Tampilkan postingan dengan label Asian Cinema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asian Cinema. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2019

Our Little Sister (Umimachi Diary)



Hirokazu Kore-eda merupakan nama yang tidak asing bagi penggemar film festival. Karyanya tahun 2013, Like Father Like Son (yang belum gue tonton padahal udah didownload dari kapan tahu) menerima Jury Prize di Cannes Film Festival. Puncak karirinya sejauh ini adalah menerima Palme d'Or untuk Shoplifter pada tahun 2018. Our Little Sister merupakan filmnya yang dirilis pada tahun 2015, dan diadaptasi dari manga yang berjudul Umimachi Diary oleh Akimi Yoshida.

Film Hirokazu kali ini bercerita tiga orang kakak-beradik dewasa. Yang tertua, Sachi (Haruka Ayase), lalu Yoshino (Masami Nagasawa), dan Chika (Kaho). Mereka telah lama hidup bertiga sejak orang tua mereka bercerai. Tiba-tiba, mereka mendapat kabar bahwa ayah mereka telah meninggal. Saat pemakaman, mereka bertemu dengan adik bungsu mereka dari pernikahan kedua sang ayah, Asano Suzu (Suzu Hirose). Sachi yang merasa sang adik kurang bahagia tinggal bersama istri ketiga ayahnya, mengajak Suzu untuk tinggal bersama mereka bertiga. Suzu menerimanya.



SMALL SPOILER ALERT

Karena gue belum menonton film Hirokazu Kora-eda yang lain, gue belum bisa membuat perbandingan dengan film-film sebelumnya, hehe. Film ini malah mengingatkan gue dengan film Jepang jadul yang berjudul Tokyo Story. Jika Tokyo Story berbicara mengenai orang tua yang diabakan anak-anaknya yang dewasa, maka Our Little Sister menceritakan orang dewasa yang diabaikan orang tuanya saat muda, serta seorang anak yang dikecewakan oleh orang dewasa.

Apa ini gue doang atau gak, film Amerika Serikat yang indie cenderung lebih menyukai dekonstruksi ideal relationship atau cerita mengenai dysfunctional relationship. Sebut saja Marriage Story yang Desember nanti dirilis oleh Netflix (at least based on the trailer), Midsommar, Lady Bird, heck, one of its' biggest franchise is basically a family space opera! Untungnya Hirokazu Kore-eda menghindari tren itu, dan memperlihatkan hubungan saudara yang sehat. 

Kelalaian orang tua mereka tidak muncul lewat hubungan saudara yang tidak sehat, atau apapun yang mencolok. Luka itu justru tumbuh lebih subtle. Seperti Sachi yang sering kali lebih seperti ibu daripada kakak. Hal ini diperlihatkan dari bagaimana ia yang sering memasak dan menegur adik-adiknya. Ada Yoshino yang sering memanjakan pacarnya secara material. Chika yang masih sedikit kekanak-kanakan. Yang terakhir, Suzu, yang menyimpan unek-unek mengenai ibu tirinya, ditambah merasa insecure karena merasa ibunya lah yang menghancurkan pernikahan orangtua kakak-kakaknya. Akibat dari abandonment nyatanya tidak selalu terlihat mencolok dan inilah yang kadang-kadang dilupakan media dan masyarakat awam. Ini poin favorit gue dari film ini. Luka itu kadang-kadang terlalu dalam atau sudah mati rasa sehingga hanya terlihat jika diperhatikan sangat baik-baik saja.

Film ini juga tidak mempunyai alur cerita yang konvensional. Alur ceritanya sama dengan manga yang diadaptasi, di mana ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari keempat kakak-beradik itu. Kadang-kadang ada hari yang sekedar rutinitas, ada yang sangat membahagiakan, dan ada yang diisi dengan ketegangan. Ketika kamu berharap bahwa konflik kecil itu akan menjadi konflik utama, konflik itu akan terselesaikan atau hanya digantung. Contohnya, ada cerita mengenai kedatangan ibu the elder sisters. Hal ini memicu konflik karena Sachi belum sepenuhnya memaafkan sang ibu. Suzu juga menjadi tidak nyaman. Tapi, Koru-eda tidak membuat tarik-ulur dengan konflik ini secara berlebihan, dan memberikan resolusi yang heartwarming. Tidak hanya resolusi yang heartwarming, film ini juga menampilkan momen-momen kecil membahagikan seperti memanen buah plum, makan katsu, atau sekedar naik sepeda dengan teman. Meskipun demikian, Hirokazu berhasil menyulap momen kecil itu menjadi tidak hanya membuat senang penonton, tapi juga menghangatkan hati mereka.

Secara teknis, gue jatuh cinta banget dengan musiknya! Kudos for Yoko Kanno. Sayang gue cari di YouTube dan Spotify gak ketemu, huhu. Lantunan pianonya itu ringan, tapi manis gak sampai diabetes. Benar-benar menangkap esensi filmnya. Akting para aktornya bagus, tapi yang lebih bagus lagi adalah chemistry di antara mereka. Benar-benar meyakinkan kalau mereka itu kakak beradik. And the landscape!!! No word to describe the landscape. 

Overall, Our Little Sister has the perfect amount of sweetness, warmness, tension, and melancholy. It captures the subtle effect of parental abandonment and disappointment, while also proving you can break it by being a functional adult and having a healthy and loving relationship with your sisters. 7,5/10. 

Kamis, 01 November 2018

Thursday Movie Picks: Gangster


Hello readers! It's been a long time since I'm working on TMP. I've been busy and just not in the mood for writing but I know you do not come here to listen to my life story. Thursday Movie Picks is hosted by Wandering through the Shelves. For further details you can check here.

Without further a do, here are the movies I picked for this week's theme, Gangster.

Bonnie and Clyde (dir. Arthur Penn, 1967)


Bonnie Parker (Faye Dunaway) caught Clyde Barrow (Warren Beaty) trying to steal his mother's car. But charmed by him, she followed Clyde's world of robbing from small shops to bank. 

This is actually a romantic film that masqueraded itself as a gangster film. The focus of this story is how Bonnie and Clyde handled being chased by the police and the turbulence in their relationship. Bonnie and Clyde is a lovely film that is elevated by its two leads and their chemistry.

A Brighter Summer Day (dir. Edward Yang, 1991)

Xiao Si'r (Chang Chen) was forced to go to a school full of delinquents as his grades weren't enough to go to a better school. Later, he was caught between the feud of two gangs, Little Park Boys, children of civil servants, and 217s, children of military officers. His life was more complicated when Ming (Lisa Yang), the girlfriend of one of the leaders, came to his life.

A Brighter Summer Day is an exquisite realist film. Edward Yang built his protagonist's world carefully to lead us into a tragic climax. 


