Tampilkan postingan dengan label 2000s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2000s. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2018

Thursday Movie Picks: Gangster


Hello readers! It's been a long time since I'm working on TMP. I've been busy and just not in the mood for writing but I know you do not come here to listen to my life story. Thursday Movie Picks is hosted by Wandering through the Shelves. For further details you can check here.

Without further a do, here are the movies I picked for this week's theme, Gangster.

Bonnie and Clyde (dir. Arthur Penn, 1967)


Bonnie Parker (Faye Dunaway) caught Clyde Barrow (Warren Beaty) trying to steal his mother's car. But charmed by him, she followed Clyde's world of robbing from small shops to bank. 

This is actually a romantic film that masqueraded itself as a gangster film. The focus of this story is how Bonnie and Clyde handled being chased by the police and the turbulence in their relationship. Bonnie and Clyde is a lovely film that is elevated by its two leads and their chemistry.

A Brighter Summer Day (dir. Edward Yang, 1991)

Xiao Si'r (Chang Chen) was forced to go to a school full of delinquents as his grades weren't enough to go to a better school. Later, he was caught between the feud of two gangs, Little Park Boys, children of civil servants, and 217s, children of military officers. His life was more complicated when Ming (Lisa Yang), the girlfriend of one of the leaders, came to his life.

A Brighter Summer Day is an exquisite realist film. Edward Yang built his protagonist's world carefully to lead us into a tragic climax. 


A Bittersweet Life (dir. Kim Jee Woon, 2005)

Kim Sun-woo (Lee Byung-hun) was assigned to keep an eye for his boss' girlfriend, Hee-soo (Shin Min-ah). He developed feelings for her, and decided to disobey his boss by sparing Hee-soo's life and a man she secretly dated behind Sun-woo's boss. His choice triggered a series of violence events for him.

A bittersweet life is filled with bittersweet music and stunning cinematography. Lee Byung-hun also gave an emotional performance and captured his character perfectly. There is this fluidity I can't explain that didn't make this film rigid.  


Bonus: Sunny (dir. Kang Hyung Chul, 2011)


Nami accidentally met an old high school friend, Chunhwa, in a hospital. They re-connected quickly. As Chunhwa's days numbered, she asked Nami to gather their old gang, Sunny. As she reminisced her past, she was taken back to her high school days in the middle of a political era in South Korea.

I was initially going to pick this over Bonnie and Clyde, but I fear that it will not fit the Gangster genre, lol. Although technically, if the definition of gangster is a group of people who do illegal things, this is a gangster movie. Sunny is (mostly) a feel good film that can make you cry, laugh, and looking back at your own teenage years.

Jumat, 21 Oktober 2016

Almost Famous

One day, you'll be cool. -Anita

Almost Famous merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2000 yang disutradarai dan ditulis oleh Cameron Crowe.  Film berdurasi 122 menit ini sebenarnya semi-autobiografi karena menceritakan pengalaman Crowe ketika bekerja di majalah Rolling Stone.  Film yang penuh dengan lagu-lagu rock ini gagal menjadi box office, bahkan budget film ini lebih banyak daripada pemasukannya alias rugi.  Meskipun rugi, film ini mendapat banyak pujian dari kritikus dan dianggap beberapa orang sebagai salah satu film coming-of-age terbaik.

Anita (Zooey Deschanel) sangat kesal dengan ibunya (Frances  McDormand) yang konservatif sehingga ia meninggalkan rumah.  Sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan koleksi piringan hitamnya *yang sebagian besar album rock* jatuh ke adiknya, William (Patrick Fugit).  Sejak saat itu, William menjadi penggemar rock.

Kecintaannya pada musik rock mendorong William untuk menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan musik rock.  Suatu hari, William bertemu dengan Lester Bangs (Philip Seymour Hoffman), seorang kritikus musik yang terkenal.  Lester akan menyuruh William untuk me-review konser Black Sabbath dan berjanji akan memberikan uang untuk karya tulisnya.  William tidak bisa masuk ke konser Black Sabbath karena ia bukan jurnalis terkenal.  Ia bertemu dengan seorang groupie (Kate Hudson), yang memanggil dirinya sebagai Penny Lane dan band yang bernama Stillwater.  Gitaris band itu, Russell (Billy Crudup) tertarik dengan William dan mengajaknya masuk ke konser.  Editor majalah Rolling Stone tertarik dengan tulisan William.  Sang editor menyuruh William untuk mengikuti tur konser Stillwater dan menulis tentang mereka.  Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ibunya, akhirnya William diizinkan untuk mengikuti tur konser Stillwater.



Anjir, kemana aja gue selama ini......

From little boy to young man

Di awal film, si William ini sepolos bocah SD yang belum terkontaminasi video bokep.  Baek, gak punya niat untuk manfaatin orang lain, dll. Sialnya, kepolosan dan kebaikan William malah diperalat oleh Russell dengan cara menunda-nunda terus wawancaranya dengan William. Akibatnya, studi William terganggu, emaknya marah-marah terus, dan editor Rolling Stone nagih artikelnya melulu. Di sisi lain, waktu bersenang-senang William dengan rombongan Russell semakin banyak. Di saat itulah William semakin terekspos dengan dunia bintang rock yang penuh alkohol, narkoba, dan cewek cakep. Tapi hal-hal ini juga ikut membentuk pandangan hidup dan kepribadian William.

Experience vs Story, Showing vs Telling

Instead of telling its audience a story, this film brings the character's experience to the audience. Menurut gue pribadi, pengalaman dan cerita itu beda. Gue kurang bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi bagi gue film yang mengandung cerita itu kayak film-filmnya Nolan, Quentin Tarantino, dan Martin Scorsese. Film yang berisi pengalaman selain film ini adalah In The Mood for Love, 3 hari untuk selamanya, dan Before Sunrise. Film yang merupakan gabungan dari keduanya adalah Chungking Express dan The Breakfast Club. You kinda have the concept what's in my mind right? 

But anyway, beberapa fakta kecil seperti bahwa film ini tidak menggunakan narator atau bahkan breaking the fourth wall ala Ferris Bueller sangat beperan penting dalam memainkan emosi penonton. Menggunakan narator ketiga (masih ada gak sih film model begini?) akan menjauhkan penonton, membuatnya seakan-akan film ini adalah fairytale...which is not. Breaking the fourth wall justru akan mensadarkan penonton bahwa kita menonton film itu dan tidak mengalaminya. Film itu merupakan hasil pertimbangan  dan rekonstruksi si karakter yang memecahkan tembok keempat.

Gak cuma itu, tapi gue merasa film ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling. Teknik ini cukup sulit dilakukan, bahkan Nolan yang hebat sering sekali melakukan kesalahan dengan sering melakukan telling. Kenapa menurut gue film ini lebih banyak menggunakan showing? How long have Penny and Russell known each other? Where is William's father? Who cares, they do not matter. Kalau gue pikir-pikir mungkin agak salah gue bawa-bawa nama Nolan karena genrenya beda, haha.

The music and songs are fucking wonderful

Terima kasih kepada film ini, gue terekspos sama lagu-lagunya Led Zeppelin dan Elton John. Lagu favorit gue dari film ini: The Rain Song - Led Zeppelin, Mona Lisa and Mad Hatters - Elton John dan America - Simon and Garfunkel. 


SPOILER ALERT


Why is it different with other cheesy films?

This film is cheesy, but a very good cheesy. I also think that this is a feel-good film although it has its own blue moments. Gue gak merekomendasikan film ini ke orang yang suka film "berat" atau "filosofis" although who knows, perhaps you will discover something else through this film. Anyway, hal-hal yang membuat Almost Famous sebagai a good cheesy film adalah film ini jarang melebih-lebihkan fakta kehidupan. Sure, Will's mom is quirky, does that mean she's a hippie? Well the joke's on you 'cause she's a professor in a university. William and Russell becomes closer after the tour, does that mean Russell approves Williams' article? You saved someone's life? That doesn't guarantee that someone will come to your house after that. You make friends? Just because you meet wonderful people who make your days wonderful doesn't mean your friendship will last forever. 

And that is life. 

