Tampilkan postingan dengan label Woody Allen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Woody Allen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Blue Jasmine : Woody Allen's excellent comeback that still has his elements

Some people, they don't put things behind so easily. -Augie

Pecinta film mana yang tidak tahu Woody Allen dan belum pernah menonton filmnya?  Woody Allen merupakan salah satu filmmaker teraktif, walaupun bukan yang terbaik.  Filmnya mengalami naik turun sejak 90an akhir.  Ada yang disambut dengan baik seperti Midnight in Paris, Vicky Christina Barcelona, dan Match Point, ada juga yang tidak disambut baik seperti...well, karya-karya Woody Allen dari 2000an sepertinya tidak ada yang disambut baik selain tiga film diatas.  Beruntung setelah kegagalan To Rome With Love, Woody Allen masih bisa menulis dan menyutradarai Blue Jasmine yang ternyata disambut baik.  

Blue Jasmine menceritakan tentang kehidupan Jasmine Francis (Cate Blanchett) setelah suaminya, Hal (Alec Baldwin) bunuh diri.  Jasmine memutuskan untuk pindah dari New York ke rumah adiknya, Ginger (Sally Hawkins) di San Fransisco.  Sally shock melihat mendengar pengakuan Jasmine -yang memakai baju mahal dan mementeng koper Louis Vuitton- bahwa ia menaiki pesawat kelas satu, padahal Sally tahu bahwa Jasmine sudah bangkrut.  Sally mengenalkan Jasmine pada pacarnya, Chilli (Bobby Cannavale).  Chilli tidak bisa mengerti mengapa Sally memaafkan saudarinya dengan mudah,

Jasmine harus menghadapi perubahan hidup yang drastis, dari seorang ibu rumah tangga Park Avenue ke janda yang hidup dengan adiknya di apartemen biasa.  Hal ini membuat nervous breakdown Jasmine semakin parah.  Jasmine mencoba untuk membangun kembali hidupnya dengan bekerja dengan seorang dokter gigi sekaligus mengambil les komputer.  Ketika Jasmine menghadiri pesta salah satu temannya, ia menemui Dwight Westlake (Peter Sarsgaard), seorang politisi yang jatuh cinta pada selera dan kecantikan Jasmine.  Sayangnya, Jasmine tidak menceritakan masa lalunya dengan jujur kepada Dwight.


Blue Jasmine sebenarnya gak beda jauh dengan karya-karya Woody Allen sebelumnya.  Film ini mempunyai berbagai unsur film-film Woody Allen: white-on-black opening, jazz music, fail romance, psychoanalysis, plot yang maju-mundur, New York City, dan tentu saja, plot yang realistis dengan bumbu black comedy.  Walaupun gue masih kurang ngerti dimana letak black comedy-nya, karena menurut film ini dramanya cukup kental.  Sure, there's a few black comedy that I understand, but I don't really think Blue Jasmine is a 'comedy' film.  Salah satu hal yang membedakan Blue Jasmine dari kebanyakan film Woody Allen adalah film ini ditulis dari sudut pandang seorang wanita.  Seorang wanita -yang seperti kebanyakan tokoh utama Woody Allen- mengalami kegugupan dan ketakutan terhadap berbagai hal.  Biasanya tokoh dengan sifat seperti ini dimainkan oleh pria di film-film Woody Allen.

Film ini diceritakan dengan alur maju-mundur.  Seiring berjalannya film, kita bisa tahu sejauh mana kerusakan yang terjadi pada kehidupan Jasmine.  Gue rasa hal ini juga digunakan untuk membandingkan Jasmine yang sekarang dan dulu.  Allen membiarkan penonton mencoba untuk memahami Jasmine dan merasakan perasaan yang dialami Jasmine.  Mungkin bagi kita hidup sederhana itu biasa, tapi kalau kehidupan kita bergelimang harta, lalu semua itu hilang dan cepat, tentu kita akan merasakan tekanan, bukan?  Tidak cukup dengan itu, Jasmine harus menerima kenyataan bahwa semua orang tahu suaminya telah melakukan perselingkuhan, tapi Jasmine sendiri yang tidak sadar akan hal itu.  Bisa kita perhatikan bahwa Jasmine sering membicarakan suaminya dan her golden age walaupun kedua hal itu sudah menghilang.  Hal ini menunjukkan bahwa Jasmine masih belum siap atas kejadian-kejadian yang dia alami.  Jasmine maybe a bitch, but that doesn't stop me to feel sympathy for her.  Anyway, gue suka unsur psikologi dalam plot Blue Jasmine, as expected from Allen.  Bahkan ada twist kecil menjelang akhir film.

