Tampilkan postingan dengan label Emma Watson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emma Watson. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

The Perks of Being a Wallflower : A Realistic and Charming Coming-of-Age Movie with Lovely Soundtracks

We accept the love we think we deserve.

Haha, telat banget ya gue masukin film ini ke blog gue, wkwk.  Gue bukan penggemar Logan Lerman ataupun Emma Watson, gue juga belum baca novelnya.  Terus, apa yang membuat gue tertarik dengan The Perks of Being a Wallflower? Simple, banyak review yang bilang nih film bagus.  Akhirnya gue kepo sendiri dan memutuskan untuk beli DVD bajakannya.

Meet Charlie (Logan Lerman), anak yang paling gak eksis di sekolahnya.  Udah gak punya temen, kakaknya Charlie gak ngebolehin dia buat duduk bareng kakaknya.  Pada suatu hari, Charlie memberanikan diri untuk berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller), 'veteran' yang duduk bareng dia di shop class.  Tidak hanya berkenalan dengan Patrick, Charlie juga berkenalan dengan Sam (Emma Watson) saudara tiri Patrick.  Sejak Charlie berkenalan dengan mereka berdua, Charlie merasakan hidup sesungguhnya: pesta, hangout bareng teman, belajar bareng, dan tentu saja jatuh cinta.


Oh.  My.  God.  Charlie mirip sama gue.  Astaga, sumpah, gue benar-benar bisa relate dengan perasaannya dia waktu first day of school.  Perasaan takut gak punya teman, gak kenal siapa-siapa, takut di-bully, I can relate all of that feelings!

Jalan ceritanya simpel, tentang bagaimana Charlie berusaha survive in high school dengan teman-temannya.  Tapi gue kurang suka dengan cerita cinta segitiganya Charlie, Sam, dan Mary Elizabeth (Mae Whitman).  It's just super cliche.  Do we need a fucking love triangle in every teenage movie?  

Berbagai karakter di The Perks of Being a Wallflower mempunyai keunikan masing-masing.  Entah itu Sam dan Patrick yang mempunyai selera musik yang keren, Mary Elizabeth yang suka dengan gaya gotik tapi menganut Budha, ataupun Alice (Erin Wilhelmi) yang sebenarnya kaya tapi suka nyolong jeans.  Hal ini mempunyai sisi positif dimana semua karakter mempunyai peluang untuk membuat impact atau menjadi memorable.  Tapi sisi negatifnya, Steven Chobosky terlihat keras untuk membuat karakter-karakter yang unik.  It's quite hardly to believe that a group of people who are very unique and have little in common can be close friends.  But hey, it's a movie, it doesn't have to be so realistic.  


Ada suatu titik dimana gue benci film ini karena gue merasa kesal dengan tokoh-tokohnya.  Sam menurut gue slutty alias gampangan (dan tanpa alasan yang jelas), Patrick dengan mudah meninggalkan Charlie tanpa mendengar penjalasannya, Mary Elizabeth dengan ke-GRannya pada Charlie, dan Alice dan Brad yang hampir gak relevan di film ini.  Tapi lama-kelamaan gue bisa menerima hal itu karena realita seperti itu.  Tidak semua orang punya loyalitas yang tinggi, banyak orang yang geer because they are too desperate to be loved, ada juga orang yang melakukan sesuatu tanpa mempedulikan perkatan orang lain, dan tidak semua orang relevan, entah itu di film, SMA, pekerjaan, dll.  It's the reality, and Chbosky just wanted to show the ugly truth.  Bandingkan saja dengan film-film remaja lain dimana tokoh-tokohnya mempunyai loyalitas tinggi terhadap temannya, ataupun tokoh yang menggunakan seks sebagai pelarian atau karena trauma.  

