Tampilkan postingan dengan label 2020s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2020s. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2022

[A Review-ish] Pengabdi Setan 2: Communion [SPOILER ALERT]

Akhirnya sekuel dari Pengabdi Setan ditayangkan pada Agustus tahun ini. Jarak antara sekuel dan film pertama cukup lama, yaitu sekitar lima tahun. Film yang digarap oleh Joko Anwar dan dibintangi oleh Tara Basro ini merupakan salah satu film Indonesia yang ditunggu-tunggu. Buktinya film tersebut sudah mencapai satu juta penonton kurang dari seminggu. Film ini mengikuti kehidupan keluarga Rini yang terdiri dari Rini sendiri, bapak, Bondi, dan Toni. Sekarang mereka tinggal di sebuah rusun (rumah susun) yang cukup terpencil. Hidup di rumah susun tentu saja membuat mereka memiliki beberapa tetangga seperti Tari (Ratu Felisha), seorang PSK yang sering digoda oleh Dino (Jourdy Pranata). Bondi memiliki beberapa teman baru, salah satunya adalah Wisnu, yang dianiyaya oleh bapaknya sendiri. Suatu malam, para penduduk rumah susun khawatir karena adanya peringatan mengenai badai. Namun kekhawatiran mereka berubah menjadi ketakutan ketika suatu kecelakaan mematikan terjadi di rumah susun tersebut.

Pengabdi Setan 2 kembali dengan beberapa aspek yang lebih tentu saja. Sinematografinya jauh lebih bagus dan cantik daripada film sebelumnya. Penggunaan cahaya juga sangat efektif, tidak hanya bagian horornya tapi juga bagian cantiknya. Production value juga kelihatan lebih bagus dan mahal. Gila sih Joko Anwar dan timnya bisa sampai pake gedung rusun yang terbengkalai.

Nah, sayangnya meskipun set-nya udah lebih gede dan lain-lain, gue malah merasa terornya gak semencekam film pertama. Nah mungkin ini karena setting film pertama kan di rumah tua. Kalau lo masih punya kerabat yang rumahnya di desa, gayanya jadul, punya sumur, pasti ada point relateable. Gak cuma itu, tapi karena itu di rumah, kayak lebih terasa claustrophobic karena space untuk lari lebih kecil. Secara psikologis, lo akan lebih merasa tertekan karena lo diserang di tempat yang seharusnya tempat teraman dan ternyaman buat lo.

Tapi ini tidak seharusnya menjadi alasan. Space yang luang seperti rumah susun memiliki teror sendiri. Bisa jadi "teror elektronik" kayak film horor Jepang tahun 90-an seperti The Ring atau Ju-On. Tipe horor "aneh" macam drakor Stranger from Hell yang tetangganya aneh-aneh juga bisa. Atau rumah susun bisa digunakan agar para karakter merasa lelah, terutama secara fisik, karena justru rumah susun jadi terasa terlalu luas. Artinya ya mereka harus lebih banyak lari dong waktu ketemu setan. Rumah susun juga terasa sulit dibedakan karena bentuknya ya begitu-begitu saja, sehingga mungkin bisa menimbulkan keparnoan karena "merasa" sudah ke rumah yang itu. Sayangnya, selama di film tidak ada rasa-rasa tersebut. Mungkin Joko Anwar merasa ide-ide gue yang itu terlalu klise, tapi I'll take cliche over underwhelming horror anytime.

Intinya, setting rumah susun di film Pengabdi Setan 2 gak bikin gue paranoid kayak sumur atau ke toilet malem-malem (dari film pertama). Sebenarnya bukan berarti gagal bikin takut sih. Ada beberapa yang lumayan bikin gue dagdigdug kek waktu si Wisnu buang sampah atau si tetangga-tetangganya Rini pada melihat ke arah dia. Tapi entah build-upnya terlalu pendek (untuk gue) sehingga tidak ada lingering fear setelah pulang, I don't know. Gue takut sih nonton PS2, tapi takutnya ya udah, gak bikin parno.

Sekarang kita lanjut ke masalah teori-teori di film ini. Dari perspektif ekonomi, memang Joko Anwar sukses creating hype and buzz for the film, yang gue yakin bikin investor seneng. Di sisi lain, misteri di film ini tuh terlalu loose dan out of nowhere for me. Tidak banyak fondasi yang menjadi anchor bagi penonton. Padahal gue suka misteri di mana clue-nya yang memang bisa digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan di film.

