Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2022

[A Review-ish] Pengabdi Setan 2: Communion [SPOILER ALERT]

Akhirnya sekuel dari Pengabdi Setan ditayangkan pada Agustus tahun ini. Jarak antara sekuel dan film pertama cukup lama, yaitu sekitar lima tahun. Film yang digarap oleh Joko Anwar dan dibintangi oleh Tara Basro ini merupakan salah satu film Indonesia yang ditunggu-tunggu. Buktinya film tersebut sudah mencapai satu juta penonton kurang dari seminggu. Film ini mengikuti kehidupan keluarga Rini yang terdiri dari Rini sendiri, bapak, Bondi, dan Toni. Sekarang mereka tinggal di sebuah rusun (rumah susun) yang cukup terpencil. Hidup di rumah susun tentu saja membuat mereka memiliki beberapa tetangga seperti Tari (Ratu Felisha), seorang PSK yang sering digoda oleh Dino (Jourdy Pranata). Bondi memiliki beberapa teman baru, salah satunya adalah Wisnu, yang dianiyaya oleh bapaknya sendiri. Suatu malam, para penduduk rumah susun khawatir karena adanya peringatan mengenai badai. Namun kekhawatiran mereka berubah menjadi ketakutan ketika suatu kecelakaan mematikan terjadi di rumah susun tersebut.

Pengabdi Setan 2 kembali dengan beberapa aspek yang lebih tentu saja. Sinematografinya jauh lebih bagus dan cantik daripada film sebelumnya. Penggunaan cahaya juga sangat efektif, tidak hanya bagian horornya tapi juga bagian cantiknya. Production value juga kelihatan lebih bagus dan mahal. Gila sih Joko Anwar dan timnya bisa sampai pake gedung rusun yang terbengkalai.

Nah, sayangnya meskipun set-nya udah lebih gede dan lain-lain, gue malah merasa terornya gak semencekam film pertama. Nah mungkin ini karena setting film pertama kan di rumah tua. Kalau lo masih punya kerabat yang rumahnya di desa, gayanya jadul, punya sumur, pasti ada point relateable. Gak cuma itu, tapi karena itu di rumah, kayak lebih terasa claustrophobic karena space untuk lari lebih kecil. Secara psikologis, lo akan lebih merasa tertekan karena lo diserang di tempat yang seharusnya tempat teraman dan ternyaman buat lo.

Tapi ini tidak seharusnya menjadi alasan. Space yang luang seperti rumah susun memiliki teror sendiri. Bisa jadi "teror elektronik" kayak film horor Jepang tahun 90-an seperti The Ring atau Ju-On. Tipe horor "aneh" macam drakor Stranger from Hell yang tetangganya aneh-aneh juga bisa. Atau rumah susun bisa digunakan agar para karakter merasa lelah, terutama secara fisik, karena justru rumah susun jadi terasa terlalu luas. Artinya ya mereka harus lebih banyak lari dong waktu ketemu setan. Rumah susun juga terasa sulit dibedakan karena bentuknya ya begitu-begitu saja, sehingga mungkin bisa menimbulkan keparnoan karena "merasa" sudah ke rumah yang itu. Sayangnya, selama di film tidak ada rasa-rasa tersebut. Mungkin Joko Anwar merasa ide-ide gue yang itu terlalu klise, tapi I'll take cliche over underwhelming horror anytime.

Intinya, setting rumah susun di film Pengabdi Setan 2 gak bikin gue paranoid kayak sumur atau ke toilet malem-malem (dari film pertama). Sebenarnya bukan berarti gagal bikin takut sih. Ada beberapa yang lumayan bikin gue dagdigdug kek waktu si Wisnu buang sampah atau si tetangga-tetangganya Rini pada melihat ke arah dia. Tapi entah build-upnya terlalu pendek (untuk gue) sehingga tidak ada lingering fear setelah pulang, I don't know. Gue takut sih nonton PS2, tapi takutnya ya udah, gak bikin parno.

Sekarang kita lanjut ke masalah teori-teori di film ini. Dari perspektif ekonomi, memang Joko Anwar sukses creating hype and buzz for the film, yang gue yakin bikin investor seneng. Di sisi lain, misteri di film ini tuh terlalu loose dan out of nowhere for me. Tidak banyak fondasi yang menjadi anchor bagi penonton. Padahal gue suka misteri di mana clue-nya yang memang bisa digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan di film.

