Tampilkan postingan dengan label Japanese Movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japanese Movies. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2019

Our Little Sister (Umimachi Diary)



Hirokazu Kore-eda merupakan nama yang tidak asing bagi penggemar film festival. Karyanya tahun 2013, Like Father Like Son (yang belum gue tonton padahal udah didownload dari kapan tahu) menerima Jury Prize di Cannes Film Festival. Puncak karirinya sejauh ini adalah menerima Palme d'Or untuk Shoplifter pada tahun 2018. Our Little Sister merupakan filmnya yang dirilis pada tahun 2015, dan diadaptasi dari manga yang berjudul Umimachi Diary oleh Akimi Yoshida.

Film Hirokazu kali ini bercerita tiga orang kakak-beradik dewasa. Yang tertua, Sachi (Haruka Ayase), lalu Yoshino (Masami Nagasawa), dan Chika (Kaho). Mereka telah lama hidup bertiga sejak orang tua mereka bercerai. Tiba-tiba, mereka mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal. Saat pemakaman, mereka bertemu dengan adik bungsu mereka dari pernikahan kedua sang ayah, Asano Suzu (Suzu Hirose). Sachi yang merasa sang adik kurang bahagia tinggal bersama istri ketiga ayahnya, mengajak Suzu untuk tinggal bersama mereka bertiga. Suzu menerimanya.



SMALL SPOILER ALERT

Karena gue belum menonton film Hirokazu Kora-eda yang lain, gue belum bisa membuat perbandingan dengan film-film sebelumnya, hehe. Film ini malah mengingatkan gue dengan film Jepang jadul yang berjudul Tokyo Story. Jika Tokyo Story berbicara mengenai orang tua yang diabakan anak-anaknya yang dewasa, maka Our Little Sister menceritakan orang dewasa yang diabaikan orang tuanya saat muda, serta seorang anak yang dikecewakan oleh orang dewasa.

Apa ini gue doang atau gak, film Amerika Serikat yang indie cenderung lebih menyukai dekonstruksi ideal relationship atau cerita mengenai dysfunctional relationship. Sebut saja Marriage Story yang Desember nanti dirilis oleh Netflix (at least based on the trailer), Midsommar, Lady Bird, heck, one of its' biggest franchise is basically a family space opera! Untungnya Hirokazu Kore-eda menghindari tren itu, dan memperlihatkan hubungan saudara yang sehat. 

Kelalaian orang tua mereka tidak muncul lewat hubungan saudara yang tidak sehat, atau apapun yang mencolok. Luka itu justru tumbuh lebih subtle. Seperti Sachi yang sering kali lebih seperti ibu daripada kakak. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana ia yang sering memasak dan menegur adik-adiknya. Ada Yoshino yang sering memanjakan pacarnya secara material. Chika yang masih sedikit kekanak-kanakan. Yang terakhir, Suzu, yang menyimpan unek-unek mengenai ibu tirinya, ditambah merasa insecure karena merasa ibunya lah yang menghancurkan pernikahan orangtua kakak-kakaknya. Akibat dari abandonment nyatanya tidak selalu terlihat mencolok dan inilah yang kadang-kadang dilupakan media dan masyarakat awam. Ini poin favorit gue dari film ini. Luka itu kadang-kadang terlalu dalam atau sudah mati rasa sehingga hanya terlihat jika diperhatikan sangat baik-baik saja.

Film ini juga tidak mempunyai alur cerita yang konvensional. Alur ceritanya sama dengan manga yang diadaptasi, di mana ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari keempat kakak-beradik itu. Kadang-kadang ada hari yang sekedar rutinitas, ada yang sangat membahagiakan, dan ada yang diisi dengan ketegangan. Ketika kamu berharap bahwa konflik kecil itu akan menjadi konflik utama, konflik itu akan terselesaikan atau hanya digantung. Contohnya, ada cerita mengenai kedatangan ibu the elder sisters. Hal ini memicu konflik karena Sachi belum sepenuhnya memaafkan sang ibu. Suzu juga menjadi tidak nyaman. Tapi, Koru-eda tidak membuat tarik-ulur dengan konflik ini secara berlebihan, dan memberikan resolusi yang heartwarming. Tidak hanya resolusi yang heartwarming, film ini juga menampilkan momen-momen kecil membahagikan seperti memanen buah plum, makan katsu, atau sekedar naik sepeda dengan teman. Meskipun demikian, Hirokazu berhasil menyulap momen kecil itu menjadi tidak hanya membuat senang penonton, tapi juga menghangatkan hati mereka.

Secara teknis, gue jatuh cinta banget dengan musiknya! Kudos for Yoko Kanno. Sayang gue cari di YouTube dan Spotify gak ketemu, huhu. Lantunan pianonya itu ringan, tapi manis gak sampai diabetes. Benar-benar menangkap esensi filmnya. Akting para aktornya bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah chemistry di antara mereka. Benar-benar meyakinkan kalau mereka itu kakak beradik. And the landscape!!! No word to describe the landscape. 

Overall, Our Little Sister has the perfect amount of sweetness, warmness, tension, and melancholy. It captures the subtle effect of parental abandonment and disappointment, while also proving you can break it by being a functional adult and having a healthy and loving relationship with your sisters. 7,5/10. 

Minggu, 28 September 2014

Grave of the Fireflies (Hotaru No Haka)

dalkomlollipop.wordpress.com

Grave of the Fireflies merupakan film animasi Jepang tahun 1988 yang disutradarai dan ditulis oleh Isao Takahata.  Film ini diadaptasi dari novel semi-autobiografi berjudul sama yang ditulis oleh Akiyuki Nosaka.  Film berdurasi 89 menit ini diproduksi oleh Studio Ghibli dan dirilis bersamaan dengan salah satu film Ghibli yang terkenal, My Neighbor Totoro.  Meskipun film ini tidak meraup keuntungan setinggi My Neighbor Totoro, film ini menerima banyak pujian dari banyak kritkus film.

Seita, Setsuko, dan ibu mereka bersiap-siap untuk pergi ke sebuah bomb shelter di Kobe.  Ibu mereka berangkat lebih dulu sementar mereka menyimpan persidaan makanan dan sedikit bekal.  Mereka terkejut ketika bom mulai jatuh di lingkungan mereka.  Mereka selamat dan tidak terluka, namun ibu mereka mengalami luka bakar yang sangat parah.  Karena Seita takut dengan reaksi Setsuko, maka Seita tidak mempertemukan Setsuko dengan ibunya.  

Beberapa hari kemudian, Seita dan Setsuko pergi ke rumah bibi mereka untuk mengungsi.  Sebenarnya ibu mereka sudah meninggal, namun Seita tidak berani untuk menyatakan sejujurnya kepada Setsuko.  Awalnya, sang bibi menerima mereka dengan terbuka.  Namun seiring berkurangnya rasio makanan, sang bibi justru tidak senang dengan kehadiran mereka.  Bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka tidak pantas untuk ikut makan karena mereka tidak berkontribusi di masa perang.  Tidak tahan, Seita dan Setsuko memutuskan untuk pergi dari rumah sang bibi.

SPOILER ALERT!

photo9.us
Fuck this film.  Belum 30 menit, air mata dan ingus gue meleleh gara-gara nih film.  Bangke.

Menurut wikipedia, ada dua pandangan mengenai film ini.  Orang-orang Barat memandan film ini sebagai film anti-perang sedangkan orang Jepang memandang film ini sebagai film obey-your-elders.

Anti-war, conscience, and society

Kenapa film ini dipandang sebagai film anti-perang?  Jelas karena film ini memperlihatkan dampak-dampak perang yang sangat mengerikan.  Perang membuat orang-orang kehilangan tempat tinggal mereka, orang yang mereka cintai, kebahagiaan, dan bahkan bisa membuat orang-orang kehilangan hati nurani mereka.  Seita dan Setsuko adalah anak-anak yang kehilangan rumah dan ibu mereka.  Seita mungkin sudah bisa 'mencerna' perang, tapi Setsuko masih terlalu muda untuk 'mencerna' perang dan bersikap dewasa mengenai hal itu.  Fuck, they're not even adults, so why and how should they know how to act as adults in war?  Inilah fakta yang dilupakan oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.  Bukan berarti mereka bisa bermanja-manja, tapi mereka juga tidak bisa dituntut untuk 'matang' secara tiba-tiba.  Yang kurang jelas dari sini kenapa Seita dan Setsuko tidak pergi ke sekolah dan apakah itu bisa dihitung sebagai 'kontribusi' atau tidak.   

