Senin, 20 Mei 2013

Memories of Murder

Do you see this kind of thing in Seoul often? -Det. Park

Tadi malem gue gak bisa tidur, akhirnya gue memutuskan untuk nonton film It Happened One Night.  Dan...filmnya ngebosenin banget, jadinya gue skip.  Loh, kan tujuan gue nonton film jadul supaya cepat tidur?..Anyway, gue ingat ada banyak film-film yang belum tersentuh di laptop gue, jadinya gue memutuskan untuk nonton film Memories of Murder.

Film ini akan membawa kita pada sebuah desa di Korea saat tahun 1986.  Park Doo Man (Song Kang Ho) adalah detektif yang kurang serius menangani kasus.  Apalagi ia dan Cho Yong Goo (Kim Roe Ha) sering menyiksa 'tersangka' di ruang interogasi.  Karena pembunuhan-pembunuhan yang terjadi tidak memberikan bukti-bukti yang kuat, akhirnya mereka meminta bantuan dari Seoul.  Detekfif Seo Tae Yoon (Kim Sang Kyung) bersedia untuk membentu mereka. 

Detekftif Seo berhasil menemukan kesamaan di antara dua korban, bahkan mengejutkan kepolisian dengan menemukan korban ketiga.  Cara kerja Tae Yoon dan Doo Man yang berlawanan akhirnya menimbulkan pertengkaran-pertengkaran di antara mereka.  Namun, mereka tetap bekerja sama dan akhirnya menemukan bukti yang mengarah pada satu orang.

WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Rasanya tidak adil jika kita hanya memberikan pujian pada Song Kang Ho.  Menurut gue, semua pameran yang ada disini bekerja dengan baik, termasuk pameran-pameran pembantunya.  Memang, Song Kang Ho sangat berhasil mengeluarkan kemampuan aktingnya disini, tapi kita tidak bisa mengabaikan tatapan frustasi Kim Sang Kyung, ledakan amarah dari Kim Roe Ha, dan juga keahlian Park No Shik yang berhasil menjadi anak dengan keterbelakangan mental bernama Baek Kwang Ho (yang nanti menjadi saksi kunci).


Chemistry antara Song Kang Ho dan Kim Sang Kyung sangat kuat, walaupun bukan chemistry emotional bromance seperti di film A Perfect World, Taegukgi, ataupun The King's Speech.  Dan itu sangat logis dan masuk akal karena di film ini mereka bukan teman lama ataupun saudara.  Mereka adalah orang yang berlawanan yang harus mengusir ego masing-masing dan bekerja sama untuk mencari pembunuh sesungguhnya.  Disini, Doo Man yang berisik berhasil mengisi kediaman dari Tae Yoon, dan Tae Yoon yang lebih logis berhasil mengusir teori-teori tidak logis dari Doo Man.  Mereka saling melengkapi.  Lalu, apakah Doo Man tipe stupid character yang biasanya gue benci?  Tidak, dia mempunyai 'bakat' yang tidak dipunyai Tae Yoon.

Park Doo Man adalah salah satu contoh detektif yang imperfect, yang tidak bisa menyelesaikan kasus secara tiba-tiba, ataupun 100% serius.  Tampangnya juga biasa saja dan sederhana, bukan tipe-tipe karakter Hollywood yang menurut gue too good to be true (I know it's bias, but I still love Sherlock Holmes, hehe).  Ganteng, dan secara cepat bisa menyelesaikan kasus.  Well, Doo Man jauh sekali dari karakter-karakter itu karena Park Doo Man adalah detektif yang sangat manusiawi.  Tapi, dia juga tidak sepenuhnya reckless sampai-sampai ia menjadi 'antagonis'.  Seiring berjalannya film, dia berubah dan menjadi lebih bertanggung jawab, dan memberikan alasan bagi penonton untuk bisa menyukainya.

Saat gue menonton film ini, gue jadi ingat novel-novel karangan Sue Limb (penulis teenlit) dimana karakter sidekick lah yang too good to be true, bukan karakter utamanya.  Memang Seo Tae Yoon detektif yang lebih baik daripada Park, tapi lebih baiknya gak parah banget sampai dia jadi Gary Sue (tokoh pria yang terlalu sempurna).  Gue senang hanya karena dia jadi Seoul, mendadak dia jadi terkenal karena ganteng atau apa, terus ditaksir banyak perempuan.  Tokoh ini juga tidak menunjukkan love line, adegan hand to hand combat yang berat, dan kepintaran yang dia punya belum seberat Sherlock Holmes.



Selain sinematografi yang sangaaaaaaaaaaat bagus dan penampilan akting yang sangat kuat, film ini juga menawarkan plot misteri yang cukup berbeda dari film-film Hollywood...dan itu termasuk Silence of the Lambs.  Kalau lo nonton Silence of the Lambs, Red Dragon, dan film misteri lainnya, biasanya di tengah-tengah mereka dengan frontal menunjukkan wajah si pelaku-__- Kelanjutannya?  Ya hanya menunjukkan proses penangkapan.  Nope, film ini akan tetap fokus ke penyelidikan, tapi bukan berarti kita akan terus dijejali oleh teori-teori berat.  Film ini mempunyai momen tersendiri dimana kita bisa just sit and watch, atau jadi greget sendiriFilm ini juga mempunyai dinamika yang bagus and the ending will surprise (I think) all of you. 

Overall, Memories of Murder (Sarinui Chueok) is one of the most uncliche mystery movie I've ever watched, with un-hurry plot, not slow. 10/10

pic cr :
modernkoreancinema.com
nautiljon.com
modestmovie.wordpress.com
dvdbeaver.com

 

6 komentar:

  1. It's funny how I eventually see your review about this movie in a few clicks when previously I've been recommended to it. Gw ga baca reviewnya, takut kena spoiler, haha. Just tell me, ada adegan darah-darahan/gore-nya ga?

    Btw, I've already linked your blog on my blog :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, thank you, hehe.

      Gore? Hmm, not really. Adegan berdarahnya gak separah Evil Dead atau Final Destination, emang ada beberapa adegan yang agak disturbing, tapi gak terlalu parah.

      Hapus
  2. Gue habis nonton film ini dan baru gue tulis reviewnya di letterboxd---kebetulan banget lu juga liat ni film hahahaha
    ngobrolin tanpa spoiler yuuuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk yuk!
      setelah gue baca ulang review gue, gue malu banget dengan review gue yang satu ini, haha. Sotoy banget gue-_-

      Sayang nih film kayak di bayang-bayangi sama Oldboy, A Tale of Two Sisters, sama Spring, Summer, Fall, Winter, and spring again. Padahal nih film keren juga.

      Hapus
    2. ngapain malu? reviewnya relevan kok hahaha

      sebagai seorang yang bukan penggemar KPop atau KDrama, gue mau nanya nih:
      apakah penggemar film Korea kontemporer dan penggemar Park Chan-wook, Bong Joon-ho, Kim Ki-duk, dan Kim Jee-won itu ada di ranah berbeda?

      Hapus
  3. Hei.
    Ini sapa pembunuhnya??
    Ada yg tau

    BalasHapus