Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10


Minggu, 25 September 2016

Train to Busan (Busan Haeng)

asianwiki.com

The first Korean zombie film. Kira-kira kalimat itulah yang digunakan untuk mempromosikan Train to Busan di bioskop-bioskop luar Korea. Salah satu film box office dari Korea ini sempat diputar di Cannes Film Festival. Film yang disutradarai Yeon Sang Ho dan ditulis oleh Park Joo Suk ini juga akan mendapat prequel animasi yang juga dibuat oleh sang sutradara berjudul "Seoul Station". 

Kesibukan Seok Woo (Gong Yoo) dalam pekerjaan membuat hubungannya dengan putrinya, Su An (Kim Su An). Merasa bersalah karena tidak membelikan hadiah ulang tahun yang pantas, Seok Woo menuruti keinginan Su An untuk pergi ke Busan mengunjungi ibunya. Perjalanan mereka di KTX mendapat goncangan ketika di zombie mulai muncul di kereta mereka. Seok Woo dan Su An harus bertahan hidup di kereta penuh zombie bersama Sang Hwa (Ma Dong Seok) dan istrinya yang hamil, Sung Kyung (Jung Yu Mi). 


indiewire.com
A zombie film with social commentary

Saya rasa film zombie atau film blockbuster yang mengandung social commentary atau kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru. Namun saya menyukai bagaimana Train to Busan membungkus semua kritik dan observasi sosial secara subtle enough. Film ini juga takes time untuk menunjukkan keberagaman kelas sosial dan background dalam suatu wadah kecil, which is the KTX in this film. Kita bisa melihat bahwa ada tim baseball, sepasang kakak-beradik tua, ayah dan anak, suami-istri, pengusaha, and last but not least, the train crews. 

Keberagaman kelas dan class privilege dapat terlihat juga. Ada penumpang yang mampu mendapat informasi lebih karena koneksi mereka, sedangkan banyak penumpang yang tidak memiliki akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa class privilege bukan sekedar bonus, tetapi juga menyangkut masalah hidup dan mati. Class privilege juga berarti kata-kata anda mempunyai 'berat' lebih banyak daripada orang yang dibawah anda. Sayangnya, orang yag memiliki class privilege juga hanya mau menyelamatkan diri mereka sendiri dan tidak menggunakan privilege tersebut secara optimal.

Usage of modern technology

Mungkin cara film ini menggambarkan penggunaan teknologi adalah salah satu keistimewaan Train to Busan. Instead of showing cool weapon or research, film ini menunjukkan bagaimana teknologi, specifically communication device, membantu kita dalam mendapat informasi dan menyelamatkan kita dalam propaganda.  Ada salah satu adegan yang brief yang menunjukkan bahwa pemerintah berbohong kepada rakyatnya dengan mengatakan bahwa zombie, yes the zombies, are mere protesters who damage public good. Pemerintah di berita-berita juga mengatakan bahwa mereka tidak harus cemas terhadap keselamatan mereka. 

Untungnya dengan keberadaan internet, ketidakberadaan televisi bukanlah penghalang dalam mendapatkan berita. Tidak hanya berita dalam bentuk tulisan, tapi juga video amatir. Ini mungkin juga yang menyebabkran orang beralih ke internet untuk mendapatkan berita. Ironisnya, meskipun banyak orang yang mengatakan internet lebih rentan terhadap hoax, sumber berita di internet lebih beragam dan membuatnya lebih sulit untuk 'dicuci' oleh pemerintah daripada berita di televisi, yang harus lulus sensor dari pihak pemerintah.

Kurangnya senjata yang keren seperti di film World War Z, ataupun senjata pada umumnya, membuat sisi survival dalam film ini lebih kental dan menegangkan. Bayangkan, sudah terjepit pada ruangan yang sempit, kurangnya stasiun untuk berhenti, tidak ada senjata lagi.


*SPOILER ALERT*

Ego vs Comunnity

Maap ye karena gue kurang pintar, gue gak tahu harus menggunakan kata apa selain community, hehe.

Sama seperti kebanyakan film yang mengandung unsur survival and disaster, film ini terus saja memperdebatkan manakah yang akan menyelamatkan kita, mementingkan diri sendiri atau komunitas. 

Film ini memang tidak mementingkan sisi scientific layaknya tayangan zombie lainnya seperti The Walking Dead atau World War Z. Tidak ada pembicaraan bagaimana virus tersebut muncul (hanya dijelaskan secara ambigu), bagaimana menemukan obat, bagaimana orang bisa tertular, dll. Karena gue orangnya kurang peduli dengan science and medic stuff, gue tidak memandang itu sebagai kekurangan. Gue malah senang karena hal tersebut membuat penontonnya fokus pada kritik sosial dan drama yang ada di film ini. Salah satu hal yang gue kritik dari sisi scientific-nya adalah film ini kurang konsisten dalam menentukan waktu yang dibutuhkan manusia untuk berubah menjadi zombie.   

Seperti yang sudah disebutkan tadi, penyebab munculnya virus memang dijelaskan secara ambigu, tapi penyebab zombie ada dalam kereta sudah jelas. Seorang gadis yang digigit zombie memilih untuk masuk kereta dan menginfeksi orang-orang lain. Seandainya si gadis menerima takdirnya dan tidak menaiki kereta, orang-orang yang dalam perjalanan ke Busan mungkin akan mempunyai takdir yang berbeda.

From this, it can be concluded that while being egalitarian doesn't always benefit us, selfishness is the root of problem.

Sexism

Gue kira setelah maraknya tokoh-tokoh wanita yang kuat seperti Furiosa, Black Widow, dan Michonne, kru Train to Busan mungkin akan sadar menambahkan satu karakter wanita yang kuat akan membuat film ini lebih appealing. Saya hanya bisa menahan kesedihan ketika film selesai dan tidak ada female heroine. Mending sekedar tidak ada female heroine, tapi ada kesetimbangan antara bagaimana tokoh-tokoh pria mati di film ini dengan tokoh wanitanya. Tokoh utama yang pria (setidaknya yang protagonis) mati karena mereka sedang berkorban. Tidak ada yang mati karena sedang lengah atau ceroboh. Tokoh yang wanitanya? Cuih, mereka mati karena sedang lengah, ceroboh, dan ada yang mati karena kebodohan. Tidak ada tokoh wanita yang mati karena sedang berkoban. Wanita yang selamat hanya seorang wanita hamil yang cantik dan seorang gadis kecil. Wanita tua dan wanita yang mengenakan rok pendek tidak selamat. Hal ini mengimplikasikan bahwa wanita-wanita tersebut bisa selamat karena umur, kepolosan, dan kemampuan mereka untuk punya anak. I'm just kinda pissed off that the writer is a fucking coward for not killing the pregnant character and the kid. If they were the ones who got killed, the film would be more interesting. 

Other stuff

Setelah membaca salah satu review, gue jadi sadar bahwa tokohnya Gong Yoo bukanlah tokoh tipikal dari film-film zombie. Dia bukanlah Rick Grimer yang punya natural leadership dan tokoh yang masih punya moral dibandingkan let's say Shane. Dia juga bukan Brad Pitt yang punya hubungan baik dengan keluarganya, ataupun akan sukarela menyuntik dirinya dengan penyakit. Instead, he's a selfish bastard who will do anything to ensure the safety of his daughter and him. Yang bagusnya, semua itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kecil, bukan dengan menipu salah satu penumpang misalnya. 

