Tampilkan postingan dengan label Song Kang Ho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Song Kang Ho. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2014

Secret Sunshine : A Mother's 'Rollercoaster' After Her Son's Death


Menurut wikipedia, Lee Chang-dong adalah salah satu sutradara terkemuka di Korea.  Saya belum menonton filmnya yang paling terkenal, yaitu Poetry (2010), dan Secret Sunshine (2007) adalah film pertama Lee yang saya tonton.  Film ini meraih berbagai penghargaan film internasional, dan yang paling besar adalah Cannes Film Festival kategori Best Actress untuk Jun Do-yeon.  Secret Sunshine juga dinominasikan Palme D'or, salah satu penghargaan film terbesar di dunia.  Apa yang menyebabkan Secret Sunshine menerima banyak penghargaan dan pujian?

Film diawali dengan Lee Shin-ae (Jun Do-yeon) yang pindah ke kota Miryang bersama putranya.  Shin-ae pindah ke Miryang karena almarhum suaminya yang baru saja meninggal, ingin sekali pindah ke Miryang, kampung halamannya.  Di perjalanan, mobil Shin-ae rusak dan harus diderek.  Orang yang membantunya adalah warga Miryang sendiri yang bernama Kim Jong-chan (Song Kang-ho).  Meskipun Shin-ae tidak terlalu memperhatikan Jong-chan, Jong-chan bersikeras untuk membantu Shin-ae dan anaknya.  Shin-ae memulai hidupnya dengan membuka les piano sambil mencari tanah untuk investasi.  Usahanya untuk memulai kembali mengalami kemunduran karena putranya diculik.  Tragisnya lagi, putranya tetap dibunuh walaupun Shin-ae telah menyerahkan uang tebusan.  

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


I thought Secret Sunshine is another Korean revenge flick.  It's also not a very 'sunshine' (happy) movie.

Kadang-kadang saya bertanya apa yang terjadi jika Dae-su (Oldboy, 2003) pasrah saja atas keadaannya, atau jika Geum-ja (Lady Revenge, 2005) tidak memiliki bantuan untuk membalas dendam pada penculik anaknya.  Saya rasa Lee Chang-dong memberikan salah satu jawaban lewat Secret Sunshine.  Secret Sunshine menceritakan ibu biasa yang tidak mempunyai combat skill, koneksi dengan mantan tahanan, ataupun obsesi dan keahlian yang luar biasa untuk membalas dendam pada pembunuh anaknya.  Dia hanya bisa diam, berkabung, dan meneriakkan rasa ketidakadilan atas kematian anaknya.  Hanya tiga hal itu yang bisa ia lakukan.  

Iman, lebih tepatnya iman Kristiani, menjadi salah satu tema film ini.  Untungnya Lee memberikan sedikit latar belakang iman Shin-ae, yang boleh dibilang ateis (tidak percaya Tuhan).  Saya sangat menyukai adegan restorasi iman yang dialami Shin-ae, dimana ia menangis keras lalu sang pendeta, tanpa menanyakan apapun, memegang kepalanya dan mendoakannya.  Bukan menasihatinya, tapi mendoakannya.  Film ini memberikan pesan bahwa ketika kita berusaha untuk lebih dekat kepada Tuhan, beban kita akan lebih ringan dan batin kita akan lebih tenang.  Saya senang mendengar beberapa lagu gereja dinyanyikan di film ini, salah satunya versi Korea "Sebab Dia Hidup", walaupun hanya sebentar.  Film ini tidak hanya berbicara restorasi dan kekuatan iman, tapi juga menceritakan pergulatan iman yang bisa terjadi dimana saja, termasuk dimana saja.  Lee Chang-dong menunjukkannya dengan cara yang unik.  Ketika seorang pendeta sedang berdoa atau mungkin berkotbah, Shin-ae mengacaukan audio system dan memutar lagu yang bercerita tentang kebohongan.  Bisa dilihat ada beberapa jemaat yang berdoa lebih keras (karena takut iman mereka jatuh) dan relawan yang langsung membimbing beberapa jemaat.  Serangan bisa terjadi dimana saja, bahkan di tempat dan saat yang sangat tidak terduga.    