Cate Blanchett's role as Jasmine is an excellent acting performance, but still...replaceable.  Saya bisa membayangkan Kate Winslet -dan bila umur tokohnya diubah- Meryl Streep, memainkan Jasmine.  Both actresses have grace, charm, and the skill that match Blanchett's.  But still, aktingnya Blanchett mengagumkan banget and worth-Oscar.  Bagaimana dia dari seseorang yang anggun dan respectable berubah menjadi damsel in distress alias gila.  Dia gila sampai ke titik dia berbicara dengan dirinya sendiri di tempat umum, but at the same time, masih ada sedikit kewarasan dalam dirinya.  She's one of my favorite anti-heroine. 



Gak cuma Blanchett yang bagus, tapi begitu juga Sally Hawkins dan Andrew Dice Clay yang berperan sebagai Augie, mantan suami Ginger.  Eh salah, semuanya berperan bagus, hehe.  Baik Hawkins, Clay, dan Cannavale (Chilli) memerankan karakter mereka dengan baik.  Mereka bisa mengekspresikan tekanan yang mereka alami akibat ulah Jasmine dan almarhum suaminya.  Hawkins berperan sebagai saudari angkat Jasmine.  I love the contrast between Jasmine and Ginger, from their personality, prefrence, life, and how they deal their problems.  Kontras antara Jasmine dan Ginger memberikan two point of views.  But at the same time, mereka sebenarnya peduli satu sama lain.  Dari pihak Ginger jelas terlihat ia memperbolehkan Jasmine tinggal di rumahnya, dan dari pihak Jasmine bisa terlihat ia mendukung Ginger untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, walaupun caranya memang kurang benar.

Salah satu hal yang gue suka dari Woody Allen adalah dia mengajak penontonnya untuk 'berjalan-jalan'.  Lihat saja bagaimana Allen mengajak penontonnya untuk 'berjalan-jalan' di Manhattan lewat Manhattan (1979), Paris lewat Midnight in Paris (2011), dan ke Barcelona lewat Vicky Christina Barcelona (2007).  Sekarang, Allen mengajak penonton 'berjalan-jalan' di Park Avenue dan San Fransisco.  Anyway, I really love Jasmine's house and fashion style in this film.

Overall, Blue Jasmine may not be Allen's best film, but it certainly is an excellent and satisfying film.  9,7/10

pic cr:
entertainmentwise.com
athenacinema.com
sawangarom.com

 

Senin, 30 September 2013

Cinema Paradiso #4 : Things I've Learned from Mr. Woody Allen


Yup, my first ever favorite director/writer.  Pertama kali gue tahu Woody Allen tuh lewat Academy Award 2012, dia menang Original Screenplay untuk film Midnight in Paris.  Gue jadi kepo.  Terus waktu gue browsing film AFI 100 Passions, gue lihat sebuah film yang berjudul Annie Hall.  Gak tahu kenapa gue pilih buat klik tuh film.  Mungkin judul dan nama si karakter yang sederhana membuat gue kepo.  Gue punya soft spot buat film dengan judul yang sederhana.  Nah, mulailah gue browsing nih film, dan setelah berkali-kali gagal download, akhirnya gue berhasil!  Berhasil, berhasil, berhasil, hore!

Dan...gue langsung terpukau sama tuh film!  Mulai dari akting, skrip, dialog, musik, sampe sinematografi.  Memang tidak semenawan (500) Days of Summer, tapi gue lebih tergila-gila sama nih film.  Gue suka dialog-dialog pintar dan menyindir dari Woody Allen, dan Diane Keaton a.k.a Annie karakter yang lebih lovable dibandingkan Summer *mungkin karena gue cewek*  Kesukaan gue pada Annie Hall mendorong gue untuk lebih banyak browsing film-filmnya Woody Allen dan Woody Allen sendiri.  Memang Woody Allen bukan sutradara spektakuler seperti Steven Spielberg, James Cameron, atau Christopher Nolan, dan film-filmnya tidak selegendaris Martin Scorsese, Francis Ford Coppola, atau Park Chan-wook.  Film-filmnya juga tidak se-fresh Quentin Tarantino, dan tidak mempunyai film yang dalem seperti Kim Ki-duk atau Michael Haneke.  Tapi dibalik sosoknya yang biasa-biasa saja, gue belajar beberapa hal.

