Tampilkan postingan dengan label Adaptation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adaptation. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2020

Enola Holmes

 

pic credit to netflix
pic credit to Netflix

Enola Holmes merupakan adaptasi dari novel Nancy Springer, dan disutradarai oleh Harry Bradbeer. Film ini mengikuti Enola (Millie Bobby Brown) yang dibesarkan oleh ibunya, Eudoria (Helena Bonham-Carter). Eudoria mengajarkan Enola keahlian dan pelajaran yang tidak umum dipelajari wanita waktu itu, seperti bela diri dan sains. Suatu hari, ibunya memutuskan untuk meninggalkan Enola. Enola yang belum dewasa menjadi anak wali Mycroft (Sam Claflin), kakak dari Enola dan Sherlock (Henry Cavill). Enola memutuskan untuk kabur dan mencari ibunya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tewkesbury (Louis Partridge), seorang bangsawan yang lari dari keluarganya.


pic credit to Netflix


Okay, I just need this to get out of my chest first: Henry Cavill lebih ganteng di sini daripada di DCEU woy. Kalau kata adek gue: "Emang mana yang lebih ganteng, orang pake celana dalam di luar atau di dalem."


Kalau gue menebak ini mengambil latar belakang di Edwardian Era. Edwardian Era sendiri berjalan dari sekitar tahun 1901 hingga 1910, sebelum Perang Dunia I. Gerakan suffrage berkembang cukup pesat di era ini. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok suffragattes sebenarnya memuncak sekitar tahun 1914, di bawah rezim George V. Meskipun gerakan suffrage berkembang di akhir Victorian Era, wanita yang memiliki pendidikan tinggi seperti Eudoria dan Enola sudah ada sejak lama di Inggris, sebut saja Ada Lovelace dan Mary Shelley.


Mungkin ada beberapa penonton juga yang tidak percaya wanita di zaman itu bisa belajar olahraga bela diri. Justru di Edwardian Era lah para wanita belajar jiu-jitsu untuk melindungi wanita lain. Wanita yang menyebarkan jiu-jitsu kepada wanita lain adalah Edith Garrud, instruktur WSPU (Women's Social and Political Union). Enola Holmes juga memiliki tokoh bernama Edith yang diperankan oleh Susie Wokoma, seorang wanita kulit hitam. 


Gue agak kaget gak ada yang mempermasalahkan pemilihan casting Wokoma, mengingat ia jelas-jelas terinspirasi dari real person. Mungkin ini karena Garrud sendiri bukan tokoh feminis yang populer. Menampilkan tokoh kulit hitam di Edwardian Era mungkin terasa seperti usaha dangkal yang bagus untuk terlihat memiliki 'diverse cast'. Tapi itu juga bisa usaha untuk whitewashing the history. Benar, tidak seharusnya orang menganggap serius nuansa historis dari film fiksi. Tapi ini film yang kelompok demografisnya adalah anak muda who probably do not know any better. 


Gue juga tidak akan mempermasalahkan pilihan casting itu kalau Enola Homes fully for entertainment. Alas, mereka mencoba untuk preaching for social justice and why you should participate in it. Tingkat preachnya sampai level penulisnya menuliskan dialog yang spelling out the message. Seandainya mereka gak preachy, mungkin I will take the faults of the film less seriously.


Walaupun Jack Thorne selaku screenwriter bersusah payah untuk menjelaskan pesan film, ada aspek cerita dan tokoh yang mengkontradiksi pesan tersebut. Ada adegan di mana Edith called out on Sherlock's apolotical position. Edith menyatakan bahwa wajar Sherlock tidak tertarik untuk mengubah tatanan politik, karena ia tidak pernah dirugikan oleh politik. Gue pribadi setuju bahwa orang yang apolitik cenderung priveleged, dan tidak peduli politik sama sekali artinya apatis terhadap kehidupan orang lain. Edith bahkan dengan gamblang ngomong kalau Sherlock kayak burung unta yang ngumpetin kepalanya di bawah tanah.


Di sisi lain, Enola dengan keras kepala menolak untuk berkompromi dengan Mycroft. Ia menolak untuk bergaul dengan cewek yang seumuran dengan dia di sekolah. Enola hampir tidak mengubah pendiriannya, bahkan menyatakan bahwa dunia lah yang harusnya berubah. Lalu, film ditutup dengan Enola yang menyatakan, "My life is my own (...)". Enola's hard headedness can hinder social change too, in real life. Karena di kehidupan nyata orang harus belajar untuk berkompromi dan choose their battle wisely. Gue juga mikir dengan dia menolak untuk belajar di sekolah itu, kemungkinan dia malah membuang kesempatan untuk networking dan menyebarkan feminisme ke kaumnya sendiri. Pilihan dia untuk bersikeras terhadap pendiriannya jadi kontras dengan keputusannya dia untuk menyamar, bahkan ganti gender dan kelas, di sepanjang film.


Nilai-nilai feminisme di film ini juga jadi berkurang jika mengingat film ini seakan-akan membagi tokoh-tokoh wanitanya menjadi dua: progresif dan kuno. Di sisi progresif ada Edith, Eudoria, dan Enola. Di kelompok kuno ada wanita bangsawan, cewek-cewek di sekolah Enola, dan Miss Harrison (Fiona Shaw, yang jadi tantenya Harry Potter). Hampir gak ada wanita yang di tengah-tengah. Mungkin ada satu sih, penjaga kosannya Enola, yang oportunis. Mycroft is also over-villainized? Dia jadi konservatif dangkal yang tipikal. I would've liked it more if he had been a traditional centrist that can challenge Enola's thought. 


Overall, Enola Holmes is an entertaining movie with Millie Bobby Brown as a solid lead. It has a pretty cinematography and a nice flow. Unfortunately, its attempt to be political is weak and the message is contradictory. 6,5/10






Senin, 28 September 2020

The Devil All The Time


Istilah "manusia lebih jahat daripada setan" berlaku terhadap film ini. Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama oleh Donald Ray Pollock berlatar belakang di Ohio, Amerika, setelah Perang Dunia II. Film ini mengikuti Willard (Bill Skaarsgard), veteran PD II, yang jatuh cinta kepada Charlotte (Haley Bennet). Mereka mempunyai seorang putra bernama Arvin (Tom Holland). Tragedi mulai jatuh ketika Charlotte sakit. Willard yang desperate untuk menyelamatkan Charlotte, menjadi lebih fanatik lewat doa-doanya, bahkan mengorbankan anjing milik Arvin. Charlotte tetap mati dan Willard bunuh diri. Arvin dibantu oleh Sheriff Bodereck (Sebastian Stan) sebelum dikirim untuk tinggal bersama neneknya, pamannya, dan Lenora (Eliza Scanlen).


