Tampilkan postingan dengan label Dian Sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2018

Aruna dan Lidahnya (Aruna and Her Palate)

Palari Films, 2018, diambil dari www.femina.co.id

Aruna (Dian Sastrowardoyo) pergi keluar kota untuk menginvestigasi wabah flu burung. Ia pergi berama Bono (Nicholas Saputra), seorang chef yang juga foodmate Aruna, untuk sekalian wisata kuliner. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan kolega Aruna sekaligus cowok yang disukainya dan Nad (Hannah Al-Rasyid), teman Aruna dan Bono, sekaligus wanita yang disukai Bono. Farish akhirnya menyetujui untuk ikut berjalan-jalan bersama mereka bertiga sekaligus menemani Aruna dalam investigasi mengenai wabah flu burung.


Don't kill me, tapi gue gak sempat nonton Posesif waktu film itu bioskop, huhu. Jadi maaf gue gak bisa membandingkan film ini dengan karya-karya Edwin sebelumnya. Gue juga belum baca bukunya, so....



Palari Films, 2018, diambil dari id.bookmyshow.com

I can't help but comparing this film with Ang Lee's Eat Drink Man Woman. Baik Aruna dan film Ang Lee tersebut sama-sama menggunakan makanan sebagai latar dan simbolisme dalam cerita protagonis mereka. Selain itu, mereka juga mempunyai beberapa character arc. Kalau gue harus "memecahkan" Aruna menjadi beberapa bagian, maka dalam Aruna ada ceritanya sendiri sebagai individu, cerita cintanya dia dengan Farish, misteri wabah flu burung, serta perjalanan Bono dan Nad. 

Gue pribadi agak sulit menghubungkan misteri flu burung and all of its fiasco dengan sub-plot atau character arc lainnya. I think it would be better kalau masalah flu burung tersebut lebih dikaitkan dengan makanan daripada masalah korupsi. Gue hanya merasa mereka menghabiskan terlalu banyak durasi di porsi tersebut sementara porsi itu akan lebih baik jika dipakai untuk pengembangan lainnya. The sub-plot is not completely without its own merit, tapi bagiannya agak kebanyakan. Salah satu guna sub-plot tersebut adalah membuat Farish dan Aruna berinteraksi dan membereskan kesalahpahaman antara mereka berdua.


Bagian lain yang kurang tergali dari film ini adalah indra perasa dan reaksi Aruna atas makanan yang ia cicipi. Oh iya, ini sebenarnya juga poin kesamaan dengan Eat Drink Man Woman, dimana indra perasa bapaknya mulai mengalami degredasi. Ada beberapa adegan dimana penonton diberi tahu pendapat Aruna atas makanan yang ia makan. Tapi ada saatnya juga kita tidak diberi tahu atau Aruna terlihat baik-baik saja. Untuk sesuatu yang ditunjukkan cukup signifikan, penyelesaian problem ini tidak dijelaskan secara baik kepada penonton. Mengapa palate Aruna menjadi normal setelah masalahnya selesai dengan Farish? Apakah Farish secara tidak sengaja membuat lidah Aruna tidak stabil? 


Namun dari beberapa pertanyaan dan konflik yang agak menggantung, ada satu poin yang cukup brilliant bagi saya. Aruna tidak sekedar berwisata kuliner tapi juga mencari resep nasi goreng dari pembantunya dulu. Pencarian yang sulit ini mempunyai semacam paralel dengan hubungan Aruna dan Farish yang agak ruwet.


Porsi Nad dan Bono sudah cukup pas sebagai secondary characters dan beta couple. Fungsi mereka awalnya kurang jelas bagi gue, tapi setelah gue pikir-pikir, mereka semacam foil bagi Aruna-Farish. Jika Aruna-Farish dipenuhi tensi, Nad-Bono cenderung rileks dalam berinteraksi. Nad-Bono sepertinya lebih banyak punya kesamaan, sedangkan Aruna-Farish cukup berbeda. Lucunya, kedua pasangan ini sebenarnya kurang bisa mengekspresikan perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.

Kekurangan dalam Aruna dan Lidahnya untungnya cukup ditutupi dengan musik yang bagus dan sinematografi yang colorful. Tapi applause harus diberikan kepada empat aktor utama film ini yang tidak hanya bagus berakting tapi juga membangun chemistry. Walaupun gue ada masalah sama beberapa adegan Mbak Dian, hehe.

Akhir kata, Aruna dan Lidahnya memang bukan makanan yang "kompleks", tapi bukan berarti ia tidak bisa dinikmati dan dirasakan orang. Ambisi yang terlalu tinggi justru membuatnya kebanyakan bumbu. Namun, empat bahan terbaik dari sajian ini adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, serta Hannah Al-Rasyid. 7/10 (Good).



Kamis, 25 Juli 2013

Ada Apa Dengan Cinta?

Pecahkan saja gelasnya! Biar ramai! 