1. You don't need to be cool or amazing to chase your dream or work on your passion.


Harus gue akuin, tema dari film-filmnya Woody Allen sering terasa basi.  Jarang sekali dia membuat film diluar tema cinta ataupun kehidupan yang benar-benar universal.  Bahkan beberapa orang mengatakan lelucon di film-filmnya yang sekarang hanyalah daur ulang.  Tidak hanya itu, banyak sekali film-film Woody Allen yang tidak laku, bahkan merugi.  

Meskipun begitu, Mr. Woody Allen tetap membuat film, mengapa?  Karena itu adalah passion-nya.  Gue bisa merasakan passion-nya terhadap film (sebenarnya lebih kearah New York sih) ketika dia memberikan pidato di Academy Awards sekitar tahun 2000an awal.  Woody Allen yang ogah datang ke acara-acara penghargaan akhirnya datang juga ke Academy Awards hanya untuk memberikan encouragement agar sineas-sineas tetap membuat film di New York.  Di video itu gue bisa merasakan gairah dan cinta tulus Woody Allen terhadap film dan New York.  

Gak cuma itu, meskipun film-filmnya dikritik dan merugi, dia tetap membuat film.  Minimal satu film per tahun.  Bahkan temannnya, Martin Scorsese, tidak serajin itu.  Itu saja sudah menunjukkan bahwa Woody Allen mencintai pekerjaannya bukan?

2. You don't need a genius script to make movies.

Sebenarnya ini mirip sama yang diatas sih, tapi...sudahlah, haha.

Ketika kita diberi tugas untuk membuat sesuatu, kita sering bingung kita mau bikin apa.  Kita terlalu berpikir hal-hal yang rumit dan TERLALU berpikir keatas sehingga pekerjaan kita terbengkalai.  Kadang-kadang, ketika kita ingin mengerjakan sesuatu atau membuat sesuatu, kita tidak butuh ide yang jenius atau rumit.  Tapi cinta dan kesenangan untuk mengerjakan hal itu.  Buat apa kita mengerjakan sesuatu atau mengambil pekerjaan tertentu tanpa cinta dan kesenangan?  Itulah nilai yang hilang di jaman sekarang.

Gue rasa juga udah banyak sineas yang lebih mementingkan pemasukan ketika membuat suatu film.  Sebenarnya sekali-kali sih tidak apa-apa, tapi kalau keseringan, hal itu cukup mengecewakan.  

Woody Allen tidak perlu skrip rumit ketika dia akan membuat film.  Cukup hal yang dia senangi dan pahami.  Ketika dia mempunyai suatu ide, dia akan langsung mengerjakannya.  Dia tidak berlama-lama menunggu ide yang lebih hebat atau hal-hal bullshit lainnya.  Dia mempunyai sisi spontan yang cukup gue kagumi.

3. Geeks can be romantic.


A living proof that geek can be romantic : Woody Allen.

Gue sering ngomong ke teman-teman gue kalau gue orang yang realistis dalam love and other shits.  Tapi karena gue orang yang realistis dan (sangat) skeptis bukan berarti gue tidak menginginkan hubungan romantis di masa depan.  Sebenarnya gue punya sisi romantis *cuih* yang mungkin agak sulit dipahami oleh orang lain.  But, whatever.  