Entah sengaja atau tidak, Lee memberikan aspek psikologi dalam film ini.  Saya menduga Shin-ae mengalami major depressive disorder setelah kematian anaknya dan mengalami bipolar disorder.  MDD adalah low mood dan hilangnya keinginan untuk berbahagia yang berkepanjangan, yang biasanya disebabkan oleh pengalaman traumatis psikologis.  Salah satu pengalaman traumatis psikologis adalah kematian orang terdekat.  Bipolar disorder kira-kira dipicu oleh kenyataan bahwa pembunuh putranya sudah menemukan kedamaian sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Itu membuktikan Shin-ae belum sepenuhnya memaafkan pembunuh putranya, ia ingin agar pembunuh itu menderita dan dihantui perasaan bersalah sebelum dimaafkan oleh Shin-ae.  Bipolar disorder terlihat ketika Shin-ae mulai mencuri CD, menggoda suami temannya, mengira putranya masih hidup, sampai tidak sadar telah melukai tangannya.  


100 thumbs up for Jun Do-yeon.  Dia berhasil sekali mengekspresikan pasang dan surut emosi seorang ibu, yang makin labil setelah ditinggal anaknya.  Dia bisa menjadi seorang malaikat dan tiba-tiba menjadi wanita jalang atau wanita yang dingin.  Anyway, saya rasa fondasi hubungan ibu-anak di film ini kurang kuat.  Cukup, tapi kurang kuat.  Saya mempunyai ekspetasi lebih kepada Song Kang-ho, namun mungkin karena perannya yang hanya sebagai karakter pembantu, mempersempit peluang untuk mengeksplorasi dan mengimprovisasi karakternya.  Tadinya saya kira dia akan menjadi detektif atas kasus penculikan anaknya Shin-ae, haha.

Untuk sisi teknis, saya kurang menyukai musik temanya, tapi saya menyukai iringan musik lainnya.  Film ini menggunakan shaky cam, untuknya guncangan tidak terlalu menganggu.  Sepertinya Lee kurang 'bermain' di sisi pewarnaan, sehingga terkadang film ini terasa sedikit plain.  Anyway, saya rasa ending-nya yang ambigu memberikan pesan bahwa apapun yang terjadi, ketika kamu masih hidup, maka duniamu tetap akan berputar dan melanjutkan aktifitasnya.

Secret Sunshine tidak menceritakan tentang misteri, tidak juga menceritakan balas dendam yang keji dan berdarah-darah.  Film ini bercerita tentang perjalanan batin seorang ibu yang ditinggalkan anaknya dengan sentuhan mentah namun indah, emosional namun tidak lebay.  Although there's a depressing atmosphere, it's still a beautiful movie.  9,5/10     

pic cr :
lifesanadventure2.wordpress.com
filmfestivaltourism.com
timeout.com

Sabtu, 14 Desember 2013

Snowpiercer

Wilford is merciful! -Mason

Sejak rilisnya film Oldboy (2003), mulai banyak kritikus dan pecinta film yang memperhatikan industri film di Korea Selatan.  Sutradara-sutradara seperti Park Chan-wook, Kim Ji-woon, Kim Ki-duk, dan Bong Joon-ho pun menjadi terkenal dan diperhtungkan sebagai sutradara-sutradara dunia yang hebat.  Pada 2013, Park Chan-wook, Kim Ji-woon, dan Bong Joon-ho melakukan debut di Hollywood.  Stoker, film Park Chan-wook, menerima mix reviews karena plotnya yang tidak memuaskan namun memiliki sinematografi dan teknik visual yang indah.  The Last Stand, film Kim Ji-woon, dikritik karena Kim Ji-woon terlalu meng-hollywood-sasikan (saya bahkan gak tahu kalau kata itu benar, haha) filmnya.  Lalu bagaimana dengan Snowpiercer, debut Hollywood dari Bong Joon-ho?

Snowpiercer diadaptasi dari komik Perancis yang berjudul Le Transperceneige.  Snowpiercer menceritakan keadaan bumi di masa depan yang dingin.  I really mean it.  Spring, summer, and fall sudah lama tidak menyapa bumi.  Seorang pria bernama Wilford (Ed Harris) mendirikan sebuah industri kereta dimana rel dari tiap-tiap negara tergabung dan kereta tidak akan berhenti selamanya.  Ada tiga kelas di kereta itu, yaitu : kelas satu yang tinggal di bagian depan kereta api, kelas ekonomi yang tinggal di tengah kereta, dan kelas 'ekor' yang tinggal di kereta itu dengan gratis namun diperlakukan dengan tidak manusiawi.  Kaum 'ekor' yang merasa lelah diperlakukan secara tidak adil mulai merencakan pemberontakan yang dipimpin oleh Curtis (Chris Evans) dan Gilliam (John Hurt).  Curtis sendiri didampingi oleh Edgar (Jamie Bell).  Rencana mereka dibantu oleh sosok misterius yang memberikan mereka surat rahasia di dalam 'balok protein' (makanan sehari-hari mereka).  Untuk mencapai bagian depan, mereka membutuhkan bantuan Namgoong Min-su (Song Kang-ho), yang dulu kepala keamanan, namun sekarang di penjara karena ketagihan cronole.

