Tampilkan postingan dengan label Animation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Thursday Movie Picks: Animated Movies


Annyeonghaseyo yeorobun, that's Korean for "Hello everybody." Who's excited for new Thursday Movie Picks?!! *cricket sound* *gosh I'm lame and cliche* In case you never heard of TMP, Thursday Movie Picks is a weekly film recommendation that's hosted by Wandering Through the Shelves. Just check out the blog if you want to join TMP or search for film recommendation.

Anyway, this week theme is.....ANIMATED MOVIES! I'm super excited because this week's theme is easy...okay, not that easy. I rarely watch non-mainstream animation and European animation. Heck, I haven't watched Mary and Max (it's from Australia btw). So I'm really sorry if my films are pretty mainstream.

Akira (Katsuhiro Otomo, 1988)


I'm still trying to understand the fact that Sir Ridley Scott and Stanley Kubrick didn't involve directly in this film. I haven't watched Blade Runner (please don't kill me) but some critics said that there are some traces of Blade Runner in Akira. So I guess it's like Blade Runner teams up with A Clockwork Orange.


Even if the animation isn't as smooth and polished as Disney, Akira has mindblowing moments too. A little warning for the plot though, 'cause it will fuck your mind. 

Howl's Moving Castle (Hayao Miyazaki, 2004)


I always smash my head to the wall whenever I'm reminded that I didn't get to watch "The Wind Rises" in cinema.

What I like about this film is how blatantly plain Sophie is (the main character) and how she never hides her 'role' as next-door girl, but she also has power, passion, and confidence beyond those things. If Beauty and the Beast is about loving other people, then Howl's Moving Castle is about loving who you are. 

By the way, I used to have a HUGE crush on Howl. Especially when Christian Bale voices him. Dang, he's really good when he's not in Batman's voice. But I'm still upset that Howl's characterization isn't as crafted as Sophie. 

Coraline (Henry Sellick, 2009)


So far, Coraline is the scariest horror animation film I've ever watched. I don't understand why, but Monster House never succeed in scaring me like Coraline. But I have to say that "scaring" is an overstatement. Giving me chills, I guess?

The animation is charming, the color is dazzling, and the plot is...fun. I know it's a softened version of haunted house stories, but the animation and the screenplay make the softened "haunted house" quite fresh.

Bonus: Robin Hood (Wolfgang Reitherman, 1973)


I always have a thing for animal and dystopia film. And Disney's Robin Hood is a mix of those! Well, if you can consider Robin Hood's universe as dystopia or semi-dystopia.  

Minggu, 28 September 2014

Grave of the Fireflies (Hotaru No Haka)

dalkomlollipop.wordpress.com

Grave of the Fireflies merupakan film animasi Jepang tahun 1988 yang disutradarai dan ditulis oleh Isao Takahata.  Film ini diadaptasi dari novel semi-autobiografi berjudul sama yang ditulis oleh Akiyuki Nosaka.  Film berdurasi 89 menit ini diproduksi oleh Studio Ghibli dan dirilis bersamaan dengan salah satu film Ghibli yang terkenal, My Neighbor Totoro.  Meskipun film ini tidak meraup keuntungan setinggi My Neighbor Totoro, film ini menerima banyak pujian dari banyak kritkus film.

Seita, Setsuko, dan ibu mereka bersiap-siap untuk pergi ke sebuah bomb shelter di Kobe.  Ibu mereka berangkat lebih dulu sementar mereka menyimpan persidaan makanan dan sedikit bekal.  Mereka terkejut ketika bom mulai jatuh di lingkungan mereka.  Mereka selamat dan tidak terluka, namun ibu mereka mengalami luka bakar yang sangat parah.  Karena Seita takut dengan reaksi Setsuko, maka Seita tidak mempertemukan Setsuko dengan ibunya.  

Beberapa hari kemudian, Seita dan Setsuko pergi ke rumah bibi mereka untuk mengungsi.  Sebenarnya ibu mereka sudah meninggal, namun Seita tidak berani untuk menyatakan sejujurnya kepada Setsuko.  Awalnya, sang bibi menerima mereka dengan terbuka.  Namun seiring berkurangnya rasio makanan, sang bibi justru tidak senang dengan kehadiran mereka.  Bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka tidak pantas untuk ikut makan karena mereka tidak berkontribusi di masa perang.  Tidak tahan, Seita dan Setsuko memutuskan untuk pergi dari rumah sang bibi.

SPOILER ALERT!

photo9.us
Fuck this film.  Belum 30 menit, air mata dan ingus gue meleleh gara-gara nih film.  Bangke.

Menurut wikipedia, ada dua pandangan mengenai film ini.  Orang-orang Barat memandan film ini sebagai film anti-perang sedangkan orang Jepang memandang film ini sebagai film obey-your-elders.

Anti-war, conscience, and society

Kenapa film ini dipandang sebagai film anti-perang?  Jelas karena film ini memperlihatkan dampak-dampak perang yang sangat mengerikan.  Perang membuat orang-orang kehilangan tempat tinggal mereka, orang yang mereka cintai, kebahagiaan, dan bahkan bisa membuat orang-orang kehilangan hati nurani mereka.  Seita dan Setsuko adalah anak-anak yang kehilangan rumah dan ibu mereka.  Seita mungkin sudah bisa 'mencerna' perang, tapi Setsuko masih terlalu muda untuk 'mencerna' perang dan bersikap dewasa mengenai hal itu.  Fuck, they're not even adults, so why and how should they know how to act as adults in war?  Inilah fakta yang dilupakan oleh orang-orang dewasa di sekitar mereka.  Bukan berarti mereka bisa bermanja-manja, tapi mereka juga tidak bisa dituntut untuk 'matang' secara tiba-tiba.  Yang kurang jelas dari sini kenapa Seita dan Setsuko tidak pergi ke sekolah dan apakah itu bisa dihitung sebagai 'kontribusi' atau tidak.   

Misalkan ada bayi yang belum pernah diajarin untuk berjalan.  Dia gak pernah pake alat bantu buat berjalan atau apalah itu.  Dia cuma biasa merangkak.  Suatu hari, orangtuanya ngajarin dia belajar dan expect tuh bayi bisa jalan setelah hari itu selesai.  Apakah semua bayi bisa langsung jalan dengan pelajaran satu hari padahal dia cuma biasa merangkak?  Cuma orang bego yang jawab iya. 

Ada adegan dimana seorang dokter memeriksa Setsuko.  Si dokter mengatakan bahwa Setsuko tuh sebenarnya gak sakit tapi kena malnutrisi, alias kekurangan nutrisi.  Jadi yang dibutuhkan Setsuko tuh makanan, bukan obat-obatan.  Seita yang frustasi akhirnya meledak karena dia bingung mau cari makanan dimana.  Si dokter juga gak menawarkan bantuan apapun.  Ini adalah salah satu contoh bagaimana perang bisa membuat kita menjadi mahluk yang apatis.  Emang sih itu cuma adegan film, tapi cerita kayak gitu pasti pernah terjadi beneran.  Gue tahu bahwa membantu orang gak selalu gampang.  Tapi manusia merupakan mahluk yang (katanya) memiliki hati nurani.  So why helping people is so hard?  Bukan karena perang, bukan karena gak ada uang atau waktu, tapi pada akhirnya karena ego kita masing-masing.  I know it's not always the case but ego is the main factor on our apathy.  Hal ini dibuktikan di adegan pertama Grave of the Fireflies.  Perang memang sudah berakhir, tapi tidak ada orang yang menunjukkan kepedulian pada Seita yang sekarat.  Orang-orang tidak bisa menggunakan perang sebagai alasan mengapa mereka tidak membantu Seita karena perang sudah berakhir saat itu.  Jadi menurut gue perang tidak membuat kita tidak mampu untuk melakukan kebaikan, tapi perang membuat kita lebih apatis dan lebih egois dari yang sebelumnya.  

basementrejects.com
 
You-should-respect-me-because-my-age-not-my-deeds 

Isao Takahata menyatakan bahwa pesan yang ingin ia sampaikan di film ini adalah anak-anak muda harus menghormati orangtua mereka, terutama di masa-masa yang susah.  Bibi Seita dan Setsuko memang tidak melukai mereka secara fisik, bahkan tetap memberi mereka makan.  Namun perlakuan dan perkataan sang bibi tentu membuat mereka tertekan.  Apalagi mereka sudah berusaha untuk bertahan di rumah si bibi, tapi mereka akhirnya menyerah dalam tekanan.  Kita perlu ingat bahwa manusia tidak hanya punya kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan psikis.  Mungkin tindakan Seita memang bodoh, namun tidak semua orang bisa bertahan di suatu rumah yang membuat mereka tidak bahagia.  