Tapi serius deh, siapa yang nyangka cowok geeky kayak Woody Allen bisa nulis dan ngomong kalimat diatas?  That sentence is just too sweet and romantic!  Makanya jangan remehin orang-orang geeky, freak, ataupun basket-case, gue yakin mereka punya sisi romantis yang gak terlihat.  Mungkin mereka terlihat apatis atau realistis seperti gue, tapi mereka juga punya perasaan, dan sebagian besar dari mereka juga menginginkan hubungan romantis atau merasakan cinta #eaaaa *nyanyi I want to know what love is*

4. Screw up with Oscars.


Banyak orang yang jarang menyadari hal ini, tapi Woody Allen mempunyai sisi swag yang jarang dimiliki oleh sineas-sineas terbaik, termasuk orang dibalik The Godfather : he doesn't give a fuck about Oscars.  Itu menunjukkan bahwa dia bisa menghargai karya-karyanya sendiri dan tidak butuh piala Oscar untuk menghiburnya atau dipamerkan.  

Ketika ditanya mengapa ia tidak pernah datang ke ajang-ajang penghargaan, ia menjawab bahwa datang ke acara-acara penghargaan berarti menyutujui bahwa kamu pantas dihargai dan setuju juga ketika mereka berpikir bahwa kamu tidak pantas dihargai (kira-kira begitu).  It's SWAG people!


Woody Allen bukan sineas terbaik di dunia, I get it.  Dia bukan pasangan dan ayah yang baik, I get it.  Tapi dia masih punya sisi-sisi yang pantas dikagumi dan film-film yang lucu, menyentuh, dan pintar.

pic cr :
www2.ivcc.edu
brooklynexposed.com
favimages.net
sonicnation.ca  

Rabu, 05 Juni 2013

Husbands and Wives

What can I say?  She's me, but she's younger. -Sally


Yeay, akhirnya gue kesampean buat review film Woody Allen yang satu ini.  Gue rela bangun pagi-pagi buat nonton nih film di HBO, wkwk.  Habis gue males download, dan web film favorit gue ditutup, hiks :"(

Gabe (Woody Allen) dan Judy (Mia Farrow) sangat terkejut kita mereka mendengar Sally (Judy Davis) dan Jack (Sydney Pollack) berpisah.  Kini Gabe dan Judy merefleksikan pernikahan mereka dan berandai-andai apakah mereka tidak mempunyai masalah.  Sedangkan Sally dan Jack berusaha hidup tanpa satu sama lain.

WARNING : SPOILER ALERT!


Kalau lo pengen belajar tentang kehidupan dan percintaan, lo harus nonton film-film Woody Allen.  Entah kenapa tiap kali gue selesai nonton film Woody Allen, gue jadi kepikiran topik filmnya selama berhari-hari.  Gue yakin besok gue mikirin film ini, wk.  Dan kadang-kadang gue seakan-akan berdebat dengan pikiran gue tentang hal-hal filosofis (?) dan cinta, sampai gue dapat kesimpulannya.  Mungkin itulah alasan gue menyukai film-film Woody Allen.  Allen sering menyampaikan topik kehidupan dan percintaan yang berbobot, tapi tidak lama dan membosankan.  Ataupun depresif.  Ah,  kenapa banyak remaja lebih sering menonton romance klise ataupun sampah bernama twilight :')  Hei remaja alay (padahal gue juga alay) mendingan kalian nonton film-film Woody Allen biar gak galau mulu atau kebanyakan mimpi...

Hal yang paling gue sukain dari film ini adalah dialognya yang pintar dan menarik.  Sama seperti kebanyakan film Allen, hal utama yang dilakukan tokoh adalah berbicara.  Pemikiran dan perasaan mereka tertuang dengan begitu apik.  Gue merasa membaca buku-buku yang dari luar kelihatannya ringan, tapi isinya berbobot dan tidak membosankan.  Setiap kata yang tertuang sangat menarik.


Skrip yang sangat bagus tentu saja tidak cukup.  Orang-orang yang dipilih untuk 'mewakili' skrip itu tentu saja harus mempunyai kemampuan yang bisa mengimbangi skrip bagus itu.  Dan empat aktor utama ini berhasil sekali.  Yang menangkap perhatian gue justru tim wanita, Mia Farrow dan Judy Davis.  Farrow berhasil menjadi seorang wanita pasif-agresif dan Davis menjadi wanita yang baru menerima setengah kenyataan.  Mereka menyinari karakter mereka tanpa harus memberikan penampilan yang over dramatic.Tidak hanya itu, chemistry mereka dengan pasangan masing-masing terasa kuat dan connected.  Tidak hanya empat aktor utama, aktor pembantu seperti