WARNING : MAY CONTAIN SPOILER


Saya belum menonton The Host (2006), jadi saya tidak bisa membandingkan kemampuan Bong di efek visual enam tahun yang lalu dengan sekarang.  Snowpiercer memang menyajikan efek visual yang masih agak kasar, namun melebihi ekspektasi saya.  Itu untuk EFEK visual.  Untuk sinematografi dan setting, saya agak kecewa.  Saya berharap Snowpiercer setidaknya menyamai keindahan V for Vendetta atau Oldboy (mengingat posisi Park Chan-wook sebagai produser).  Memang banyak adegan-adegan yang indah, tapi saya tetap tidak cukup untuk setidaknya menyamai V for Vendetta ataupun Oldboy.  Anyway, Snowpiercer has a nice opening sequence.   

Belum lagi gaya editing yang cukup berantakan di awal-awal film.  Gaya editing yang digunakan untuk adegan perkelahian di jembatan pun terlalu Hollywood-ish.  Tapi saya bersyukur Bong tidak terlalu 'disilaukan' oleh gaya-gaya Hollywood yang sering mainstream dan cukup norak.

Iringan musik yang digunakan cukup minim.  Mungkin hal ini yang membuat film ini KURANG memiliki jiwa dan emosi.  Yup, kurang, bukan tidak punya.  Hal ini juga membuat saya tidak attach secara emosional dengan film ini.  Ya, film ini memiliki distopia dan adegan-adegan yang saya sukai, but I'm simply not connected to this movie.  

Adegan favorit saya adalah ketika Curtis dkk mengunjungi sekolah 'depan'.  Sekolah yang kelihatan bagus dan normal serta dipenuhi anak-anak lucu dan riang itu ternyata sudah mempraktekkan pencucian otak.  Anak-anak itu tidak menyadari bahwa otak mereka dicuci dengan ideologi bahwa Wilford adalah orang terhebat.  Belum lagi kata-kata 'hipnotis' dimana si guru mengulangi terus bahwa ketika mereka turun dari kereta, mereka akan langsung mati.  Ah, sayang sekali saya lupa kata-kata aslinya.   


Tilda Swinton jelas yang paling stand out di film ini.  Dia berhasil memainkan antagonis yang gila dan sadis, namun setia terhadap pemimpinnya dan ketakutan.  Tokoh antagonis cenderung melawan pemimpin -atau mereka pemimpin itu sendiri- dan jarang sekali menunjukkan ketakutan yang eksplisit.  Memang Mason (Tilda Swinton) bukan 'aktor' utama politik di dalam Wilford Industry, mungkin untuk yang menyebabkannya menunjukkan ketakutannya secara eksplisit.  Mason sendiri mengingatkan saya pada Bellatrix dari serial Harry Potter, dimana mereka menunjukkan kesetiaan, bahkan mungkin kefanatikkan, kepada pemimpin mereka.  Mereka tidak menunjukkan ketakutan atau hormat ala kadarnya.  Ketika Curtis dkk mencoba untuk menghasut Mason dengan menanyakan apakah Wilford tetap tidak peduli jika tubuh Mason dipotong oleh mereka, Mason tetap membela Wilford.  Penampilan Tilda Swinton yang spektakuler begitu memukau dan meninggalkan kesan yang dalam sehingga saya lupa bahwa Mason bukan 'aktor' sesungguhnya.  Dia hanya boneka yang diumpankan ke kaum miskin.

Chris Evans tampil dengan membosankan di awal film.  Namun seiring perjalanan film, penampilan Evans makin mantap dan mantap, terutama di saat-saat terakhir.  Song Kang-ho yang saya harapkan menjadi pusat perhatian malah dibayang-bayangi oleh Evans dan Swinton.  Entah dia minder di antara aktor-aktor barat atau karakternya tidak memberikan ruang untuk berimprovisasi.  Gaya rambut Song mengingatkan saya pada Oh Dae-su di film Oldboy.  Film ini juga memberikan satu refrensi Oldboy (atau mungkin kebetulan) dimana salah satu orang menyarankan Curtis ketika ia bertemu Wilford, langsung saja memotong lidahnya.  Ed Harris yang harusnya menjadi 'klimaks' malah tampil kurang mengesankan dan cenderung membosankan.  Sesudah Swinton menampilkan antagonis yang hebat, Harris malah tampil membosankan dan membuat film ini sedikit anti-klimaks di pertengahan akhir. 