Contoh misteri yang baik unexpectedly menurut gue malah ditulis oleh J.K. Rowling. Contohnya, Rowling suka menggunakan trope di mana ada "tersangka" yang digunakan untuk men-distract pembaca/penonton dari tersangka sebetulnya, kayak Snape di buku pertama tapi penjahatnya sebenarnya malah Quirell. Quirell merupakan penjahat pun bukan twist yang out of nowhere and for the sake of twist, karena Rowling sudah menebar petunjuk kecil seperti kepala Quirell yang ditutup terus, dan Snape yang mencoba untuk melawan Quirell.

Jujur gue sudah menebak si Bapak adalah seorang petrus (penembak misterius) karena kata petrus terlalu sering disebut di awal film, apalagi pekerjaan si Bapak tidak pernah dijelaskan. Tapi alangkah lebih baiknya jika ada petunjuk subtle yang lebih. Sebenarnya misteri atau hint yang going to nowhere is not something yang inherently wrong, tapi wajar jika ada beberapa penonton yang merasa tidak puas.

On the other hand, ada beberapa hint kecil yang gak (atau belum?) ke mana-mana. Contohnya, kenapa pocong-pocongnya di awal kok specifically munculnya di Boscha? Boscha-nya tidak disebut lagi di bagian selanjutnya. Kalau gue punya teori nih. Kan occult yang di film ini berasa kayak ala-ala horor film barat dibandingkan Asia. Kek pemujaan setan/paranormal atau apalah. I can't explain it clearly tapi vibenya tuh beda aja sama film sebelumnya. Mungkin kultus/kelompok pengabdi setan si ibu ini, aslinya muncul dari luar Indonesia, dari negara-negara yang ikut KAA di Bandung, makanya kemunculunnya baru ada sekitar mendekati KAA. Nah, Barata (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) lebih ke arah agen yang menyebarkan ajaran, tapi mungkin bukan anggota aktif, hence their dialogue in the end of the movie!

Overall, Pengabdi Setan 2 improves the cinematography and production value. Sadly, the terror has less grip as the set wasn't used effectively. My personal hope: Joko Anwar will give us more of Fachri Albar and Asmara Abigail so their face talent won't be wasted <3

Minggu, 17 November 2019

Ratu Ilmu Hitam (Black Magic Queen) 2019



Joko Anwar kembali sebagai penulis dalam film Ratu Ilmu Hitam. Film ini merupakan remake dari film Suzanna yang berjudul sama, yang dirilis tahun 1981. Meskipun mempunyai judul yang sama, film ini merupakan film yang berbeda dengan film Suzanna.

Film ini diawali dengan perjalanan sebuah keluarga menuju panti asuhan sang ayah, Hanif (Ario Bayu). Ia pergi bersama seluruh keluarganya, yang terdiri dari sang istri, Nadia (Hannah Al-Rashid), ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Zara), dan Haqi (Muzzaki Ramdhan). Mereka mengunjungi panti asuhan tersebut, karena pemilik panti asuha, Pak Bandi (Yayu Unru), sakit keras. Di sana, sang ayah bertemu kembali dengan kedua temannya, yaitu Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), yang datang bersama istri mereka masing-masing. 

Hanif yang penasaran, dengan cepat menemukan misteri dan rumor yang mengerikan mengenai Ibu Mirah (Ruth Mirana), seorang mantan pengurus panti asuhan yang konon meninggal di panti tersebut. Meningalnya Ibu Mirah berkaitan erat dengan hilangnya Murni, salah satu anak panti asuhan yang dikenal oleh Hanif dan teman-temannya. Satu per satu, teror mendatangi semua orang di panti tersebut.



Ada salah satu dialog yang menarik dari film ini yang versi tahun 1981. Konteksnya, kepala desa memprotes perlakuan terhadap ibunya tokoh Suzanna yang diperlakukan semena-mena hanya karena anaknya dituduh tukang santet. Si kepala desa mengatakan, sebagai negara hukum, harusnya diselesaikan secara hukum. Namun si pembuat onar mengatakan bahwa santet sudah di luar ranah hukum. 

Baik versi tahun 1981 dan versi tahun 2019 mempunyai beberapa benang merah. Salah satunya adalah absence of justice bagi korban kekerasan. Salah satu faktor yang membuat ketiadaan keadilan dalam film ini adalah jauhnya panti asuhan tersebut. Mendapatkan sinyal susah dan mencapai jalan tol juga susah. 
Pada akhirnya, hukum menjadi sia-sia karena ia tidak bisa dijangkau oleh si korban baik secara fisik maupun psikologis. 