Conclusion

Kekurangan film ini adalah meskipun kental dengan classic rock yang identik dengan pemberontakan dan perlawanan serta era 70an yang diwarnai pergolakan social justice (walaupun mungkin tidak seheboh tahun 60an), film ini tidak menyinggung gerakan feminisme, rasisme, dan perlawanan terhadap homophobia dan transphobia. But if all you wanna do is watching something light, sweet, a bit sourness, and listening to classic rock, then just play this film. 8,7/10 (very good)


Rabu, 05 November 2014

In the mood for love

filmaffinity.com
In the mood for love merupakan bagian kedua dari trilogi informal Wong Kar Wai dan juga karya yang paling terkenal dari sang sutradara.  Film ini memenangkan berbagai penghargaan, bahkan sampai dinominasikan Palme D'Or, yang notabene salah satu penghargaan film bergengsi.  Meskipun film ini tidak mendapat Palme D'Or, Tony Leung berhasil mendapat penghargaan Best Actor di Cannes Film Festival.  Film berdurasi 98 menit ini mengajak penonton untuk melihat kehidupan baru Li-zhen dari Days of Being Wild.

Li-zhen (Maggie Cheung) pindah ke sebuah apartemen di hari yang sama dengan Chow Mo-wan (Tony Leung).  Suami Li-zhen sering pergi ke luar negeri sedangkan istri Mo-wan sering lembur.  Meskipun pemilik kedua apartemen sering bermain mahjong bersama, baik Li-zhen dan Mo-wan lebih menyukai untuk sendiri saja.  Li-zhen dan Mo-wan sering makan malam di tempat yang sama, namun mereka biasanya hanya saling menyapa.  Lama-kelamaan, keduanya berinteraksi dan sering bertemu.  Dalam salah satu pertemuan mereka, mereka membahas kecurigaan bahwa suami-istri mereka saling berselingkuh.

SPOILER ALERT!

screenmusings.org

The Affair
 Biasanya dalam film-film perselingkuhan, penonton akan melihat adegan-adegan hot, dilema pada orang-orang yang berselingkuh, dan 'the helplessly-betrayed people'.  Biasanya orang-orang yang dikhianati dtampilkan sebagai orang yang plain, datar, membosankan, mainstream, dll.  Mereka juga korban yang tak bisa mengontrol keinginan dan perasaan pasangan mereka.  Tapi Li-Zhen dan Mo-Wan bukanlah korban.  Mereka 'membrontak' in their own ways.  Mereka tidak mengikuti ekspektasi orang.  Alias, mereka tidak membalas pasangan mereka dengan ikut berselingkuh.  Li-Zhen dan Mo-Wan justru membalas dengan berpegang teguh dengan moral dan etika yang mereka punya.  Meskipun Li-Zhen dan Mo-Wan jarang mengekspresikan rasa sakit dan iri hati, mereka menyalurkan perasaan negatif itu dengan trying hard to not stoop as low as each of their spouses.  Dengan melakukan hal itu, mereka seolah-olah meyakinkan diri mereka bahwa mereka masih punya moral dan etika.  

Namun seperti manusia biasa, toh mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari godaan.  Ada kalanya mereka jatuh kepada godaan itu, entah sadar ataupun tidak.  Ketika mereka sadar, mereka akan menarik diri mereka, terutama Li-Zhen.  Tapi ada kalanya mereka benar-benar tidak bisa menahan godaan itu sehingga mereka mencari-cari suatu dalil.  Mereka meyakinkan diri mereka bahwa tidak apa-apa mereka bertemu di malam hari secara sembunyi-sembunyi karena mereka kesepian.  Tidak apa-apa mereka bertemu di suatu hotel karena mereka mendiskusikan sesuatu.  Itu yang membuat gue mempertanyakan sesuatu: apa yang membuat suatu perbuatan dikatakan perselingkuhan?  Agak lucu bagaimana Li-Zhen dan Mo-Wan pergi ke hotel tapi mereka tidak melakukan apa-apa kecuali berdiskusi.  Walaupun mereka tidak melakukan hal intim, apakah mereka sudah bisa dikatakan berselingkuh? 

Some things that I don't understand

Gue bertanya-tanya apa yang didapatkan Li-Zhen dan Mo-Wan dari 'pemberontakan' mereka.  Li-Zhen dan Mo-Wan tidak terlihat bahagia dan puas bagi gue.  Mereka tidak memenangkan apa-apa dari 'pemberontakan' mereka.  Toh pasangan mereka kurang-lebih tidak peduli dengan mereka.  Jikalau mereka 'menang', apa yang bisa mereka rayakan jika tetangga dan teman mereka tidak mengerti perjuangan mereka untuk menjadi orang baik?  Memang jika Li-Zhen dan Mo-Wan mengambil resiko lebih tinggi pada affair mereka, ada kemungkinan besar mereka akan digosipkan - bahkan dijauhi - oleh masyarakat.  Di sisi lain, masyarakat tidak peduli dan kurang tertarik pada orang-orang 'baik'.  I think it's like a double-edged sword.  When you're bad, people talk shits about you.  When you're good, people just don't care.   

knockedover.wordpress.com

Gue juga bertanya-tanya apakah benar-benar ada cinta di antara Li-Zhen dan Mo-Wan atau tidak.  Mereka tidak pernah benar-benar passionate atau into each other ketika bersama.  Memang orang yang jatuh cinta tidak harus benar-benar terlihat sedang jatuh cinta.  Tapi agak susah melihat cinta yang ditunjukan secara subtle.  Mereka lebih terlihat seperti orang asing yang kesepian dan memiliki beberapa hal yang sama.  There's a bond or some fondness, but I'm not sure whether it's romantic or not.  

Angkor Wat    

Selain adegan 'latihan' Li-Zhen dan Mo-Wan, adegan kesukaan gue yang lain adalah adegan di Angkor Wat.  Adegan itu terasa emosional dan indah bagi gue.  Words just can't describe what I think and feel for that scene.  Mungkin karena gue mengerti bagaimana rasanya punya rahasia yang ingin sekali lo ceritakan, tapi lo juga takut reaksi orang terhadap rahasia itu.  Tapi tetap aja lo ingin menceritakan rahasia lo.  Adegan di Angkor Wat cukup berhasil mengekspresikan perasaan itu.  Angkor Wat sendiri merupakan tempat yang indah, apalagi ditemani sinematografi dan musik yang cakep.  Seriously, words can't describe this scene (in my opinion). 

Other stuffs

Sesuai dengan judul filmnya, Wong Kar Wai berusaha untuk mendorong penonton untuk terhanyut dalam situasi dan nuansa yang romantis dan melankolis dalam In the mood for love.  Longing gaze antara Leung dan Cheung merupakan unsur utama dalam pembangunan situasi-situasi tersebut.  Warna-warna yang digunakan juga cocok sekali untuk membangun mood romantis.  Film ini lebih kuat dalam hal visual daripada dialog and I usually really hate those kind of films. Lagu-lagu yang digunakan juga bagus-bagus banget dan ikut membangun mood dan emosi.  Gue baru tahu kalau lagu Bengawan Solo dinyanyikan dengan bermacam-macam bahasa, termasuk cantonese.  Selain Bengawan Solo, banyak lagu-lagu traditional pop lainnya.  Anyway, two thumbs up for the clothes designer!  Baju-bajunya Li-Zhen modis banget dan cocok dengan figur tubuhnya Maggie Cheung!

Overall

In the mood for love bukanlah tipikal film perselingkuhan.  Film ini justru menunjukkan betapa berat dan susahnya untuk memegang etika dan etiket yang ada dengan teguh.  Kadang-kadang kita tidak mendapatkan apa-apa atas perjuangan yang kita alami.  Wong Kar Wai tidak memberikan banyak dialog di film ini, namun sinematografi dan musik yang ada bisa menggantikan kekurangan dialog tersebut.  Tapi karena kurangnya dialog dan konflik, beberapa orang mungkin akan menganggap film ini membosankan.  I'm not into this kind of arthouse, but In the mood for love is good enough for me. 8,5/10

Rabu, 25 Juni 2014

Battle Royale (2000)

So today's lesson is...you kill each other off. -Kitano
ukhorrorscene.com
Battle Royale merupakan film Jepang tahun 2000 dengan genre distopia, thriller, dan action.  Film ini disutradarai oleh Kinji Fukasaku dan skripnya ditulis oleh anak Fukasaku, Kenta Fukasaku.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Koushun Takami.  Film dengan durasi 112 menit merupakan salah satu film yang paling kontroversial, sampai tidak ditayangkan di Amerika tahun 2000 yang lalu.  Namun, film ini merupakan salah satu film blockbuster di negaranya sendiri.  Battle Royale juga merupakan salah satu film favorit Quentin Tarantino.  