Ketika Curtis dan Wilford berbincang-bincang, Wilford menjustifikasi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia melakukan berbagai ketidakadilan pada kaum 'ekor' untuk menyimbangkan ekologi tertutupnya (kereta).  Penjelasan Wilford memang gila dan heartless, but in my crazy sense, I understand and accept his reasons.  Coba kita bayangkan dunia tanpa penyakit, perang, dan pembunuhan, pastilah orang yang hidup di dunia akan JAUH lebih banyak dari yang sekarang.  Ketiga hal itu memang buruk, but in a crazy way, itu menyeimbangkan dunia kita.  Semua hal memang ada hikmahnya, termasuk ketiga hal itu.  Memang kenyataan pahit bahwa kejadian-kejadian mengerikan harus terjadi untuk menyeimbangkan dunia kita.

Snowpiercer is a quite satisfying dish and a smart dystopian movie.  I just don't know why I keep feeling that Snowpiercer lacks beauty and emotion despite some scenes which I admire and like. 8,5/10
  

pic cr :
hiburan.kompasiana.com
geektyrant.com
duniaku.net

Kamis, 15 Agustus 2013

The Quiet Family

Besides, you should be used to weirdness by the way this family behaves! -Mother.

Kalau lo benar-benar pecinta film Korea, tentu nama-nama seperti Choi Min-sik, Song Kang-ho, sampai Kim Ji-woon sudah tidak asing lagi.  Nah, The Quiet Family akan menunjukkan kemampuan mereka sebelum di tahun kejayaan mereka dan tahun kejayaan film Korea, yaitu 2003 (Oldboy, Memories of Murders, A Tale of Two Sisters).  The Quet Family adalah film tahun debut Kim Ji-woon sebagai sutradara pada tahun 1998.  Film ini mendapat beberapa penghargaan dari beberapa festival seperti Fansporto dan Stiges Film Festival.  Cukup banyak orang yang menganggap The Quiet Family adalah salah satu film Korea terbaik.  Keluarga apakah yang akan ditawarkan Kim Ji-woon pada debutnya sebagai sutradara?

The Quiet Family menceritakan tentang keluarga yang pindah ke daerah pegunungan dan membangun sebuah penginapan bernama Misty Lodge.  Si keluarga terdiri dari Ayah (Park In-hwan), Ibu (Na Moon-hee), adik si ibu, Paman Chang-koo (Choi Min-sik), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa yaitu Young-min (Song Kang-ho), Mi-su  (Lee Sun-yeong) dan Mi-na (Go Ho-kyung).  Karena kurangnya pengalaman mereka dalam mengurus penginapan dan lokasi yang agak terisolasi, keluarga Kang terpaksa menunggu lama hingga tamu pertama mereka muncul.  Ternyata 'keberuntungan' mereka berlanjut ketika tamu pertama mati.


WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Waktu gue nonton film ini pertama kali, gue sama sekali gak ngerti kelucuan film ini.  Pokoknya otak gue gak konek dan perasaan gue datar waktu nonton film ini.  Tapi karena gue suka plot shit happens-nya dan akting pemainnya, gue mencoba lagi untuk menikmati film ini.

Baru ketiga kalinya gue nonton, gue bisa ketawa.  Bahkan ngakak-_- Yang bikin gue ngakak waktu mereka lagi ngubur dua orang (pacaran) dan si cowok buka mata dan teriak gitu, wkwk.  Keluarganya pun ikut teriak dan kepala si cowok di pukul pakai cangkul, hahaha.

Gak tahu ini benar atau enggak, tapi gue bisa melihat pengaruh dari film Pulp Fiction.  Kalau ada yang bilang Pulp Fiction adalah black comedy dengan kostum mafia, maka The Quiet Family adalah black comedy dengan kostum horor pembunuhan.  Tidak cuma itu, bisa dilihat secara visual bahwa kedua film ini penuh dengan darah dan memakai plot shit happens.

