Tampilkan postingan dengan label Amazing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amazing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

A Brighter Summer Day



A Brighter Summer Day (牯岭街少年杀人事件, Youngster Homocide Incident at Guling Street) merupakan film drama yang berlatar di Taiwan pada awal tahun 1960-an. Film Taiwan berdurasi 237 menit ini disutradari oleh Edward Yang dan dirilis pada tahun 1991. Film yang merupakan bagian dari Taiwan New Wave ini sebenarnya loosely based on a true event dan menggunakan sekitar 100 aktor amatir. 

Semuanya dimulai ketika Zhang Zhen, atau Xiao Si'r (Chang Chen) tidak berhasil masuk sekolah siang dan terpaksa masuk sekolah malam. Apa yang ditakutkan ayah S'ir terjadi - S'ir jadi bergaul dengan anak-anak 'nakal'. Daerah di sekitar S'ir dikuasai oleh dua gang, yaitu Little Park Boys dan 217. Little Park Boys merupakan gang dari keluarga pegawai sipil sementara gang 217 merupakan gang dari keluarga militer. Meskipun Si'r bukan anggota gang manapun, ia lebih dekat dengan Little Park Boys. 

Ketika Honey, ketua Little Park Boys, bersembunyi dari polisi, ia meninggalkan kekasihnya, Ming (Lisa Yang). Absennya 'pemilik' Ming memicu lebih banyak konflik antara kedua gang tersebut dan menyeret Si'r ke dalamnya.



There are so many things to be discussed and unpacked in this masterpiece by Edward Yang. But first of all, I have to apologize as I know nothing at all about Taiwanese culture, language, and history (except for Dau Ming Si lol). Padahal ketiga film ini krusial sekali untuk memahami A Brighter Summer Day lebih dalam. ketidakfasihan gue membuat ada beberapa hal yang gue miss seperti orangtua Si'r berbicara Shanghainese agar percakapan mereka tidak dipahami oleh anak-anak mereka yang berbicara bahasa Mandarin. Ada juga aspek seperti bagaimana American pop culture mempengaruhi kehidupan anak-anak muda di Taiwan pada zaman itu dan seberapa kontrasnya dengan rumah mereka yang secara fisik peninggalan Jepang namun didiami oleh mereka yang masih punya ikatan ke Mainland China. 

Uncertainty and Instability

Film ini dibuka dengan kekecewaan dan ketidakyakinan atas masa depan sang tokoh utama. Pembuka filmnya hampir exclusively menunjukkan Si'r dan ayahnya saja, bahkan tidak menunjukkan wajah guru Si'r. Lukisan ini seakan-akan menunjukkan bahwa situasi ini hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya. Selanjutnya kita mendengar daftar nama-nama siswa yang lulus masuk ke berbagai sekolah di Taiwan. Artinya keadaan ini sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh Si'r dan ayahnya tapi juga oleh berbagai anak dan orangtua di Taiwan. Mungkin ini hanya aspek kecil tapi menurut gue Edward Yang dengan pintar menunjukkan bagaimana bahwa education is both personal and public problem. Kalau dipakai di konteks jaman sekarang, ketika kita membaca riset mengenai pendidikan, kita hanya melihat angka orang-orang, tapi kita tidak pernah tahu perasaan mereka dan apa yang mereka pikirkan. Adegan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bagian dari stastik itu adalah riil dan bukan sekedar angka saja. Sebaliknya untuk gue pribadi, adegan ini agak mengingatkan bagaimana gue merasa hanya gue yang stress untuk mendapat kursi di PTN, padahal bukan gue saja. Dan jikalau gue gagal, I would not be the only one. 

Ketidakyakinan dan ketidakstabilan yang dialami oleh S'ir dan keluarganya tidak hanya datang dari aspek pendidikan saja tapi juga dari fakta bahwa keluarga S'ir merupakan keluarga pendatang. Sang ayah yang terus memantau berita sepertinya menunggu adanya tanda yang memperbolehkan ia dan keluarganya untuk kembali ke Cina. 

Di awal film, penonton mendapatkan informasi bahwa munculnya gang anak muda (walaupun ada beberapa orang dewasa yang masih anggota gang) sangat dipengaruhi oleh kekalahan National Government terhadap kelompok komunis. Setelah gue browsing sedikit, di era 60an, Taiwan masih mengalami berbagai konflik dengan RRC, apalagi Cold War belum berakhir di era tersebut. 



Sociopoliticalish and pieces of gender problem (don't expect much tho)

Setelah melihat keadaan Taiwan di era awal 60an, menjadi wajar sekali bagaimana anak-anak tersebut 'dekat' dengan kekerasan. Kekerasan merupakan hal yang wajar, bisa dilihat bagaimana ada seorang laki-laki dewasa yang dengan gamblang mengekspresikan kepuasannya ketika ia membantai orang-orang komunis. Bahkan berita seorang guru yang dipukul dengan baseball bat sudah seperti gosip pasar, walaupun memang masih dipandang secara buruk dan sekolah masih berusaha untuk mencegah timbulnya kekerasan lebih lanjut. S'ir pun tidak menjadi traumatis ketika ia melihat seseorang yang sekarat karena diserang oleh pedang.

Beberapa keluarga di Taiwan tinggal di rumah bekas orang Jepang. Beberapa barang mereka ditinggal di loteng rumah tersebut. Barang-barang yang ditinggalkan termasuk senjata, dan ditemukan oleh beberapa teman Si'r. At one point, bahkan mereka tidak segan menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa rumah pun tidak imun dari kekerasan dan alat senjata. Their parents either don't know or don't care. 

Selain kental dengan casual and not-so-casual violence, film ini juga menghadirkan casual sexism. Salah satu contohnya adalah bagaimana Ming tidak diperlakukan sebagai mahluk mempunyai agency atau otoritas atas dirinya, tapi sebagai barang yang bisa dimiliki. Hal ini terlihat bagaimana adanya sekolompok laki-laki yang memperingatkan S'ir bahwa Ming adalah "our girl" dan bagaimana Little Park Boys bersikap lebih ofensif kepada Si'r ketika mereka memergoki Si'r dan Ming berduaan, seakan-akan mereka tidak bisa berpikir bahwa Ming juga memilih untuk bersama Si'r, atau mempunyai hak untuk memilih dan berpikir. Selain Ming, ibu Si'r juga mendapatkan kata-kata dari suaminya yang menyiratkan pengetahuannya tidak sebanyak suaminya karena ia perempuan, terutama dalam masalah pertemanan antar pria. Meskipun ini tidak menjustifikasi seksisme kasual yang dialami oleh Ming dan tokoh perempuan lainnya di film ini, penonton bisa mengerti bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. 

Also, I doubt the accesible porn helps men to really understand women. I could be reaching too high, but I think the few mention of porn here and there build a subtle bridge for the final act. Many men love porn, especially the one's that full of sexy girls. Ironically, they usually hate girls who date and have sex too much (according to their personal measure lol). Hal ini pun terjadi di film ini. 

Jadi jelas bahwa anak-anak tersebut mempunyai certain ideals or fantasies about violence, glory, relationship, women, etc. Sayangnya baik orangtua maupun sekolah gagal memberikan koreksi atau perbaikan atas ide dan fantasi tersebut. They lack a mature guidance outside school and house. Ini tidak hanya disebabkan oleh orangtua mereka yang sibuk bekerja dan perang yang terjadi, tapi juga indifference and prejudice terhadap hal-hal yang lebih modern dan atau bersifat asing. Bagian ini diperlihatkan lewat ayah Si'r yang mempertahankan suatu radio tua dan nilai-nilainya yang kaku, dan bagaimana guru Si'r menjelaskan bagaimana huruf Cina lebih superior daripada alfabet Latin.