Tapi, kadang yang membuat hukum menjadi seakan-akan tidak ada atau tidak hidup dalam masyarakat, bukan karena ia "jauh", tapi masyarakat itulah yang tidak bisa menerimanya. Makanya dalam hal ini gue lebih suka penggambaran masyarakat di film yang asli. Kalau kita melihat dari skandal Harvey Weinstein, ia bisa lari dari hukum karena ia tidak sendiri dan the system secara nyata menormalisasikan tindakannya. Agak disayangkan film ini kurang memperhatikan dari sisi the big picture, karena seakan-akan yang terjadi adalah there's this one bad guy. Di sisi lain, film ini juga membuat gue bertanya-tanya: bagaimana posisi moral preteen atau manusia belum dewasa, yang sengaja atau tidak sengaja, membantu si pelaku kekerasan seksual?

Namun, satu hal dari dunia nyata yang direfleksikan film ini adalah fakta bahwa pelaku kekerasan seksual tak jarang merupakan orang yang dikenal korban. Hanya menasehati orang untuk waspada terhadap orang asing sama sekali tidaklah cukup. Tak jarang, orang itu mempunyai posisi di atas korban, seperti orang tua ke anak, atau guru ke murid. And in most cases, si korban jadi takut untuk cerita. Kadang yang terjadi kalau si korban cerita malah victim-blaming, atau si pelaku menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan karakter si korban. I think this part is a very parental or familial horror, especially because these things do happen. 

Yang dijelajah secara tidak langsung di film ini juga adalah dualitas manusia. Si pelaku merupakan orang yang baik dan dipercayai. Tapi ia juga seorang pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak. Bahkan memfitnah orang yang melindungi anak-anak tersebut. Sering orang menganggap pelaku kejahatan tertentu adalah monster dan tidak mungkin manusia. Namun mereka tetap manusia, yang kadang punya sisi dermawan, punya orang yang mereka cintai, dan sebagainya. In my opinion, justru itulah yang lebih mengerikan, bahwa pelaku kekejian seperti itu adalah manusia yang mempunyai sifat manusia. Kadang kita unknowingly hidup bersama orang seperti itu, bahkan menganggap orang itu adalah orang baik.



Other Stuffs

Gue jarang melihat body horror di film Indonesia. Itupun jatuhnya ke gore, kayak Rumah Dara  (is it a body horror tho?). Tapi film ini berhasil mencampur-adukan body horror, gore, Indonesian mystical horror, and bits of other horror (bad stuffs happen to children). Sayangnya, ilmu hitam sendiri tidak digali dengan dalam di film ini. Jadi kurang nendang, padahal yang gue nanti-nanti justru itu. Gue pribadi lebih ke arah jijik kalau lihat gore, tapi gak bakal kebayang. Yang bikin gue terngiang-ngiang justru horor yang dedemitnya gitu (kek yang adegan TV). Karena tidak tergali dalam, ilmu hitam ini datangnya rada abrupt dan gak bikin impression yang memorable di film ini. 

On the other hand, build up misteri Ibu Mirah dan Murni udah bagus sih. Intriguing, reveal-nya pun juga memuaskan. Mungkin untuk menjaga mistri, sisi manusiawi Bu Mirah sedikit sekali yang diperlihatkan. 

Cast Ratu Ilmu Hitam cukup solid, but I give extra credits for Hannah dan Muzzaki. Apalagi Muzzaki dengan jatah dialog yang cukup menghibur dan 'pemandu' penonton dalam beberapa misteri film ini. Sayang yang jadi final boss kurang menakutkan. Mungkin dipengaruhi juga dengan build up yang rada rushed.

Overall, Ratu Ilmu Hitam is a very solid Indonesian horror with good visual effects and cast, although rushed on the third act. It brings proper points on the reality of sexual harassment victims and how das sollen (law in the books) can not always bring justice. 8,5/10.


Minggu, 03 November 2019

Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore)

taken from kumparan.com
Joko Anwar is one fire this year! Setelah kesuksesan Gundala, ia kembali sebagai sutradara dan penulis lewat Perempuan Tanah Jahanam. Sejauh ini, Perempuan Tanah Jahanam telah sukses mendapatkan sekitar 1,5 juta penonton. Salah satu penyebab kesuksesan ini jelas dengan marketing dengan tagline yang cukup viral, seperti "Kerasa, nggak?", atau "Kamu, adalah kesalahan yang harus saya hapus!'