Lenora dan Arvin bonding sebagai sesama anak yatim piatu. Lenora dibully oleh anak SMA sekitar karena ketaatannya terhadap agamanya. Arvin hanya ikut ke gereja demi menyenangkan neneknya. Insecurity Lenora dieksploitasi oleh pendeta baru, Preston Teagardin (Robert Pattinson). Sementara itu, Sheriff Bodereck mempunyai kecurigaan terhadap kegiatan adiknya, Sandy (Riley Keough). Bodereck menemukan foto aneh di rumah Sandy dan suaminya, Carl (Jason Clarke).




The Devil All the Time merupakan ujian pertama Tom Holland dalam akting yang lebih serius. Tidak hanya akting serius, Holland juga harus belajar menggunakan aksen semi-southern. Berbeda tentu dengan Pattinson yang memang on the rise as a serious actor. Seluruh pameran berakting dengan bagus di film ini, gak ada yang bolong. I personally want to give extra shoutout to Eliza Scanlen, yang benar-benar menangkap kerelijiusan dan insekuritas Lenora. 


Mungkin sudah bisa ditebak bahwa film ini akan berbicara tentang agama, specifically Christianity. Film ini tidak menyerang agama Kristen, hanya mengkritik fanatisme keras pengikutnya. Namun, menurut gue kritikan tersebut kurang relevan, tidak baru, dan tidak berani. Fanatisme relijius di film ini berlatar belakang tahun 50an dan di daerah rural. Ini era di mana pendidikan tidak seaksesible sekarang dan tokoh-tokohnya tidak punya banyak kesempatan untuk menjelajah dunia. Tentu wajar jika mereka bergantung pada agama. Kenyataannya, fanatisme sinting macam film ini bisa terjadi zaman sekarang dan di kota besar. Lihat saja gereja kultus di Seoul yang menyebarkan Covid-19, atau masjid di kota yang menyebarkan bibit intoleransi. Justru akan lebih menarik untuk melihat fanatisme relijius di era modern dan di perkotaan. Seandainya "The Devil All the Time" dibuat di Indonesia di era sekarang, atau di Amerika tapi lebih awal, mungkin akan terasa lebih berani atau baru. 


The religious background doesn't get anywhere, which is a shame. Apalagi kita semua udah pernah dengar preacher/reverend yang melecehkan jemaatnya. Orang tua yang memaksakan nilai agama ke anak juga familiar. Hampir gak ada eksplorasi lebih dalam dari fanatisme dan tokoh-tokoh itu. Fanatisme relijius hanya untuk props dari cerita Arvin dan tokoh-tokoh lainnya.


Tapi ada satu aspek yang gue setuju adalah orang yang posisinya lemah secara psikologis, akan lebih mudah untuk dicuci otaknya. Contohnya tentu saja Willard yang makin relijius ketika istrinya sakit, dan Lenora yang terlalu percaya kepada Pendeta Teagardin. Yang menarik juga adalah perbedaan antara Willard dan Arvin dalam menghadapi trauma. Willard mulai kembali menjadi relijius karena pengalamannya yang mengerikan di PD II. Trauma masa kecil Arvin justru membuatnya menjadi apatis terhadap agama, bahkan tidak menyukai Teagardin.


Gue juga suka film ini gak pakai tetek bengek supernatural atau magical realism kayak The Green Mile. Ada sense of realism yang menambah horor. Di dunia nyata kekejaman dan sisi gelap bukan datang dari setan atau devil, but the humans all the time. Apalagi kekejaman itu dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya melindungi orang lain, seperti ayah, pendeta, dan polisi.


Film ini sifatnya non-linear dan semi-hyperlink kayak Magnolia atau Contagion. Jadi filmnya akan lompat-lompat perspektif. Menurut gue backstory-nya agak panjang dan boring. Backstory-nya juga agak memperlambat film dengan beberapa hal yang bisa di-skip. Editing-nya gue pribadi juga kurang sreg karena sekali atau dua kali gue agak kesusahan dengan ngikutin nama-nama tokoh di film dan koneksi mereka tokoh yang lain.


Overall, The Devil All the Time punya jajaran aktor yang solid, sinematografi yang apik, dan music score yang memperkuat atmosfer film. Sayang ceritanya kurang mendalami isu sosial yang diceritakan, dan tidak terasa baru dan berani. 6,5/10





Rabu, 13 November 2019

Our Little Sister (Umimachi Diary)



Hirokazu Kore-eda merupakan nama yang tidak asing bagi penggemar film festival. Karyanya tahun 2013, Like Father Like Son (yang belum gue tonton padahal udah didownload dari kapan tahu) menerima Jury Prize di Cannes Film Festival. Puncak karirinya sejauh ini adalah menerima Palme d'Or untuk Shoplifter pada tahun 2018. Our Little Sister merupakan filmnya yang dirilis pada tahun 2015, dan diadaptasi dari manga yang berjudul Umimachi Diary oleh Akimi Yoshida.

Film Hirokazu kali ini bercerita tiga orang kakak-beradik dewasa. Yang tertua, Sachi (Haruka Ayase), lalu Yoshino (Masami Nagasawa), dan Chika (Kaho). Mereka telah lama hidup bertiga sejak orang tua mereka bercerai. Tiba-tiba, mereka mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal. Saat pemakaman, mereka bertemu dengan adik bungsu mereka dari pernikahan kedua sang ayah, Asano Suzu (Suzu Hirose). Sachi yang merasa sang adik kurang bahagia tinggal bersama istri ketiga ayahnya, mengajak Suzu untuk tinggal bersama mereka bertiga. Suzu menerimanya.



SMALL SPOILER ALERT

Karena gue belum menonton film Hirokazu Kora-eda yang lain, gue belum bisa membuat perbandingan dengan film-film sebelumnya, hehe. Film ini malah mengingatkan gue dengan film Jepang jadul yang berjudul Tokyo Story. Jika Tokyo Story berbicara mengenai orang tua yang diabakan anak-anaknya yang dewasa, maka Our Little Sister menceritakan orang dewasa yang diabaikan orang tuanya saat muda, serta seorang anak yang dikecewakan oleh orang dewasa.

Apa ini gue doang atau gak, film Amerika Serikat yang indie cenderung lebih menyukai dekonstruksi ideal relationship atau cerita mengenai dysfunctional relationship. Sebut saja Marriage Story yang Desember nanti dirilis oleh Netflix (at least based on the trailer), Midsommar, Lady Bird, heck, one of its' biggest franchise is basically a family space opera! Untungnya Hirokazu Kore-eda menghindari tren itu, dan memperlihatkan hubungan saudara yang sehat. 

Kelalaian orang tua mereka tidak muncul lewat hubungan saudara yang tidak sehat, atau apapun yang mencolok. Luka itu justru tumbuh lebih subtle. Seperti Sachi yang sering kali lebih seperti ibu daripada kakak. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana ia yang sering memasak dan menegur adik-adiknya. Ada Yoshino yang sering memanjakan pacarnya secara material. Chika yang masih sedikit kekanak-kanakan. Yang terakhir, Suzu, yang menyimpan unek-unek mengenai ibu tirinya, ditambah merasa insecure karena merasa ibunya lah yang menghancurkan pernikahan orangtua kakak-kakaknya. Akibat dari abandonment nyatanya tidak selalu terlihat mencolok dan inilah yang kadang-kadang dilupakan media dan masyarakat awam. Ini poin favorit gue dari film ini. Luka itu kadang-kadang terlalu dalam atau sudah mati rasa sehingga hanya terlihat jika diperhatikan sangat baik-baik saja.