Misalkan ada bayi yang belum pernah diajarin untuk berjalan.  Dia gak pernah pake alat bantu buat berjalan atau apalah itu.  Dia cuma biasa merangkak.  Suatu hari, orangtuanya ngajarin dia belajar dan expect tuh bayi bisa jalan setelah hari itu selesai.  Apakah semua bayi bisa langsung jalan dengan pelajaran satu hari padahal dia cuma biasa merangkak?  Cuma orang bego yang jawab iya. 

Ada adegan dimana seorang dokter memeriksa Setsuko.  Si dokter mengatakan bahwa Setsuko tuh sebenarnya gak sakit tapi kena malnutrisi, alias kekurangan nutrisi.  Jadi yang dibutuhkan Setsuko tuh makanan, bukan obat-obatan.  Seita yang frustasi akhirnya meledak karena dia bingung mau cari makanan dimana.  Si dokter juga gak menawarkan bantuan apapun.  Ini adalah salah satu contoh bagaimana perang bisa membuat kita menjadi mahluk yang apatis.  Emang sih itu cuma adegan film, tapi cerita kayak gitu pasti pernah terjadi beneran.  Gue tahu bahwa membantu orang gak selalu gampang.  Tapi manusia merupakan mahluk yang (katanya) memiliki hati nurani.  So why helping people is so hard?  Bukan karena perang, bukan karena gak ada uang atau waktu, tapi pada akhirnya karena ego kita masing-masing.  I know it's not always the case but ego is the main factor on our apathy.  Hal ini dibuktikan di adegan pertama Grave of the Fireflies.  Perang memang sudah berakhir, tapi tidak ada orang yang menunjukkan kepedulian pada Seita yang sekarat.  Orang-orang tidak bisa menggunakan perang sebagai alasan mengapa mereka tidak membantu Seita karena perang sudah berakhir saat itu.  Jadi menurut gue perang tidak membuat kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan, tapi perang membuat kita lebih apatis dan lebih egois dari yang sebelumnya.  

basementrejects.com
 
You-should-respect-me-because-my-age-not-my-deeds 

Isao Takahata menyatakan bahwa pesan yang ingin ia sampaikan di film ini adalah anak-anak muda harus menghormati orangtua mereka, terutama di masa-masa yang susah.  Bibi Seita dan Setsuko memang tidak melukai mereka secara fisik, bahkan tetap memberi mereka makan.  Namun perlakuan dan perkataan sang bibi tentu membuat mereka tertekan.  Apalagi mereka sudah berusaha untuk bertahan di rumah si bibi, tapi mereka akhirnya menyerah dalam tekanan.  Kita perlu ingat bahwa manusia tidak hanya punya kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan psikis.  Mungkin tindakan Seita memang bodoh, namun tidak semua orang bisa bertahan di suatu rumah yang membuat mereka tidak bahagia.  

Suatu hari, Seita dan Setsuko main piano dan bersenang-senang, lalu sang bibi memarahi mereka karena mereka bersenang-senang di saat yang susah.  Bitch please, they even don't waste money or stuff like that.  They only play a fuckin' piano.  Perang memang mengerikan dan kita tidak boleh melupakan orang-orang yang berjuang dalam perang.  Namun apa salahnya merasakan sedikit kesenangan di saat perang?  Apa salahnya untuk melupakan kesedihan dan kepahitan hidup untuk sesaat?  Apa salahnya untuk menyelamatkan secuil masa kanak-kanak?  Apakah kita harus berlarut dalam kesedihan hanya karena orang lain merasa sedih?  Apakah kita harus dihantui kesedihan dan depresi hingga akhirnya kita bunuh diri?  Hal-hal inilah yang membuat gue mengerti kesusahan Seita dan Setsuko untuk menghormati bibi mereka.  Gue merasa sedih bagaimana Takahata berusaha memasukan pesan itu dengan figur orangtua yang menekan anak-anak.     

Ini juga membuat gue bertanya-tanya apakah kita memang harus menghormati orang-orang tua yang telah memberi kita makan.  Apakah tolak ukur kehormatan hanya umur dan apakah mereka memberikan kita makan atau tidak?  Kalau iya, berarti banyak banget orang yang gak gue hormatin.  Yang jelas, kita harus merasa bersyukur bahwa kita dihidupi oleh orang-orang yang lebih tua saat kita kecil.  Tapi apakah kita harus tetap menghormati orang-orang itu jika tindakan-tindakan mereka jelas salah?  Dan mengapa kita harus tetap menghormati mereka?  Kalau gue sih menggunakan perbuatan dan pemikiran sebagai tolak ukur gue dalam menghormati seseorang, bukan umur dan apakah mereka memberikan gue makan atau tidak.  Contohnya aja Osama Bin Laden, dia lebih tua daripada gue, tapi tindakan-tindakan yang dia lakukan menunjukkan betapa kecil otak dan hatinya.  Karena itulah meskipun dia lebih tua daripada gue, gue sama sekali gak menghormati dia.  So, kita harus bisa membedakan being grateful and respect kepada orang lain.     

Other stuffs

Animasinya bagus meskipun masih rough at the edge (seperti animasi Jepang lainnya).  Musiknya Michio Mamiya tuh bagus, tapi gak punya efek memorable seperti musiknya Joe Hisaishi.  I just can't think any song or music from this film.  Kesedihan dan kengerian film ini entah bisa membuat orang terharu atau illfeel dengan kelebayan film ini.  Gue sedih sama film ini bukan karena kematian tokoh-tokohnya.  Tapi gue sedih karena gue mikir apakah manusia tuh mahluk yang punya hati nurani atau sekedar mahluk yang egois. 

Overall

Masih mikir film kartun tuh film anak-anak gak penting?  Nonton aja film ini. 8,7/10


    

Rabu, 25 Juni 2014

Battle Royale (2000)

So today's lesson is...you kill each other off. -Kitano
ukhorrorscene.com
Battle Royale merupakan film Jepang tahun 2000 dengan genre distopia, thriller, dan action.  Film ini disutradarai oleh Kinji Fukasaku dan skripnya ditulis oleh anak Fukasaku, Kenta Fukasaku.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Koushun Takami.  Film dengan durasi 112 menit merupakan salah satu film yang paling kontroversial, sampai tidak ditayangkan di Amerika tahun 2000 yang lalu.  Namun, film ini merupakan salah satu film blockbuster di negaranya sendiri.  Battle Royale juga merupakan salah satu film favorit Quentin Tarantino.  

Film ini berlatar belakang di sebuah alternated universe dimana kelas sembilan dari sebuah sekolah di Jepang dipilih secara acak untuk mengikuti sebuah Survival Program.  Kelas Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) pergi ke sebuah pulau untuk mengikuti field trip.  Tapi field trip itu menjadi suatu mimpi buruk ketika kelas Shuya bangun dan mendapati mereka di suatu ruang kelas dengan 'kalung' di leher mereka.  Wali kelas mereka dua tahun yang lalu, Kitano (Beat Kitano) mengatakan bahwa mereka terpilih untuk mengikuti The Program.  Kelas mereka juga mendapat tambahan dua orang, Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) dan Shogo Kawada (Taro Yamamoto).  Sahabat Shuya, Yoshitoki Kuninobu (Yukihiro Kotani) dengan cepat terbunuh karena mencoba melawan Kitano.

Untuk mengingat temannya, Shuya berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Noriko Nakagawa (Aki Maeda), karena ia mengira bahwa Nobu menyukainya.  Kelas 9B dengan cepat membunuh teman mereka masing-masing.  Kazuo Kiriyama dan Mitsuko Souma (Kou Shibasaki) dengan cepat menjadi dua orang paling berbahaya.  Noriko dan Shuya beruntung karena bisa membentuk persekutuan dengan Shogo Kawada, salah satu orang yang juga harus diwasapadai.     

SPOILER ALERT!