SPOILER ALERT

Maya (Tara Basro) dan Dini (Marisa Anita) sedang night shift sebagai penjaga pintu tol. Mereka di dua tempat yang berbeda, namun sering mengobrol lewat handphone. Akhir-akhir ini, Maya diuntit oleh seorang pria yang menggunakan mobil butut. Suatu malam, laki-laki tersebut bertanya apakah Maya bernama Rahayu dan berasal dari daerah Harjosari. Merasakan ketakutan temannya, Dini meminta salah satu petugas untuk ke pos Maya. Laki-laki tersebut menyerang Maya hingga pahanya terluka. Sebelum bisa membunuh Maya, laki-laki tersebut ditembak mati oleh petugas yang sampai.

Akibat pertanyaan aneh pria tersebut, Maya menjadi penasaran dengan masa lalunya. Tak hanya itu, Maya dan Dini tergiru dengan prospek adanya rumah warisan yang ditinggalkan oleh orangtua Maya. Mereka memutuskan untuk pergi ke desa Harjosari, suatu desa yang sangat terpencil hingga susah mendapatkan sinyal handphone dan akses transportasi. Di sana, mereka mengingap di rumah masa kecil Maya sambil menunggu Ki Saptadi (Ario Bayu), seorang dalang, dan ibunya, Nyi Misni (Christine Hakim).

taken from tirto.id
The best opening scene from an Indonesian film that I've ever watched! Ketegangannya dibangung perlahan-lahan dan Joko Anwar dengan pintarnya membangunnya dengan adegan ngobrol biasa, bukan langsung ketegangan. Akan lebih bagus kalau Joko Anwar lebih berani memperpanjang obrolannya dan suspense-nya dibangun sedikit lebih pelan lagi. The suspense just snapped a bit faster for my liking. Only a bit though.

Gue gak tahu kenapa membandingkan film ini dengan Midsommar, film 2019 karya Ari Aster. Common point antara dua film ini sebenarnya dangkal sih, orang kota "modern" yang datang ke desa terpencil, di mana penduduk desa di situ bagian dari suatu cult atau menganut kepercayaan yang tidak konvensional. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah, Midsommar bagi gue fancier dan lebih aesthetic, tapi gue gak meresapinya sedalam Perempuan Tanah Jahanam. Penyebabnya adalah, Midsommar dari awal udah kelihatan penduduknya gak biasa, baik dari pakaian maupun kebiasaan. Penduduk Harjosari tuh pakaiannya masih biasa, dan sekilas kebiasaan memakamkannya pun gak beda jauh dengan kebiasaan pemakaman Islam di Indonesia.

Selain itu, penduduk di Midsommar jauh lebih erat. Mereka melakukan hampir semua kegiatan bersama, termasuk makan dan tidur. Membesarkan anak pun dibesarkan bersama, tidak melimpahkan tanggung jawab ke orang tua secara eksklusif. Sedangkan, penduduk Harjosari tidak seerat itu dan sangat bergantung kepada Ki Saptadi dan Nyi Misni. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana penduduk Harjosari sering bertanya kepada Ki Saptadi. Selain itu, di sana ada beberapa orang yang dianggap sebagai "kelas dua", seperti Ratih, yang diperankan oleh Asmara Abigail.

Poin dari Perempuan Tanah Jahanam yang gue suka adalah adanya social commentary mengenai betapa bahayanya ketergantungan terhadap satu orang, atau satu perspektif. Tapi, yang lupa ditekankan juga oleh film ini, betapa pentingnya juga akses terhadap dunia luar. Desa Harjosari tidak diaspal, akses air bersih kurang, akses telepon saja susah, apalagi akses internet? Belum lagi, ketika ada masalah kesehatan, mereka malah datang ke dalang, bukannya dokter.

Poin lain yang gue suka adalah, pada akhirnya, hantunya cuma "ganggu". Mereka gak menyakiti Maya dan Dini. Manusia lah yang menyakiti mereka berdua.

taken from magdalene.co
Aspek teknisnya keren sih. Mulai dari production set yang apik, serta tata musik dan sinematografi yang berhasil banget menangkap suasana mencekam selama film berlangsung. Menarik melihat perpindahan dari yang awalnya dominan warna hijau, dan cokelat, terus mulai dominan warna kuning, hitam, merah, dan jingga. Shoutout to The Spouse yang nyanyi main song nih film!

ARIO BAYU GANTENG WOY. Sayang aja kadang-kadang agak kaku dan bahasa Jawanya belum terserap sempurna. Untuk Tara Basro, gue harus setuju sih kalau Asmara Abigail dan Marisa Anita lebih berhasil menarik perhatian di film. Apalagi Marisa Anita, udah terserap deh dari cara ngomong dan ekspresi wajahnya. Untuk Christine Hakim, bagus, cuma kok gue merasa ada bagian dia yang unintentionally narmy, atau mungkin dia emang sengaja gitu? Maksudnya, jatuhnya agak comedy-ish gak sengaja gitu loh.