A Bittersweet Life (dir. Kim Jee Woon, 2005)

Kim Sun-woo (Lee Byung-hun) was assigned to keep an eye for his boss' girlfriend, Hee-soo (Shin Min-ah). He developed feelings for her, and decided to disobey his boss by sparing Hee-soo's life and a man she secretly dated behind Sun-woo's boss. His choice triggered a series of violence events for him.

A bittersweet life is filled with bittersweet music and stunning cinematography. Lee Byung-hun also gave an emotional performance and captured his character perfectly. There is this fluidity I can't explain that didn't make this film rigid.  


Bonus: Sunny (dir. Kang Hyung Chul, 2011)


Nami accidentally met an old high school friend, Chunhwa, in a hospital. They re-connected quickly. As Chunhwa's days numbered, she asked Nami to gather their old gang, Sunny. As she reminisced her past, she was taken back to her high school days in the middle of a political era in South Korea.

I was initially going to pick this over Bonnie and Clyde, but I fear that it will not fit the Gangster genre, lol. Although technically, if the definition of gangster is a group of people who do illegal things, this is a gangster movie. Sunny is (mostly) a feel good film that can make you cry, laugh, and looking back at your own teenage years.

Minggu, 07 Januari 2018

A Brighter Summer Day



A Brighter Summer Day (牯岭街少年杀人事件, Youngster Homocide Incident at Guling Street) merupakan film drama yang berlatar di Taiwan pada awal tahun 1960-an. Film Taiwan berdurasi 237 menit ini disutradari oleh Edward Yang dan dirilis pada tahun 1991. Film yang merupakan bagian dari Taiwan New Wave ini sebenarnya loosely based on a true event dan menggunakan sekitar 100 aktor amatir. 

Semuanya dimulai ketika Zhang Zhen, atau Xiao Si'r (Chang Chen) tidak berhasil masuk sekolah siang dan terpaksa masuk sekolah malam. Apa yang ditakutkan ayah S'ir terjadi - S'ir jadi bergaul dengan anak-anak 'nakal'. Daerah di sekitar S'ir dikuasai oleh dua gang, yaitu Little Park Boys dan 217. Little Park Boys merupakan gang dari keluarga pegawai sipil sementara gang 217 merupakan gang dari keluarga militer. Meskipun Si'r bukan anggota gang manapun, ia lebih dekat dengan Little Park Boys. 

Ketika Honey, ketua Little Park Boys, bersembunyi dari polisi, ia meninggalkan kekasihnya, Ming (Lisa Yang). Absennya 'pemilik' Ming memicu lebih banyak konflik antara kedua gang tersebut dan menyeret Si'r ke dalamnya.



There are so many things to be discussed and unpacked in this masterpiece by Edward Yang. But first of all, I have to apologize as I know nothing at all about Taiwanese culture, language, and history (except for Dau Ming Si lol). Padahal ketiga film ini krusial sekali untuk memahami A Brighter Summer Day lebih dalam. ketidakfasihan gue membuat ada beberapa hal yang gue miss seperti orangtua Si'r berbicara Shanghainese agar percakapan mereka tidak dipahami oleh anak-anak mereka yang berbicara bahasa Mandarin. Ada juga aspek seperti bagaimana American pop culture mempengaruhi kehidupan anak-anak muda di Taiwan pada zaman itu dan seberapa kontrasnya dengan rumah mereka yang secara fisik peninggalan Jepang namun didiami oleh mereka yang masih punya ikatan ke Mainland China. 

Uncertainty and Instability

Film ini dibuka dengan kekecewaan dan ketidakyakinan atas masa depan sang tokoh utama. Pembuka filmnya hampir exclusively menunjukkan Si'r dan ayahnya saja, bahkan tidak menunjukkan wajah guru Si'r. Lukisan ini seakan-akan menunjukkan bahwa situasi ini hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya. Selanjutnya kita mendengar daftar nama-nama siswa yang lulus masuk ke berbagai sekolah di Taiwan. Artinya keadaan ini sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya tapi juga oleh berbagai anak dan orangtua di Taiwan. Mungkin ini hanya aspek kecil tapi menurut gue Edward Yang dengan pintar menunjukkan bagaimana bahwa education is both personal and public problem. Kalau dipakai di konteks jaman sekarang, ketika kita membaca riset mengenai pendidikan, kita hanya melihat angka orang-orang, tapi kita tidak pernah tahu perasaan mereka dan apa yang mereka pikirkan. Adegan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bagian dari stastik itu adalah riil dan bukan sekedar angka saja. Sebaliknya untuk gue pribadi, adegan ini agak mengingatkan bagaimana gue merasa hanya gue yang stress untuk mendapat kursi di PTN, padahal bukan gue saja. Dan jikalau gue gagal, I would not be the only one. 

Ketidakyakinan dan ketidakstabilan yang dialami oleh S'ir dan keluarganya tidak hanya datang dari aspek pendidikan saja tapi juga dari fakta bahwa keluarga S'ir merupakan keluarga pendatang. Sang ayah yang terus memantau berita sepertinya menunggu adanya tanda yang memperbolehkan ia dan keluarganya untuk kembali ke Cina. 

Di awal film, penonton mendapatkan informasi bahwa munculnya gang anak muda (walaupun ada beberapa orang dewasa yang masih anggota gang) sangat dipengaruhi oleh kekalahan National Government terhadap kelompok komunis. Setelah gue browsing sedikit, di era 60an, Taiwan masih mengalami berbagai konflik dengan RRC, apalagi Cold War belum berakhir di era tersebut. 



Sociopoliticalish and pieces of gender problem (don't expect much tho)

Setelah melihat keadaan Taiwan di era awal 60an, menjadi wajar sekali bagaimana anak-anak tersebut 'dekat' dengan kekerasan. Kekerasan merupakan hal yang wajar, bisa dilihat bagaimana ada seorang laki-laki dewasa yang dengan gamblang mengekspresikan kepuasannya ketika ia membantai orang-orang komunis. Bahkan berita seorang guru yang dipukul dengan baseball bat sudah seperti gosip pasar, walaupun memang masih dipandang secara buruk dan sekolah masih berusaha untuk mencegah timbulnya kekerasan lebih lanjut. S'ir pun tidak menjadi traumatis ketika ia melihat seseorang yang sekarat karena diserang oleh pedang.

Beberapa keluarga di Taiwan tinggal di rumah bekas orang Jepang. Beberapa barang mereka ditinggal di loteng rumah tersebut. Barang-barang yang ditinggalkan termasuk senjata, dan ditemukan oleh beberapa teman Si'r. At one point, bahkan mereka tidak segan menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah pun tidak imun dari kekerasan dan alat senjata. Their parents either don't know or don't care. 