Antagonis di film ini adalah salah satu pria yang boleh dibilang influential dan punya class privilege. Pria tersebut tidak hanya ignorant, tapi juga outright a more evil bastard than Gong Yoo's character. Sama seperti seorang reviewer yang mengatakan bahwa Lotso dari Toy Story 3 merupakan Woody yang jahat, pria ini boleh dibilang juga versi jahatnya Gong Yoo. Tapi sama seperti Woody yang masih punya sahabatnya, Gong Yoo disini masih punya anaknya. 

Aktor-aktornya cukup bagus kok. Kudos for Gong Yoo for having a great comeback. Tapi tokoh yang paling menarik adalah tokohnya si Ma Dong Seok, kocak aja lihat dia anjir, haha. Apakah gue doang yang kurang suka sama aktor ciliknya? Lumayan bagus sih, tapi karena gue udah lihat yang lebih hebat jadi katingnya Kim Su An kurang memberikan impact bagi gue. I can see why Sohee's (ex-member of Wonder Girls) gives mixed reaction though, but it's very clear I prefer Choi Wook Shik to her.

Conclusion

Inilah yang akan terjadi jika lo mencampur makjang (melodrama Korea) dengan Snowpiercer dan The Walking Dead. Penggunaan kereta dan kurangnya space menyebabkan film ini mempunyai nilai plus lebih dibandingkan film zombie lainnya. Sayangnya film ini kekurangan gore dan mempunyai terlalu banyak melowness yang akan membuat beberapa orang get turned off. Also, this 2016 film fails to escape from sexism. 7/10 (good)

P.S: Considering Bong Joon Ho directed both The Host (a monster Korean film) and Snowpiercer, AND, his film is not sappy and has great black humor, I would love to see his version of this film.


Rabu, 25 Juni 2014

Battle Royale (2000)

So today's lesson is...you kill each other off. -Kitano
ukhorrorscene.com
Battle Royale merupakan film Jepang tahun 2000 dengan genre distopia, thriller, dan action.  Film ini disutradarai oleh Kinji Fukasaku dan skripnya ditulis oleh anak Fukasaku, Kenta Fukasaku.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Koushun Takami.  Film dengan durasi 112 menit merupakan salah satu film yang paling kontroversial, sampai tidak ditayangkan di Amerika tahun 2000 yang lalu.  Namun, film ini merupakan salah satu film blockbuster di negaranya sendiri.  Battle Royale juga merupakan salah satu film favorit Quentin Tarantino.  

Film ini berlatar belakang di sebuah alternated universe dimana kelas sembilan dari sebuah sekolah di Jepang dipilih secara acak untuk mengikuti sebuah Survival Program.  Kelas Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) pergi ke sebuah pulau untuk mengikuti field trip.  Tapi field trip itu menjadi suatu mimpi buruk ketika kelas Shuya bangun dan mendapati mereka di suatu ruang kelas dengan 'kalung' di leher mereka.  Wali kelas mereka dua tahun yang lalu, Kitano (Beat Kitano) mengatakan bahwa mereka terpilih untuk mengikuti The Program.  Kelas mereka juga mendapat tambahan dua orang, Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) dan Shogo Kawada (Taro Yamamoto).  Sahabat Shuya, Yoshitoki Kuninobu (Yukihiro Kotani) dengan cepat terbunuh karena mencoba melawan Kitano.

Untuk mengingat temannya, Shuya berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Noriko Nakagawa (Aki Maeda), karena ia mengira bahwa Nobu menyukainya.  Kelas 9B dengan cepat membunuh teman mereka masing-masing.  Kazuo Kiriyama dan Mitsuko Souma (Kou Shibasaki) dengan cepat menjadi dua orang paling berbahaya.  Noriko dan Shuya beruntung karena bisa membentuk persekutuan dengan Shogo Kawada, salah satu orang yang juga harus diwasapadai.     

SPOILER ALERT!


Sorry guys, but I've never heard anything about Battle Royale before The Hunger Games, lol.  I'm not a big fan of THG, tapi kalau gak ada tuh film, mungkin gue juga gak bakal tahu Battle Royale.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara film dan manga Battle Royale.  Gue lebih suka komiknya.  Komiknya lebih bisa memasukkan beberapa detail dan lebih bisa mengikat pembacanya dengan tokoh-tokohnya, bahkan tokoh pembantu.  But I must admit emang sulit mengelola 42 tokoh ke dalam film, yang durasi maksimalnya dua jam.  Tapi untuk tokoh antagonisnya, si guru dan Kazuo, gue lebih suka versi filmnya.  Penampilan cowok-cowoknya pun gue lebih suka yang versi film, karena jauuuuuuuuh lebih ganteng *brb, fangirling dulu*.

Battle Royale merupakan Hunger Games yang jauh lebih mentah.  Sifatnya yang mentah ini entah membuat penonton merasakan 'keaslian' film ini atau membuat penonton malah gak suka.  Gue rasa bagi mereka yang menonton THG dan BR juga tahu bahwa THG merupakan 'adik' dari BR, baik dari segi umur maupun isi.  Tapi yang membuat BR lebih nyesek daripada THG adalah orang-orang di BR merupakan orang-orang yang telah belajar bersama minimal dua tahun.  Mereka udah kenal satu sama lain *at least kenal nama*, belajar bareng, main bareng, tapi akhirnya mereka jatuh pada tekanan dan membunuh satu sama lain.  Orang-orang di THG are literally strangers.  Battle Royale mendorong diri gue untuk 'berimajinasi' bagaimana kalau kelas gue ikutan acara beginian.  Tbh, I will either die early or suicide, lol.         


Battle Royale mengandung metafora bagaimana orang-orang dewasa mendorong anak-anak muda untuk berkompetisi, but in a bad way.  Tidak hanya kompetisi, tapi mereka juga mempunyai ekspektasi yang besar -dan kadang tidak masuk akal- pada kita.  Karena inilah banyak dari mereka yang jatuh dalam tekanan.  Not everyone, but most of them.  Yang lemah langsung mati, yang gak bisa membunuh temannya ya bunuh diri, ada yang kelewat ambisius makanya bunuh temannya, dan ada juga segilintir dari mereka bertahan dan menolak untuk mengkhianati temannya.   BR juga mengandung unsur black humor, terutama adegan dimana ada mbak-mbak yang menjelaskan Battle Royale ke kelasnya Shuya.  I think that scene is very funny and amusing.  Sikapnya yang penuh keceriaan dan semangat kontras dengan isi penjelasannya.  Anyway, gue kurang ngerti letak 'horor' dari Battle Royale.  Memang banyak pembunuhan yang dilakukan secara tiba-tiba, tapi gue gak merasa tegang sama sekali ketika nonton film ini.  Ada rasa terkejut, tapi gak ada tegangnya sama sekali.

I don't like Shuya and Noriko.  They are too naive for my liking.  Gue berpikir mereka stereotipe protagonis naif yang gak tahu diri, yang sok-sokan mau jadi pahlawan.  Tapi setelah gue merenung, ada kemungkinan juga watak mereka yang naif malah jadi sebuah mock bagi stereotipe itu sendiri.  Bagaimana pemikiran mereka yang naif tidak sejalan dengan realita yang mereka alami dan usaha mereka untuk menjadi pahlawan malah nihil karena mereka gak berhasil menyelamatkan orang lain.  