Sorry guys, but I've never heard anything about Battle Royale before The Hunger Games, lol.  I'm not a big fan of THG, tapi kalau gak ada tuh film, mungkin gue juga gak bakal tahu Battle Royale.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara film dan manga Battle Royale.  Gue lebih suka komiknya.  Komiknya lebih bisa memasukkan beberapa detail dan lebih bisa mengikat pembacanya dengan tokoh-tokohnya, bahkan tokoh pembantu.  But I must admit emang sulit mengelola 42 tokoh ke dalam film, yang durasi maksimalnya dua jam.  Tapi untuk tokoh antagonisnya, si guru dan Kazuo, gue lebih suka versi filmnya.  Penampilan cowok-cowoknya pun gue lebih suka yang versi film, karena jauuuuuuuuh lebih ganteng *brb, fangirling dulu*.

Battle Royale merupakan Hunger Games yang jauh lebih mentah.  Sifatnya yang mentah ini entah membuat penonton merasakan 'keaslian' film ini atau membuat penonton malah gak suka.  Gue rasa bagi mereka yang menonton THG dan BR juga tahu bahwa THG merupakan 'adik' dari BR, baik dari segi umur maupun isi.  Tapi yang membuat BR lebih nyesek daripada THG adalah orang-orang di BR merupakan orang-orang yang telah belajar bersama minimal dua tahun.  Mereka udah kenal satu sama lain *at least kenal nama*, belajar bareng, main bareng, tapi akhirnya mereka jatuh pada tekanan dan membunuh satu sama lain.  Orang-orang di THG are literally strangers.  Battle Royale mendorong diri gue untuk 'berimajinasi' bagaimana kalau kelas gue ikutan acara beginian.  Tbh, I will either die early or suicide, lol.         


Battle Royale mengandung metafora bagaimana orang-orang dewasa mendorong anak-anak muda untuk berkompetisi, but in a bad way.  Tidak hanya kompetisi, tapi mereka juga mempunyai ekspektasi yang besar -dan kadang tidak masuk akal- pada kita.  Karena inilah banyak dari mereka yang jatuh dalam tekanan.  Not everyone, but most of them.  Yang lemah langsung mati, yang gak bisa membunuh temannya ya bunuh diri, ada yang kelewat ambisius makanya bunuh temannya, dan ada juga segilintir dari mereka bertahan dan menolak untuk mengkhianati temannya.   BR juga mengandung unsur black humor, terutama adegan dimana ada mbak-mbak yang menjelaskan Battle Royale ke kelasnya Shuya.  I think that scene is very funny and amusing.  Sikapnya yang penuh keceriaan dan semangat kontras dengan isi penjelasannya.  Anyway, gue kurang ngerti letak 'horor' dari Battle Royale.  Memang banyak pembunuhan yang dilakukan secara tiba-tiba, tapi gue gak merasa tegang sama sekali ketika nonton film ini.  Ada rasa terkejut, tapi gak ada tegangnya sama sekali.

I don't like Shuya and Noriko.  They are too naive for my liking.  Gue berpikir mereka stereotipe protagonis naif yang gak tahu diri, yang sok-sokan mau jadi pahlawan.  Tapi setelah gue merenung, ada kemungkinan juga watak mereka yang naif malah jadi sebuah mock bagi stereotipe itu sendiri.  Bagaimana pemikiran mereka yang naif tidak sejalan dengan realita yang mereka alami dan usaha mereka untuk menjadi pahlawan malah nihil karena mereka gak berhasil menyelamatkan orang lain.  


Gue kecewa pada Noriko karena karakternya tuh stereotipe cewek yang terlalu bergantung pada cowok.  Gue berharap karakternya dia mirip Takako Chigusa (Chiaki Kiriyama).  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, bukankah klise banget kalau Noriko sekuat Takako atau Mitsuko?  I mean, langsung kelihatan dong kalau Shuya dan Noriko pemenangnya.  I hate to admit it, tapi emang cewek membutuhkan cowok di bidang yang sangat membutuhkan kekuatan fisik.  Gue juga kecewa Shuya, baik dari aktor yang memainkan tokohnya maupun karakternya sendiri.  Flashback tentang Shuya yang diperlihatkan di film tetap gagal membuat gue jatuh hati atau bahkan bersimpati pada karakternya.  Mungkin karena flashback itu kurang kuat untuk memancing gue atau emang Tatsuya Fujiwara gak cocok jadi Shuya.  Gue juga kurang suka Shuya yang di komik, tapi Shuya di komik jauh lebih karismatik dan periang daripada yang di film. 

Beberapa orang gak suka dengan Noriko dan Shuya karena mereka bukan hanya naif, tapi juga terlalu hoki.  Seriously, mereka bakalan mati kalau gak ada Kawada.  Tapi gue rasa ini hanyalah semacam mock, lagi.  Superman, Harry Potter, Katniss Everdeen, they are not just heroes, but they are survivors.  Mereka jelas orang-orang kuat yang memang 'ditakdirkan' untuk menjadi pahlawan dan survivors.  Lalu apakah orang-orang yang lemah tidak punya chance untuk 'selamat'?  Tentu saja mereka bisa menjadi survivor....dengan sedikit keberuntungan.  Noriko dan Shuya memasuki sebuah situasi dengan waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dan membuntuk aliansi dengan Shogo.  Ini juga merupakan metafora dimana orang-orang yang sebenarnya lemah dan skill-nya tidak hebat, bisa selamat karena mereka mendapat keberuntungan.  

Kalau bicara departemen akting, gue memperhatikan kalau sebagian besar dari mereka tuh aktingnya matinya konyol banget.  Bukan cara mereka dibunuh, tapi aktingnya.  Doh, kok kayak film-film Hollywood jaman batu yang matinya tuh lebay dah.  Mereka mengatakan 'kata-kata perpisahan' terus menggerakkan kepalanya, terus mati deh.  Sumpah, gue pengen banting laptop gue kalau gue lihat ada yang mati kayak gitu.  Anyway, kenapa disini dua aktor utamanya yang mengecewakan ya?  Tatsuya Fujiwara aktingnya gak natural.  Maksa banget sumpah.  Gue merasa canggung banget waktu lihat beberapa adegan nangisnya yang...awkward.  Aki Maeda?  Gue gak tahu apakah aktingnya yang datar itu emang karena kemampuannya terbatas atau emang skrip film ini yang membatasi kemampuan aktingnya.  Aktor terbaik tentu saja Takeshi Kitano alias Beat Kitano.  Gue kaget juga ternyata dia ini sutradara, bukan aktor.  Dia berhasil memerankan seseorang yang karismatik, tapi tidak benar-benar keji seperti versi lain di komik.  Dia gak nangis atau memerankan seseorang yang psikopat, tapi Kitano memerankan karakternya dengan begitu natural.  Sayang banget Masanobu Ando tidak diberikan dialog ataupun monolog.  Masanobu jelas mempunyai potensial lebih daripada Fujiwara.  Dan gue lebih suka Kazuo Kariyama yang diperankan dia daripada versi manga, karena Kiriyama disini jauh lebih gila dan ekspresif.  

Sinematografinya cukup standard, tapi musiknya bagus banget, terutama di adegan pembukanya.  Film ini menggunakan beberapa musik klasik yang dimainkan oleh Warsaw Philarmonic Orchestra.  Tapi gue gak suka lagu buat ending credit-nya.

Overall, Battle Royale is an amazing dystopian film that full of surprising murders and blood.  The acting department maybe disappoint you, but the plot of this film is too amazing to be missed.  I recommend this film for you who like The Hungers Games and strong enough to watch bloody murders.  9/10   

 

Kamis, 19 Juni 2014

Black Butler (2014): A disappointing adaptation of "Kuroshitsuji"

I'm just...a devilish butler. -Sebastian Michaelis
eigapedia.com

Gue gak pernah baca komik Black Butler a.k.a Kuroshitsuji ataupun nonton anime-nya.  Tapi teman SMP gue ngefans banget sama nih komik, makanya gue tahu satu-dua hal tentang komik ini.  Black Butler merupakan film supernatural dan misteri Jepang 2014 yang disutradarai oleh Kentaro Otani dan Keiichi Sato serta ditulis oleh Tsutomu Kuroiwa.  Film ini merupakan live action yang diangkat dari komik Black Butler yang ditulis oleh Yana Toboso.  Durasi film ini sekitar 199 menit.