Film ini juga tidak mempunyai alur cerita yang konvensional. Alur ceritanya sama dengan manga yang diadaptasi, di mana ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari keempat kakak-beradik itu. Kadang-kadang ada hari yang sekedar rutinitas, ada yang sangat membahagiakan, dan ada yang diisi dengan ketegangan. Ketika kamu berharap bahwa konflik kecil itu akan menjadi konflik utama, konflik itu akan terselesaikan atau hanya digantung. Contohnya, ada cerita mengenai kedatangan ibu the elder sisters. Hal ini memicu konflik karena Sachi belum sepenuhnya memaafkan sang ibu. Suzu juga menjadi tidak nyaman. Tapi, Koru-eda tidak membuat tarik-ulur dengan konflik ini secara berlebihan, dan memberikan resolusi yang heartwarming. Tidak hanya resolusi yang heartwarming, film ini juga menampilkan momen-momen kecil membahagikan seperti memanen buah plum, makan katsu, atau sekedar naik sepeda dengan teman. Meskipun demikian, Hirokazu berhasil menyulap momen kecil itu menjadi tidak hanya membuat senang penonton, tapi juga menghangatkan hati mereka.

Secara teknis, gue jatuh cinta banget dengan musiknya! Kudos for Yoko Kanno. Sayang gue cari di YouTube dan Spotify gak ketemu, huhu. Lantunan pianonya itu ringan, tapi manis gak sampai diabetes. Benar-benar menangkap esensi filmnya. Akting para aktornya bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah chemistry di antara mereka. Benar-benar meyakinkan kalau mereka itu kakak beradik. And the landscape!!! No word to describe the landscape. 

Overall, Our Little Sister has the perfect amount of sweetness, warmness, tension, and melancholy. It captures the subtle effect of parental abandonment and disappointment, while also proving you can break it by being a functional adult and having a healthy and loving relationship with your sisters. 7,5/10. 

Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Kamis, 02 Juli 2015

Thursday Movie Picks: Adaptations of Classic Literature (No Poem and Play)


Hello, folks! I hope you have your book and film ready because it's Thursday Movie Picks. Thursday Movie Picks is a weekly meme that's hosted by Wandering Through the Shelves. Basically, it's a recommendation of three films from a certain theme. Don't worry, every week has a different theme. And as you can see, today's theme is...Adaptation of Classic Literature! Unfortunately, it doesn't include poem and play. Damn it, I really want to include Eternal Sunshine of the Spotless Mind if poem is allowed.

Now, I watch so many films that are adapted from a book, but it's kinda hard to pick exclusively from classic. It's even harder to create a list without Jane Austen's adaptation!

Sense and Sensibility (Ang Lee, 1995)
Based on: Sense and Sensibility by Jane Austen


Darn it, Austen! Why can it not end with Colonel and Elinore getting married?! Even the casting is already fit!

I watched Sense and Sensibility when I was about 12 years old. I disliked it. I didn't understand the film and it bored me. Three years later, I watched it again. And...I like it very much. I have to say it's not because intellectual reason or whatever. I don't even know whether S&S can be considered as "feminist" film or not. But I definitely love the actors, the social commentary, the cinematography, and the landscape. It's not as fancy as Joe Wright's Pride and Prejudice, which stars Keira Knightley, but Lee's Sense and Sensibility is far from "bad".

The eye candy of this film is the young Kate Winslet. I love the way she expresses Marianne's passion and feeling. The rain scene after Willoughby is done beautifully by her. Winsley doesn't need to cry to let the audiences know how crushed and haunted Marianne is. That doesn't mean Emma Thompson is bad. She's good. She can keep character subtle, but not flat. I also love Alan Rickman as Brandon more than any Snape from Harry Potter series.

But I gotta say that my favorite characters are Mr. Palmer (Hugh Laurie) and Mrs. Palmer (Imelda Staunton). I just love Laurie's reaction everytime his wife opens her mouth, haha.

P.S: So........Prof. Trelawney is Snape's sister-in-law while Umbridge is their acquaintance? Yikes!

Hunchback of Notre Dame (Gary Trousdale & Kirk Wise, 1996)
Based on: Huncback of Notre Dame by Victor Hugo


I haven't watched many "minor" Disney's films. However, I dare to say that Hunchback of Notre Dame is one of Disney's underrated films. It's a bit messy, but it's definitely darker than most of Disney's films. Heck, I think Frodo is a darkest villain of Disney's films, and underrated too. Okay, I said underrated and dark too much in one paragraph.

Easy A (Will Gluck, 2010)
Based on: The Scarlet Letter by Nathaniel Hawthorne


There was a time when a prude disliked Easy A for too much sex. Don't worry, she's not a prude anymore. She also realizes that her first impression on Easy A was incorrect. Indeed, it's a smart and funny satire about society in high school. It shows how much we'll do for "social security" and the blur between rumors and facts. 

I haven't read The Scarlet Letter and I think I won't read it if I have loads of free time. I'm not...interested. I read from some reviews that Easy A isn't exactly an adaptation because the only thing that connects this film with the novel is the "A" symbol. 

P.S:I want to pick "Pride and Prejudice" for this week, but someone already did before me.

Senin, 22 Juni 2015

Jurassic World


Berhubung nyokap ngedenin gue tahun 1998, gue gak nonton Jurassic Park, which was released in 1993, di bioskop. Gue beberapa kali nonton Jurassic Park di TV waktu kecil, and I never felt fascinated or awed by the film. Gue justru bisa merasakan dan menghargai keajaiban film Jurassic Park beberapa bulan yang lalu, setelah gue rewatch di HBO. Gue belum pernah nonton The Lost World dan Jurassic Park III karena belum menemukan mood. 

22 tahun setelah John Hammond membuka (dan menutup) Jurassic Park, seorang pengusaha bernama Masrani (Irffan Khan) membuka Jurassic World. Ia dibantu oleh Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), seorang operations manager. Mereka berencana untuk mempamerkan sebuah trik gen yang sangat hebat secepatnya. Untuk itu, mereka meminta pendapat dan bantuan Owen Grady (Chris Pratt) a sexist white asshole yang bersahabat dengan velociraptor. Disaat yang sama, kakak Claire menitipkan dua putranya, Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins) untuk bersenang-senang bersama tante tersayang mereka. Masalah dimulai ketika trik gen yang sangat hebat itu berhasil lolos dari kandangnya.


RISK YOURSELF WITH CRAPPY REVIEW AND SPOILER


In the next movie, just let the dinosaurs kill all the people

I give the cute four raptors more fuck than the Hermione Granger-wannabe and the sexist white asshole. I'm not kidding, it's really sad to see those cute raptors die.