Misc

I just love the techniques Edward Yang used for this film. The lack of camera movement (which seems influenced by Yasujiro Ozu) fascinates me in inexplicable way.  Dan jika benar Yang dipengaruhi oleh Ozu, menurut gue lucu dan pintar. Lucu karena dari sisi musik, film ini justru lebih kaya akan lagu-lagu populer Barat (selain lagu-lagu tersebut, film ini tidak menggunakan musik, which fits perfectly with the realism of this film). Pintar karena kalau gue lihat sekilas filmografi Ozu yang lumayan banyak ambil adegan di dalam rumah sementara rumah-rumah di film ini merupakan rumah bekas Jepang. Selain itu ada beberapa adegan yang menggunakan gaya frame within frame yang membuat gue merasa tidak hanya menonton film tapi juga melihat kejadian historis dan mengintip kehidupan pribadi tokoh-tokohnya. Also the actors were so great, it would be hard to guess who's amateur and who's not.

Conclusion

I would like this film better if it was shorter. However, I myself think all of the scenes are important to build Si'r's world. Harus gue akuin ada beberapa saat dimana gue merasa agak bosan, tapi itu tidak sampai membuat gue ingin mengskip atau mempercepat adegan tersebut. A Brighter Summer Day tidak hanya film yang cantik dengan teknik yang menarik atau brilliant, but it can suck you to its world. 9/10 (Amazing)




Untuk review yang lebih berbobot dalam bahasa Inggris: https://www.criterion.com/current/posts/3981-a-brighter-summer-day-coming-of-age-in-taipei

Selasa, 25 November 2014

Interstellar

Do not go gentle into that good night. -Dylan Thomas
uniqpost.com

Setelah berbulan-bulan sibuk dengan pekerjaan sekolah, akhirnya gue bisa nonton film baru di bioskop!  Aaaah, apalagi film yang ditonton tuh film terbarunya om jauh gue alias om Christopher Nolan.  

Interstellar merupakan film sci-fi tahun 2014 yang disutradarai, diproduseri, dan ditulis oleh Christopher Nolan.  Nolan ikut menulis bersama saudaranya, Jonathan Nolan sedangkan Emma Thomas - istri Nolan - ikut membantu sang suami di bagian produser.  Interstellar dengan cepat menarik perhatian orang-orang, termasuk mereka yang bukan fans Nolan ataupun pecinta film.  Interstellar bahkan dibanding-bandingkan dengan salah satu mahakarya Stanley Kubrick yaitu 2001:  A Space Odyssey.  Movie-buffs dan Nolan seharusnya tahu bahwa hal itu merupakan suatu kehormatan besar di perfilman.  Bahkan hype Interstellar sendiri mengalahkan film Gravity, film sci-fi yang dianggap sebagai salah satu film tahun 2013 yang terbaik.  

Kalau lo belum nonton filmnya, gue sangat menyarankan lo untuk tidak baca review-nya karena itu cuma ngurangin kenikmatan lo nonton nih film.  

Di masa depan, tanah yang kita pijak tidak bisa lagi memberikan kita makanan.  Gandum dan okra tidak bisa lagi ditanam sehingga masyarakat Amerika hanya bisa mengandalkan jagung.  Tidak ada lagi tentara, ilmuwan, dan penemu, karena orang-orang lebih membutuhkan petani.  Salah satu petani itu adalah Cooper (Matthew McConaughey), seorang duda dengan dua anak.  Cooper membenci pekerjaannya, tapi menjadi petani adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.  Ia mempunyai dua orang anak, Tom (Timothee Chalamet; Casey Affleck) dan Murphy (Mackenzie Foy; Jessica Chastain).  Suatu hari, Murphy merasa bahwa kamar tidurnya dihantui.  Ia beralasan bahwa buku-buku dan pesawatnya jatuh walaupun ia tidak menjatuhkannya.  Si hantu memberi mereka pesan lain lewat sebuah anomali gravitasi.  Anomali gravitasi itu ternyata merupakan suatu koordinat tempat.  Koordinat tempat itu mengantarkan mereka pada Dr. Amelia Brand (Anne Hathaway) dan ayahnya, Professor Brand (Michael Caine).

mashable.com

I'm not sure whether Christopher and Jonathan Nolan are ordinary men or not...Can I switch my brain with one of these guys?  


What do the haters say?

Not everybody loves Nolan.  Some of his haters say that his films lack emotion, feeling, or even passion.  Well, Nolan jelas memperhatikan masalah itu karena Interstellar merupakan film Nolan yang paling emosional...so far.  Mungkin saking pengen nunjukin kalau dia masih punya emosi, Nolan sampe membahas the L word.  

Nolan, I know you want to prove that you're not a robobitch, but why the hell you have to discuss the L word?!!  

Sebenarnya, gue merasa somewhat tersentuh bagaimana film ini berusaha menunjukkan bahwa cinta itu menembus ruang dan waktu.  Tapi tokoh-tokoh di film ini lebih berfokus pada nasib seluruh umat manusia.  Itu tidak masalah jika 'cinta' yang dimaksud adalah cinta pada kehidupan atau umat manusia.  Tapi film ini lebih menekankan jenis cinta yang bersifat personal.  Sayangnya, Interstellar kurang fokus pada personal bond. Cooper mungkin memang terdorong untuk mengikuti misi Lazarus karena anaknya, tapi ketiga rekannya dan Prof. Brand terdorong karena faktor humanity, bukan personal bond.  So, pesan mengenai cinta yang bisa menembus ruang dan waktu kurang mengena bagi gue.  Moreover, it sounds so cheesy and corny.  

Some things I learn from Interstellar

Gue merasa bahwa Nolan ingin menyampaikan suatu pesan tentang hidup which is: you can not change your past.  Amelia mengatakan bahwa waktu bisa mengecil atau melebar, tapi manusia tidak bisa kembali ke masa lalu.  Cerita film ini pun juga menekankan pesan itu.  Cooper bisa melihat kembali keputusan-keputusan yang ia buat tapi pada akhirnya ia tidak bisa merubah apa yang 'sudah' terjadi kepadanya.  Dirinya dia di masa lalu tetap akan melakukan 'kesalahan' itu.  Yang ia ubah pada akhirnya bukanlah masa lalu, tapi masa depan. 
Nolan mungkin pendukung besar ekspedisi untuk ke luar angkasa, tapi Nolan tidak menutupi hal-hal negatif dari ekspedisi besar semacam itu.  Misi-misi semacam ini menghabiskan banyak uang dan tidak memberikan jaminan yang pasti dalam jangka waktu pendek.  Toh pada akhirnya dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memecahkan 'Plan A'.  Selain itu, ada kemungkinan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang terlibat sebenarnya memalsukan data untuk kepentingan pribadi.  I'm glad that even though Nolan is supporting outer space missions, he also shows the audience the ugly side of missions like that.  

Confusing stuffs

huffingtonpost.com

Gue bingung banget sama timetable-nya Interstellar.  Jadi Murphy udah seusia ayahnya setelah ayahnya kembali dari Planet Miller.  Tapi bagaimana mungkin usia Murphy tidak bertambah setelah ayahnya kembali dari planet Dr. Mann?  Gak mungkin perjalanan ke Planet Dr. Mann menghabiskan waktu yang sedikit.  Apakah mungkin Cooper mengalami masalah dalam dimensi waktu sehingga umur Murphy tidak berubah banyak sejak ayahnya kembali dari Planet Miller?

Gue juga bingung kenapa Cooper 'jatuh' ke rumahnya.  I mean, kenapa dia gak 'jatuh' kantornya NASA atau tempat lain?  Kalo Cooper 'jatuh' ke rumahnya, kenapa TARS (robot) gak ikut 'jatuh' ke rumahnya?  I know kalau ceritanya gak kayak gitu pasti gak bakalan seseru itu.  Apalagi menjelaskan hal-hal ini pasti membutuhkan waktu yang banyak.

The usual stuffs

Applause buat seluruh cast and crew yang bekerja buat film ini.  Untuk pemainnya, gue memberikan credit lebih ke Matthew McConaughey because he's so badass, charming, but also caring.  Matt Damon - walaupun hanya tampil sebentar - tetap berhasil membuat gue kagum.  Anyway, Hans Zimmer juga tidak gagal membuat kagum dengan musik yang ia ciptakan untuk Interstellar.  Gue paling suka Docking karena itu dapet banget ketegangannya.  Belum lagi sinematografinya Hoyte van Hoytema yang kecantikannya udah gak bisa digambarkan dengan kata-kata (whatthehellamIwriting).    