Film ini berlatar pada tahun 2020, dimana dunia terpisah menjadi "Barat" dan "Timur".  Ratu dari "Barat" pun mengirim 'mata-mata' ke seluruh dunia yang disebut Queen's Watchdogs.  Salah satu dari Queen's watchdogs itu adalah Kiyoharu Genpo (Ayame Gouriki).  Nama asli Kiyoharu adalah Shiori.  Ia merupakan satu-satunya putri pasangan Genpo yang dibunuh pada suatu malam.  Shiori selamat dan ia menyamar sebagai anak laki-laki haram ayahnya agar dapat menguasai seluruh aset keluarga Genpo.  Ia kembali dengan seorang pria yang bernama Sebastian Michaelis (Hiro Mizhushima)Sejak saat itu, Sebastian menjadi pelayan setia bagi Kiyoharu.  Sebenarnya Sebastian seorang setan yang melakukan perjanjian dengan Kiyoharu.  Kiyoharu menjual jiwanya kepada Sebastian agar ia bisa melakukan balas dendam bagi orang-orang yang telah membunuh orangtuanya.

Akhir-akhir ini, muncul kasus orang-orang yang berubah menjadi mumi.  Korban-korbannya merupakan orang yang punya jabatan di dunia politik.  Tapi polisi tidak bisa menemukan koneksi antara orang-orang yang dibunuh serta apapun yang menyebabkan mereka menjadi mumi.  Kiyoharu dan Sebastian pun menyelidiki kasus ini dengan sedikit bantuan dari bibi Kiyoharu, Hanae (Yuka).  Kasus ini malah menarik Sebastian dan Kiyoharu ke dunia gelap yang melibatkan obat-obatan dan terorisme.  Siapapun orang di balik ini semua, ternyata juga terlibat dengan pembunuhan pasangan Genpo.

eigapedia.com

What the hell is Genpo family?  Bukannya Ciel Phantomhive ini cowok?  Kok malah jadi cewek?!!!  Kok nama keluarganya beda?  Bukannya Black Butler setting-nya di jaman ratu Victoria gitu ya?!!

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan berbagai pertanyaan yang memenuh otak gue saat menonton film ini.  Tapi karena gue belum pernah baca dan nonton Kuroshitsuji, makanya gue melupakan pertanyaan-pertanyaan itu.  Sampai rumah, gue pun browsing tentang Black Butler dan ternyata live action ini emang agak beda dengan komik aslinya.  Karena gue bukan fans berat Black Butler, gue malah appreciate Tsutomu Kuroiwa yang berusaha agar film ini sedikit berbeda dari komik aslinya.  But does that mean I like this film?

First thing first, Sebastian Michaelis ganteng banget!!!!!!!!  Mau yang versi komik atau versi live action, dia ganteng banget sumpah!!!  Selama ini gue membayangkan Sebastian sebagai sosok yang karismatik, misterius, agak dingin namun punya sense of humor yang rada sarkastik.  Praise to the lord, Hiro Mizushima berhasil mewujudkan Sebastian impian gue!  Hal yang paling gue suka dari aktingnya Hiro Mizushima itu bukan facial expression-nya, tapi gesture dan intonasi suaranya.  Mizushima berbicara dengan cara yang anggun namun juga mempunyai unsur playfulness.  Gue rasa Mizushima berhasil memerankan sosok Sebastian Michaelis karena dia berhasil menarik perhatian gue, yang tadinya gak tahu apa-apa soal Sebastian Michaelis, malah tergila-gila sama dia sekarang.   Gue suka bagaimana penulis dapat menunjukan kesetiaan Sebastian, tapi di sisi yang lain, Sebastian tidak takut memainkan nyawa tuannya di waktu tertentu.  Meskipun Sebastian 'terikat' untuk melayani Kiyoharu, there's still a sense of independence from Sebastian.  Tidak hanya karena Sebastian lebih kuat daripada Kiyoharu, tapi ada sesuatu dari aura dan watak Sebastian yang membuatnya...agak bebas dan mandiri.

Ciel Phantomhive di otak gue merupakan sosok tuan muda yang karismatik, dingin, kaku, tapi juga agak pemalu.  Sayang, Ayame Gouriki gagal mewujudkan Ciel Phantomhive.  Atau mungkin karena Ciel Phantomhive yang di otak gue berbeda dengan Ciel yang di komik ataupun anime?  Oke, oke, Ayame Gouriki tidak berperan sebagai Ciel di film ini, tapi sebagai Kiyoharu Genpo.  Entahlah, bukankah orang yang memimpin suatu perusahaan besar dan mata-mata ratu harusnya mempunyai aura seorang pemimpin atau karisma yang besar?  Gouriki tidak memiliki unsur ini.  Bukan hanya itu, terkadang ekspresi Gouriki terlihat seperti dipaksakan.  Memang ada momen dimana aktingnya bagus, tapi ada juga momen dimana it's awkward to watch her.  Sayangnya juga, chemistry antara Gouriki dan Mizushima kurang terasa.   

Tapi untungnya hubungan antara Kiyoharu dan Sebastian tergali dengan cukup baik disini.    

theeoy.com
Waktu gue melihat ada mobil yang dikendarai dengan agak aneh dan di mobil itu ada mumi, somehow, gue mengira bahwa film ini merupakan pertemuan antara Confession (Kokuhaku) dan Battle Royale.  Artinya, film ini merupakan film misteri gelap bercampur dengan bunuh-bunuhan yang berdarah.  Sadly, Black Butler is far from Confession or Battle Royale.  Gue malah merasa agak bosan dengan film ini dan pengen cepat-cepat keluar dari bioskop.  Why?  Karena durasinya kepanjangan.  Kalau durasinya panjang tapi akting, plot, dan sinematografinya bagus sih yang jelas gak apa-apa.  But I think this film is mediocre.

Yes, there are some twists in this film, but overall, film ini gak punya cerita misteri yang 'menggigit'.  I don't really know why, pertama-pertamanya sih gue ngikuti dan kepo dengan misteri yang ditawarkan film ini.  Tapi lama-kelamaan gue males dan udah gak kepo lagi dengan misterinya.  Gue rasa karena twist yang ada di film ini malah backfire ke filmnya.  Beberapa twist agak nonsense bagi gue.  Karena ada terlalu banyak twist, gue malah mikir "masa bodo, suka-suka penulisnya aja".  Gue paling gak suka adegan dimana Kiyoharu dan Sebastian menghadapi dalang dari kekacauan yang terjadi di film ini.  Seriously, it's awkward to watch it karena aktor yang jadi 'si dalang' gak punya kemampuan akting yang kuat.  Nangisnya kelihatan maksa and the evil laugh is really awkward for me.    

Gue juga punya hubungan love-hate dengan sinematografinya.  Ada gambar-gambar bagus, tapi seringkali sinematografinya terasa biasa banget.  Gue rasa karena crew film ini jarang menggunakan long-range shot.  Kebanyakan adegan diambil dengan jarak yang pendek.  Sayang sekali aktor-aktor ini tidak punya skill yang sejajar dengan Jack Nicholson ataupun Meryl Streep.  Bukannya melihat aktor yang berakting dengan penuh emosional, kita malah melihat aktor yang ekspresinya maksa banget.  Nuansa gelap yang kurang dikontrol dengan baik juga membuat gue kurang suka dengan teknik sinematografinya.

Mungkin karena pengalaman musik Ghibli gue sangat bagus makanya gue berharap musik di film ini juga bisa menyaingi musiknya Joe HisaishiOh well, not everybody can be Joe Hisaishi.  Gue malah terkadang terganggu dengan musiknya, entah karena musiknya emang gak cocok dengan adegannya atau sound system bioskopnya yang jelek.

Unless you're a fan of Black Butler a.k.a Kuroshitsuji, I don't recommend this film for you.  The mystery is pretty good, but the other aspects of this film don't encourage me to keep watching this film.  The actors -other than Hiro Mizushima- are pretty awkward for me.  4,3/10                    

 

Sabtu, 07 Juni 2014

The Girl who Leapt Through Time: An awesome romcom animation with light sci-fi

Time waits for no one.
animea.net
The Girl who Leapt Through Time merupakan film animasi yang terinspirasi dari sebuah novel Jepang yang berjudul sama.  Gue menulis "inspirasi" karena tokoh dan latar film ini berbeda dengan yang ada di novel.  The Girl Who Leapt Through Time dirilis pada 2006 dan disutradarai oleh Mamoru Hosada serta ditulis oleh Satoko Okodera.  Film yang berdurasi 98 menit ini ternyata bisa mengambil hati para kritikus film.