Gue kecewa pada Noriko karena karakternya tuh stereotipe cewek yang terlalu bergantung pada cowok.  Gue berharap karakternya dia mirip Takako Chigusa (Chiaki Kiriyama).  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, bukankah klise banget kalau Noriko sekuat Takako atau Mitsuko?  I mean, langsung kelihatan dong kalau Shuya dan Noriko pemenangnya.  I hate to admit it, tapi emang cewek membutuhkan cowok di bidang yang sangat membutuhkan kekuatan fisik.  Gue juga kecewa Shuya, baik dari aktor yang memainkan tokohnya maupun karakternya sendiri.  Flashback tentang Shuya yang diperlihatkan di film tetap gagal membuat gue jatuh hati atau bahkan bersimpati pada karakternya.  Mungkin karena flashback itu kurang kuat untuk memancing gue atau emang Tatsuya Fujiwara gak cocok jadi Shuya.  Gue juga kurang suka Shuya yang di komik, tapi Shuya di komik jauh lebih karismatik dan periang daripada yang di film. 

Beberapa orang gak suka dengan Noriko dan Shuya karena mereka bukan hanya naif, tapi juga terlalu hoki.  Seriously, mereka bakalan mati kalau gak ada Kawada.  Tapi gue rasa ini hanyalah semacam mock, lagi.  Superman, Harry Potter, Katniss Everdeen, they are not just heroes, but they are survivors.  Mereka jelas orang-orang kuat yang memang 'ditakdirkan' untuk menjadi pahlawan dan survivors.  Lalu apakah orang-orang yang lemah tidak punya chance untuk 'selamat'?  Tentu saja mereka bisa menjadi survivor....dengan sedikit keberuntungan.  Noriko dan Shuya memasuki sebuah situasi dengan waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dan membuntuk aliansi dengan Shogo.  Ini juga merupakan metafora dimana orang-orang yang sebenarnya lemah dan skill-nya tidak hebat, bisa selamat karena mereka mendapat keberuntungan.  

Kalau bicara departemen akting, gue memperhatikan kalau sebagian besar dari mereka tuh aktingnya matinya konyol banget.  Bukan cara mereka dibunuh, tapi aktingnya.  Doh, kok kayak film-film Hollywood jaman batu yang matinya tuh lebay dah.  Mereka mengatakan 'kata-kata perpisahan' terus menggerakkan kepalanya, terus mati deh.  Sumpah, gue pengen banting laptop gue kalau gue lihat ada yang mati kayak gitu.  Anyway, kenapa disini dua aktor utamanya yang mengecewakan ya?  Tatsuya Fujiwara aktingnya gak natural.  Maksa banget sumpah.  Gue merasa canggung banget waktu lihat beberapa adegan nangisnya yang...awkward.  Aki Maeda?  Gue gak tahu apakah aktingnya yang datar itu emang karena kemampuannya terbatas atau emang skrip film ini yang membatasi kemampuan aktingnya.  Aktor terbaik tentu saja Takeshi Kitano alias Beat Kitano.  Gue kaget juga ternyata dia ini sutradara, bukan aktor.  Dia berhasil memerankan seseorang yang karismatik, tapi tidak benar-benar keji seperti versi lain di komik.  Dia gak nangis atau memerankan seseorang yang psikopat, tapi Kitano memerankan karakternya dengan begitu natural.  Sayang banget Masanobu Ando tidak diberikan dialog ataupun monolog.  Masanobu jelas mempunyai potensial lebih daripada Fujiwara.  Dan gue lebih suka Kazuo Kariyama yang diperankan dia daripada versi manga, karena Kiriyama disini jauh lebih gila dan ekspresif.  

Sinematografinya cukup standard, tapi musiknya bagus banget, terutama di adegan pembukanya.  Film ini menggunakan beberapa musik klasik yang dimainkan oleh Warsaw Philarmonic Orchestra.  Tapi gue gak suka lagu buat ending credit-nya.

Overall, Battle Royale is an amazing dystopian film that full of surprising murders and blood.  The acting department maybe disappoint you, but the plot of this film is too amazing to be missed.  I recommend this film for you who like The Hungers Games and strong enough to watch bloody murders.  9/10   

 

Rabu, 28 Mei 2014

The Chaser (2008)

pic cr: jediprincess.wordpress.com
Artikel ini bukan tentang lagu yang dinyanyiin calon suami gue alias Nam Woohyun alias Infinite.  Nope, The Chaser yang ini merupakan film misteri dan thriller 2008 yang ditulis dan disutradarai oleh Na Hong Jin.  Film yang masuk Festival Film Cannes ini juga dinominasikan penghargaan film, bahkan memenangkan beberapa di antara mereka.  Film ini mengadaptasi pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Yoo Young Chul, seorang pembunuh berantai yang juga melakukan berbagai kejahatan selain membunuh.  The Chaser sukses dalam segi pendapatan dan juga segi apresiasi, bahkan sampai dibanding-bandingkan dengan film Korea yang legendaris, yaitu Oldboy (2003).

Joong Ho (Kim Yoon Suk) merupakan seorang mantan detektif yang menjadi mucikari.  Status finansialnya memburuk saat dua 'pekerjanya' menghilang.  Dalam keadaan yang tertekan, ia akhirnya memaksa Kim Mi Jin (Seo Young Hee) untuk melayani salah satu klien, walaupun Mi Jin masih sakit.  Saat kembali ke kantornya, ia sadar bahwa klien yang sedang dilayani Mi Jin merupakan orang terakhir yang dilayani oleh dua 'pekerjanya' yang menghilang.  Ia menyadarinya ketika ia memeriksa nomor HP klien Mi Jin.  Sang klien, Ji Young Min (Ha Jung Woo) ternyata memesan Mi Jin bukan untuk melakukan seks, tapi untuk menyiksanya.  Mi Jin yang terperangkap ternyata tidak langsung parah namun memberikan perlawanan.  Di tengah-tengah penyiksaan Mi Jin, Young Min diganggu oleh sepasang suami-istri dari suatu gereja.  Young Min segera membunuh mereka dengan keji dan kabur menggunakan mobil mereka.

Namun takdir malah mempertemukan Young Min dengan Joong Ho.  Joong Ho yang tidak sengaja menabrak mobil Young Min, meminta nomor HP Young Min agar bisa diurus di asuransi.  Ia menyadari ada sesuatu yang aneh karena Young Min tidak segera memberikan nomor HP.  Apalagi noda darah di baju Young Min membuat Joong Ho semakin curiga.  Terjadi kejar-kejaran antara Young Min dan Joong Ho yang berakhir dengan Young Min yang babak belur.  Polisi tadinya ragu kalau Young Min memang menjual pekerjanya Joong Ho.  Tapi Young Min malah mengaku kalau ia tidak menjual mereka, tapi membunuh mereka.  Keadaan di kepolisian menjadi rumit karena pengakuan Young Min bertabrakan dengan insiden Walikota Seoul yang dilempari feses.