About duration

Gue sendiri agak menyayangkan durasi film ini yang cukup panjang.  Tapi apa daya?  Kalau gak background yang cukup mengenai hubungan Murphy-Cooper, pasti hubungan itu gak akan menyentuh penontonnya. 

Beberapa reviewer sepertinya kecewa dengan klimaks Interstellar yang 'tidak seru' karena lebih banyak penjelasan daripada hal-hal seru.  Tapi kalau gak dikasih penjelasan, kasihan penonton yang kagak pintar kayak gue. 

Conclusion

Sumpah, lu rugi banget kalau gak nonton nih film di bioskop.  Lu bakalan nyesel banget kalau lo nonton di film ini lewat dvd bajakan doang.  Lupakan soal budget because I personally think this is definitely a not-to-be-missed-in-cinema movie.  9,3/10

 

Sabtu, 16 Agustus 2014

Submarine (2010)

I often imagine how people would react to my death. -Oliver Tate
dwhs.co.uk

Submarine merupakan film coming-of-age, komedi, dan drama tahun 2010.  Film ini disutradarai dan disutradari oleh Richard Ayoade.  Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama yang ditulis oleh Joe Dunthorne.  Film berdurasi 97 menit ini diputar di berbagai festival film dan mendapat respon yang positif dari para kritikus film.

Oliver Tate (Craig Roberts) suka sekali menyendiri karena menurutnya dengan menyendiri ia mempunyai waktu untuk merenungkan berbagai hal.  Suatu hari, Oliver mendorong Zoe, seorang korban bully ke genangan airDihantui rasa bersalah, Oliver menulis surat untuk Zoe.  Ternata ia tertangkap basah oleh Jordana Bevan (Yasmin Paige), seorang gadis yang juga tidak populer seperti Oliver.  Jordana memeras Oliver dengan menyuruh Oliver untuk membawa kamera dan diarinya ke suatu tempat.  Ketika mereka bertemu, Jordana langsung mencium Oliver sambil memfoto momen itu.  Ternyata, Jordana melakukan itu untuk membuat mantan pacarnya cemburu.  Namun rencana itu malah backfire dan membuat Oliver menjadi pacar Jordana.

Di saat yang sama,orang tua Oliver yaitu Lloyd (Noah Taylor) dan Jill (Sally Hawkins), mengalami perguncangan dalam pernikahan mereka.  Pernikahan mereka semakin terguncang ketika Jill menghabiskan waktu dengan cinta pertamanya, Graham (Paddy Considine).  Oliver berpikir keras untuk menyelamatkan pernikahan orangtuanya sekaligus menghibur ayahnya.  Namun permasalahan Oliver bertambah ketika ibu Jordana terkena kanker.  

SPOILER ALERT!

randomlifeblog.com
I didn't expect much from Submarine.  Gue kira Submarine tuh jenis film sok quirky dan cute, penuh percakapan sok filosofis, and that's it.  Ternyata gue salah.  

Joanna, Oliver, and the relationship between them

Hal yang gue kurang suka dari tokoh-tokoh quirky tuh betapa jarangnya mereka menunjukkan empati dan terkadang mereka terlalu disconnected dengan dunia sekitar mereka.  Oliver tuh tokoh yang quirky, tapi dia masih mampu untuk menunjukkan bahwa dia masih terhubung dan peduli dengan realita di sekitarnya.  Hal itu ditunjukkan bagaimana ia berusaha untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya dan surat permintaan maafnya untuk Zoe.  Sama seperti tokoh quirky lainnya, Oliver mengalami kesulitan dalam mengelola emosinya.  Oliver berusaha untuk dekat dengan Jordana secara emosional dan fisik, namun Jordana menolak usahanya.  Namun ketika Jordana yang melakukan hal-hal itu, Oliver justru menolak usaha Jordana karena ia berpikir bahwa Jordana menjadi semakin sensitif dan emosional.  Hal paling disturbing yang pernah dipikirkan Oliver tuh ketika ia mendapat ide untuk membunuh anjing Jordana dengan tujuan 'menyiapkan' sang pacar untuk kematian ibunya.  Dude, it's fine if you're quirky or neurotic, tapi gak segitunya juga.

Jordana sendiri juga bisa menunjukkan bahwa dia masih connected dan peduli dengan dunia sekitarnya.  Ini ditunjukkan lewat bagaimana ia tidak ragu-ragu untuk menghibur ayahnya yang sedang menangis.  Gue rasa Jordana agak takut untuk emotionally attached atau benar-benar peduli dengan seseorang di luar keluarganya.  Karena itu ia bersikap agak dingin dengan Oliver di awal film.  Hal yang gue suka dari Jordana adalah bahwa alasannya untuk marah dan putus dengan Oliver tuh jelas.  Cewek mana yang gak marah kalau pacarnya tuh lupa janjinya terus gak melakukan komunikasi selama berhari-hari?

Gue memperhatikan bahwa Jordana dan Oliver tidak pernah bertukar kata cinta atau bahkan memuji satu sama lain.  Hal ini membuat gue tidak keberatan dengan kecepatan hubungan antara Jordana dan Oliver.  Ini juga membuat hubungan antara Jordana dan Oliver bukanlah hubungan quirky yang pretensius.  Yang terjadi di antara mereka hanyalah sparks dan ketertarikan.  Awalnya, mereka tidak ingin melibatkan perasaan atau hal-hal romantis yang berlebihan, karena mereka hanya menginginkan kesenangan dan easy relationship.  Hubungan mereka memang pada akhirnya tambah serius, namun peningkatan keseriusan dalam hubungan mereka tidak meroket mendadak.  Tidak ada pula hal-hal cengeng dan angst yang berlebihan pada akhirnya.

sosreelthoughts.com

The Irony

Menurut gue agak ironis bahwa Oliver berusaha menyelamatkan pernikahan orang tuanya sedangkan ayahnya bersikap pasrah.  Ironis juga bagaimana Oliver terlalu berfokus pada pernikahan orang tuanya sehingga hubungannya dengan Jordana malah berantakan.  Keironisan ini sepertinya bisa me-mislead penonton, karena dua kasus ini berakhir bahagia and I think that fact is too good to be true.  Keironisan ini juga menunjukkan sifat manusia yang ingin mengontrol atau memperbaiki kehidupan orang lain tanpa menjaga kehidupannya sendiri.

Technical Stuffs   

Sinematografinya cute dan bagus banget, as expected from music video director.  Latar tempat yang indah juga mendukung sekali sinematografi dan visual stuffs di film ini.  Latar tempat yang gak romantis pun akhirnya jadi romantis gara-gara film ini.  Gue suka banget bagian dimana Oliver membayangkan bagaimana jika kehidupannya difilmkan dan juga seandainya kematiannya diberitakan di televisi.  Ketika aktor berbicara dengan background berwarna hitam, gue jadi teringat film Le Gai Savoir.  

Terima kasih untuk siapapun yang milih Alex Turner dan Andrew Hewitt untuk mengurus departemen musik di film ini.  Gue tertarik nonton film ini gara-gara nonton fanmade video Stuck on a Puzzle.  Lagu itu lagu favorit gue dari album soundtrack Submarine.  Intronya yang unik dan sangat menghantui langsung membuat gue muterin tuh lagu jutaan kali.  Sebenarnya lagunya bagus semua dari tuh album.  Gak ada lagu yang gue benci dari awal film sampe ending credit.

Aktingnya bagus.  Gak ada aktor yang spektakuler dari Submarine, tapi semua aktor mampu memerankan tokoh masing-masing dengan natural.  Aktor terbagi gue sih Yasmin Paige karena tokohnya mempunyai berbagai dimensi.  Dimensi yang bermacam-macam inilah yang membuat Paige memperlihatkan kemampuannya untuk berakting.  Ekspresi yang dibuat Paige juga cukup variatif.  Craig Roberts juga berakting dengan natural, namun ekspresi wajahnya cukup monoton di sepanjang film.  Mungkin emang dari sononya alias skrip film.