Makoto Konno merupakan seorang gadis SMA dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.  Ia tinggal bersama keluarganya, ia hobi bermain baseball dengan dua sahabatanya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.  Suatu hari, Makoto terlambat pergi ke sekolah.  Ia mengira bahwa ia hanya akan mengalami satu kesialan.  Tapi ternyata kesialannya berjalan terus.  Ketika Makoto berada di laboratorium, ia menemukan sebuah alat yang berbentuk seperti kacang.  Ia juga merasa ia didorong seseorang.  Namun Makoto hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan bergegas untuk mengantarkan kue kepada bibinya.  Makoto mengendarai sepedanya.  Saat lampu menandakan kereta akan lewat, Makoto tidak bisa menggunakan rem sepedanya.  Ia menabrak portal dan terlempar.  Tiba-tiba, ia kembali ke beberapa menit sebelum menabrak portal kereta.  Makoto yang bingung langsung berbicara kepada bibinya mengenai apa yang terjadi.  Bibi Makoto mengatakan bahwa Makoto mempunyai kemampuan untuk kembali ke waktu.

Makoto pun terus berusaha untuk menemukan cara kembali ke masa lalu.  Ternyata untuk kembali ke masa lalu, Makoto harus melakukan sebuah loncatan atau putaran.  Makoto menggunakan kekuatannya untuk hal-hal ringan seperti tidak terlambat, karaoke berulang kali, membaca arah bola baseball, dsb.  Namun ketika nyawa salah satu teman Makoto terancam, sisa kemampuan Makoto hanya satu.

primeedges.wordpress.com

I'm not a big fan of Japanese animation and manga.  Gue kalau nonton anime gak rajin-rajin amat dan baca manga secara random.  Entahlah, mungkin karena gue juga bukan penggemar berat film-film sci-fi dan fantasi gak jelas ataupun komik shojo dengan cerita romance yang membosankan.  Apalagi animasi Jepang itu rough at the edge, gak 'sebersih' animasi USA.  Tapi akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama film animasi Jepang (bukan yang seri).  The Girl who Leapt Through Time tidak mempunyai animasi yang seindah Ghibli ataupun yang dibuat Makoto Shinkai, tapi....  

I LOVE THE GIRL WHO LEAPT THROUGH TIME.

Alur cerita yang ditawarkan film ini sama sekali gak original atau unik, tapi Mamoru Hosada dan Satoko Okudera dapat mengemas keseluruhan film secara baik.  Ada komedi, romance, dan sci-fi, meskipun  sci-fi film ini gak akan membuat lo jedot-jedotin kepala ke tembok kayak Inception ato The Matrix.  Salah satu pengguna youtube mengatakan bahwa komedi di film ini bukan jenis komedi yang bakalan bikin lo ngakak, tapi gue ngakak nonton film ini.  Bahkan gue tetap ngakak waktu kedua kalinya gue nonton film ini. 

Gue suka semua tiga tokoh utama film ini karena mereka gak punya sifat yang benar-benar menonjol untuk dimasukkan ke sebuah stereotipe.  

theonlineanimestore.blogspot.com

Mungkin awalnya Makoto terlihat sebagai one-of-those-clumsy-and-cutesy-Korean-drama-heroines, tapi ternyata tidak.  Dia memang ceroboh, tapi bukan jenis ceroboh yang membuat lo jijik.  Ketika dia sedang ceroboh, dia tidak melebarkan matanya, menggigit bibirnya, dan hal-hal klise seperti itu.  Dia juga bukan tokoh yang totally idiot.  Makoto masih mempunyai akal sehat yang kuat untuk menangkap dan memahami beberapa hal.  Plus, rambutnya pendek dan ia bisa bermain baseball.  Ia juga tidak popular ataupun seorang outcast.  Cuma satu yang gue gak suka dari Makoto: gue gak suka cara nangisnya dia, secara visual maupun audio.  Suaranya cempreng aja kalau lagi nangis.  Tapi secara keseluruhan, voice actor yang mengisi suara Makoto bagus kok.  Dia cukup ekspresif ketika mengisi suara. 

At first, I thought Chiaki Mamiya was another carbon-copy of Usui from Maid-sama.  Untungnya gue salah.  Chiaki Mamiya bukanlah Gary Sue, which means he's not perfect.  Dia memang memiliki penggemar, tapi bukan berarti seluruh perempuan memuja dan mendewakan Chiaki.  Yang lebih mirip Gary Sue justru Kosuke.  Dia pintar, cukup atletis, tidak pernah telat, bahkan memiliki penggemar seperti Chiaki *walaupun gak seheboh Usui*.  But I know he's not Gary Sue from his appearance.  Bajunya gak rapi dan kupingnya Kosuke punya semacam anting atau tindikan.  Kepintarannya juga bukan jenis pintar yang kayak Einsten.  The point is, all of them are normal teenagers.   

Di film romance, biasanya kalau ada persahabatan yang melibatkan tiga orang akan ada the other guy/girl dan atau cinta segitiga yang memuakkan.  The other guy/girl bisa berarti cewek atau cowok yang cintanya tidak dibalas atau teman yang menjadi tidak relevan.  Gue rasa hal ini tidak terjadi di The Girl who Leapt Through Time.  Baik Satoko maupun Mamoru melakukan usaha yang bagus dalam membuat seluruh tiga tokoh utama tetap menjadi tokoh utama.  Ketika Makoto bingung mengenai perasaanya kepada salah satu temannya, Satoko Okodera memberikan kita momen-momen antara Makoto dengan 'the other guy'.  Bahkan 'the other guy' ini malah mengantarkan penonton pada twist film The Girl who Leapt Through Time.  Gue sampai bingung mau ngeship Makoto sama Kosuke atau Chiaki.  Tapi sayangnya, hanya Makoto yang mempelajari sesuatu di film ini.  Chiaki dan Kosuke tidak bertambah dewasa di film ini.  But at least they still have characters.         

The Girl Who Leapt Through Time doesn't have fresh, original, or mind-provoking plot, but at least the plot is still good, even we can learn something from this film.  If you expect anything like Akira or Spirited Away, I don't recommend this film for you.  But if you expect above-average entertainment, then I recommend this film for you.  8,7/10      

    

Selasa, 27 Mei 2014

Garden of Words (Kotonoha no Niwa)

pic cr: tube.hk
Makoto Shinkai merupakan seorang animator Jepang yang disebut-sebut sebagai The New Miyazaki walaupun Shinkai sendiri menganggap pernyataan itu sebagai overstatementGue jadi kepo karena gue pengen tahu apa yang membuat dia bisa disetarakan dengan Hayao Miyazaki.  Jujur, walaupun 5 centimeters per second benar-benar mempengaruhi pikiran dan perasaan gue, I don't really think it's an awesome film, or even in the same level with Spirited Away.  Tapi gue mau 'memberikan kesempatan kedua' pada Shinkai lewat film Garden of Words (2013)

Takao (Miyu Irino) selalu membolos jam pertama sekolah jika pagi itu hujan.  Ia pergi ke sebuah taman dan mendesain sepatu.  Disana, ia bertemu dengan seorang wanita (Kana Hanazawa) yang suka minum bir dan cokelat di taman itu.  Akhirnya mereka selalu bertemu di taman itu ketika hujan di pagi hari.  Pertemuan-pertemuan itu membuat mereka nyaman satu sama lain walaupun mereka tidak tahu sama lain.  

Lama-kelamaan, musim hujan berakhir.  Mereka selalu menunggu hujan agar dapat menemukan alasan untuk pergi ke taman tersebut.  Suatu hari, Takao dan wanita itu berpapasan di sekolah Takao.  Ternyata wanita itu adalah Ms. Yukari Yukino, salah satu guru di sekolah Takao.

WARNING: ADA SPOILER

pic cr: leap250.wordpress.com

I still don't understand why people compare Shinkai with Miyazaki.  Both of them are good with what they do, but they certainly have different styles.  Jika Miyazaki bagaikan David Lynch atau Stanley Kubrick yang punya sentuhan surealisme dan plotnya agak berat, maka Shinkai merupakan one of those artsy-indie-modern arthouse's directors.  Get it?  In some way, harus gue akuin kalau gaya animasinya Shinkai lebih keren daripada Miyazaki.  Pewarnaannya bagus banget, gambarnya lebih smooth, dan sudut pengambilan gambarnya super keren.  Bahkan terkadang terasa seperti film live action.  Tapi kalau soal cerita?  Gue tetap milih Miyazaki.