Kepolisian mengirim tim forensik ke rumah Mi Jin untuk memeriksa kecocokan DNA dengan darah yang ada di baju Young Min.  Di rumah Mi Jin, Joong Ho menemukan Eun Ji (Kim Yoo Jung), putri Mi Jin.  Awalnya, Joong Ho merasa terpaksa menemani Eun Ji.  Namun seiring berjalannya waktu, Joong Ho malah merasa bersalah dan bertanggung jawab pada Eun Ji.

pic cr: veehd.com

FILM INI LEBIH BAGUS DARIPADA MV THE CHASER - INFINITE *YAIYALAH* TAPI GUE TETEP SETIA SAMA KAMU KOK NAMU :*

Meskipun sama-sama ada unsur thriller sama misteri, The Chaser gak terlalu mirip sama Oldboy.  Kalau Oldboy itu misterinya lebih ke arah mengapa-gue-dikurung sedangkan The Chaser lebih kearah misteri pembunuhan.  Tapi dua-duanya bagus kok.  Mungkin beberapa orang harus bersabar untuk menunggu segala ketegangan dan atau misteri dari film ini.  Namun, lama-kelamaan, film ini akan semakin menegangkan. 

Film ini bergenre misteri, namun sebenarnya tidak ada lagi misteri yang ditawarkan.  Sepanjang film kita akan menonton para polisi dan Joong Ho mengumpulkan bukti yang bisa memberatkan Young Min.  Ini agak mengingatkan gue pada film Red Dragon karena penontonnya udah tahu pelakunya, kita hanya mengikuti bagaimana para penyelidik mengumpulkan bukti dan kesimpulan.  Anyway, pencarian bukti kriminal Young Min sangat rumit karena Young Min sering mempermainkan polisi, entah itu pura-pura tidak tahu alamat sampai tiba-tiba tidak mau mengakui pembunuhannya di depan seorang pejabat.

Gue gak ngerti kenapa *kayaknya* Kepolisian Korean punya image yang buruk, entah di film ini, Memories of Murders, sampe Miracle in Cell no. 7.  Di tiga film ini, para polisi memaksa 'tersangka' untuk mengakui kesalahan mereka atau memberikan semacam bukti atas kesalahan yang mereka lakukan.  Emang gak semua film Korea menggambarkan kepolisian Korea seperti itu, tapi hal ini membuat gue bertanya-tanya sebenarnya seberapa buruk atau baik kepolisian Korea.  Memories of Murders dan Miracle in Cell no. 7 memaksa 'tersangkanya' hanya untuk cepat-cepat menyelesaikan kasus (walaupun ada sedikit unsur agenda pribadi film MIC7), sedangkan The Chaser penggabungkan antara pemaksaan dan agenda politik.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara The Chaser dan Memories of Murders.  Kalau Memories of Murders itu lebih emotional dan sinematografinya lebih artistik serta sisi forensik dan krimonologinya cukup kental.  The Chaser itu lebih sadis dan menegangkan, sinematografinya artistik juga sih, cuma lebih sering main di sudut pengambilan gambar.  Ada salah satu adegan pembunuhan yang menurut gue somehow mirip adegan anime di Kill Bill vol. 1.  Tahu kan adegan dimana O-ren Ishii (Lucy Liu) ngumpet di bawah kasur terus ada hujan darah?  Nah, kalau di The Chaser, Young Min membunuh salah satu korbannya dengan begitu keji dan tanpa perasaan, tapi Na Hong Jin menggunakan efek slow motion pada darah yang mengalir.  Musik pengiringnya juga bagus dan emosional banget.  Baik adegan film ini dengan adegan di Kill Bill, keduanya sama-sama sadis, tapi emosional dan indah, sehingga ada semacam ironi dan kontradiksi. 

SPOILERNYA BARU DIMULAI SEKARANG KOK     
   
pic cr: obscureandcure.blogspot.com
Film-film Korea Selatan cukup sering menggunakan aktor anak-anak, mulai dari film komedi Speedy Scandal sampe film action kayak Ahjussi (The Man from Nowhere).  Well, film The Chaser pun menggunakan aktor anak yang bernama Kim Yoo Jung.  I don't know if it sounds cliche or not, tapi kehadiran tokoh Eun Ji yang diperankan oleh Kim Yoo Jung justru menambah kepahitan dan sisi emosional pada film ini.  Eun Ji merupakan karakter yang tidak melakukan kesalahan, namun malah ia yang kehilangannya paling besar.  Ada salah satu adegan dimana seorang saksi secara gak sengaja memberi tahu Eun Ji kalau ada kemungkinan bahwa ibunya dibunuh.  Lalu Joong Ho dan Eun Ji menatap satu sama lain dengan ekspresi terkejut.  Gue rasa Joong Ho terkejut karena ia tidak menyangka bahwa si saksi akan mengatakan hal itu di depan Eun Ji.  Sekasar-kasarnya Joong Ho, ia tidak mau merenggut harapan Eun Ji, sekecil apapun.  Selain itu, juga ada beberapa adegan yang menunjukkan bahwa Joong Ho mau 'menanggung' Eun Ji, walaupun sebenarnya ia tidak bersalah atas kesialan yang menimpa Eun Ji.

Applause for Kim Yoon Suk's performance!  Gak sehebat Choi Min Sik di film Oldboy dan I Saw the Devil sih, tapi aktingnya keren banget.  Gue suka tokohnya yang mempunyai sifat 'senggol-bacok' dan suka ngomong kotor.  Ia mungkin bukan (mantan) detektif dengan gadget keren atau otak yang benar-benar cepat tanggap kayak Patrick Jane ato om Sherlock Holmes, namun ia jelas mempunyai insting seorang (mantan) detektif.  Di film ini, Joong Ho jelas seorang anti-hero, bukan protagonis.  Joong Ho mempunyai pekerjaan dan prinsip yang cukup berbeda dengan untuk ukuran protagonis.  Tapi itu yang membuat gue suka banget sama karakternya, karena ini membuktikkan bahwa walaupun ada orang luarnya tuh sensi kayak cewek lagi PMS ataupun ngomongnya udah kayak abang-abang terminal, dia bukanlah a real jerk. 

Gue agak malah agak kecewa dengan penampilannya Ha Jung Woo.  Memang ada beberapa permainan psikologis & otak dan aktingnya gak jelek-jelek amat, tapi gue tetap kurang puas dengan penampilannya dia.  Entahlah, dia masih belum menyaingi Lee Woo Jin (Yoo Ji Tae) dari film Oldboy (2003).  Gue rasa hal ini karena tokoh Young Jin kurang mendapat screentime aja.  Tapi di sisi lain, kalau Na Hong Jin memberikan Young Jin lebih banyak screentime, mungkin film ini bakalan lebih panjang dengan adegan yang bertele-tele.

Overall, The Chaser is a film with a balance in art, emotion, beauty, thriller, and violence.  10/10

 

Sabtu, 14 Desember 2013

Snowpiercer

Wilford is merciful! -Mason

Sejak rilisnya film Oldboy (2003), mulai banyak kritikus dan pecinta film yang memperhatikan industri film di Korea Selatan.  Sutradara-sutradara seperti Park Chan-wook, Kim Ji-woon, Kim Ki-duk, dan Bong Joon-ho pun menjadi terkenal dan diperhtungkan sebagai sutradara-sutradara dunia yang hebat.  Pada 2013, Park Chan-wook, Kim Ji-woon, dan Bong Joon-ho melakukan debut di Hollywood.  Stoker, film Park Chan-wook, menerima mix reviews karena plotnya yang tidak memuaskan namun memiliki sinematografi dan teknik visual yang indah.  The Last Stand, film Kim Ji-woon, dikritik karena Kim Ji-woon terlalu meng-hollywood-sasikan (saya bahkan gak tahu kalau kata itu benar, haha) filmnya.  Lalu bagaimana dengan Snowpiercer, debut Hollywood dari Bong Joon-ho?