I don't know about you, tapi gue kadang merasa agak bosan di tengah-tengah film ini.  Entahlah, soundtracknya-nya emang keren semua, tapi ada sesuatu dari film ini yang agak plain.  Hal ini bisa saja disebabkan oleh karakter Charlie yang too plain for my liking.  I understand that not all of us (and movie characters) are blessed with dry and sarcastic sense of humor, but like I said before, it's a movie.  Chbosky harusnya bisa memberikan sedikit 'aksesoris' pada karakter Charlie.  Karakternya lumayan datar.  Menurut gue, dia terlalu polos dan penakut, bahkan untuk bersenang-senang dengan temannya.  Gue tahu bahwa di film ini dia sempat mengkonsumsi narkoba, tapi selain itu, (dan di ending film) dia gak pernah benar-benar have fun dengan teman-temannya.  Lo tahu adegan dance di film The Breakfast Club?  Itulah have fun yang gue maksud, dimana Charlie just loosen up and being free, not consuming drugs.  But on the other hand, Chbosky menunjukkan bahwa persahabatan atau pertemanan di dunia nyata tidak seindah seperti kebanyakan film Hollywood.  Tidak semua dari kita bisa dengan lancar menuangkan perasaan dan pemikiran kita kepada teman-teman kita, bahkan terkadang, sahabat kita.

Gue pengen banget Chbosky menggunakan pendekatan yang lebih psikologis terhadap Charlie.  Menurut gue, Perks of Being a Wallflower kurang menjelaskan hubungan Charlie dengan orangtuanya.  Gak cuma sama Charlie sih, gue juga pengen Chbosky menggunakan pendekatan psikologis terhadap Sam.  Sampai sekarang gue kepo apa yang mendorong Sam menjadi seperti 'itu'. 



Aktingnya bagus-bagus, but not really makes me 'wow'.  Pengecualian untuk Ezra Miller karena aktingnya dia keren dan bagus banget.  Miller berhasil sekali dalam memerankan cowok yang ceria dan ekspresif namun mempunyai rahasia yang gelap dan beban emosi yang cukup berat.  Gak cuma aktingnya yang keren, tampangnya bang Ezra Miller juga keren, hehe.

Anyway, I really love the soundtracks!  Walaupun gue bukan remaja 90an, gue tetap enjoy lagu-lagu dari film ini.  Apalagi ada Something - The Beatles yang notabene lagu kesukaan gue dari band paporit gue, long live The Beatles, yea!  Sumpah, soundtrack-nya The Perks of Being a Wallflower menambah koleksi lagu-lagu rock di HP gue.  Lagu favorit gue --> Come on Eileen - Dexy's Midnight Runners, pertama kali dengar nih lagu langsung download lagunya dan cari liriknya.  I personally think The Perks of Being a Wallflower is a wet dream for anyone who loves rock or 90's music.  

Film ini menunjukkan hanya karena hidupmu 'suram', bukan berarti itu tidak bisa membuatmu menonton Rocky Horror Picture Show (which is my favorite scene), merayakan natal bersama teman, sedikit berpesta, ataupun melakukan pose Titanic diatas truk yang sedang berjalan.  The point is, sesuram-suramnya hidup lo, lo bisa mengalahkan kesuraman itu dengan bersenang-senang dan tertawa.  Not only that, The Perks of Being a Wallflower membuat gue cukup bersyukur dengan situasi sekolah di Indonesia?  Kenapa?  Karena bullying di SMA-SMA Indonesia gak separah di Amerika.  Lihat saja, Charlie saking gak punya teman, cuma bisa temenan sama senior-seniornya.  Separah-parahnya gue, gue masih punya lebih dari satu teman di kelas gue.

Overall, The Perks of Being a Wallflower is a realistic-but-not-depressing and enjoyable-but-not-fantastical coming of age film.  8,7/10

pic cr:
cinecritical.com
popcornaddiction.com
hendriologi.blogspot.com

Senin, 09 September 2013

Harry Potter : From Worst to Best a.k.a Short Reviews


SPOILER ALERT

Karena ini blog film, ya review yang gue maksud disini filmnya, bukan novelnya-_-

Sejauh ini Harry Potter adalah serial yang paling gue ikutin.  Gue udah baca 6 novelnya (novel yang ketiga baru setengah) dan udah nonton 8 filmnya.  Gue suka kok Trilogi The Dark Knight sama TLOTR, X-Men lumayan lah, tapi gue gak pernah ada niatan baca komik Batman dan X-Men, ataupun baca novel trilogi TLOTR yang bahasanya dewa banget.  