Film ini berlatar belakang di sebuah alternated universe dimana kelas sembilan dari sebuah sekolah di Jepang dipilih secara acak untuk mengikuti sebuah Survival Program.  Kelas Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) pergi ke sebuah pulau untuk mengikuti field trip.  Tapi field trip itu menjadi suatu mimpi buruk ketika kelas Shuya bangun dan mendapati mereka di suatu ruang kelas dengan 'kalung' di leher mereka.  Wali kelas mereka dua tahun yang lalu, Kitano (Beat Kitano) mengatakan bahwa mereka terpilih untuk mengikuti The Program.  Kelas mereka juga mendapat tambahan dua orang, Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) dan Shogo Kawada (Taro Yamamoto).  Sahabat Shuya, Yoshitoki Kuninobu (Yukihiro Kotani) dengan cepat terbunuh karena mencoba melawan Kitano.

Untuk mengingat temannya, Shuya berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Noriko Nakagawa (Aki Maeda), karena ia mengira bahwa Nobu menyukainya.  Kelas 9B dengan cepat membunuh teman mereka masing-masing.  Kazuo Kiriyama dan Mitsuko Souma (Kou Shibasaki) dengan cepat menjadi dua orang paling berbahaya.  Noriko dan Shuya beruntung karena bisa membentuk persekutuan dengan Shogo Kawada, salah satu orang yang juga harus diwasapadai.     

SPOILER ALERT!


Sorry guys, but I've never heard anything about Battle Royale before The Hunger Games, lol.  I'm not a big fan of THG, tapi kalau gak ada tuh film, mungkin gue juga gak bakal tahu Battle Royale.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara film dan manga Battle Royale.  Gue lebih suka komiknya.  Komiknya lebih bisa memasukkan beberapa detail dan lebih bisa mengikat pembacanya dengan tokoh-tokohnya, bahkan tokoh pembantu.  But I must admit emang sulit mengelola 42 tokoh ke dalam film, yang durasi maksimalnya dua jam.  Tapi untuk tokoh antagonisnya, si guru dan Kazuo, gue lebih suka versi filmnya.  Penampilan cowok-cowoknya pun gue lebih suka yang versi film, karena jauuuuuuuuh lebih ganteng *brb, fangirling dulu*.

Battle Royale merupakan Hunger Games yang jauh lebih mentah.  Sifatnya yang mentah ini entah membuat penonton merasakan 'keaslian' film ini atau membuat penonton malah gak suka.  Gue rasa bagi mereka yang menonton THG dan BR juga tahu bahwa THG merupakan 'adik' dari BR, baik dari segi umur maupun isi.  Tapi yang membuat BR lebih nyesek daripada THG adalah orang-orang di BR merupakan orang-orang yang telah belajar bersama minimal dua tahun.  Mereka udah kenal satu sama lain *at least kenal nama*, belajar bareng, main bareng, tapi akhirnya mereka jatuh pada tekanan dan membunuh satu sama lain.  Orang-orang di THG are literally strangers.  Battle Royale mendorong diri gue untuk 'berimajinasi' bagaimana kalau kelas gue ikutan acara beginian.  Tbh, I will either die early or suicide, lol.         


Battle Royale mengandung metafora bagaimana orang-orang dewasa mendorong anak-anak muda untuk berkompetisi, but in a bad way.  Tidak hanya kompetisi, tapi mereka juga mempunyai ekspektasi yang besar -dan kadang tidak masuk akal- pada kita.  Karena inilah banyak dari mereka yang jatuh dalam tekanan.  Not everyone, but most of them.  Yang lemah langsung mati, yang gak bisa membunuh temannya ya bunuh diri, ada yang kelewat ambisius makanya bunuh temannya, dan ada juga segilintir dari mereka bertahan dan menolak untuk mengkhianati temannya.   BR juga mengandung unsur black humor, terutama adegan dimana ada mbak-mbak yang menjelaskan Battle Royale ke kelasnya Shuya.  I think that scene is very funny and amusing.  Sikapnya yang penuh keceriaan dan semangat kontras dengan isi penjelasannya.  Anyway, gue kurang ngerti letak 'horor' dari Battle Royale.  Memang banyak pembunuhan yang dilakukan secara tiba-tiba, tapi gue gak merasa tegang sama sekali ketika nonton film ini.  Ada rasa terkejut, tapi gak ada tegangnya sama sekali.

I don't like Shuya and Noriko.  They are too naive for my liking.  Gue berpikir mereka stereotipe protagonis naif yang gak tahu diri, yang sok-sokan mau jadi pahlawan.  Tapi setelah gue merenung, ada kemungkinan juga watak mereka yang naif malah jadi sebuah mock bagi stereotipe itu sendiri.  Bagaimana pemikiran mereka yang naif tidak sejalan dengan realita yang mereka alami dan usaha mereka untuk menjadi pahlawan malah nihil karena mereka gak berhasil menyelamatkan orang lain.  


Gue kecewa pada Noriko karena karakternya tuh stereotipe cewek yang terlalu bergantung pada cowok.  Gue berharap karakternya dia mirip Takako Chigusa (Chiaki Kiriyama).  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, bukankah klise banget kalau Noriko sekuat Takako atau Mitsuko?  I mean, langsung kelihatan dong kalau Shuya dan Noriko pemenangnya.  I hate to admit it, tapi emang cewek membutuhkan cowok di bidang yang sangat membutuhkan kekuatan fisik.  Gue juga kecewa Shuya, baik dari aktor yang memainkan tokohnya maupun karakternya sendiri.  Flashback tentang Shuya yang diperlihatkan di film tetap gagal membuat gue jatuh hati atau bahkan bersimpati pada karakternya.  Mungkin karena flashback itu kurang kuat untuk memancing gue atau emang Tatsuya Fujiwara gak cocok jadi Shuya.  Gue juga kurang suka Shuya yang di komik, tapi Shuya di komik jauh lebih karismatik dan periang daripada yang di film. 

Beberapa orang gak suka dengan Noriko dan Shuya karena mereka bukan hanya naif, tapi juga terlalu hoki.  Seriously, mereka bakalan mati kalau gak ada Kawada.  Tapi gue rasa ini hanyalah semacam mock, lagi.  Superman, Harry Potter, Katniss Everdeen, they are not just heroes, but they are survivors.  Mereka jelas orang-orang kuat yang memang 'ditakdirkan' untuk menjadi pahlawan dan survivors.  Lalu apakah orang-orang yang lemah tidak punya chance untuk 'selamat'?  Tentu saja mereka bisa menjadi survivor....dengan sedikit keberuntungan.  Noriko dan Shuya memasuki sebuah situasi dengan waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dan membuntuk aliansi dengan Shogo.  Ini juga merupakan metafora dimana orang-orang yang sebenarnya lemah dan skill-nya tidak hebat, bisa selamat karena mereka mendapat keberuntungan.  

