Selasa, 20 Mei 2014

Cinema Paradiso #7: Celotehan gak jelas tentang selera, emosi, dan film


Salah satu teman chat gue nanya kenapa gue suka film-film jadul.  Dia mengatakan bahwa dia gak suka film jadul karena mereka membosankan.  Sebenarnya gue pengen mengatakan bahwa gak semua film jadul membosankan dan ada kenikmatan tertentu menonton film jadul yang memang mempunyai excellent quality dalam departemen akting, musik, sinematografi, dan akting.

Ada beberapa teman gue, tanpa alasan yang kurang jelas, gak suka film Korea.  Dia pernah minta rekomendasi film misteri ke gue, tapi dia juga minta film misteri yang bukan dari Korea.  Sampai sekarang gue gak paham kenapa dia gak suka film Korea.  Apakah karena banyak orang beranggapan bahwa film Korea hanyalah film-film romance cengeng atau romcom klise?  Kalau begitu, mereka hanyalah orang-orang dangkal yang belum nonton Old Boy, I Saw the Devil, ataupun Taegukgi: Brotherhood of War.  Seriously, gak semua film Korea itu film romance mendayu biru ataupun romcom menjijikan.  Banyak juga kok film Korea yang kualitasnya emang tinggi.

Hal-hal ini membuat gue bertanya-tanya: sebenarnya, apa sih yang dilihat orang ketika menonton film?  Wajah pemainnya?  Visual effect?  Ada alasan tertentu mengapa Titanic lebih terkenal daripada Schindler's List walaupun generally, Schindler's List dianggap lebih baik daripada Titanic.  I just don't understand people's mind.    


Gue jadi teringat dengan salah satu sepupu gue.  Gue tanya apakah dia tahu The Notebook.  Dia jawab dia tahu, tapi dia kurang suka karena filmnya sedih.  Awalnya, gue pikir jawaban seperti itu gak masuk akal.  Gue menganggap bahwa seharusnya orang menyukai atau tidak sebuah film karena aktingnya, sinematografinya, ceritanya, atau bahkan musiknya.  Entahlah, gue merasa kalau seseorang menyukai sebuah film karena film itu membuatnya bahagia atau sedih, berarti orang itu menilai sebuah film dengan terlalu subjektif.  Entah sebuah film membuat kita merasa bosan, bahagia, atau sedih, kita seharusnya tidak mengabaikan unsur intrinsik dalam film itu.  Anyway, sekarang gue sadar bahwa sepupu gue kurang suka dengan film The Notebook, dia tidak mengatakan bahwa fim itu jelek. 

Sometimes, I see myself as a logical and objective girl.  Karena itu gue kurang menganggap perasaan gue ketika menonton film.  Terkadang, walaupun filmnya membosankan, gue tetap akan menganggap film itu bagus karena kualitas film itu emang bagus.  Itulah kenapa gue bingung kenapa seseorang bisa gak suka suatu film hanya karena suatu perasaan.


Baru-baru ini gue nonton 5 centimeters per second.  Gue suka gambar-gambarnya tapi film itu...membuat gue merasa depresi dan frustasi.  Setelah film itu berakhir, gue benar-benar berharap film itu berakhir lebih bahagia.  Tapi di sisi lain, gue tahu gue akan membenci film itu karena happy ending akan membuat film itu klise.  Tapi gue tetap berharap film itu berakhir lebih bahagia. 

Tiba-tiba gue sadar mengapa orang gak suka atau menghindari film realistis yang tidak berakhir bahagia.  Karena film-film seperti itu terkadang membuat penontonnya merasa frustasi, depresi, dan sedih.  Atau mengingatkan mereka bahwa hidup bisa terasa sangat pahit.  Ada beberapa orang yang setelah menonton film bisa terbayang-bayang dan kepikiran terus soal sebuah film.  Thinking about bitter and depressive stuffs is just what we need to enjoy our life *sarcasm*.


I hate cliche romcoms, but now I understand why people enjoy them.  Karena mereka membuat orang-orang melupakan masalah dalam kehidupan mereka dan membuat penontonnya merasa bahagia.  Film-film klise yang berakhir bahagia itu mengisi otak penontonnya dengan fantasi-fantasi bahagia dan bukannya hal-hal yang pahit dan depresif.   

Kita harus memikirkan dan mempertimbangkan begitu banyak hal dalam kehidupan ini.  Sekarang juga gue ngerti kenapa orang-orang lebih suka menonton Titanic daripada Schindler's List.  Karena mereka capek melihat dan merasakan hal-hal menyedihkan dalam kehidupan nyata.  Ketika mereka memutuskan untuk menonton film, mereka melakukan itu bukan untuk berpikir atau menyaksikan kesedihan hidupa lagi.  Mereka melakukan itu justru untuk lari dari kehidupan, walaupun hanya sebentar.  Sebenarnya hal ini bukan hal buruk sihToh lebih baik kita 'lari dari hidup' menggunakan film daripada narkoba, alkohol, ataupun bunuh diri.  Tapi kita harus berhati-hati agar film-film yang irrational tidak mempengaruhi cara kita menghadapi hidup, atau bahkan ekspektasi kita.

Pada film, masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya cepat terselesaikan.  Tapi itu karena rata-rata film berdurasi dua jam.  Gak semua dari kita merasakan cinta dan persahabatan yang erat seperti kebanyakan film coming-of-age atau film dengan genre lainnya.  Untuk merasakan kedua hal tersebut, beberapa dari kita harus melewati masa susah dan mempercayai satu sama lain.  Karena itulah, kita harus berhati-hati agar kontrasnya kehidupan nyata dengan feel-good-movies atau film mainstream lainnya tidak mendorong kita dalam kegilaan.

The point of my crazy ramble is, sekarang gue ngerti bagaimana perasaan seseorang dapat mempengaruhi selera filmnya.   

1 komentar:

  1. Menonton ending Five centimeters per second berkali kali, berharap endingnya bisa berubah
    tapi ternyata film itu emang sedih.

    BalasHapus