Snowpiercer diadaptasi dari komik Perancis yang berjudul Le Transperceneige.  Snowpiercer menceritakan keadaan bumi di masa depan yang dingin.  I really mean it.  Spring, summer, and fall sudah lama tidak menyapa bumi.  Seorang pria bernama Wilford (Ed Harris) mendirikan sebuah industri kereta dimana rel dari tiap-tiap negara tergabung dan kereta tidak akan berhenti selamanya.  Ada tiga kelas di kereta itu, yaitu : kelas satu yang tinggal di bagian depan kereta api, kelas ekonomi yang tinggal di tengah kereta, dan kelas 'ekor' yang tinggal di kereta itu dengan gratis namun diperlakukan dengan tidak manusiawi.  Kaum 'ekor' yang merasa lelah diperlakukan secara tidak adil mulai merencakan pemberontakan yang dipimpin oleh Curtis (Chris Evans) dan Gilliam (John Hurt).  Curtis sendiri didampingi oleh Edgar (Jamie Bell).  Rencana mereka dibantu oleh sosok misterius yang memberikan mereka surat rahasia di dalam 'balok protein' (makanan sehari-hari mereka).  Untuk mencapai bagian depan, mereka membutuhkan bantuan Namgoong Min-su (Song Kang-ho), yang dulu kepala keamanan, namun sekarang di penjara karena ketagihan cronole.

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


Saya belum menonton The Host (2006), jadi saya tidak bisa membandingkan kemampuan Bong di efek visual enam tahun yang lalu dengan sekarang.  Snowpiercer memang menyajikan efek visual yang masih agak kasar, namun melebihi ekspektasi saya.  Itu untuk EFEK visual.  Untuk sinematografi dan setting, saya agak kecewa.  Saya berharap Snowpiercer setidaknya menyamai keindahan V for Vendetta atau Oldboy (mengingat posisi Park Chan-wook sebagai produser).  Memang banyak adegan-adegan yang indah, tapi saya tetap tidak cukup untuk setidaknya menyamai V for Vendetta ataupun Oldboy.  Anyway, Snowpiercer has a nice opening sequence.   

Belum lagi gaya editing yang cukup berantakan di awal-awal film.  Gaya editing yang digunakan untuk adegan perkelahian di jembatan pun terlalu Hollywood-ish.  Tapi saya bersyukur Bong tidak terlalu 'disilaukan' oleh gaya-gaya Hollywood yang sering mainstream dan cukup norak.

Iringan musik yang digunakan cukup minim.  Mungkin hal ini yang membuat film ini KURANG memiliki jiwa dan emosi.  Yup, kurang, bukan tidak punya.  Hal ini juga membuat saya tidak attach secara emosional dengan film ini.  Ya, film ini memiliki distopia dan adegan-adegan yang saya sukai, but I'm simply not connected to this movie.  

Adegan favorit saya adalah ketika Curtis dkk mengunjungi sekolah 'depan'.  Sekolah yang kelihatan bagus dan normal serta dipenuhi anak-anak lucu dan riang itu ternyata sudah mempraktekkan pencucian otak.  Anak-anak itu tidak menyadari bahwa otak mereka dicuci dengan ideologi bahwa Wilford adalah orang terhebat.  Belum lagi kata-kata 'hipnotis' dimana si guru mengulangi terus bahwa ketika mereka turun dari kereta, mereka akan langsung mati.  Ah, sayang sekali saya lupa kata-kata aslinya.   


Tilda Swinton jelas yang paling stand out di film ini.  Dia berhasil memainkan antagonis yang gila dan sadis, namun setia terhadap pemimpinnya dan ketakutan.  Tokoh antagonis cenderung melawan pemimpin -atau mereka pemimpin itu sendiri- dan jarang sekali menunjukkan ketakutan yang eksplisit.  Memang Mason (Tilda Swinton) bukan 'aktor' utama politik di dalam Wilford Industry, mungkin untuk yang menyebabkannya menunjukkan ketakutannya secara eksplisit.  Mason sendiri mengingatkan saya pada Bellatrix dari serial Harry Potter, dimana mereka menunjukkan kesetiaan, bahkan mungkin kefanatikkan, kepada pemimpin mereka.  Mereka tidak menunjukkan ketakutan atau hormat ala kadarnya.  Ketika Curtis dkk mencoba untuk menghasut Mason dengan menanyakan apakah Wilford tetap tidak peduli jika tubuh Mason dipotong oleh mereka, Mason tetap membela Wilford.  Penampilan Tilda Swinton yang spektakuler begitu memukau dan meninggalkan kesan yang dalam sehingga saya lupa bahwa Mason bukan 'aktor' sesungguhnya.  Dia hanya boneka yang diumpankan ke kaum miskin.

Chris Evans tampil dengan membosankan di awal film.  Namun seiring perjalanan film, penampilan Evans makin mantap dan mantap, terutama di saat-saat terakhir.  Song Kang-ho yang saya harapkan menjadi pusat perhatian malah dibayang-bayangi oleh Evans dan Swinton.  Entah dia minder di antara aktor-aktor barat atau karakternya tidak memberikan ruang untuk berimprovisasi.  Gaya rambut Song mengingatkan saya pada Oh Dae-su di film Oldboy.  Film ini juga memberikan satu refrensi Oldboy (atau mungkin kebetulan) dimana salah satu orang menyarankan Curtis ketika ia bertemu Wilford, langsung saja memotong lidahnya.  Ed Harris yang harusnya menjadi 'klimaks' malah tampil kurang mengesankan dan cenderung membosankan.  Sesudah Swinton menampilkan antagonis yang hebat, Harris malah tampil membosankan dan membuat film ini sedikit anti-klimaks di pertengahan akhir. 

Ketika Curtis dan Wilford berbincang-bincang, Wilford menjustifikasi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia melakukan berbagai ketidakadilan pada kaum 'ekor' untuk menyimbangkan ekologi tertutupnya (kereta).  Penjelasan Wilford memang gila dan heartless, but in my crazy sense, I understand and accept his reasons.  Coba kita bayangkan dunia tanpa penyakit, perang, dan pembunuhan, pastilah orang yang hidup di dunia akan JAUH lebih banyak dari yang sekarang.  Ketiga hal itu memang buruk, but in a crazy way, itu menyeimbangkan dunia kita.  Semua hal memang ada hikmahnya, termasuk ketiga hal itu.  Memang kenyataan pahit bahwa kejadian-kejadian mengerikan harus terjadi untuk menyeimbangkan dunia kita.

Snowpiercer is a quite satisfying dish and a smart dystopian movie.  I just don't know why I keep feeling that Snowpiercer lacks beauty and emotion despite some scenes which I admire and like. 8,5/10
  

pic cr :
hiburan.kompasiana.com
geektyrant.com
duniaku.net

Jumat, 29 November 2013

Blue Velvet : "Everything is Possible" a la David Lynch

She wore blue velvet. Bluer than velvet was the night. Softer than satin was the light, from the star. -Blue Velvet, Bobby Vinton

Blue Velvet merupakan film misteri 1986 yang ditulis dan disutradarai oleh David Lynch dan dibintangi Kyle MacLachan, Isabella Rosselini, Dennis Hooper, dan Laura Dern.  Saya sendiri kurang familiar karya-karya Lynch karena Blue Velvet merupakan film Lynch pertama yang saya tonton.  Blue Velvet tidak hanya dianggap sebagai karya terbaik Lynch, namun salah satu film surealis terbaik.