Selain kental dengan casual and not-so-casual violence, film ini juga menghadirkan casual sexism. Salah satu contohnya adalah bagaimana Ming tidak diperlakukan sebagai mahluk mempunyai agency atau otoritas atas dirinya, tapi sebagai barang yang bisa dimiliki. Hal ini terlihat bagaimana adanya sekolompok laki-laki yang memperingatkan S'ir bahwa Ming adalah "our girl" dan bagaimana Little Park Boys bersikap lebih ofensif kepada Si'r ketika mereka memergoki Si'r dan Ming berduaan, seakan-akan mereka tidak bisa berpikir bahwa Ming juga memilih untuk bersama Si'r, atau mempunyai hak untuk memilih dan berpikir. Selain Ming, ibu Si'r juga mendapatkan kata-kata dari suaminya yang menyiratkan pengetahuannya tidak sebanyak suaminya karena ia perempuan, terutama dalam masalah pertemanan antar pria. Meskipun ini tidak menjustifikasi seksisme kasual yang dialami oleh Ming dan tokoh perempuan lainnya di film ini, penonton bisa mengerti bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. 

Also, I doubt the accesible porn helps men to really understand women. I could be reaching too high, but I think the few mention of porn here and there build a subtle bridge for the final act. Many men love porn, especially the one's that full of sexy girls. Ironically, they usually hate girls who date and have sex too much (according to their personal measure lol). Hal ini pun terjadi di film ini. 

Jadi jelas bahwa anak-anak tersebut mempunyai certain ideals or fantasies about violence, glory, relationship, women, etc. Sayangnya baik orangtua maupun sekolah gagal memberikan koreksi atau perbaikan atas ide dan fantasi tersebut. They lack a mature guidance outside school and house. Ini tidak hanya disebabkan oleh orangtua mereka yang sibuk bekerja dan perang yang terjadi, tapi juga indifference and prejudice terhadap hal-hal yang lebih modern dan atau bersifat asing. Bagian ini diperlihatkan lewat ayah Si'r yang mempertahankan suatu radio tua dan nilai-nilainya yang kaku, dan bagaimana guru Si'r menjelaskan bagaimana huruf Cina lebih superior daripada alfabet Latin.

Misc

I just love the techniques Edward Yang used for this film. The lack of camera movement (which seems influenced by Yasujiro Ozu) fascinates me in inexplicable way.  Dan jika benar Yang dipengaruhi oleh Ozu, menurut gue lucu dan pintar. Lucu karena dari sisi musik, film ini justru lebih kaya akan lagu-lagu populer Barat (selain lagu-lagu tersebut, film ini tidak menggunakan musik, which fits perfectly with the realism of this film). Pintar karena kalau gue lihat sekilas filmografi Ozu yang lumayan banyak ambil adegan di dalam rumah sementara rumah-rumah di film ini merupakan rumah bekas Jepang. Selain itu ada beberapa adegan yang menggunakan gaya frame within frame yang membuat gue merasa tidak hanya menonton film tapi juga melihat kejadian historis dan mengintip kehidupan pribadi tokoh-tokohnya. Also the actors were so great, it would be hard to guess who's amateur and who's not.

Conclusion

I would like this film better if it was shorter. However, I myself think all of the scenes are important to build Si'r's world. Harus gue akuin ada beberapa saat dimana gue merasa agak bosan, tapi itu tidak sampai membuat gue ingin mengskip atau mempercepat adegan tersebut. A Brighter Summer Day tidak hanya film yang cantik dengan teknik yang menarik atau brilliant, but it can suck you to its world. 9/10 (Amazing)




Untuk review yang lebih berbobot dalam bahasa Inggris: https://www.criterion.com/current/posts/3981-a-brighter-summer-day-coming-of-age-in-taipei

Minggu, 25 September 2016

Train to Busan (Busan Haeng)

asianwiki.com

The first Korean zombie film. Kira-kira kalimat itulah yang digunakan untuk mempromosikan Train to Busan di bioskop-bioskop luar Korea. Salah satu film box office dari Korea ini sempat diputar di Cannes Film Festival. Film yang disutradarai Yeon Sang Ho dan ditulis oleh Park Joo Suk ini juga akan mendapat prequel animasi yang juga dibuat oleh sang sutradara berjudul "Seoul Station". 

Kesibukan Seok Woo (Gong Yoo) dalam pekerjaan membuat hubungannya dengan putrinya, Su An (Kim Su An). Merasa bersalah karena tidak membelikan hadiah ulang tahun yang pantas, Seok Woo menuruti keinginan Su An untuk pergi ke Busan mengunjungi ibunya. Perjalanan mereka di KTX mendapat goncangan ketika di zombie mulai muncul di kereta mereka. Seok Woo dan Su An harus bertahan hidup di kereta penuh zombie bersama Sang Hwa (Ma Dong Seok) dan istrinya yang hamil, Sung Kyung (Jung Yu Mi). 


indiewire.com
A zombie film with social commentary

Saya rasa film zombie atau film blockbuster yang mengandung social commentary atau kritik sosial bukanlah sesuatu yang baru. Namun saya menyukai bagaimana Train to Busan membungkus semua kritik dan observasi sosial secara subtle enough. Film ini juga takes time untuk menunjukkan keberagaman kelas sosial dan background dalam suatu wadah kecil, which is the KTX in this film. Kita bisa melihat bahwa ada tim baseball, sepasang kakak-beradik tua, ayah dan anak, suami-istri, pengusaha, and last but not least, the train crews

Keberagaman kelas dan class privilege dapat terlihat juga. Ada penumpang yang mampu mendapat informasi lebih karena koneksi mereka, sedangkan banyak penumpang yang tidak memiliki akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa class privilege bukan sekedar bonus, tetapi juga menyangkut masalah hidup dan mati. Class privilege juga berarti kata-kata anda mempunyai 'berat' lebih banyak daripada orang yang dibawah anda. Sayangnya, orang yag memiliki class privilege juga hanya mau menyelamatkan diri mereka sendiri dan tidak menggunakan privilege tersebut secara optimal.

Usage of modern technology

Mungkin cara film ini menggambarkan penggunaan teknologi adalah salah satu keistimewaan Train to Busan. Instead of showing cool weapon or research, film ini menunjukkan bagaimana teknologi, specifically communication device, membantu kita dalam mendapat informasi dan menyelamatkan kita dalam propaganda.  Ada salah satu adegan yang brief yang menunjukkan bahwa pemerintah berbohong kepada rakyatnya dengan mengatakan bahwa zombie, yes the zombies, are mere protesters who damage public good. Pemerintah di berita-berita juga mengatakan bahwa mereka tidak harus cemas terhadap keselamatan mereka. 

