Lloyd, Diane Johnson (co-screenplay), Wendy Carlos and Rachel Elkind (music) really deserved Oscar nominations.  

Akting Jack Nicholson keren banget.  Ekspresinya yang gila...wow, hehe.  Gue benar-benar gak tahu harus kasih komentar apa soal penampilan Nicholson selain...keren!  Sebelum pikirannya terpengaruh oleh hotel pun, menurut gue dia agak mengerikan.  Apalagi setelah terpengaruh.  Emang kalau nonton filmnya gue gak takut lihat Jack Nicholson, tapi kalalu gue ketemu orang kayak Jack Torrance atau Jack Nicholson senyum kayak gitu di dunia nyata?  Jangan ditanya deh.



Danny Lloyd juga keren banget.  Boleh dibilang...dia versi mininya Nicholson, hehe (in a good way).  Ekspresinya sama kuatnya dengan Nicholson.  Danny Lloyd clearly was born to became Danny Torrance.  


Shelley Duvall?  Satu-satunya adegan dimana aktingnya Shelley Duvall bagus.........................the famous 'Here's Johnny!'.  Selain itu?  Gue gak suka aktingnya.  Yang paling konyol waktu dia berkomunikasi dengan sherif lewat radio.  Intonasinya terlalu dibuat-buat.  Percakapannya juga kaku dan too friendly.  Kalau dia gak histeris, Duvall terlihat kaku dan lifeless.  Matanya juga terasa kosong.  Duvall couldn't communicate with her eyes.  Atau memang karakter Wendy seperti itu?  Gue gak terlalu tahu karena gue belum pernah baca novelnya.  So, gak ada perbandingan kayak review Never Let Me Go.



Musik dan sinematografi sangat berperan di film ini.  Bagaimana caranya membuat scene sederhana seperti lobi hotel, anak kembar, atau apapun menjadi menakutkan?  Gue termasuk orang yang (sangat) meremehkan horor psikologi, karena tiap kali gue nonton 'horor' psikologi, gue malah jadi ngantuk.  Tapi...............................harus gue akuin selama 1,5 jam pertama gue takut banget.  Gue dengan sok memberanikan diri nonton The Shining malem-malem dan hasilnya...............................gue langsung stop filmnya dan lanjut nonton pas pagi -__-

Musiknya sukses bikin gue stress selama nonton film ini.  Begitu juga teknik yang dipakai Kubrick pada adegan Danny mengendarai tricycle.  Musiknya jarang berhenti di film ini.  Saat ada adegan yang 'mencurigakan', gue langsung tutup mata, dan ngintip dari sela-sela jari gue.  Setelah gue perhatikan, ternyata adegan yang 'mencurigakan' itu biasa aja.  Gue pernah lihat yang lebih parah dari film-film gore atau serial kayak Criminal Minds, C.S.I, dll.  Sial gue ditipu Kubrick-_-


Ending film ini?  Sepertinya hanya Tuhan dan alm. Stanley Kubrik yang tahu.  Entah semua pengalaman itu hanya ilusi, atau Jack kebetulan mempunyai wajah yang sama dengan pemilik sebelumnya.


Oh iya, gue juga mau berbagi beberapa fakta film The Shining yang gue ambil dari wikipedia dan imdb :

1. Stephen King sendiri kurang puas dengan film The Shining dan SANGAT tidak mensetujui Jack Nicholson sebagai Jack Torrance.
2. Adegan dimana Wendy menggunakan pemukul baseball tidak diulang sampai 147 take, hanya 34-35 take.  Justru adegan Holland menjelaskan kepada Danny apa itu shining yang mengambil 148 take.
3. Stanley Kubrick sempat berpikir untuk merekut Robert de Niro, Robin Williams, dan Harrison Ford sebagai Jack Torrance.  Sedangkan Stephen King lebih menyukai Christopher Reeve sebagai Jack.
4. Shelley Duvall sempat sakit dan tertekan setelah syuting The Shining.
5. Jack Nicholson melakukan ad-lib pada dialog 'Little pigs'.
6. Selama syuting, Stanley Kubrick menyuruh para pemain untuk menonton Rosemary's Baby, Eraserhead, dan The Exorcist.
7. Video klip The Kill (Bury Me) - 30 seconds to mars terinspirasi dari film The Shining.


8. Banyak kritikus berpendapat bahwa The Grady Twins terinspirasi dari foto Diane Arbus yang berjudul Identical twins, Roselle, New Jersey, 1967.  Kubrick sendiri pernah bertemu dan belajar dengan Arbus.


Nah, tadi kan gue bilang kalau 1,5 jam pertama Kubrick berhasil nakutin dan menipu gue, tapi setelah itu, gue malah jadi ngantuk karena tahu kalau musik yang dipakai hanyalah trik.  Mungkin efeknya akan berbeda kalau gue nonton film ini siang dan gak sendiri....gue aja nonton film Thailand siang-siang dan rame-rame tetap takut-_-  So, as a horror movie, I don't really like it, but as a movie, I really love it! (?)  8,5/10

P.S : Film ini emang gak menegangkan kalau lo tonton siang, makanya nonton film ini sendirian pas malam, dan matiin lampu!  Dijamin horornya terasa...

pic cr : impawards.com
            tumblr.com
            bloody-disgusting.com
            leedsstudent.org
            perezhilton.com 
            leedsfilm.com 
            kubricsfilm.tumblr.com
            gonemovies.com