Hmm...gue mau ngasih perumpaan deh dari horor di film ini.  Ada iklan mie yang bilang mie itu adalah mie terpedas di dunia.  Karena kita penasaran, kita pengen cobain mie itu, tapi juga takut benar-benar kepedasan.  Setelah kita cicipi, rasa pedas mie itu biasa saja.  Nah, seperti itulah rasa horor dalam The Quiet Family.  Kim Ji-woon hanya memasang 'iklan' horor dan memainkan pikiran penonton.  Sinematografi dan atmosfir berbau horor hanya untuk memainkan pikiran penonton.  Did it scare me?  Nope.  Makanya gue bilang kalau itu cuma memainkan pikiran penonton.  Kata horor dalam film ini hanyalah hype agar penonton mengira Kim Ji-woon akan menyajikan film tentang keluarga yang mempunyai rumah berhantu, tamu psikopat, ataupun hal-hal keji, bloody disgusting, dan bizarre.  Tapi itu semua hanyalah dugaan kita.  The Quiet Family menawarkan cerita sederhana tentang rentetan 'keberuntungan' suatu keluarga.  Percayalah, film ini se-simpel itu!


Hal-hal lainnya juga sangat bagus, terutama kemampuan akting pemainnya.  Adegan pembuka dimana Go Ho-kyung mematikan TV dan langsung menatap kamera agak mengingatkan gue pada adegan pembuka Little Miss Sunshine dimana Abigail Breslin berkonsentrasi dengan tontonnya.  Gue gak bisa jelasin seberapa gue suka ekspresi Go.  I'm not a good acting judge, lol.  Gue juga gak bisa jelasin seberapa indahnya *cuih* ekspresi ambigu Go di shot terakhir.  Agak mengingatkan gue sama shot terakhir Oldboy dan Memories of Murders.  Bener deh, agak mirip.  Sangat disayangkan karir Go Ho-kyung tidak sesukses Lee Ae-young (JSA, Lady Vengeance) ataupun Son Ye-jin (A Moment to Remember, The Classic).  Sebenarnya di awal film, tokoh sentralnya si Mi-na (Go Ho-kyung). 

Yah, walaupun gue agak fokus ke Go Ho-kyung, bukan berarti yang lainnya gak bagus.  Park sebagai ayah yang sukses menambah rasa sarkasme film ini, ataupun Moon yang sukses menjadi ibu yang 'protective', ataupun Choi dan Song yang terlihat seperti paket one-two punch disini.  Choi sama Song udah kayak...Robert de Niro dan Jack Nicholson, wkwk.  Akting yang agak lemah justru berasal dari Lee, walaupun gak jelek-jelek banget.  Malah, film ini mempunyai ensemble cast terbaik yang pernah gue tonton!  Gue juga suka soundtrack-nya yang pop dan score-nya yang kadang terdengar menegangkan dan menyeleneh.  Menambah kesatiran film ini.

I can't believe that I saw Choi Min-sik and Song Kang-ho in one movie!  1998 maybe not the strongest year in Korea's film industry, but The Quiet Family is certainly one of the best Korean movie, and horror-comedy movie. 10/10

pic cr :
koreanfilm.co.uk
hancinema.net
tumblr.com

 

Senin, 20 Mei 2013

Memories of Murder

Do you see this kind of thing in Seoul often? -Det. Park

Tadi malem gue gak bisa tidur, akhirnya gue memutuskan untuk nonton film It Happened One Night.  Dan...filmnya ngebosenin banget, jadinya gue skip.  Loh, kan tujuan gue nonton film jadul supaya cepat tidur?..Anyway, gue ingat ada banyak film-film yang belum tersentuh di laptop gue, jadinya gue memutuskan untuk nonton film Memories of Murder.

Film ini akan membawa kita pada sebuah desa di Korea saat tahun 1986.  Park Doo Man (Song Kang Ho) adalah detektif yang kurang serius menangani kasus.  Apalagi ia dan Cho Yong Goo (Kim Roe Ha) sering menyiksa 'tersangka' di ruang interogasi.  Karena pembunuhan-pembunuhan yang terjadi tidak memberikan bukti-bukti yang kuat, akhirnya mereka meminta bantuan dari Seoul.  Detekfif Seo Tae Yoon (Kim Sang Kyung) bersedia untuk membentu mereka. 