Gue pribadi juga menganggap Harry Potter lebih bagus daripada TLOTR.  Kenapa?  Harry Potter mempunyai jalan cerita yang kompleks, dan sering sekali mempunyai setidaknya satu unexpected shit di semua novelnya.  Ntar deh gue bikin artikel sendiri buat unexpected shit di novel-novel Harry Potter.  Dan sebenarnya itu tercermin di film-filmnya.  Akuin aja, seberapa banyak sih penonton/pembaca yang bakal ngira si J.K Rowling bunuh Sirius, Fred Weasley, ataupun the lovable Dobby?  Atau ternyata Severus Snape itu beneran setia sama Dumbledore dan punya undying love buat emaknya Harry?  Mungkin lo gak terkejut waktu nontonnya karena udah baca ataupun di-spoiler.  Tapi kalau kita pikir-pikir lagi, hal-hal diatas itu cukup gak terduga loh.  

Sedangkan TLOTR mempunyai gaya bahasa yang terlalu dewa dan mengurangi faktor enjoyment waktu baca novelnya ataupun nonton.  Ceritanya memang kompleks, tapi hampir gak ada faktor kejutan alias unexpected shit seperti di Harry Potter.  Apalagi J.R.R Tolkien kurang berani untuk membunuh beberapa karakter, mentok-mentok cuma Theoden sama saudaranya Faramir yang mati-_-

Oke, itu dia celotehan gue sebelum artikel sebenarnya (?) Maklum ya gue bikinnya short reviews, gue gak kuat bikin review panjang buat 8 film sekaligus, wkwk.

7. Harry Poter and the Sorcerer's Stone (2001, Chris Colombus)


Film ini mirip banget dah sama gayanya Steven Spielberg.  Too child-oriented.  Nih film lebih kekanak-kanakan dah daripada Bambi ataupun The Lion King yang notabene film kartun.  Rada mengingatkan gue sama The Goonies.  Efeknya pun mengingatkan gue sama The Goonies.  Bayangin aja, beda 1,5 dekade-_-  Sedangkan TLOTR yang rilis di tahun yang sama mempunyai efek yang jauh lebih superb.  Pantes aja lebih terkenal Peter Jackson daripada Chris Colombus.  Film ini juga TERLALU setia dengan novelnya.

Tapi terlepas dari itu semua, HarPot 1 tetap menyediakan petualangan yang worth to watch dan decent acting performances dari aktor-aktornya.  Dan special credit buat John Williams yang bikin Hedwig's Theme! 

Best Moments
  • Harry vs Prof. Quirell.
  • The Mirror of Erised.
Final score : 7/10 (Good)

6.  Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009, David Yates)


Menurut wikipedia, film keenam Harry Potter ini adalah salah satu film terbaik dari serial HarPot dan mendapat ranking 4 di Rotten Tomatoes.  Tapi David Yates melakukan kesalahan besar di film ini : tidak memasukkan adegan Battle of the Astronomy Tower.  WTF dude!  Pantes aja gue bawaannya bosen kalo nonton nih film.  Hampir gak ada seru-serunya.  Sejak film kedua, game quidditch emang gak seru lagi, jadi adegan Ron yang latihan quidditch dan melakukan gerakan aneh adalah salah satu adegan garing, awkward, dan WTF pake banget.  Intinya, HarPot 6 lebih berasa cerita-cerita pendek kegiatan di Hogwrats yang disusun kurang rapi.  Ada Professor Slughorn yang misterius, ada Half-Blood Prince yang misterius, ada Draco Malfoy yang cengeng, ada juga kisah kasih di sekolah, sehingga HarPot 6 mempunyai alur yang kurang mengalir.  Sayang loh, soalnya David Yates udah cukup berhasil menangkap atmosfir gelapnya. 

But on the other hand, film ini emang turning point-nya Emma Watson, Rupert Grint, dan (especially) Tom Felton.  Mereka udah benar-benar menyerap karakternya, dan aktor-aktor ini harus berterima kasih buat J.K Rowling yang udah nulis ceritanya, sehingga mereka bisa benar-benar nunjukkin kemampuan akting mereka yang terbaik.  Doh, adegan Draco nangis dan dimana dia mencoba buat membunuh Dumbledore benar-benar ditangani dengan baik oleh David Yates dan Tom Felton.  Felton nailed his character!  Hebat banget dia bisa menunjukkan kompeksitas karakter Draco Malfoy yang nakal dan sombong, tapi tidak jahat.  Daniel Radcliffe?  Well...dia tetap Daniel Radcliffe.