Overall, Perempuan Tanah Jahanam is a good film, that successfully combines thriller with Indonesian mysticism, while carrying a social commentary. 7,8/10


Selasa, 14 Oktober 2014

Annabelle (2014)

I want her soul.

http://www.impawards.com/2014/annabelle_ver2.html

Gara-gara The Conjuring, boneka butek bernama Annabelle ini jadi populer.  Walaupun masih lebih mengerikan Sy*hrini daripada nih boneka, gue yakin banyak orang yang gak mau bobok bareng Annabelle.  Anyway, Annabelle merupakan film horor Amerika tahun 2014 yang disutradarai oleh John R. Leonetti dan ditulis oleh Gary Dauberman.  Film ini merupakan prequel atau spin-off dari film The Conjuring.  Film Annabelle ditunggu-tunggu oleh banyak pecinta film horor, terutama mereka yang menyukai The Conjuring.  Film ini berhasil meraup keuntungan dengan cepat, sayangnya ia tidak mendapat banyak pujian dari kritikus film.

Mia (Annabelle Wallis) dan John (Ward Horton) sedang menanti kedatangan anak pertama mereka.  Suatu hari, John memberikan Mia sebuah boneka antik yang dicari-cari Mia.  Mia sangat senang dengan boneka itu.  Namun tidak lama setelah kehadiran boneka itu, tetangga mereka, keluarga Higgins, dibunuh.  Keluarga Mia dan John juga ikut diserang oleh pembunuh keluarga Higgins.  Ternyata pelakunya adalah Annabelle, putri keluarga Higgins yang menjadi bagian sekte pemuja setan.  Semenjak penyerangan itu, Mia dan John mengalami banyak pengalaman aneh dan mengerikan di rumah mereka.  Karena itu, mereka pindah dari rumah mereka.  Namun, perpindahan rumah tidak menghapus kejadian-kejadian spiritual serta kekuatan gelap yang mengincar mereka.

ADA SPOILER GAK YA...

http://www.fatmovieguy.com/annabelle-official-main-trailer/

The Conjuring bakalan tetap bagus ada atau enggaknya nih film.  Sejelek-jeleknya Insidious 2, korelasi Insidious 2 dan Insidious tuh masih lebih bagus daripada Annabelle dengan The Conjuring.  Annabelle hanya menceritakan masa lalu Annabelle and that's it.  Kalau tahu ceritanya gitu doang, mendingan gue baca fanficnya aja, gak usah keluar duit buat nonton nih film.
The similarity and difference between Annabelle and Rosemary's Baby

Entah kenapa film ini agak mengingatkan gue dengan Rosemary's Baby.  Gue baru sadar kalau secara dasar, kedua film ini bercerita tentang ibu hamil yang mengalami kejadian-kejadian aneh dan menggunakan satanic cult sebagai 'aksesoris' filmnya.  Eits, Annabelle sama Rosemary's Baby beda kasta *walaupun gue gak demen Mia Farrow*.  Rosemary's Baby berhasil menggunakan satanic cult sebagai 'magnet' penontonnya karena satanic cult dibahas dengan cukup mendetai.  Sedangkan Annabelle menggunakan satanic cult sebagai bahan basa-basi gak jelas.

A bit exposure on religion (Catholic)

Sepertinya Leonetti atau Dauberman mencoba bikin religious horror yang menggugah layaknya The Exorcist.  Sorry dude, if that's what you're trying to do, you fail.  Why?  Karena Leonetti dan Dauberman kurang serius menggunakan aspek agama di film ini.  Film ini hanya memperlihatkan gereja, romo yang pada akhirnya gak ngapa-ngapain, dan beberapa quotes religius klise yang bikin gue internal bleeding.  Anyway, gue rada kaget nih film gak ada adegan exorcism. Gue punya dua pendapat mengenai tiadanya adegan exorcism.  Pendapat pertama sih adegan exorcism cuma nambah keklisean film ini.  Pendapat kedua, adegan exorcism yang fuckin' awesome mungkin akan meningkatkan rating film ini.  Gue somehow senang di adegan si romo 'K.O.' sama setannya.  That scene shows that not all of devout people can beat 'the evil'.    

