Tampilkan postingan dengan label Keira Knightley. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keira Knightley. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

The Imitation Game

Setelah sekian lama honeymoon dengan mas Benedict Cumberbatch, akhirnya gue balik nulis lagi.

zerothreetwo.com

The Imitation Game adalah film drama 2014 yang disutradarai oleh Morten Tyldum dan ditulis oleh Graham Moore.  Film ini diadaptasi dari buku Alan Turing: The Enigma yang dikarang oleh Andrew Hodges, seorang ahli matematika.  Alan Turing adalah seorang..... cryptanalyst, filsuf, ahli matematika, ilmuwan komputer, pelari, dan logician.  Singkatnya, dia merupakan orang yang sangat hebat dan jenius.   Pada tahun 1952, Turing diadili karena ia mengakui dirinya sebagai gay.  Pada 24 Desember 2013, Ratu Elizabeth II memberikan pengampunan pada Turing.

Banyak orang tidak tahu, tetapi Jerman mempunyai mesin bernama enigma pada Perang Dunia II.  Enigma berfungsi untuk memberikan sandi pada seluruh tentara Jerman.  Tidak ada seorang pun yang bisa memecahkan sandi-sandi tersebut.  Namun Alan Turing (Benedict Cumberbatch) yakin bahwa ia bisa memecahkan misteri enigma.  Turing tentu saja tidak sendirian dalam usahanya untuk memecahkan enigma.  Ia bekerja sama dengan Hugh Alexander (Matthew Goode), John Cairncross (Allen Leech), dan Peter Hilton (Matthew Beard).  Turing cepat tidak disukai karena kemampuan interaksi sosialnya yang rendah dan kebrutalannya dalam proyek enigma.  

Karena Turing memecat dua orang yang dianggapnya tidak berguna, ia menggunakan TTS untuk mencari dua orang yang bisa berkontribusi dalam proyek enigma.  Dua orang yang diterima adalah Joan Clarke (Keira Knightley) dan Jack Good (James Northcote).  Joan dengan cepat mempunyai tempat yang spesial di hati Alan.  Lewat Joan, Alan belajar untuk memahami manusia, berkompromi, dan membuat lelucon super jayus.  


Ada beberapa hal yang bikin gue kurang puas dengan film ini.  Film ini mempunyai topik yang sangat menarik, tapi penyajiannya lah ya kurang bagus.  The Imitation Game menunjukkan berbagai dimensi dari Alan Turing.  Penonton bisa melihat Turing yang jenius, Turing yang blak-blakan, Turing yang baik hati, Turing yang polos, Turing yang passionate dengan sains, dan Turing yang gay.  Tapi tetap saja hal itu kurang memuaskan bagi gue.

Gue mempunyai beberapa opini mengapa The Imitation Game terasa kurang memuaskan bagi gue.  Pertama, it's obvious that The Imitation Game is about that cold-rude-anti-social-genius guy who saves the world. And guess what? He's a gay too!  What a refreshing plot!

The Imitation Game kurang memerlihatkan seberapa mengerikan Perang Dunia II.  Memang Perang Dunia II bukanlah fokus utama The Imitation Game, tapi gue rasa akan lebih baik bila penonton dapat memahami mengapa atasan Turing terus menekannya dan mengapa kolega Turing kecewa dengan keengganan Turing untuk memecahkan kode sehari-hari.  Beberapa penonton mungkin akan menganggap dengan cepat bahwa atasan dan kolega Turing hanyalah orang-orang dangkal yang tidak memahami visi Turing.  Memang ada beberapa adegan perang, tapi adegan-adegan itu kurang kejam dan berdarah.  Intinya, film ini kurang menimbulkan mixed feeling antara kepesimisan orang-orang di sekitar Turing serta Turing's overconfidence.  Memang pada akhirnya mesin Turing bekerja, but still...it's not really exciting.

Gue menemukan bahwa hidup Alan Turing cukup ironis dan tragis.  Dia (dan koleganya) memperpendek Perang Dunia II, namun ia malah dikebiri secara kimia dan bunuh diri karena tidak bisa bekerja lagi.  Turing dikebiri secara kimia bukan karena ia memperkosa seseorang, atau melakukan kejahatan besar, tapi ia dikebiri secara kimia hanya karena ia gay.  Keironisan dan tragedi ini bisa digunakan untuk memancing empati atau simpati penonton.  Memang penderitaan Turing setelah ia menjalani hukumannya sempat diperlihatkan, tapi hal itu dilakukan secara berantakan, terburu-buru, dan terlihat last minute.     

thestar.com

Menggunakan orientasi seksual Turing mungkin akan menuai kritikan pedas dari reviewers karena itu hanya menambah daftar hal-hal klise dalam film ini.  Selain kritikan pedas, ada kemungkinan bahwa sebagian besar penonton akan memandang Turing sebagai gay daripada seorang ilmuwan.  Namun gue pribadi tertarik untuk mengetahui reaksi Turing terhadap orientasi seksualnya.  Entahlah, dari dulu gue menyukai bagaimana seseorang yang 'berbeda' bisa menerima dirinya sendiri atau melawan dirinya sendiri karena keunikannya. 