Contoh misteri yang baik unexpectedly menurut gue malah ditulis oleh J.K. Rowling. Contohnya, Rowling suka menggunakan trope di mana ada "tersangka" yang digunakan untuk men-distract pembaca/penonton dari tersangka sebetulnya, kayak Snape di buku pertama tapi penjahatnya sebenarnya malah Quirell. Quirell merupakan penjahat pun bukan twist yang out of nowhere and for the sake of twist, karena Rowling sudah menebar petunjuk kecil seperti kepala Quirell yang ditutup terus, dan Snape yang mencoba untuk melawan Quirell.

Jujur gue sudah menebak si Bapak adalah seorang petrus (penembak misterius) karena kata petrus terlalu sering disebut di awal film, apalagi pekerjaan si Bapak tidak pernah dijelaskan. Tapi alangkah lebih baiknya jika ada petunjuk subtle yang lebih. Sebenarnya misteri atau hint yang going to nowhere is not something yang inherently wrong, tapi wajar jika ada beberapa penonton yang merasa tidak puas.

On the other hand, ada beberapa hint kecil yang gak (atau belum?) ke mana-mana. Contohnya, kenapa pocong-pocongnya di awal kok specifically munculnya di Boscha? Boscha-nya tidak disebut lagi di bagian selanjutnya. Kalau gue punya teori nih. Kan occult yang di film ini berasa kayak ala-ala horor film barat dibandingkan Asia. Kek pemujaan setan/paranormal atau apalah. I can't explain it clearly tapi vibenya tuh beda aja sama film sebelumnya. Mungkin kultus/kelompok pengabdi setan si ibu ini, aslinya muncul dari luar Indonesia, dari negara-negara yang ikut KAA di Bandung, makanya kemunculunnya baru ada sekitar mendekati KAA. Nah, Barata (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) lebih ke arah agen yang menyebarkan ajaran, tapi mungkin bukan anggota aktif, hence their dialogue in the end of the movie!

Overall, Pengabdi Setan 2 improves the cinematography and production value. Sadly, the terror has less grip as the set wasn't used effectively. My personal hope: Joko Anwar will give us more of Fachri Albar and Asmara Abigail so their face talent won't be wasted <3

Selasa, 29 September 2020

Enola Holmes

 

pic credit to netflix
pic credit to Netflix

Enola Holmes merupakan adaptasi dari novel Nancy Springer, dan disutradarai oleh Harry Bradbeer. Film ini mengikuti Enola (Millie Bobby Brown) yang dibesarkan oleh ibunya, Eudoria (Helena Bonham-Carter). Eudoria mengajarkan Enola keahlian dan pelajaran yang tidak umum dipelajari wanita waktu itu, seperti bela diri dan sains. Suatu hari, ibunya memutuskan untuk meninggalkan Enola. Enola yang belum dewasa menjadi anak wali Mycroft (Sam Claflin), kakak dari Enola dan Sherlock (Henry Cavill). Enola memutuskan untuk kabur dan mencari ibunya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tewkesbury (Louis Partridge), seorang bangsawan yang lari dari keluarganya.


pic credit to Netflix


Okay, I just need this to get out of my chest first: Henry Cavill lebih ganteng di sini daripada di DCEU woy. Kalau kata adek gue: "Emang mana yang lebih ganteng, orang pake celana dalam di luar atau di dalem."


Kalau gue menebak ini mengambil latar belakang di Edwardian Era. Edwardian Era sendiri berjalan dari sekitar tahun 1901 hingga 1910, sebelum Perang Dunia I. Gerakan suffrage berkembang cukup pesat di era ini. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok suffragattes sebenarnya memuncak sekitar tahun 1914, di bawah rezim George V. Meskipun gerakan suffrage berkembang di akhir Victorian Era, wanita yang memiliki pendidikan tinggi seperti Eudoria dan Enola sudah ada sejak lama di Inggris, sebut saja Ada Lovelace dan Mary Shelley.


Mungkin ada beberapa penonton juga yang tidak percaya wanita di zaman itu bisa belajar olahraga bela diri. Justru di Edwardian Era lah para wanita belajar jiu-jitsu untuk melindungi wanita lain. Wanita yang menyebarkan jiu-jitsu kepada wanita lain adalah Edith Garrud, instruktur WSPU (Women's Social and Political Union). Enola Holmes juga memiliki tokoh bernama Edith yang diperankan oleh Susie Wokoma, seorang wanita kulit hitam. 