Suatu hari, Seita dan Setsuko main piano dan bersenang-senang, lalu sang bibi memarahi mereka karena mereka bersenang-senang di saat yang susah.  Bitch please, they even don't waste money or stuff like that.  They only play a fuckin' piano.  Perang memang mengerikan dan kita tidak boleh melupakan orang-orang yang berjuang dalam perang.  Namun apa salahnya merasakan sedikit kesenangan di saat perang?  Apa salahnya untuk melupakan kesedihan dan kepahitan hidup untuk sesaat?  Apa salahnya untuk menyelamatkan secuil masa kanak-kanak?  Apakah kita harus berlarut dalam kesedihan hanya karena orang lain merasa sedih?  Apakah kita harus dihantui kesedihan dan depresi hingga akhirnya kita bunuh diri?  Hal-hal inilah yang membuat gue mengerti kesusahan Seita dan Setsuko untuk menghormati bibi mereka.  Gue merasa sedih bagaimana Takahata berusaha memasukan pesan itu dengan figur orangtua yang menekan anak-anak.     

Ini juga membuat gue bertanya-tanya apakah kita memang harus menghormati orang-orang tua yang telah memberi kita makan.  Apakah tolak ukur kehormatan hanya umur dan apakah mereka memberikan kita makan atau tidak?  Kalau iya, berarti banyak banget orang yang gak gue hormatin.  Yang jelas, kita harus merasa bersyukur bahwa kita dihidupi oleh orang-orang yang lebih tua saat kita kecil.  Tapi apakah kita harus tetap menghormati orang-orang itu jika tindakan-tindakan mereka jelas salah?  Dan mengapa kita harus tetap menghormati mereka?  Kalau gue sih menggunakan perbuatan dan pemikiran sebagai tolak ukur gue dalam menghormati seseorang, bukan umur dan apakah mereka memberikan gue makan atau tidak.  Contohnya aja Osama Bin Laden, dia lebih tua daripada gue, tapi tindakan-tindakan yang dia lakukan menunjukkan betapa kecil otak dan hatinya.  Karena itulah meskipun dia lebih tua daripada gue, gue sama sekali gak menghormati dia.  So, kita harus bisa membedakan being grateful and respect kepada orang lain.     

Other stuffs

Animasinya bagus meskipun masih rough at the edge (seperti animasi Jepang lainnya).  Musiknya Michio Mamiya tuh bagus, tapi gak punya efek memorable seperti musiknya Joe Hisaishi.  I just can't think any song or music from this film.  Kesedihan dan kengerian film ini entah bisa membuat orang terharu atau illfeel dengan kelebayan film ini.  Gue sedih sama film ini bukan karena kematian tokoh-tokohnya.  Tapi gue sedih karena gue mikir apakah manusia tuh mahluk yang punya hati nurani atau sekedar mahluk yang egois. 

Overall

Masih mikir film kartun tuh film anak-anak gak penting?  Nonton aja film ini. 8,7/10


    

Sabtu, 07 Juni 2014

The Girl who Leapt Through Time: An awesome romcom animation with light sci-fi

Time waits for no one.
animea.net
The Girl who Leapt Through Time merupakan film animasi yang terinspirasi dari sebuah novel Jepang yang berjudul sama.  Gue menulis "inspirasi" karena tokoh dan latar film ini berbeda dengan yang ada di novel.  The Girl Who Leapt Through Time dirilis pada 2006 dan disutradarai oleh Mamoru Hosada serta ditulis oleh Satoko Okodera.  Film yang berdurasi 98 menit ini ternyata bisa mengambil hati para kritikus film.

Makoto Konno merupakan seorang gadis SMA dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.  Ia tinggal bersama keluarganya, ia hobi bermain baseball dengan dua sahabatanya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.  Suatu hari, Makoto terlambat pergi ke sekolah.  Ia mengira bahwa ia hanya akan mengalami satu kesialan.  Tapi ternyata kesialannya berjalan terus.  Ketika Makoto berada di laboratorium, ia menemukan sebuah alat yang berbentuk seperti kacang.  Ia juga merasa ia didorong seseorang.  Namun Makoto hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan bergegas untuk mengantarkan kue kepada bibinya.  Makoto mengendarai sepedanya.  Saat lampu menandakan kereta akan lewat, Makoto tidak bisa menggunakan rem sepedanya.  Ia menabrak portal dan terlempar.  Tiba-tiba, ia kembali ke beberapa menit sebelum menabrak portal kereta.  Makoto yang bingung langsung berbicara kepada bibinya mengenai apa yang terjadi.  Bibi Makoto mengatakan bahwa Makoto mempunyai kemampuan untuk kembali ke waktu.

Makoto pun terus berusaha untuk menemukan cara kembali ke masa lalu.  Ternyata untuk kembali ke masa lalu, Makoto harus melakukan sebuah loncatan atau putaran.  Makoto menggunakan kekuatannya untuk hal-hal ringan seperti tidak terlambat, karaoke berulang kali, membaca arah bola baseball, dsb.  Namun ketika nyawa salah satu teman Makoto terancam, sisa kemampuan Makoto hanya satu.

primeedges.wordpress.com

I'm not a big fan of Japanese animation and manga.  Gue kalau nonton anime gak rajin-rajin amat dan baca manga secara random.  Entahlah, mungkin karena gue juga bukan penggemar berat film-film sci-fi dan fantasi gak jelas ataupun komik shojo dengan cerita romance yang membosankan.  Apalagi animasi Jepang itu rough at the edge, gak 'sebersih' animasi USA.  Tapi akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama film animasi Jepang (bukan yang seri).  The Girl who Leapt Through Time tidak mempunyai animasi yang seindah Ghibli ataupun yang dibuat Makoto Shinkai, tapi....  

I LOVE THE GIRL WHO LEAPT THROUGH TIME.

Alur cerita yang ditawarkan film ini sama sekali gak original atau unik, tapi Mamoru Hosada dan Satoko Okudera dapat mengemas keseluruhan film secara baik.  Ada komedi, romance, dan sci-fi, meskipun  sci-fi film ini gak akan membuat lo jedot-jedotin kepala ke tembok kayak Inception ato The Matrix.  Salah satu pengguna youtube mengatakan bahwa komedi di film ini bukan jenis komedi yang bakalan bikin lo ngakak, tapi gue ngakak nonton film ini.  Bahkan gue tetap ngakak waktu kedua kalinya gue nonton film ini. 

Gue suka semua tiga tokoh utama film ini karena mereka gak punya sifat yang benar-benar menonjol untuk dimasukkan ke sebuah stereotipe.  

theonlineanimestore.blogspot.com

Mungkin awalnya Makoto terlihat sebagai one-of-those-clumsy-and-cutesy-Korean-drama-heroines, tapi ternyata tidak.  Dia memang ceroboh, tapi bukan jenis ceroboh yang membuat lo jijik.  Ketika dia sedang ceroboh, dia tidak melebarkan matanya, menggigit bibirnya, dan hal-hal klise seperti itu.  Dia juga bukan tokoh yang totally idiot.  Makoto masih mempunyai akal sehat yang kuat untuk menangkap dan memahami beberapa hal.  Plus, rambutnya pendek dan ia bisa bermain baseball.  Ia juga tidak popular ataupun seorang outcast.  Cuma satu yang gue gak suka dari Makoto: gue gak suka cara nangisnya dia, secara visual maupun audio.  Suaranya cempreng aja kalau lagi nangis.  Tapi secara keseluruhan, voice actor yang mengisi suara Makoto bagus kok.  Dia cukup ekspresif ketika mengisi suara. 