Untungnya dengan keberadaan internet, ketidakberadaan televisi bukanlah penghalang dalam mendapatkan berita. Tidak hanya berita dalam bentuk tulisan, tapi juga video amatir. Ini mungkin juga yang menyebabkran orang beralih ke internet untuk mendapatkan berita. Ironisnya, meskipun banyak orang yang mengatakan internet lebih rentan terhadap hoax, sumber berita di internet lebih beragam dan membuatnya lebih sulit untuk 'dicuci' oleh pemerintah daripada berita di televisi, yang harus lulus sensor dari pihak pemerintah.

Kurangnya senjata yang keren seperti di film World War Z, ataupun senjata pada umumnya, membuat sisi survival dalam film ini lebih kental dan menegangkan. Bayangkan, sudah terjepit pada ruangan yang sempit, kurangnya stasiun untuk berhenti, tidak ada senjata lagi.


*SPOILER ALERT*

Ego vs Comunnity

Maap ye karena gue kurang pintar, gue gak tahu harus menggunakan kata apa selain community, hehe.

Sama seperti kebanyakan film yang mengandung unsur survival and disaster, film ini terus saja memperdebatkan manakah yang akan menyelamatkan kita, mementingkan diri sendiri atau komunitas. 

Film ini memang tidak mementingkan sisi scientific layaknya tayangan zombie lainnya seperti The Walking Dead atau World War Z. Tidak ada pembicaraan bagaimana virus tersebut muncul (hanya dijelaskan secara ambigu), bagaimana menemukan obat, bagaimana orang bisa tertular, dll. Karena gue orangnya kurang peduli dengan science and medic stuff, gue tidak memandang itu sebagai kekurangan. Gue malah senang karena hal tersebut membuat penontonnya fokus pada kritik sosial dan drama yang ada di film ini. Salah satu hal yang gue kritik dari sisi scientific-nya adalah film ini kurang konsisten dalam menentukan waktu yang dibutuhkan manusia untuk berubah menjadi zombie.   

Seperti yang sudah disebutkan tadi, penyebab munculnya virus memang dijelaskan secara ambigu, tapi penyebab zombie ada dalam kereta sudah jelas. Seorang gadis yang digigit zombie memilih untuk masuk kereta dan menginfeksi orang-orang lain. Seandainya si gadis menerima takdirnya dan tidak menaiki kereta, orang-orang yang dalam perjalanan ke Busan mungkin akan mempunyai takdir yang berbeda.

From this, it can be concluded that while being egalitarian doesn't always benefit us, selfishness is the root of problem.

Sexism

Gue kira setelah maraknya tokoh-tokoh wanita yang kuat seperti Furiosa, Black Widow, dan Michonne, kru Train to Busan mungkin akan sadar menambahkan satu karakter wanita yang kuat akan membuat film ini lebih appealing. Saya hanya bisa menahan kesedihan ketika film selesai dan tidak ada female heroine. Mending sekedar tidak ada female heroine, tapi ada kesetimbangan antara bagaimana tokoh-tokoh pria mati di film ini dengan tokoh wanitanya. Tokoh utama yang pria (setidaknya yang protagonis) mati karena mereka sedang berkorban. Tidak ada yang mati karena sedang lengah atau ceroboh. Tokoh yang wanitanya? Cuih, mereka mati karena sedang lengah, ceroboh, dan ada yang mati karena kebodohan. Tidak ada tokoh wanita yang mati karena sedang berkoban. Wanita yang selamat hanya seorang wanita hamil yang cantik dan seorang gadis kecil. Wanita tua dan wanita yang mengenakan rok pendek tidak selamat. Hal ini mengimplikasikan bahwa wanita-wanita tersebut bisa selamat karena umur, kepolosan, dan kemampuan mereka untuk punya anak. I'm just kinda pissed off that the writer is a fucking coward for not killing the pregnant character and the kid. If they were the ones who got killed, the film would be more interesting. 

Other stuff

Setelah membaca salah satu review, gue jadi sadar bahwa tokohnya Gong Yoo bukanlah tokoh tipikal dari film-film zombie. Dia bukanlah Rick Grimer yang punya natural leadership dan tokoh yang masih punya moral dibandingkan let's say Shane. Dia juga bukan Brad Pitt yang punya hubungan baik dengan keluarganya, ataupun akan sukarela menyuntik dirinya dengan penyakit. Instead, he's a selfish bastard who will do anything to ensure the safety of his daughter and him. Yang bagusnya, semua itu ditunjukkan dengan aksi-aksi kecil, bukan dengan menipu salah satu penumpang misalnya. 

Antagonis di film ini adalah salah satu pria yang boleh dibilang influential dan punya class privilege. Pria tersebut tidak hanya ignorant, tapi juga outright a more evil bastard than Gong Yoo's character. Sama seperti seorang reviewer yang mengatakan bahwa Lotso dari Toy Story 3 merupakan Woody yang jahat, pria ini boleh dibilang juga versi jahatnya Gong Yoo. Tapi sama seperti Woody yang masih punya sahabatnya, Gong Yoo disini masih punya anaknya. 

Aktor-aktornya cukup bagus kok. Kudos for Gong Yoo for having a great comeback. Tapi tokoh yang paling menarik adalah tokohnya si Ma Dong Seok, kocak aja lihat dia anjir, haha. Apakah gue doang yang kurang suka sama aktor ciliknya? Lumayan bagus sih, tapi karena gue udah lihat yang lebih hebat jadi katingnya Kim Su An kurang memberikan impact bagi gue. I can see why Sohee's (ex-member of Wonder Girls) gives mixed reaction though, but it's very clear I prefer Choi Wook Shik to her.

Conclusion

Inilah yang akan terjadi jika lo mencampur makjang (melodrama Korea) dengan Snowpiercer dan The Walking Dead. Penggunaan kereta dan kurangnya space menyebabkan film ini mempunyai nilai plus lebih dibandingkan film zombie lainnya. Sayangnya film ini kekurangan gore dan mempunyai terlalu banyak melowness yang akan membuat beberapa orang get turned off. Also, this 2016 film fails to escape from sexism. 7/10 (good)

P.S: Considering Bong Joon Ho directed both The Host (a monster Korean film) and Snowpiercer, AND, his film is not sappy and has great black humor, I would love to see his version of this film.


Rabu, 21 September 2016

Comrades: Almost a Love Story


hancinema.net
Sekitar seminggu yang lalu, gue datang ke pemutaran film yang diadakan oleh Jakarta Cinema Club (JACk) di Paviliun 28. Gue datang kesitu karena gue tertarik dengan tema yang diadakan bulan ini, yaitu Hong Kong Second Wave. Karena pengetahuan gue tentang hal terebut masih kecil, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa Hong Kong Second Wave didominasi oleh Wong Kar Wai, sedangkan dari segi aktor didominasi oleh Maggie Cheung dan Tony Leung. Gaya cerita dan filmnya pun beda dari Hong Kong First Wave, dimana First Wave lebih mengutamakan style ketimbang substance, Second Wave lebih banyak eksperimen dan ceritanya lebih relate ke kehidupan nyata. Kalau dari First Wave, film paling terkenalnya mungkin A Better Tomorrow karya John Woo, gue gak tahu Police Story itu film Cina atau film Hong Kong. Anyway, karena gue gak mau kelihatan bego di diskusi film tersebut, gue memutuskan untuk nonton film Hong Kong Second Wave yang bukan dibuat oleh WKW. Tadinya gue bingung antara Rouge sama nih film, tapi nih film ada Maggie Cheung, hehe.