Overall, Submarine is more than a cute film and surprisingly is more realistic than the usual quirky movies. 9,2/10   

 

Rabu, 25 Juni 2014

Battle Royale (2000)

So today's lesson is...you kill each other off. -Kitano
ukhorrorscene.com
Battle Royale merupakan film Jepang tahun 2000 dengan genre distopia, thriller, dan action.  Film ini disutradarai oleh Kinji Fukasaku dan skripnya ditulis oleh anak Fukasaku, Kenta Fukasaku.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Koushun Takami.  Film dengan durasi 112 menit merupakan salah satu film yang paling kontroversial, sampai tidak ditayangkan di Amerika tahun 2000 yang lalu.  Namun, film ini merupakan salah satu film blockbuster di negaranya sendiri.  Battle Royale juga merupakan salah satu film favorit Quentin Tarantino.  

Film ini berlatar belakang di sebuah alternated universe dimana kelas sembilan dari sebuah sekolah di Jepang dipilih secara acak untuk mengikuti sebuah Survival Program.  Kelas Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) pergi ke sebuah pulau untuk mengikuti field trip.  Tapi field trip itu menjadi suatu mimpi buruk ketika kelas Shuya bangun dan mendapati mereka di suatu ruang kelas dengan 'kalung' di leher mereka.  Wali kelas mereka dua tahun yang lalu, Kitano (Beat Kitano) mengatakan bahwa mereka terpilih untuk mengikuti The Program.  Kelas mereka juga mendapat tambahan dua orang, Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) dan Shogo Kawada (Taro Yamamoto).  Sahabat Shuya, Yoshitoki Kuninobu (Yukihiro Kotani) dengan cepat terbunuh karena mencoba melawan Kitano.

Untuk mengingat temannya, Shuya berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Noriko Nakagawa (Aki Maeda), karena ia mengira bahwa Nobu menyukainya.  Kelas 9B dengan cepat membunuh teman mereka masing-masing.  Kazuo Kiriyama dan Mitsuko Souma (Kou Shibasaki) dengan cepat menjadi dua orang paling berbahaya.  Noriko dan Shuya beruntung karena bisa membentuk persekutuan dengan Shogo Kawada, salah satu orang yang juga harus diwasapadai.     

SPOILER ALERT!


Sorry guys, but I've never heard anything about Battle Royale before The Hunger Games, lol.  I'm not a big fan of THG, tapi kalau gak ada tuh film, mungkin gue juga gak bakal tahu Battle Royale.   

Gue mau mengadakan sedikit perbandingan antara film dan manga Battle Royale.  Gue lebih suka komiknya.  Komiknya lebih bisa memasukkan beberapa detail dan lebih bisa mengikat pembacanya dengan tokoh-tokohnya, bahkan tokoh pembantu.  But I must admit emang sulit mengelola 42 tokoh ke dalam film, yang durasi maksimalnya dua jam.  Tapi untuk tokoh antagonisnya, si guru dan Kazuo, gue lebih suka versi filmnya.  Penampilan cowok-cowoknya pun gue lebih suka yang versi film, karena jauuuuuuuuh lebih ganteng *brb, fangirling dulu*.

Battle Royale merupakan Hunger Games yang jauh lebih mentah.  Sifatnya yang mentah ini entah membuat penonton merasakan 'keaslian' film ini atau membuat penonton malah gak suka.  Gue rasa bagi mereka yang menonton THG dan BR juga tahu bahwa THG merupakan 'adik' dari BR, baik dari segi umur maupun isi.  Tapi yang membuat BR lebih nyesek daripada THG adalah orang-orang di BR merupakan orang-orang yang telah belajar bersama minimal dua tahun.  Mereka udah kenal satu sama lain *at least kenal nama*, belajar bareng, main bareng, tapi akhirnya mereka jatuh pada tekanan dan membunuh satu sama lain.  Orang-orang di THG are literally strangers.  Battle Royale mendorong diri gue untuk 'berimajinasi' bagaimana kalau kelas gue ikutan acara beginian.  Tbh, I will either die early or suicide, lol.         


Battle Royale mengandung metafora bagaimana orang-orang dewasa mendorong anak-anak muda untuk berkompetisi, but in a bad way.  Tidak hanya kompetisi, tapi mereka juga mempunyai ekspektasi yang besar -dan kadang tidak masuk akal- pada kita.  Karena inilah banyak dari mereka yang jatuh dalam tekanan.  Not everyone, but most of them.  Yang lemah langsung mati, yang gak bisa membunuh temannya ya bunuh diri, ada yang kelewat ambisius makanya bunuh temannya, dan ada juga segilintir dari mereka bertahan dan menolak untuk mengkhianati temannya.   BR juga mengandung unsur black humor, terutama adegan dimana ada mbak-mbak yang menjelaskan Battle Royale ke kelasnya Shuya.  I think that scene is very funny and amusing.  Sikapnya yang penuh keceriaan dan semangat kontras dengan isi penjelasannya.  Anyway, gue kurang ngerti letak 'horor' dari Battle Royale.  Memang banyak pembunuhan yang dilakukan secara tiba-tiba, tapi gue gak merasa tegang sama sekali ketika nonton film ini.  Ada rasa terkejut, tapi gak ada tegangnya sama sekali.

I don't like Shuya and Noriko.  They are too naive for my liking.  Gue berpikir mereka stereotipe protagonis naif yang gak tahu diri, yang sok-sokan mau jadi pahlawan.  Tapi setelah gue merenung, ada kemungkinan juga watak mereka yang naif malah jadi sebuah mock bagi stereotipe itu sendiri.  Bagaimana pemikiran mereka yang naif tidak sejalan dengan realita yang mereka alami dan usaha mereka untuk menjadi pahlawan malah nihil karena mereka gak berhasil menyelamatkan orang lain.  


Gue kecewa pada Noriko karena karakternya tuh stereotipe cewek yang terlalu bergantung pada cowok.  Gue berharap karakternya dia mirip Takako Chigusa (Chiaki Kiriyama).  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, bukankah klise banget kalau Noriko sekuat Takako atau Mitsuko?  I mean, langsung kelihatan dong kalau Shuya dan Noriko pemenangnya.  I hate to admit it, tapi emang cewek membutuhkan cowok di bidang yang sangat membutuhkan kekuatan fisik.  Gue juga kecewa Shuya, baik dari aktor yang memainkan tokohnya maupun karakternya sendiri.  Flashback tentang Shuya yang diperlihatkan di film tetap gagal membuat gue jatuh hati atau bahkan bersimpati pada karakternya.  Mungkin karena flashback itu kurang kuat untuk memancing gue atau emang Tatsuya Fujiwara gak cocok jadi Shuya.  Gue juga kurang suka Shuya yang di komik, tapi Shuya di komik jauh lebih karismatik dan periang daripada yang di film. 

Beberapa orang gak suka dengan Noriko dan Shuya karena mereka bukan hanya naif, tapi juga terlalu hoki.  Seriously, mereka bakalan mati kalau gak ada Kawada.  Tapi gue rasa ini hanyalah semacam mock, lagi.  Superman, Harry Potter, Katniss Everdeen, they are not just heroes, but they are survivors.  Mereka jelas orang-orang kuat yang memang 'ditakdirkan' untuk menjadi pahlawan dan survivors.  Lalu apakah orang-orang yang lemah tidak punya chance untuk 'selamat'?  Tentu saja mereka bisa menjadi survivor....dengan sedikit keberuntungan.  Noriko dan Shuya memasuki sebuah situasi dengan waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dan membuntuk aliansi dengan Shogo.  Ini juga merupakan metafora dimana orang-orang yang sebenarnya lemah dan skill-nya tidak hebat, bisa selamat karena mereka mendapat keberuntungan.  