At first, I thought Chiaki Mamiya was another carbon-copy of Usui from Maid-sama.  Untungnya gue salah.  Chiaki Mamiya bukanlah Gary Sue, which means he's not perfect.  Dia memang memiliki penggemar, tapi bukan berarti seluruh perempuan memuja dan mendewakan Chiaki.  Yang lebih mirip Gary Sue justru Kosuke.  Dia pintar, cukup atletis, tidak pernah telat, bahkan memiliki penggemar seperti Chiaki *walaupun gak seheboh Usui*.  But I know he's not Gary Sue from his appearance.  Bajunya gak rapi dan kupingnya Kosuke punya semacam anting atau tindikan.  Kepintarannya juga bukan jenis pintar yang kayak Einsten.  The point is, all of them are normal teenagers.   

Di film romance, biasanya kalau ada persahabatan yang melibatkan tiga orang akan ada the other guy/girl dan atau cinta segitiga yang memuakkan.  The other guy/girl bisa berarti cewek atau cowok yang cintanya tidak dibalas atau teman yang menjadi tidak relevan.  Gue rasa hal ini tidak terjadi di The Girl who Leapt Through Time.  Baik Satoko maupun Mamoru melakukan usaha yang bagus dalam membuat seluruh tiga tokoh utama tetap menjadi tokoh utama.  Ketika Makoto bingung mengenai perasaanya kepada salah satu temannya, Satoko Okodera memberikan kita momen-momen antara Makoto dengan 'the other guy'.  Bahkan 'the other guy' ini malah mengantarkan penonton pada twist film The Girl who Leapt Through Time.  Gue sampai bingung mau ngeship Makoto sama Kosuke atau Chiaki.  Tapi sayangnya, hanya Makoto yang mempelajari sesuatu di film ini.  Chiaki dan Kosuke tidak bertambah dewasa di film ini.  But at least they still have characters.         

The Girl Who Leapt Through Time doesn't have fresh, original, or mind-provoking plot, but at least the plot is still good, even we can learn something from this film.  If you expect anything like Akira or Spirited Away, I don't recommend this film for you.  But if you expect above-average entertainment, then I recommend this film for you.  8,7/10      

    

Selasa, 27 Mei 2014

Garden of Words (Kotonoha no Niwa)

pic cr: tube.hk
Makoto Shinkai merupakan seorang animator Jepang yang disebut-sebut sebagai The New Miyazaki walaupun Shinkai sendiri menganggap pernyataan itu sebagai overstatementGue jadi kepo karena gue pengen tahu apa yang membuat dia bisa disetarakan dengan Hayao Miyazaki.  Jujur, walaupun 5 centimeters per second benar-benar mempengaruhi pikiran dan perasaan gue, I don't really think it's an awesome film, or even in the same level with Spirited Away.  Tapi gue mau 'memberikan kesempatan kedua' pada Shinkai lewat film Garden of Words (2013)

Takao (Miyu Irino) selalu membolos jam pertama sekolah jika pagi itu hujan.  Ia pergi ke sebuah taman dan mendesain sepatu.  Disana, ia bertemu dengan seorang wanita (Kana Hanazawa) yang suka minum bir dan cokelat di taman itu.  Akhirnya mereka selalu bertemu di taman itu ketika hujan di pagi hari.  Pertemuan-pertemuan itu membuat mereka nyaman satu sama lain walaupun mereka tidak tahu sama lain.  

Lama-kelamaan, musim hujan berakhir.  Mereka selalu menunggu hujan agar dapat menemukan alasan untuk pergi ke taman tersebut.  Suatu hari, Takao dan wanita itu berpapasan di sekolah Takao.  Ternyata wanita itu adalah Ms. Yukari Yukino, salah satu guru di sekolah Takao.

WARNING: ADA SPOILER

pic cr: leap250.wordpress.com

I still don't understand why people compare Shinkai with Miyazaki.  Both of them are good with what they do, but they certainly have different styles.  Jika Miyazaki bagaikan David Lynch atau Stanley Kubrick yang punya sentuhan surealisme dan plotnya agak berat, maka Shinkai merupakan one of those artsy-indie-modern arthouse's directors.  Get it?  In some way, harus gue akuin kalau gaya animasinya Shinkai lebih keren daripada Miyazaki.  Pewarnaannya bagus banget, gambarnya lebih smooth, dan sudut pengambilan gambarnya super keren.  Bahkan terkadang terasa seperti film live action.  Tapi kalau soal cerita?  Gue tetap milih Miyazaki.

Gue merasa bingung setelah nonton film ini, terutama karena gue ngerti apa yang ingin disampaikan Shinkai lewat film ini.  Atau mungkin Shinkai tidak ingin menyampaikan apa-apa dan sekedar membuat cerita tentang dua orang?  Entahlah, tapi gue rasa Garden of Words bukanlah jenis film pretensius yang mencoba untuk menjelaskan kehebatan cinta atau 'action speaks louder than word' seperti kebanyakan film arthouse bisu gak jelas.  Film "Garden of Words" memang terlihat realistis dan menceritakan slice of life, tapi ada bagian yang gak 'sreg' dengan kehidupan nyata.  Berdasarkan pengalaman hidup selama 15,5 tahun, gue sadar bahwa seseorang bisa nyaman dengan seorang lainnya jika mereka saling berbicara.  Karena lewat berbicara mereka akan sadar apa yang cocok dan tidak cocok di antara mereka.  Bukan berarti orang yang akrab harus selalu berbicara satu sama lain, tapi kalau dua atau lebih orang akrab dan merasa nyaman satu sama lain, mereka pasti sudah melewati fase itu.  Di film "Garden of Words", Takao dan Yukino belum melewati fase itu.  Hell, mereka bahkan gak tahu nama satu sama lain sebelum mereka berpapasan di sekolah Takao.  Bahkan terkadang Takao merasa komunikasi mereka 'satu arah' karena Yukino hampir tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Takao.  So, bagaimana bisa Takao jatuh cinta pada Yukino dan bagaimana bisa Takao menyelamatkan Yukino?

pic cr: anbient.net

Menjelang akhir film, Takao menyatakan cintanya pada Yukino.  Gue berasumsi bahwa Takao hanya berpikir ia mencintai Yukino.  Ia tidak benar-benar mencintainya.  Bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa benar-benar mengenal orang itu?  Ia bahkan tidak pernah bertanya nama Yukino.  Takao is charmed by Yukino to the point he thinks he's in love with Yukino.  Anyway, respon Yukino terhadap pernyataan cinta Takao sepertinya tidak seperti yang diharapkan oleh Takao.  Takao akhirnya pergi dari apartemen Yukino.  Lalu Yukino mengejarnya tapi Takao malah mengatakan bahwa ia membenci Yukino dan menuangkan kefrustasiannya pada Yukino.  Lalu Yukino memeluknya dan mengatakan bahwa Takao menyelamatkannya.  Mungkin kebanyakan penonton berpikir bahwa setidaknya Yukino dan Takao punya 'harapan' dan tidak berakhir tragis seperti Akari dan Takaki di film 5 centimeters per second.  Sebaliknya, gue menangkap bagaimana perasaan dan kata-kata orang bisa berubah.  Seperti Takao yang mengatakan cinta lalu -tidak sampai satu jam- mengatakan benci.

Kita tahu bahwa Takao dan Yukino selalu bertemu di sebuah taman jika hujan turun di pagi hari.  Apakah mereka benar-benar menyukai hujan atau mereka hanya menggunakan hujan sebagai alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata?  Gue menginterpretasikan taman yang mereka kunjungi sebagai dunia khayalan mereka.  Dimana mereka bisa lepas dari segala tekanan sekaligus mendapatkan teman.  They are so overwhelmed by their little worlds in the garden sampai mereka gak pernah nanya nama masing-masing ataupun berpikir jika salah satu di antara mereka itu psikopat, pencuri, dll.  Ketika hujan tak kunjung datang, akhirnya mereka pergi ke taman itu walaupun hanya sekali-dua kali.