Judy dan Gabe adalah pasangan yang meyakinkan diri mereka bahwa mereka baik-baik saja.  Sedangkan Sally dan Jack adalah pasangan yang menghancurkan diri mereka sendiri.  Kita akan melihat perjalanan dua pasangan ini setelah Jack dan Sally mengungumkan perpisahan mereka.  Pengunguman itulah yang membuat Judy dan Gabe berusaha meyakinkan diri mereka bahwa mereka baik-baik saja.  Allen mengkuliahi kita tentang kehidupan pernikahan dengan cara yang cukup menarik.  Dimana kita belajar apa yang terjadi jika pasangan menikah sudah dewasa, bukanlah orang yang muda dan bergairah lagi, dan bagaimana mereka berusaha untuk berkomunikasi.  Dan juga bagaimana mereka menyelesaikan masalah itu.  Terkadang, mereka juga tidak sengaja 'mencari' masalah baru.  Memang, beberapa masalah bisa diperbaiki jika kita mempunyai keiinginan yang kuat, tapi beberapa masalah terlalu berat untuk diperbaiki.

I still like Annie Hall better than Husbands and Wives, but it's arguably one of the best Woody Allen's movies.  9,7/10

pic cr : 
woodyallenpages.com
brightwalkdarkroom.com 
cineplex.com 

Minggu, 05 Mei 2013

(500) Days of Summer vs Annie Hall

This is not a love story, it's a story about love. -(500) Days of Summer


Ini dia dua film rom-com favorit gue sepanjang masa!  Tagline diatas mungkin satu-satunya cara yang tepat untuk menggambarkan dua film ini.  Sayang banget orang dari generasi sekarang yang menganggap (500) Days of Summer adalah film rom-com yang paling unik dan 'sedih', padahal Annie Hall sama bagusnya.  Malah, boleh dibilang (500) Days of Summer nyontek Annie Hall loh...Kenapa ya?

Sinopsis  : (500) Days of Summer

 Soultmate and true love...banyak orang yang percaya akan hal itu, salah satunya adalah Tom (Joseph Gordon-Levitt).  Beruntungnya, dia bekerja sebagai penulis kartu ucapan...walau cita-cita sebenarnya adalah menjadi seorang arsitek.  Tom yang belum pernah tergila-gila dengan seorang wanita akhirnya bertemu dengan Summer (Zooey Deschanel).  Tidak hanya Tom yang langsung tergila-gila dengan Summer, sebenarnya banyak laki-laki berharap sekali mempunyai hubungan spesial dengan Summer.  Tapi Summer sangat berlawanan dengan Tom karena Summer tidak percaya akan cinta sejati ataupun soulmate.  Akhirnya hari-hari mereka lewati dan Tom benar-benar jatuh cinta dengan Summer.  Tom sendiri berhasil mendekatkan diri dengan Summer, bahkan sampai mereka berhubungan intim.  Tapi Tom tidak pernah tahu apa perasaan Summer yang sebenarnya.


Sinopsis : Annie Hall

Alvy Singer (Woody Allen) mulai beranda-andai mengapa hubungannya dengan Annie Hall (Diane Keaton) berakhir.  Maka Alvy melihat kebelakang hidupnya, mulai dari masa kecilnya, hubungannya dengan wanita sebelum Annie, pertemuan pertamanya dengan Annie, hubungannya dengan Annie, dan perpisahannya dengan Annie.

Alvy adalah seorang komedian yang sudah bercerai dua kali, sedangkan Annie hanyalah seorang wanita dari Chippewa Falls yang mencoba peruntungannya di New York.  Mereka merasakan sesuatu yang 'klik' saat mereka bertemu, dan akhirnya mereka menjadi pasangan.  Alvy yang ingin Annie menjadi sama inteleknya dengan dia, memenuhi Annie dengan buku-buku berat dan kuliah.  Tapi apa yang terjadi jika Annie benar-benar berkembang dan menemukan kepercayaan diri tanpa Alvy?


The Review

Let's start with (500) Days of Summer.   I love that movie sooooooooooooooooo much.  Dari jalan ceritanya yang catchy tapi tetap berisi, akting pemainnya, musiknya, semuanya bagus banget.  Gue sendiri lebih ngerti humor di film ini daripada Annie Hall.  Mungkin karena humornya lebih ringan dan gak se-dark Annie Hall?