Kalau bicara departemen akting, gue memperhatikan kalau sebagian besar dari mereka tuh aktingnya matinya konyol banget.  Bukan cara mereka dibunuh, tapi aktingnya.  Doh, kok kayak film-film Hollywood jaman batu yang matinya tuh lebay dah.  Mereka mengatakan 'kata-kata perpisahan' terus menggerakkan kepalanya, terus mati deh.  Sumpah, gue pengen banting laptop gue kalau gue lihat ada yang mati kayak gitu.  Anyway, kenapa disini dua aktor utamanya yang mengecewakan ya?  Tatsuya Fujiwara aktingnya gak natural.  Maksa banget sumpah.  Gue merasa canggung banget waktu lihat beberapa adegan nangisnya yang...awkward.  Aki Maeda?  Gue gak tahu apakah aktingnya yang datar itu emang karena kemampuannya terbatas atau emang skrip film ini yang membatasi kemampuan aktingnya.  Aktor terbaik tentu saja Takeshi Kitano alias Beat Kitano.  Gue kaget juga ternyata dia ini sutradara, bukan aktor.  Dia berhasil memerankan seseorang yang karismatik, tapi tidak benar-benar keji seperti versi lain di komik.  Dia gak nangis atau memerankan seseorang yang psikopat, tapi Kitano memerankan karakternya dengan begitu natural.  Sayang banget Masanobu Ando tidak diberikan dialog ataupun monolog.  Masanobu jelas mempunyai potensial lebih daripada Fujiwara.  Dan gue lebih suka Kazuo Kariyama yang diperankan dia daripada versi manga, karena Kiriyama disini jauh lebih gila dan ekspresif.  

Sinematografinya cukup standard, tapi musiknya bagus banget, terutama di adegan pembukanya.  Film ini menggunakan beberapa musik klasik yang dimainkan oleh Warsaw Philarmonic Orchestra.  Tapi gue gak suka lagu buat ending credit-nya.

Overall, Battle Royale is an amazing dystopian film that full of surprising murders and blood.  The acting department maybe disappoint you, but the plot of this film is too amazing to be missed.  I recommend this film for you who like The Hungers Games and strong enough to watch bloody murders.  9/10   

 

Sabtu, 07 Juni 2014

The Girl who Leapt Through Time: An awesome romcom animation with light sci-fi

Time waits for no one.
animea.net
The Girl who Leapt Through Time merupakan film animasi yang terinspirasi dari sebuah novel Jepang yang berjudul sama.  Gue menulis "inspirasi" karena tokoh dan latar film ini berbeda dengan yang ada di novel.  The Girl Who Leapt Through Time dirilis pada 2006 dan disutradarai oleh Mamoru Hosada serta ditulis oleh Satoko Okodera.  Film yang berdurasi 98 menit ini ternyata bisa mengambil hati para kritikus film.

Makoto Konno merupakan seorang gadis SMA dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.  Ia tinggal bersama keluarganya, ia hobi bermain baseball dengan dua sahabatanya, Chiaki Mamiya dan Kosuke Tsuda.  Suatu hari, Makoto terlambat pergi ke sekolah.  Ia mengira bahwa ia hanya akan mengalami satu kesialan.  Tapi ternyata kesialannya berjalan terus.  Ketika Makoto berada di laboratorium, ia menemukan sebuah alat yang berbentuk seperti kacang.  Ia juga merasa ia didorong seseorang.  Namun Makoto hanya menganggapnya sebagai kejadian aneh dan bergegas untuk mengantarkan kue kepada bibinya.  Makoto mengendarai sepedanya.  Saat lampu menandakan kereta akan lewat, Makoto tidak bisa menggunakan rem sepedanya.  Ia menabrak portal dan terlempar.  Tiba-tiba, ia kembali ke beberapa menit sebelum menabrak portal kereta.  Makoto yang bingung langsung berbicara kepada bibinya mengenai apa yang terjadi.  Bibi Makoto mengatakan bahwa Makoto mempunyai kemampuan untuk kembali ke waktu.

Makoto pun terus berusaha untuk menemukan cara kembali ke masa lalu.  Ternyata untuk kembali ke masa lalu, Makoto harus melakukan sebuah loncatan atau putaran.  Makoto menggunakan kekuatannya untuk hal-hal ringan seperti tidak terlambat, karaoke berulang kali, membaca arah bola baseball, dsb.  Namun ketika nyawa salah satu teman Makoto terancam, sisa kemampuan Makoto hanya satu.

primeedges.wordpress.com

I'm not a big fan of Japanese animation and manga.  Gue kalau nonton anime gak rajin-rajin amat dan baca manga secara random.  Entahlah, mungkin karena gue juga bukan penggemar berat film-film sci-fi dan fantasi gak jelas ataupun komik shojo dengan cerita romance yang membosankan.  Apalagi animasi Jepang itu rough at the edge, gak 'sebersih' animasi USA.  Tapi akhir-akhir ini gue lagi tertarik sama film animasi Jepang (bukan yang seri).  The Girl who Leapt Through Time tidak mempunyai animasi yang seindah Ghibli ataupun yang dibuat Makoto Shinkai, tapi....  

I LOVE THE GIRL WHO LEAPT THROUGH TIME.

Alur cerita yang ditawarkan film ini sama sekali gak original atau unik, tapi Mamoru Hosada dan Satoko Okudera dapat mengemas keseluruhan film secara baik.  Ada komedi, romance, dan sci-fi, meskipun  sci-fi film ini gak akan membuat lo jedot-jedotin kepala ke tembok kayak Inception ato The Matrix.  Salah satu pengguna youtube mengatakan bahwa komedi di film ini bukan jenis komedi yang bakalan bikin lo ngakak, tapi gue ngakak nonton film ini.  Bahkan gue tetap ngakak waktu kedua kalinya gue nonton film ini. 

Gue suka semua tiga tokoh utama film ini karena mereka gak punya sifat yang benar-benar menonjol untuk dimasukkan ke sebuah stereotipe.  

theonlineanimestore.blogspot.com

Mungkin awalnya Makoto terlihat sebagai one-of-those-clumsy-and-cutesy-Korean-drama-heroines, tapi ternyata tidak.  Dia memang ceroboh, tapi bukan jenis ceroboh yang membuat lo jijik.  Ketika dia sedang ceroboh, dia tidak melebarkan matanya, menggigit bibirnya, dan hal-hal klise seperti itu.  Dia juga bukan tokoh yang totally idiot.  Makoto masih mempunyai akal sehat yang kuat untuk menangkap dan memahami beberapa hal.  Plus, rambutnya pendek dan ia bisa bermain baseball.  Ia juga tidak popular ataupun seorang outcast.  Cuma satu yang gue gak suka dari Makoto: gue gak suka cara nangisnya dia, secara visual maupun audio.  Suaranya cempreng aja kalau lagi nangis.  Tapi secara keseluruhan, voice actor yang mengisi suara Makoto bagus kok.  Dia cukup ekspresif ketika mengisi suara. 

At first, I thought Chiaki Mamiya was another carbon-copy of Usui from Maid-sama.  Untungnya gue salah.  Chiaki Mamiya bukanlah Gary Sue, which means he's not perfect.  Dia memang memiliki penggemar, tapi bukan berarti seluruh perempuan memuja dan mendewakan Chiaki.  Yang lebih mirip Gary Sue justru Kosuke.  Dia pintar, cukup atletis, tidak pernah telat, bahkan memiliki penggemar seperti Chiaki *walaupun gak seheboh Usui*.  But I know he's not Gary Sue from his appearance.  Bajunya gak rapi dan kupingnya Kosuke punya semacam anting atau tindikan.  Kepintarannya juga bukan jenis pintar yang kayak Einsten.  The point is, all of them are normal teenagers.   

Di film romance, biasanya kalau ada persahabatan yang melibatkan tiga orang akan ada the other guy/girl dan atau cinta segitiga yang memuakkan.  The other guy/girl bisa berarti cewek atau cowok yang cintanya tidak dibalas atau teman yang menjadi tidak relevan.  Gue rasa hal ini tidak terjadi di The Girl who Leapt Through Time.  Baik Satoko maupun Mamoru melakukan usaha yang bagus dalam membuat seluruh tiga tokoh utama tetap menjadi tokoh utama.  Ketika Makoto bingung mengenai perasaanya kepada salah satu temannya, Satoko Okodera memberikan kita momen-momen antara Makoto dengan 'the other guy'.  Bahkan 'the other guy' ini malah mengantarkan penonton pada twist film The Girl who Leapt Through Time.  Gue sampai bingung mau ngeship Makoto sama Kosuke atau Chiaki.  Tapi sayangnya, hanya Makoto yang mempelajari sesuatu di film ini.  Chiaki dan Kosuke tidak bertambah dewasa di film ini.  But at least they still have characters.         