Detekftif Seo berhasil menemukan kesamaan di antara dua korban, bahkan mengejutkan kepolisian dengan menemukan korban ketiga.  Cara kerja Tae Yoon dan Doo Man yang berlawanan akhirnya menimbulkan pertengkaran-pertengkaran di antara mereka.  Namun, mereka tetap bekerja sama dan akhirnya menemukan bukti yang mengarah pada satu orang.

WARNING : MENGANDUNG SPOILER


Rasanya tidak adil jika kita hanya memberikan pujian pada Song Kang Ho.  Menurut gue, semua pameran yang ada disini bekerja dengan baik, termasuk pameran-pameran pembantunya.  Memang, Song Kang Ho sangat berhasil mengeluarkan kemampuan aktingnya disini, tapi kita tidak bisa mengabaikan tatapan frustasi Kim Sang Kyung, ledakan amarah dari Kim Roe Ha, dan juga keahlian Park No Shik yang berhasil menjadi anak dengan keterbelakangan mental bernama Baek Kwang Ho (yang nanti menjadi saksi kunci).


Chemistry antara Song Kang Ho dan Kim Sang Kyung sangat kuat, walaupun bukan chemistry emotional bromance seperti di film A Perfect World, Taegukgi, ataupun The King's Speech.  Dan itu sangat logis dan masuk akal karena di film ini mereka bukan teman lama ataupun saudara.  Mereka adalah orang yang berlawanan yang harus mengusir ego masing-masing dan bekerja sama untuk mencari pembunuh sesungguhnya.  Disini, Doo Man yang berisik berhasil mengisi kediaman dari Tae Yoon, dan Tae Yoon yang lebih logis berhasil mengusir teori-teori tidak logis dari Doo Man.  Mereka saling melengkapi.  Lalu, apakah Doo Man tipe stupid character yang biasanya gue benci?  Tidak, dia mempunyai 'bakat' yang tidak dipunyai Tae Yoon.

Park Doo Man adalah salah satu contoh detektif yang imperfect, yang tidak bisa menyelesaikan kasus secara tiba-tiba, ataupun 100% serius.  Tampangnya juga biasa saja dan sederhana, bukan tipe-tipe karakter Hollywood yang menurut gue too good to be true (I know it's bias, but I still love Sherlock Holmes, hehe).  Ganteng, dan secara cepat bisa menyelesaikan kasus.  Well, Doo Man jauh sekali dari karakter-karakter itu karena Park Doo Man adalah detektif yang sangat manusiawi.  Tapi, dia juga tidak sepenuhnya reckless sampai-sampai ia menjadi 'antagonis'.  Seiring berjalannya film, dia berubah dan menjadi lebih bertanggung jawab, dan memberikan alasan bagi penonton untuk bisa menyukainya.

Saat gue menonton film ini, gue jadi ingat novel-novel karangan Sue Limb (penulis teenlit) dimana karakter sidekick lah yang too good to be true, bukan karakter utamanya.  Memang Seo Tae Yoon detektif yang lebih baik daripada Park, tapi lebih baiknya gak parah banget sampai dia jadi Gary Sue (tokoh pria yang terlalu sempurna).  Gue senang hanya karena dia jadi Seoul, mendadak dia jadi terkenal karena ganteng atau apa, terus ditaksir banyak perempuan.  Tokoh ini juga tidak menunjukkan love line, adegan hand to hand combat yang berat, dan kepintaran yang dia punya belum seberat Sherlock Holmes.



Selain sinematografi yang sangaaaaaaaaaaat bagus dan penampilan akting yang sangat kuat, film ini juga menawarkan plot misteri yang cukup berbeda dari film-film Hollywood...dan itu termasuk Silence of the Lambs.  Kalau lo nonton Silence of the Lambs, Red Dragon, dan film misteri lainnya, biasanya di tengah-tengah mereka dengan frontal menunjukkan wajah si pelaku-__- Kelanjutannya?  Ya hanya menunjukkan proses penangkapan.  Nope, film ini akan tetap fokus ke penyelidikan, tapi bukan berarti kita akan terus dijejali oleh teori-teori berat.  Film ini mempunyai momen tersendiri dimana kita bisa just sit and watch, atau jadi greget sendiri.  Film ini juga mempunyai dinamika yang bagus and the ending will surprise (I think) all of you. 

Overall, Memories of Murder (Sarinui Chueok) is one of the most uncliche mystery movie I've ever watched, with un-hurry plot, not slow. 10/10

pic cr :
modernkoreancinema.com
nautiljon.com
modestmovie.wordpress.com
dvdbeaver.com