Gue udah melengos waktu lihat Claire yang too perfect sekaligus needs to get laid badly. God, do we really need another Hermione Granger? Serius, workaholic, control-freak, dll. But hey, at least Hermione doesn't describe house-elves as "assets". Claire is a very stereotypical character. Awalnya sih dia emang cold, sangat logis dan organized, but in the end, she still needs a guy to save her and "melt her heart". I know this is annoying, but even Hermione doesn't need any guy to save her or melt her. 

Beberapa orang gak suka dengan sisi feminin Claire karena berbagai alasan. Gue tadinya gak suka sih, simply karena gue bukan penggemar orang yang centil dan perfeksionis (kecuali artis). Tapi gue melihat itu sebagai suatu statement bahwa women do not have to be a tomboy or "guy-like" to be considered strong. She can wear dress and heels but still a strong woman. In the end, 'pernyataan' itu jadi useless karena Claire menemukan kekuatannya setelah berinteraksi dengan Owen dan melupakan sedikit penampilannya. On the other hand, pekerjaan Claire tidak mengharuskan ia untuk terekspos dengan kehidupan outdoor. So, bisa dimengerti sih how incompetence she is ketika menghadapi dinosaurus. But still...that doesn't make me love her. Sorry, but I love female characters like Ellen Ripley, Black Widow, heck, even Belle from Beauty and the Beast.

What I like from Claire is that she keeps her heels after dozens of complain about her attire and attitude. Nope, I still think she's too pretty and stiff. But you go girl for keeping your shoes!

Am I the only who one who do not fall for Chris Pratt? He's hot, tapi gue lebih milih Loki, Magneto, Sherlock, Iron Man, dan Jack Dawson daripada dia. Anyway, apakah otot, keseksian, 'karisma', asshole-y sense of humor, dan Ace Ventura-skill benar-benar diperlukan untuk membuat sebuah hero untuk film blockbuster? Dr. Grant doesn't have those things, and he still kicks asses. But the thing I like the most from Dr. Grant? He's not fond with children, but he ends up taking care of them. Penampilan Chris Pratt sendiri did nothing for me. Not bad but not memorable either. The same goes with Howard's performance.

Selain itu, Dr. Grant dan Dr. Sattler tidak membutuhkan a ridiculous amount of UST (unresolved sexual tension) dan adegan ciuman untuk menunjukkan chemistry mereka. Gue gak membenci UST antara Claire dan Owen, just saying that Grant and Sattler do not need those things. And you know what? Gue bukan penggemar Sam Neill dan Laura Dern, tapi Jurassic World telah menuliskan nama gue di daftar fans Neill dan Dern. 

Yes, it's women's job to give birth and take care of children while the men don't have any natural obligation.

Satu hal yang bikin gue sangat benci dengan Claire adalah bagian akhirnya. Sebelumnya, Claire dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan dua keponakannya. Lalu ada adegan dimana Claire menelpon kakaknya dan kakaknya sangat yakin bahwa Claire suatu saat akan menikah dan punya anak. Guess what? In the end, Claire gets a boyfriend and she interacts more with her nephews! There you go Claire, your long lost motherly instinct! 

Nah, kan udah dibilang nih kalau Claire terlalu sibuk ngurusin keponakannya. Terus, siapa dong yang ngurusin Zach sama Gray pas mereka nyampe di Jurassic World. Claire menyuruh salah satu asistennya, Zara, untuk mengurus kebutuhan Zach dan Gray. Zara doesn't really care for them. Come on, they are only her boss' nephews. Guess what Zara's punishment for not taking care of Zach and Gray? She has the most gruesome death in this film. Even the death of the selfish fat guy in Jurassic Park isn't as bad as Zara's. Get what I meant?    

A woman's decision to not have children or lack of skill in dealing with children doesn't make her "evil" or "abnormal".


Little Homages

Jika diperhatikan baik-baik, banyak homages kecil maupun besar yang berteteran di Jurassic World. Gue udah kasih warning buat spoiler kan? So far, homages yang gue ingat: John Williams' original theme song, the jeep, eggs in lab, dilophosaurus, B.D Wong, human's greed for power and money, T-Rex, raptors vs bigger dinosaur, and a scene that dedicates for Dr. Grant and Dr. Malcolm. Gue senang sih ada satu aktor dari JP yang balik untuk main di JW, but I prefer seeing Samuel L. Jackson in this film with one arm and one eye, lol.

Other Things

Using mosasaurus for promotion is a stupid move; it ruins the surprise.

Ada satu percakapan yang menurut gue menekankan bahwa it's not "science's fault" but human's fault. Menurut gue, beberapa film sci-fi sering memberikan kesan bahwa inovasi pada sains dan teknologi itu buruk bagi kemanusiaan. Mungkin bukan itu maksud pembuatnya, tapi gue menangkapnya seperti itu. Mereka kurang memberikan penekanan bahwa berinovasi tidak salah, tapi apa yang dilakukan pada inovasi itu.

I'm not fond with the characters, but I'm crazy with the CGI! Goddamn, rasanya tuh kayak liburan ke Universal Studio di USA, but it's certainly better than that. Doh, gue jadi ngarep Jurassic World beneran ada. Wahana yang ditayangkan di film ini juga menarik. Gue merasa kayak bocah lagi jalan-jalan ke Taman Safari yang sangat, sangat, sangat, modern.

Overall

I can't understand how come the plot is bad because it's written by four people. But this film satisfies my inner starve for a mind-blowing amusement park. 6/10


Kamis, 23 April 2015

Thursday Movie Picks: Superhero Movies


To celebrate Avengers: Age of Ultron's premiere, Thursday Movie Picks's theme for this week is................SUPERHERO! God, I really want to watch that damn film. I can't really tell you how I envy some of my fellow bloggers for review the said film already. I have high expectation, but let's just say that some reviews tone my expectation down.

Thursday Movie Picks is a weekly recommendation of three films for a certain theme that is hosted by Wandering Through the Shelves. If you're interested to participate in this series, you can click here for more information.

Batman Returns (Tim Burton, 1992)


I'm ecstatic by the fact that I'm the first person to pick this film, haha. 

Batman Returns is the first film that introduces me to Superhero world and...Batman. It didn't take much time for me to fall for Catwoman's charm and Tim Burton's quirkiness. I have to admit that back then, the only reason I love Batman more than Spidey and Superman is because I think black is a cool color, haha. You can't blame a six-year-old's train of thought. But poor Bruce Wayne, it seems that he's destined to live in the shadow. Michelle Pfeiffer and Danny DeVito steal the whole show for me. Pfeiffer was a great as a sudden villain while DeVito was awesome as a man who craved power and affection. However, I have to say that I don't completely understand Selina Kyle's transformation as Catwoman and antagonist. 

Iron Man 3 (Shane Black, 2013)

 
Second is the charm. I really enjoy Iron Man 3 in the second time I watch it.