Gue bingung apakah Shinkai ingin menunjukkan sisi realistis kehidupan atau ilusi yang dialami manusia lewat Kotonoha no Niwa.  Jika Shinkai memang ingin menyampaikan sesuatu lewat film ini, gue rasa pesan itu kurang jelas atau terlalu subtle.  Kotonoha no Niwa hanya menunjukan bahwa Makoto Shinkai pantas disejajarkan oleh Hayao Miyazaki dalam bidang visual, bukan cerita.  6/10 

P.S: Soal soundtrack, gue lebih suka 5 centimeters per second.

          

Senin, 26 Mei 2014

My Neighbor Totoro: A down-to-earth film with magic.

Tonari no totoro, totoro. -Azumi Inoue
pic cr: sailormoonnews.com


Saya rasa setiap pecinta film dan anime tahu film My Neighbor Totoro.  Film animasi tahun 1988 ini sukses melambungkan nama Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli.  Film ini juga masuk ke berbagai dan daftar film dunia terbaik dan film animasi terbaik.  Lagu temanya pun juga terkenal.  Studio Ghibli juga menggunakan Totoro sebagai maskot mereka.  

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik yang bernama Mei dan Satsuki.  Mei dan Satsuki pindah rumah ke desa bersama ayah mereka.  Namun sang ibu tidak bisa ikut karena ia masih dirawat di rumah sakit.  Tapi hal itu tidak menghentikan keceriaan dan semangat Mei & Satsuki.  Mei & Satsuki mempunyai sifat yang periang, penuh rasa ingin tahu, dan suka berpetualang.  Mereka juga malah senang ketika mengetahui kalau rumah mereka dihantui.

Suatu hari, Mei yang sedang bermain-main melihat dua mahluk unik dan kecil.  Mei memutuskan untuk mengikuti mereka berdua hingga akhirnya ia masuk ke sebuah pohon.  Ia 'jatuh' diatas badan sebuah mahluk raksasa.  Bukannya takut, Mei malah menggeletik mahluk itu.  Untungnya, mahluk itu hanya membuka matanya dan tidak menyakiti Mei.  Mei memanggil mahluk itu Totoro.  Tiba-tiba, Mei terbangun dan ia tidak berada di pohon itu tersebut, Totoro juga menghilang.  Mei merasa kesal karena kakak dan ayahnya tidak mempercayai dia.  Hingga suatu malam, Satsuki melihat sendiri Totoro dan sebuah bus kucing.

pic cr: rogerebert.com
Saya kira My Neighbor Totoro akan memusingkan saya dan memaksa otak saya untuk membuat berbagai interpretasi karena film ini sering disebut sebagai film terbaik Miyazaki.  Surprisingly, film ini cukup mudah untuk diikuti.  Bagi saya, simbolisme ataupun metafora yang di dalam film ini tidak serumit Spirited Away.  Atau mungkin saya yang terlalu bodoh sehingga saya tidak memperhatikan metafora yang lebih subtle, haha. 

Menurut Roger Ebert, film ini dibangun berdasarkan situasi, pengalaman, dan eksplorasi, bukan berdasarkan ancaman dan konflik.  Saya setuju dengan pernyataan itu karena tidak ada konflik yang besar pada film ini.  Film ini bergerak berdasarkan 'petualangan' kecil Mei dan Satsuki di desa mereka.  Di film ini juga tidak ada 'si baik' ataupun 'si jahat'.

Saya menikmati saja melihat Mei dan Satsuki berpetualangan di desa mereka bersama Totoro.  Saya juga suka menonton ikatan antara Mei dan Satsuki yang dibangun dengan apik oleh Miyazaki.  Gambar-gambar desa mereka juga membuat saya merasa kangen dengan kampung saya sendiri, haha.  Tapi, saya tetap merasa agak jenuh di beberapa adegan.  Saya menunggu-nunggu konflik itu datang, tapi ternyata tidak ada konflik atau ancaman besar seperti Howl's Moving Castle.  Apakah Miyazaki membiarkan film ini menjadi danau yang datar?  Tidak, Miyazaki tetap memberikan sedikit konflik, namun ia menyelesaikan konflik itu tanpa berbasa-basi ataupun terkesan terburu-buru.  Anyway, two thumbs up for Joe Hisaishi.  His music is so damn beautiful!   

pic cr: redofpaw.wordpress.com

Totoro dan buscat *I don't know how to call it* hanya bisa dilihat oleh Mei dan Satsuki.  Saya kurang yakin apakah anak-anak lain seperti Kanta atau teman Satsuki lainnya bisa melihat mereka berdua.  Saya rasa hal ini dipengaruhi oleh sifat mereka yang penuh rasa ingin tahu, suka berpetualang, dan somehow menyatu dengan alam.  Karena mereka penuh rasa ingin tahu, mereka tidak memperhatikan hal dengan sambil lalu atau menganggap semuanya wajar.  Tidak seperti orang dewasa yang rasa ingin tahunya berkurang dan menganggap semuanya logis sehingga terkadang mereka tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu yang mengagumkan.  Kita tahu bahwa ada konsep believing is seeing.  Secara umum, anak-anak memiliki iman yang lebih kuat daripada orang dewasa.  Iman inilah yang mengatarkan anak-anak pada berbagai hal magis dan menabjubkan, sama seperti Mei dan Satsuki yang mempunyai iman. 

Film ini juga memberikan beberapa unsur spiritual seperti adegan sang ayah yang menjelaskan tentang pohon besar dan penjaga hutan (Totoro), ataupun adegan dimana Satsuki 'meminta ijin' untuk berteduh di suatu tempat.

Ternyata oh ternyata, ada sedikit misteri dan kengerian pada film Totoro.  Ada beberapa orang yang menganggap Totoro bukanlah penjaga hutan, tapi dewa kematian.  Ada juga yang mengaitkan film My Neighbor Totoro dengan Insiden Sayama karena latar tempat film ini berada di Sayama.  Insiden Sayama sendiri merupakan kasus kematian dua kakak-beradik yang cukup tragis.  Ceritanya, ada seorang anak yang tidak pulang ke rumah.  Lalu mayatnya ditemukan sendiri oleh kakaknya.  Kakaknya yang merasa depresi pun bunuh diri.  Cerita selengkapnya ada disini.  Saya memang merasa agak ngeri ketika melihat 'senyuman' Totoro dan buscat, tapi saya merasa kurang yakin kalau film seimut My Neighbor Totoro *secara tidak langsung* menceritakan Insiden Sayama.  Fakta itu membuat saya merasa tidak enak saja.

Terkadang, agak sulit bagi saya menemukan film yang 'benar-benar untuk anak' dari film Disney karena kebanyakan film Disney mempunyai nilai moral hitam-putih dan unsur romansa yang lebih cocok untuk orang dewasa.  Film My Neighbor Totoro merupakan salah satu contoh film animasi yang 'benar-benar untuk anak' karena film ini tidak unsur romansa, moral hitam-putih, putri lemah yang harus diselamatkan pangeran, dsb.

Saya kurang menyarankan film My Neighbor Totoro bagi mereka yang mengharapkan petualangan dan atau konflik besar, tapi My Neighbor Totoro merupakan film yang tetap bisa dinikmati. 8,3/10  

         

Kamis, 22 Mei 2014

Cinema Paradiso #8: Artikel Sok Angsty dan Melankolis Tentang "5 Centimeters per Second"

Pic cr: sepasangkata.wordpress.com

Biasanya, kalau gue mau ngomong tentang satu film, gue bakal review film itu dan nilai aspek efek, sinematografi, akting, plot, dsb.  Lalu, gue bakal menentukan nilai film itu.  Well, hal-hal itu tadinya akan gue lakukan untuk film 5 centimeters per second.  But in the end, gue memutuskan untuk bacot tentang perasaan dan pemikiran gue setelah menonton film itu.

THERE'S F**KIN SPOILER IN THIS POST!!!

Sebelum gue nonton film ini, cuma ada satu film yang benar-benar membuat gue berharap film itu berakhir bahagia, yaitu Never Let Me Go.  Hanya ada dua film yang membuat gue depresi berhari-hari setelah nonton film itu, yaitu Magnolia dan Blue Valentine.   5 Centimeters per Second masuk ke dua kategori tersebut.