Gue suka banget chemistry antara Levitt dan Deschanel.  Deschanel mampu membawakan karakter Summer yang cukup unik menurut gue.  Tapi kalau dilihat kembali, Deschanel juga mempunyai sesuatu yang agak off.  Gue rasa akan lebih bagus kalau karakter Summer dibikin lebih gloomy.  Terlalu banyak tersenyum bisa bikin lo kayak Kristen Stewart loh...(baca : jual tampang).  Entahlah, ada sesuatu dari karakter Summer yang sulit gue jelaskan karena ada sesuatu yang off dari Deschanel sendiri.  Kalau karakter Summer lebih gloomy atau lebih neurotic, pasti karakter Summer jadi lebih menarik.

Levitt juga berhasil berperan sebagai Tom.  Tapi apakah dia pantas menerima nominasi Oscar? Nope.  Levitt kurang melakukan improviasi atau semacam pengembangan pada karakternya.  Mungkin karena karater Tom Hansen terlalu biasa?  That's right.  Saat gue menonton film ini untuk yang kedua kalinya, gue merasa karakter Tom itu biasa-biasa aja, gak ada yang spesial atau sifat yang membedakan dia dari cowok lainnya.  Malah keperceyaannya dalam cinta sejati dan pilihannya untuk bekerja di perusahaaan greeting cards membuat tokoh Tom agak childish and silly.  Tapi kalau Tom jadi karakter yang sinis dan sarkatis juga pasti membingungkan.  Dan ceritanya yang simpel membuat karakter ini menjadi terlalu simpel.

Tapi gue merasa kalau (500) Days of Summer terlalu berbias kepada Tom.  Hal yang bisa 'menyelamatkan' Summer adalah fakta bahwa Summer sudah memperingatkan Tom bahwa dia gak mau hubungan serius, dan ketika Tom curhat ke cewek tentang masalahnya dengan Summer.  Sedangkan Summer sendiri yang memulai hubungannya dengan Tom, bahkan sempat menyatakan bahwa dia menyukai Tom.  Bahkan di 'reuni'nya dengan Tom, Summer dengan kurang ajar PHP-in Tom dengan mengajaknya dansa dan tidur di bahunya.  Emang dia gak punya hati atau bego.  Tom, seperti yang gue katakan, salah juga karena dia childish dalam menghadapi Summer.  Dia jatuh ke 'perangkap' karena dibutakan dengan pikirannya sendiri tentang Summer, bukan realita.

(500) Days of Summer juga mempunyai beberapa teknik unik.  Salah satu contohnya adalah perbandingan antara realita dan pengharapan.


Musik dan lagu yang dipakai di (500) Days of Summer juga bagus-bagus.  Cocok banget dengan suasana rom-com film ini.  Efek yang dipakai di film ini juga bagus banget.  Dan film ini memang lebih stylish daripada Annie Hall dan lebih cocok buat orang muda.

Overall, it's one of the best rom-com movies!


Annie Hall boleh dibilang (500) Days of Summer versi more serious and more dramatic.  As usual, I don't get most of Woody Allen's jokes and sense of humor.  Satu hal yang bisa gue dapat dari dialog-dialog Annie Hall adalah Woody Allen is a genius writer with a good sense of sarcasm and wit.  Gue emang gak terlalu banyak tertawa di Annie Hall, tapi gue menanggap bahwa banyak dialog-dialog di film ini yang jenius banget.  I really don't know how to describe it.  

Sudah jelas Keaton dan Allen mempunyai chemistry yang bagus karena dulu mereka pernah pacaran.  Setelah putus pun mereka masih bersahabat.  Akting Keaton keren banget!  Penampilan Keaton di film ini adalah salah satu penampilan terhebat yang pernah gue liat, dan bukan gue doang yang bilang itu! (?) Filmsite memasukkan karakter Annie Hall sebagai 100 Penampilan Terbaik.  Silahkan cek linknya disini.  Oh iya, majalah Rolling Stones pun sempat menjagokan Keaton sebagai the next Hepburn.  