Thank God they casted Ben Kingsley for this film. His part is the best. I don't care if someone said that his part is stupid, it's the funniest part for me. But the best part of this film is where all kinds of Iron Man's suits appear. If I were a nerd, I would have a nerdgasm. 

By the way, Pepper is soooooo awesome. She will definitely win all the arguments for a while, lol.

X-Men: Days of Future Past (Bryan Singer, 2014)


Words can not describe how I regret not watching X-Men: DOPF in the cinema. Come on, (the sexy) James McAvoy, (even sexier) Michael Fassbender (yes, it's bold), Sir Ian McKellen, and Sir Patrick Stewart in ONE screen?!! Hell, there are also Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Hugh Jackman, Ellen Page, and Dirk Diggler. But most importantly, CYCLOPS APPEARS IN THIS MOVIE TOO! Damn, I miss the quarrels between him and Logan.

Anyhow, I agree that while X-Men: First Class is Magneto's film, X-Men: Days of Future Past is where James McAvoy shines. Although McAvoy shines brightly in this film, he doesn't shine alone. For me, DOPF has one of the best cast ensemble. I wish there were more moments between old Charles and old Erik. I want to see how they interact as they unite in the future.

Well, I can only say that I'm sold for X-Men: Apocalypse. Sadly, I predict that there will be less moment between Charles and Erik than the two previous films.

Honorable mentions: The Avengers (bless Hiddleston), Captain America: Winter Soldier, Sky High, Spider Man Trilogy (Garfield is a better actor, but Tobey Maguire did a better job as Peter Parker), X-Men, X2: X-Men United, X-Men: First Class (because Cherik isn't canon), The Dark Knight trilogy, and The Incredibles. And...I haven't watched Kick-Ass.

Kamis, 19 Maret 2015

Thursday Movie Picks #36: Movies Adapted from Young Adult Novels


Hello, everyone! I missed TMP last week, but here I am now. Thursday Movie Picks is a series that is hosted by Wandering Through the Shelves and if you want to join it, you can click here. The more the merrier! 

Anyway, this week's theme (which is Movies Adapted from Young Adult Novel) is so far, my personal favorite. I'm just glad that there are some adults who understand how young adults think and feel. 

Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 (David Yates, 2011)


I'm still waiting for my Hogwarts' letter. Oh wait, I got a squib letter. Nevermind.

This is my favorite film from the Harry Potter series. It's...just really epic. Unfortunately, I think Alan Rickman is overpraised for his role in this film. Yeah he's amazing, but it's not his performance that touches me. Instead, it's Snape's story itself. 

The actor that disappoints me the most is...Daniel Radcliffe. Come on dude, you starred as Harry Potter for seven times before this film, yet you could only give us that? Thank God that his two sidekicks, Emma Watson and Rupert Grint, were able to steal my attention. Watson and Grint definitely deserve praise as much as Rickman's.

And the ending scene!!! I love the scene, perhaps because they didn't change the actors for the scene. But it only reminds me that there won't be any Harry Potter films in the future. Even if they reboot this film, it won't feel the same. Those people in Harry Potter films, practically grow up with me, and you can't replace or try to recreate it with different people.

Little Women (Gillian Armstrong, 1994)


Boys, this is a chick film that doesn't really involve Ryan-Gosling-like-gentlemen or Darcy-like gentlemen. This is a film about sisterhood, growing up, and family. I'm not a fan of the novel, which gives too many cliche messages. Although the film isn't groundbreaking, it's an enjoyable or feel-good film.

Winona Ryder and young Kirsten Dunst are sweethearts. I love how Winona Ryder can express the Jo's liveliness, headstrong character, and compassion. Young Kirsten Dunst is a true brat for this film. Susan Sarandon is also amazing, but her character doesn't really need a complicated acting skill or some kind like that.

The best thing from this film: young Christian Bale!

Carrie (Brian De Palma, 1976)


Before you protest, this link indirectly says that Carrie is a young adult novel.

If we put aside the horror aspect from Carrie, we get a story about a young girl who is bullied by her friends and her own mother. Carrie isn't just another horror film, it's also a film how 'standing up for yourself' thing isn't as easy as everyone said. People have different capability and capacity. Maybe it's true that bullying victims are generally weak, but who knows what they will do once they have balls to stand up for themselves.

Carrie makes me question how to distinguish joking and bullying. I also hate it when people underestimate the affects of bullying because the effects of bullying can last a very long time for some people. I'm happy that Carrie can show the viewers how serious bullying can be from the start.

For you bullies, just pray that none of your bully victim (or victims) is someone like Carrie.     

P.S: I really love The Perks of Being a Wallflower, but the film is chosen for too many times.

Senin, 16 Maret 2015

Cinderella (2015)


Gue demen fairytale waktu gue masih eek di celana. Tentu saja gue mencintai fairy tale karena gue gak tahu betapa konyolnya the idea of love at first sight, atau bahwa rata-rata protagonis di fairy tale selalu digambarkan dengan kata cantik, seolah-olah kebaikan bisa terlihat dari luar. Anyway, Cinderella merupakan film fantasi Amerika tahun 2015 yang disutradari oleh Kenneth Branagh dan ditulis oleh Chris Weitz.  Sama seperti Maleficent, Cinderella merupakan recreation dari sebuah fairytale klasik. Karena gue cukup terhibur dengan Maleficent, gue mencoba untuk memberikan Cinderella suatu kesempatan (although I know I won't like this film).

Salah satu ciri khas Ella (Lily James) adalah lunacy daya imajinasi yang besar. Ia percaya bahwa binatang-binatang di sekitarnya mengerti apa yang ia bicarakan dan ibunya bahkan mendukung kepercayaan itu *which I don't really support in real life*. Ibu Ella memberikan suatu nasihat yang akan menjadi prinsip Ella yaitu have courage and be kind. Bla bla bla, ibunya mati, lalu ayahnya menikahi seorang janda bernama Lady Tremaine (Cate Blanchett).  Lady Tremaine tidak sendirian, ia membawa kedua putrinya yaitu Anastasia dan Drizella. Saat Lady Tremaine membawa sepercik 'keceriaan' ke rumah Ella, sang ayah pergi meninggalkan Ella bersama keluarga barunya. Bla bla bla, Lady Tremaine dan dua putrinya memanfaatkan kepolosan dan kebaikan Ella sehingga status Ella menjadi babu.

Pangeran Kit (Richard Madden) didesak oleh ayahnya (Derek Jacobi) untuk menikahi seorang putri untuk memperkuat posisi kerajaan kecil mereka. Sayangnya, Pangeran Kit telah jatuh hati pada seorang wanita misterius yang ia temui di hutan. Pangeran Kit yang sudah jatuh terlalu dalam memutuskan untuk memperluas undangan pesta dansanya hingga pesta dansa itu bisa dikunjungi setiap orang.

Kapan ya gue gak spoiler?

cgmeetup.net

Gue tahu kok ini diadaptasi dari cerita yang super klise dan targetnya bukan penonton yang serius, tapi...