Gue gak merasa langsung depresi setelah menontonnya.  Tapi gue membiarkan pikiran gue melayang-layang tentang film ini.  Kenapa?  Karena waktu gue mikirin film ini, terjadi kemacetan dalam proses boker gue.  

Lu mau tahu fakta super kocak?  Gue berharap nih film berakhir bahagia, tapi gue tahu gue bakal mencaci maki film ini kalau film ini dapet happy ending.  But I just can't stand the melancholy and bitterness in this film's ending!  I didn't even know why I feel so mad, depress, and angsty about the ending.  Bahkan perasaan yang gue rasakan lebih dari yang gue rasakan setelah menonton Never Let Me Go, Magnolia, ataupun Blue Valentine.  Gue juga udah banyak nonton film romance yang tidak berakhir bahagia seperti Annie Hall, (500) Days of Summer, Remains of the Day, dan tentu saja, Blue Valentine.  Lalu gue sadar bahwa gue benci ending-nya bukan karena Takaki dan Akari tidak bersama alias pacaran di akhir film.

Apa yang terjadi pada Takaki merupakan salah satu ketakutan gue.

Takaki tidak menggunakan kesempatan dan keberuntungannya sama sekali.  Pada kesempatan pertama, Takaki diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan terdalamnya pada Akari.  Dia tidak menggunakan kesempatannya.  Selanjutnya, Takaki diberi kesempatan untuk melupakan Akari dan melanjutkan kehidupannya.  Tidak hanya sekedar melanjutkan kehidupannya, tapi ia juga diberi kesempatan untuk tidak merasakan kepahitan hidup dan kesepian.  Namun, Takaki malah terus memandang jauh dan mengharapkan sesuatu tanpa memperjuangkan hal itu.  Ia tidak melihat sekelilingnya dan berjuang untuk hal yang lebih mudah diperjuangkan.  And he lost the second chance.  Akibatnya dia harus hidup dalam a pool of (un)happiness.  Sama seperti ababil galau lainnya, dia susah move on dari orang yang dicintainya. 

Hal-hal itulah yang gue takutkan.  Gue takut suatu saat nanti hidup gue dipenuhi ketidakbahagiaan, what ifs, dan susah move on dari memori.  Inilah yang membuat 5 Centimeters per Second membuat gue lebih depresi daripada film Magnolia dan Blue Valentine.  

Bagaimana dengan nasib Akari?  Akari -sekilas- bisa hidup lebih baik daripada Takaki.  Dia memang juga tidak berani mengungkapkan perasaannya, tapi Akari berhasil membuka dirinya dan move on dari masa lalunya dengan Takaki.   

Pic cr: agilcahyap.wordpress.com

Betapa kontrasnya Takaki dan Akari, bukan?  Kita juga bisa melihat dari adegan crossrail mereka, dimana Takaki menunggu untuk melihat wajah Akari sementara Akari tidak menunggu Takaki.  Itu artinya hati Takaki masih saja menunggu Akari, sedangkan Akari sudah 'melepaskan' Takaki dan bertunangan dengan pria lain.

Salah satu blogger merasa marah bagaimana Takaki 'diperlakukan' secara tidak adil oleh sang penulis, karena hanya Takaki lah yang menderita di film ini.  Tadinya gue merasa marah juga karena alasan yang sama dengan blogger tadi.  Tapi pada akhirnya, Takaki memang 'pantas' mendapatkan 'hukuman' seperti itu.  Ia harus membayar harga yang mahal untuk kebutaannya dan kepengecutannya.  

Gue rasa -dalam hidup-, seseorang harus melakukan kesalahan agar orang lain belajar dan atau tidak mengulang dari kesalahan yang telah dilakukan.  Seandainya Takaki tidak melakukan kesalahan, apakah penonton akan belajar sesuatu dari film ini?  Seandainya film ini berakhir bahagia, apakah penonton akan menyadari sesuatu dari film ini?

Gue udah tahu jawaban dari dua pertanyaan tadi.  But I can't help to imagine that Takaki and Akari have a happy ending.         

Minggu, 18 Mei 2014

Howl's Moving Castle: "Ghibli's refreshing version of Beauty and the Beast"


Pengalaman gue dalam menonton film Ghibli gak banyak sih.  Buktinya Howl's Moving Castle merupakan film Ghibli kedua yang gue tonton dari sekian banyak film yang diproduksi Ghibli Studio.  Howl's Moving Castle merupakan film animasi fantasi 2004 yang disutradarai dan ditulis oleh Hayao Miyazaki.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Diana Wynne Jones. 

Sophie merupakan anak tertua dari tiga bersaudara dan ia bekerja di sebuah toko topi.  Suatu hari, Sophie dikejar oleh sekelompok mahluk aneh dan ia diselamatkan oleh seorang penyihir, Howl.  Sophie langsung jatuh hati dengan Howl yang tampan dan menawan.  Adik Sophie langsung memperingatkan Sophie untuk tidak jatuh cinta dengan Howl karena ada isu mengenai Howl yang suka makan jantung gadis-gadis muda.  Suatu malam, toko Sophie dikunjungi oleh Witch of the Waste LandKarena Sophie menolak melayani si penyihir, Sophie pun dikutuk sehingga penampilanya terlihat seperti wanita tua.

Sophie pun berkelana untuk mematahkan kutukannya.  Tiba-tiba, ia menemukan sebuah scarecrow yang bisa meloncat-loncat, namun tidak bisa berbicara.  Ia menamainya Turnip head.  Tiba-tiba, hujan turun dan mereka menumpang di sebuah rumah yang bergerak.  Sophie berkenalan dengan Markl, murid Howl, dan Calcifer, sebuah fire-demon.  Sophie menyatakan dirinya sebagai pelayan baru Howl. 

Namun hidup Sophie dengan mereka tidaklah berjalan mulus karena adanya perang yang sedang berlangsung di negeri Sophie.  Howl terus saja diminta untuk berpatisipasi dalam perang walaupun ia sering menghindarinya.  Bagaimana kelanjutan kisah Sophie dengan teman-temannya? *jengjeng* 

WARNING: *KAYAKNYA SIH* MENGANDUNG SPOILER


I have a love-hate relationship with Ghibli's anime style.  Dalam beberapa hal, gue lebih suka gaya animasi Disney karena menurut gue animasi Disney tuh lebih halus dan lebih polished.  But at the same time, terkadang gue gak suka dengan gaya animasi yang terlalu polished dan bisa menghargai gaya animasi Ghibli (yang menurut gue) rada rough at the edge.  Salah satu hal yang menurut gue menonjol dari Ghibli adalah kemapuan Ghibli yang bisa memberikan sentuhan surealisme dan horor psikologis.  Berbeda dengan beberapa film Disney yang biasanya memberikan sentuhan horor klasik, horor pada film-film Ghibli lebih bersifat disturbing.  Fantasi dalam studio Ghibli pun menurut gue lebih bagus daripada Disney karena fantasinya gak gitu-gitu aja.

Beberapa orang mengatakan bahwa Howl's Moving Castle merupakan salah satu film Miyazaki yang lemah.  Gue langsung shock karena film yang 'lemah' aja udah bisa bikin gue ngefans berat, apalagi film terbagusnya?!!!  Sama seperti kebanyakan film Ghibli, Howl's Moving Castle pun punya unsur-unsur surealisme dan horor psikologi.  Well, walaupun gue bilang PUNYA, jangan expect porsi unsur horornya dominan banget kayak Ju-on ato The Ring.      