Kalau bicara departemen akting, gue memperhatikan kalau sebagian besar dari mereka tuh aktingnya matinya konyol banget.  Bukan cara mereka dibunuh, tapi aktingnya.  Doh, kok kayak film-film Hollywood jaman batu yang matinya tuh lebay dah.  Mereka mengatakan 'kata-kata perpisahan' terus menggerakkan kepalanya, terus mati deh.  Sumpah, gue pengen banting laptop gue kalau gue lihat ada yang mati kayak gitu.  Anyway, kenapa disini dua aktor utamanya yang mengecewakan ya?  Tatsuya Fujiwara aktingnya gak natural.  Maksa banget sumpah.  Gue merasa canggung banget waktu lihat beberapa adegan nangisnya yang...awkward.  Aki Maeda?  Gue gak tahu apakah aktingnya yang datar itu emang karena kemampuannya terbatas atau emang skrip film ini yang membatasi kemampuan aktingnya.  Aktor terbaik tentu saja Takeshi Kitano alias Beat Kitano.  Gue kaget juga ternyata dia ini sutradara, bukan aktor.  Dia berhasil memerankan seseorang yang karismatik, tapi tidak benar-benar keji seperti versi lain di komik.  Dia gak nangis atau memerankan seseorang yang psikopat, tapi Kitano memerankan karakternya dengan begitu natural.  Sayang banget Masanobu Ando tidak diberikan dialog ataupun monolog.  Masanobu jelas mempunyai potensial lebih daripada Fujiwara.  Dan gue lebih suka Kazuo Kariyama yang diperankan dia daripada versi manga, karena Kiriyama disini jauh lebih gila dan ekspresif.  

Sinematografinya cukup standard, tapi musiknya bagus banget, terutama di adegan pembukanya.  Film ini menggunakan beberapa musik klasik yang dimainkan oleh Warsaw Philarmonic Orchestra.  Tapi gue gak suka lagu buat ending credit-nya.

Overall, Battle Royale is an amazing dystopian film that full of surprising murders and blood.  The acting department maybe disappoint you, but the plot of this film is too amazing to be missed.  I recommend this film for you who like The Hungers Games and strong enough to watch bloody murders.  9/10   

 

Jumat, 21 Februari 2014

High Fidelity : An Allen-esque Romance-Comedy-Drama with Fun Soundtrack

I'm too tired not to be with you. -Laura

Bagi saya, John Cusack bukanlah aktor yang stand out.  Dia memang cukup tampan, tapi bukan tampan yang wow seperti Leonardo DiCaprio ataupun Tom Cruise.  Kemampuan aktingnya bagus, but not as legendary as Robert de Niro or as impressive as Johnny Depp.  Film-film terbarunya juga kurang meng-upgrade namanya. Tapi hal itu tidak membuat Cusack mempunyai 'jejak' tersendiri dalam dunia film.  Cusack meninggalkan 'jejak' yang cukup terlihat di dua filmnya, Say Anything (1986) dan High Fidelity (2000).

High Fidelity menceritakan Rob Gordon (Cusack) yang baru saja putus dengan pacarnya, Laura (Iben Hjejle).  Rob akhirnya membuat perubahan dalam daftar "Top Five Break-Up".  Rob merefleksikan hubungannya dengan mantan-mantannya dan bertanya-tanya apa yang salah dan why he was dumped.  Rob sendiri berusaha keras untuk bisa mendapatkan Laura kembali.  Hari-hari pencarian jawaban Rob ditemani oleh dua karyawan toko musiknya, Barry (Jack Black) dan Dick (Todd Louiso) yang mempunyai keanehan dalam masing-masing karakter.



High Fidelity adalah salah satu film yang memperlihatkan sisi realistis dalam hubungan romantis dan cinta antara pria dan wanita.  Kenyataannya, cinta tidak sempurna dan romantisme tidak akan bertahan lama.  Keyataannya, kita akan melakukan kesalahan yang mungkin sangat-sangat kita hindari.  Kenyataannya, kita bisa saja capek dengan hubungan yang kita jalani dan keinginan untuk 'seeing other people' tumbuh begitu saja.  High Fidelity memperlihatkan hal-hal itu dengan cara yang tidak depresif ataupun melankolis.  Stephen Frears menunjukkan hal-hal itu dengan kadar yang tepat dan membuatnya sangat relateable.  

Tidak seperti (500) Days of Summer yang menurut saya men-bias, High Fidelity menampilkan pria dan wanita dengan cukup adil.  Film ini menunjukkan tidak semua wanita pengertian, sabar, penuh kasih sayang, and all those bullshits, di sisi lain, tidak semua pria benar-benar brengsek, hanya ingin memainkan hati cewek, php, and all those shits.   Baik pria dan wanita mempunyai kelemahan dan melakukan kesalahan di film ini.  Walaupun film ini ditulis, disutradarai, dan menceritakan pikiran dan perasaan pria, film ini dibuat dengan objektif dan tidak hanya membuat karakter perempuan sebagai objek keinginan pria.  Just like Summer Finn, beberapa mantan Rob memang agak membingungkan dan sulit dipahami, tapi bedanya dengan Summer,mereka tidak sekedar tampil sebagai 'hiasan', mereka ada agar Rob menyadari kesalahannya dan memperbaiki hubungannya dengan Laura.


Not all of romantic relationship between man and woman experience forbidden love, social class difference, melancholic affair, abuse, etc.  Hubungan Laura dan Rob memang mengalami perbedaan kelas sosial dan perselingkuhan (dalam kadar yang cukup kecil) dan hal-hal itu yang secara tidak langsung membuat mereka putus.  Tapi Frears tidak meng-highlight permasalahan itu.  Laura dan Rob yang tadinya romantis  dan bahagia lama-kelamaan berubah.  Mungkin saja tadinya mereka percaya bahwa mereka akan baik-baik saja dan mereka tidak akan melakukan kesalahan fatal, tapi pada akhirnya ada beberapa kesalahan fatal yang mereka lakukan.  But the point is, they just simply tired and unhappy with each other, even before the damages were done.  Tidak mudah untuk melakukan komitmen dan tidak semua dari kita akan mengalami everlasting love atau apapun itu.  Kadang kita capek, bosan, dan berandai-andai apa yang terjadi jika kita 'bersama' orang lain.  


Bahkan terkadang kita tidak tahu posisi hubungan kita apa.  Setelah Laura memutuskan untuk tidak serumah lagi dengan Rob, ia harus mengambil barang-barang yang tertinggal di rumah Rob.  Hal ini menyebabkan mereka untuk bertemu lagi dan lagi.  Akhirnya Rob bertanya apa yang Laura lakukan dengan terus bertemu dengan Rob dan posisi atau status mereka sebenarnya apa.  Laura menjawab tidak tahu karena memang dia tidak tahu. 

Kemampuan akting Cusack dan Hjejle sangat bagus di film ini, begitu juga chemistry mereka.  Cusack mampu mengekspresikan kelabilan dan kegalauan seorang pria yang baru saja putus.  Hjejle sendiri sangat berhasil dalam memerankan seorang wanita yang capek dan tidak tahu bagaimana menghadapi mantan.  Jack Black dan Todd Louiso juga mampu memberikan kesan tersendiri dalam film ini.  

Hal yang paling mencolok dalam film ini adalah musik-musiknya.  Begitu banyak lagu-lagu rock atau indie yang dimainkan di film ini.  Tidak hanya itu, penulis skrip High Fidelity juga memasukkan berbagai refrensi film dan musik dalam dialog-dialognya.  Anyway, entah kenapa saya berpikir bahwa film ini mirip dengan Annie Hall dan cukup dipengaruhi oleh gaya Woody Allen.  Lihat saja bagaimana film ini langsung "breaking the fourth wall" dengan cara si tokoh utama berbicara langsung dengan penonton, Annie Hall dan High Fidelity berjalan dengan alur yang non-linear, dan film ini juga menceritakan pria yang bertanya-tanya dimana dan apa yang salah dari hubungan cinta mereka.