I dislike this film. Come on, kita udah di era modern, masa masih bikin film dengan tokoh, pesan, dan dialog yang super naif? Gue sadar betul kok film ini diadaptasi dari mana dan target penontonnya siapa, tapi tingkat dreamy dan kenaifan film ini sangat mengganggu gue. Gue melihat banyak bocah ingusan nonton film dan ngerasa kesel sendiri karena gue tahu sebagian dari mereka akan mendapatkan kesan yang kurang tepat dari film ini. Yang membuat kenaifan film ini sulit dimaafkan bagi gue adalah fakta bahwa film ini dibuat di jaman modern dimana otak yang bikin nih film harusnya udah lebih maju daripada pembuat film yang versi kartun di tahun 50an. 

Film ini juga tidak punya sedikit ramuan kegelapan, kalaupun ada, terasa terlalu subtle buat gue. Trust me, a speck of darkness is always good because the world is dark. 

Be kind and have courage my ass

I want to smash my head everytime I hear this line in the film.

Bercita-cita jadi orang baik dan idealis macam Jokowi, Munir, Martin Luther King jr, Mahatma Gandhi, atau orang lain itu bagus kok, asalkan lu juga make otak. Jangan sampe lu keseringan make hati terus otak lo karatan kayak si Ella. Cinderella kurang menekankan pentingnya untuk menjadi orang yang tidak polos dan agak jahat. Well, mungkin diperlihatkan lewat bagaimana 'derajat' Ella turun karena ia terlalu baik dan buta terhadap maksud ibu dan kedua saudari tirinya. Tapi orang yang terlalu fokus pada akhir dimana Ella mendapatkan prince charming mungkin melewatkan hal itu.   

Lady Tremaine dan putri-putrinya emang jahat, tapi mereka tahu bagaimana mereka bisa mendapatkan yang mereka inginkan. Mereka menggunakan otak mereka secara efektif. Ella bisa saja mendapatkan hal yang ia mau...if she trains her brain enough...which she doesn't do, because her mother only told her,"Be kind and have courage." Well fuck that advice, because you also need your brain. What's the point of kindness and courage without wisdom and cleverness?

Salah satu hal yang gue pelajari dari sejarah adalah bahwa sometimes, the victims let themselves to be victimized. Ella sebenarnya tahu bahwa ia dilakukan secara semena-mena oleh trio macan, tapi dia membiarkan mereka begitu saja. Alasan Ella membiarkan dirinya dilakukan semena-mena adalah ia ingin tetap berada di rumah milik orang tuanya. But in the end of the day, she lets herself to be victimized by the three stooges. Dia mengatakan Lady Tremaine kejam namun gagal melihat bahwa kenaifan dan sifatnya yang super 'baik' juga berperan dalam kesialannya. Also, it's quite ironic that Ella tells herself to have courage, but doesn't have balls to rebel against her step family.

jagatreview.com

This bitch had it too easy

Yang gue maksud dengan bitch bukan ibu tirinya kok, tapi si Ella.

Sumpah, tuh orang hokinya banyak banget anjir. Waktu dia membiarkan gaunnya dirobek, dia kedatangan ibu peri yang membuat gaun yang lebih bagus. Waktu dia cengak cengok di loteng, tikus-tikus yang bukain jendela.

Kurang hoki apa coba? 

Selain itu, hal ini memberikan kesan bahwa hoki akan selalu ada dan yang harus kita lakukan hanyalah be kind and have courage. Well, kenyataannya tidak semua dari kita punya kehokian yang sebesar itu. Kehokian yang terjadi pada Ella pun terjadi bukan karena dirinya, tapi karena orang lain membuka kesempatan itu. Ibu peri yang berusaha, bukan Ella. Tikus-tikus yang membukat jendela, bukan Ella.

...or is it? Gue sadar sih kalau Ella gak ngasih susu ke ibu peri, si ibu peri juga ogah bantuin Ella. Kalau Ella gak baek sama tuh tikus CGI, mereka malah gigit Ella. Jadi gue harus mengakui kalau sifat baiknya Ella memang meningkatkan presentasi kehokiannya. Sayangnya di kehidupan nyata, boro-boro orang yang lu bantu bakalan bantuin lu balik, best friend lu aja punya hati buat backstab lo. 

The actors

Cate Blanchett is a badass, as usual. Sumpah, dia bisa banget bikin ekspresi sedih yang bisa menipu penonton. Dia juga bisa memperlihatkan seorang ibu yang sayang anaknya, tapi malu sama kebegoan anaknya, haha. Untung nih film punya Blanchett.

Sebelum gue nulis, gue merasa gak suka dengan aktingnya Lily James. Tapi gue mempertanyakan diri gue sendiri apakah gue gak suka aktingnya, atau gak suka karakternya. Sometimes, people have a hard time to separate between the actors who act and the characters they play. Saat ini, gue memutuskan bahwa akting Lily James cukup, apalagi mengingat dia itu rookie.

Overall

Gue tahu kok film ini diadaptasi dari kisah yang super klise dan target penontonnya bukanlah penonton yang serius. Tapi gue pikir kedua hal itu bukanlah alasan untuk membuat film dengan pesan-pesan yang kurang tepat kepada penonton yang masih ngadu ke bokap nyokap mereka. Meskipun sang sutradara dan penulis melebih-lebihkan be-kind-and-have-courage stuff, ada kemungkinan mereka berusaha memperlihatkan kekurangan pesan itu lewat turunnya derajat Cinderella. Unfortunately,  Cinderella only gives me a super naive protagonist who's ironically doesn't have enough guts to rebel against her step family. And I don't like it. 4,5/10


Selasa, 10 Februari 2015

The Imitation Game

Setelah sekian lama honeymoon dengan mas Benedict Cumberbatch, akhirnya gue balik nulis lagi.

zerothreetwo.com

The Imitation Game adalah film drama 2014 yang disutradarai oleh Morten Tyldum dan ditulis oleh Graham Moore.  Film ini diadaptasi dari buku Alan Turing: The Enigma yang dikarang oleh Andrew Hodges, seorang ahli matematika.  Alan Turing adalah seorang..... cryptanalyst, filsuf, ahli matematika, ilmuwan komputer, pelari, dan logician.  Singkatnya, dia merupakan orang yang sangat hebat dan jenius.   Pada tahun 1952, Turing diadili karena ia mengakui dirinya sebagai gay.  Pada 24 Desember 2013, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan pada Turing.

Banyak orang tidak tahu, tetapi Jerman mempunyai mesin bernama enigma pada Perang Dunia II.  Enigma berfungsi untuk memberikan sandi pada seluruh tentara Jerman.  Tidak ada seorang pun yang bisa memecahkan sandi-sandi tersebut.  Namun Alan Turing (Benedict Cumberbatch) yakin bahwa ia bisa memecahkan misteri enigma.  Turing tentu saja tidak sendirian dalam usahanya untuk memecahkan enigma.  Ia bekerja sama dengan Hugh Alexander (Matthew Goode), John Cairncross (Allen Leech), dan Peter Hilton (Matthew Beard).  Turing cepat tidak disukai karena kemampuan interaksi sosialnya yang rendah dan kebrutalannya dalam proyek enigma.  