Gue merasa bingung setelah nonton film ini, terutama karena gue ngerti apa yang ingin disampaikan Shinkai lewat film ini.  Atau mungkin Shinkai tidak ingin menyampaikan apa-apa dan sekedar membuat cerita tentang dua orang?  Entahlah, tapi gue rasa Garden of Words bukanlah jenis film pretensius yang mencoba untuk menjelaskan kehebatan cinta atau 'action speaks louder than word' seperti kebanyakan film arthouse bisu gak jelas.  Film "Garden of Words" memang terlihat realistis dan menceritakan slice of life, tapi ada bagian yang gak 'sreg' dengan kehidupan nyata.  Berdasarkan pengalaman hidup selama 15,5 tahun, gue sadar bahwa seseorang bisa nyaman dengan seorang lainnya jika mereka saling berbicara.  Karena lewat berbicara mereka akan sadar apa yang cocok dan tidak cocok di antara mereka.  Bukan berarti orang yang akrab harus selalu berbicara satu sama lain, tapi kalau dua atau lebih orang akrab dan merasa nyaman satu sama lain, mereka pasti sudah melewati fase itu.  Di film "Garden of Words", Takao dan Yukino belum melewati fase itu.  Hell, mereka bahkan gak tahu nama satu sama lain sebelum mereka berpapasan di sekolah Takao.  Bahkan terkadang Takao merasa komunikasi mereka 'satu arah' karena Yukino hampir tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Takao.  So, bagaimana bisa Takao jatuh cinta pada Yukino dan bagaimana bisa Takao menyelamatkan Yukino?

pic cr: anbient.net

Menjelang akhir film, Takao menyatakan cintanya pada Yukino.  Gue berasumsi bahwa Takao hanya berpikir ia mencintai Yukino.  Ia tidak benar-benar mencintainya.  Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa benar-benar mengenal orang itu?  Ia bahkan tidak pernah bertanya nama Yukino.  Takao is charmed by Yukino to the point he thinks he's in love with Yukino.  Anyway, respon Yukino terhadap pernyataan cinta Takao sepertinya tidak seperti yang diharapkan oleh Takao.  Takao akhirnya pergi dari apartemen Yukino.  Lalu Yukino mengejarnya tapi Takao malah mengatakan bahwa ia membenci Yukino dan menuangkan kefrustasiannya pada Yukino.  Lalu Yukino memeluknya dan mengatakan bahwa Takao menyelamatkannya.  Mungkin kebanyakan penonton berpikir bahwa setidaknya Yukino dan Takao punya 'harapan' dan tidak berakhir tragis seperti Akari dan Takaki di film 5 centimeters per second.  Sebaliknya, gue menangkap bagaimana perasaan dan kata-kata orang bisa berubah.  Seperti Takao yang mengatakan cinta lalu -tidak sampai satu jam- mengatakan benci.

Kita tahu bahwa Takao dan Yukino selalu bertemu di sebuah taman jika hujan turun di pagi hari.  Apakah mereka benar-benar menyukai hujan atau mereka hanya menggunakan hujan sebagai alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata?  Gue menginterpretasikan taman yang mereka kunjungi sebagai dunia khayalan mereka.  Dimana mereka bisa lepas dari segala tekanan sekaligus mendapatkan teman.  They are so overwhelmed by their little worlds in the garden sampai mereka gak pernah nanya nama masing-masing ataupun berpikir jika salah satu di antara mereka itu psikopat, pencuri, dll.  Ketika hujan tak kunjung datang, akhirnya mereka pergi ke taman itu walaupun hanya sekali-dua kali.

Gue bingung apakah Shinkai ingin menunjukkan sisi realistis kehidupan atau ilusi yang dialami manusia lewat Kotonoha no Niwa.  Jika Shinkai memang ingin menyampaikan sesuatu lewat film ini, gue rasa pesan itu kurang jelas atau terlalu subtle.  Kotonoha no Niwa hanya menunjukan bahwa Makoto Shinkai pantas disejajarkan oleh Hayao Miyazaki dalam bidang visual, bukan cerita.  6/10 

P.S: Soal soundtrack, gue lebih suka 5 centimeters per second.

          

Senin, 26 Mei 2014

My Neighbor Totoro: A down-to-earth film with magic.

Tonari no totoro, totoro. -Azumi Inoue
pic cr: sailormoonnews.com


Saya rasa setiap pecinta film dan anime tahu film My Neighbor Totoro.  Film animasi tahun 1988 ini sukses melambungkan nama Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli.  Film ini juga masuk ke berbagai dan daftar film dunia terbaik dan film animasi terbaik.  Lagu temanya pun juga terkenal.  Studio Ghibli juga menggunakan Totoro sebagai maskot mereka.  

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik yang bernama Mei dan Satsuki.  Mei dan Satsuki pindah rumah ke desa bersama ayah mereka.  Namun sang ibu tidak bisa ikut karena ia masih dirawat di rumah sakit.  Tapi hal itu tidak menghentikan keceriaan dan semangat Mei & Satsuki.  Mei & Satsuki mempunyai sifat yang periang, penuh rasa ingin tahu, dan suka berpetualang.  Mereka juga malah senang ketika mengetahui kalau rumah mereka dihantui.

Suatu hari, Mei yang sedang bermain-main melihat dua mahluk unik dan kecil.  Mei memutuskan untuk mengikuti mereka berdua hingga akhirnya ia masuk ke sebuah pohon.  Ia 'jatuh' diatas badan sebuah mahluk raksasa.  Bukannya takut, Mei malah menggeletik mahluk itu.  Untungnya, mahluk itu hanya membuka matanya dan tidak menyakiti Mei.  Mei memanggil mahluk itu Totoro.  Tiba-tiba, Mei terbangun dan ia tidak berada di pohon itu tersebut, Totoro juga menghilang.  Mei merasa kesal karena kakak dan ayahnya tidak mempercayai dia.  Hingga suatu malam, Satsuki melihat sendiri Totoro dan sebuah bus kucing.

pic cr: rogerebert.com
Saya kira My Neighbor Totoro akan memusingkan saya dan memaksa otak saya untuk membuat berbagai interpretasi karena film ini sering disebut sebagai film terbaik Miyazaki.  Surprisingly, film ini cukup mudah untuk diikuti.  Bagi saya, simbolisme ataupun metafora yang di dalam film ini tidak serumit Spirited Away.  Atau mungkin saya yang terlalu bodoh sehingga saya tidak memperhatikan metafora yang lebih subtle, haha. 

Menurut Roger Ebert, film ini dibangun berdasarkan situasi, pengalaman, dan eksplorasi, bukan berdasarkan ancaman dan konflik.  Saya setuju dengan pernyataan itu karena tidak ada konflik yang besar pada film ini.  Film ini bergerak berdasarkan 'petualangan' kecil Mei dan Satsuki di desa mereka.  Di film ini juga tidak ada 'si baik' ataupun 'si jahat'.

Saya menikmati saja melihat Mei dan Satsuki berpetualangan di desa mereka bersama Totoro.  Saya juga suka menonton ikatan antara Mei dan Satsuki yang dibangun dengan apik oleh Miyazaki.  Gambar-gambar desa mereka juga membuat saya merasa kangen dengan kampung saya sendiri, haha.  Tapi, saya tetap merasa agak jenuh di beberapa adegan.  Saya menunggu-nunggu konflik itu datang, tapi ternyata tidak ada konflik atau ancaman besar seperti Howl's Moving Castle.  Apakah Miyazaki membiarkan film ini menjadi danau yang datar?  Tidak, Miyazaki tetap memberikan sedikit konflik, namun ia menyelesaikan konflik itu tanpa berbasa-basi ataupun terkesan terburu-buru.  Anyway, two thumbs up for Joe Hisaishi.  His music is so damn beautiful!   

pic cr: redofpaw.wordpress.com

Totoro dan buscat *I don't know how to call it* hanya bisa dilihat oleh Mei dan Satsuki.  Saya kurang yakin apakah anak-anak lain seperti Kanta atau teman Satsuki lainnya bisa melihat mereka berdua.  Saya rasa hal ini dipengaruhi oleh sifat mereka yang penuh rasa ingin tahu, suka berpetualang, dan somehow menyatu dengan alam.  Karena mereka penuh rasa ingin tahu, mereka tidak memperhatikan hal dengan sambil lalu atau menganggap semuanya wajar.  Tidak seperti orang dewasa yang rasa ingin tahunya berkurang dan menganggap semuanya logis sehingga terkadang mereka tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu yang mengagumkan.  Kita tahu bahwa ada konsep believing is seeing.  Secara umum, anak-anak memiliki iman yang lebih kuat daripada orang dewasa.  Iman inilah yang mengatarkan anak-anak pada berbagai hal magis dan menabjubkan, sama seperti Mei dan Satsuki yang mempunyai iman. 