Beberapa orang mengatakan biasanya film-film Miyazaki tidak mempunyai antagonis yang jelas.  Namun at some point, Howl's Moving Castle mempunyai 'antagonis' seperti Witch of the Waste Land, yang mengutuk Sophie, dan Sulliman, penasihat istana yang terus saja 'memburu' Howl.  Namun gue mempertanyakan kembali posisi mereka sebagai 'antagonis' di film ini.  Kita semua tahu tentu tahu antagonis adalah orang yang melawan protagonis dalam suatu karya sastra.  Baik si penyihir maupun Sulliman merupakan antagonis karena mereka melawan protagonis.  Tapi tindakan si penyihir menjelang akhir film tidak benar-benar mencerminkan dirinya sebagai antagonis.  Ketika si penyihir mengambil jantung Howl, apakah tindakannya untuk melawan Sophie atau karena ia memang childish dan terobsesi pada Howl?  Gue menilai bahwa alasan si penyihir mengambil jantung Howl karena alasan yang kedua.  Bahkan gue sadar kalau alasan si penyihir mengutuk Sophie bukan karena ia jahat.  Ia memang 'melawan' Sophie, tapi itu semua didasari oleh wataknya yang kekanak-kanakan.  Begitu juga dengan Sulliman.  Sulliman memang 'melawan' Howl, namun bukan untuk menghancurkan Howl, tapi untuk mempertahankan negaranya.  Dia tidak punya tujuan yang jahat pada Howl.  

Setiap orang mempunyai interpretasi sendiri terhadap kutukan Sophie.  Ada yang mengatakan bahwa kutukan Sophie melambangkan orang-orang tua yang mempunyai jiwa muda, ada juga yang mengatakan bahwa Sophie melambangkan orang tua dan orang muda di saat yang sama.  Gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Mungkin ini karena gue baca sedikit tentang novelnya, jadi interpretasi gue lebih ke arah novelnya, bukan filmnya.  Sophie merasa insecure kepada dirinya karena ia tidak semenawan atau semenarik adik-adiknya.  Ia memandang dirinya sebagai orang yang membosankan, apalagi ia tertua dari tiga bersaudara.  Insecurity Sophie diperlihatkan secara obviously dalam film ini.  Ada adegan dimana tiba-tiba Sophie kembali menjadi muda dan ia & Howl berjalan-jalan di suatu taman.  Lalu Howl mengatakan bahwa Sophie cantik, dan tiba-tiba Sophie berubah kembali menjadi wanita tua.  Lalu pada adegan dimana Sophie berdebat dengan Sulliman mengenai Howl.  Sophie berdebat dengan penuh gairah dan percaya diri sehingga ia berubah kembali menjadi wanita muda.  Dua adegan ini juga yang membuat gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Pernah dengar istilah "You are what you think"?  Nah, kutukan Sophie cocok dengan istilah ini.


Howl punya sifat yang kekanak-kanakan karena ia memberikan jantungnya kepada Calcifer saat ia kecil.  Biasanya, orang yang mengalami peristiwa yang traumatis atau mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, akan membuat orang itu menjadi dewasa dengan lebih cepat.  Tapi Howl malah mempunyai sifat kekanak-kanakan.  Mengapa?  Gue punya semacam...dua interpretasi.  Pertama, tentu saja karena ia tidak mempunyai jantung (heart dalam bahasa Inggris) kemampuannya dalam mengelola perasaannya tentu saja kurang.  Hal ini juga bisa mengakibatkan Howl untuk tidak memikirkan orang lain.  Kedua, karena ia mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, hal ini membuat Howl -in some way- kehilangan masa kecilnya.  Kerinduannya untuk menjadi anak yang normal diekspresikan dengan wataknya yang childish.   

Markl dan Calcifer tentu saja merupakan perpaduan antara deutragonis (tokoh yang berpihak pada protagonis) dan utility (tokoh pembantu yang ikut membentuk cerita).  Jelas keduanya berpihak dan membantu Sophie & Howl.  Tokoh Markl yang masih anak-anak melambangkan anak yang membutuhkan tokoh ibu dalam hidup mereka.  Calcifer juga membutuhkan Sophie karena Calcifer membutuhkan seseorang untuk membebaskan dirinya dari Howl.  Calcifer juga yang membuat Sophie dan Howl bertemu.  Bagaimana caranya?  Makanya, nonton filmnya baik-baik, hahaha.  Hal-hal inilah yang membuat Sophie 'terikat' di istana dan membentuk koneksi tidak hanya pada Markl dan Calcifer, tapi juga dengan Howl.

Sebenarnya kisah cinta antara Sophie dan Howl kurang diolah dengan baik.  Proses jatuh cinta di antara mereka agak vague dan terasa agak singkat.  But...I can't help but ship them!  Seriously, I love Sophie-Howl couple!  

Anyway, terima kasih banyak sama engkong Joe Hisaishi karena musiknya menambah emosi dan membuat penonton semakin hanyut dalam film ini.  Sumpah, aransemen musiknya keren banget.  Apalagi Merry-Go-Round of Life, keren banget dah.  Lagu penutupnya, Promise of the World menurut gue lebih bagus daripada Always With Me karena teknik vokal penyanyinya yang lebih stabil daripada penyanyi Always With Me.  Gak cuma lagi penutup sih, secara kesuluruhan, musik dari Howl's Moving Castle lebih bagus daripada Spirited Away.

Overall, Howl's Moving Castle maybe is one of Miyazaki's weak film, but it's still a deep, beautiful, and innovative.  The animation is a bit rough in the edge, but the surrealism and a bit horror touch certainly fix it.  Both Beauty and the Beast and Howl's Moving Castle have appearance and curse aspects, but I'm gonna say that Howl's Moving Castle is freshier than Beauty and the beast.  9,7/10  

pic cr: 
movies.disney.com
fact.co.uk
wordsofconfession.wordpress.com

Jumat, 18 April 2014

Rio 2: An entertaining and beautiful animation

I will survive, as long as I know how to hate. -Nigel

First of all, gue belum nonton film pertamanya, haha.  Gue juga minta maaf karena udah lama gak nulis (emang ada yang baca?)

Jelas "Rio 2" merupakan kelanjutan dari Rio dan lokasi ceritanya masih di sekitar Amerika Selatan dan mengandung sedikit kebudayaan Brazil.  Kesukesan film pertamanya jelas membuat Carlos Saldanha tak berlama-lamam merencanakan sekuel.  "Rio 2" diproduksi dengan budget sebesar 103 juta dollar AS dan didistribusi oleh 20th Century Fox.  Beberapa bintang pun kembali menjadi voice actor seperti Anne Hathaway dan Jesse Eisenberg.  Meskipun "Rio 2" masih berlatar di sekitar Amerika Selatan, Hutan Amazon jelas cukup jauh dari kota Rio sehingga riset mesti dilakukan.  Anyway, apa sih yang diceritakan "Rio 2" dan seberapa bagusnya film ini?

"Rio 2" menceritakan kelanjutan dari kisah cinta Blu (Jesse Eisenberg) dan Jewel (Anne Hathaway).  Mereka tidak lagi hidup berdua melainkan bersama ketiga anak mereka, yaitu Carla (Rachel Crow), Bia (Amandla Stenberg) dan Tiago (Pierce Gagnon).  Carla mempunyai hobi mendengarkan musik, Bia senang membaca buku, sedangkan Tiago sangat usil.  Suatu hari, kedua sahabat mereka, Linda (Leslie Mann) dan Tulio (Rodrigo Santoro) pergi menjelajahi Amazon dan menemukan bukti adanya burung makau biru.  Mereka mengungumkannya di TV.  Jewel yang melihat mereka terkejut mendengarkan hal itu.  Ia langsung membujuk keluarganya untuk mengunjungi Amazon.  Blu tadinya agak ragu karena ia belum pernah ke alam liar, namun demi Jewel, ia setuju untuk pergi ke Amazon.  Keluarga mereka ditemani oleh Rafael (George Lopez), Nico (Jamie Foxx), dan Pedro (will.i.am).

Sampai disana, Blue sulit beraaptasi di Amazon.  Apalagi mertuanya, Eduardo (Andy Garcia), boleh dibilang cukup kuno dan keras.  Ia juga merasa tersaingi oleh kehadiran Roberto (Bruno Mars), teman masa kecil Jewel.  Linda yang berniat menyelamatkan hutan Amazon dengan cara menemukan burung makau biru malah menemukan rintangan dalam bentuk sekelompok orang yang menebang hutan secara ilegal.  Tidak hanya itu, tapi ada Nigel (Jemaine Clement) dan Gabi (Kristin Chenoweth) yang mengikuti mereka untuk membalas dendam kepada Blu.