Best moments :
  • Weasley Wizard Wheezes.
  • Harry Potter vs Draco Malfoy.
  • Harry and Dumbledore searched for Voldemort's horcrux.
  • Dumbledore's death. 
Final score : 7,2/10 (Good)

5. Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002, Chris Colombus) - Harry Potter and the Deathly Hallows part 1 (2010, David Yates) Tie


Memang masih child-oriented, tapi HarPot 2 lebih kompleks dan gelap daripada film sebelumnya.  Tapi atmosfir gelapnya kurang sync dengan keseluruhan filmnya.  Mulai dari mobil terbang, pertandingan quidditch yang masih lively dan berwarna, itu semua gak cocok dengan usaha J.K Rowling dan Chris Colombus yang berusaha menampilkan sisi gelap HarPot.

Tapi diluar itu semua, kemampuan akting young cast-nya juga udah berkembang.  Begitu juga dengan aktor-aktor yang udah dewasa, tapi gue tetap gak suka suaranya Richard Harris.

Best moments
  • "Why is it always me?"
  • Harry Potter vs Draco Malfoy
  • Dobby's freedom.
  • "This is just like magic!"

Banyak yang mengkritik film ini sebagai prelude karena terlalu banyak tetek bengek (baca : penjelasan) dan kurangnya aksi.  Well, gue disini posisinya netral sih.  Emang aksinya kurang, tapi ntar penontonnya jadi bacot karena mereka gak ngerti the fucking story.  Dan sebenarnya aksi yang kurang gak separah di HarPot 6.  Coba deh bandingin HarPot 6 yang cuma punya 1/4 Battle of Astronomy Tower sama waktu Harry dan Dumbledore nyari Horcru dengan HarPot 7.1 yang punya The Seven Potters, Golden Trio nyusup ke kantor kementrian, terus HarPot ditangkap Snatchers dan dikirim ke Malfoy Mannor?  Lebih seru mana mbak, mas, banci?

Gak ada komplen dari sisi teknisi.  Jujur, walaupun perkembangan Daniel Radcliffe gak terlalu signifikan dibandingkan Emma Watson dan Rupert Grint, dia ada perkembangan dikit lah dari HarPot 6.  Adegan Harry dan Hermione yang berdansa ketika Ron meninggalkan mereka itu mempunyai chemistry yang cukup kompleks, tapi mereka masih bisa membawakan dengan cara yang cukup sibling-like chemistry (?)  Harry Potter 7.1 mungkin tidak menawarkan banyak aksi, tapi tentu saja film ini menawarkan beberapa informasi penting agar penonton setia (bukan pembaca setia) tidak kebingungan melihat kelanjutan film ini.

Best Moments
  • The opening scene.
  • The Seven Potters
  • Rufus Scrimgeour' Speech.
  • Harry and Hermione danced.
  • At Batilda Bagshot's House.
  • Dobby came to rescue.
(Both) final score : 7,6 (good)

4. Harry Potter and the Order of Phoenix (2007, David Yates)


Menurut gue sih ini film HarPot yang (kedua) paling seru.

Gue gak suka aktingnya Evanna Lynch, emang sih Luna Lovegood itu orangnya blank dan dreamy, tapi karakternya di film jadi monoton dan kurang amusing.  Ini entah salahnya di skrip atau aktingnya si Lynch.  Anyway, kudos for Ralph Fiennes and Helena Bonham-Carter yang aktingnya psycho banget!  Dan Imelda Staunton yang sukses bikin gue kesal.  

Di HarPot 5 ini kita akan berkenalan dengan Harry yang sudah dewasa.  Dia sudah menghadapi Voldemort, melihat kematian seseorang, mengalami cinta dan ciuman pertama.  Ini adalah Harry Potter yang benar-benar young adult, bukan sekedar teenage lagi.  Tapi hanya karena Harry Potter sudah dewasa dan keadaan semakin gelap, film ini tidak menghilangkan unsur petualangan, persahabatan, romance, dengan sedikit bumbu komedi (yang mungkin akan lebih dimengerti potterhead).