Salah satu hal yang saya pelajari dari High Fidelity adalah bahwa pacaran, komitmen, dan cinta tidak seindah dan semudah yang kita bayangkan.  Akan selalu ada kesalahan yang kita lakukan, even the kind of mistakes that we swear we won't do.  Juga akan ada perasaan letih, bosan dan berandai-andai.  Yang kita bisa lakukan hanyalah merekfleksikan dan belajar dari kesalahan itu, dan berusaha menjalani sebuah hubungan dengan lebih baik.  

Overall, High Fidelity menawarkan sisi realistis hubungan romantis antara pria dan wanita dengan ringan dan berbagai lagu keren. 9/10

Kamis, 02 Januari 2014

A Clockwork Orange : A Crazy, Sicken, Beautiful, Mind-Provoking, and Satisfying 'Journey'

Happy new year, reader! *suara jangkrik* Maaf banget yah ane jarang update karena ane lagi magar banget liburan ini, hehe.  Gak cuma itu, ane minta maaf karena film yang di-review bukan film liburan atau film keluarga, hehehehehe.  Anyway, semoga ane dapat pacar tahun ini! #bercandakok #mendingcumlaude
-Kezia R.H.H.
Nama Stanley Kubrick tentu tidak asing bagi pecinta film.  Kubrick telah menyutradari berbagai genre, yaitu sci-fi (2001 : A Space Odyssey), black comedy (Dr. Strangelove), horor (The Shining), perang (Full Metal Jacket) sampai drama period (Barry Lyndon).  Meskipun banyaknya pujian yang diterima Kubrick dan film-filmnya, bukan berarti Kubrick tidak mendapat berbagai kontroversi.  Ultra violence dan adegan seksual yang sangat kental di berbagai filmnya membuat Kubrick sangat jarang lepas dari kontroversi.  Bukan hanya itu, karena film 2001 : A Space Odyssey yang tayang pada tahun 1968 (setahun sebelum Neil Armstrong mendarat di bulan), Kubrick dituduh telah membantu pemerintah dalam 'menyutradarai' Neil Armstrong di bulan.  

A Clockwork Orange disutradari Kubrick pada 1971.  Film ini diangkat dari novel dengan nama yang sama, yang ditulis oleh Anthony Burgess.  Berkat film ini, novel A Clockwork Orange makin dikenal banyak masyarakat, bahkan membayangi novel Burgess lainnya.  Saya pribadi belum membaca novelnya dan masih kurang mengenal gaya Stanley Kubrick karena saya baru menonton dua filmnya : The Shining dan A Clockwork Orange.

A Clockwork Orange bercerita tentang seorang remaja bernama Alex (Malcolm McDowell) yang senang sekali melakukan kekerasan dan pemerkosaan.  Dia mempunyai gang yang terdiri dari empat orang -termasuk dia- dan boleh dibilang Alex adalah pemimpinnya.  Alex sebagai pemimpin tidak segan untuk menyakiti anggota gangnya.  Suatu hari, Alex yang mencoba untuk memperkosa seorang wanita malah membunuhnya.  Droogs-nya meninggalkan Alex sehingga hanya Alex yang ditangkap oleh polisi.  Di penjara, Alex menjadi relawan untuk Ludovico technique.  Eksperimen itu malah membawa horor ke pikiran dan jiwa Alex.  Penderitaan yang harus dialami Alex tidak sampai disitu.  Orang-orang yang disakiti Alex mewujudkan rasa dendam mereka kepada Alex.


Film A Clockwork Orange tentunya bukan jenis film yang akan anda tayangkan dalam acara keluarga.

Dari awal kita sudah disuguhi adegan yang cukup 'wah'.  Kita sudah bisa melihat kesintingan Kubrick lewat make-up McDowell dan desain prop untuk Korova Milk Bar.  Music for the Funeral of Queen Mary karya Henry Purcell, dan gerakan kamera yang pelan-pelan mundur membuat adegan ini fucking epic.  Sejak awal film kita sudah disuguhi kepiawan Kubrick, McDowell, dan Walter Carlos (bagian musik).  Curcol sedikit, saya yakin banyak laki-laki menginginkan prop dari adegan ini :p

A Clockwork Orange mempunyai adegan pelecehan seksual yang cukup realistis.  Meskipun wanita di film itu telanjang bulat, saya rasa adegan itu bukanlah pornografi karena Kubrick bukanlah sutradara film porno dan Kubrick tidak mengclose-up bagian intim wanita itu.  Pada adegan pemerkosaan Mrs. Alexander, McDowell berimprovisasi dengan menyanyikan "Singing in the Rain".  Bagi saya, hal itu menegaskan kesadisan dan kesintingan Alex, dimana dia dengan mudahnya menyanyikan lagu riang sambil memerkosa wanita.  It's a sick scene yet a genius improvisation.  Anyway, keduanya mempunyai gaya editing yang rapi, tidak seperti sebagian besar film yang menyajikan adegan pemerkosaan dengan gaya editing yang berantakan. 


Namun, kedua adegan itu tidak seberapa dibandingkan adegan dimana Alex menjalani eksperimen Ludovico.  Saya men-skip adegan itu karena Kubrick men-shoot adegan itu benar-benar dengan detail.  I mean, lihat saja kait atau apapun itu yang membuka mata McDowell secara paksa, belum lagi air (atau cairan) yang diteteskan ke mata McDowell.  Berita (yang saya ketahui sebelum menonton film ini) bahwa retina McDowell robek ketika melakukan adegan itu menambah beban mental saya (?) ketika menonton adegan ini.  Lebih baik saya menonton V/H/S/2 daripada menonton adegan Ludovico.

Apa persamaan Joker dan Alex DeLarge?  Penyebab mereka menjadi orang sinting dan sadis tidak jelas.  Ada sisi positif dan negatifnya.  Sisi positifnya, tentu keduanya bukan antagonis klise yang menjadi antagonis karena masa lalu yang gelap (e.g : Voldemort, Hannibal Lecter).  Sisi negatifnya, well, tidak ada manusia yang dilahirkan jahat, hanya ada manusia yang dibentuk menjadi orang jahat.  Tapi setelah saya pikir-pikir, Joker dan Alex bukan tipe laki-laki melankolis yang hobi flashback, or in Alex's case, curhat ke penonton.   

Moral juga salah satu tema A Clockwork Orange.  Sayang sekali film ini kurang mengeksplor pemicu keinginan Alex untuk menjadi orang yang baik atau mengikuti eksperimen Ludovico.  Saya pernah membaca salah satu analisis A Clockwork Orange yang menyatakan bahwa alasan Alex mengikuti eksperimen untuk bebas dari penjara selama dua minggu.  Sayang sekali saya lupa linknya dan tidak terlihat di history.  Kalau analisis itu benar, masalah moralitas dalam A Clockwork Orange bertambah rumit.  Maksud saya, bagaimana mungkin masyarakat bisa memaafkan seorang bajingan yang tidak menyesali perbuatannya?  Itu sama saja Alex pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat setelah ia dibebaskan.  Lain cerita kalau Alex menjadi relawan karena ia menyesali perbuatannya atau memang ada niat menjadi orang yang lebih baik, maka ia tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar dari masyarakat.  But, it's called A Clockwork Orange, not The Shawshank fucking Redemption or one of those tearjerker inspirational movie.  Anyway, kalau Alex memang berniat menjadi a better person, maka film ini menyindir masyarakat yang justru mencemooh dan bertindak kasar pada seorang yang menyesali perbuatannya.  Saya rasa ketika seorang mantan tahanan atau semacamnya telah dibebaskan dan berusaha untuk menjadi a better person, seharusnya kita mencoba untuk menerimanya.  Kalau kita mencemooh dan bertindak kasar, bukankah sama saja kita menghukum orang itu karena mencoba untuk lebih baik dari sebelumnya?