Film ini juga memberikan beberapa unsur spiritual seperti adegan sang ayah yang menjelaskan tentang pohon besar dan penjaga hutan (Totoro), ataupun adegan dimana Satsuki 'meminta ijin' untuk berteduh di suatu tempat.

Ternyata oh ternyata, ada sedikit misteri dan kengerian pada film Totoro.  Ada beberapa orang yang menganggap Totoro bukanlah penjaga hutan, tapi dewa kematian.  Ada juga yang mengaitkan film My Neighbor Totoro dengan Insiden Sayama karena latar tempat film ini berada di Sayama.  Insiden Sayama sendiri merupakan kasus kematian dua kakak-beradik yang cukup tragis.  Ceritanya, ada seorang anak yang tidak pulang ke rumah.  Lalu mayatnya ditemukan sendiri oleh kakaknya.  Kakaknya yang merasa depresi pun bunuh diri.  Cerita selengkapnya ada disini.  Saya memang merasa agak ngeri ketika melihat 'senyuman' Totoro dan buscat, tapi saya merasa kurang yakin kalau film seimut My Neighbor Totoro *secara tidak langsung* menceritakan Insiden Sayama.  Fakta itu membuat saya merasa tidak enak saja.

Terkadang, agak sulit bagi saya menemukan film yang 'benar-benar untuk anak' dari film Disney karena kebanyakan film Disney mempunyai nilai moral hitam-putih dan unsur romansa yang lebih cocok untuk orang dewasa.  Film My Neighbor Totoro merupakan salah satu contoh film animasi yang 'benar-benar untuk anak' karena film ini tidak unsur romansa, moral hitam-putih, putri lemah yang harus diselamatkan pangeran, dsb.

Saya kurang menyarankan film My Neighbor Totoro bagi mereka yang mengharapkan petualangan dan atau konflik besar, tapi My Neighbor Totoro merupakan film yang tetap bisa dinikmati. 8,3/10  

         

Kamis, 22 Mei 2014

Cinema Paradiso #8: Artikel Sok Angsty dan Melankolis Tentang "5 Centimeters per Second"

Pic cr: sepasangkata.wordpress.com

Biasanya, kalau gue mau ngomong tentang satu film, gue bakal review film itu dan nilai aspek efek, sinematografi, akting, plot, dsb.  Lalu, gue bakal menentukan nilai film itu.  Well, hal-hal itu tadinya akan gue lakukan untuk film 5 centimeters per second.  But in the end, gue memutuskan untuk bacot tentang perasaan dan pemikiran gue setelah menonton film itu.

THERE'S F**KIN SPOILER IN THIS POST!!!

Sebelum gue nonton film ini, cuma ada satu film yang benar-benar membuat gue berharap film itu berakhir bahagia, yaitu Never Let Me Go.  Hanya ada dua film yang membuat gue depresi berhari-hari setelah nonton film itu, yaitu Magnolia dan Blue Valentine.   5 Centimeters per Second masuk ke dua kategori tersebut.

Gue gak merasa langsung depresi setelah menontonnya.  Tapi gue membiarkan pikiran gue melayang-layang tentang film ini.  Kenapa?  Karena waktu gue mikirin film ini, terjadi kemacetan dalam proses boker gue.  

Lu mau tahu fakta super kocak?  Gue berharap nih film berakhir bahagia, tapi gue tahu gue bakal mencaci maki film ini kalau film ini dapet happy ending.  But I just can't stand the melancholy and bitterness in this film's ending!  I didn't even know why I feel so mad, depress, and angsty about the ending.  Bahkan perasaan yang gue rasakan lebih dari yang gue rasakan setelah menonton Never Let Me Go, Magnolia, ataupun Blue Valentine.  Gue juga udah banyak nonton film romance yang tidak berakhir bahagia seperti Annie Hall, (500) Days of Summer, Remains of the Day, dan tentu saja, Blue Valentine.  Lalu gue sadar bahwa gue benci ending-nya bukan karena Takaki dan Akari tidak bersama alias pacaran di akhir film.

Apa yang terjadi pada Takaki merupakan salah satu ketakutan gue.

Takaki tidak menggunakan kesempatan dan keberuntungannya sama sekali.  Pada kesempatan pertama, Takaki diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Akari.  Dia tidak menggunakan kesempatannya.  Selanjutnya, Takaki diberi kesempatan untuk melupakan Akari dan melanjutkan kehidupannya.  Tidak hanya sekedar melanjutkan kehidupannya, tapi ia juga diberi kesempatan untuk tidak merasakan kepahitan hidup dan kesepian.  Namun, Takaki malah terus memandang jauh dan mengharapkan sesuatu tanpa memperjuangkan hal itu.  Ia tidak melihat sekelilingnya dan berjuang untuk hal yang lebih mudah diperjuangkan.  And he lost the second chance.  Akibatnya dia harus hidup dalam a pool of (un)happiness.  Sama seperti ababil galau lainnya, dia susah move on dari orang yang dicintainya. 

Hal-hal itulah yang gue takutkan.  Gue takut suatu saat nanti hidup gue dipenuhi ketidakbahagiaan, what ifs, dan susah move on dari memori.  Inilah yang membuat 5 Centimeters per Second membuat gue lebih depresi daripada film Magnolia dan Blue Valentine.  

Bagaimana dengan nasib Akari?  Akari -sekilas- bisa hidup lebih baik daripada Takaki.  Dia memang juga tidak berani mengungkapkan perasaannya, tapi Akari berhasil membuka dirinya dan move on dari masa lalunya dengan Takaki.   

Pic cr: agilcahyap.wordpress.com

Betapa kontrasnya Takaki dan Akari, bukan?  Kita juga bisa melihat dari adegan crossrail mereka, dimana Takaki menunggu untuk melihat wajah Akari sementara Akari tidak menunggu Takaki.  Itu artinya hati Takaki masih saja menunggu Akari, sedangkan Akari sudah 'melepaskan' Takaki dan bertunangan dengan pria lain.

Salah satu blogger merasa marah bagaimana Takaki 'diperlakukan' secara tidak adil oleh sang penulis, karena hanya Takaki lah yang menderita di film ini.  Tadinya gue merasa marah juga karena alasan yang sama dengan blogger tadi.  Tapi pada akhirnya, Takaki memang 'pantas' mendapatkan 'hukuman' seperti itu.  Ia harus membayar harga yang mahal untuk kebutaannya dan kepengecutannya.  

Gue rasa -dalam hidup-, seseorang harus melakukan kesalahan agar orang lain belajar dan atau tidak mengulang dari kesalahan yang telah dilakukan.  Seandainya Takaki tidak melakukan kesalahan, apakah penonton akan belajar sesuatu dari film ini?  Seandainya film ini berakhir bahagia, apakah penonton akan menyadari sesuatu dari film ini?

Gue udah tahu jawaban dari dua pertanyaan tadi.  But I can't help to imagine that Takaki and Akari have a happy ending.         

Minggu, 18 Mei 2014

Howl's Moving Castle: "Ghibli's refreshing version of Beauty and the Beast"


Pengalaman gue dalam menonton film Ghibli gak banyak sih.  Buktinya Howl's Moving Castle merupakan film Ghibli kedua yang gue tonton dari sekian banyak film yang diproduksi Ghibli Studio.  Howl's Moving Castle merupakan film animasi fantasi 2004 yang disutradarai dan ditulis oleh Hayao Miyazaki.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Diana Wynne Jones. 

Sophie merupakan anak tertua dari tiga bersaudara dan ia bekerja di sebuah toko topi.  Suatu hari, Sophie dikejar oleh sekelompok mahluk aneh dan ia diselamatkan oleh seorang penyihir, Howl.  Sophie langsung jatuh hati dengan Howl yang tampan dan menawan.  Adik Sophie langsung memperingatkan Sophie untuk tidak jatuh cinta dengan Howl karena ada isu mengenai Howl yang suka makan jantung gadis-gadis muda.  Suatu malam, toko Sophie dikunjungi oleh Witch of the Waste LandKarena Sophie menolak melayani si penyihir, Sophie pun dikutuk sehingga penampilanya terlihat seperti wanita tua.