Blue Velvet bercerita tentang seorang pria muda bernama Jeffrey (MacLachan) yang menemukan sebuah kuping manusia.  Hal ini mengantarkannya untuk bertemu dengan putri seorang detektif yang bernama Sandy (Dern).  Sandy berkata bahwa ada beberapa hal yang mencurigakan tentang Dorothy Valens (Rosselini).  Dorothy Valens bekerja sebagai penyanyi di suatu bar.  Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, Jeffrey memutuskan untuk memasuki rumah Dorothy.  Namun bukannya memuaskan rasa ingin tahunya, kunjungan ke rumah Dorothy hanya menambah rasa ingin tahu Jeffrey dan menguatkan ketertarikan Jeffrey terhadap Dorothy.  Kunjungan Jeffrey harus berhenti ketika Frank (Dennis Hopper), orang yang menyekap keluarga Dorothy, memergoki Jeffrey dan Dorothy.

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER
 

Kita semua tentu pernah mendengar ungkapan "Everything is Possible".  Terus terang saya tidak menyukai ungkapan itu, karena berarti EVERYTHING, termasuk dunia kiamat dalam detik ini atau kita semua tertukar saat di rumah sakit SANGAT MUNGKIN TERJADI.  Ini mungkin bukan niat asli David Lynch, tapi Blue Velvet secara tidak langsung memberikan pesan bahwa "Everything is Possible" bisa memberikan makna negatif.

Opening scene-nya cukup indah dan saya suka bagaimana Lynch langsung memberikan sebuah misteri tanpa banyak basa-basi.  Lynch yang awalnya menggambarkan a pretty suburban life diiringi lagu Blue Velvet - Bobby Vinton dan tiba-tiba menodainya dengan seorang pria yang tiba-tiba jatuh stroke.  Lalu kamera bergerak terus ke tanah hingga ke dalam tanah dan memperlihatkan semut-semut yang sedang berkelahi.  Saya hanya bisa mengartikan bahwa apapun yang terlihat sempurna pastilah tidak sempurna.  Selalu ada noda di dalam atau di bawah.

Kuping yang ditemukan Jeffrey sempat di-shoot secara perlahan sehingga kamera seakan-akan memasuki kuping tersebut.  Namun adegan itu diiring musik horor.  Di adegan selanjutnya, kamera seakan-akan keluar dari kuping Jeffrey (bukan benar-benar adegan selanjutnya).  Hal ini mewakili bahaya yang akan dialami Jeffrey dan penyelesian yang akan didapatkannya.


Hal intip-mengintip sepertinya sudah menjadi kebiasaan dan hal yang wajar dalam kehidupan manusia.  Jaman dahulu kita mengintip karena ada sesuatu yang unusual, menarik, dan bersifat berbahaya atau forbidden yang justru menambah excitement.  Adegan di atas adalah salah satu contoh adegan mengintip yang klasik.  Siapa bilang masyarakat jaman sekarang tidak 'mengintip'?  Masyarakat jaman sekarang 'mengintip' dengan cara stalking facebook, twitter, ask.fm, dll.  

Dua tokoh film ini, yaitu Jeffrey dan Sandy, mewakili dua sifat dasar manusia dalam menghadapi misteri.  Ada orang seperti Jeffrey, artinya orang itu harus memuaskan rasa ingin tahunya dan tidak ragu mengambil resiko sampai misteri itu tuntas.  Ada juga yang seperti Sandy, orang yang sebenarnya kepo namun mengabaikan rasa ingin tahunya atau tidak mengambil resiko dalam menuntaskan suatu misteri.

Isabella Rosselini sangat cantik disini, secara fisik dan kemampuan akting.  Dia berhasil sekali menjelma menjadi seorang wanita sensual yang menarik perhatian pria sekaligus wanita yang kacau dan fragile.  Adegan menyanyinya sangat indah dan saya heran kenapa Lynch memotongnya di tengah-tengah.  Ada juga Dennis Hopper yang karismatik dan sangat psikopat.  Saya kehabisan kata-kata menggambarkan kemampuan akting Hopper yang betul-betul brilliant!  MacLachan dan Dern sebenarnya juga bagus, tapi mereka dibayang-bayangi oleh Rosselini dan Hopper.  Jangan lupa juga Dean Stockwell yang berperan sebagai Ben, teman Hopper yang hampir sama gilanya!   

Secara visual, Blue Velvet merupakan film yang sangat, sangat, sangat indah.  Setting yang dibangun sangat memukau dan mendukung suasana surealis yang kuat.  Hampir semua adegan terlihat seperti lukisan yang indah.  Namun saya tetap berpendapat sinematografi film ini agak di bawah ekspektasi saya.  Begitu juga editting yang menurut saya di beberapa bagian malah mengurangi keindahan film ini.  Begitu juga score yang kadang-kadang terdengar seperti score film misteri murahan.  SCORE, bukan lagu-lagunya. 

Hal-hal yang dialami Jeffrey mungkin kelewat absurd dan terlalu fiktif untuk kita percayai, tapi saya tetap percaya bahwa hal itu bisa terjadi.  Jeffrey pasti tidak menyangka bahwa keluarga 'tetangganya' diculik.  Lewat film ini, saya sadar bahwa terkadang kita tidak sadar ada kemungkinan orang yang mungkin duduk bersebelahan dengan kita pernah disakiti orang lain, atau banyak korban pelecehan seksual yang justru dilecehkan orang yang dipercayai.  Kadang hidup yang kita jalani begitu absurd dan kejahatan yang kita alami atau dengar begitu busuknya sampai kita bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi?  Terkadang kita di posisi Jeffrey yang tiba-tiba mengetahui keadaan sesungguhnya dan bertanya mengapa.  Tapi janganlah kita hanya bertanya mengapa, kita juga harus membantu orang-orang yang terluka dan bertahan ketika dilukai seseorang.

Overall, Blue Velvet adalah film yang tidak hanya mempunyai visual yang indah dan memperlihatkan kemampuan akting yang fantastis, namun plot yang merangsang penontonnya untuk berpikir. 9,5/10

pic cr :
listal.com
videowordmadeflesh.com
bloodygoodhorror.com

Sabtu, 19 Oktober 2013

Gravity : Cuaron is a genius

I've got you. -Ryan Stone

Saya harap saya bisa memberikan sedikit perbandingan antara Gravity dengan 2001 :  A Space Odyssey atau Apollo 13, namun saya belum menonton keduanya-_-  Saya bukan penggemar sci-fi, dan jarang sekali mengikuti perkembangan sci-fi.  Sejauh ini film sci-fi yang saya sukai hanya Inception dan Star Trek (2009). Akhirnya saya kepo juga dengan film Gravity yang tidak hanya 'bagus' di mata para kritikus, tapi suatu film yang luar biasa, bahkan disebut-sebut sebagai movie of the year.  Oh iya, saya belum menonton Children of Men, dan satu-satunya film Alfonso Cuaron yang saya tonton adalah HarPot and the Prisoner of Azkaban (yang menurut saya film kedua terbaik serial Harry Potter).  