Jun (Leon Lai) merupakan pria desa sederhana dari Wushi, Cina, yang pergi ke Hong Kong untuk mengadu nasibnya. Meskipun ia harus segera bekerja keras di sebuah tempat asing yang orang-orangnya keras dan cepat, ia tidak lupa untuk tetap berhubungan dengan kekasihnya di desa. Suatu hari, ia memutuskan untuk makan siang di McDonalds karena di desanya tidak ada restoran cepat saji. Disana ia bertemu dengan Qiao Li (Maggie Cheung), seseorang yang dapat mengerti bahasa yang Jun gunakan selain bibinya. Mereka bertambah dekat sejak Qiao Li mengantarkannya ke sebuah tempat les bahasa Inggris dan memberikannya pekerjaan part-time. Sejak Qiao Li mengaku bahwa ia juga berasal dari Cina, mereka bisa berbagi rasa rindu terhadap rumah dengan lega.



A relateable cliche romantic film

Salah satu alasan gue untuk tidak langsung menonton film ini meskipun udah download lama adalah gue takut film ini cuma film romance klise sampah. Fortunately, Comrades: Almost a Love Story punya nilai lebih.

Film yang disutradarai oleh Peter Chan dan ditulis oleh Ivy Ho agak mengingatkan gue pada film AADC yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Dua film ini memang klise, tapi mereka sangat memperhatikan detail dalam pembangunan realita dan dunia tokoh-tokohnya, terutama dalam bagian latar tempat dan pop culture yang sedang tren, bahkan secuil politik. Apa yang gue maksud dalam "pembangunan realita"? Contohnya, dari film ini gue bisa belajar lagu-lagu Teresa Teng yang terkenal yang mana saja dan bagaimana kematiannya membawa impact oleh orang-orang Cina, terutama orang Cina diluar mainland. That's what makes those films as timeless for some people, because we can look back at them and relate to the place and the trend. 

Karena gue belum belajar sejarah Hong Kong dan Cina, gue tidak bisa komentar mengenai unsur politik Hong Kong-Cina yang ada di film ini, atau membenarkan bahwa banyak orang Cina yang berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 90an. For your information, this film was banned in China until 2015. Untungnya, hal tersebut tidak menghentikan gue untuk bisa relate kepada situasi yang dihadapi oleh Jun dan Qiao Li. Gue bisa relate suatu perasaan campur aduk dimana gue excited untuk mengeksplorasi suatu tempat yang jauh dari rumah gue tapi ada saja sesuatu yang mengingatkan gue pada rumah dan membuat gue homesick. Anyway, lucu juga sih gue baru nonton film ini setelah gue kuliah di luar Jakarta, my hometown. Seandainya gue nonton nih film pas SMA, mungkin gue kurang bisa relate ke film ini, haha.

Selain unsur homesickness, gue suka bagaimana paruh pertama film ini melukiskan kehidupan kelas pekerja yang boleh dibilang tidak terlalu miskin. Kalau mereka terlalu miskin, yang ada nih film bakalan jadi telenovela atau sinetron dah. In my opinion, lukisan tersebut cukup sederhana dan hanya mengandung sedikit unsur dramatisasi. Tidak ada adegan orang kaya yang menghardik pelayan, pelayan disiram air minum, dll. Bagian favorit gue adalah ketika Qiao Li dan Jun berusaha untuk menjual sesuatu namun dagangan mereka tidak laku. Jujur, gue cukup terkejut film ini menunjukkan kegagalan di awal film dan tanpa unsur dramatisasi. Yes, failure sucks and sometimes we think it's the end of our world, but in the end, some of us live our life and move on from our failure. Maksud gue, terlalu banyak film yang menggunakan failure sebagai suatu turning point atau suatu akhir, walaupun sebenarnya experiencing failure is normal and most often we move on from it. Bagian tersebut tidak hanya mengajarkan kegagalan sebagai sesuatu yang normal, tapi kegagalan juga bisa terjadi di saat kita sedang sangat optimis.



Unfortunately, the films is ruined by its second half

Sayang sekali film ini ada "tapi".

Gue percaya Comrades: Almost a Love Story akan berakhir indah, gue akan puas, dan gue akan langsung memberitahukan dunia stop watching Wong Kar Wai and just watch this film instead. Well, folks, reality doesn't work that way.

Setelah disuguhi oleh pembangunan realita dan chemistry yang sangat apik, sepertinya Peter Chan dan Ivy Ho kehabisan trik dari tas mereka. Basically, the second half of the movie is fueled by endless drama. Bukan drama macam Happy Together atau There Will be Blood, tapi drama yang sekelas sama sinetron dan telenovela. Just name a cliche trope and I bet you it will appear in the second half. Masih mending drama ini juga diikuti oleh penyisipan pop culture yang solid seperti di paruh pertama, tapi sayangnya Chan dan Ho sudah peduli setan dengan hal tersebut dan berusaha untuk mengisi sisa durasi dengan terburu-buru.


*SPOILER*










Gue rasa akhirnya sangat tidak realistis karena Qiao dan Jun punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi mereka selalu dihalangi sesuatu. Like, I just pissed off that they never get to see each other for petty things, then suddenly the just see each other by chance? What a bullshit. It doesn't even have a sense of ambiguity like the end of Norwegian Wood (novel). No, it's just straight up a shitty and cliche happy ending.

Edited: Tapi setelah gue pikir-pikir, gue juga suka ending klise kayak gitu. Makes my heart giddy.

*SPOILER ENDS*









A beautiful love song to Teresa Teng

Salah satu hal yang harus diapresiasi adalah bagaimana Teresa Teng menjadi sub-substance Comrades tanpa menganggu keseimbangan film ini. This film celebrates Teresa Teng's magnificent career without turning it into a mini-documentary of her. Gue juga jadi suka dengerin lagu-lagu Teresa Teng yang muncul di film ini, haha.

Kalau masih ada yang bingung apa gunanya seni dan seniman, kalian harus nonton film ini. Film ini dengan pintar memperlihatkan bahwa seni pop, walaupun dangkal, bisa menjadi penyatu manusia dan memberikan sense of home bagi orang yang berada jauh dari rumah, terutama di tempat yang bahasanya beda dengan bahasa utama kita. Kebahagiaan terkadang bisa dicapai hanya mendengar lagu yang menggunakan our native language. 

