Tampilkan postingan dengan label Choi Min Sik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Choi Min Sik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Agustus 2013

The Quiet Family

Besides, you should be used to weirdness by the way this family behaves! -Mother.

Kalau lo benar-benar pecinta film Korea, tentu nama-nama seperti Choi Min-sik, Song Kang-ho, sampai Kim Ji-woon sudah tidak asing lagi.  Nah, The Quiet Family akan menunjukkan kemampuan mereka sebelum di tahun kejayaan mereka dan tahun kejayaan film Korea, yaitu 2003 (Oldboy, Memories of Murders, A Tale of Two Sisters).  The Quet Family adalah film tahun debut Kim Ji-woon sebagai sutradara pada tahun 1998.  Film ini mendapat beberapa penghargaan dari beberapa festival seperti Fansporto dan Stiges Film Festival.  Cukup banyak orang yang menganggap The Quiet Family adalah salah satu film Korea terbaik.  Keluarga apakah yang akan ditawarkan Kim Ji-woon pada debutnya sebagai sutradara?

The Quiet Family menceritakan tentang keluarga yang pindah ke daerah pegunungan dan membangun sebuah penginapan bernama Misty Lodge.  Si keluarga terdiri dari Ayah (Park In-hwan), Ibu (Na Moon-hee), adik si ibu, Paman Chang-koo (Choi Min-sik), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa yaitu Young-min (Song Kang-ho), Mi-su  (Lee Sun-yeong) dan Mi-na (Go Ho-kyung).  Karena kurangnya pengalaman mereka dalam mengurus penginapan dan lokasi yang agak terisolasi, keluarga Kang terpaksa menunggu lama hingga tamu pertama mereka muncul.  Ternyata 'keberuntungan' mereka berlanjut ketika tamu pertama mati.


WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Waktu gue nonton film ini pertama kali, gue sama sekali gak ngerti kelucuan film ini.  Pokoknya otak gue gak konek dan perasaan gue datar waktu nonton film ini.  Tapi karena gue suka plot shit happens-nya dan akting pemainnya, gue mencoba lagi untuk menikmati film ini.

Baru ketiga kalinya gue nonton, gue bisa ketawa.  Bahkan ngakak-_- Yang bikin gue ngakak waktu mereka lagi ngubur dua orang (pacaran) dan si cowok buka mata dan teriak gitu, wkwk.  Keluarganya pun ikut teriak dan kepala si cowok di pukul pakai cangkul, hahaha.

Gak tahu ini benar atau enggak, tapi gue bisa melihat pengaruh dari film Pulp Fiction.  Kalau ada yang bilang Pulp Fiction adalah black comedy dengan kostum mafia, maka The Quiet Family adalah black comedy dengan kostum horor pembunuhan.  Tidak cuma itu, bisa dilihat secara visual bahwa kedua film ini penuh dengan darah dan memakai plot shit happens.

Hmm...gue mau ngasih perumpaan deh dari horor di film ini.  Ada iklan mie yang bilang mie itu adalah mie terpedas di dunia.  Karena kita penasaran, kita pengen cobain mie itu, tapi juga takut benar-benar kepedasan.  Setelah kita cicipi, rasa pedas mie itu biasa saja.  Nah, seperti itulah rasa horor dalam The Quiet Family.  Kim Ji-woon hanya memasang 'iklan' horor dan memainkan pikiran penonton.  Sinematografi dan atmosfir berbau horor hanya untuk memainkan pikiran penonton.  Did it scare me?  Nope.  Makanya gue bilang kalau itu cuma memainkan pikiran penonton.  Kata horor dalam film ini hanyalah hype agar penonton mengira Kim Ji-woon akan menyajikan film tentang keluarga yang mempunyai rumah berhantu, tamu psikopat, ataupun hal-hal keji, bloody disgusting, dan bizarre.  Tapi itu semua hanyalah dugaan kita.  The Quiet Family menawarkan cerita sederhana tentang rentetan 'keberuntungan' suatu keluarga.  Percayalah, film ini se-simpel itu!