Gue agak kaget gak ada yang mempermasalahkan pemilihan casting Wokoma, mengingat ia jelas-jelas terinspirasi dari real person. Mungkin ini karena Garrud sendiri bukan tokoh feminis yang populer. Menampilkan tokoh kulit hitam di Edwardian Era mungkin terasa seperti usaha dangkal yang bagus untuk terlihat memiliki 'diverse cast'. Tapi itu juga bisa usaha untuk whitewashing the history. Benar, tidak seharusnya orang menganggap serius nuansa historis dari film fiksi. Tapi ini film yang kelompok demografisnya adalah anak muda who probably do not know any better. 


Gue juga tidak akan mempermasalahkan pilihan casting itu kalau Enola Homes fully for entertainment. Alas, mereka mencoba untuk preaching for social justice and why you should participate in it. Tingkat preachnya sampai level penulisnya menuliskan dialog yang spelling out the message. Seandainya mereka gak preachy, mungkin I will take the faults of the film less seriously.


Walaupun Jack Thorne selaku screenwriter bersusah payah untuk menjelaskan pesan film, ada aspek cerita dan tokoh yang mengkontradiksi pesan tersebut. Ada adegan di mana Edith called out on Sherlock's apolotical position. Edith menyatakan bahwa wajar Sherlock tidak tertarik untuk mengubah tatanan politik, karena ia tidak pernah dirugikan oleh politik. Gue pribadi setuju bahwa orang yang apolitik cenderung priveleged, dan tidak peduli politik sama sekali artinya apatis terhadap kehidupan orang lain. Edith bahkan dengan gamblang ngomong kalau Sherlock kayak burung unta yang ngumpetin kepalanya di bawah tanah.


Di sisi lain, Enola dengan keras kepala menolak untuk berkompromi dengan Mycroft. Ia menolak untuk bergaul dengan cewek yang seumuran dengan dia di sekolah. Enola hampir tidak mengubah pendiriannya, bahkan menyatakan bahwa dunia lah yang harusnya berubah. Lalu, film ditutup dengan Enola yang menyatakan, "My life is my own (...)". Enola's hard headedness can hinder social change too, in real life. Karena di kehidupan nyata orang harus belajar untuk berkompromi dan choose their battle wisely. Gue juga mikir dengan dia menolak untuk belajar di sekolah itu, kemungkinan dia malah membuang kesempatan untuk networking dan menyebarkan feminisme ke kaumnya sendiri. Pilihan dia untuk bersikeras terhadap pendiriannya jadi kontras dengan keputusannya dia untuk menyamar, bahkan ganti gender dan kelas, di sepanjang film.


Nilai-nilai feminisme di film ini juga jadi berkurang jika mengingat film ini seakan-akan membagi tokoh-tokoh wanitanya menjadi dua: progresif dan kuno. Di sisi progresif ada Edith, Eudoria, dan Enola. Di kelompok kuno ada wanita bangsawan, cewek-cewek di sekolah Enola, dan Miss Harrison (Fiona Shaw, yang jadi tantenya Harry Potter). Hampir gak ada wanita yang di tengah-tengah. Mungkin ada satu sih, penjaga kosannya Enola, yang oportunis. Mycroft is also over-villainized? Dia jadi konservatif dangkal yang tipikal. I would've liked it more if he had been a traditional centrist that can challenge Enola's thought. 


Overall, Enola Holmes is an entertaining movie with Millie Bobby Brown as a solid lead. It has a pretty cinematography and a nice flow. Unfortunately, its attempt to be political is weak and the message is contradictory. 6,5/10






Senin, 28 September 2020

The Devil All The Time


Istilah "manusia lebih jahat daripada setan" berlaku terhadap film ini. Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama oleh Donald Ray Pollock berlatar belakang di Ohio, Amerika, setelah Perang Dunia II. Film ini mengikuti Willard (Bill Skaarsgard), veteran PD II, yang jatuh cinta kepada Charlotte (Haley Bennet). Mereka mempunyai seorang putra bernama Arvin (Tom Holland). Tragedi mulai jatuh ketika Charlotte sakit. Willard yang desperate untuk menyelamatkan Charlotte, menjadi lebih fanatik lewat doa-doanya, bahkan mengorbankan anjing milik Arvin. Charlotte tetap mati dan Willard bunuh diri. Arvin dibantu oleh Sheriff Bodereck (Sebastian Stan) sebelum dikirim untuk tinggal bersama neneknya, pamannya, dan Lenora (Eliza Scanlen).