By the way, two thumbs up for Leon Lai dan Maggie Cheung. Akting mereka tidak hanya bagus sebagai individu, tapi sebagai pasangan mereka punya chemistry yang solid.

Conclusion

Jangan berekspektasi sebuah sajian yang modern dan eksperimental bak Chungking Express dkk. Namun jangan langsung mencap film ini sama dengan film romantis cengeng lainnya. Hint: kalau lo suka Sleepless in Seattle dan melihat kehidupan kelas pekerja, then this film is for you! 8/10 (very good)



Kamis, 20 Agustus 2015

Thursday Movie Picks: Asian Language Movies set in East Asia (Non-Horror)


Hello, folks! Welcome back to Thursday Movie Picks where we recommend you the lamest films. Thursday Movie Picks is a weekly film recommendation from a certain theme. It's hosted by Wandering Through the Shelves. Today's theme is.........................Asian Language Movies set in East Asia.

WHAT?! I THOUGHT ASIA IS JUST...ASIA. I thought Asia is this one big country where everybody looks the same. Oh, nevermind my blabber. So, I've researched a bit for this theme. Turns out, East Asia is a place where people looks so Asian. 

Kung Fu Hustle (Stephen Chow, 2004) --> Hong Kong


This film ruined my relationship with my bed when I was in primary school. I ignored my bed so I could continue to watch Stephen Chow's action in television. Even before the film finished, I had decided that Kung Fu Hustle is my favorite film.  

I know that Kung Fu Hustle is cheesy and exaggerating CGI, but this film still makes me laughing out loud, for Kung Fu's sake. I love how it's a bit more bleak than the usual comedy films. I love all the characters, from the lady whose lipstick got smeared to the psychopath kung fu master.

All the good things aside, I don't like how Kung Fu Hustle tells you that you can't be a hero unless you're the one or have some sort of power.

Letters from Iwo Jima (Clint Eastwood, 2006) --> Japan



I'm not sure with this week's criteria, but I'm sure it's Asian language, not Asian director or something.  

I don't know which one is more depressing. Seeing a pair of siblings dying slowly or seeing innocent men were forced to be in war they didn't want. I know Japan is one of the bad guys in World War II, but it still clenches my heart to know that there are thousands of people suffered in Japan, too. But it doesn't erase Japan's sin as a country in the past, for me at least. 

The most depressing scene is where the soldiers listen to children's singing through the radio. Some of them crying. Perhaps they know they won't make it, or they're reminded by their own children.

Kudos for Clint Eastwood because he didn't make the Japanese people as gibberish enemy and talking in actual Japanese. He didn't do this film like Scorsese did to Hugo. It's also a shame that Letters from Iwo Jima is an underrated film.

Memories of Murder (Bong Joon Ho, 2003) --> South Korea


If you love True Detective, you should give Bong Joon Ho's 2003 brilliant masterpiece a look. I think the two detectives from MoM are a mix from Rust and Martin Hart. The main detective has Rust's quirkiness and Marty's easygoing and unquestioning nature. While the detective from town doesn't like to break the rule, but he doesn't talk much (it's debatable), critical, and detail-oriented like Rust.   

Fyi, this film is based on true story. 

Honorable mentions: 
Battle Royale (I don't see it as a horror)
Happy Together
Sympathy for Mr. Vengeance
Akira
The Chaser

Selasa, 07 April 2015

Happy Together (春光乍洩)

movies.io
Gue bukan pengagum Wong Kar Wai. Gue lumayan suka In the mood for love, tapi sampai sekarang gue gak ngerti kenapa Chungking Express disebut sebagai film romance karena gue gak bisa merasakan romance dari film itu. But anyway, gue tetap membuka pikiran gue terhadap Wong.

Happy Together merupakan film romance tahun 1997 yang ditulis dan disutradarai oleh Wong Kar Wai. Sama seperti kebanyakan film Wong, film ini menceritakan tentang hubungan cinta yang tidak sempurna dan melankolis. Namun yang membuat Happy Together berbeda dengan film Wong lainnya, film ini bercerita tentang pasangan gay. Film ini mendapat sambutan yang positif, bahkan Wong memenangkan Best Director pada Cannes Film Festival. Meskipun judulnya Happy Together, film ini bukanlah film dengan nuansa happy.  

Let's start over. Hal itulah yang selalu dikatakan Ho Po Wing (Leslie Cheung) setiap kali ia ingin melanjutkan hubungannya (yang putus) dengan Lai Yiu Fai (Tony Leung). Meskipun sudah putus berkali-kali, Lai Yiu Fai tidak berdaya untuk menolak permintaan Ho Po Wing. Tidak lama setelah mereka berbaikan, mereka pergi ke Argentina untuk melihat air terjun Iguazu, air terjun yang terdapat pada lampu milik Po Wing. Namun Po Wing yang tidak suka dengan 'keribetan' malah meninggalkan Yu Fai sendirian di Argentina, dengan uang yang sedikit.

Yiu Fai berusaha bertahan hidup dengan bekerja di sebuah night club. Namun, sepertinya Po Wing tidak puas terhadap luka yang ia tinggalkan pada Yufai, karena ia mencium laki-laki lain di depan Yiu Fai. Yiu Fai pun hanya bisa diam terhadap kelakuan Po Wing. Tapi pada akhirnya Yiu Fai tetap menerima Po Wing ketika Po Wing muncul di depan apartemen Yiu Fai dalam keadaan babak belur.

pinterest.com
A Fanfiction-like film

Gue mulai curiga kalau salah satu tujuan Wong Kar Wai bikin nih film karena dia ingin menginspirasi cewek-cewek untuk menulis fanfic homo.

Happy Together adalah film yang perfect untuk seluruh fujoshi di dunia. Everything is in here. EVERYTHING. Sexual tension, angst, chemistry, romance, beautiful quotes, handsome guys, angst, angst, angst... Gila, gue yakin banyak fangirl gak bakal keberatan kalau Tony Leung dan Leslie Cheung diganti entah sama anggota boyband atau bromance dari franchise terkenal macam Sherlock-Watson, Kirk-Spock, Draco-Harry, dll.

Ceritanya tuh sebenarnya...

Cukup biasa. It's an everyday love story. Tidak ada twist ataupun hal yang sangat kontroversial. Tapi di sisi lain, hal yang menawan dari film Happy Together adalah cerita yang everyday love story (well, not exactly everyday). Happy Together tidak bercerita tentang usaha sepasang gay untuk diterima masyarakat, forbidden love story, perselingkuhan, perbedaan kelas sosial, penyakit, dan hal klise lainnya. Film ini justru bercerita tentang orang yang kesepian, egois, mencoba untuk move on, tidak sadar akan perasaan orang lain, haus akan cinta, dan membuat kesalahan. Gue rasa ini menyebabkan banyak orang akan lebih mudah untuk relate dengan film Happy Together dibandingkan film romance klise lainnya.  