Sebenarnya cerita dari Gravity cukup sederhana.  Kita akan mengikuti perjalanan Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) di luar angkasa.  Kowalski mempunyai karakteristik yang cukup periang, optimis, dan suka bercerita dan Stone sebaliknya.  Mereka dalam sebuah misi, yaitu memperbaiki satelit (saya kurang tahu).  Sayangnya mereka tidak tahu bahwa satelit Rusia meledak dan akan segera menyerang mereka.  Seluruh anggota tim mereka meninggal, pesawat mereka rusak, komunikasi dengan bumi terputus, dan kadar oksigen mereka menipis.  Dengan semua masalah dan keterbatasan, mereka berjuang hidup di luar angkasa.  Dan hanya mereka berdua di alam semesta yang tak terbatas.

WARNING : CONTAIN SPOILER


Saya gak tahu harus komentar apa.  Saya sendiri kurang ngerti komentar soal teknik dalam sinematografi dsb.  Saya hanya tahu bahwa Gravity is one the most fucking-amazing-brilliant movie I've ever watched.    

Saya ikutan tegang bukan karena ceritanya, tapi saya jadi tegang karena mendengar nafas Sandra Bullock yang pendek.  Suara nafas Bullock menghipnotis saya sehingga saya menjadi tegang.  Soal akting, Sandra Bullock memang sudah memberikan yang terbaik, dan Gravity sejauh ini adalah puncak kemampuan akting Bullock.  Tapi, saya masih merasa Bullock masih bisa digantikan di film ini.  Beberapa aktris saya pikir mampu menggantikan Bullock yaitu Nicole Kidman, Julianne Moore, Cate Blanchett, dan Meryl Streep (jika ia lebih muda :p).  Intinya, akting Bullock sudah bagus, hanya saja replaceable.  The same goes to Mr. George Clooney.  Ya, dia charming dan blablabla, but am I the only one who wasn't THAT impressed with Clooney after I had watched it?  But, I must admit they had a good chemistry.  

Banyak sekali adegan yang membuat saya takjub, entah itu serangan 'satelit' Rusia, atau Stone yang melayang-layang sendirian di alam semesta, atau kamera yang seakan-akan masuk ke helm Stone, namun yang benar-benar membuat saya eyegasming adalah pemandangan matahari terbit dan aurora dari luar angkasa.  Di adegan itu saya merasa bersyukur karena saya sudah bisa menikmati cinematic experience di masa kini dan saya bisa menontonnya di 3D.  Ah, saya jadi kasihan sama generasi selanjutnya yang belum tentu bisa nonton ini di bioskop :p

Ternyata plot Gravity tidak sedangkal saya kira.  Saya suka dengan plotnya yang simpel dan tidak ada romance kacangan mendadak.  *SPOILER* Walaupun si tokoh selamat, dan memang dengan cara yang agak wah, keselamatan itu digambarkan dengan cara yang lebih natural dan somewhat menyentuh dibandingkan dengan kebanyakan film-film sci-fi atau hero lainnya (e.g Kirk yang tiba-tiba bisa hidup padahal sudah mati?) *SPOILER ENDS*  Film ini menceritakan survival, baik secara fisik maupun psikis, pilihan dalam hidup, rebirth, dan masih banyak lagi.  Itu semua hadir dari penampilan 'solo' Ryan Stone.  Cuaron juga menggunakan banyak simbol dalam film-filmnya.  Yang ditangkap oleh banyak orang mungkin adegan dimana posisi Sandra Bullock terlihat seperti janin, lalu ketika ia sampai di bumi dan ia belajar untuk berdiri.  Atau ketika perjalanan Stone terhambat oleh parasut dan akhirnya ia sendiri juga diselamatkan oleh parasut.  Sayang sekali percakapan filosofis antara Stone dan Kowalski kurang nendang, mungkin maksud Cuaron untuk tidak terlalu menggurui.  Tapi di adegan itu saya sadar bahwa semangat, survival, niat, dan sebagainya datang dari kita sendiri.  Orang lain hanya bisa menyemangati.  Berhasil atau tidaknya, hadir atau tidak, itu tergantung diri kita masing-masing.  Ketika Kowalski memberikan kata-kata untuk membangun semangat Stone, ia masih tetap tidak bereaksi.  Namun perlahan-lahan, ia sadar bahwa ada alasan ia masih hidup, dan ia harus berjuang untuk mempertahankannya.  Adegan itu berhasil membuat saya menangis, karena saya tahu juga bagaimana rasanya putus asa dan sendirian.  Ryan Stone mungkin tokoh fiktif, namun saya senang dia memilih untuk bangun dan berjuang.

Saya akan kaget sekali jika ada film yang bisa mengungguli Gravity dari segi teknik, akting, dan cerita dalam waktu dekat ini.  Karena Gravity bukan sekedar film sci-fi dengan peralatan mewah ataupun film yang menggurui penontonnya dengan filosofi ataupun human survival. 9,5/10

pic cr :
lorinpolin.com
beyondhollywood.com
                                          

Sabtu, 05 Oktober 2013

Frozen Ground


Yeay, akhirnya gue bisa review film baru, haha.  Eh, tapi gue gak tahu juga sih, kayaknya Frozen Ground gak baru-baru amat, wkwkwk.  

Frozen Ground adalah film crime-thriller 2013 yang disutradarai Scott Walker dan dibintangi oleh Nicholas Cage, John Cusack, dan Vanessa Hudgens.  Film ini berdasarkan kisah nyata.  Cindy Paulson (Hudgens) mengaku dirinya korban penculikan dan pemerkosaan, namun tidak ada polisi yang mempercayainya karena dia seorang pelacur.  Kasus Cindy pun tidak diinvestigasi lebih lanjut.  Ternyata setelah kasus Cindy yang tidak terselesaikan, ditemukan sebuah mayat wanita yang sebelumnya disiksa dan diperkosa.  Jack Halcombe (Cage) yang menyelidiki kasus ini curiga bahwa mayat yang ditemukan ada kaitannya dengan kasus Cindy.  Penyelidikan Halcombe mengarah pada seorang pria bernama Robert Hansen (Cusack) yang mempunyai image baik di depan teman-temannya dan orang sekitar.


A bit oot, but whatever : Why Disney girls turn into bitches? 

Frozen Ground tuh film misteri OLD school.  Yap, formula yang dipake terlalu 'klasik' dan sama sekali tidak mempunyai sentuhan modern.  Padahal ekspektasi saya sudah lumayan tinggi mengingat ada Nicholas Cage dan John Cusack dan opening-nya yang cukup menegangkan.  Apalagi Scott Walker tidak 'memutihkan' si protagonis.  Tapi saya langsung mengerutkan kening ketika saya melihat si antagonis keluar.  I hate that formula.  Saya dari dulu heran kenapa Hollywood suka sekali memperlihatkan wajah si antagonis dan hanya memberikan penonton proses-proses penyelidikan yang terkadang monoton.  Tapi Silence of the Lambs masih bisa menjadi salah satu film misteri terbaik walau menggunakan formula itu, bukan?  Well, Frozen Ground is no Silence of the Lambs and John Cusack is no Sir Anthony Hopkins.  

Menonton film ini terasa seperti menonton salah satu episode Criminal Minds yang buruk.  Walker mengisi Frozen Ground dengan formula-formula kuno dan aksi kejar-kejaran 'kucing dan anjing' yang terkesan bertele-tele.  Tidak ada yang istimewa.  Dialognya biasa-biasa saja, kadar ketegangan berkurang, dan semuanya menjadi predictable.  Proses penyelidikan kurang berkesan karena Scott Walker menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas Hansen yang membosankan dan proses penyelidikan yang kurang melibatkan bukti-bukti forensik ataupun profil pembunuh (kriminologi gitu loh).