Sophie pun berkelana untuk mematahkan kutukannya.  Tiba-tiba, ia menemukan sebuah scarecrow yang bisa meloncat-loncat, namun tidak bisa berbicara.  Ia menamainya Turnip head.  Tiba-tiba, hujan turun dan mereka menumpang di sebuah rumah yang bergerak.  Sophie berkenalan dengan Markl, murid Howl, dan Calcifer, sebuah fire-demon.  Sophie menyatakan dirinya sebagai pelayan baru Howl. 

Namun hidup Sophie dengan mereka tidaklah berjalan mulus karena adanya perang yang sedang berlangsung di negeri Sophie.  Howl terus saja diminta untuk berpatisipasi dalam perang walaupun ia sering menghindarinya.  Bagaimana kelanjutan kisah Sophie dengan teman-temannya? *jengjeng* 

WARNING: *KAYAKNYA SIH* MENGANDUNG SPOILER


I have a love-hate relationship with Ghibli's anime style.  Dalam beberapa hal, gue lebih suka gaya animasi Disney karena menurut gue animasi Disney tuh lebih halus dan lebih polished.  But at the same time, terkadang gue gak suka dengan gaya animasi yang terlalu polished dan bisa menghargai gaya animasi Ghibli (yang menurut gue) rada rough at the edge.  Salah satu hal yang menurut gue menonjol dari Ghibli adalah kemapuan Ghibli yang bisa memberikan sentuhan surealisme dan horor psikologis.  Berbeda dengan beberapa film Disney yang biasanya memberikan sentuhan horor klasik, horor pada film-film Ghibli lebih bersifat disturbing.  Fantasi dalam studio Ghibli pun menurut gue lebih bagus daripada Disney karena fantasinya gak gitu-gitu aja.

Beberapa orang mengatakan bahwa Howl's Moving Castle merupakan salah satu film Miyazaki yang lemah.  Gue langsung shock karena film yang 'lemah' aja udah bisa bikin gue ngefans berat, apalagi film terbagusnya?!!!  Sama seperti kebanyakan film Ghibli, Howl's Moving Castle pun punya unsur-unsur surealisme dan horor psikologi.  Well, walaupun gue bilang PUNYA, jangan expect porsi unsur horornya dominan banget kayak Ju-on ato The Ring.      

Beberapa orang mengatakan biasanya film-film Miyazaki tidak mempunyai antagonis yang jelas.  Namun at some point, Howl's Moving Castle mempunyai 'antagonis' seperti Witch of the Waste Land, yang mengutuk Sophie, dan Sulliman, penasihat istana yang terus saja 'memburu' Howl.  Namun gue mempertanyakan kembali posisi mereka sebagai 'antagonis' di film ini.  Kita semua tahu tentu tahu antagonis adalah orang yang melawan protagonis dalam suatu karya sastra.  Baik si penyihir maupun Sulliman merupakan antagonis karena mereka melawan protagonis.  Tapi tindakan si penyihir menjelang akhir film tidak benar-benar mencerminkan dirinya sebagai antagonis.  Ketika si penyihir mengambil jantung Howl, apakah tindakannya untuk melawan Sophie atau karena ia memang childish dan terobsesi pada Howl?  Gue menilai bahwa alasan si penyihir mengambil jantung Howl karena alasan yang kedua.  Bahkan gue sadar kalau alasan si penyihir mengutuk Sophie bukan karena ia jahat.  Ia memang 'melawan' Sophie, tapi itu semua didasari oleh wataknya yang kekanak-kanakan.  Begitu juga dengan Sulliman.  Sulliman memang 'melawan' Howl, namun bukan untuk menghancurkan Howl, tapi untuk mempertahankan negaranya.  Dia tidak punya tujuan yang jahat pada Howl.  

Setiap orang mempunyai interpretasi sendiri terhadap kutukan Sophie.  Ada yang mengatakan bahwa kutukan Sophie melambangkan orang-orang tua yang mempunyai jiwa muda, ada juga yang mengatakan bahwa Sophie melambangkan orang tua dan orang muda di saat yang sama.  Gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Mungkin ini karena gue baca sedikit tentang novelnya, jadi interpretasi gue lebih ke arah novelnya, bukan filmnya.  Sophie merasa insecure kepada dirinya karena ia tidak semenawan atau semenarik adik-adiknya.  Ia memandang dirinya sebagai orang yang membosankan, apalagi ia tertua dari tiga bersaudara.  Insecurity Sophie diperlihatkan secara obviously dalam film ini.  Ada adegan dimana tiba-tiba Sophie kembali menjadi muda dan ia & Howl berjalan-jalan di suatu taman.  Lalu Howl mengatakan bahwa Sophie cantik, dan tiba-tiba Sophie berubah kembali menjadi wanita tua.  Lalu pada adegan dimana Sophie berdebat dengan Sulliman mengenai Howl.  Sophie berdebat dengan penuh gairah dan percaya diri sehingga ia berubah kembali menjadi wanita muda.  Dua adegan ini juga yang membuat gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Pernah dengar istilah "You are what you think"?  Nah, kutukan Sophie cocok dengan istilah ini.


Howl punya sifat yang kekanak-kanakan karena ia memberikan jantungnya kepada Calcifer saat ia kecil.  Biasanya, orang yang mengalami peristiwa yang traumatis atau mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, akan membuat orang itu menjadi dewasa dengan lebih cepat.  Tapi Howl malah mempunyai sifat kekanak-kanakan.  Mengapa?  Gue punya semacam...dua interpretasi.  Pertama, tentu saja karena ia tidak mempunyai jantung (heart dalam bahasa Inggris) kemampuannya dalam mengelola perasaannya tentu saja kurang.  Hal ini juga bisa mengakibatkan Howl untuk tidak memikirkan orang lain.  Kedua, karena ia mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, hal ini membuat Howl -in some way- kehilangan masa kecilnya.  Kerinduannya untuk menjadi anak yang normal diekspresikan dengan wataknya yang childish.   

Markl dan Calcifer tentu saja merupakan perpaduan antara deutragonis (tokoh yang berpihak pada protagonis) dan utility (tokoh pembantu yang ikut membentuk cerita).  Jelas keduanya berpihak dan membantu Sophie & Howl.  Tokoh Markl yang masih anak-anak melambangkan anak yang membutuhkan tokoh ibu dalam hidup mereka.  Calcifer juga membutuhkan Sophie karena Calcifer membutuhkan seseorang untuk membebaskan dirinya dari Howl.  Calcifer juga yang membuat Sophie dan Howl bertemu.  Bagaimana caranya?  Makanya, nonton filmnya baik-baik, hahaha.  Hal-hal inilah yang membuat Sophie 'terikat' di istana dan membentuk koneksi tidak hanya pada Markl dan Calcifer, tapi juga dengan Howl.

Sebenarnya kisah cinta antara Sophie dan Howl kurang diolah dengan baik.  Proses jatuh cinta di antara mereka agak vague dan terasa agak singkat.  But...I can't help but ship them!  Seriously, I love Sophie-Howl couple!  

Anyway, terima kasih banyak sama engkong Joe Hisaishi karena musiknya menambah emosi dan membuat penonton semakin hanyut dalam film ini.  Sumpah, aransemen musiknya keren banget.  Apalagi Merry-Go-Round of Life, keren banget dah.  Lagu penutupnya, Promise of the World menurut gue lebih bagus daripada Always With Me karena teknik vokal penyanyinya yang lebih stabil daripada penyanyi Always With Me.  Gak cuma lagi penutup sih, secara kesuluruhan, musik dari Howl's Moving Castle lebih bagus daripada Spirited Away.

Overall, Howl's Moving Castle maybe is one of Miyazaki's weak film, but it's still a deep, beautiful, and innovative.  The animation is a bit rough in the edge, but the surrealism and a bit horror touch certainly fix it.  Both Beauty and the Beast and Howl's Moving Castle have appearance and curse aspects, but I'm gonna say that Howl's Moving Castle is freshier than Beauty and the beast.  9,7/10  

pic cr: 
movies.disney.com
fact.co.uk
wordsofconfession.wordpress.com