Hal-hal lainnya juga sangat bagus, terutama kemampuan akting pemainnya.  Adegan pembuka dimana Go Ho-kyung mematikan TV dan langsung menatap kamera agak mengingatkan gue pada adegan pembuka Little Miss Sunshine dimana Abigail Breslin berkonsentrasi dengan tontonnya.  Gue gak bisa jelasin seberapa gue suka ekspresi Go.  I'm not a good acting judge, lol.  Gue juga gak bisa jelasin seberapa indahnya *cuih* ekspresi ambigu Go di shot terakhir.  Agak mengingatkan gue sama shot terakhir Oldboy dan Memories of Murders.  Bener deh, agak mirip.  Sangat disayangkan karir Go Ho-kyung tidak sesukses Lee Ae-young (JSA, Lady Vengeance) ataupun Son Ye-jin (A Moment to Remember, The Classic).  Sebenarnya di awal film, tokoh sentralnya si Mi-na (Go Ho-kyung). 

Yah, walaupun gue agak fokus ke Go Ho-kyung, bukan berarti yang lainnya gak bagus.  Park sebagai ayah yang sukses menambah rasa sarkasme film ini, ataupun Moon yang sukses menjadi ibu yang 'protective', ataupun Choi dan Song yang terlihat seperti paket one-two punch disini.  Choi sama Song udah kayak...Robert de Niro dan Jack Nicholson, wkwk.  Akting yang agak lemah justru berasal dari Lee, walaupun gak jelek-jelek banget.  Malah, film ini mempunyai ensemble cast terbaik yang pernah gue tonton!  Gue juga suka soundtrack-nya yang pop dan score-nya yang kadang terdengar menegangkan dan menyeleneh.  Menambah kesatiran film ini.

I can't believe that I saw Choi Min-sik and Song Kang-ho in one movie!  1998 maybe not the strongest year in Korea's film industry, but The Quiet Family is certainly one of the best Korean movie, and horror-comedy movie. 10/10

pic cr :
koreanfilm.co.uk
hancinema.net
tumblr.com

 

Senin, 27 Mei 2013

Sympathy for Lady Vengeance / Lady Vendetta

...where was that angel while I was committing such an evil act? -Lee Geum Ja


Gue udah lama download film ini, tapi baru sempet nonton kemarin, wkwk.  Sumpah, akhir-akhir ini gue gak niat nonton film.  Sekarang tinggal Sympathy for Mr. Vengeance yang belum gue tonton dari trilogi Vengeance.  Dan sialnya tuh film susah dicari-_-

Lee Geum Ja (Lee Young Ae) adalah gadis yang membunuh dan menculik seorang anak kecil bernama Won Mo.  Setelah 13 tahun dipenjara, Geum Ja memutuskan untuk balas dendam pada Mr. Baek (Choi Min Sik) yang telah memerasnya dengan menculik putrinya, dan juga orang yang sebenarnya telah menculik dan membunuh banyak anak kecil.  Geum Ja tidak sendirian, karena ia mendapat bantuan dari sesama mantan narapidana yang telah ia 'tolong'.

WARNING : CONTAIN SPOILER


Lee Young Ae benar-benar lahir untuk film ini.  Aktingnya keren banget, perpaduan antara emosional dan dingin.  Menurut gue pribadi sih perpaduan antara Nicole Kidman di The Hours, Jodie Foster di The Brave One, dan juga Meryl Streep di Kramer vs Kramer.  Ia bisa jadi karakter yang dingin dan expresionless, wanita yang bangkit dari kejatuhan, dan juga ibu yang menyayangi anaknya .  Sama seperti Oh Dae Su, Lee Geum Ja bukanlah protagonis yang 'suci'.  Dia juga bukan karakter yang stereotip banget, karena kejiwaannya sudah agak tertanggu sebelum dia menjadi kaki tangan Mr. Baek.  Lee Geum Ja melambangkan transformasi.  Ia dulu gadis yang clueless, lalu ia bertembuh menjadi wanita yang pintar dan tahu apa yang ia inginkan.  Tidak hanya itu, ia juga melambangkan pencitraan.  Geum Ja dikenal sebagai gadis yang baik, bahkan pendetanya juga tertipu.  Tapi ia mempunyai agenda tersendiri yang, well, tidak terlalu baik.  