Overall, gue lebih suka Rio 2 daripada Frozen (yang menurut gue overrated).  Tapi ada dua hal yang gak gue suka dari dua film ini: pace filmnya cepet banget.  Padahal dulu film kartun yang penuh dengan lagu juga masih dapat berjalan dengan pace yang tepat dan membangung relasi antara karakter-karakternya dengan cukup stabil.  Contohnya, Lion King mampu membangun ikatan antara Simba dengan Mufasa maupun dengan Timon & Pumbaa.  Lalu Tarzan juga mampu menunjukkan ikatan batin antara Kala dan Tarzan, dan membangun chemistry antara Tarzan dan Jane.  Ada juga Up -walaupun bukan musikal- yang mampu membuat penonton menangis dengan kisah cinta Carl & Ellie yang tidak sampai 1/2 jam, namun sudah menyentuh.  Frozen sudah membangun hubungan antara Elsa dan Anna, tapi agak dikacaukan dengan adegan dimana Anna yang membeku, which I think, pengen banget bikin penonton nangis.  Selain itu, hubungan mereka dengan karakter-karakter lainnya diolah dengan kurang baik.

Gue ngerti kalau relasi antara Blu, Jewel, dan kawan-kawan mereka tidak terlalu...dibangun karena mungkin hal itu sudah ada di film sebelumnya.  Tapi bagaimana dengan hubungan Jewel & Blu dengan ayah -atau dalam kasus Blu, ayah mertua- mereka?  Atau dengan anak-anak mereka?  Dalam hal ini, harusnya mereka bisa mencontek Shrek 2 sedikit.  I'm sorry for comparing Rio 2 with so many films, lol.  

Blue kinda reminds me of Woody Allen, lol.  Paranoid, city man, dan sedikit...awkward.  Gue suka dengan Jewel because she's just another girl from animation movie.  Dia punya keinginan dan punya hal yang disampaikan.  Maksud gue dari keinginan bukan hanya ingin menikah dengan pacarnya, atau blablabla.  Jewel lebih dari objek yang digunakan untuk melengkapi Blu.  She's a subject.  


 My favorite character is definitely Nigel.  Seriously, he's hilarious and classy at the same time!  Kelebayannya dia mengingatkan gue pada Scar dari Lion King, cuma lebih kocak aja.  Coba aja dia dikasih lebih banyak quote Shakespeare atau wittier dialogue.  Gabi sendiri sangat megagumi dan terobsesi dengan Nigel, padahal jelas-jelas Nigel hanya menggunakan Gabi.  Dia dan Gabi bagaikan Joker dan Harley Quinn.  They're just so whacky and love to be a part of 'play'. 

Salah satu hal yang gue suka dari Rio 2 adalah plot film ini mengandung banyak unsur pop culture.  Mulai dari GPS, iPod, sampe ada parodi lagu-lagu pop, bahkan hip-hop, haha.  Di film ini juga ada beberapa adegan sepak bola.  Gue pribadi sih gak keberatan film ini mempromosikan FIFA, World Cup, apapun itu, ataupun tim Brazil.  Malah menurut gue itu pintar banget.

Hal-hal teknis lainnya seperti gambar, musik, dan voice-acting bagus banget.  Gue suka banget animasi, gambar, -apapun istilahnya- Rio 2.  Keren, indah, modern, colorful banget, dan mata gue gak sakit waktu nonton, haha.  Terkadang animasi yang diproduksi diluar Disney, -menurut gue- kurang halus dan terlalu computer-ish.  Untung hal ini tidak terjadi di Rio 2.  Gue gak tahu apakah bener musiknya memang mengandung unsur musik Brazil (since I'm not a fan of Brazilian music), tapi lagu-lagunya lebih refreshing dan unik untuk didengar, beda banget dari Frozen yang menurut gue mainstream.  Memang Rio 2 gak punya lagu yang catchy atau gampang dinyanyiin, tapi kualitasnya lebih bagus daripada Frozen.  Apalagi ada Bruno Mars, hip-hop, sampai klasik, terdengar di film Rio 2. 

Secara keseluruhan, Rio 2 mempunyai plot yang penuh pop culture, voice-actor yang bagus, animasi yang sangat, sangat, SANGAT, indah, dan musik yang refreshing, keren, dan variatif.  Sayang sekali durasi film ini cukup pendek. 8/10

pic cr:
zonaomg.com
thesun.co.uk
itsartmag.com

Senin, 16 Desember 2013

Frozen : Nothing But a Few Laugh and Light Entertainment

It's much easier to melt a frozen head than a frozen heart.

Berbagai film kartun telah dirilis di tahun 2013.  Sebut saja Despicable Me 2, Monsters University, Turbo, dan Epic.  Namun, tidak ada dari yang mereka yang benar-benar menggaet hati kritikus.  Gue sendiri sih baru nonton Despicable Me 2, karena gak sempet nonton MU dan yang lainnya simply gak menarik hati, wkwk.  Wreck-It-Ralph aja gue gak nonton (?)  But, adik sepupu gue yang ultah kemarin pengen nonton ini, so, gue nonton deh nih film.

Frozen dibuka dengan sebuah lagu yang menceritakan kekuatan es dan bahwa hati di otak lebih mudah disembuhkan daripada yang di hati dan blablabla.  Di istana, terdapat dua putri bernama Anna (Kristen Bell) dan Elsa (Idina Menzel).  Elsa memiliki kekuatan untuk membuat salju dan es sementara Anna tidak.  Namun mereka berdua saling menyayangi.  And guess what?  They love to play with snow and ice!!! *gasp* *sarcasm*  

Anyway, mereka sedang bermain-main dan Elsa dengan tidak sengaja 'memasukkan' es ke dalam kepala Anna.  Raja dan ratu yang panik membawa Anna dan Elsa ke troll yang baik hati manis dan imut.  Troll itu menyembuhkan Anna dan menyarankan agar ingatan Anna tentang kekuatan Elsa dihilangkan dan Elsa harus belajar mengontrol kekuatannya.  Elsa pun tidak pernah menemui Anna lagi karena terlalu takut untuk mengulangi kesalahannya lagi.  Hingga sang ratu dan sang raja meninggal.

Elsa terpaksa mengundang banyak orang untuk hari pemahkotaannya.  Di pesta itu, Anna bertemu dengan Pangeran Hans dan jatuh cinta pada pertemuan pertama *muntah*  Anna dan Pangeran Hans yang udah kebelet nikah langsung meminta restu Elsa sebagai ratu.  Elsa tidak setuju karena menurutnya wedding proposal setelah satu hari pertemuan tidak wajar.  Karena Anna terlalu menekan Elsa, Elsa akhirnya menunjukkan kekuasaannya dan kabur dari istana.  Anna yang merasa bersalah memutuskan untuk mengejar Elsa dan menyerahkan kekuasaan sementara kepada Hans.  Di tengah perjalanan, Anna bertemu dengan Kristoff (Jonathan Groff).

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


First thought : too much singing in the beginning.  Lagu prelude (Frozen Heart) yang dinyanyikan di awal sudah cukup bagus untuk mendeskripsikan film ini, dan gue rasa adegannya cukup bagus.  Dilanjutkan dengan lagu "Do you want to build a snowman" yang entah kenapa menurut gue ritmenya terkesan maksa dan liriknya meaningless banget.  Apalagi jeda antara kedua lagu sedikit sekali.  Apakah film-film Disney selalu dipenuhi lagu-lagu yang terkesan maksa?  Well, I think I have to do "Disney Marathon" to find out.  Anyway, gue merasa biasa aja dengan lagu-lagu yang ada di film ini karena kebanyakan lagunya forgettable dan...maksa.  Setidaknya lagu-lagu Princess and the Frog (2009) mempunyai sentuhan jazz dan gospel sedangkan iringan musik Brave (2012) mempunyai sentuhan irish folk.  Lagu dari film Frozen yang paling besar impact-nya tentu saja Let It Go.  

Animasinya indah dan magical.  Apalagi istana-istananya dan landscape-nya.  Keren banget dah.  Kalau soal kualitas 3D gue gak bisa menilai karena gue gak nonton versi 3D.