http://somewhatnerdy.com/wp-content/uploads/2014/07/Capturen.jpg

A message about sacrifice

I don't know about you, tapi gue bingung kenapa nih film tiba-tiba mencoba memasukkan pesan mengenai pengorbanan.  Kalau pengorbanan itu ditunjukkan secara nonchalant atau masa bodo sih gak apa-apa bagi gue.  Tapi adegan pengorbanan itu ternyata harus ditemani oleh kalimat religius yang biasa banget.  Kalimat religius itu membuat seakan-akan crew berusaha keras memberikan pesan mengenai pengorbanan.  Sayangnya, pengorbanan yang ditunjukkan kurang ngena bagi gue.  Why?  Pertama, pengorbanan itu dilakukan oleh tokoh yang menurut gue kurang ngena atau insignificant.  Kedua, pengorbanan itu dilakukan oleh orang yang kurang dekat dengan Mia dan John.  Emang kadang-kadang ada orang asing yang mau berkorban untuk kita.  Tapi langka banget orang asing yang bekorban untuk kita 'sebanyak itu'.  Ini membuat pengorbanan di film Annabelle terasa kurang relatable dan ngena bagi gue.   

Other Stuffs

TWO THUMBS UP BUAT JOSEPH BISHARA YANG BIKIN JANTUNG GUE OLAHRAGA SEPANJANG FILM.  Sumpah, gue emang gak suka Annabelle, tapi tetep aja gue tegang waktu gue nonton filmnya.

Gue sebel sama Mia Farrow di Rosemary's Baby karena menurut gue dia lebay.  But that doesn't mean I like poker face.  Gue pengen lempar Annabelle Wallis pake beha bolong warna orange ngejreng saking frustasinya sama dia.  Lagian ekspresinya gitu-gitu aja.  Lupakan chemistry-nya Wallis dengan Horton.  Percayalah, Jokowi sama JK punya chemistry yang lebih bagus daripada Wallis sama Horton!

Conclusion

Annabelle is an unnecessary spin-off.  The quality is not a match to The Conjuring.  It's also a waste of money and time for me.  5/10   


Rabu, 06 Agustus 2014

The Rocky Horror Picture Show

So I'll remove the cause, but not the symptom. -Frank n Furter
drafthouse.com

Rocky Horror Picture Show merupakan film cult dengan genre musikal, komedi, dan horor.  Film berdurasi 100 menit ini disutradari oleh Jim Sharman dan ditulis oleh Richard O' Brien.  O'Brien tidak hanya menulis skrip film ini, tapi dia juga ikut menulis semua lagu.  Saat Rocky Horror Picture Show diputar di bioskop di Amerika, beberapa orang berulang-ulang kali menonton film ini.  Namun menurut kritikus film, Roger Ebert, RHPS boleh dibilang diabaikan sebagian besar orang.  Akhirnya, film ini diputar ulang di sebuah Midnight Cinema dan banyak orang mencoba untuk 'meniru' RHPS lewat cara berdandan ataupun mengadaptasinya menjadi drama di teater.  

Janet (Susan Sarandon) dan Brad (Barry Bostwick) baru saja bertunangan.  Mereka dalam perjalanan menuju salah satu teman Brad ketika mobil Brad mogok.  Hujan turun dan mereka memutuskan untuk mencari pertolongan di kastil yang mereka lewati.  Kedatangan mereka disambut oleh Riff Raff (O'Brien), Magenta (Patricia Quinn), dan Columbia (Nell Campbell).  Mereka merasakan aura aneh yang ada di kastil tersebut.  Perasaan aneh tersebut semakin menjadi-jadi ketika Dr. Frank N. Furter (Tim Curry), a so-called transvestite.  Sang dokter mengajak Brad dan Janet untuk melihat ciptaannya dengan fisik yang nyaris sempurna, Rocky Horror (Peter Hinwood).  Seiring berjalannya waktu, banyak kejadian aneh terjadi di tempat tinggal Dr. Frank.


rhps-paris.fr
Pengalaman menonton RHPS tidak semenyenangkan yang gue kira.  Setelah membaca beberapa resensi dan melihat beberapa stills film ini, gue kira gue bakalan ngefans berat sama filmnya, ternyata gak.  Why?

Pertama, sebagian besar *atau mungkin semua* lagu-lagu film ini dipengaruhi oleh gaya punk.  Nah, lagu-lagu punk biasanya dinyanyikan dengan cara berteriak atau bahkan berbicara, dan tidak dinyanyikan dengan cara menyanyi biasa.  Kalau kagak ngerti, dengerin aja lagu-lagunya The Sex Pistols.  Gue kurang suka sama lagu-lagu punk karena lagu-lagunya gak catchy atau cukup susah untuk dinyanyikan.  Gaya punk dalam soundtrack RHPS justru menyebabkan gue kurang bisa menikmati filmnya.  Lagu yang bener-bener gue suka cuma Hot Pattotie dan lagu yang gue suka aja tuh Science Fiction/Double Feature dan Time Wrap.  Bagian paling awkward tuh ketika gue dengerin Touch-a, Touch-a, Touch-a, Touch me.  That song is so awkward and Susan Sarandon's shrill voice doesn't help.  Call me prude, but that song is f**kin awkward for me.  Somehow, tuh lagu agak mengingatkan gue sama lagu dangdut gak jelas.