Dalam film ini, pemerintah menggunakan 'senjata psikologis' untuk mengontrol masyarakat, alias Alex.  'Senjata psikologis' ini mengubah orang menjadi clockwork orange, mahluk hidup di luar, tapi robot di dalam.  Ludovico treatment mungkin mengubah Alex menjadi 'lebih baik', or so they thought.  Alex bertindak layaknya orang normal, namun tindakannya bukan datang dari hati nurani  serta hati dan pikirannya sangat tersiksa.  Artinya, pemerintah mencoba menciptakan sesuatu yang baik atau lebih baik dengan cara yang buruk.  Tapi saya tetap tidak menyalahkan pemerintah -di film ACO- sepenuhnya karena mereka mencoba menemukan solusi masalah moralitas di dunia.  

Alex memang jahat, tapi dunia di sekitarnya juga jahat.  Cat-lady, wanita yang dibunuh Alex, mempunyai selera seksual yang kira-kira sama gilanya dengan Alex.  Ketika Alex bangung dari koma, terlihat seorang dokter dan perawat melakukan hubungan seksual.   Hal ini membuat saya sadar bahwa ketika kita mencemooh seseorang atas kesalahan yang ia lakukan, sebenarnya ada kemungkinan kita juga melakukannya, hanya saja kita melakukannya dengan cara yang berbeda, sehingga kita tidak merasa.    

Moral, sosial, politik, psikologi, dan berbagai tema lainya dibalut Stanley Kubrick dengan begitu artistik, keji, pintar, dengan gaya surealis yang kental.  Sayang sekali saya tidak bisa menulis atau mengekspresikan kekaguman saya pada Stanley Kubrick, Malcolm McDowell, Walter Carlos, John Alcott (sinematografi), Bill Butler (editing) dan seluruh pihak yang telah bekerja sama *ceilah* dalam film A Clockwork Orange.  Mereka patut berbangga karena mereka telah membuat salah satu film terbaik sepanjang masa. 9,3/10 

P.S. Menurut wikipedia, film ini bukanlah film distopia karena subjeknya hanya satu individu (Alex) dan bukan masyarakat luas  

pic cr : 
nonamovieblog.wordpress.com
fanart.tv
neurulogues.qwriting.qc.cuny.edu
readingsubtly.blogspot.com

Rabu, 30 Oktober 2013

Titanic and Why I Love it Although it's a Bit Overrated

You jump, I jump, right? -Rose

My first favorite movie.  Jadi ingat gue dulu tergila-gila banget sama Kate and Leo, wkwk.  Dulu gue sampai bela-belain melek sampe jam 12 waktu SD cuma gara-gara nih film diputar di TV (belum punya DVD-nya).  DVD om gue aja gak pernah gue balikin, wkwk.

Titanic merupakan film pertama yang penghasilan kotornya mencapai 1 triliun dollar.  Di masanya, Titanic sering disebut-sebut sebagai film terbaik.  Sampai sekarang pun masih banyak orang yang mencintai film ini dan itu terbukti dari pendapatan re-relase Titanic, dalam format 3D.  Apa yang membuat Titanic begitu dikenang banyak orang dan membuatnya masuk dalam berbagai daftar film terbaik sepanjang masa?

Sebuah tim yang mencari "Heart of the Ocean" berhasil menemukan Titanic.  Sayang barang yang mereka cari tidak ditemukan dan hanya ada sebuah lukisan wanita yang memakai kalung itu.  Mereka memberitakannya dan seorang wanita tua bernama Rose mengaku bahwa dia adalah perempuan di lukisan itu.  Rose mendatangi tim itu dan menceritakan pengalamannya di Titanic.

Rose (Kate Winslet) mempunyai gairah yang besar dalam hidupnya.  Sayangna tunangannya, Cal Hockley (Billy Zane) dan ibunya (Frances Fisher) tidak pernah mengerti dirinya.  Ia merasa dirinya terjebak dengan pria yang tidak dicintainya.  Ketika ia mencoba untuk bunuh diri, ia malah bertemu dengan seorang pria bernama Jack (Leonardo DiCaprio).  Jack memang orang miskin, namun Jack adalah seorang seniman yang berpikiran luas.  Blablabla, Jack dan Rose jatuh cinta (dalam waktu kurang dari seminggu :p) dan bukan hanya orang-orang terdekat Rose yang menghalangi, tapi sebuah gunung es besar.


Gue pernah baca beberapa komentar yang bilang bahwa film ini overrated.  Jujur, gue belum bisa ngomong apakah gue setuju dengan pernyataan apakah Titanic overrated atau tidak.  Gue juga lihat beberapa komentar bahwa film ini tidak pantas mendapatkan piala Oscar kategori Best Picture.  Gue juga belum bisa menyatakan apakah gue setuju atau tidak.  Gue cuma tahu kalau masih banyak orang mengingat, menyukai, dan tertarik pada film Titanic.  Dan yang gue maksud banyak orang itu bukan cuma komentar-komentar di youtube, tapi penghasilan 1 triliun dollar dari re-relase-nya (3D).  Titanic mungkin overrated, tapi film itu jelas salah satu film yang susah dimakan waktu. 

Waktu gue SD, gue menganggap bahwa Titanic adalah film paling romantis di dunia ini.  Gak cuma itu, gue menganggap bahwa film ini merupakan film paling sempurna.  Tapi begitu gue nonton film ini di bioskop waktu gue SMP, gue baru sadar kalau plot film ini lemah.  Kalau dipikir-pikir, inti plot Titanic tuh old-fashion melodrama yang bercerita seorang wanita kaya yang terjebak dalam perjodohan yang tidak diinginkan lalu bertemu dengan seorang pria miskin yang berbeda dari pria yang pernah ditemuinya dan mereka jatuh cinta dalam waktu yang kurang dari seminggu lalu keadaan memaksa hanya salah satu dari mereka yang hidup dan sepanjang pertemuan mereka ditemukan beberapa quote kacangan.  Simpel kan?  

Sekarang sudah banyak orang yang menyadari itu.  Tapi kenapa film ini begitu digemari banyak orang?  Kenapa film ini tidak mendapat kritikan yang sangat tajam atau dingin?  Dan satu hal yang gue tangkap, orang sering komentar kalau plotnya cengeng atau James Cameron itu overratted, tapi mereka jarang banget nulis James Cameron itu sutradara yang jelek atau efek visualnya Titanic jelek.  

Titanic merupakan karya yang komersil, namun memiliki kualitas yang sangat bagus.  Seandainya Titanic tidak memiliki plot yang cheesy ataupun menyentuh, kesuksesannya tidak akan seperti sekarang.  Kebanyakan orang kurang tertarik dengan film disaster biasa, apalagi yang berbau historic karena biasanya memiliki plot yang 'kering'.  Tapi kalau film melodrama biasa, pasti langsung dicerca oleh kritikus.  Disini, keahlian teknik visual James Cameron menjadi 'pengalih'.  Keduanya bekerja sama untuk membuat suatu film yang bisa dinikmati masyarakat, tapi punya kualitas yang cukup bagus.  James Horner sendiri berhasil banget dalam menambah 'hidup' di film Titanic.


Apakah hanya tiga unsur itu yang membuat Titanic terkenal?  Nope.  Tentu saja kemampuan akting aktor-aktrisnya yang membuat film ini sangat sukses.  Salah satu hal yang gue perhatikan adalah orang jarang banget mengatakan bahwa kemampuan akting Leo dan Kate jelek banget di film ini.  Ataupun chemistry-nya.  Chemistry mereka memang masih agak jelek di adegan Rose hampir bunuh diri, tapi setelah adegan itu chemistry mereka kuat banget.  Tidak hanya sebagai pasangan, Kate dan Leo juga kuat sebagai individu.  Kate berhasil sekali berperan sebagai seorang gadis kaya yang angkuh, tapi mempunyai gairah dan keberanian yang besar.  Leo juga berhasil banget dalam membawakan perannya sebagai pelukis berpikiran luas dan menyukai petualangan, namun bisa menjadi cukup melankolis dan emosional hanya karena satu cewek.  Jangan lupakan Billy Zane yang menurut gue classic asshole banget.  Pokoknya aktingnya dia keren banget deh, dan gue gak nyangka waktu shooting dia sebenarnya botak, haha.  Aktor pembantu lainnya seperti Victor Garber, Kathy Bates, Frances Fisher, dan lainnya juga mampu memperlihatkan kemampuan mereka. Sangat jarang terjadi aktor pembantu mampu meninggalkan kesan dalam diri gue.  