Surprise, surprise, ada Oh Dae Su disini!  Wait, dia bukan Oh Dae Su, tapi dia Mr. Baek.  Nope, dia bukan antagonis kompleks atau sadis seperti Joker, Lecter, Amon Goeth, ataupun Patrick Bateman.  Dia adalah manusia yang jahat.  MANUSIA.  Mr. Baek itu mirip antagonis-antagonis dari sinetron (hey, gue bukan penggemar sinetron-_-).  Dia akan menyerahkan apapun untuk keselamatan jiwanya.  Dia melakukan kejahatan untuk uang.  Hal itu cukup menarik, karena dia bukan memuaskan hasrat batinnya.  Dan dia waras.  Dia bukan sadistik sejati seperti Joker ataupun seseorang yang mempunyai harga diri dan kepintaran yang tinggi seperti Lecter.  Tidak, dia menjadi antagonis dengan motivasi uang.  Gue sendiri jadi bertanya-tanya apakah dia adalah the true antagonist...Apa yang terjadi jika Mr. Baek diberi kesempatan kedua?  Apakah dia akan berubah?  Dia terlihat seperti rela melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya.  




Why this is one of the best Korean movies?  Karena semuanya terhubung.  Tidak hanya Lee Young Ae yang bersinar di film ini.  Pameran-pameran pembantu pun sangaaaaaaaaaaaat membantu di film ini.  Meskipun mereka bukanlah tokoh utama, mereka bekerja dengan sangat baik.  Musik dari Choi Seung Hyun pun juga berhasil membawa kita pada dinamika emosi.  Ada saatnya kita diam untuk mengobservasi tokoh, ada saatnya juga kita terlarut dengan emosi yang sedang dirasakan tokoh.  Tidak seperti The Iron Lady dan Breakfast at Tiffany's yang menyinari satu wanita, film ini menyinari semuanya, mendukung dan saling bekerja.

Sympathy for Lady Vengeance adalah film.  Sympathy for Lady Vengeance adalah pelajaran filosofi benar atau salah dalam media lain.  Terserah penonton memandangnya sebagai apa.  Kalau gue sendiri memandang Lady Vengeance sebagai film, karena film ini tidak terlalu menjejali penonton dengan topik-topik filosofis.  Film ini bukanlah film (sok) inspirational yang akan mengkuliahi kita tentang right or wrong.  Film ini bercerita tentang seorang wanita yang membalaskan dendam pada pria.  That's it.  Berbeda dari quote yang gue ambil, film ini juga tidak akan membahas keberadaan Tuhan dan malaikat.  One more thing, film ini tidak se-disturbing Oldboy.  Kalau lo belum terbiasa dengan film disturbing dan berdarah-darah tapi penasaran dengan film Oldboy, lo harus nonton film ini dulu untuk latihan, hehe.

Although it has less twist than Oldboy, it's still one of the best (Korean) movie I've ever watched.  9,5/10

pic cr :
forgottenclassicofyesteryear.blogspot.com
avforums.com

Minggu, 26 Mei 2013

Oldboy

Seeking revenge is the best cure for some who has been hurt. ... But, what happens after you've had your revenge? -Lee Woo Jin


Nah, ini dia salah satu film Korea yang paling terkenal.  Gue sendiri tahu film ini lewat variety show dan drama Korea yang memparodikan atau merefrensikan 'orang yang dikurung memakan fried dumpling selama lima belas tahun'.  Tuh kan, saking terkenalnya, film ini masih direfrensikan oleh drama dan variety show Korea, bahkan sampai pengen di remake.  Memang, apa sih bagusnya film Oldboy?

Oh Dae Sun (Choi Min Sik) adalah seseorang yang tidak mempunyai hidup yang lurus.  Meskipun begitu, ia tetap mencintai istri dan anaknya.  Pada suatu malam, Oh Dae Su dan temannya keluar dari kantor polisi dan memutuskan untuk menelpon keluarga Dae Su.  Tapi saat si teman berbicara dengan si istri, Dae Su menghilang. 

15 tahun berlalu dan Dae Su akhirnya bebas.  Dia bertemu dengan seorang wanita muda bernama Mi Do (Kang Hye Jung).  Mi Do yang terpesona dengan karisma Dae Su, menemani dan membantu Dae Su untuk membalaskan dendamnya.  Sampai akhirnya ia bertemu dengan sang antagonis, Lee Woo Jin  (Yoo Ji Tae)



Gue jarang menemukan film Korea dengan sinematografi yang beda banget.  Biasanya mereka avarage lah, 6-7 from 1 to 10.  Tapi film ini, keren banget sinematografinya!  I give it 10 from 1 to 10!!!  Park Chan Wook tidak hanya memberikan sinematografi yang unik di film Oldboy, tapi ia juga berhasil mengulangi prestasinya di film Sympathy for Lady Vengeance dan I'm a Cyborg, but that's OK!