Siapapun yang menganggap RHPS itu film horor jelas kagak pernah lihat aktingnya jupe ataupun ngelihat pidatonya wowo.  Gue kira bakalan banyak adegan berdarah-darah, gak tahunya nih film sejinak De Syaining.  Gue jadi agak kecewa karena gue udah mengharapkan unexpected murders or bloody murders.  Walaupun unexpected murders gak banyak di film ini, RHPS masih punya segudang unexpected things sepanjang film.  Unexpected things itulah yang membuat RHPS menjadi film yang cukup fun.        

whoisthemarchking.blogspot.com

Bicara soal bagian akting, Tim Curry jelas aktor yang paling stand-out di film ini dan aktingnya emang hebat banget.  He can be bitchy sassy, playful, or even adorable in this movie.  Frank N. Furter juga tokoh favorit gue dari film ini.  Biasanya, lelaki gay atau biseksual yang suka berdandan sebagai perempuan tuh terlalu lemah lembut nan gemulai, contohnya Kurt dari Glee.  Cukup sedikit dari lelaki gay jenis ini yang mempunyai kekuatan dan karisma.  Frank N. Furter yang diperankan oleh Curry mempunyai dua hal itu.  Adegan yang paling menunjukkan bahwa ia mempunyai kekuatan adalah ketika ia membunuh seseorang.  Kalau karismanya?  For me, he's charismatic throughout the film.  

Kalau aktris terbaik di film ini bagi gue sih Patricia Quinn.  Sama seperti Frank N. Furter, Magenta yang diperankan Quinn juga mempunyai kekuatan dan karisma.  Hal ini yang membuat Magenta lebih menonjol dibandingkan Riff Raff dan Columbia bagi gue.  Yang membuat Riff Raff kurang menonjol dibandingkan Magenta adalah postur tubuhnya yang membungkuk dan Quinn berakting lebih baik ketimbang O'Brien.  Sedangkan Columbia mempunyai sifat yang lebih lemah (sedikit) daripada Magenta.  Susan Sarandon, I really love you in Enchanted but why are you too dramatic for my taste in this movie?!  Waktu si Janet pingsan, gue pengen banget lempar kolor ijo ke dia saking gedek ngelihat aktingnya.

Applause but Sue Blane, orang yang mendesain kostum-kostum di film ini dan siapapun yang mendesain props yang digunakan di RHPS.  They are cool and unique!  Mungkin kelihatan norak tapi tetap aja barang-barang dan kostum yang digunakan di film ini tuh unik dan iconic.

Overall, The Rocky Horror Picture Show is a unique and offbeat musical-horror-comedy film.  I really recommend it so you guys can experience something different from a film. 8/10 

 

      

Kamis, 15 Agustus 2013

The Quiet Family

Besides, you should be used to weirdness by the way this family behaves! -Mother.

Kalau lo benar-benar pecinta film Korea, tentu nama-nama seperti Choi Min-sik, Song Kang-ho, sampai Kim Ji-woon sudah tidak asing lagi.  Nah, The Quiet Family akan menunjukkan kemampuan mereka sebelum di tahun kejayaan mereka dan tahun kejayaan film Korea, yaitu 2003 (Oldboy, Memories of Murders, A Tale of Two Sisters).  The Quet Family adalah film tahun debut Kim Ji-woon sebagai sutradara pada tahun 1998.  Film ini mendapat beberapa penghargaan dari beberapa festival seperti Fansporto dan Stiges Film Festival.  Cukup banyak orang yang menganggap The Quiet Family adalah salah satu film Korea terbaik.  Keluarga apakah yang akan ditawarkan Kim Ji-woon pada debutnya sebagai sutradara?

The Quiet Family menceritakan tentang keluarga yang pindah ke daerah pegunungan dan membangun sebuah penginapan bernama Misty Lodge.  Si keluarga terdiri dari Ayah (Park In-hwan), Ibu (Na Moon-hee), adik si ibu, Paman Chang-koo (Choi Min-sik), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa yaitu Young-min (Song Kang-ho), Mi-su  (Lee Sun-yeong) dan Mi-na (Go Ho-kyung).  Karena kurangnya pengalaman mereka dalam mengurus penginapan dan lokasi yang agak terisolasi, keluarga Kang terpaksa menunggu lama hingga tamu pertama mereka muncul.  Ternyata 'keberuntungan' mereka berlanjut ketika tamu pertama mati.


WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Waktu gue nonton film ini pertama kali, gue sama sekali gak ngerti kelucuan film ini.  Pokoknya otak gue gak konek dan perasaan gue datar waktu nonton film ini.  Tapi karena gue suka plot shit happens-nya dan akting pemainnya, gue mencoba lagi untuk menikmati film ini.

Baru ketiga kalinya gue nonton, gue bisa ketawa.  Bahkan ngakak-_- Yang bikin gue ngakak waktu mereka lagi ngubur dua orang (pacaran) dan si cowok buka mata dan teriak gitu, wkwk.  Keluarganya pun ikut teriak dan kepala si cowok di pukul pakai cangkul, hahaha.

Gak tahu ini benar atau enggak, tapi gue bisa melihat pengaruh dari film Pulp Fiction.  Kalau ada yang bilang Pulp Fiction adalah black comedy dengan kostum mafia, maka The Quiet Family adalah black comedy dengan kostum horor pembunuhan.  Tidak cuma itu, bisa dilihat secara visual bahwa kedua film ini penuh dengan darah dan memakai plot shit happens.

Hmm...gue mau ngasih perumpaan deh dari horor di film ini.  Ada iklan mie yang bilang mie itu adalah mie terpedas di dunia.  Karena kita penasaran, kita pengen cobain mie itu, tapi juga takut benar-benar kepedasan.  Setelah kita cicipi, rasa pedas mie itu biasa saja.  Nah, seperti itulah rasa horor dalam The Quiet Family.  Kim Ji-woon hanya memasang 'iklan' horor dan memainkan pikiran penonton.  Sinematografi dan atmosfir berbau horor hanya untuk memainkan pikiran penonton.  Did it scare me?  Nope.  Makanya gue bilang kalau itu cuma memainkan pikiran penonton.  Kata horor dalam film ini hanyalah hype agar penonton mengira Kim Ji-woon akan menyajikan film tentang keluarga yang mempunyai rumah berhantu, tamu psikopat, ataupun hal-hal keji, bloody disgusting, dan bizarre.  Tapi itu semua hanyalah dugaan kita.  The Quiet Family menawarkan cerita sederhana tentang rentetan 'keberuntungan' suatu keluarga.  Percayalah, film ini se-simpel itu!


Hal-hal lainnya juga sangat bagus, terutama kemampuan akting pemainnya.  Adegan pembuka dimana Go Ho-kyung mematikan TV dan langsung menatap kamera agak mengingatkan gue pada adegan pembuka Little Miss Sunshine dimana Abigail Breslin berkonsentrasi dengan tontonnya.  Gue gak bisa jelasin seberapa gue suka ekspresi Go.  I'm not a good acting judge, lol.  Gue juga gak bisa jelasin seberapa indahnya *cuih* ekspresi ambigu Go di shot terakhir.  Agak mengingatkan gue sama shot terakhir Oldboy dan Memories of Murders.  Bener deh, agak mirip.  Sangat disayangkan karir Go Ho-kyung tidak sesukses Lee Ae-young (JSA, Lady Vengeance) ataupun Son Ye-jin (A Moment to Remember, The Classic).  Sebenarnya di awal film, tokoh sentralnya si Mi-na (Go Ho-kyung). 

Yah, walaupun gue agak fokus ke Go Ho-kyung, bukan berarti yang lainnya gak bagus.  Park sebagai ayah yang sukses menambah rasa sarkasme film ini, ataupun Moon yang sukses menjadi ibu yang 'protective', ataupun Choi dan Song yang terlihat seperti paket one-two punch disini.  Choi sama Song udah kayak...Robert de Niro dan Jack Nicholson, wkwk.  Akting yang agak lemah justru berasal dari Lee, walaupun gak jelek-jelek banget.  Malah, film ini mempunyai ensemble cast terbaik yang pernah gue tonton!  Gue juga suka soundtrack-nya yang pop dan score-nya yang kadang terdengar menegangkan dan menyeleneh.  Menambah kesatiran film ini.

I can't believe that I saw Choi Min-sik and Song Kang-ho in one movie!  1998 maybe not the strongest year in Korea's film industry, but The Quiet Family is certainly one of the best Korean movie, and horror-comedy movie. 10/10

pic cr :
koreanfilm.co.uk
hancinema.net
tumblr.com