The Girl Who Leapt Through Time doesn't have fresh, original, or mind-provoking plot, but at least the plot is still good, even we can learn something from this film.  If you expect anything like Akira or Spirited Away, I don't recommend this film for you.  But if you expect above-average entertainment, then I recommend this film for you.  8,7/10      

    

Rabu, 28 Mei 2014

The Chaser (2008)

pic cr: jediprincess.wordpress.com
Artikel ini bukan tentang lagu yang dinyanyiin calon suami gue alias Nam Woohyun alias Infinite.  Nope, The Chaser yang ini merupakan film misteri dan thriller 2008 yang ditulis dan disutradarai oleh Na Hong Jin.  Film yang masuk Festival Film Cannes ini juga dinominasikan penghargaan film, bahkan memenangkan beberapa di antara mereka.  Film ini mengadaptasi pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Yoo Young Chul, seorang pembunuh berantai yang juga melakukan berbagai kejahatan selain membunuh.  The Chaser sukses dalam segi pendapatan dan juga segi apresiasi, bahkan sampai dibanding-bandingkan dengan film Korea yang legendaris, yaitu Oldboy (2003).

Joong Ho (Kim Yoon Suk) merupakan seorang mantan detektif yang menjadi mucikari.  Status finansialnya memburuk saat dua 'pekerjanya' menghilang.  Dalam keadaan yang tertekan, ia akhirnya memaksa Kim Mi Jin (Seo Young Hee) untuk melayani salah satu klien, walaupun Mi Jin masih sakit.  Saat kembali ke kantornya, ia sadar bahwa klien yang sedang dilayani Mi Jin merupakan orang terakhir yang dilayani oleh dua 'pekerjanya' yang menghilang.  Ia menyadarinya ketika ia memeriksa nomor HP klien Mi Jin.  Sang klien, Ji Young Min (Ha Jung Woo) ternyata memesan Mi Jin bukan untuk melakukan seks, tapi untuk menyiksanya.  Mi Jin yang terperangkap ternyata tidak langsung parah namun memberikan perlawanan.  Di tengah-tengah penyiksaan Mi Jin, Young Min diganggu oleh sepasang suami-istri dari suatu gereja.  Young Min segera membunuh mereka dengan keji dan kabur menggunakan mobil mereka.

Namun takdir malah mempertemukan Young Min dengan Joong Ho.  Joong Ho yang tidak sengaja menabrak mobil Young Min, meminta nomor HP Young Min agar bisa diurus di asuransi.  Ia menyadari ada sesuatu yang aneh karena Young Min tidak segera memberikan nomor HP.  Apalagi noda darah di baju Young Min membuat Joong Ho semakin curiga.  Terjadi kejar-kejaran antara Young Min dan Joong Ho yang berakhir dengan Young Min yang babak belur.  Polisi tadinya ragu kalau Young Min memang menjual pekerjanya Joong Ho.  Tapi Young Min malah mengaku kalau ia tidak menjual mereka, tapi membunuh mereka.  Keadaan di kepolisian menjadi rumit karena pengakuan Young Min bertabrakan dengan insiden Walikota Seoul yang dilempari feses.

Kepolisian mengirim tim forensik ke rumah Mi Jin untuk memeriksa kecocokan DNA dengan darah yang ada di baju Young Min.  Di rumah Mi Jin, Joong Ho menemukan Eun Ji (Kim Yoo Jung), putri Mi Jin.  Awalnya, Joong Ho merasa terpaksa menemani Eun Ji.  Namun seiring berjalannya waktu, Joong Ho malah merasa bersalah dan bertanggung jawab pada Eun Ji.

pic cr: veehd.com

FILM INI LEBIH BAGUS DARIPADA MV THE CHASER - INFINITE *YAIYALAH* TAPI GUE TETEP SETIA SAMA KAMU KOK NAMU :*

Meskipun sama-sama ada unsur thriller sama misteri, The Chaser gak terlalu mirip sama Oldboy.  Kalau Oldboy itu misterinya lebih ke arah mengapa-gue-dikurung sedangkan The Chaser lebih kearah misteri pembunuhan.  Tapi dua-duanya bagus kok.  Mungkin beberapa orang harus bersabar untuk menunggu segala ketegangan dan atau misteri dari film ini.  Namun, lama-kelamaan, film ini akan semakin menegangkan. 

Film ini bergenre misteri, namun sebenarnya tidak ada lagi misteri yang ditawarkan.  Sepanjang film kita akan menonton para polisi dan Joong Ho mengumpulkan bukti yang bisa memberatkan Young Min.  Ini agak mengingatkan gue pada film Red Dragon karena penontonnya udah tahu pelakunya, kita hanya mengikuti bagaimana para penyelidik mengumpulkan bukti dan kesimpulan.  Anyway, pencarian bukti kriminal Young Min sangat rumit karena Young Min sering mempermainkan polisi, entah itu pura-pura tidak tahu alamat sampai tiba-tiba tidak mau mengakui pembunuhannya di depan seorang pejabat.

Gue gak ngerti kenapa *kayaknya* Kepolisian Korean punya image yang buruk, entah di film ini, Memories of Murders, sampe Miracle in Cell no. 7.  Di tiga film ini, para polisi memaksa 'tersangka' untuk mengakui kesalahan mereka atau memberikan semacam bukti atas kesalahan yang mereka lakukan.  Emang gak semua film Korea menggambarkan kepolisian Korea seperti itu, tapi hal ini membuat gue bertanya-tanya sebenarnya seberapa buruk atau baik kepolisian Korea.  Memories of Murders dan Miracle in Cell no. 7 memaksa 'tersangkanya' hanya untuk cepat-cepat menyelesaikan kasus (walaupun ada sedikit unsur agenda pribadi film MIC7), sedangkan The Chaser penggabungkan antara pemaksaan dan agenda politik.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara The Chaser dan Memories of Murders.  Kalau Memories of Murders itu lebih emotional dan sinematografinya lebih artistik serta sisi forensik dan krimonologinya cukup kental.  The Chaser itu lebih sadis dan menegangkan, sinematografinya artistik juga sih, cuma lebih sering main di sudut pengambilan gambar.  Ada salah satu adegan pembunuhan yang menurut gue somehow mirip adegan anime di Kill Bill vol. 1.  Tahu kan adegan dimana O-ren Ishii (Lucy Liu) ngumpet di bawah kasur terus ada hujan darah?  Nah, kalau di The Chaser, Young Min membunuh salah satu korbannya dengan begitu keji dan tanpa perasaan, tapi Na Hong Jin menggunakan efek slow motion pada darah yang mengalir.  Musik pengiringnya juga bagus dan emosional banget.  Baik adegan film ini dengan adegan di Kill Bill, keduanya sama-sama sadis, tapi emosional dan indah, sehingga ada semacam ironi dan kontradiksi. 

SPOILERNYA BARU DIMULAI SEKARANG KOK     
   
pic cr: obscureandcure.blogspot.com
Film-film Korea Selatan cukup sering menggunakan aktor anak-anak, mulai dari film komedi Speedy Scandal sampe film action kayak Ahjussi (The Man from Nowhere).  Well, film The Chaser pun menggunakan aktor anak yang bernama Kim Yoo Jung.  I don't know if it sounds cliche or not, tapi kehadiran tokoh Eun Ji yang diperankan oleh Kim Yoo Jung justru menambah kepahitan dan sisi emosional pada film ini.  Eun Ji merupakan karakter yang tidak melakukan kesalahan, namun malah ia yang kehilangannya paling besar.  Ada salah satu adegan dimana seorang saksi secara gak sengaja memberi tahu Eun Ji kalau ada kemungkinan bahwa ibunya dibunuh.  Lalu Joong Ho dan Eun Ji menatap satu sama lain dengan ekspresi terkejut.  Gue rasa Joong Ho terkejut karena ia tidak menyangka bahwa si saksi akan mengatakan hal itu di depan Eun Ji.  Sekasar-kasarnya Joong Ho, ia tidak mau merenggut harapan Eun Ji, sekecil apapun.  Selain itu, juga ada beberapa adegan yang menunjukkan bahwa Joong Ho mau 'menanggung' Eun Ji, walaupun sebenarnya ia tidak bersalah atas kesialan yang menimpa Eun Ji.