Park Chan Wook bukan satu-satunya orang di belakang layar yang patut dipuji.  Jo Yeong Wook di departemen musik berhasil membawakan alunan melodi yang sangat overwhelming.  Musiknya hadir di saat yang tepat.  Entah untuk menyentuh penonton, atau menegangkan penonton, Jo Yeong Wook berhasil melakukannya.

Park Chan Wook mengambil keputusan yang berani, karena film ini cukup berbeda dari komiknya.  Oldboy hanya mengambil inti cerita, yaitu seorang pria yang diculik selama belasan tahun tanpa mengetahui alasannya ataupun si penculik.  Selain itu, semuanya cukup berbeda.  Karakter Oh Dae Su yang di komik pun cukup berbeda dengan yang ada di film.  Seandainya Park Chan Wook benar-benar mengikuti komik, akting Choi Min Sik di film ini tidak akan menjadi selegendaris sekarang.  Park Chan Wook benar-benar melebarkan ruang eksplorasi bagi aktor-aktornya.  Oh Dae Su memang protagonis dari film ini, tapi perbuatan-perbuatan sadisnya tidak membuat dia orang 'suci' seperti Harry Potter, Batman, dll.

Park juga tidak dengan setengah-setengah 'mengkhianati' komik Oldboy.  Ia konsisten, ia tidak hanya mengubah jalan cerita, tapi juga karakter Dae Su, bahkan tidak memasukkan beberapa karakter komik.  Hal itulah yang menyempurnakan film ini.  Seandainya Park dengan setengah-setengah 'mengkhianati' komik, hal ini bisa membingungkan penonton dengan jalan cerita yang tidak konsisten, ataupun kemampuan akting yang biasa. 



Penampilan Choi Min Sik mengingatkan gue pada penampilan-penampilan dari Jack Nicholson dan Robert de Niro.  Gila dan emosional.  Well, sebenarnya lebih kearah Jack Nicholson.  Bisa lihat kan dari foto diatas, kalau Choi Min Sik dan Jack Nicholson punya ekspresi gila yang sangat kuat?  Lihat kan?  LIHAT KAN?!!!

Ehem (gaya Dolores Umbridge di Harry Potter), back to the topic.  Lee Woo Jin (Yoo Ji Tae) mengingatkan gue sedikit pada Hannibal Lecter, yaitu orang gila yang rapi.  Jika kita hanya melihat dari permukaan, Woo Jin adalah perwujudan laki-laki idaman, pintar, kaya, dan wajah yang diatas rata-rata.  Tapi ia 'sakit' di dalam.  Baik sakit hati dan sakit mental.  Hanya saja, Woo Jin lebih manusiawi daripada Lecter.  Ia tidak hanya sakit secara mental, tapi juga sakit secara fisik.  Woo Jin adalah perwujudan antagonis yang benar-benar lemah, bukan antagonis yang sepertinya terlalu kuat untuk dikalahkan.  Selain itu, Woo Jin juga punya kelemahan tersendiri yang bisa mengacaukan pikiran dan emosinya. Dan Yoo Ji Tae mendalami karater Woo Jin dengan sangat bagus.  Sayang sekali banyak orang lebih memberikan perhatian pada Choi Min Sik.


Jangan lupa Mi Do, wanita yang pertama kali menyentuh Dae Su.  Wajar saja bagi Dae Su dengan cepat tertarik dengan Mi Do karena ia tidak pernah berhubungan dengan wanita selama 15 tahun.  Tapi apa yang membuat Mi Do terpesona dengan Dae Su?  Apakah karena Mi Do punya taste tertentu pada pria yang lebih tua?  Atau karena Dae Su mempunyai cerita tragis yang menarik?  But, just calm down.  This movie has the answer.  Karakter Mi Do seperti Cosette di novel Les Miserables, yaitu cahaya terang di film ini.  Mi Do sebenarnya bukan karakter yang kompleks, ataupun mempunyai kelebihan tertentu, tapi karena ia adalah karakter yang paling...polos di film ini.  Ia tidak mempunyai motif apapun.  Boleh dibilang ia terjebak dengan Dae Su.  Tapi ia tetap mendampingi Dae Su, dan penetral dari Dae Su yang gelap dan penuh dengan keinginan untuk balas dendam. 

Overall, Oldboy is one of the most fascinating movie I've ever watched, with so much twist, amazing plot, and amazing performances.  10/10

pic cr : 
blog.mihmilon.com
trendlifemagazine.com
mubi.com
beyondhollywood.com