Best moments
  • Harry and the advance guard flew in London.
  • Dumbledore's Army.
  • Umbridge's inspection.
  • Fred and George's final rebellion.
  • The battle of department mystery.
  • Dumbledore vs Voldemort.
Final score : 8/10 (very good)

3. Harry Potter and the Goblet of Fire (2005, Mike Newell)



HarPot 4 boleh dibilang adalah transisi dari Harry yang lugu ke Harry yang 'terpaksa' untuk dewasa.  Harry dan Ron merasakan cinta monyet mereka, dan Hermione diperhatikan oleh 'seseorang'.  Agak lucu bagaimana di film sebelumnya (HarPot 3) atmosfir justru lebih berat tapi di film selanjutnya (HarPot 4) atmosfir petualangan ini muncul lagi, hanya saja tidak terlalu family-oriented sepert dua film pertama.  Mungkin karena pekerjaan detektif mereka tidak bahas secara kental dan lebih dibumbui oleh kehidupan layaknya remaja normal (cinta dan konflik persahabatan).

Film ini juga film Harry Potter pertama yang melakukan banyak rombakan dari novel aslinya, terutama pada tokoh Barty Crouch, Sr.  Kudos for Mike Newell and Steve Kloves! 

Gue sama sekali gak nyangka orang yang membuat Mona Lisa Smile dan Julie & Julia bisa bikin film dengan visual yang keren banget.  Sayang sekali karir Mike Newell gak secerah Peter Jackson.

Best moments
  • Ron danced with McGonnagal
  • Fred and George became older.
  • The second task.
  • Voldemort's rise.
  • Mad-Eye's 'transformation'.
Final score : 8,5 (very good)

2. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004, Alfonso Cuaron)



Seharusnya film ini adalah (salah satu) puncak kemampuan akting Daniel Radcliffe karena film ini jauh lebih kompleks dan gelap dibandingkan dua film pertama Harry Potter.  Layaknya The Dark Knight, si aktor utama sudah bagus, namun dibayang-bayangi oleh sidekick-nya.  Emma Watson dan Rupert Grint lebih menarik untuk dilihat dan akting mereka berdua lebih ekspresif.  Radcliffe sendiri harusnya bisa tampil lebih stand-out karena dia diberi adegan menangis.  Sebenarnya sudah cukup bagus, tapi mungkin karena gue mengharapkan air mata yang 'deres' dan lancar.  Waktu nonton adegan itu rasanya nanggung banget sumpah.  Tom Felton masih gitu-gitu aja, cuma bukannya songong kayak di dua film sebelumnya, tapi lebih kearah annoying.  Ini gue  yakinnya sih dari sononya (alias novel dan skrip), bukan aktingnya.  Anyway, selain aktor-aktor muda, ada aktor-aktor tua juga loh (?)  Gue lebih suka suara Michael Gambon dan dia lebih bisa menunjukkan sisi jenaka dan cerdik (bukan bijak loh) ridari Dumbledore.  Walaupun David Thewlis gak amazing, kemampuan aktingnya tetap diatas good menurut gue.  Jangan lupa Alan Rickman yang elegan, misterius, dan kejam.  Tapi yang paling keren adalah Gary Oldman!  Mendalami banget dah kegilaannya Sirius, dia cuma bisa disaingi Helena dan Ralph di HarPot 5.

Dari sisi cerita, film ini mungkin agak membosankan bagi mereka yang mengharapkan misteri dan petualangan yang lebih kental di dua film sebelumnya.  Film ini juga menyediakan beberapa misteri, tapi misteri itu lebih terasa vague dan dialihkan oleh beberapa hal, seperti dementor.  Sumpah, Cuaron bisa aja nakutin anak kecil-_-  Waktu gue masih SD, gue langsung tutup mata kalau dementornya muncul.  Adegan yang serem tuh waktu boggartnya berubah jadi dementor sama waktu Harry lihat dementor pas pertandingan quidditch.  Oh iya, film ini juga lebih mengekspresikan kegalauan Harry (?)