Meskipun Yiu Fai dan Po Wing merupakan tokoh utama di film ini, Happy Together tidak pernah menjelaskan ke penonton apakah mereka pernah struggle dengan orientasi seksual mereka, atau apakah mereka takut dengan opini keluarga mereka dan masyarakat mengenai gay. Pandangan masyarakat tentang gay pun tidak diperlihatkan secara gamblang oleh Wong. Tapi ada kemungkinan Wong menyelipkannya secara subtle. Contohnya, salah satu teman kerja Yiu Fai bersikap indifferent terhadap kemungkinan bahwa kekasih Yiu Fai adalah laki-laki. Po Wing sendiri mencium laki-laki lain di tempat terbuka. Hal-hal kecil ini sepertinya mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada yang salah dengan orang mencintai orang lain dengan gender yang sama. Homoseksualitas bukanlah hal yang tabu atau memalukan.  

The characters

Salah satu hal yang gue suka dari film ini adalah baik Yiu Fai dan Po Wing sama-sama kotor, emosional, dan melankolis. Po Wing memang selalu yang pertama memutuskan pertalian di antara mereka, tapi itu tidak menjadikan Yiu Fai tanpa dosa. Yiu Fai sendiri sebenarnya selalu diberi kesempatan untuk pergi meninggalkan Yiu Fai. Seegois-egoisnya Po Wing, dia bukanlah mafia yang punya kekuatan besar untuk memaksa Yiu Fai.
 
Yiu Fai dan Po Wing bertolak belakang. Yiu Fai menginginkan kestabilan dan ia bersedia untuk 'berperang' supaya hubungannya dengan Po Wing lancar. Yiu Fai memang punya sisi spontaneous, tapi akhirnya dia adalah pria yang menghargai masa lalu dan keluarga. Meskipun ia masih sakit hati, keputusannya untuk Po Wing didorong rasa iba terhadap Po Wing, bukan karena kata hati atau personal code. Po Wing benar-benar spontaneous. Dia tidak punya suatu keinginan untuk stabil atau melakukan hal-hal mundane. Begitu dia merasa jenuh atau kesal, dia akan pergi dari 'perang', termasuk hubungannya dengan Yiu Fai. Dia sama sekali tidak peduli dengan keinginan dan perasaan orang lain. Bahkan ketika ia menangisi kepergian Yiu Fai pun itu hanya karena ia kesepian dan membutuhkan seseorang. Begitu dia menemukan seseorang yang tepat, ia tidak menangisi kepergian Yiu Fai.

youtube.com
 Di sisi lain, Yiu Fai dan Po Wing punya beberapa kesamaan. Mereka orang yang tidak takut untuk menyakiti dan disakiti satu sama lain. Mungkin memang ada sedikit perasaan takut untuk disakiti, tapi perasaan itu tidak diperlihatkan secara kuat. Ketika kebiasaan Po Wing marah karena ia merasa terikat oleh Yiu Fai, Yiu Fai tidak takut dengan amarah yang dikeluarkan Po Wing. Po Wing...well, Po Wing sudah jelas tidak punya rasa takut untuk menyakiti Yiu Fai, bahkan ia tahan diperlakukan dengan kasar setelah ia tinggal di apartemen Yiu Fai.

Chang (Chang Chen) merupakan perpaduan antara Yiu Fai dan Po Wing. Dia senang berkeliling dunia dan berpetualangan, tapi ia tidak melupakan keluarganya dan ia peka terhadap perasaan orang lain. Dia tidak bersikap menghakimi terhadap flaw yang ditunjukkan oleh Yiu Fai.

Technical stuffs

I don't know if it's just me, gue rasa Happy Together punya suasana yang...remang-remang. It's rarely sunny in Happy Together. Gue rasa itu melambangkan hubungan yang tidak pernah fully clear antara Yiu Fai dan Po Wing. Mereka tidak pernah punya hubungan yang stabil dalam jangka waktu yang lama. Pencahayaan yang dim juga bisa berarti bahwa kebahagian yang mereka capai tidak pernah tidak dibayangi-bayangi dengan abuse dan ego. Each of their opinions about their relationship never hits the bull because they never have a clear sight on their relationship. Yiu Fai tidak pernah sadar bahwa ia selalu kembali ke hubungan yang gagal dan Po Wing tidak pernah bersikap dewasa, karena mereka dibutakan oleh secuil kebahagiaan.

Efek hitam putih yang digunakan di film ini sepertinya melambangkan melankolisme dan nostalgia Yiu Fai.  Anyway, applause for Christopher Doyle for the wonderful cinematography.

As usual, lagu-lagu yang digunakan oleh Wong Kar Wai keren-keren semua. Gue personally sih suka lagu penutupnya, yaitu Happy Together oleh The Turtles. Lagu itu memberikan sesendok keceriaan setelah luapan angst di sepanjang film.

Tentu saja film Happy Together tidak akan menjadi film yang spektakuler tanpa Tony Leung dan Leslie Cheung. They convince me that they are one hundred percent gay. Apa yang mereka lakukan untuk meyakinkan gue bukan hanya sekedar ciuman. Namun, Wong tidak merendahkan martabat Happy Together dengan menjadikan film ini 11-12 dengan film porno.    

Leslie Cheung dan Tony Leung outstanding baik sebagai individu maupun pasangan. Tony Leung dengan luar biasa (an understatement) memerankan seseorang dengan watak yang agak reserved, tapi juga passionate dan bisa agresif. Tony Leung memang luar biasa, but Leslie Cheung tops the game. Leslie Cheung secara spektakuler memerankan orang yang flamboyan, childish, egois, tapi tidak takut untuk bermain otot. Dia juga bisa menunjukan dengan sangat baik (another understatement) momen ketika Po Wing lemah dan melankolis.   

Conclusion 

JUST FUCKIN' WATCH IT! 9,7/10

P.S: Kurang disarankan buat orang yang belum nyaman dengan adegan pasangan gay bermesraan. 

 

Rabu, 05 November 2014

In the mood for love

filmaffinity.com
In the mood for love merupakan bagian kedua dari trilogi informal Wong Kar Wai dan juga karya yang paling terkenal dari sang sutradara.  Film ini memenangkan berbagai penghargaan, bahkan sampai dinominasikan Palme D'Or, yang notabene salah satu penghargaan film bergengsi.  Meskipun film ini tidak mendapat Palme D'Or, Tony Leung berhasil mendapat penghargaan Best Actor di Cannes Film Festival.  Film berdurasi 98 menit ini mengajak penonton untuk melihat kehidupan baru Li-zhen dari Days of Being Wild.