Karena Turing memecat dua orang yang dianggapnya tidak berguna, ia menggunakan TTS untuk mencari dua orang yang bisa berkontribusi dalam proyek enigma.  Dua orang yang diterima adalah Joan Clarke (Keira Knightley) dan Jack Good (James Northcote).  Joan dengan cepat mempunyai tempat yang spesial di hati Alan.  Lewat Joan, Alan belajar untuk memahami manusia, berkompromi, dan membuat lelucon super jayus.  


Ada beberapa hal yang bikin gue kurang puas dengan film ini.  Film ini mempunyai topik yang sangat menarik, tapi penyajiannya lah ya kurang bagus.  The Imitation Game menunjukkan berbagai dimensi dari Alan Turing.  Penonton bisa melihat Turing yang jenius, Turing yang blak-blakan, Turing yang baik hati, Turing yang polos, Turing yang passionate dengan sains, dan Turing yang gay.  Tapi tetap saja hal itu kurang memuaskan bagi gue.

Gue mempunyai beberapa opini mengapa The Imitation Game terasa kurang memuaskan bagi gue.  Pertama, it's obvious that The Imitation Game is about that cold-rude-anti-social-genius guy who saves the world. And guess what? He's a gay too!  What a refreshing plot!

The Imitation Game kurang memerlihatkan seberapa mengerikan Perang Dunia II.  Memang Perang Dunia II bukanlah fokus utama The Imitation Game, tapi gue rasa akan lebih baik bila penonton dapat memahami mengapa atasan Turing terus menekannya dan mengapa kolega Turing kecewa dengan keengganan Turing untuk memecahkan kode sehari-hari.  Beberapa penonton mungkin akan menganggap dengan cepat bahwa atasan dan kolega Turing hanyalah orang-orang dangkal yang tidak memahami visi Turing.  Memang ada beberapa adegan perang, tapi adegan-adegan itu kurang kejam dan berdarah.  Intinya, film ini kurang menimbulkan mixed feeling antara kepesimisan orang-orang di sekitar Turing serta Turing's overconfidence.  Memang pada akhirnya mesin Turing bekerja, but still...it's not really exciting.

Gue menemukan bahwa hidup Alan Turing cukup ironis dan tragis.  Dia (dan koleganya) memperpendek Perang Dunia II, namun ia malah dikebiri secara kimia dan bunuh diri karena tidak bisa bekerja lagi.  Turing dikebiri secara kimia bukan karena ia memperkosa seseorang, atau melakukan kejahatan besar, tapi ia dikebiri secara kimia hanya karena ia gay.  Keironisan dan tragedi ini bisa digunakan untuk memancing empati atau simpati penonton.  Memang penderitaan Turing setelah ia menjalani hukumannya sempat diperlihatkan, tapi hal itu dilakukan secara berantakan, terburu-buru, dan terlihat last minute.     

thestar.com

Menggunakan orientasi seksual Turing mungkin akan menuai kritikan pedas dari reviewers karena itu hanya menambah daftar hal-hal klise dalam film ini.  Selain kritikan pedas, ada kemungkinan bahwa sebagian besar penonton akan memandang Turing sebagai gay daripada seorang ilmuwan.  Namun gue pribadi tertarik untuk mengetahui reaksi Turing terhadap orientasi seksualnya.  Entahlah, dari dulu gue menyukai bagaimana seseorang yang 'berbeda' bisa menerima dirinya sendiri atau melawan dirinya sendiri karena keunikannya. 

Applause buat suami gue, Mr. Benedict Cumberbatch, yang memerankan Alan Turing secara brilliant.  Gue rasa porsi emosional yang dibawakan oleh Cumberbatch sudah dalam porsi cukup.  Gak lebay, tapi juga gak emotionless.  Ketika tokoh Turing dalam keadaan yang penuh emosi, Cumberbatch tidak langsung mengeluarkan emosinya, tapi dia juga menahannya dan berusaha menutupinya.  Alex Lawther, pemeran Turing ketika muda, juga tampil dengan brilliant.  Sama seperti Cumberbatch, ia tidak hanya menunjukan emosi yang dirasakan Turing, tapi juga bagaimana Turing menahan dan menutupi perasaan sesungguhnya.

In the end of the day, The Imitation Game bukanlah film yang spektakuler dan revolusioner, tapi film ini mempunyai cerita yang sangat menarik dan nilai plusnya, cerita itu berdasarkan kejadian nyata.  Kegantengan, keseksian, dan  keahlian Cumberbatch tentu saja tidak bisa dilewatkan dan two thumbs up untuk penampilan singkat Alex Lawther.  Bagi gue sendiri, The Imitation Game menyadarkan gue bahwa masih ada pahlawan-pahlawan yang namanya dirahasiakan dan tidak bisa menerima bayaran jasa heroiknya. 7/10  

Minggu, 28 September 2014

Grave of the Fireflies (Hotaru No Haka)

dalkomlollipop.wordpress.com

Grave of the Fireflies merupakan film animasi Jepang tahun 1988 yang disutradarai dan ditulis oleh Isao Takahata.  Film ini diadaptasi dari novel semi-autobiografi berjudul sama yang ditulis oleh Akiyuki Nosaka.  Film berdurasi 89 menit ini diproduksi oleh Studio Ghibli dan dirilis bersamaan dengan salah satu film Ghibli yang terkenal, My Neighbor Totoro.  Meskipun film ini tidak meraup keuntungan setinggi My Neighbor Totoro, film ini menerima banyak pujian dari banyak kritkus film.

Seita, Setsuko, dan ibu mereka bersiap-siap untuk pergi ke sebuah bomb shelter di Kobe.  Ibu mereka berangkat lebih dulu sementar mereka menyimpan persidaan makanan dan sedikit bekal.  Mereka terkejut ketika bom mulai jatuh di lingkungan mereka.  Mereka selamat dan tidak terluka, namun ibu mereka mengalami luka bakar yang sangat parah.  Karena Seita takut dengan reaksi Setsuko, maka Seita tidak mempertemukan Setsuko dengan ibunya.  

Beberapa hari kemudian, Seita dan Setsuko pergi ke rumah bibi mereka untuk mengungsi.  Sebenarnya ibu mereka sudah meninggal, namun Seita tidak berani untuk menyatakan sejujurnya kepada Setsuko.  Awalnya, sang bibi menerima mereka dengan terbuka.  Namun seiring berkurangnya rasio makanan, sang bibi justru tidak senang dengan kehadiran mereka.  Bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka tidak pantas untuk ikut makan karena mereka tidak berkontribusi di masa perang.  Tidak tahan, Seita dan Setsuko memutuskan untuk pergi dari rumah sang bibi.

SPOILER ALERT!

photo9.us
Fuck this film.  Belum 30 menit, air mata dan ingus gue meleleh gara-gara nih film.  Bangke.