Applause for Kim Yoon Suk's performance!  Gak sehebat Choi Min Sik di film Oldboy dan I Saw the Devil sih, tapi aktingnya keren banget.  Gue suka tokohnya yang mempunyai sifat 'senggol-bacok' dan suka ngomong kotor.  Ia mungkin bukan (mantan) detektif dengan gadget keren atau otak yang benar-benar cepat tanggap kayak Patrick Jane ato om Sherlock Holmes, namun ia jelas mempunyai insting seorang (mantan) detektif.  Di film ini, Joong Ho jelas seorang anti-hero, bukan protagonis.  Joong Ho mempunyai pekerjaan dan prinsip yang cukup berbeda dengan untuk ukuran protagonis.  Tapi itu yang membuat gue suka banget sama karakternya, karena ini membuktikkan bahwa walaupun ada orang luarnya tuh sensi kayak cewek lagi PMS ataupun ngomongnya udah kayak abang-abang terminal, dia bukanlah a real jerk. 

Gue agak malah agak kecewa dengan penampilannya Ha Jung Woo.  Memang ada beberapa permainan psikologis & otak dan aktingnya gak jelek-jelek amat, tapi gue tetap kurang puas dengan penampilannya dia.  Entahlah, dia masih belum menyaingi Lee Woo Jin (Yoo Ji Tae) dari film Oldboy (2003).  Gue rasa hal ini karena tokoh Young Jin kurang mendapat screentime aja.  Tapi di sisi lain, kalau Na Hong Jin memberikan Young Jin lebih banyak screentime, mungkin film ini bakalan lebih panjang dengan adegan yang bertele-tele.

Overall, The Chaser is a film with a balance in art, emotion, beauty, thriller, and violence.  10/10

 

Minggu, 18 Mei 2014

Howl's Moving Castle: "Ghibli's refreshing version of Beauty and the Beast"


Pengalaman gue dalam menonton film Ghibli gak banyak sih.  Buktinya Howl's Moving Castle merupakan film Ghibli kedua yang gue tonton dari sekian banyak film yang diproduksi Ghibli Studio.  Howl's Moving Castle merupakan film animasi fantasi 2004 yang disutradarai dan ditulis oleh Hayao Miyazaki.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Diana Wynne Jones. 

Sophie merupakan anak tertua dari tiga bersaudara dan ia bekerja di sebuah toko topi.  Suatu hari, Sophie dikejar oleh sekelompok mahluk aneh dan ia diselamatkan oleh seorang penyihir, Howl.  Sophie langsung jatuh hati dengan Howl yang tampan dan menawan.  Adik Sophie langsung memperingatkan Sophie untuk tidak jatuh cinta dengan Howl karena ada isu mengenai Howl yang suka makan jantung gadis-gadis muda.  Suatu malam, toko Sophie dikunjungi oleh Witch of the Waste Land.  Karena Sophie menolak melayani si penyihir, Sophie pun dikutuk sehingga penampilanya terlihat seperti wanita tua.

Sophie pun berkelana untuk mematahkan kutukannya.  Tiba-tiba, ia menemukan sebuah scarecrow yang bisa meloncat-loncat, namun tidak bisa berbicara.  Ia menamainya Turnip head.  Tiba-tiba, hujan turun dan mereka menumpang di sebuah rumah yang bergerak.  Sophie berkenalan dengan Markl, murid Howl, dan Calcifer, sebuah fire-demon.  Sophie menyatakan dirinya sebagai pelayan baru Howl. 

Namun hidup Sophie dengan mereka tidaklah berjalan mulus karena adanya perang yang sedang berlangsung di negeri Sophie.  Howl terus saja diminta untuk berpatisipasi dalam perang walaupun ia sering menghindarinya.  Bagaimana kelanjutan kisah Sophie dengan teman-temannya? *jengjeng* 

WARNING: *KAYAKNYA SIH* MENGANDUNG SPOILER


I have a love-hate relationship with Ghibli's anime style.  Dalam beberapa hal, gue lebih suka gaya animasi Disney karena menurut gue animasi Disney tuh lebih halus dan lebih polished.  But at the same time, terkadang gue gak suka dengan gaya animasi yang terlalu polished dan bisa menghargai gaya animasi Ghibli (yang menurut gue) rada rough at the edge.  Salah satu hal yang menurut gue menonjol dari Ghibli adalah kemapuan Ghibli yang bisa memberikan sentuhan surealisme dan horor psikologis.  Berbeda dengan beberapa film Disney yang biasanya memberikan sentuhan horor klasik, horor pada film-film Ghibli lebih bersifat disturbing.  Fantasi dalam studio Ghibli pun menurut gue lebih bagus daripada Disney karena fantasinya gak gitu-gitu aja.

Beberapa orang mengatakan bahwa Howl's Moving Castle merupakan salah satu film Miyazaki yang lemah.  Gue langsung shock karena film yang 'lemah' aja udah bisa bikin gue ngefans berat, apalagi film terbagusnya?!!!  Sama seperti kebanyakan film Ghibli, Howl's Moving Castle pun punya unsur-unsur surealisme dan horor psikologi.  Well, walaupun gue bilang PUNYA, jangan expect porsi unsur horornya dominan banget kayak Ju-on ato The Ring.      

Beberapa orang mengatakan biasanya film-film Miyazaki tidak mempunyai antagonis yang jelas.  Namun at some point, Howl's Moving Castle mempunyai 'antagonis' seperti Witch of the Waste Land, yang mengutuk Sophie, dan Sulliman, penasihat istana yang terus saja 'memburu' Howl.  Namun gue mempertanyakan kembali posisi mereka sebagai 'antagonis' di film ini.  Kita semua tahu tentu tahu antagonis adalah orang yang melawan protagonis dalam suatu karya sastra.  Baik si penyihir maupun Sulliman merupakan antagonis karena mereka melawan protagonis.  Tapi tindakan si penyihir menjelang akhir film tidak benar-benar mencerminkan dirinya sebagai antagonis.  Ketika si penyihir mengambil jantung Howl, apakah tindakannya untuk melawan Sophie atau karena ia memang childish dan terobsesi pada Howl?  Gue menilai bahwa alasan si penyihir mengambil jantung Howl karena alasan yang kedua.  Bahkan gue sadar kalau alasan si penyihir mengutuk Sophie bukan karena ia jahat.  Ia memang 'melawan' Sophie, tapi itu semua didasari oleh wataknya yang kekanak-kanakan.  Begitu juga dengan Sulliman.  Sulliman memang 'melawan' Howl, namun bukan untuk menghancurkan Howl, tapi untuk mempertahankan negaranya.  Dia tidak punya tujuan yang jahat pada Howl.  

Setiap orang mempunyai interpretasi sendiri terhadap kutukan Sophie.  Ada yang mengatakan bahwa kutukan Sophie melambangkan orang-orang tua yang mempunyai jiwa muda, ada juga yang mengatakan bahwa Sophie melambangkan orang tua dan orang muda di saat yang sama.  Gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Mungkin ini karena gue baca sedikit tentang novelnya, jadi interpretasi gue lebih ke arah novelnya, bukan filmnya.  Sophie merasa insecure kepada dirinya karena ia tidak semenawan atau semenarik adik-adiknya.  Ia memandang dirinya sebagai orang yang membosankan, apalagi ia tertua dari tiga bersaudara.  Insecurity Sophie diperlihatkan secara obviously dalam film ini.  Ada adegan dimana tiba-tiba Sophie kembali menjadi muda dan ia & Howl berjalan-jalan di suatu taman.  Lalu Howl mengatakan bahwa Sophie cantik, dan tiba-tiba Sophie berubah kembali menjadi wanita tua.  Lalu pada adegan dimana Sophie berdebat dengan Sulliman mengenai Howl.  Sophie berdebat dengan penuh gairah dan percaya diri sehingga ia berubah kembali menjadi wanita muda.  Dua adegan ini juga yang membuat gue menginterpretasikan kutukan Sophie sebagai insecurity.  Pernah dengar istilah "You are what you think"?  Nah, kutukan Sophie cocok dengan istilah ini.