Film Titanic sebenarnya lebih dari sebuah romance cengeng, karena terdapat sepotong nilai kemanusiaan, walaupun mungkin kecil.  Gue suka banget bagaimana Cameron menggambarkan bahwa harta, pride, dan segala hal yang manusiawi pada akhirnya akan hilang ketika kita mati, segalanya bisa terjadi karena manusia tidak bisa mengatur takdir atau alam, atau bagaimana manusia bisa menjadi 'tidak sopan' alias biadab dalam keadaan yang mendesak.  Intinya, film ini mengajarkan bahwa we are nothing without God.  Cameron juga tidak memasukkan nilai keagaaman yang kental, gue ingat Cal mengatakan, "Even God can't drown it (Titanic)", atau intinya seperti itu.  Tidak hanya itu, Cameron juga menggambarkan Titanic sebagai the unsinkable ship.  Ketika Titanic hancur dan tenggelam, gue langsung ingat dengan kedua hal itu.  Gue harap orang berpikir dua kali kalau mereka komentar bahwa Titanic hanya sebuah film romance cengeng.

Oh iya, gue kagum banget dengan Titanic karena banyak hal-hal iconic dari film ini.  Entah itu adegan, quote, lagu, bahkan sampe fashion.  Leonrdo DiCaprio mungkin sudah terkenal dari film Romeo + Juliet, tapi gue pikir tetap film Titanic yang membuat benar-benar terkenal dan booming.  

Maybe Titanic is overrated, but with James Cameron's genius and (clever) commercial mind, James Horner's beautiful music, amazing performance from all the cast, great chemistry from Leo and Kate, the morality in the plot, and Celine Dion's My Heart Will Go On at the credit, it certainly deserved the awards and those reasons explain why the movie is loved by so many people. 9/10


pic cr :
imdb.com
mondomoda.wordpress.com
paullee.com

 

Sabtu, 19 Oktober 2013

Gravity : Cuaron is a genius

I've got you. -Ryan Stone

Saya harap saya bisa memberikan sedikit perbandingan antara Gravity dengan 2001 :  A Space Odyssey atau Apollo 13, namun saya belum menonton keduanya-_-  Saya bukan penggemar sci-fi, dan jarang sekali mengikuti perkembangan sci-fi.  Sejauh ini film sci-fi yang saya sukai hanya Inception dan Star Trek (2009). Akhirnya saya kepo juga dengan film Gravity yang tidak hanya 'bagus' di mata para kritikus, tapi suatu film yang luar biasa, bahkan disebut-sebut sebagai movie of the year.  Oh iya, saya belum menonton Children of Men, dan satu-satunya film Alfonso Cuaron yang saya tonton adalah HarPot and the Prisoner of Azkaban (yang menurut saya film kedua terbaik serial Harry Potter).  

Sebenarnya cerita dari Gravity cukup sederhana.  Kita akan mengikuti perjalanan Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) di luar angkasa.  Kowalski mempunyai karakteristik yang cukup periang, optimis, dan suka bercerita dan Stone sebaliknya.  Mereka dalam sebuah misi, yaitu memperbaiki satelit (saya kurang tahu).  Sayangnya mereka tidak tahu bahwa satelit Rusia meledak dan akan segera menyerang mereka.  Seluruh anggota tim mereka meninggal, pesawat mereka rusak, komunikasi dengan bumi terputus, dan kadar oksigen mereka menipis.  Dengan semua masalah dan keterbatasan, mereka berjuang hidup di luar angkasa.  Dan hanya mereka berdua di alam semesta yang tak terbatas.

WARNING : CONTAIN SPOILER


Saya gak tahu harus komentar apa.  Saya sendiri kurang ngerti komentar soal teknik dalam sinematografi dsb.  Saya hanya tahu bahwa Gravity is one the most fucking-amazing-brilliant movie I've ever watched.    

Saya ikutan tegang bukan karena ceritanya, tapi saya jadi tegang karena mendengar nafas Sandra Bullock yang pendek.  Suara nafas Bullock menghipnotis saya sehingga saya menjadi tegang.  Soal akting, Sandra Bullock memang sudah memberikan yang terbaik, dan Gravity sejauh ini adalah puncak kemampuan akting Bullock.  Tapi, saya masih merasa Bullock masih bisa digantikan di film ini.  Beberapa aktris saya pikir mampu menggantikan Bullock yaitu Nicole Kidman, Julianne Moore, Cate Blanchett, dan Meryl Streep (jika ia lebih muda :p).  Intinya, akting Bullock sudah bagus, hanya saja replaceable.  The same goes to Mr. George Clooney.  Ya, dia charming dan blablabla, but am I the only one who wasn't THAT impressed with Clooney after I had watched it?  But, I must admit they had a good chemistry.  

Banyak sekali adegan yang membuat saya takjub, entah itu serangan 'satelit' Rusia, atau Stone yang melayang-layang sendirian di alam semesta, atau kamera yang seakan-akan masuk ke helm Stone, namun yang benar-benar membuat saya eyegasming adalah pemandangan matahari terbit dan aurora dari luar angkasa.  Di adegan itu saya merasa bersyukur karena saya sudah bisa menikmati cinematic experience di masa kini dan saya bisa menontonnya di 3D.  Ah, saya jadi kasihan sama generasi selanjutnya yang belum tentu bisa nonton ini di bioskop :p

Ternyata plot Gravity tidak sedangkal saya kira.  Saya suka dengan plotnya yang simpel dan tidak ada romance kacangan mendadak.  *SPOILER* Walaupun si tokoh selamat, dan memang dengan cara yang agak wah, keselamatan itu digambarkan dengan cara yang lebih natural dan somewhat menyentuh dibandingkan dengan kebanyakan film-film sci-fi atau hero lainnya (e.g Kirk yang tiba-tiba bisa hidup padahal sudah mati?) *SPOILER ENDS*  Film ini menceritakan survival, baik secara fisik maupun psikis, pilihan dalam hidup, rebirth, dan masih banyak lagi.  Itu semua hadir dari penampilan 'solo' Ryan Stone.  Cuaron juga menggunakan banyak simbol dalam film-filmnya.  Yang ditangkap oleh banyak orang mungkin adegan dimana posisi Sandra Bullock terlihat seperti janin, lalu ketika ia sampai di bumi dan ia belajar untuk berdiri.  Atau ketika perjalanan Stone terhambat oleh parasut dan akhirnya ia sendiri juga diselamatkan oleh parasut.  Sayang sekali percakapan filosofis antara Stone dan Kowalski kurang nendang, mungkin maksud Cuaron untuk tidak terlalu menggurui.  Tapi di adegan itu saya sadar bahwa semangat, survival, niat, dan sebagainya datang dari kita sendiri.  Orang lain hanya bisa menyemangati.  Berhasil atau tidaknya, hadir atau tidak, itu tergantung diri kita masing-masing.  Ketika Kowalski memberikan kata-kata untuk membangun semangat Stone, ia masih tetap tidak bereaksi.  Namun perlahan-lahan, ia sadar bahwa ada alasan ia masih hidup, dan ia harus berjuang untuk mempertahankannya.  Adegan itu berhasil membuat saya menangis, karena saya tahu juga bagaimana rasanya putus asa dan sendirian.  Ryan Stone mungkin tokoh fiktif, namun saya senang dia memilih untuk bangun dan berjuang.

Saya akan kaget sekali jika ada film yang bisa mengungguli Gravity dari segi teknik, akting, dan cerita dalam waktu dekat ini.  Karena Gravity bukan sekedar film sci-fi dengan peralatan mewah ataupun film yang menggurui penontonnya dengan filosofi ataupun human survival. 9,5/10

pic cr :
lorinpolin.com
beyondhollywood.com