Applause buat suami gue, Mr. Benedict Cumberbatch, yang memerankan Alan Turing secara brilliant.  Gue rasa porsi emosional yang dibawakan oleh Cumberbatch sudah dalam porsi cukup.  Gak lebay, tapi juga gak emotionless.  Ketika tokoh Turing dalam keadaan yang penuh emosi, Cumberbatch tidak langsung mengeluarkan emosinya, tapi dia juga menahannya dan berusaha menutupinya.  Alex Lawther, pemeran Turing ketika muda, juga tampil dengan brilliant.  Sama seperti Cumberbatch, ia tidak hanya menunjukan emosi yang dirasakan Turing, tapi juga bagaimana Turing menahan dan menutupi perasaan sesungguhnya.

In the end of the day, The Imitation Game bukanlah film yang spektakuler dan revolusioner, tapi film ini mempunyai cerita yang sangat menarik dan nilai plusnya, cerita itu berdasarkan kejadian nyata.  Kegantengan, keseksian, dan  keahlian Cumberbatch tentu saja tidak bisa dilewatkan dan two thumbs up untuk penampilan singkat Alex Lawther.  Bagi gue sendiri, The Imitation Game menyadarkan gue bahwa masih ada pahlawan-pahlawan yang namanya dirahasiakan dan tidak bisa menerima bayaran jasa heroiknya. 7/10  

Senin, 13 Mei 2013

Never Let Me Go

Maybe none of us really understand what we've lived through, or feel we've had enough time. -Kathy H.

Siang yang membosankan ternyata mengantarkan gue kepada film Never Let Me Go.  Film ini diangkat dari novel Kazuo Ishiguro yang berjudul sama.  Novel Never Let Me Go sampai masuk 100 novel terbaik dari tahun 1923 - 2005 edisi majalah Time.  


Kathy (Carey Mulligan), Ruth (Keira Knightley), dan Tommy (Andrew Garfield) tumbuh bersama di sebuah 'sekolah' bernama Hailsham.  Tommy yang sifatnya pemarah dan mudah dibully, ternyata berhasil menangkap simpati Kathy.  Ruth?  Ia mengikuti jejak teman-temannya, yang lain : membully dan menjauhi Tommy.  Ketika muncul sebuah ikatan antara Kathy dan Tommy, Ruth justru masuk diantara mereka dan berhasil menjadikan dirinya sebagai kekasih Tommy.  Tidak hanya itu, mereka hanya mempunyai waktu yang sedikit, karena takdir mereka sebagai kloning.

WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Di antara film-film romance yang gue tonton, film ini mungkin satu-satunya film romance yang gue harapin bangeeeeeeeet bakal dapat happy ending.  

Ishiguro ingin menunjukkan sisi lain dari kisah cinta.  Apa yang terjadi jika tokoh cerita tidak punya daya juang yang kuat dan cenderung pasrah?  Sisi itu lah yang ingin ditunjukkan Ishiguro.  Mungkin banyak yang kesal karena mereka terlalu pasrah, tapi gue pribadi senang juga akhirnya ada cerita romance di mana tokoh-tokohnya cenderung pasrah. Tapi kepasrahan itu juga mengundang pertanyaan.  Kenapa Kathy dan Tommy tidak mencoba untuk melarikan diri?  Gue hanya bisa berasumsi kalau kondisi Tommy terlalu parah untuk diajak berpergian.  Mungkin karena itulah gue berharap banget film ini jadi happy ending.  Mereka sudah terlalu lama diatur dan ketika mereka bisa bersatu, waktu yang menipis justru memisahkan mereka. 

Akting ketiga pemainnya bagus banget.  Mulligan, you can be the next Emma Thompson!  Mungkin banyak cewek (alay) yang suka sama Andrew Garfield di Spiderman, tapi gue suka Garfield di film ini.  Kalau gue nonton film Spiderman duluan, gue udah pasti gak bakal tertarik sama Garfield.  Keira Knightley?  As usual, dia keren banget!  Somehow, Keira's characters in her movies kinda remind me of Katharine Hepburn...you know, the type of independence and strong head characters...maybe that's why I fall in love with Katharine and Keira, hehe.  Di novelnya sendiri, sudah jelas Kathy dan Ruth adalah orang yang berlawanan, tapi mereka punya ikatan yang kuat.  Mulligan sukses menjadi seseorang yang pasif, dan Knightley sukses menjadi orang yang lebih agresif dan bossy.  Tommy?  Well, dia adalah orang yang terjebak di antara mereka berdua.