Haha, karena gue gak ada waktu buat ke bioskop, gue milih random aja deh, hehe.  Gue juga gak tahu kenapa gue malah memutuskan film ini?  Mungkin karena gue baru masuk SMA dan kebetulan lokasinya itu sekolah gue? #eaaaa 

Eksis, mungkin itulah kata yang bisa menggambarkan Cinta (Dian Sastrowardoyo).  Selain langganan pemenang lomba puisi, ia dan teman-temannya adalah anggota pembuat mading.  Teman-temannya adalah Alya (Ladya Cheryl), Karmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Pricillia), dan Maura (Titi Kamal).  Namun, pada suatu perlombaan, Cinta dikalahkan oleh sosok gak eksis bernama (Rangga).  Pertemuan pertama Cinta dan Rangga berakhir buruk saat Rangga menolak untuk diwawancarai Cinta.

Dibalik semua itu, kecintaan Rangga dan Cinta terhadap sastra bisa menyatukan mereka berdua.  Bahkan ketika Cinta tahu bahwa ayah Rangga mempunyai latar belakang politik yang kelam, Cinta masih menerima ajakan Rangga untuk pergi ke kafe.  Namun, akhirnya Cinta harus memilih antara Rangga atau temannya ketika salah satu temannya mencoba untuk bunuh diri.


Seandainya film ini dibuat di Amerika, mungkin gue cuma bisa nebak bahwa John Hughes ikut berperan di film ini.  Gue yakiiiiiiin banget somehow nih film terpengaruh oleh film-film remajanya John Hughes.  Why?  Karena Jujur Prananto selaku penulis menyajikan cerita klise, but a GOOD cliche, yang ditata dengan baik.  Contohnya, disini Cinta digambarkan sebagai langganan pemenang lomba PUISI, bukan pageant queen atau nyanyi yang boleh dibilang udah basi.  Dan karena dia dan Rangga adalah pecinta sastra, penonton bisa mendapat sedikit pengetahuan tentang sastra Indonesia dari film ini.  Sialnya, sampe sekarang gue gak dapat novel Aku ataupun baca karyanya Chariril Anwar.  

Ada tema persahabatan, cinta, konflik, bahkan tema kebanyakan film coming-of-age, child abuse.  Tapi semua itu diatur dengan seimbang.  Film ini mirip loh dengan nasi goreng manis asin pedes yang lauknya ada smoke beef atau chicken, sosis bratwurst yang gede, kacang polong empuk, dan jangan lupa telur ceplok yang gak terlalu garing, atau omelet! (?)  Tapi kalau itu semua mempunyai porsi berlebihan, tentu lauknya akan menutupi nasi goreng itu, bukan?  Nah, untungnya Jujur Prananto tidak melebarkan kisah persahabatan Cinta, ataupun membuat mereka sekedar penghias atau followers.  Hanya salah satu dari mereka yang nanti menjadi pemicu konflik persahabatan di film ini. 

Oh iya, foto dibawah ini cuma ajeng pamer yaaah, hohoho :p

 Waktu gue masih polos...warna kulitnya kontras banget ya? -____-"

Bicara soal akting, rata-rata kemampuan aktingnya bagus kok, yah 8,5 lah dari 1-10.  Gue tentu saja sangat menikmati akting dari tante (?) Dian yang emang keren banget.  Kalau menurut gue sih, Nicholas masih terlalu cool, gue kurang bisa konek dengan dia.  Tapi waktu gue baca dari pengantar novel Gie, ternyata emang krunya yang pengen Nicholas buat berakting terlalu cool gitu.  Lagian, di jaman itu Nicholas masih rookie, jadi tentu saja hal itu dimaklumi.  Dari aktor/aktris pembantu, gue sih rada sebel aja sama karakternya Maura, terlalu lebay untuk disukai...bahkan gue harus menyadarkan diri bahwa ini KARAKTERnya yang annoying, bukan aktrisnya. 

Gak tahu kenapa, musik pengeringnya film ini tuh mempunyai feel yang berbeda, yang gak pernah gue dapat dari film ini.  Benerah loooooh...yah, mungkin ini juga dikarenakan bahwa gue belum menonton banyak film.  Soundtrack-nya juga pop banget, catchy, tapi gak kelewat jelek kayak Gee gee ataupun Stupid hoe yang gak super gaje.  

Sinematografinya juga bagus, dan (mungkin) di masa itu udah tergolong bagus BANGET.  Gue paling suka bagian waktu matanya Cinta kepedesan (lagi motong cabe) dan si Rangga niup matanya cinta.  Ternyata adegan itu tidak di-handle ala Hollywood dimana adegan itu simpel, gak di close-up berlebihan, ataupun pake masuk lebay dan slow motion.  Sekali lagi, a very good cliche!  Ending-nya juga tergolong sebagai salah satu ending film teen-flick dan romance terbaik (edisi gue)!  


The only complain I have is Cinta and Rangga's love story is too quick!  I want to see more communication between them.  But...AADC is the best Indonesian teen-flick (besides Catatan Akhir Sekolah) with good tone and quite far from cliche.  9/10

pic cr :
blogs-swa.jkt
godreamouthloud.wordpress.com
facebook.com