Tidak cuma itu, film ini TERLALU mencoba menjadi salah satu dari film-film stylish dengan menggunakan shaky-cam.  Let me rephrase it : OVERDO shaky-cam.  


Oh please, Law & Order : SVU has better performances.  Menurut saya, penampilan John Cusack dan Nicholas Cage buruk.  Titik.  Ada orang yang mengatakan mereka penampilan mereka tidak istimewa tapi tidak mengecewakan juga.  Well, jika dua aktor veteran masih memberikan penampilan tidak istimewa, itu sudah saya klasifikasikan jelek atau buruk.  Saya sendiri kurang tahu kemampuan akting Cage yang 'sesungguhnya' karena saya tetap tidak suka dia, padahal saya sudah menonton City of Angels, Ghost Rider, dan Season of the Witch.  Wrong movies, maybe?  Saya sendiri juga bukan penggemar Cusack, tapi saya cukup puas dengan penampilannya di 1408.  Untung saja John Cusack sempat bersinar sebentar di bagian akhir film.  Vanessa Hudgens jelas permata dari tiga aktor utama film Frozen Ground.  Penampilannya bagus, walaupun masih tidak sebagus Jodie Foster di The Accused karena ada beberapa momen yang masih terasa dipaksakan.  Saya tidak tahu apakah kesalahan ada di pihak aktor-aktor atau skrip Scott Walker yang mediocre dan cenderung membosankan.  

Hubungan Cindy dan Jack juga sekedar tempelan.  Momen-momen mengharukan yang dibuat oleh Walker tidak buruk, tapi biasa.  Malah, terasa sedikit dipaksakan karena waktu yang diberikan untuk Cindy-Jack cukup sedikit dan chemistry antara Cage dan Hudgens jelas tidak sehebat Jodie Foster dengan Sir Anthony Hopkins.

Scott Walkes tried so hard to create an old-school-thriller-crime movie.  Yet, Frozen Ground looked like one of the worst episode from Criminal Minds.  It's not THAT disappointing, but it's not something that I want to watch twice. 4,5/10    

pic cr :
craveonline.com
movies.buzzintown.com
standard.co.uk

Senin, 27 Mei 2013

Sympathy for Lady Vengeance / Lady Vendetta

...where was that angel while I was committing such an evil act? -Lee Geum Ja


Gue udah lama download film ini, tapi baru sempet nonton kemarin, wkwk.  Sumpah, akhir-akhir ini gue gak niat nonton film.  Sekarang tinggal Sympathy for Mr. Vengeance yang belum gue tonton dari trilogi Vengeance.  Dan sialnya tuh film susah dicari-_-

Lee Geum Ja (Lee Young Ae) adalah gadis yang membunuh dan menculik seorang anak kecil bernama Won Mo.  Setelah 13 tahun dipenjara, Geum Ja memutuskan untuk balas dendam pada Mr. Baek (Choi Min Sik) yang telah memerasnya dengan menculik putrinya, dan juga orang yang sebenarnya telah menculik dan membunuh banyak anak kecil.  Geum Ja tidak sendirian, karena ia mendapat bantuan dari sesama mantan narapidana yang telah ia 'tolong'.

WARNING : CONTAIN SPOILER


Lee Young Ae benar-benar lahir untuk film ini.  Aktingnya keren banget, perpaduan antara emosional dan dingin.  Menurut gue pribadi sih perpaduan antara Nicole Kidman di The Hours, Jodie Foster di The Brave One, dan juga Meryl Streep di Kramer vs Kramer.  Ia bisa jadi karakter yang dingin dan expresionless, wanita yang bangkit dari kejatuhan, dan juga ibu yang menyayangi anaknya .  Sama seperti Oh Dae Su, Lee Geum Ja bukanlah protagonis yang 'suci'.  Dia juga bukan karakter yang stereotip banget, karena kejiwaannya sudah agak tertanggu sebelum dia menjadi kaki tangan Mr. Baek.  Lee Geum Ja melambangkan transformasi.  Ia dulu gadis yang clueless, lalu ia bertembuh menjadi wanita yang pintar dan tahu apa yang ia inginkan.  Tidak hanya itu, ia juga melambangkan pencitraan.  Geum Ja dikenal sebagai gadis yang baik, bahkan pendetanya juga tertipu.  Tapi ia mempunyai agenda tersendiri yang, well, tidak terlalu baik.  

Surprise, surprise, ada Oh Dae Su disini!  Wait, dia bukan Oh Dae Su, tapi dia Mr. Baek.  Nope, dia bukan antagonis kompleks atau sadis seperti Joker, Lecter, Amon Goeth, ataupun Patrick Bateman.  Dia adalah manusia yang jahat.  MANUSIA.  Mr. Baek itu mirip antagonis-antagonis dari sinetron (hey, gue bukan penggemar sinetron-_-).  Dia akan menyerahkan apapun untuk keselamatan jiwanya.  Dia melakukan kejahatan untuk uang.  Hal itu cukup menarik, karena dia bukan memuaskan hasrat batinnya.  Dan dia waras.  Dia bukan sadistik sejati seperti Joker ataupun seseorang yang mempunyai harga diri dan kepintaran yang tinggi seperti Lecter.  Tidak, dia menjadi antagonis dengan motivasi uang.  Gue sendiri jadi bertanya-tanya apakah dia adalah the true antagonist...Apa yang terjadi jika Mr. Baek diberi kesempatan kedua?  Apakah dia akan berubah?  Dia terlihat seperti rela melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya.  




Why this is one of the best Korean movies?  Karena semuanya terhubung.  Tidak hanya Lee Young Ae yang bersinar di film ini.  Pameran-pameran pembantu pun sangaaaaaaaaaaaat membantu di film ini.  Meskipun mereka bukanlah tokoh utama, mereka bekerja dengan sangat baik.  Musik dari Choi Seung Hyun pun juga berhasil membawa kita pada dinamika emosi.  Ada saatnya kita diam untuk mengobservasi tokoh, ada saatnya juga kita terlarut dengan emosi yang sedang dirasakan tokoh.  Tidak seperti The Iron Lady dan Breakfast at Tiffany's yang menyinari satu wanita, film ini menyinari semuanya, mendukung dan saling bekerja.

Sympathy for Lady Vengeance adalah film.  Sympathy for Lady Vengeance adalah pelajaran filosofi benar atau salah dalam media lain.  Terserah penonton memandangnya sebagai apa.  Kalau gue sendiri memandang Lady Vengeance sebagai film, karena film ini tidak terlalu menjejali penonton dengan topik-topik filosofis.  Film ini bukanlah film (sok) inspirational yang akan mengkuliahi kita tentang right or wrong.  Film ini bercerita tentang seorang wanita yang membalaskan dendam pada pria.  That's it.  Berbeda dari quote yang gue ambil, film ini juga tidak akan membahas keberadaan Tuhan dan malaikat.  One more thing, film ini tidak se-disturbing Oldboy.  Kalau lo belum terbiasa dengan film disturbing dan berdarah-darah tapi penasaran dengan film Oldboy, lo harus nonton film ini dulu untuk latihan, hehe.

Although it has less twist than Oldboy, it's still one of the best (Korean) movie I've ever watched.  9,5/10

pic cr :
forgottenclassicofyesteryear.blogspot.com
avforums.com