Best moments
  • Harry's accidental magic on Aunt Marge.
  • The Knight Bus.
  • Harry rode on Buckbeak.
  • Professor Lupin's first lesson.
  • "Turn to page 394."
  • Sirius 'caught' Harry.
  • Snape protected the golden trio.
Final score : 9,2/10 (Amazing)

1. Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 (2011, David Yates)


Huaa....waktu adegan ini dan "Leaving Hogwrats" diputar lagi...gue gak nangis, wkwkwk.  Tapi tetap merasa sedih.  Mungkin karena gue potterhead, makanya gue merasa akan ada sesuatu yang membuat gue move on...  *ngiris bawang* 

Banyak yang ngasih nih film nilai sempurna...walaupun gue setuju, harus gue akuin film terakhir Harry Potter ini emang yang paling mendekati sempurna.

The Battle of Hogwrats ditata secara apik oleh David Yates, Eduardo Sera (sinematografi) dan Mark Day (editing).  Gak cuma adegan itu, tapi opening scene-nya yang menurut orang lain mungkin simpel, tapi menurut gue itu epik dan emosional.  Sesudah ditunjukkan Voldemort yang mendapat the elder wand, Hogwrats diperlihatkan sunyi, muram, dan kehilangan semangatnya.  Dan Snape yang suka banget bentak atau setidaknya ngasih muka gak enak ke murid cuma natap kosong ke arah murid-muridnya. Oh iya, ada juga Alexander Desplat yang berhasil menambah emosi dan keepikkan film ini.  Jatuh cinta banget deh sama Lily's theme. 

Semua aktor udah berkembang dan sudah tahu cara menghidupkan karakter masing-masing (walaupun gue tetap berpikir DanRad masih dibayang-bayangi).  Alan Rickman...banyak yang bilang dia pantas mendapatkan Oscar, tapi gue rasa aktingnya gak sedewa itu.  Gue setuju kalau dia berhasil banget menunjukkan sisi lain Snape, tapi waktu adegan nangisnya ada sesuatu yang kurang dan unmatch.  Doh, kok ya juri Academy Awards gak ngasih nominasi apa-apa buat Helena Bonham-Carter dari film ini, malah dari film The King's Speech, ya pantesan gak menang!  Lo liat aja, di film-film sebelumnya, Carter berperang sebagai orang yang psychotic, tiba-tiba, dia berperan sebagai Bellatrix yang palsu dan kikuk.  Bisa lihat kan perubahan bahasa tubuh dan ekspresinya?  Ralph Fiennes sendiri bisa mengekspresikan sisi pengecutnya Voldemort, Maggie Smith dan & Julie Walter menunjukkan sisi badass mereka, Jacob Isaac juga berhasil membawakan Lucius Malfoy yang karismanya berkurang.  Sumpah dah, film ini punya salah satu ensemble cast terbaik!

Sekarang ke aktor mudanya.  Gue masih melihat Bonnie Wright dan Ginny Weasley sebagai tempelan doang.  Karakter Ginny di film kurang menarik (banget) dibandingkan di buku.  Jadi gue masih bisa memaklumi kalau Wright kurang bisa berimprovisasi.  Sedangkan Grint, Watson, Felton, dan Matthew Lewis (Neville) makin mantep di film ini, walaupun puncaknya Felton tetap di film keenam.  Akting Radcliffe...diatas watchable.    

Best moments
  • Opening scene.
  • Bellatrix 'possessed' by Hermione.
  • Battle of Hogwrats.
  • Snape's memory.
  • At King Cross with Dumbledore.
  • Neville's speech.
  • 19 years later.
P.S : memang penampilan aktor-aktor di adegan "19 years later" kurang realistis, tapi gue rasa David Yates sengaja mengubahnya untuk menambah rasa melankolis dan nostalgia bagi penonton yang memang mencintai Harry Potter, bukan sekedar mengikuti filmnya.  Jadi gue emang gak ambil pusing dalam penampilan aktor-aktornya.

Final score : 9,5/10 (Superb) (yup, I change it just for this movie, lol)

pic cr :
themovieblog.com
cinemasoldier.com
fanpop.com
entertainista.com
hark.com
collider.com
comicvine.com
ohnotheydidnt.livejournal.com