Howl punya sifat yang kekanak-kanakan karena ia memberikan jantungnya kepada Calcifer saat ia kecil.  Biasanya, orang yang mengalami peristiwa yang traumatis atau mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, akan membuat orang itu menjadi dewasa dengan lebih cepat.  Tapi Howl malah mempunyai sifat kekanak-kanakan.  Mengapa?  Gue punya semacam...dua interpretasi.  Pertama, tentu saja karena ia tidak mempunyai jantung (heart dalam bahasa Inggris) kemampuannya dalam mengelola perasaannya tentu saja kurang.  Hal ini juga bisa mengakibatkan Howl untuk tidak memikirkan orang lain.  Kedua, karena ia mengorbankan sesuatu yang besar di masa kecilnya, hal ini membuat Howl -in some way- kehilangan masa kecilnya.  Kerinduannya untuk menjadi anak yang normal diekspresikan dengan wataknya yang childish.   

Markl dan Calcifer tentu saja merupakan perpaduan antara deutragonis (tokoh yang berpihak pada protagonis) dan utility (tokoh pembantu yang ikut membentuk cerita).  Jelas keduanya berpihak dan membantu Sophie & Howl.  Tokoh Markl yang masih anak-anak melambangkan anak yang membutuhkan tokoh ibu dalam hidup mereka.  Calcifer juga membutuhkan Sophie karena Calcifer membutuhkan seseorang untuk membebaskan dirinya dari Howl.  Calcifer juga yang membuat Sophie dan Howl bertemu.  Bagaimana caranya?  Makanya, nonton filmnya baik-baik, hahaha.  Hal-hal inilah yang membuat Sophie 'terikat' di istana dan membentuk koneksi tidak hanya pada Markl dan Calcifer, tapi juga dengan Howl.

Sebenarnya kisah cinta antara Sophie dan Howl kurang diolah dengan baik.  Proses jatuh cinta di antara mereka agak vague dan terasa agak singkat.  But...I can't help but ship them!  Seriously, I love Sophie-Howl couple!  

Anyway, terima kasih banyak sama engkong Joe Hisaishi karena musiknya menambah emosi dan membuat penonton semakin hanyut dalam film ini.  Sumpah, aransemen musiknya keren banget.  Apalagi Merry-Go-Round of Life, keren banget dah.  Lagu penutupnya, Promise of the World menurut gue lebih bagus daripada Always With Me karena teknik vokal penyanyinya yang lebih stabil daripada penyanyi Always With Me.  Gak cuma lagi penutup sih, secara kesuluruhan, musik dari Howl's Moving Castle lebih bagus daripada Spirited Away.

Overall, Howl's Moving Castle maybe is one of Miyazaki's weak film, but it's still a deep, beautiful, and innovative.  The animation is a bit rough in the edge, but the surrealism and a bit horror touch certainly fix it.  Both Beauty and the Beast and Howl's Moving Castle have appearance and curse aspects, but I'm gonna say that Howl's Moving Castle is freshier than Beauty and the beast.  9,7/10  

pic cr: 
movies.disney.com
fact.co.uk
wordsofconfession.wordpress.com

Jumat, 21 Februari 2014

High Fidelity : An Allen-esque Romance-Comedy-Drama with Fun Soundtrack

I'm too tired not to be with you. -Laura

Bagi saya, John Cusack bukanlah aktor yang stand out.  Dia memang cukup tampan, tapi bukan tampan yang wow seperti Leonardo DiCaprio ataupun Tom Cruise.  Kemampuan aktingnya bagus, but not as legendary as Robert de Niro or as impressive as Johnny Depp.  Film-film terbarunya juga kurang meng-upgrade namanya. Tapi hal itu tidak membuat Cusack mempunyai 'jejak' tersendiri dalam dunia film.  Cusack meninggalkan 'jejak' yang cukup terlihat di dua filmnya, Say Anything (1986) dan High Fidelity (2000).

High Fidelity menceritakan Rob Gordon (Cusack) yang baru saja putus dengan pacarnya, Laura (Iben Hjejle).  Rob akhirnya membuat perubahan dalam daftar "Top Five Break-Up".  Rob merefleksikan hubungannya dengan mantan-mantannya dan bertanya-tanya apa yang salah dan why he was dumped.  Rob sendiri berusaha keras untuk bisa mendapatkan Laura kembali.  Hari-hari pencarian jawaban Rob ditemani oleh dua karyawan toko musiknya, Barry (Jack Black) dan Dick (Todd Louiso) yang mempunyai keanehan dalam masing-masing karakter.



High Fidelity adalah salah satu film yang memperlihatkan sisi realistis dalam hubungan romantis dan cinta antara pria dan wanita.  Kenyataannya, cinta tidak sempurna dan romantisme tidak akan bertahan lama.  Keyataannya, kita akan melakukan kesalahan yang mungkin sangat-sangat kita hindari.  Kenyataannya, kita bisa saja capek dengan hubungan yang kita jalani dan keinginan untuk 'seeing other people' tumbuh begitu saja.  High Fidelity memperlihatkan hal-hal itu dengan cara yang tidak depresif ataupun melankolis.  Stephen Frears menunjukkan hal-hal itu dengan kadar yang tepat dan membuatnya sangat relateable.  

Tidak seperti (500) Days of Summer yang menurut saya men-bias, High Fidelity menampilkan pria dan wanita dengan cukup adil.  Film ini menunjukkan tidak semua wanita pengertian, sabar, penuh kasih sayang, and all those bullshits, di sisi lain, tidak semua pria benar-benar brengsek, hanya ingin memainkan hati cewek, php, and all those shits.   Baik pria dan wanita mempunyai kelemahan dan melakukan kesalahan di film ini.  Walaupun film ini ditulis, disutradarai, dan menceritakan pikiran dan perasaan pria, film ini dibuat dengan objektif dan tidak hanya membuat karakter perempuan sebagai objek keinginan pria.  Just like Summer Finn, beberapa mantan Rob memang agak membingungkan dan sulit dipahami, tapi bedanya dengan Summer,mereka tidak sekedar tampil sebagai 'hiasan', mereka ada agar Rob menyadari kesalahannya dan memperbaiki hubungannya dengan Laura.


Not all of romantic relationship between man and woman experience forbidden love, social class difference, melancholic affair, abuse, etc.  Hubungan Laura dan Rob memang mengalami perbedaan kelas sosial dan perselingkuhan (dalam kadar yang cukup kecil) dan hal-hal itu yang secara tidak langsung membuat mereka putus.  Tapi Frears tidak meng-highlight permasalahan itu.  Laura dan Rob yang tadinya romantis  dan bahagia lama-kelamaan berubah.  Mungkin saja tadinya mereka percaya bahwa mereka akan baik-baik saja dan mereka tidak akan melakukan kesalahan fatal, tapi pada akhirnya ada beberapa kesalahan fatal yang mereka lakukan.  But the point is, they just simply tired and unhappy with each other, even before the damages were done.  Tidak mudah untuk melakukan komitmen dan tidak semua dari kita akan mengalami everlasting love atau apapun itu.  Kadang kita capek, bosan, dan berandai-andai apa yang terjadi jika kita 'bersama' orang lain.  


Bahkan terkadang kita tidak tahu posisi hubungan kita apa.  Setelah Laura memutuskan untuk tidak serumah lagi dengan Rob, ia harus mengambil barang-barang yang tertinggal di rumah Rob.  Hal ini menyebabkan mereka untuk bertemu lagi dan lagi.  Akhirnya Rob bertanya apa yang Laura lakukan dengan terus bertemu dengan Rob dan posisi atau status mereka sebenarnya apa.  Laura menjawab tidak tahu karena memang dia tidak tahu. 

Kemampuan akting Cusack dan Hjejle sangat bagus di film ini, begitu juga chemistry mereka.  Cusack mampu mengekspresikan kelabilan dan kegalauan seorang pria yang baru saja putus.  Hjejle sendiri sangat berhasil dalam memerankan seorang wanita yang capek dan tidak tahu bagaimana menghadapi mantan.  Jack Black dan Todd Louiso juga mampu memberikan kesan tersendiri dalam film ini.  