Keaton memerankan seseorang yang gak pede dengan dirinya sendiri, lalu menjadi orang yang pede dan mandiri, itu transformasi yang keren banget.  Kalau gue kurang mengerti karakter Summer, disini gue mengerti banget karakter Annie.

Allen pantas mendapat nominasi Oscar sebagai aktor terbaik di film ini.  Mungkin karakter Alvy adalah karakter tipikal Woody Allen, tapi tetap aja penampilan Allen di film ini juga salah satu penampilan terbaik yang pernah gue lihat.  Allen tidak hanya sekedar memerankan seorang komedian yang happy in unhappines dan comfortable in uncomfortness. Dia juga berhasil memerankan orang yang diam-diam longing for happy ending.  Gue suka banget tatapan Allen saat karakter Alvy menulis drama tentang hubungannya dengan Annie.  It just hit me! 

Christopher Walken dan Tony Roberts juga sukses jadi pameran pembantu.  Roberts berperan sebagai Rob, sahabat Alvy.  Roberts dan Allen juga mempunyai chemistry yang bagus, dan Rob boleh dibilang penetral Alvy.  Percaya gak percaya, gue baru sadar ada Shelley Duvall (Wendy Torrance di The Shining) di film ini-____-"

Untuk film 70an, film ini kaya akan banyak teknik.  Dan tekniknya lebih banyak daripada (500) Days of Summer.  Salah satunya adalah subtittle scene dan Alvy's famous monologue!  


 Salah satu adegan yang kelihatannya sepele, tapi cukup krusial adalah adegan monolog Alvy.  Allen berhasil berkomunikasi dengan penonton dengan membiarkan dirinya sendiri menjadi si narator.  Karena (500) Days of Summer memakai narator (yang kalau kita dengar jadi kayak narator di Discovery Channel) kesannya 5DS itu sekedar film, sedangkan Annie Hall adalah sebuah fairytale yang nyata.  Gue senang di saat-saat terakhir Annie Hall, Allen memutuskan untuk tidak meng-closeup pemainnya.  Gue rasa itu membuat penonton menjadi benar-benar menonton kehidupan Alvy dan Annie, bukan sekedar menonton film berjudul Annie Hall.

Sebenarnya (500) Days of Summer dan Annie Hall sama-sama menceritakan hubungan dari kacamata cowok.  Bahkan mereka sama-sama mempunyai unsur fantasi.  Tapi Woody Allen tidak melebih-lebihkan fantasi itu dengan misleading penontonnya.  Ia memberikan Annie alasan tersendiri untuk membela dirinya, Annie tidak se-annoying Summer.  Bisa dilihat sejak Annie berkuliah, Annie tambah kritis dan berkembang, sedangkan Alvy adalah Alvy.  Dia diam saja.  Bagaimana mungkin sebuah hubungan bisa berjalan mulus ketika yang satu diam saja dan yang satunya lagi berkembang?

Film ini memang tidak terlalu kaya  akan musik, tapi justru hal itu yang membuat film ini tambah realistis.  Tapi yang namanya film juga membutuhkan dramatisasi, bukan?  Allen menyimpan itu di saat-saat terakhir juga.  Save the best for the last.


Overall, it's one of the best MOVIE I've ever watched.


Kalau lo tonton baik-baik Annie Hall dan 5DS, masing-masing film mempunyai mellow tersendiri.  Mellow yang mereka ciptakan tentu saja berbeda dari film-film drama seperti The Notebook ataupun P.S I Love You.  Pengalaman Alvy dan Tom itu lebih tragis daripada Titanic ataupun Romeo & Juliet, karena itu pengalaman sehari-hari.  Alvy & Annie dan Tom & Summer telah mendalami hubungan mereka masing-masing, saling mengenal dan saling mencintai, beda kan daripada kisah yang terlalu tragis ataupun kurang dari seminggu udah mengorbankan nyawa? -__- Anyway, gue baru dapatin rasa mellow itu saat gue menonton dua film ini yang kedua kalinya-___-

And the winner is....................................................................................................................
































ANNIE HALL!
FINAL SCORE :

(500) Days of Summer : 8/10
Annie Hall : 10/10  

pic cr : suchmovingpictures
            ladybugfreak
         pocketcultures
            dvdactive
            riverbank
            peeslowlynsee
            quotes-savedme