Lenora dan Arvin bonding sebagai sesama anak yatim piatu. Lenora dibully oleh anak SMA sekitar karena ketaatannya terhadap agamanya. Arvin hanya ikut ke gereja demi menyenangkan neneknya. Insecurity Lenora dieksploitasi oleh pendeta baru, Preston Teagardin (Robert Pattinson). Sementara itu, Sheriff Bodereck mempunyai kecurigaan terhadap kegiatan adiknya, Sandy (Riley Keough). Bodereck menemukan foto aneh di rumah Sandy dan suaminya, Carl (Jason Clarke).




The Devil All the Time merupakan ujian pertama Tom Holland dalam akting yang lebih serius. Tidak hanya akting serius, Holland juga harus belajar menggunakan aksen semi-southern. Berbeda tentu dengan Pattinson yang memang on the rise as a serious actor. Seluruh pameran berakting dengan bagus di film ini, gak ada yang bolong. I personally want to give extra shoutout to Eliza Scanlen, yang benar-benar menangkap kerelijiusan dan insekuritas Lenora. 


Mungkin sudah bisa ditebak bahwa film ini akan berbicara tentang agama, specifically Christianity. Film ini tidak menyerang agama Kristen, hanya mengkritik fanatisme keras pengikutnya. Namun, menurut gue kritikan tersebut kurang relevan, tidak baru, dan tidak berani. Fanatisme relijius di film ini berlatar belakang tahun 50an dan di daerah rural. Ini era di mana pendidikan tidak seaksesible sekarang dan tokoh-tokohnya tidak punya banyak kesempatan untuk menjelajah dunia. Tentu wajar jika mereka bergantung pada agama. Kenyataannya, fanatisme sinting macam film ini bisa terjadi zaman sekarang dan di kota besar. Lihat saja gereja kultus di Seoul yang menyebarkan Covid-19, atau masjid di kota yang menyebarkan bibit intoleransi. Justru akan lebih menarik untuk melihat fanatisme relijius di era modern dan di perkotaan. Seandainya "The Devil All the Time" dibuat di Indonesia di era sekarang, atau di Amerika tapi lebih awal, mungkin akan terasa lebih berani atau baru. 


The religious background doesn't get anywhere, which is a shame. Apalagi kita semua udah pernah dengar preacher/reverend yang melecehkan jemaatnya. Orang tua yang memaksakan nilai agama ke anak juga familiar. Hampir gak ada eksplorasi lebih dalam dari fanatisme dan tokoh-tokoh itu. Fanatisme relijius hanya untuk props dari cerita Arvin dan tokoh-tokoh lainnya.


Tapi ada satu aspek yang gue setuju adalah orang yang posisinya lemah secara psikologis, akan lebih mudah untuk dicuci otaknya. Contohnya tentu saja Willard yang makin relijius ketika istrinya sakit, dan Lenora yang terlalu percaya kepada Pendeta Teagardin. Yang menarik juga adalah perbedaan antara Willard dan Arvin dalam menghadapi trauma. Willard mulai kembali menjadi relijius karena pengalamannya yang mengerikan di PD II. Trauma masa kecil Arvin justru membuatnya menjadi apatis terhadap agama, bahkan tidak menyukai Teagardin.


Gue juga suka film ini gak pakai tetek bengek supernatural atau magical realism kayak The Green Mile. Ada sense of realism yang menambah horor. Di dunia nyata kekejaman dan sisi gelap bukan datang dari setan atau devil, but the humans all the time. Apalagi kekejaman itu dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya melindungi orang lain, seperti ayah, pendeta, dan polisi.


Film ini sifatnya non-linear dan semi-hyperlink kayak Magnolia atau Contagion. Jadi filmnya akan lompat-lompat perspektif. Menurut gue backstory-nya agak panjang dan boring. Backstory-nya juga agak memperlambat film dengan beberapa hal yang bisa di-skip. Editing-nya gue pribadi juga kurang sreg karena sekali atau dua kali gue agak kesusahan dengan ngikutin nama-nama tokoh di film dan koneksi mereka tokoh yang lain.


Overall, The Devil All the Time punya jajaran aktor yang solid, sinematografi yang apik, dan music score yang memperkuat atmosfer film. Sayang ceritanya kurang mendalami isu sosial yang diceritakan, dan tidak terasa baru dan berani. 6,5/10