Li-zhen (Maggie Cheung) pindah ke sebuah apartemen di hari yang sama dengan Chow Mo-wan (Tony Leung).  Suami Li-zhen sering pergi ke luar negeri sedangkan istri Mo-wan sering lembur.  Meskipun pemilik kedua apartemen sering bermain mahjong bersama, baik Li-zhen dan Mo-wan lebih menyukai untuk sendiri saja.  Li-zhen dan Mo-wan sering makan malam di tempat yang sama, namun mereka biasanya hanya saling menyapa.  Lama-kelamaan, keduanya berinteraksi dan sering bertemu.  Dalam salah satu pertemuan mereka, mereka membahas kecurigaan bahwa suami-istri mereka saling berselingkuh.

SPOILER ALERT!

screenmusings.org

The Affair
 Biasanya dalam film-film perselingkuhan, penonton akan melihat adegan-adegan hot, dilema pada orang-orang yang berselingkuh, dan 'the helplessly-betrayed people'.  Biasanya orang-orang yang dikhianati dtampilkan sebagai orang yang plain, datar, membosankan, mainstream, dll.  Mereka juga korban yang tak bisa mengontrol keinginan dan perasaan pasangan mereka.  Tapi Li-Zhen dan Mo-Wan bukanlah korban.  Mereka 'membrontak' in their own ways.  Mereka tidak mengikuti ekspektasi orang.  Alias, mereka tidak membalas pasangan mereka dengan ikut berselingkuh.  Li-Zhen dan Mo-Wan justru membalas dengan berpegang teguh dengan moral dan etika yang mereka punya.  Meskipun Li-Zhen dan Mo-Wan jarang mengekspresikan rasa sakit dan iri hati, mereka menyalurkan perasaan negatif itu dengan trying hard to not stoop as low as each of their spouses.  Dengan melakukan hal itu, mereka seolah-olah meyakinkan diri mereka bahwa mereka masih punya moral dan etika.  

Namun seperti manusia biasa, toh mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari godaan.  Ada kalanya mereka jatuh kepada godaan itu, entah sadar ataupun tidak.  Ketika mereka sadar, mereka akan menarik diri mereka, terutama Li-Zhen.  Tapi ada kalanya mereka benar-benar tidak bisa menahan godaan itu sehingga mereka mencari-cari suatu dalil.  Mereka meyakinkan diri mereka bahwa tidak apa-apa mereka bertemu di malam hari secara sembunyi-sembunyi karena mereka kesepian.  Tidak apa-apa mereka bertemu di suatu hotel karena mereka mendiskusikan sesuatu.  Itu yang membuat gue mempertanyakan sesuatu: apa yang membuat suatu perbuatan dikatakan perselingkuhan?  Agak lucu bagaimana Li-Zhen dan Mo-Wan pergi ke hotel tapi mereka tidak melakukan apa-apa kecuali berdiskusi.  Walaupun mereka tidak melakukan hal intim, apakah mereka sudah bisa dikatakan berselingkuh? 

Some things that I don't understand

Gue bertanya-tanya apa yang didapatkan Li-Zhen dan Mo-Wan dari 'pemberontakan' mereka.  Li-Zhen dan Mo-Wan tidak terlihat bahagia dan puas bagi gue.  Mereka tidak memenangkan apa-apa dari 'pemberontakan' mereka.  Toh pasangan mereka kurang-lebih tidak peduli dengan mereka.  Jikalau mereka 'menang', apa yang bisa mereka rayakan jika tetangga dan teman mereka tidak mengerti perjuangan mereka untuk menjadi orang baik?  Memang jika Li-Zhen dan Mo-Wan mengambil resiko lebih tinggi pada affair mereka, ada kemungkinan besar mereka akan digosipkan - bahkan dijauhi - oleh masyarakat.  Di sisi lain, masyarakat tidak peduli dan kurang tertarik pada orang-orang 'baik'.  I think it's like a double-edged sword.  When you're bad, people talk shits about you.  When you're good, people just don't care.   

knockedover.wordpress.com

Gue juga bertanya-tanya apakah benar-benar ada cinta di antara Li-Zhen dan Mo-Wan atau tidak.  Mereka tidak pernah benar-benar passionate atau into each other ketika bersama.  Memang orang yang jatuh cinta tidak harus benar-benar terlihat sedang jatuh cinta.  Tapi agak susah melihat cinta yang ditunjukan secara subtle.  Mereka lebih terlihat seperti orang asing yang kesepian dan memiliki beberapa hal yang sama.  There's a bond or some fondness, but I'm not sure whether it's romantic or not.  

Angkor Wat    

Selain adegan 'latihan' Li-Zhen dan Mo-Wan, adegan kesukaan gue yang lain adalah adegan di Angkor Wat.  Adegan itu terasa emosional dan indah bagi gue.  Words just can't describe what I think and feel for that scene.  Mungkin karena gue mengerti bagaimana rasanya punya rahasia yang ingin sekali lo ceritakan, tapi lo juga takut reaksi orang terhadap rahasia itu.  Tapi tetap aja lo ingin menceritakan rahasia lo.  Adegan di Angkor Wat cukup berhasil mengekspresikan perasaan itu.  Angkor Wat sendiri merupakan tempat yang indah, apalagi ditemani sinematografi dan musik yang cakep.  Seriously, words can't describe this scene (in my opinion). 

Other stuffs

Sesuai dengan judul filmnya, Wong Kar Wai berusaha untuk mendorong penonton untuk terhanyut dalam situasi dan nuansa yang romantis dan melankolis dalam In the mood for love.  Longing gaze antara Leung dan Cheung merupakan unsur utama dalam pembangunan situasi-situasi tersebut.  Warna-warna yang digunakan juga cocok sekali untuk membangun mood romantis.  Film ini lebih kuat dalam hal visual daripada dialog and I usually really hate those kind of films. Lagu-lagu yang digunakan juga bagus-bagus banget dan ikut membangun mood dan emosi.  Gue baru tahu kalau lagu Bengawan Solo dinyanyikan dengan bermacam-macam bahasa, termasuk cantonese.  Selain Bengawan Solo, banyak lagu-lagu traditional pop lainnya.  Anyway, two thumbs up for the clothes designer!  Baju-bajunya Li-Zhen modis banget dan cocok dengan figur tubuhnya Maggie Cheung!

Overall

In the mood for love bukanlah tipikal film perselingkuhan.  Film ini justru menunjukkan betapa berat dan susahnya untuk memegang etika dan etiket yang ada dengan teguh.  Kadang-kadang kita tidak mendapatkan apa-apa atas perjuangan yang kita alami.  Wong Kar Wai tidak memberikan banyak dialog di film ini, namun sinematografi dan musik yang ada bisa menggantikan kekurangan dialog tersebut.  Tapi karena kurangnya dialog dan konflik, beberapa orang mungkin akan menganggap film ini membosankan.  I'm not into this kind of arthouse, but In the mood for love is good enough for me. 8,5/10