Hal yang paling mencolok dalam film ini adalah musik-musiknya.  Begitu banyak lagu-lagu rock atau indie yang dimainkan di film ini.  Tidak hanya itu, penulis skrip High Fidelity juga memasukkan berbagai refrensi film dan musik dalam dialog-dialognya.  Anyway, entah kenapa saya berpikir bahwa film ini mirip dengan Annie Hall dan cukup dipengaruhi oleh gaya Woody Allen.  Lihat saja bagaimana film ini langsung "breaking the fourth wall" dengan cara si tokoh utama berbicara langsung dengan penonton, Annie Hall dan High Fidelity berjalan dengan alur yang non-linear, dan film ini juga menceritakan pria yang bertanya-tanya dimana dan apa yang salah dari hubungan cinta mereka.

Salah satu hal yang saya pelajari dari High Fidelity adalah bahwa pacaran, komitmen, dan cinta tidak seindah dan semudah yang kita bayangkan.  Akan selalu ada kesalahan yang kita lakukan, even the kind of mistakes that we swear we won't do.  Juga akan ada perasaan letih, bosan dan berandai-andai.  Yang kita bisa lakukan hanyalah merekfleksikan dan belajar dari kesalahan itu, dan berusaha menjalani sebuah hubungan dengan lebih baik.  

Overall, High Fidelity menawarkan sisi realistis hubungan romantis antara pria dan wanita dengan ringan dan berbagai lagu keren. 9/10

Jumat, 03 Januari 2014

Secret Sunshine : A Mother's 'Rollercoaster' After Her Son's Death


Menurut wikipedia, Lee Chang-dong adalah salah satu sutradara terkemuka di Korea.  Saya belum menonton filmnya yang paling terkenal, yaitu Poetry (2010), dan Secret Sunshine (2007) adalah film pertama Lee yang saya tonton.  Film ini meraih berbagai penghargaan film internasional, dan yang paling besar adalah Cannes Film Festival kategori Best Actress untuk Jun Do-yeon.  Secret Sunshine juga dinominasikan Palme D'or, salah satu penghargaan film terbesar di dunia.  Apa yang menyebabkan Secret Sunshine menerima banyak penghargaan dan pujian?

Film diawali dengan Lee Shin-ae (Jun Do-yeon) yang pindah ke kota Miryang bersama putranya.  Shin-ae pindah ke Miryang karena almarhum suaminya yang baru saja meninggal, ingin sekali pindah ke Miryang, kampung halamannya.  Di perjalanan, mobil Shin-ae rusak dan harus diderek.  Orang yang membantunya adalah warga Miryang sendiri yang bernama Kim Jong-chan (Song Kang-ho).  Meskipun Shin-ae tidak terlalu memperhatikan Jong-chan, Jong-chan bersikeras untuk membantu Shin-ae dan anaknya.  Shin-ae memulai hidupnya dengan membuka les piano sambil mencari tanah untuk investasi.  Usahanya untuk memulai kembali mengalami kemunduran karena putranya diculik.  Tragisnya lagi, putranya tetap dibunuh walaupun Shin-ae telah menyerahkan uang tebusan.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


I thought Secret Sunshine is another Korean revenge flick.  It's also not a very 'sunshine' (happy) movie.

Kadang-kadang saya bertanya apa yang terjadi jika Dae-su (Oldboy, 2003) pasrah saja atas keadaannya, atau jika Geum-ja (Lady Revenge, 2005) tidak memiliki bantuan untuk membalas dendam pada penculik anaknya.  Saya rasa Lee Chang-dong memberikan salah satu jawaban lewat Secret Sunshine.  Secret Sunshine menceritakan ibu biasa yang tidak mempunyai combat skill, koneksi dengan mantan tahanan, ataupun obsesi dan keahlian yang luar biasa untuk membalas dendam pada pembunuh anaknya.  Dia hanya bisa diam, berkabung, dan meneriakkan rasa ketidakadilan atas kematian anaknya.  Hanya tiga hal itu yang bisa ia lakukan.  

Iman, lebih tepatnya iman Kristiani, menjadi salah satu tema film ini.  Untungnya Lee memberikan sedikit latar belakang iman Shin-ae, yang boleh dibilang ateis (tidak percaya Tuhan).  Saya sangat menyukai adegan restorasi iman yang dialami Shin-ae, dimana ia menangis keras lalu sang pendeta, tanpa menanyakan apapun, memegang kepalanya dan mendoakannya.  Bukan menasihatinya, tapi mendoakannya.  Film ini memberikan pesan bahwa ketika kita berusaha untuk lebih dekat kepada Tuhan, beban kita akan lebih ringan dan batin kita akan lebih tenang.  Saya senang mendengar beberapa lagu gereja dinyanyikan di film ini, salah satunya versi Korea "Sebab Dia Hidup", walaupun hanya sebentar.  Film ini tidak hanya berbicara restorasi dan kekuatan iman, tapi juga menceritakan pergulatan iman yang bisa terjadi dimana saja, termasuk dimana saja.  Lee Chang-dong menunjukkannya dengan cara yang unik.  Ketika seorang pendeta sedang berdoa atau mungkin berkotbah, Shin-ae mengacaukan audio system dan memutar lagu yang bercerita tentang kebohongan.  Bisa dilihat ada beberapa jemaat yang berdoa lebih keras (karena takut iman mereka jatuh) dan relawan yang langsung membimbing beberapa jemaat.  Serangan bisa terjadi dimana saja, bahkan di tempat dan saat yang sangat tidak terduga.    

Entah sengaja atau tidak, Lee memberikan aspek psikologi dalam film ini.  Saya menduga Shin-ae mengalami major depressive disorder setelah kematian anaknya dan mengalami bipolar disorder.  MDD adalah low mood dan hilangnya keinginan untuk berbahagia yang berkepanjangan, yang biasanya disebabkan oleh pengalaman traumatis psikologis.  Salah satu pengalaman traumatis psikologis adalah kematian orang terdekat.  Bipolar disorder kira-kira dipicu oleh kenyataan bahwa pembunuh putranya sudah menemukan kedamaian sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Itu membuktikan Shin-ae belum sepenuhnya memaafkan pembunuh putranya, ia ingin agar pembunuh itu menderita dan dihantui perasaan bersalah sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Bipolar disorder terlihat ketika Shin-ae mulai mencuri CD, menggoda suami temannya, mengira putranya masih hidup, sampai tidak sadar telah melukai tangannya.  


100 thumbs up for Jun Do-yeon.  Dia berhasil sekali mengekspresikan pasang dan surut emosi seorang ibu, yang makin labil setelah ditinggal anaknya.  Dia bisa menjadi seorang malaikat dan tiba-tiba menjadi wanita jalang atau wanita yang dingin.  Anyway, saya rasa fondasi hubungan ibu-anak di film ini kurang kuat.  Cukup, tapi kurang kuat.  Saya mempunyai ekspetasi lebih kepada Song Kang-ho, namun mungkin karena perannya yang hanya sebagai karakter pembantu, mempersempit peluang untuk mengeksplorasi dan mengimprovisasi karakternya.  Tadinya saya kira dia akan menjadi detektif atas kasus penculikan anaknya Shin-ae, haha.

Untuk sisi teknis, saya kurang menyukai musik temanya, tapi saya menyukai iringan musik lainnya.  Film ini menggunakan shaky cam, untuknya guncangan tidak terlalu menganggu.  Sepertinya Lee kurang 'bermain' di sisi pewarnaan, sehingga terkadang film ini terasa sedikit plain.  Anyway, saya rasa ending-nya yang ambigu memberikan pesan bahwa apapun yang terjadi, ketika kamu masih hidup, maka duniamu tetap akan berputar dan melanjutkan aktifitasnya.

Secret Sunshine tidak menceritakan tentang misteri, tidak juga menceritakan balas dendam yang keji dan berdarah-darah.  Film ini bercerita tentang perjalanan batin seorang ibu yang ditinggalkan anaknya dengan sentuhan mentah namun indah, emosional namun tidak lebay.  Although there's a depressing atmosphere, it's still a beautiful movie.  9,5/10     

pic cr :
lifesanadventure2.wordpress.com
filmfestivaltourism.com
timeout.com