Ada satu adegan yang menarik di film ini.  Yaitu adegan dimana murid-murid di Hailsham mempraktekkan cara yang normal dan benar untuk memesan minuman.  Adegan itu simply menunjukkan bahwa walaupun mereka punya perasaan, jati diri mereka tetaplah manusia kloning.  Mereka tidak akan pernah merasakan hidup yang benar-benar normal dan alive.  Hidup mereka selalu didikte untuk menjaga kesehatan.  Kalaupun mereka mempelajari dan berhasil beradaptasi dalam kehidupan yang normal, waktu yang mereka punya masih akan mengikat mereka.

Adam Kimmel juga berhasil di bagian sinematografi.  Sinematografinya keren banget.  Begitu juga setting tempat film ini.  Eye-candy banget!


Alex Garland mungkin berhasil menunjukkan ketertarikan antara Kathy dan Tommy sejak kecil, tapi dia tidak bisa menunjukkan hubungan Kathy dan Ruth yang sangat dalam.  Kazuo Ishiguro sendiri sebenarnya lebih mengesampingkan hubungan Tommy dan Kathy.  Ia lebih fokus pada hubungan Kathy dan Ruth, dan menjelaskan mengapa sifat mereka yang berbeda dan pertengkaran-pertengkaran mereka justru membuat hubungan mereka lebih kuat.  Untung gue udah baca novelnya, jadi lebih ngerti hubungan mereka bertiga.  Saat Tommy muncul dalam kehidupan Kathy, Ruth tiba-tiba menghilang, dan voila, dia menjadi pacar Tommy.  Setelah mereka pergi dari Hailsham pun, Ruth lebih terlihat seperti musuh daripada sahabat.  Dan tiba-tiba, dia minta maaf kepada Kathy dan Tommy-_-  Itu gak cocok banget dengan sifatnya yang keras kepala dan arogan.  Time changed her?  Maybe.


Gue mengerti kalau tujuan utama Kazuo Ishiguro adalah menunjukkan bahwa manusia kloning tetaplah manusia yang mempunyai perasaan, bukan fokus ke sisi sainsnya.  Tapi tetap aja dia harusnya memberi sedikit penjelasan tentang dunia kloning, seperti bagaimana kloning terbuat, dari mana dananya, apakah lebih berat pro atau kontra.  Jadi bukan salah Alex Garland sepenuhnya kalau dia tidak menyediakan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas.  Setidaknya Garland sudah mengisi kekosongan dalam hubungan Kathy dan Tommy.

Setelah gue bilang ada adegan menarik di film ini, menurut gue ada adegan yang boring dan meaningless banget.  Adegan itu adalah saat Kathy mendengarkan lagu Never Let Me Go (fictional song).  Gue lebih suka adegan yang di novel.  Di novel, Kathy bingung dengan makna baby di lagu itu.  Tentu pembaca tahu yang dimaksud baby adalah sayang, bukan bayi.  Tapi Kathy yang tidakpernah keluar dari Hailsham langsung berasumsi bahwa lagu itu menceritakan tentang seorang ibu yang tidak ingin melepaskan bayinya.  Ia meresapi lagu itu, dan menggendong sebuah benda (gue lupa, hehe) dan menganggap benda itu adalah bayi.  Adegan itu lah yang harusnya dibuat Romanek!  Bukan adegan Kathy yang sekedar menikmati lagu itu-_-

This movie is more dramatic than the novel.  Suasanya terlalu dreary dan Rachel Portman sama sekali tidak membantu.  Musiknya emang bagus dan emosional banget, tapi musik dari Portman juga membuat film ini terasa berat dan terlalu sedih.  Sekali lagi, kesalahan bukan sepenuhnya dari Rachel Portman.  Mark Romanek juga salah untuk tidak menangkap the innocence of childhood di awal film.  Awalannya lebih terasa seperti typical high school movie.  Romanek should've given a moment of pure happiness and purity in this movie.  Karena gue yakin karakter-karakter di Never Let Me Go pasti mempunyai suatu kepolosan.

Overall, it's still a good movie and worth to watch.  7/10


pic cr : impawards
            thethingiscool 
            fspcinema
            rowthree
            mubi
            chrisfilm
            thequietus