Menurut wikipedia, ada dua pandangan mengenai film ini.  Orang-orang Barat memandan film ini sebagai film anti-perang sedangkan orang Jepang memandang film ini sebagai film obey-your-elders.

Anti-war, conscience, and society

Kenapa film ini dipandang sebagai film anti-perang?  Jelas karena film ini memperlihatkan dampak-dampak perang yang sangat mengerikan.  Perang membuat orang-orang kehilangan tempat tinggal mereka, orang yang mereka cintai, kebahagiaan, dan bahkan bisa membuat orang-orang kehilangan hati nurani mereka.  Seita dan Setsuko adalah anak-anak yang kehilangan rumah dan ibu mereka.  Seita mungkin sudah bisa 'mencerna' perang, tapi Setsuko masih terlalu muda untuk 'mencerna' perang dan bersikap dewasa mengenai hal itu.  Fuck, they're not even adults, so why and how should they know how to act as adults in war?  Inilah fakta yang dilupakan oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.  Bukan berarti mereka bisa bermanja-manja, tapi mereka juga tidak bisa dituntut untuk 'matang' secara tiba-tiba.  Yang kurang jelas dari sini kenapa Seita dan Setsuko tidak pergi ke sekolah dan apakah itu bisa dihitung sebagai 'kontribusi' atau tidak.   

Misalkan ada bayi yang belum pernah diajarin untuk berjalan.  Dia gak pernah pake alat bantu buat berjalan atau apalah itu.  Dia cuma biasa merangkak.  Suatu hari, orangtuanya ngajarin dia belajar dan expect tuh bayi bisa jalan setelah hari itu selesai.  Apakah semua bayi bisa langsung jalan dengan pelajaran satu hari padahal dia cuma biasa merangkak?  Cuma orang bego yang jawab iya. 

Ada adegan dimana seorang dokter memeriksa Setsuko.  Si dokter mengatakan bahwa Setsuko tuh sebenarnya gak sakit tapi kena malnutrisi, alias kekurangan nutrisi.  Jadi yang dibutuhkan Setsuko tuh makanan, bukan obat-obatan.  Seita yang frustasi akhirnya meledak karena dia bingung mau cari makanan dimana.  Si dokter juga gak menawarkan bantuan apapun.  Ini adalah salah satu contoh bagaimana perang bisa membuat kita menjadi mahluk yang apatis.  Emang sih itu cuma adegan film, tapi cerita kayak gitu pasti pernah terjadi beneran.  Gue tahu bahwa membantu orang gak selalu gampang.  Tapi manusia merupakan mahluk yang (katanya) memiliki hati nurani.  So why helping people is so hard?  Bukan karena perang, bukan karena gak ada uang atau waktu, tapi pada akhirnya karena ego kita masing-masing.  I know it's not always the case but ego is the main factor on our apathy.  Hal ini dibuktikan di adegan pertama Grave of the Fireflies.  Perang memang sudah berakhir, tapi tidak ada orang yang menunjukkan kepedulian pada Seita yang sekarat.  Orang-orang tidak bisa menggunakan perang sebagai alasan mengapa mereka tidak membantu Seita karena perang sudah berakhir saat itu.  Jadi menurut gue perang tidak membuat kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan, tapi perang membuat kita lebih apatis dan lebih egois dari yang sebelumnya.  

basementrejects.com
 
You-should-respect-me-because-my-age-not-my-deeds 

Isao Takahata menyatakan bahwa pesan yang ingin ia sampaikan di film ini adalah anak-anak muda harus menghormati orangtua mereka, terutama di masa-masa yang susah.  Bibi Seita dan Setsuko memang tidak melukai mereka secara fisik, bahkan tetap memberi mereka makan.  Namun perlakuan dan perkataan sang bibi tentu membuat mereka tertekan.  Apalagi mereka sudah berusaha untuk bertahan di rumah si bibi, tapi mereka akhirnya menyerah dalam tekanan.  Kita perlu ingat bahwa manusia tidak hanya punya kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan psikis.  Mungkin tindakan Seita memang bodoh, namun tidak semua orang bisa bertahan di suatu rumah yang membuat mereka tidak bahagia.  

Suatu hari, Seita dan Setsuko main piano dan bersenang-senang, lalu sang bibi memarahi mereka karena mereka bersenang-senang di saat yang susah.  Bitch please, they even don't waste money or stuff like that.  They only play a fuckin' piano.  Perang memang mengerikan dan kita tidak boleh melupakan orang-orang yang berjuang dalam perang.  Namun apa salahnya merasakan sedikit kesenangan di saat perang?  Apa salahnya untuk melupakan kesedihan dan kepahitan hidup untuk sesaat?  Apa salahnya untuk menyelamatkan secuil masa kanak-kanak?  Apakah kita harus berlarut dalam kesedihan hanya karena orang lain merasa sedih?  Apakah kita harus dihantui kesedihan dan depresi hingga akhirnya kita bunuh diri?  Hal-hal inilah yang membuat gue mengerti kesusahan Seita dan Setsuko untuk menghormati bibi mereka.  Gue merasa sedih bagaimana Takahata berusaha memasukan pesan itu dengan figur orangtua yang menekan anak-anak.     

Ini juga membuat gue bertanya-tanya apakah kita memang harus menghormati orang-orang tua yang telah memberi kita makan.  Apakah tolak ukur kehormatan hanya umur dan apakah mereka memberikan kita makan atau tidak?  Kalau iya, berarti banyak banget orang yang gak gue hormatin.  Yang jelas, kita harus merasa bersyukur bahwa kita dihidupi oleh orang-orang yang lebih tua saat kita kecil.  Tapi apakah kita harus tetap menghormati orang-orang itu jika tindakan-tindakan mereka jelas salah?  Dan mengapa kita harus tetap menghormati mereka?  Kalau gue sih menggunakan perbuatan dan pemikiran sebagai tolak ukur gue dalam menghormati seseorang, bukan umur dan apakah mereka memberikan gue makan atau tidak.  Contohnya aja Osama Bin Laden, dia lebih tua daripada gue, tapi tindakan-tindakan yang dia lakukan menunjukkan betapa kecil otak dan hatinya.  Karena itulah meskipun dia lebih tua daripada gue, gue sama sekali gak menghormati dia.  So, kita harus bisa membedakan being grateful and respect kepada orang lain.     

Other stuffs

Animasinya bagus meskipun masih rough at the edge (seperti animasi Jepang lainnya).  Musiknya Michio Mamiya tuh bagus, tapi gak punya efek memorable seperti musiknya Joe Hisaishi.  I just can't think any song or music from this film.  Kesedihan dan kengerian film ini entah bisa membuat orang terharu atau illfeel dengan kelebayan film ini.  Gue sedih sama film ini bukan karena kematian tokoh-tokohnya.  Tapi gue sedih karena gue mikir apakah manusia tuh mahluk yang punya hati nurani atau sekedar mahluk yang egois. 

Overall

Masih mikir film kartun tuh film anak-anak gak penting?  Nonton aja film ini. 8,7/10