Generally, I think Frozen can be enjoyed by only children.  Why?  The characters are shallow and forgettable to me!  Kelakuan Anna yang awkward gagal banget menutupi stereotipe tokoh Disney : gampang jatuh cinta.  Penampilan fisik dan watak yang klise malah membuat tekanan darah tinggi gue naik selama nonton nih film.  Kegalauan Elsa dalam menghadapi kekuatan dan tanggung jawabnya pun kurang diolah dengan baik.  Itu kan film anak-anak, masa ada galau-galaunya?  Just for you know, I think The Lion King (1994) berhasil mengelola kegalauan Simba untuk memilih apakah ia akan menjadi raja atau tidak.  Elsa dan Anna merupakan tokoh utama dalam film ini.  Tapi Jennifer Lee dan Chris Buck cukup gagal untuk membangun relasi atau ikatan yang cukup di antara mereka.  I think it's a bit impossible to still love your sister whom you almost never met in your entire life.  Well, Frozen is just a movie anyway.  Tapi tetap aja gue jadi frustasi waktu nonton, wkwk.   

Olaf is as annoying as SpongeBob.  I just want to strangle Olaf (almost) everytime he appears!  Hans ketebak banget bakalan 'ngambil perannya' Marion Cottilard di TDKR.  Sorry dude, your true character is known for me waaaaaaaay early.  Kristoff?  Lumayan sih, gue suka hubungannya dia dengan Sven.


Clearly this movie's weakest point is PLOT.  Yang paling menyedihkan, plot adalah bagian (paling) utama dari sebuah film.  Apapun film itu.  Frozen bak cupcake kecil yang luarnya bagus namun tidak punya isian.  Intinya, nih film ringan banget dan terlalu cute.  

Gue gak tahu apakah 'twist' yang ada di tengah-tengah film ini adalah usaha jujur Jennifer Lee dan Disney untuk memperbaiki plotnya, atau mereka hanya sok-sokan pake 'twist'.  

Memang terkadang bagus untuk berjalan cepat dan to the point.  Namun, kita juga harus melihat konteks keseluruhan film itu.  Gue gak yakin Frozen ditargetkan untuk orang dewasa sehingga filmnya to the point dan mempunyai tingkat kepadatan yang cukup rumit.  But the problem is, Frozen walks too fast and straight to the point.  Ini agak berlawanan dengan prelude yang seakan-akan menjanjikan background yang akan menarik emosi penonton.  Bukannya memberikan background yang cukup dan membangun emosi penonton dan cerita, film ini malah tetap berjalan dengan pace cepat.  I just don't feel any connection to the characters.  I mean, screw up with them.  Begitu juga di tengah-tengah film.  Gue tetap gak merasa adanya koneksi atau adventure mode seperti menonton Finding Nemo, Mulan, Shrek, dll.  

The Snow Queen karangan Hans Christian Andersen sebenarnya mempunyai tema yang sedikit gelap.  Yang gue heran, gue hampir gak merasakan unsur gelap itu.  Come on, gue udah nonton film-film animasi yang mempunyai tema gelap seperti Coraline, Nightmare Before Christmas, Corpse Bride, dll.  Sebenarnya The Lion King dan Beauty and the Beast juga mempunyai sedikit unsur gelap kok.  Tim produksinya benar-benar main aman dah.  Sedikit kepahitan bisa menyeimbangkan 'kemanisan' film ini. 

I'm still trying to figure out why the critics love "Frozen" so much while the plot is too light and has shallow characters just like "Despicable Me 2".  But I must admit that "Frozen" has a beautiful animation. 4,5/10  



pic cr :
jagatreview.com
skwigly.co.uk
cartoonbrew.com

Minggu, 28 Juli 2013

Chibi Maruko Chan The Movie


Tadinya gue udah niatin buat nonton Pasir Berbisik.  Tapi gue malah ngerasa agak ngantuk dan mutusin buat nonton Chibi Maruko Chan The Movie aja, wkwkwk.  Mungkin kalau kalian udah mencapai usia balita di era 90an (?) kalian tahu serial ini.  Gue tahu serial ini dari Animax, dan suka banget!  Sayang sampe sekarang gue gak nemu komiknya, dan udah gak ditayangin lagi di Animax... -_____-"

Ceritanya sih masih ber-setting di tahun yang sama, yaitu ketika Maruko kelas 3.  Bedanya, kali ini penonton diajak untuk lebih meniliti lingkungan sekolah Maruko.  Atau lebih tepatnya, dua teman sekelas Maruko, yaitu Ono dan Sugiyama.  Ono dan Sugiyama adalah sepasang sahabat yang akrab banget, mereka berdua juga mempunyai leadership skill, tapi tingkah laku yang mereka yang sedikit kasar membuat Maruko kurang menyukai mereka.  Ternyata sepasang sahabat yang sudah akrab pun bisa saling menjauhi ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia akan pindah ke kota lain.


Judul filmnya sih Chibi Maruko Chan The Movie, tapi kok gue merasa Maruko itu kayak Scrat di Ice Age ataupun Minion di Despicable Me?  Maksudnnya dia yang di promosiin, tapi bukan dia karakter utamanya.  Gue nonton film ini malah merasa karakter utama yang bener itu Ono dan Sugiyama.  Oke, emang Maruko dapat screen time yang lebih banyak dari mereka, tapi gak ada tuh konflik berarti buat Maruko, bahkan keluarga dan sahabat terdekatnya, Tamae, hanya figuran di film ini.  Kakek yang absurd dan konyol juga terasa sebagai pintu emergency, dia hanya hadir ketika film ini membutuhkan lelucon.       

Pemilihan tokoh kenapa juga harus Oono dan Sugiyama?  Memang gue bukan penggemar BERAT Chibi Maruko Chan, tapi setahu gue mereka tuh jarang banget muncul di serialnya, yang lumayan sering sih Hamazaki, Tamae, Hanawa, Maruo, Butaro, sama Migiwa.  Yang kadang-kadang ada Fujiki, Nagasawa, Sekiguchi, sama Yamada.  Beneran dah, gue nonton nih film itu beberapa tahun setelah Maruko gak tayang di Animax, jadinya gue lupa kalau Maruko punya teman namanya Ono sama Sugiyama-___- tuh, saking jarangnya mereka tampil gue sampe lupa, padahal yang lainnya gue inget kok.  Makanya sebagai fans Maruko, gue kurang bisa connected dengan film ini.  Mungkin kalau lebih fokus ke teman-teman utamanya Maruko, gue bisa connected dengan film ini.


Soal keluarga, gue juga merasa interaksinya kurang natural.  Atmosfirnya terlalu damai dibandingkan dengan serial.  Maaf ya kalau gue cuma bisa lihat dari perspektif orang yang nonton serialnya, karena rada susah juga kalau lihat dari perspektif orang yang belum nonton.  Yang lumayan stay on character di keluarga ini cuma si kakek, dan...si ayah lumayan lah.  Kan biasanya Maruko itu berantem sama kakak dan ibunya, tapi disini mereka hubungannya adem-adem aja.  Itu sih mengurangi kelucuan sama daya tarik filmnya.  Padahal gue pengen lihat mereka berantem, dan pengen lihat juga bagaimana mereka bisa berkomunikasi atau ada usaha untuk mengurangi berantemnya.  Ternyata konflik ceritanya malah di temannya Maruko, yang dulunya bener-bener figuran doang lagi.  


Sini dah gue perjelas : karakter utamanya itu Maruko dan keluarganya, tapi yang megang konflik itu Sugiyama dan Ono.  Gimana gak 'lucu' (in a bad way) coba?  Walaupun begitu, film ini masih bisa menyajikan momen lucu dan menarik, baik dari kakek, maupun beberapa teman Maruko (Hanawa, Migiwa, Maruo, dan Hamazaki).  Dan ending-nya itu...kalau dari jalan cerita sih udah terduga, tapi dari adegan (yang benar-benar 2 menit terakhir) gak terlalu terduga (?) Wkwk, tonton aja deh :p *udah dihapus dari youtube looooh*

All I can say is that Chibi Maruko Chan The Movie is definitely worse than The Simpsons Movie. 4,5/10